
Dalam balutan jubah hitam yang menutupi seluruh tubuh dari ujung kepala sampai ujung kaki, Xie Ruo melesat tanpa suara dan jejak, melintasi penjaga yang tengah melakukan shift malam.
Tidak ada yang menyadari pelariannya. Setelah berhasil keluar dari lingkup istana, Xie Ruo mempercepat langkah melewati perhutanan gelap tanpa siapa pun yang melintas.
Xie Ruo berpikir untuk langsung pergi ke Klan Xie sebelum mata-mata Zhong Guofeng menemukannya. Tapi di tengah jalan, sebuah kabut hitam melesat seolah akan melahapnya hidup-hidup.
Xie Ruo menghentikan langkah, menggunakan lengannya secara spontan untuk menghadang kabut hitam tersebut hingga ia termundur. Kekuatan tekanan yang cukup kuat, bahkan Xie Ruo merasakan lengannya perih.
Melihat ke depan, ia mendapat sosok berjubah hitam dengan topeng dikenakan di wajah secara sempurna. Xie Ruo memasang posisi waspada.
"Siapa yang mengirimmu?"
Sosok itu tidak menjawab. Ia menjadi bayangan hitam dan berlari ke arah Xie Ruo. Sosoknya seolah akan menyerang, membuat Xie Ruo harus bersiap untuk menyingkirkannya secara langsung.
Tapi begitu Xie Ruo menyiapkan api dingin di tangannya, bayangan hitam itu menghilang setelah melintasinya. Seolah sosoknya hanya ilusi yang menyatu dengan udara, tidak ada jejak apa pun.
Jika lengan Xie Ruo tidak merasa perih, ia curiga bahwa ia hanya berhalusinasi. Ternyata dia bisa diancam sampai seperti ini.
"Baiklah, kau menang." Xie Ruo mendengus kesal.
Ia tidak bisa pergi sekarang karena diikuti. Akan bahaya jika sosok itu mengikutinya sampai Klan Xie dan mengungkapkan lokasi Klan Xie kepada musuh. Ia tidak bisa mengambil resiko itu.
Sosok tadi pasti mata-mata, ternyata cukup kuat untuk melawannya. Jika Xie Ruo berniat membunuh mata-mata itu, ia harus berusaha dan akan ada pertarungan sengit. Sepertinya mata-mata itu bukan manusia.
Hal itu membuatnya semakin yakin, jika mata-mata yang dikirim Zhong Guofeng bukan manusia, maka Zhong Guofeng juga bukan manusia. Baiklah, ini semakin menarik.
Xie Ruo berbalik kembali ke istana. Setidaknya, usahanya tidak sepenuhnya sia-sia, ia kembali membawa informasi lain meski perjalanannya tidak berjalan lancar.
Ia berhasil memasuki istana dengan mudah seperti ia keluar istana sebelumnya. Tapi begitu ia sampai di menara, ia melihat Zhong Guofeng berdiri di depan pintu kamarnya sambil bersedekap dada.
Xie Ruo tidak terkejut. Toh, ia sudah ketahuan sejak awal. Mengabaikan kehadiran Zhong Guofeng, ia masuk ke dalam, namun lengannya dicegah pria itu hingga Xie Ruo harus berhenti.
"Apa ada sesuatu?" Xie Ruo menoleh melihat Zhong Guofeng.
"Kemana saja?"
"Apa itu urusanmu?"
Zhong Guofeng melihat luka lecet di lengan Xie Ruo. Ia mengerutkan kening, kemudian pandangannya menjadi dingin.
"Tetaplah di sini, kau akan aman," katanya.
Xie Ruo menarik lengannya secara paksa, kemudian masuk ke dalam tanpa mengatakan apa pun. Ia tidak boleh terlalu lama bicara dengan Zhong Guofeng. Bisa saja pria itu sedang mencari sesuatu dan mencoba mengorek informasi darinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi harinya, Zhong Xiaorong pergi menemui Xie Ruo. Saat itu Xie Ruo tengah melakukan rutinitas menyebalkan di ruang belajar. Begitu kedatangan Zhong Xiaorong diumumkan, Xie Ruo langsung kabur dari kelas tanpa menunggu persetujuan Guru Negara Ming.
