
Tidak tahu kapan waktu berlalu, ketika kembali ke kota, langit sudah cerah. Xie Ruo terlalu lelah dan memutuskan untuk istirahat di penginapan daripada melanjutkan perjalanan.
Ia merasa telah melakukan perjalanan selama berhari-hari tanpa istirahat. Entah bagaimana Qu Xuanzi masih memiliki stamina dan memeluk Xie Ruo di atas tempat tidur agar gadis itu cepat tidur.
Ketika pagi menjelang, Xie Ruo masih tertidur pulas tanpa bergerak sedikitpun seperti orang mati. Gadis itu sudah tidur dari siang ke pagi, kira-kira lebih dari 15 jam ia tertidur dalam posisi yang sama.
Terlalu banyak tidur tidak baik untuk kesehatan. Qu Xuanzi yang awalnya tidak berpikir untuk membangunkannya, mulai mencoba membangunkan Xie Ruo.
"Ruoruo." Qu Xuanzi menusuk-nusuk pipi Xie Ruo dengan jarinya agar gadis itu tidak terlalu terkejut ketika bangun. Tapi Xie Ruo mengabaikannya.
Karena usaha pertamanya gagal, ia menepuk-nepuk pipi gadis itu dengan pelan agar tidak menyakitinya. Xie Ruo menunjukkan respon, tapi bukannya bangun malah mengaduh dan membelakanginya.
"Ruoruo, tidur terlalu banyak tidak bagus untukmu."
"Lima menit." Xie Ruo bicara dengan nada malas dan setengah sadar. Ia terlalu lelah, ditambah tidak pernah tidur nyenyak dan selalu tidur kurang dari 4 jam, atau menerima hukuman karena terlambat tiap pagi. Itu sangat menyiksanya setiap hari.
Qu Xuanzi memberinya celah selama lima menit. Ia beranjak dari tempat tidur, kemudian memesankan sarapan selagi menunggu lima menit berlalu.
Ketika ia kembali, lima menit telah dilewati. Xie Ruo masih asik tidur tanpa gangguan. Jika dipikirkan, gadis itu seharusnya sudah merengek minta makan, tapi ternyata masih asik di alam mimpi.
Sebuah pemikiran terlintas di benak Qu Xuanzi. Ia menaiki tempat tidur dan mendekati wajah polos Xie Ruo yang masih menutup mata.
"Kamu bisa tetap tidur, tapi aku tidak berjanji tetap menahan diri seperti sebelumnya. Kau tahu? Aku selalu tergoda melihatmu seperti ini."
Xie Ruo tidak merespon. Sebenarnya, ia sudah bangun, tapi terlalu malas beranjak karena merasa sangat nyaman dengan posisinya. Ketika mendengar ucapan Qu Xuanzi, awalnya ia ingin langsung membuka mata, tapi bagaimana jika ternyata Qu Xuanzi hanya mengakalinya seperti waktu itu?
Pria itu ... terlalu licik sehingga tidak bisa diremehkan. Ia tidak akan masuk ke dalam skemanya lagi.
Karena Xie Ruo mengabaikannya, sedangkan Qu Xuanzi tidak yakin gadis itu benar-benar tertidur, sudut bibirnya terangkat sekilas.
Xie Ruo yang awalnya berpikir bahwa dirinya telah menang, tiba-tiba merasa seluruh tubuhnya meremang begitu hembusan napas sangat terasa di belakang telinganya.
Sesuatu yang basah menyentuh telinganya hingga terasa sangat geli, ditambah kini sesuatu yang basah itu berpindah ke lehernya. Ia merasa seperti tergelitik membuat tubuhnya tanpa sadar menggeliat.
Xie Ruo baru saja akan menyingkirkan pengganggu itu dengan tangannya, tapi bahunya tertarik hingga posisinya berpindah menghadap langit-langit. Pada saat itu, ia membuka mata karena terkejut. Tapi mulutnya telah dibungkam oleh pihak lain yang tanpa izin mengambil ciumannya.
Ia tertegun, berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi karena tiba-tiba saja otaknya menjadi macet. Ia hampir melupakan bagaimana caranya bernapas ketika ******* di bibir tidak memberinya kesempatan mengambil udara.
