
Riuh teriakan dan tangisan menggema di tiap wilayah. Nyala api berkobar, melalap bangunan dan meratakan tanah disertai angin yang berhembus kencang. Rasa takut yang pekat menghantui tiap manusia. Mereka berlari melindungi diri sendiri, tanpa peduli pada harta dan kekayaan yang dimiliki setelah rangkaian tetesan keringat dan keluh kesah kehidupan.
Darah kini menghujani tiap tempat, menyirami tanaman dengan noda merah dan membanjiri tanah seperti kolam anggur. Tumpukan tubuh tanpa nyawa berserakan seperti sampah yang ditebar sembarangan dan diinjak-injak seperti menginjak tanah.
Gambaran perang yang begitu menyedihkan muncul di mata tiap rakyat yang kini menjadi gelandangan. Rumah mereka hancur, banyak nyawa melayang karena serangan iblis yang begitu mendadak. Para pria yang berusaha melindungi keluarga mereka mati mengenaskan tanpa bisa melakukan perlawanan balik. Para orang tua kehilangan anak mereka, anak-anak menjadi yatim dalam semalam, serta pria dan wanita yang kehilangan pasangannya. Malam itu adalah malam terburuk yang dialami umat manusia.
Di dalam istana, banyak prjaurit mempertahankan pintu istana dengan nyawa mereka untuk melindungi anggota kekaisaran. Petinggi yang sebelumnya berkumpul dengan anggota kerajaan kini menjadi depresi dan penuh rasa teror ketika melihat pintu yang didobrak.
Brakkk
Pintu berhasil didobrak. Banyak yang berhamburan melindungi diri sendiri tanpa peduli siapa yang mereka tabrak dan injak. Mereka yang berlarian berakhir lebih cepat akan sambaran energi gelap dan mati saat itu juga. Darah mereka mengalir di atas lantai.
Beberapa anggota kerajaan dan pejabat dengan pondasi kultivasi yang dianggap bagus telah maju untuk melawan dengan berani. Namun mereka justru terjebak di antara ratusan iblis yang kini mengepung seluk beluk istana untuk melakukan pertumpahan darah.
Saat ini, mereka dihadapi oleh kematian yang sebenarnya. Tidak ada yang bisa melawan, hanya bisa menanggung semua peristiwa yang terjadi sebagai korban tak bernama.
"Demi diri kita sendiri dan keluarga kita, lawan mereka!"
Sihir dikeluarkan secara bersamaan dan menciptakan tekanan gabungan yang pekat. Meski kekuatan mereka tidak sebanding dengan beberapa iblis, setidaknya mereka tidak akan mati dalam kehinaan.
Para prajurit yang sebelumnya berhasil bertahan kembali berkumpul dan mengacungkan senjata. Tidak ada pasukan utama kekaisaran di sini, mereka hanya bisa mengandalkan diri sendiri untuk bertahan di tengah perang.
"Serang!"
Mereka semua maju untuk melawan ratusan iblis. Para iblis itu juga maju, menyiapkan enegi gelap untuk menebas sekaligus dengan penuh semangat akan pertumpahan darah.
Namun begitu kedua belah pihak maju untuk pertempuran besar, cahaya biru melesat seperti bilah besar menembus beberapa iblis di garis depan. Suhu mendadak turun drastis, dinding es tebal dan runcing mencuat dari lantai dan bergerak ke tiap sudut untuk memojokkan iblis dan memaksa mereka keluar dari istana. Dining es yang muncul begitu tinggi, semakin tinggi sampai menyentuh langit-langit istana dan memadatkan tiap dinding dari serangan iblis di luar yang menggila.
Sosok wanita muncul dari langit, mendarat dengan sempurna dengan pedang runcing di tangannya yang penuh dengan aura dingin. Pekikan phoenix di luar terdengar sampai ke dalam ruangan, menambah aura dingin serta hantaman es yang menyebabkan dinding istana mengalami kerusakan total ketika para iblis itu tersapu seperti kotoran.
