The Emperor God Wife Is Naughty

The Emperor God Wife Is Naughty
169. Mengakui Guru



Shi Yang tercegang merasakan udara panas dan dingin yang tercampur aduk. Sangat tidak nyaman. Tubuhnya bahkan sulit digerakkan karena tekanan yang kuat ketika suara yang begitu dingin keluar dari dalam kediaman.


Itu pasti Xie Ruo, tapi ia tidak pernah berpikir akan sekuat itu. Penilaiannya tidak salah, wanita itu memang menyembunyikan auranya dengan sangat baik. Siapa dia sebenarnya?


Di sisi lain, Shi Muyue sangat tertekan sampai merasa sangat ingin lari. Ia susah payah mempertahankan posisinya dengan tubuh bergetar. Bagaimana Shi Yang buta itu bisa menyembunyikan seseorang yang sangat kuat?


"Nona yang terhormat, ini adalah masalah Keluarga Shi dan sedang mendidik putri pembangkang. Jika Nona yang terhormat mau bekerja sama, Keluarga Shi akan menyambut Nona dengan sangat baik dibandingkan rumah kotor ini."


"Putri pembangkang? Berani sekali mengatakan muridku yang lucu adalah seorang pembangkang." Suara dingin utu membuat mereka semakin terkejut.


"Murid ...." Shi Muyue nyaris kehilangan akal saking tidak percaya. Bagaimana Shi Yang bisa memiliki guru? Orang gila mana yang ingin menjadikan seorang gadis buta dan pembawa sial murid?


Melirik ke arah Shi Yang yang masih tidak bergerak dari tempatnya, pandangannya dipenuhi dengan kebencian. Jika saja Shi Wei atau Shi Yi yang mendapatkan perlindungan orang kuat di belakangnya, ia tidak akan sangat marah. Hanya saja, apa hak si buta itu?


"Kalian Keluarga Shi, sepertinya tidak tahu bagaimana memperlakukan tamu. Aku yang datang tak diundang, bersyukur tidak perlu melihat wajah tebal seseorang."


Shi Muyue nyaris muntah darah karena penghinaan wanita tertentu. Ia sangat ingin melawan wanita itu, tapi keberaniannya menciut merasakan udara panas dingin yang masih mendera.


Pada akhirnya, Shi Muyue hanya bisa menghentakkan tangannya pergi. Lu Xijue mengikuti dengan rasa kesal setelah melihat Shi Yang dengan sinis. Awas saja nanti, ia akan membuat hal yang lebih besar dan mengusir pembawa sial itu pergi dari Keluarga Shi.


Setelah kepergian mereka, tekanan dan suhu tidak stabil itu menghilang begitu saja. Hanya ada beberapa pelayan yang terkapar, beberapa dari mereka bersimbah darah


Shi Yang tersadar dari renungan dan berdiri. Suasana sekitar sangat sepi, ia dapat merasakan ada banyak pelayan yang terkapar. Bahkan ketika melangkahkan kaki, ia dapat merasakan alas kakinya menginjak sesuatu yang basah disertai bau amis yang pekat. Tidak salah lagi, telah terjadi hal mengerikan di sini.


Pintu kediaman terbuka, menampakkan Xie Ruo berdiri dengan tenang tanpa emosi. Ia melihat Shi Yang yang terdiam, kemudian berkata, "Jangan salah paham, ucapan tadi hanya untuk mengusir serangga pengganggu, aku tidak suka berisik. Para pelayan itu juga tidak mati, nanti juga bangun sendiri dan pergi."


"Nona Xie ...." Shi Yang ingin mengatakan sesuatu, namun langsung menelan kembali semua kalimat yang ingin disampaikan.


Xie Ruo menarik alisnya. "Aku sudah menyelesaikan penelitianku, tinggal mencari solusi. Ibunu diracuni seseorang secara sengaja, aku akan memcari pelakunya. Untuk Keluarga Shi, lebih baik kamu mengurusnya sendiri. Karena kau membiarkanku tinggal di sini, sesuai kesepakatan, aku akan sedikit membantu pelatihanmu. Mulai sekarang, kau akan berlatih di bawah pengawasanku."


Xie Ruo kembali ke dalam setelah mengucapkan kata-kata itu. Butuh beberapa saat untuk Shi Yang mencerna, kemudian masuk ke dalam kediaman setelah sadar.


