
Tanpa terasa, waktu berlalu begitu cepat. Xie Ruo berjalan sendirian di bawah langit gelap dengan pikiran mendalam. Meski ia ada di Dunia Atas, pikirannya masih tertinggal di Dunia Tengah.
Ada banyak hal yang membuatnya tidak nyaman, seperti masalah racun tulang kering serta 'dia' di kekaisaran yang identitasnya masih tidak diketahui. Ditambah, ia masih penasaran soal kebenaran dari ucapan Ling Yi mengenai Xie Ran.
Jika Xie Ran berasal dari inkarnasi seorang dewi di Dunia Atas seperti yang dikatakan Qu Xuanzi, bukankah harus ada data sejarahnya?
Meski ia tidak yakin, data mengenai dewa dan dewi di Dunia Atas, baik dewa utama maupun alam, tetap harus tertulis lengkap dalam sebuah jurnal. Itu seharusnya menjadi tugas salah seorang dewa, sayangnya Xie Ruo masih belum memahami berbagai tugas dewa dan posisinya.
Ia pergi ke gedung perpustakaan di sayap timur. Sebelumnya ia hanya melewati perpustakaan saja ketika berkeliling, belum masuk ke dalam. Ini untuk pertama kalinya, membuka pintu ganda perpustakaan.
Aroma kayu memasuki penciuman Xie Ruo, sangat menenangkan. Ia masuk ke dalam dan disambut oleh berbagai macam rak yang bertengger rapi dan seirama. Buku-buku disusun dalam kategori abjad dan warna buku sehingga terlihat sangat indah.
Dua tangga melingkar berdiri di tengah perpustakaan, disertai lantai bercorak di tengah perpustakaan tampak sebagai pusat. Selain itu, Xie Ruo juga dapat merasakan aliran energi dari berbagai buku, serta lebih pekat di pusat perpustakaan di bawah tangga.
Ia berjongkok di lantai bercorak itu. Semakin diperhatikan, itu terlihat seperti sebuah rune rumit yang lagi-lagi tidak diketahui artinya. Xie Ruo meletakkan tangannya, kemudian menggunakan keilahian untuk mencoba mengaktifkannya.
Cahaya perak keluar di tiap bagian corak, terang seolah di balik lantai terdapat cahaya yang tembus. Itu seharusnya bukan hal biasa.
Tapi, lama Xie Ruo menunggu, tidak terjadi apa pun sampai sinar meredup dan hilang. Xie Ruo merasa sia-sia saja. Sepertinya rune ini hanya bisa dibuka oleh dewa, mengingat tempatnya sekarang adalah Dunia Atas.
Suara pintu terbuka terdengar begitu Xie Ruo berdiri. Wanita itu melihat siapa yang membuka pintu, kemudian menemukan sosok lelaki kecil berdiri dengan tampang suram.
Kalau tidak salah, Dewi Kehidupan mengenalinya tadi, Huo Yuzheng.
"Ada sesuatu?" Xie Ruo bertanya.
Lelaki kecil itu hanya melihatnya sekilas, lalu mengabaikan. Ia berjalan mencari buku dalam diam dengan pandangan datar yang sama.
Benar-benar bocah anti-sosial. Xie Ruo pernah menjadi anak anti-sosial sekali, tapi berubah setelah berinteraksi dengan banyak orang dan memimpin operasi. Hanya saja, sepertinya kondisi Huo Yuzheng lebih parah darinya.
Xie Ruo tidak mau berurusan lebih jauh lagi. Ia pergi ke sisi lain untuk mencari sesuatu yang bisa menjawab semua pertanyaannya.
Ada terlalu banyak buku di tempat ini, semuanya dliputi berbagai macam sihir untuk memberi batasan pada pengunjung. Perpustakaan ini tidak sepenuhnya terbuka untuk umum. Hanya orang-orang yang memiliki izin saja yang dapat memasukinya. Itu sebabnya, perpustakaan ini sangat sepi.