Karena pihak lain membolos terang-terangan, mau tidak mau kelas berakhir. Guru Negara Ming pergi dengan raut jelek untuk kesekian kalinya membiarkan dua wanita tidak tahu etika itu bermain-main untuk terakhir kalinya. Tidak akan ada yang kedua, ia akan betindak tegas besok.
Begtiu Guru Negara Ming pergi, Zhong Xiaorong seperti biasa menarik Xie Ruo ke dalam ruangan dan menutup pintu. Ia langsung meletakkan berkas-berkas yang disimpan dalam cincin spasial ke atas meja.
"Aku sudah memilah mana yang berkaitan dengan Kaisar dan mana yang tidak. Semua ini adalah arsip lama yang menuliskan tentang kasus-kasus dan hal-hal mengenai anggota kekaisaran. Aku tidak tahu mana yang kau butuhkan, jadi aku ambil semua."
Xie Ruo mengambil salah satu gulungan dan membacanya. Alisnya terangkat. "Kisah teater juga dijadikan arsip rahasia?"
"Mungkin, terselip ketika sedang dikumpulkan." Zhong Xiaorong menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Xie Ruo mengabaikan gulungan tersebut kemudian memposisikan duduknya dengan tegak sambil menatap Zhong Xiaorong.
"Apa kamu sudah semua?" tanya Xie Ruo.
"Ya."
"Lalu, bagaimana kesimpulanmu?"
"Tidak ada masalah dengan masa lalu Zhong Guofeng. Ketika masih menjadi Putra Mahkota, ia memiliki banyak kontribusi atas semua kasus yang sudah kukumpulkan. Semua orang mengetahuinya, selain itu kekuatannya juga layak dan tidak ada yang berani menentangnya. Itu sebabnya, ayahku sebelumnya mengangkatnya menjadi kaisar setelah kematiannya."
"Bagaimana dengan kelahirannya? Ibunya?"
"Ibunya adalah permaisuri terdahulu, sudah meninggal ketika melahirkannya karena diracuni ketika masih dalam keadaan hamil. Saat itu, ia mengalami koma dan bayinya terpaksa lahir prematur atas perintah ibu suri karena tidak ingin racun itu mempengaruhi cucunya. Tapi karena lahir terburu-buru, permaisuri tidak kuat dan meninggal. Bayinya juga mengalami koma dan harus dirawat penuh."
"Permaisuri sebelumnya mengalami hal buruk, pasti saat itu istana sedang dalam kekacauan."
"Benar, ada sangat banyak pengkhianat dan konflik dalam harem. Kaisar saat itu memiliki tiga selir dan satu permaisuri, wajar saja jika konflik harem menyebabkan permaisuri mengalami hal yang seharusnya tidak terjadi." Hal yang membuat Zhong Xiaorong agak kesal, kaisar sama sekali tidak jera dan terus menambah istri. Sampai akhirnya ibunya menjadi korban, barulah kaisar berhenti.
"Kau tahu siapa yang melakukannya?"
"Ada dalam sebuah kasus dalam arsip. Kasus itu dirahasiakan, mengatakan bahwa Zhong Guofeng telah membunuh Selir Ma dengan alasan penggelapan dana istana harem. Banyak rumor yang mengatakan Selir Ma adalah pembunuh permaisuri. Mungkin itu benar, tapi kebenarannya hanya diketahui oleh Zhong Guofeng sendiri. Hal yang membuatku terkejut, Selir Ma adalah ibu kakak kedua. Wajar jika mereka saling berperang setiap saat dalam pengadilan istana. Aku tidak ingin ikut campur."
"Kakak keduamu cukup berani." Xie Ruo sepertinya terpikirkan sesuatu.