"Yang Mulia Ratu Xue!" Para petinggi serta prajurit yang tersisa segera berlutut memberi penghormatan. Jika Ratu Xue tidak datang dengan cara fantastis seperti itu, mereka sudah mati sejak awal.
Zhong Xiaorong memandang mereka tanpa ekspresi. Benar saja, Dewa Iblis tidak menahan diri lagi setelah pertempuran dengan Asura. Seluruh kekaisaran telah diambil alih, sayangnya ia hanya bisa menyelamatkan siapa pun yang masih bertahan. Untuk mendapatkan kembali apa yang seharusnya manusia dapatkan, itu baru ditentukan ketika perang antar-ras telah dimulai.
"Aku telah membuat jalan untuk kalian pergi mengungsi, orang-orang Sekte Bayangan Malam akan memimpin perjalanan dan sampai di tempat dengan selamat. Untuk saat ini, fokus kita adalah keselamatan, baru merencanakan apa yang harus dilakukan."
Itu artinya Zhong Xiaorong tidak menerima komentar apa pun dari mereka, terutama amggota kerajaan yang ingin mempertahankan rumah. Kekuatan Dewa Iblis tidak sebanding dengan seluruh ras manusia, mereka butuh bantuan ras lain untuk menyelesaikannya. Apalagi, masalah ini bukan hanya menyangkut ras manusia, tapi seluruh ras di Tiga Dunia!
"Baik!" Mereka semua tidak memiliki pilihan meski awalnya ingin membantu Zhong Xiaorong mengevakuasi korban. Karena Zhong Xiaorong sudah memutuskan tanpa mau diganggu gugat, mereka hanya bisa tunduk, apalagi mereka baru saja merasa berhutang nyawa.
Setelah semua orang pergi berdasarkan apa yang telah diatur Zhong Xiaorong, dinding es yang menjadi pondasi istana depan kini retak karena serangan. Zhong Xiaorong bersiul, mendatangkan phoenix es yang menerobos dinding es begitu saja dan menempatkan Zhong Xiaorong ke punggungnya.
Dinding es yang telah berlubang kini mulai dimasuki oleh beberapa iblis. Pada saat yang sama, dinding es mulai runtuh karena retakan dan hancur disertai pusing-pusing bangunan yang menghalangi jalur perjalanan phoenix.
Phoenix es menghindari tiap puing, kemudian menerobos melalui atap istana dengan tubuh besarnya, lalu terbang bebas di udara meninggalkan istana yang runtuh, tenggelam dalam tanah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kekaisaran yang awalnya merupakan kota damai dan maju, kini menjadi kota mati hanya dalam satu malam. Mayat berserakan di mana-mana, iblis berkeliaran bebas dan berpesta di bawah awan gelap dan kobaran api yang melahap bangunan warga.
Di dalam kegelapan di antara kobaran api, Yan Yao mengamati dalam diam melihat phoenix es yang pergi menjauhi kekaisaran. Ia pun pergi setelah memastikannya, lalu menyelinap ke sebuah ruangan gelap. Ia menuruni tangga tanpa suara, lalu menemukan ruangan kosong penuh debu dan gelap tanpa kehidupan.
Sejak 'diusir' oleh Kaisar Iblis, mereka pergi ke wilayah terpencil untuk memulihkan diri sementara. Zhong Xiaorong pergi ke Sekte Bayangan Malam untuk meminta bantuan Pei Xi mengevakuasi korban. Tentu saja, Pei Xi membantu dan bekerja sama mengkordinasikan operasi evakuasi ras manusia yang tersisa.
Sedangkan Yan Yao, pergi menyusup kekaisaran untuk mencari keberadaan pasukan kekaisaran guna mendukung peperangan yang akan terjadi. Ras lain telah memiliki pasukan besar, kenapa ras manusia tidak membantu mempertahankan kehormatannya?