Dulu, perpustakaan ini ditempati oleh Dewa Buku. Dewa yang menjaga perpustakaan dan mencatat semua arsip penting. Sayangnya, Dewa Buku dibunuh oleh pengkhianat dan mencuri arsip rahasia. Setidaknya, itu yang Xie Ruo ketahui setelah membaca sebuah jurnal mengenai apa yang terjadi sebelum perang.
Setelah Dewa Buku meninggal, perpustakaan di ambil alih oleh salah satu Dewa Alam yang saat ini sedang beristirahat. Setidaknya, ia akan bekerja sampai Dewa Buku menemukan penerusnya.
Tentang pengkhianat itu ... Xie Ruo tidak tahu jelas. Yang ia tahu, pengkhianat itu adalah seorang Dewi Alam dari Dunia Dewa. Tidak disangka, kekacauan Dunia Dewa benar-benar terlihat sampai di sini.
Xie Ruo tiba-tiba terpikirkan sesuatu. Jika ingin mencari 'dia', bukankah ia harus mencari pengkhianat Dunia Atas juga? Ia pun mulai mencari jurnal yang berkaitan dengan pengkhianat itu.
Butuh waktu lama untuk mencarinya karena terlalu banyak buku yang hadir. Ia mengambil salah satu buku yang menurutnya harus diperiksa, tapi tiba-tiba ia merasakan lonjakan energi dari rak sebelah.
Cahaya merah dan hitam bersamaan tercampur, menembus rak-rak buku dan menciptakan tekanan yang membuat Xie Ruo terkejut. Apa itu Huo Yuzheng?
Buru-buru Xie Ruo meletakkan buku tersebut ke dalam rak, kemudian berlari untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Hal yang tidak ia sadari, buku yang baru saja ia ambil jatuh karena tidak seimbang ketika meletakkannya. Buku itu terbuka, menampakkan halaman yang sepertinya akan memecah semua pertanyaan.
Xie Ruo melihat ke rak sebelah dan terkejut akan Huo Yuzheng yang terkapar kesakitan. Ingin rasanya Xie Ruo tidak ikut campur dan pergi, tapi ia juga tidak bisa membiarkan seorang bocah menderita seperti itu—meski bukan bocah yang sebenarnya.
Sinar merah berapi-api bercampur hitam menyelimuti tubuhnya seolah sedang melahapnya. Entah sihir apa yang ia pelajari, Xie Ruo pikir itu bukan hal baik.
Karena tidak ada siapa pun yang membantu, Xie Ruo terpaksa menghampiri. Energi murninya memiliki fungsi penyembuhan, mungkin akan membantu bocah satu ini agar tidak terus merasa kesakitan.
Tangan Xie Ruo mengeluarkan energi murni, lalu meluncurkannya ke arah Huo Yuzheng. Energi murni sepenuhnya merasakan hawa panas yang sangat berbahaya, ditambah itu menggerogoti seluruh organnya seolah ingin membakarnya hidup-hidup.
Xie Ruo heran. Seseorang yang tercipta dari api terkuat, bisa tersiksa juga karena api miliknya sendiri? Apa jangan-jangan, ini adalah cedera yang dikatakan Dewi Kehidupan barusan?
Kekuatan dalam tubuh Huo Yuzheng bukan sesuatu yang bisa Xie Ruo pertimbangkan. Tapi Xie Ruo dapat mengatasinya dengan mengandalkan kekuatan roh guntur yang menyatu dengan jiwanya. Api dingin dalam tubuhnya bisa menenangkan api neraka meski tidak terlalu efektif, tapi setidaknya cukup untuk pertolongan pertama.
Semua elemen itu tercampur, memasuki tubuh Huo Yuzheng melalui meridian dan mengalir ke seluruh tubuh. Proses yang memakan waktu cukup lama itu membuat energi Xie Ruo banyak terkuras. Jika bukan karena energi murni yang memulihkan staminanya, ia sudah pingsan sejak awal.