Lidah yang bereksplorasi liar di mulutnya akhirnya berhenti, membiarkan Xie Ruo bernapas dengan bebas.
Qu Xuanzi tersenyum kecil. "Bernapas melalui hidung."
"Kau tidak membiarkanku mempersiapkannya." Xie Ruo merasa umurnya semakin pendek jika terus seperti ini.
"Kalau begitu, apa sekarang sudah siap?"
"Eh, kau mau apa?" Xie Ruo melotot. Meski tempat ini cukup bagus, tapi tetap saja masih di tempat orang.
Tapi Qu Xuanzi tidak mau dengar. Ia kembali menguasai bibir mungil Xie Ruo yang manis, tidak memberinya kesempatan bicara lebih banyak. Anggap hukuman telah membuatnya menunggu lama.
Cepat-cepat Xie Ruo mengikuti sarannya sebelum benar-benar mati. Entah bagaimana, ia merasa keterampilan Qu Xuanzi meningkat dari sebelumnya yang membuat Xie Ruo benar-benar pasrah saat itu juga.
Tidak seharusnya ia menyinggung guru besar tertentu yang pedendam ....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah melalui pagi ambigu yang membuat wajah Xie Ruo memerah sepanjang hari, Qu Xuanzi mengajak Xie Ruo pergi ke utara. Xie Ruo tidak banyak tanya, sempat kesal karena menyadari bahwa Qu Xuanzi mengakalinya untuk bangun tidur. Bahkan menggunakan kalimat ambigu untuk menyesatkannya.
Sudah dibilang, pria itu sangat berbahaya dan licik, tidak boleh diremehkan.
Namun, hal yang tidak diketahui Xie Ruo, Qu Xuanzi nyaris saja kelepasan lagi. Lain kali ia tidak akan menggunakan candaan seperti itu jika tidak ingin menyakiti Ruoruo-nya.
Setelah menempuh beberapa jam perjalanan, akhirnya sampai di tujuan. Karena sekarang adalah musim panas, wilayah utara tidak terlalu dingin.
Adapula Gunung Wu yang biasanya dipenuhi salju, kini tidak setebal saat musim lain terutama musim dingin sehingga ketika mereka berdua memasuki pegunungan, hijau pepohonan masih terlihat.
Karena aura Qu Xuanzi dan Xie Ruo, apalagi mereka berdua tidak mengenakan topeng, para hewan buas yang menunggu mangsa berlarian menjauh. Perjalanan mereka di Gunung Wu terlalu lancar seolah berada di wilayah sendiri, berbeda jika manusia biasa yang lewat.
Tidak ada pertarungan, itu sangat bagus. Apalagi sampai saat ini, tangan Xie Ruo masih bersih dari darah sejak perpindahan tubuh. Ia sama sekali tidak membunuh selama bertahun-tahun yang membuatnya tampak lebih murni dan tidak berbahaya.
Bertolak belakang dengan Qu Xuanzi. Aura kematiannya lebih kental dari apa pun sehingga tidak ada yang berani mendekat. Tapi karena hal ini, ia jadi jarang membunuh. Tiap kali ada lawan, lawan selalu kabur terlebih dahulu sebelum muncul, atau mati dibereskan hewan suci.
Paling tidak, Qu Xuanzi hanya membunuh makhluk bodoh yang menantangnya. Atau beberapa penjaga wilayah yang menghalangi perjalanannya selama 10 tahun terakhir di Dunia Atas.
Karena urusan Qu Xuanzi di Dunia Atas belum selesai, ia berniat menyelesaikannya segera. Tujuannya kali ini adalah sebuah tempat yang lama tidak ia kunjungi, juga merupakan tempat yang cukup berkesan. Ia secara khusus membawa Xie Ruo bersamanya.
Hingga akhirnya, mereka sampai di sebuah tempat tersembunyi yang dipenuhi dengan rune rumit yang sama sekali tidak dipahami Xie Ruo. Rune itu tidak pernah dilihatnya, kemungkinan besar dari Dunia Atas.
"Tempat apa ini?" Xie Ruo penasaran.
"Pengasingan." Qu Xuanzi menjawab sambil melangkah ke arah array.
Cahaya emas di tangannya menyatu dengan array, mengubah tekstur batuan berukiran rune menjadi sinar yang bergelombang seperti air.