Oleh karena itu, Yan Yao pergi terlebih dahulu untuk mengumpulkan informasi selagi Zhong Xiaorong mengevakuasi korban sekalian mengumpulkan kekuatan. Pasukan kekaisaran sangat kuat, tentunya karena dilatih Kaisar Iblis. Itu adalah kunci kekuatan keseluruhan ras manusia.
Ia memasuki ruang bawah tanah yang nampaknya masih utuh. Terdapat segel yang dibuat Kaisar Iblis di dalamnya, di mana di balik segel tersebut terdapat dunia yang berbeda di mana pasukan kekaisaran dilatih. Mereka pasti sudah menunggu dikeluarkan.
Sebenarnya, segel hanya bisa dibuka menggunakan cap militer. Tapi karena cap militer ada di tangan Dewa Iblis, Yan Yao hanya bisa menggunakan kemampuannya memecahkan segel mekanik yang biasa ia latih di klan. (Semacam hack)
Pintu besar yang merupakan penghubung dengan dunia lain terbuka setelah beberapa kali percobaan. Memang rumit, tapi beruntung ia memiliki sihir tingkat surgawi yang dapat mendukung proses pembukaan segel—meski menghabiskan banyak energi.
Pintu ganda itu terbuka, menampakkan cahaya di baliknya yang membuat kening Yan Yao berkerut. Sepertinya perbedaan waktu di dunia lain dan dunia ini jauh berbeda.
"Siapa kau!"
Suara itu membuat Yan Yao memandang sosok pria dengan penampilan kasar dan garang disertai baju besi yang menawan. Ia tidak salah tempat, orang itu seharusnya salah satu dari pasukan elite kekaisaran.
Yan Yao mengeluarkan tanda pengenal milik Zhong Xiaorong sebagai Ratu Xue. Melihat itu, prajurit itu langsung menunduk memberi penghormatan, sadar siapa pria di hadapannya.
"Hamba, Fu Jia, Jenderal Fu, memberi hormat pada Ratu Xue dan Tuan Yan." Pria itu berlutut layaknya prajurit. Tiao gerakannya selalu trdengar suara baju besi yang berat dan berdenting. Melihat tanda pengenal Ratu sama seperti melihat Ratu Xue, sama seperti ketika melihat tanda pengenal Kaisar.
"Di luar sana sangat kacau, aku harap kalian tahu apa yang seharusnya dilakukan." Yan Yao langsung pada intinya.
Namun sepertinya Jenderal Fu ragu. "Bawahan ini dengar, cap militer kembali ke tangan Pangeran Mingfeng. Mengapa Ratu Xue meminta Tuan Yan memandu kami?"
"Ketika keluar nanti, kalian akan tahu harus melakukan apa dan berada di pihak siapa. Cap militer memang memegang kendali, tapi itu bila kekaisaran masih ada dan Kaisar Zhong memimpinnya."
Jenderal Fu terkejut, kemudian berkata, "Maksud Tuan ...." Tiba-tiba hal buruk terlintas di pikirannya. Ia mengeluarkan kekuatan spiritualnya untuk memeriksa keadaan luar di balik pintu besar, wajahnya memucat. Ia memang sudah tahu bahwa mereka akan melawan iblis sebagai ras manusia, tapi tidak akan menyangka akan terjadi hal seperti ini.
"Ratu Xue saat ini telah mengevakuasi korban, termasuk keluarga kerajaan dan para pejabat—yang tersisa. Karena kekaisaran melemah akibat serangan internal terhadap Kaisar, musuh menyerang dan menguasai tiap penjuru wilayah. Kalian prajurit yang seharusnya melindungi kekaisaran, tentu tahu siapa yang harus kalian ikuti ketika semua pemegang kendali kekaisaran menghilang dan rumah serta keluarga kalian dalam bahaya."
Jenderal Fu mengepalkan tinjunya. Dunia yang dibuat Kaisar tertutup oleh dunia luar sehingga ia tidak tahu apa pun. Rata-rata para prajurit di bawahnya memang tidak memiliki keluarga, tapi bagaimana jika mereka—yang memiliki keluarga—mengetahui bahwa keluarganya dalam bahaya dan bisa saja sudah mati sekarang?