Energi murni perlahan membuat api neraka dalam tubuh Huo Yuzheng tenang. Ketika api mengerikan itu padam dan menyisakan hawa hangat yang tercampur dengan api dingin, Xie Ruo menemukan sesuatu yang tidak biasa.
Hawa hangat seolah tercampur dengan api secara berlebihan, ditambah seolah tubuh itu menyatu dengan api melebihi dari penyerapan roh unsur, Xie Ruo menyadari satu hal. Itu adalah Tubuh Yang!
Tubuh Yang adalah eksistensi langka yang hanya bisa dimiliki oleh pria. Jika manusia yang memilikinya, ia akan memiliki kekuatan besar, namun berumur pendek. Selain itu, tubuh Yang kadang tidak bersahabat apalagi ketika energi seseorang sedang kacau atau habis mengalami pertempuran besar. Orang itu akan menderita kesakitan seolah jiwanya terbakar habis.
Satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah efek negatif tubuh Yang, hanya tubuh Yin. Sama seperti tubuh Yang, tubuh Yin juga memiliki kualifikasi besar dan hanya dimiliki oleh wanita, namun juga sama-sama berumur pendek jika tidak melatih peringkat dewa.
Tapi meski sudah melatih peringkat dewa, seperti Huo Yuzheng saat ini, sepertinya itu sama sekali tidak menurunkan resiko dari efek negatif tubuh Yang. Itu berarti hanya tubuh Yin yang bisa mengatasinya secara tuntas agar kedua energi stabil.
Xie Ruo mengetahui hal itu dari catatan yang ia curi dari ruang kerja gurunya sendiri. Cukup berguna, hanya saja tidak berguna untuk dirinya sendiri. Xie Ruo hanya memiliki tubuh murni, berada di tengah-tengah antara tubuh Yang dan tubuh Yin.
Ia bisa membantu menetralkan kedua energi dengan kekuatannya, tapi hanya sementara waktu. Huo Yuzheng tetap harus menemukan wanita pemilik tubuh Yin.
Hanya saja, sampai kapan?
Sudahlah, bukan urusannya. Yang penting, ia sudah menyelamatkan seorang dewa hari ini. Untuk selanjutnya, tidak ada hubungan dengannya.
Karena sudah terlalu malam, lebih baik kembali daripada dicari si botol cuka.
Ketika Xie Ruo berbalik pergi, Huo Yuzheng sadar dari pingsannya. Pandangannya tetap redup seperti biasa, seolah sudah terbiasa mengalami hal serupa. Hanya saja, siapa yang membantunya?
Pandangannya terarah pada Xie Ruo yang menuruni tangga hendak keluar. Ia segera bangkit dan berlari ke arah Xie Ruo, lalu merentangkan tangan untuk menghadang di depannya.
"Bagaimana kau melakukannya?" Huo Yuzheng bicara untuk pertama kalinya. Xie Ruo bahkan terpana menyadari bahwa lelaki kecil ini tidak lupa caranya bicara.
"Kenapa aku harus memberitahu?" Xie Ruo yakin lelaki kecil itu seharusnya sudah tahu mengenai energi murni. Masih pura-pura tidak tahu?
Huo Yuzheng tampak tergelak, kemudian menurunkan kedua tangannya. Pandangannya kembali datar. "Terima kasih."
"Kau tidak cocok mengatakan 'terima kasih' dengan wajah seperti itu." Xie Ruo menolak terima kasihnya. Ia juga tidak terlalu peduli. "Tidak perlu terlalu dipikirkan, aku membantumu karena kebetulan hanya ada aku di sini. Jangan sampai ketika orang lain tahu bahwa kau pingsan di perpustakaan, lalu menyalahkanku karena telah menindasmu. Meski tidak masuk akal, siapa pun bisa memikirkannya."