"Aku hanya berharap bisa menjadi penengah." Zhong Xiaorong tersenyum miris. Kemudian ia teringat akan sesuatu. "Oh iya, aku pernah dengar, ketika Zhong Guofeng dilahirkan, dia mengalami koma dan meninggal."
"Meninggal?"
"Ya, tapi itu hanya rumor. Tidak tahu rumor dimulai dari siapa, sehingga tidak bisa dianggap sebagai kebenaran. Apalagi setelah melihat Zhong Guofeng keluar dalam keadaan sehat di pelukan ibu suri, rumor itu langsung menghilang seolah tidak pernah ada. Itu tidak tertuliskan di dalam arsip, tapi aku mendengarnya dari pelayan lama baru-baru ini."
"Pelayan?" Menurut Xie Ruo, pelayan adalah satu-satunya yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi kala itu. Apa benar Zhong Guofeng ditukar? Atau mengalami nasib yang sama sepertinya, ditempati oleh jiwa lain?
"Pelayan itu agak gila dan telah diasingkan ke perbatasan. Beberapa hari yang lalu, aku dan Yan Yao pergi ke perbatasan untuk mengatur pelelangan yang dibuka di sana. Saat itu, aku bertemu wanita tua yang katanya pernah bekerja di istana. Dia telah lepas dari status pelayan dengan surat kontrak. Tapi dia sudah tidak waras dan tinggal sendiri. Jadi aku tidak terlalu memperhatikan."
"Pelayan dengan surat kontrak dan gila, benar-benar sebuah kebetulan. Menurutmu, siapa yang bisa membebaskannya?" Xie Ruo merasa informasi yang ia dapat sangat berguna.
"Entahlah, aku tidak berpikir untuk menyelidikinya saat itu. Jika aku tahu informasi darinya dibutuhkan, aku pasti sudah menginterogasinya meski kemungkinannya kecil."
Xie Ruo tersenyum lebar. "Tak apa, itu saja sudah cukup. Sekarang, aku akan membaca semua ini.
"Ruoruo, bagaimana kunjungan ke klan semalam?"
"Kau ketahuan?"
"Apa lagi?"
Zhong Xiaorong menghela napas pasrah. Sudahlah, penjagaan istana terlalu ketat, bahkan Xie Ruo tidak bisa menyelinap. Apalagi mata-mata Zhong Guofeng sangat banyak.
"Tapi, aku cukup mendapat informasi mengenai mata-mata Zhong Guofeng. Mata-mata setidaknya bukan manusia, kekuatannya hampir setara denganku. Untuk membunuhnya, butuh beberapa usaha."
"Apa sekuat itu?"
Xie Ruo mengangguk. "Cukup membuktikan bahwa Zhong Guofeng bukan manusia."
"Lalu kelahirannya ... apa dia ditukar?"
"Itu sebabnya, aku akan mencari tahu. Omong-omong, aku memiliki 1001 cara untuk keluar dari istana. Sayangnya, tidak bisa sekarang. Aku terlalu banyak menggunakan kekuatan sebelumnya, harus mengisi tenaga kembali."
"Kalau begitu, aku tidak akan mengganggu. Panggil saja jika butuh sesuatu."
Xie Ruo mengangguk. Zhong Xiaorong segera keluar membiarkan Xie Ruo sendirian membaca semua berkas yang ia pilih. Barang kali ada yang terlewat, Xie Ruo butuh konsentrasi sambil memulihkan kekuatannya.
Xie Ruo membaca satu persatu secara cepat dan teliti. Setiap kasus yang ia baca, semuanya hanya mengacu pada detail kondisi sebuah kasus serta semua orang yang terlibat. Namun, tidak dijelaskan bagaimana Zhong Guofeng menyelesaikannya.
Itu adalah hal rahasia, tentu saja Xie Ruo tidak akan mencari tahu lebih detail untuk membuang waktu. Ia lebih menekankan fokusnya pada kelahiran Zhong Guofeng dan kematian Permaisuri sebelumnya. Ditambah, kematian Selir Ma juga harus diteliti.