Memikirkan hal tersebut, memang terasa sangat gila. Perang sudah di depan mata, ia tidak boleh terlalu banyak mengulur waktu.
Ia menatap Yan Yao dengan serius, kemudian berkata dengan nada tegas dan tak terbantahkan. "Hamba, Fu Jia, akan mempertaruhkan seluruh nyawa dan kehormatan demi merebut kembali kekaisaran! Ini adalah kehormatan ras manusia!"
Itu adalah artefak tingkat tinggi Klan Yan, bisa digunakan untuk beberapa orang sekaligus. Semakin banyak jumlah yang ditampung, semakin lama waktu teleportasi. Meski begitu, itu adalah cara efektif untuk menghindari serangan iblis dan pertempuran tidak perlu. Omong-omong, ia mencurinya di dalam klan ketika dalam perjalanan ke kekaisaran.
Jenderal Fu menerimanya dengan hati-hati, kemudian berlutut penuh penghormatan. "Hamba tidak akan mengecewakan harapan Tuan Yan dan Ratu Xue!"
Yan Yao mengangguk, terlihat cuek. Ia pun pergi melalui jalan yang sama sebelum akhirnya menghilang dalam kegelapan. Melihat situasi kekaisaran, ia jadi mencemaskan situasi dalam klan.
Sebelumnya Yan Yao telah bekerja sama dengan para tetua klan untuk memasang pelindung. Tapi sepertinya itu tidak cukup. Mereka harus memikirkan cara lain dan menjauhi iblis dari wilayahnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sama seperti kondisi kekaisaran yang kacau, Kota Tianshang pun tidak lebih buruk dari kekaisaran. Senjata yang dipasok Asosiasi Tangan Besi yang dibawa Liu Chang rupanya masih banyak yang tidak terpakai karena keterbatasan pengetahuan dan keterampilan. Meski banyak yang menggunakannya dan merasa sangat luar biasa, tetap saja terasa sangat sulit.
Benteng akademi saat ini dipenuhi dengan bau darah dan serangan. Semua orang di dalam akademi tidak bisa tenang dan tidur nyenyak selama semalaman sampai pagi hari tiba. Suara kematian dan tembakan terus terdengar, membuat banyak orang dipenuhi rasa takut dan depresi di saat yang sama.
Liu Chang di dalam akademi juga tidak hanya diam saja. Rapat dengan para mentor dan dekan mengenai perang membuat suasana menjadi snagat dingin dan tegang. Ada banyak perbedaan pendapat mengharuskan suasana yang seharusnya terorganisir menjadi kacau karena perbedaan pendapat.
Beberapa orang memilih untuk bertahan di dalam tanpa membiarkan siapa pun keluar demi keselamatan semua orang, sedangkan sisanya bertarung melawan iblis. Dua argumen itu menjadi perdebatan yang mengakibatkan Liu Chang dan Dekan Bai tidak tahu harus berbuat apa.
Ketika semua orang sedang habis-habisan bertarung, tentu mereka berdua tidak akan diam sebagai pengamat menunggu kehancuran sebagai pengecut. Tapi orang-orang di sini sangat banyak dan ketakutan pada perang, memilih untuk tetap tinggal dan mempertahankan nyawa sampai akhir.
Sebenarnya tidak salah, karena itu semua adalah pilihan. Liu Chang menghela napas. Jika Xie Ruo ada di sini, wanita itu pasti akan bertindak ekstrem dan menjatuhkan mental semua orang dengan kalimatnya yang mengerikan dan tajam.
Wanita itu pasti akan berkata, "Silahkan Anda tetap tinggal, aku pastikan Anda duduk manis menyaksikan semua orang mati hanya untukmu seorang. Huh, betapa menyenangkan dilindungi." Jika itu terjadi, sudah pasti api yang terbakar akan meledak saat itu juga.