"Maaf." Huo Yuzheng menunduk seperti anak patuh. Jika seperti ini, Xie Ruo tidak percaya bahwa lelaki kecil di depannya sebenarnya sudah dewasa.
"Sudahlah, jangan memasang wajah menyedihkan. Aku tidak suka bocah cengeng." Xie Ruo tidak suka anak kecil yang bersikap menyedihkan. Itu akan membuatnya merasa telah menindas seorang bocah.
"Aku bukan anak kecil!" Huo Yuzheng tidak terima.
"Aku tahu." Xie Ruo memutar bola mata. Sulit bicara dengan anak kecil.
Xie Ruo melihat Huo Yuzheng yang hanya diam di tempat. Bukan masalah jika lelaki kecil itu berdiri dalam diam, tapi masalahnya ... bocah itu menghalangi jalannya di tengah tangga!
"Bisakah minggir? Apa aku harus melompat saja?" Xie Ruo merasa kesal.
Huo Yuzheng menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca. Ia kehilangan ingatannya, tentu saja tidak tahu pengalaman apa yang ia miliki di masa lalu sehingga sikapnya benar-benar seperti anak kecil.
"Jangan menangis!" Xie Ruo panik. Jika ia menangisi seorang dewa kecil, apa yang akan dikatakan dunia?
"Kau ... wanita yang ingin menikah dengan Yang Mulia?" Huo Yuzheng bicara dengan ragu.
Xie Ruo mengangguk. Entah apa yang ingin dikatakan dewa kecil yang manja ini.
"Apa kau ... memiliki seorang murid?"
Huo Yuzheng langsung mengangguk. "Di dunia ini, selain tubuh Yin, hanya kau yang bisa meredakan komplikasi tubuh Yang. Sedangkan aku belum menemukan pemilik tubuh Yin selama bertahun-tahun."
"Bukankah baru saja kau mengatakan ingin aku menjadi dokter pribadimu? Kenapa aku harus menerimamu?" Xie Ruo tidak mau dimanfaatkan. Ia bahkan menerima Shi Yang karena gadis itu bisa masak makanan enak. Lalu, apa peran Huo Yuzheng?
Huo Yuzheng berpikur sejenak, kemudian berkata, "Aku bisa melindungimu!"
"Aku bisa melindungi diri sendiri."
"Kalau begitu, aku bisa memberimu informasi. Bukankah kau datang ke sini untuk mencari sesuatu? Jika kau menyebutkan apa masalahmu, mungkin aku akan ingat."
"Oh ya? Lalu, apa kau tahu identitas pengkhianat Dunia Atas?"
Huo Yuzheng tercegang. Ia berpikir keras, kemudian menggeleng lemah. Andai saja ia tidak hilang ingatan, ia sudah menjawabnya sejak awal.
"Kalau begitu, kau sama sekali tidak berguna." Xie Ruo terpaksa mengatakan hal kejam agar dewa kecil itu mau menjauhinya. Ia tidak suka ditempeli.
"Bagaimana jika aku memberitahu satu hal?"
"Apa itu?"
"Kau harus menerima jika ingin aku mengatakannya."
"Kau sedang bernegosiasi dengan calon gurumu?" Xie Ruo bersikap agak galak. Mana bisa ia luluh hanya karena tampangnya yang imut dan menggemaskan?
"Sebelumnya Dewi Kehidupan mengatakan bahwa Dewi Cahaya pernah menyukai Yang Mulia dan sekarang sudah mati. Sebenarnya, yang membunuh Dewi Cahaya adalah Dewa Naga."
Xie Ruo terkejut. Plot twist macam apa ini? Kakeknya ... membunuh seorang dewi secara terang-terangan? Apa kakeknya cemburu karena Dewi Cahaya hanya naksir pada Qu Xuanzi?
"Kenapa dia membunuh seorang dewi terang-terangan? Apa tidak dihukum?"
"Terima dulu aku menjadi muridmu." Huo Yuzheng memberi syarat.