Bebatuan itu seolah meleleh seperti air, tapi tetap berdiri tegak seakan itu hanya ilusi. Xie Ruo merasa familiar dengan pemandangan di depannya. Tampak persis seperti beberapa tahun lalu, di tempat pertama kali ia keluar dari Klan Xie dan bertemu Xiao Caihong.
"Portal?" tebak gadis itu.
Xie Ruo ingat saat itu, di dalam gua ada portal menuju dunia lain yang menampakkan dunia di mana ia tumbuh. Bedanya kali ini portal tersebut tidak menampakkan apa yang ada di dalamnya. Hanya ada kegelapan yang penuh misteri.
Qu Xuanzi menggenggam tangan Xie Ruo dengan erat, membawanya masuk ke dalam portal. Mereka seolah memasuki dinding batuan, melangkah ke kegelapan yang sunyi sebelum akhirnya portal kembali menutup dengan sendirinya. Sinar rune yang tertera di batuan redup seketika.
Ini kali pertama Xie Ruo memasuki portal secara langsung. Berbeda dari portal pembatas Dunia Bawah yang sama sekali tidak terasa karena ilusi, portal yang dibentuk secara nyata tanpa ilusi kali ini membuat kepalanya pusing. Tiba-tiba saja pandangannya gelap, lalu terang tiba-tiba hingga Qu Xuanzi sedikit menutup mata Xie Ruo agar tidak pusing.
Xie Ruo membuka matanya yang terkena silau, dari sela jari yang menutupi sinar ke matanya dapat terlihat bahwa ia berada di tempat yang terbuka akan sinar matahari. Meski udaranya tidak panas dan tidak dingin, sinar matahari terasa terik.
Qu Xuanzi menurunkan tangan, membiarkan Xie Ruo melihat di mana mereka berada. Pada saat yang sama, Xie Ruo melihatnya dengan jelas. Mereka berada di halaman besar dan dipenuhi awan, langit di atas sangat biru, sedangkan di belakang mereka berdua yang merupakan ujung halaman dipenuhi oleh awan.
Istana itu begitu sepi, sangat suram dan tanpa kehidupan. Air mancur di depan istana juga kering, lantai yang mereka pijaki juga memiliki sedikit keretakkan. Sangat jelas pernah terjadi pertempuran hebat.
Andai saja istana itu memiliki setidaknya satu kehidupan, mungkin saja tidak akan terlalu suram. Dindingnya masih cerah dan berkilau seperti berlian, menunjukkan betapa megah istana itu dibandingkan istana lainnya. Memang tidak sebesar kekaisaran, tapi itu lebih megah dari kekaisaran di Dunia Tengah.
"Ini ...." Xie Ruo nyaris tersedak. Apalagi menyadari bahwa lokasi mereka berada di langit, tepatnya di istana yang mengapung di awan. Benar-benar menentang konsep gravitasi.
"Tempatku mengasingkan diri, juga tempat di mana Kaisar Iblis muncul." Qu Xuanzi memberi jawaban dari apa yang ingin ditanyakan Xie Ruo.
"Jadi ini rumah keduamu?"
Qu Xuanzi mengangguk pelan. "Bisa dibilang begitu."
Xie Ruo hampir tidak bisa berkata-kata. Rumah kedua saja sudah sebesar dan semegah ini, apalagi rumah utamanya di Dunia Atas? Bahkan di Dunia Bawah saja sudah sangat besar sampai ia tidak sempat mengeksplor keseluruhan istana saking besarnya.
Hanya saja, sangat disayangkan jika istana sebesar ini hanya ditempati satu orang. Bisa dilihat, betapa kesepian Qu Xuanzi.
"Apa selama 10 tahun kamu tinggal di sini?"
"Tidak."
Xie Ruo menatapnya penasaran. "Di Dunia Atas?"
"Tidak juga."
"Tidak mungkin di Dunia Bawah, 'kan?"
Qu Xuanzi melihat Xie Ruo untuk beberapa saat, mencoba mencaritahu apa yang sebenarnya Xie Ruo pikirkan. Setelah menyadarinya, ia terkekeh.
"Aku bisa tinggal di mana pun. Ini kali pertama aku setelah berinkarnasi berkunjung ke tempat ini. Meski aku pergi ke Dunia Atas, di sana masih agak kacau. Tempat ini juga tidak lagi layak ditinggali."