Liu Chang tidak mau mencobanya. Ia tidak sekuat Xie Ruo yang dapat mematahkan tulang mereka hanya dengan sekali tatap.
"Dekan Liu, bagaimana pendapatmu?" Para dekan itu menanyakan pendapat Liu Chang. Mereka memandangnya dengan berbagai tatapan membuat yang ditatap tidak nyaman. Apa harus begitu tajam?
Baru saja Liu Chang akan memberi pendapatnya mengenai apa yang harus dilakukan untuk mempertahankan akademi, ia mendapat panggilan dari Zhong Xiaorong.
Liu Chang agak terkejut karena panggilan itu terjadi sangat mendadak. Ia melihat para dekan yang menunggu, kemudian berkata dengan ragu. "Bisakah aku menjawab panggilan terlebih dahulu?"
"Silahkan." Mereka menghela napas dengan gusar. Tidak bisa menyinggung Liu Chang karena kekuatannya, hanya bisa menggerutu dalam hati.
Pria itu pergi ke sudut lain dan menerima panggilan Zhong Xiaorong. Tampilan wanita itu muncul dari jam yang bercahaya, kemudian bicara dengan nada terburu-buru.
"Bagaimana keadaan di sana? Apa baik-baik saja? Bagaimana dengan dekan? Apa senjatanya berguna? Kurang? Atau kelebihan? Kalau kelebihan, katakan saja sekarang, mumpung aku berada di dekat Sekte Bayangan Malam. Omong-omong, aku pindah lokasi ke tempat yang lebih luas karena kedatangan pasukan kekaisaran." Zhong Xiaorong mengoceh tanpa henti membuat Liu Chang pusing sendiri.
"Rongrong, bicara satu per satu." Liu Chang tidak tahu harus tertawa atau menangis. Bagaimana ia bisa memiliki teman abnormal seperti itu?
"Kalau begitu, katakan saja apa ada yang dibutuhkan. Setelah itu, beritahu kondisi di sana dengan cepat."
Liu Chang mengangguk, kemudian melihat kerumunan yang melanjutkan perdebatan di belakangnya. "Aku sedang dalam rapat penting. Para dekan dan mentor memiliki dua pilihan untuk melawan atau bertahan. Mereka berdebat karena hal itu. Jika melawan, kekuatan kita tidak setara dengan iblis. Senjata yang Kakak Kui berikan sebenarnya sangat membantu, tapi mereka tidak mahir menggunakannya. Itu sebabnya, banyak yang memilih untuk tetap di akademi sampai bantuan tiba. Mereka masih percaya, kekaisaran akan membantu."
"Kenapa tidak beritahu saja? Oh iya, aku punya berita terbaru. Semalam, Dewa Iblis melancarkan aksinya dan meratakan kekaisaran untuk menjadi tempatnya secara penuh. Kali ini, dia benar-benar tidak menyisakan manusia di kekaisaran. Jadi jika mengharapkan bantuan kekaisaran, itu nyaris mustahil jika tidak berusaha terlebih dahulu. Kami memang akan membantu, tapi itu lebih sulit dari yang kalian kira. Aku bahkan harus berganti lokasi untuk menampung pasukan yang baru saja dipindahkan dari kamp."
Raut Liu Chang menjadi rumit. "Jika seperti itu, kita harus bertahan dan juga berperang."
"Itu sebabnya, Ruoruo meminta kita untuk tidak berperang sampai mati. Apalagi kondisi Kaisar Iblis saat ini tidak diketahui, dia bisa saja datang di mana pun untuk membuat keributan."
Liu Chang mengangguk-angguk paham. Situasi saat ini sangat kritis, hanya bisa mengandalkan diri sendiri. Ia pun mengakhiri panggilan dan kembali ke rapat yang masih dalam keadaan perang dingin.