Mau tidak mau Xie Ruo harus mengiyakannya secara terpaksa demi menuntaskan rasa penasaran. "Lakukan sesukamu, tapi aku tidak bisa mengajarimu banyak hal."
"Tak apa."
"Lanjutkan ceritamu! Kenapa Dewa Naga membunuhnya?" Setahunya, para dewa dan dewi dilarang saling membunuh.
"Sebenarnya, semua dewa mengetahui hal itu tapi tidak ada yang pernah mengatakannya lagi. Saat itu, terjadi perang antara dewa dan iblis. Dewi Cahaya diketahui memiliki hubungan lama dengan Dewa Iblis. Saat itu, Dewi Cahaya membantu menginvasi Dunia Atas dan memaksa Yang Mulia menyegel diri sendiri. Sebelum hal itu terjadi, Dewa Naga mengetahui rencananya dan langsung mengirim putrinya pergi sedangkan ia membunuh Dewi Cahaya. Dewa Naga mati setelah membunuh Dewi Cahaya."
"Bagaimana kau bisa tahu hal sepenting itu?"
"Aku ada di sana. Ketika mengatakannya, perlahan aku mengingatnya dan tanpa sadar mengatakannya." Huo Yuzheng jujur. Kadang ia merasa bahwa dirinya sangat bodoh. Tapi jika sudah mengatakan sesuatu, hal yang sebelumnya tidak diketahui, tiba-tiba mengetahuinya dan mengatakannya seolah mengalami langsung.
Xie Ruo agak terkejut dengan masa paling mengganjal itu. Kenapa Dewi Cahaya menginvasi Dunia Atas dan melawan Qu Xuanzi demi Dewa Iblis? Padahal jelas-jelas Dewi Cahaya menyukai Qu Xuanzi.
Lalu, bukankah Dewa Iblis adalah ayah Qu Xuanzi? Bagaimana bisa ....
Seolah membaca pikiran Xie Ruo, Huo Yuzheng berkata, "Dewa Iblis memang ayah Yang Mulia yang merupakan Kaisar Iblis, tapi dia sudah lama mati. Sama seperti Dewi Kehidupan, kepemilikan telah berganti."
"Bagaimana kau—"
"Mudah ditebak," sela Huo Yuzheng. Kemudian melihat ke arah pintu. "Sepertinya manusia dari Dunia Tengah sudah tiba."
Pandangan Xue Ruo teralih. Ada banyak hal yang ingin ditanyakan, tapi ini jelas bukan saat yang tepat. Jika tidak, kakeknya yang heboh itu akan menangis mencarinya seharian.
Mau tidak mau Xie Ruo harus pergi. Huo Yuzheng mengikutinya di belakang sampai tiba di halaman depan istana.
Meski langit sudah sangat gelap, suasana masih penuh dengan cahaya akan benda langit dan kunang-kunang berkeliaran. Bukan hanya itu saja, berbagai macam tanaman juga mengeluarkan cahaya yang indah sesuai warna mereka.
Pemandangan itu membuat banyak orang terperangah. Inilah Dunia Atas. Sayangnya, mereka tidak bisa berlama-lama di sini. Mereka semua akan sibuk seharian penuh.
Ketika melihat Xie Ruo, Xie Wang langsung memanggilnya seolah tidak bertemu sekian tahun. Xie Ruo hanya menghampiri, bersama Huo Yuzheng yang membututi seperti anak ayam.
"Kakek, nenek." Xie Ruo menyapa dengan senyuman. Ia melihat Xiao Caihong langsung berlari ke arahnya seolah sangat merindukannya.
Mei Liena dan yang lain hanya bisa terdiam. Ketika melihat seorang bocah berdiri di belakang Xie Ruo dalam diam, mereka mulai bertanya-tanya.
Bahkan Qu Xuanzi yang seharusnya sudah datang masih belum datang.
"Ini ...." Mei Liena tidak tahu bagaimana mengatakannya. Jangan katakan temannya satu ini mungut anak di jalan lagi.