Xie Ruo baru saja mengatakan bahwa Shi Yang terlalu lemah, Shi Yang tahu hal itu. Maka dari itu, ia akan sungguh-sungguh berlatih. Tidak peduli apa ia buta atau tidak, asalkan dapat memberi keadilan untuk ibunya dan diri sendiri, ia akan puas.


Xie Ruo pergi ke kamar dan menghela napas. Apa yang ia pikirkan sampai memberi simpati pada orang lain? Apa karena kondisi Shi Yang mirip dengannya sehingga ia dapat merasakan kondisi itu secara langsung dan melawan orang-orang bodoh itu?


Sepertinya, sampai saat ini Xie Ruo masih belum bisa meninggalkan semua masa lalu. Sejak semua ingatan kembali, ia menjadi sangat mengetahui apa yang telah ia lalui lebih jelas daripada beberapa tahun yang lalu. Ia tidak bisa meninggalkan identitas Isabella dengan mudah.


Sulit bagi seseorang meninggalkan identitas lamanya.


Selama beberapa hari, Keluarga Shi tidak mengganggu ketenangan kediaman. Shi Yang berlatih dengan tenang, dibimbing oleh Xie Ruo. Meski bimbingannya hanya terdiri dari beberapa kata, Shi Yang mudah paham dan melakukannya dengan baik.


Hingga akhirnya hanya dalam beberapa hari, kekuatan Shi Yang meningkat drastis. Sebelumnya ia hanya berada di tingkat profesional awal dalam waktu lama, sekarang telah meningkat ke profesional menengah berkat pelatihan gila Xie Ruo.


Meski agak gila, Shi Yang tidak mengeluh. Kepercayaan Shi Yang selama beberapa waktu ini terhadap Xie Ruo perlahan meningkat. Meski Xie Ruo bersikap dingin, mereka cukup dekat bagai guru dan murid sungguhan.


Jika seperti ini, tidak salah jika menyebut mereka sebagai guru dan murid. Bagaimanapun, meski Xie Ruo tidak mengakui, Shi Yang adalah satu-satunya orang yang ia ajarkan secara pribadi. Mau tidak mau Shi Yang adalah muridnya.


Itulah yang terlintas di benak Xie Ruo, tapi ia tidak peduli. Keadaan ini adalah terpaksa. Jka Shi Yang sukarela menjadi muridnya, ia akan melatihnya lebih keras. Ia tidak ingin memiliki murid dengan kemampuan abal-abal.


Baru saja dipikirkan, Shi Yang sudah datang ke hadapan Xie Ruo yang tengah menikmati anggur dengan santai sambil meluruskan kaki di kursi panjang. Omong-omong, ia sudah ahli minum minuman beralkohol tanpa takut harus mabuk.


"Nona Xie." Shi Yang memanggil. Tongkatnya ia letakkan di depan, kemudian berlutut di depan Xie Ruo. "Aku Shi Yang ingin mengakuimu sebagai Guru. Apa boleh?"


Xie Ruo merasa lehernya menolak anggur yang ditenggak hingga ingin menyemburkannya. Ia menahan semburan, hingga menyebabkan lehernya tergejolak dan batuk-batuk. Apa yang barusan marga Shi ini katakan? Guru?


"Jika tidak, Shi Yang tidak akan memaksa." Shi Yang menunduk. Sepertinya ia meminta berlebihan hingga membuat Nona Xie terkejut.


Xie Ruo menetralkan eksperinya, merasa beruntung kalau Shi Yang tidak bisa melihat. Atau ia akan sangat malu akan tingkah gilanya.


Ia berdeham, kemudian bicara dengan nada santai, "Kamu ... serius? Takutnya kamu akan menyesal."


"Seumur hidup, Shi Yang tidak akan menyesal. Sebelumnya Shi Yang bersikap tidak sopan karena harus waspada dan belum mempercayai siapa pun."


"Lalu kau berubah pikiran," gumam Xie Ruo, kemudian menghela napas. "Kenapa aku harus menerimamu?"


"Shi Yang bisa melakukan apa pun. Jika Shi Yang bisa mengikuti Guru, itu adalah sebuah kehormatan dibandingkan kembali ke Keluarga Shi. Shi Yang ... juga bisa memasak meski tidak bisa melihat. Terdengar tidak masuk akal, tapi persepsi Shi Yang bisa mengetahui gambaran keadaan sekitar secara detail tanpa harus melihat."