Liu Chang pun berbicara, "Aku baru saja bicara dengan Ratu Xue dari Kekaisaran Zhongbu. Situasi kekaisaran memburuk, iblis telah menguasai kekaisaran."
Semua orang diam saking terkejutnya. Kekaisaran yang mereka andalkan rupanya sudah hancur, apa lagi yang bisa mereka andalkan?
"Tapi tenang saja, Ratu Xue telah mengumpulkan pasukan dan anggota kerajaan yang tersisa untuk melawan iblis dan menyelamatkan rakyat dalam perang. Kondisi kita saat ini menang rumit, harus bertahan di tengah serangan iblis yang tiada henti, tapi kita juga harus melawan untuk mendapatkan kembali kota kita yang diambil."
"Jadi maksudmu, kita semua harus melawan? Siapa yang akan melindungi lansia dan anak-anak? Jika kita gugur dalam perang, akademi tidak bisa dipertahankan dan mereka akan mati." Salah satu mentor bicara dengan nada kesal.
"Jika kita hanya diam, kita sama saja menunggu kematian sebagai pengecut!" Mentor lainnya menyanggah dengan penuh tekanan.
"Itu bukan pengecut, itu namanya mempertahankan diri, apa salah?" Mentor itu tetap pada pendirian dengan perasaan bergebu-gebu.
Liu Chang yang melihatnya menghela napas berat, lalu mengangkat tangan untuk menghentikan perdebatan. "Dekan Bai, apa kau juga memikirkan hal yang sama?"
Dekan Bai diam untuk beberapa saat, tampak sangat tenang. "Tidak perlu meminta saran dariku. Liu Chang, aku serahkan padamu."
Mereka semua kini melihat Liu Chang dengan tatapan panas, berharap Liu Chang ada di salah satu pihak di antara mereka.
"Situasi ini tidak hanya terjadi di akademi, tapi juga wilayah lain, berbagai klan, sampai kekaisaran. Akan lebih baik jika kita membuat kelompok pertahanan dan keamanan. Untuk sementara, kita tidak akan keluar melawan. Kita tidak hanya diam, melainkan melatih diri untuk menggunakan senjata api yang telah disediakan. Itu tidak membutuhkan kekuatan spiritual yang banyak, hanya memerlukan keterampilan. Setelah semua siap, beberapa dari kita akan keluar, bergabung dalam perang yang akan terjadi. Sisanya akan mengamankan akademi."
"Bukankah seperti itu sama saja bunuh diri?" Salah satu mentor keberatan. Bukankah sama saja mereka akan berperang?
"Apa kita akan diam saja ketika banyak orang mempertaruhkan nyawa demi tanah air? Jika semua manusia mati, kalian yang manusia juga akan mati." Liu Chang akhirnya terpaksa menggunakan kata-kata kasar. Ia pun tersenyum setelah melihat semua orang yang terdiam. "Tenang saja, aku akan maju di garis depan sebagai perwakilan Akademi Tianshang."
Dekan Bai tersenyum, kemudian berkata, "Kalau begitu, kumpulkan murid-murid elit untuk diberi pelatihan intensif. Murid sisanya dilatih sebagai prajurit kultivator. Tarik semua pemanah dan pemburu untuk mempersiaokan perang. Aku akan mempertahankan barrier dengan hidupku. Liu Chang, sisanya kuserahkan padamu."
"Baik, Dekan Bai." Liu Chang menerima dengan tenang. Ini adalah tugas berat, tapi ia akan menerimanya dengan senang hati dan mengikuti semua pengaturan yang sudah direncanakan. Ia tidak akan mengecewakan siapa pun.
Omong-omong, ia penasaran. Apa Zhong Xiaorong sudah mengevakuasi keluarganya di kekaisaran?
Liu Chang baru saja akan mengirim pesan untuk mananyakannya, tapi tiba-tiba Zhong Xiaorong telah memberi potret keluarganya yang berkumpul di tempat pengungsian. Ia menjadi lega seketika.
Hanya saja, ia tidak melihat ayahnya ....