"Salah satu dewa di sini." Xie Ruo tidak perlu menjelaskannya. Toh, mereka tidak akan bertemu lagi.
Tapi sepertinya Huo Yuzheng tidak mau statusnya dilupakan gurunya sendiri. "Huo Yuzheng, murid."
Semua orang tercegang. Mereka menatap Xie Ruo penuh rasa penasaran. Tidak mungkin seorang dewa berguru dengan manusia, 'kan?
Xie Ruo terbatuk sebentar, kemudian bicara, "Tidak ada yang aneh, siapa pun bisa menjadi guru dan murid."
Tidak ada yang berkomentar. Mereka hanya bisa mengagumi dalam hati akan temannya yang tanpa henti memikat hati seseorang, bahkan sampai seorang anak kecil. Pesonanya tidak main-main.
Xie Ruo ingin meluruskan segalanya, tapi ia terlalu malas. Ia beralih ke sisi lain, lalu mendapati Qu Xuanzi yang berdiri di belakang Huo Yuzheng dengan wajah datar khasnya.
Jadi, Ruoruo-nya bersama pria lain sejak tadi dan menjadikan bocah ini sebagai murid. Untung saja wujudnya seperti anak-anak, atau ia tidak akan memberi toleransi.
Memang botol cuka. Xie Ruo hanya bisa tersenyum paksa sekarang. Di lihat dari sini saja sudah kelihatan bahwa suasana hati Qu Xuanzi tidak baik karena ia dekat dengan dewa yang unurnya hanya lebih muda 1000 tahun. Pada umumnya, mereka bisa dianggap sepantaran.
"Kalau begitu, lebih baik kita beristirahat di dalam. Portal antar dimensi menguras banyak tenaga, tidak baik untuk kesehatan." Ann Rou langsung memecah suasana. Ia melihat ke arah Qu Xuanzi. Ketika pria itu mengangguk, ia mulai mengarahkan manusia-manusia ini ke tempat yang sudah disediakan secara khusus.
Tidak ada terlalu banyak manusia yang datang, hanya sebagian anggota klan serta teman-teman Xie Ruo dikarenakan tidak banyak orang yang dipercayai oleh Xie Ruo selain keluarga dan temannya sendiri. Untuk Ratu Menara Suci, wanita itu belum datang meski sudah diundang.
Xie Ruo sama sekali tidak kecewa. Dengan kekuatan gurunya itu, bukan masalah memasuki Dunia Atas sendirian melalui portal, mengingat wanita itu pernah pergi dari Dunia Atas.
Di tempat lain, seorang wanita bersurai perak melihat portal emas yang terpapar di cermin kamarnya dengan mata emas yang redup. Ia menghela napas, kemudian tersenyum.
Yang sudah berlalu biarlah berlalu. Mungkin, ini juga saatnya untuk pensiun.
Menyadari kehadiran seseorang yang berlutut di belakangnya, ia berkata. "Tempat ini, aku serahkan padamu."
"Guru ... bagaimana—"
"Panggil aku hanya jika ada masalah serius, terutama tentang Dunia Atas. Bagaimanapun, masalah kekaisaran belum sepenuhnya selesai."
"Apa Guru menyerah akan putrimu?"
Pandangan wanita itu menjadi sedih dan menunduk. "Dia benar, tidak ada kesempatan lagi. Jika sudah ruaak, akan sulit memperbaikinya. Aku hanya bisa mempertanggungjawabkan apa yang kuperbuat, dan merubahnya."
Gadis itu menahan gejolak emosi kesedihan di hatinya. Ia bersujud sebagai tanda kepatuhan, serta penerimaan posisi.
"Zhu Zhu, tidak akan mengecewakan Guru."
Mata emas wanita itu kembali terarah pada portal yang berpusar pada satu titik seperti air mengalir. Pilihannya tidak akan salah lagi. Sudah saatnya untuk revolusi.