Masuk akal jika Zhong Guofeng membunuh Selir Ma karena wanita itu telah meracuni ibunya. Jika itu Xie Ruo, sudah pasti akan melakukan hal yang sama. Tapi jika ia menjadi Zhong Guofeng, untuk mendapatkan posisi tinggi, tidak hanya sekadar membuat banyak kontribusi.
Ia pasti akan menyingkirkan semua orang yang terlibat dengan kematian permaisuri. Selain itu, pasti akan membunuh banyak penghalang. Sebagai putra mahkota, nyawanya terancam. Selain meraih tahta, ia tidak memiliki pilihan lain untuk hidup dan mengklaim tahta lebih cepat.
Kaisar sebelumnya tidak terlalu perhatian pada Zhong Guofeng, hanya ada Ibu Suri. Tapi Ibu Suri telah mati sebelum Zhong Guofeng naik tahta. Otomatis Zhong Guofeng tidak memiliki dukungan.
Namun kematian Ibu Suri juga cukup misterius. Ia diberitakan meninggal begitu saja karena serangan jantung. Padahal jelas-jelas tidak ada riwayat penyakit di tubuh Ibu Suri. Ibu Suri adalah pelopor kelahiran Zhong Guofeng yang prematur, menyebabkan permaisuri semakin menderita dan mati lebih cepat.
Zhong Guofeng juga dididik Ibu Suri untuk meraih tahta. Bisa dibilang, Zhong Guofeng adalah boneka Ibu Suri. Kematiannya yang tiba-tiba pasti disebabkan oleh hal ini.
Apa Zhong Guofeng juga membunuhnya?
Tapi jika jiwa Zhong Guofeng berbeda sejak ia koma ketika baru dilahirkan, bukankah seharusnya ia tidak akan menerima ajakan Ibu Suri untuk menjadi bonekanya? Ia mungkin berpura-pura lemah untuk bersembunyi, tapi tidak akan dengan mudah diperdaya.
Maka dari itu, hal yang paling masuk akal untuk melepas belenggu permainan boneka ini adalah membunuh dalangnya. Ia membunuh Ibu Suri untuk lepas dari kekangan, barulah membunuh Selir Ma dan yang lainnya menggunakan dalih kesalahan yang tidak bisa dimaafkan.
Dengan posisi Zhong Guofeng, paling tidak ia hanya sedikit dihukum meski ada yang keberatan. Kaisar juga tidak bisa melakukan apa pun.
Sekarang Xie Ruo paham mengapa tombak itu begitu haus darah. Darah anggota kakaisaran mengalir di sana.
Omong-omong, anggota kekaisaran yang tersisa cukup beruntung karena masih hidup sampai sekarang. Terutama untuk Zhong Wenyue.
Sepertinya, kehadiran mata-mata Zhong Wenyue adalah bagian dari rencana Zhong Guofeng untuk menyingkirkannya secara perlahan. Zhong Guofeng tidak sebodoh itu membiarkan mata-mata musuh berdiri di sisinya.
Xie Ruo kali ini harus menghadapi seseorang yang sangat berbahaya dan penuh intrik, ia harus lebih berhati-hati. Ia masih mencari tahu apa alasan Zhong Guofeng membawanya ke sini. Pasti bukan hanya sekadar tertarik atau hanya karena desakan menteri dan memilihnya karena memiliki latar belakang besar.
Jika dia adalah Dewa Iblis, maka alasannya membawa Xie Ruo ke istana tak lain untuk energi murni. Dewa Iblis tidak akan membunuhnya sampai mendapatkan energi murni. Otomatis tujuan membawanya ke sini adalah untuk memantaunya dari dekat dan membatasi pergerakannya.