Xie Ruo tidak terlalu terkejut, hanya merasa sangat disayangkan. Qu Xuanzi memiliki tempat di tiga dunia sekaligus, tapi tidak ada satupun yang ia kunjungi, melainkan harus hidup di alam liar. Betapa berat hidupnya. Entah apa saja yang dihadapi Qu Xuanzi selama ini.
Melepas topik itu, Xie Ruo memfokuskan pembicaraan mengenai istana terapung ini. "Lalu, apa ada hal yang ingin kau lakukan di sini?"
"Hanya mengambil beberapa hal. Kamu bisa berkeliling untuk melihat-lihat, jika ada yang suka, kau bisa mengambilnya."
Xie Ruo mengangguk. Mereka memasuki istana bersama, dan berpisah di persimpangan. Xie Ruo tidak berniat ikut, karena ia tidak berniat ikut campur masalah Qu Xuanzi.
Sepanjang jalan, hanya ada lorong dan beberapa barang yang tampak sederhana namun berkualitas terbengkalai begitu saja.
Entah kenapa Qu Xuanzi mengatakan bahwa tempat ini tidak lagi layak huni, padahal menurut Xie Ruo bisa saja ditempati jika sedikit dibersihkan. Tidak dibersihkan juga bisa ditempati. Meski ada beberapa hal yang rusak karena bekas pertempuran, itu bukan hal buruk.
Sepanjang jalan, sama sekali tidak ada yang menarik perhatiannya. Sejak di depan sana, terlalu banyak barang berbahan batu spiritual sehingga ia kebal terhadap tumpukan batu spiritual.
Hingga akhirnya sampai di ujung lorong, ia menemukan sebuah pintu besar yang cukup menarik. Di dalam sana mengandung tekanan yang kuat, seolah ada seseorang di dalam sana.
Xie Ruo mendorong pintu, namun pintunya agak macet yang membuatnya harus menggunakan sedikit sihir untuk membuka pintu. Ia masuk ke dalam, tapi siapa sangka ruangan itu sangat kosong. Ruangan berbentuk lingkaran dengan langit-langit yang terbuka tanpa atap.
Jika dipikirkan, arsitektur seperti ini sudah seperti lapangan dalam, hanya saja sedikit aneh karena lantai dalam ruangan sama sekali bukan digunakan untuk aktivitas biasa. Itu terbuat dari batu obsidian kelas tinggi, hanya saja terdapat sangat banyak retakan dan pecahan di sekitar lantai. Sangat jelas bahwa pusat pertempuran yang mengakibatkan kerusakan istana seharusnya terjadi di sini.
Di tengah ruangan, terdapat sebuah panggung yang tidak terlalu tinggi. Sebuah tiang dengan rantai besar yang berserakan berdiri di atas panggung, atau sebut saja sebagai altar. Ia dapat melihat banyak rune mati yang terukir di atas altar.
"Apa ini ... tempat munculnya Kaisar Iblis?" Melihat rune yang memenuhi altar sampai rantai dan tiang, ia semakin yakin. Sepertinya proses pemisahan dua darah itu memiliki aturan rumit dan menyakitkan. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi Qu Xuanzi saat itu.
Ketika tengah melamun sambil berjongkok melihat ukiran rune yang begitu sulit dipahami, tiba-tiba saja rune memunculkan cahaya merah yang membuatnya terkejut.
Cahaya merah bersinar di seluruh ukiran, membuat segala yang terjadi di ruangan tampak sangat hidup dan memunculkan sosok yang terantai di tiang dalam keadaan menunduk.
Xie Ruo merasa segala sesuatu di ruangan menjadi sangat aneh. Ia melihat sosok pria asing berdiri tepat di depannya yang berbatasan dengan altar. Xie Ruo mendongak, melihat pria asing yang sama sekali tidak dikenali berdiri memandang sesuatu di belakangnya dengan pandangan sendu.
Pria itu sekitar berumur 50an, dengan janggut dan rambut yang sedikit memutih. Ia mengenakan pakaian putih dan mewah membuat penampilannya sangat agung. Ada tanda dewa di kepalanya, Xie Ruo tahu itu setelah banyak membaca buku mengenai Dunia Atas di Menara Suci.