Jika dia Kaisar Iblis ... Xie Ruo tidak dapat memikirkan alasannya. Terakhir mereka bertemu, Kaisar Iblis bersikeras membuatnya marah. Sampai sekarang, ia masih tidak tahu motifnya. Bahkan jika Zhong Guofeng adalah Kaisar Iblis, ia juga tidak dapat menebak apa yang pria itu pikirkan saat ini.
Tapi satu hal yang bisa ia tangkap sekarang dan sudah pasti, Zhong Guofeng sudah tahu siapa 'Xie Ran' di masa lalu. Memang tidak terlalu penting, tapi detail satu ini bisa menjadi boomerang untuk dirinya sendiri.
Xie Ruo harus sangat berhati-hati di tiap langkah. Siapa pun Zhong Guofeng, bukanlah seseorang yang mudah ditebak.
Ketika tengah memikirkan rencana yang akan dijalankan sambil memijat kening, tiba-tiba pintu diketuk. Xie Ruo mendongak ke arah pintu, mengetahui bahwa pelayan pribadinya yang berdiri di depan pintu.
"Masuk."
Pintu akhirnya dibuka, menampilkan wanita berpakaian pelayan membungkuk ke arah Xie Ruo. "Yang Mulia, makan malam sudah siap."
Xie Ruo melihat ke arah jendela, baru sadar bahwa hari sudah malam. Rupanya ia mengurung diri sangat lama sampai tidak tahu waktu.
"Aku akan datang."
Xu Ziyan, pelayan pribadi Xie Ruo membungkuk dan menutup pintu. Ia tampak sangat pendiam namun juga tegas, berbeda sekali dengan pelayan lain membuat Xie Ruo berpikir wanita itu juga mata-mata Zhong Guofeng.
Xie Ruo menghela napas berat, kemudian beranjak dari kursi. Ia langsung pergi ke ruang makan untuk makan malam. Ia harap makanannya tidak seburuk sebelumnya.
Tapi di luar ekspektasi, baru saja ia sampai di depan meja yang dipenuhi dengan makanan, bukannya bersemangat seperti foodie yang tidak makan berhari-hari, Xie Ruo malah merasa mual akan baunya.
Xie Ruo menutup hidung, kemudian merasa perutnya bergejolak ingin muntah. Ia menyembunyikannya dari para pelayan dan langsung pergi dari ruang makan.
"Ganti makanannya!"
Para pelayan agak terkejut. Bukankah makanan ini sama seperti makanan semalam? Kenapa sekarang majikan mereka menolak?
Xie Ruo pergi ke kamar, kemudian menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur dengan pasrah. Apa ia terlalu stress sampai tidak memiliki nafsu makan? Jelas-jelas ia sangat kelaparan sampai ingin mati!
Ia merasa akan menjadi tengkorak hidup jika terus seperti ini. Apa yang harus dilakukan?
Apa karena ia terlalu banyak menggunakan kekuatan sehingga mempengaruii tubuhnya? Ia hanya sekali menjadi naga, tapi ternyata memiliki efek sebesar itu. Selain tenaganya yang menipis setiap saat, rutinitas hariannya terganggu dan suasana hatinya terus berubah. Ini membuatnya kesal.
"Yang Mulia, apa terjadi sesuatu?" Xu Ziyan bertanya dari luar pintu.
Xie Ruo melihat ke arah pintu, kemudian mengerang kesal. "Buatkan aku sesuatu yang tidak berbau. Aku harus makan!"
"Baik."
Xie Ruo menggerutu dalam hati. Ia ingin makan, tapi perutnya menolak membuatnya frustrasi sendiri. Sudahlah, ia akan makan makanan hambar setidaknya untuk saat ini. Paling besok sudah membaik. Mungkin ia hanya sedang stress saja karena bekerja seharian penuh.
Ditambah, ia dikurung seperti burung dalam sangkar emas. Ia tidak boleh keluar walau hanya selangkah, apa yang bisa diperbuat? Sekali keluar saja sudah diserang orang gila.
Xie Ruo pikir, ia akan menjadi gila cepat atau lambat.