Xie Ruo berdiri, kemudian berbalik melihat arah pandang pria itu. Tatapannya terpaku pada sosok pria yang terantai di tiang penuh luka sambaran di sekujur tubuhnya. Rambut peraknya berkibar terbawa angin dari langit mendung yang kerap kali mengeluarkan guntur. Ketika pria itu membuka mata, iris merahnya menyala tanpa emosi.
"Xuanzi?" Xie Ruo akan menghampiri, namun langkahnya terhenti ketika sebuah kabut hitam muncul mengitari seluruh tubuh pria itu.
Cahaya emas muncul dari pihak lain membuat Xie Ruo harus minggir. Ia melihat tangan pria paruh baya itu mengeluarkan cahaya emas yang jauh berbeda dari milik Qu Xuanzi. Ada beberapa bintik putih di dalamnya, disertai tekanan yang jauh lebih kuat menekan kabut hitam di tubuh Qu Xuanzi.
"Apa yang kau lakukan?" Xie Ruo tidak tahu siapa pria itu sebenarnya, tapi cahaya emas itu membuat Qu Xuanzi mengerang kesakitan seolah jiwanya sedang tercabik-cabik.
Sayangnya, tidak ada yang bisa Xie Ruo lakukan. Ia sangat yakin bahwa kejadian ini adalah memori yang ditinggalkan jejak energi yang masih tersisa sehingga percuma saja jika ingin melakukan sesuatu.
Tiap energi memiliki memori, namun memori itu harus dirangsang oleh sesuatu yang memicunya mengulangi waktu kejadian seperti putaran film. Hanya saja, kali ini jauh lebih terasa nyata, seolah kejadian itu benar-benar ada di depannya.
Kabut hitam yang ditekan perlahan dikendalikan oleh cahaya emas. Kabut hitam itu keluar dari tubuh Qu Xuanzi, bersamaan dengan sinar merah yang membentuk tubuh baru di depan tiang hingga memunculkan wujud yang sangat mirip tanpa celah, seolah itu adalah duplikatnya.
Cahaya emas mengelilingi tubuh Qu Xuanzi yang mulai tenang, memulihkan lukanya dan melepas rantai yang melilit tubuhnya hingga pria itu jatuh ke lantai dalam keadaan setengah berlutut.
Wujud Qu Xuanzi berubah saat itu juga. Rambut peraknya menghitam, iris merahnya memudar, aura pembunuh dan berdarah yang kuat juga memudar digantikan cahaya emas yang terus memulihkan kondisinya.
Sedangkan di sisi lain, pria yang sangat mirip dengan Qu Xuanzi mulai membuka mata. Iris merahnya memandang Qu Xuanzi dengan tajam tanpa emosi.
"Sisanya kuserahkan padamu. Xiao Zi, jangan membiarkannya kehilangan kendali. Hanya kamu yang bisa melakukannya." Pria paruh baya itu bicara dengan perlahan dan jelas. Tidak ada rasa khawatir di matanya, hanya ada rasa ketidakberdayaan.
Pria yang mirip dengan Qu Xuanzi itu memasang senyum iblis. "Kau dengar? Jangan biarkan aku kehilangan kendali."
Tepat setelah mengatakannya, wujud pria itu menghilang saat itu juga dan meluncurkan serangan berat pada Qu Xuanzi. Qu Xuanzi segera menghindar, lalu menahan serangan brutal yang diarahkan padanya dengan penuh niat membunuh.
Benturan kedua belah pihak menyebabkan ledakan luar biasa dan tekanan yang begitu berat hingga menyebabkan kerusakan di mana-mana. Bahkan Xie Ruo yang awalnya berpikir bahwa semua itu hanya ilusi memori, mulai mengerutkan kening ketika merasakan tekanan luar biasa menyerangnya. Ia langsung membuat barrier untuk bertahan dari tekanan.
Ia merasa, berada di waktu yang sama saat kejadian itu terjadi.
Tebakan Xie Ruo segera terjawab di detik selanjutnya. Tatapan Xie Ruo kini bertemu dengan dua sosok mirip itu. Yang membuat Xie Ruo terkejut, keduanya sama-sama memandangnya dengan dingin.
Ia dalam masalah.