Mendengar tentang makanan, tiba-tiba Xie Ruo merasa lapar. Ia belum makan sejak pagi karena terlalu malas pergi ke luar. Ia baru tahu, ternyata Shi Yang bisa masak.


Tentu saja, siapa yang mau datang je tempat ini untuk memberi makanan sedangkan Shi Yang tidak bisa pergi ke luar? Shi Yang harus memasak sendiri dan menanam sayur sendiri. Semua harus dilakukan sendiri untuk bertahan hidup. Xie Ruo penasaran, bagaimana rasa masakan seseorang yang tidak bisa melihat. Meski ia sendiri ragu.


"Kalau begitu, aku akan memberimu tes. Menjadi muridku tentu harus memiliki manfaat untukku, tidak bisa hanya sepihak."


"Kalau begitu, Guru bisa mengatakannya padaku." Shi Yang telah memantabkan hati. Apa pun kesulitannya, ia akan melakukannya.


"Shi Yang akan melakukannya dengan baik." Shi Yang langsung berdiri dibantu oleh tongkatnya, kemudian pergi ke dapur dengan lancar.


Xie Ruo hanya berharap permintaannya tidak menyebabkan rumah ini terbakar. Atau setidaknya, ia tidak dipaksa makan arang. Itu saja.


Butuh beberapa saat untuk membiarkan Shi Yang masak sendiri. Xie Ruo hanya diam di tempat, memikirkan bagaimana hasilnya. Ia berdoa dalam hati agar nyawanya tidak melayang karena keracunan makanan secara tidak disadari.


Setelah waktu satu batang dupa, Shi Yang keluar membawa sepiring makanan dan diletakkan ke meja. Ia balik lagi ke dapur mengambil piring lain satu per satu sambil membawa tongkat di tangannya.


Sungguh, ini jelas namanya mempersulit diri sendiri. Xie Ruo hanya bisa pura-pura tidak melihat.


"Guru, silahkan dicoba." Shi Yang tersenyum sangat lebar, tampak sangat percaya diri dengan hasilnya.


Xie Ruo tersenyum canggung, kemudian duduk di kursi. Karena tidak ada keraguan di wajah Shi Yang, ja bisa dengan lancar mengambil makanan dan memakannya. Tenang saja, meski keracunan makanan, ia tidak akan begitu terpengaruh. Meski akan 'sedikit' sekarat.


Memakan sayur yang dimasak Shi Yang, ia terdiam beberapa saat begitu bumbu sayur menyentuh lidahnya.


Itu membuat Shi Yang gelisah. "Guru?" Kenapa sama sekali tidak ada suara? Ia jelas tahu Xie Ruo sedang duduk di kursi meja makan. Apa terjadi sesuatu?


Hal yang tidak diketahui Shi Yang, serta di balik heningnya ruangan. Xie Ruo sedang senyum-senyum sendiri sambil menahan diri untuk tidak membuat keributan. Ia harus menjaga wajah. Sekali lagi, ia beruntung Shi Yang tidak bisa melihat.


Masalahnya, makanannya sangat enak! Tidak kalah dari Qu Xuanzi, masakan Shi Yang bisa masuk dalam kategori masakan terenak meski yang ia masak hanyalah makanan sederhana. Dari mana Shi Yang belajar?


Selagi Shi Yang gelisah karena tidak ada suara yang terdengar, Xie Ruo memakan makanannya sebanyak mungkin. Ia menyembunyikan suaranya yang sedang makan agar tidak diketahui Shi Yang. Ini dilakukan untuk menjaga wajah di depan muridnya yang istimewa.


"Guru, apa terjadi sesuatu?" Shi Yang semakin cemas. Kenapa sama sekali tidak ada suara?


Xie Ruo akhirnya menyelesaikan makan sampai mengalami cegukan. Ia makan terlalu cepat, perutnya sudah kenyang meski masih ingin mengunyah lagi.


Karena kasihan pada Shi Yang yang menunggu, Xie Ruo akhirnya memberi tanggapan. "Lumayan, karena kamu sudah berusaha keras, aku akan meluluskan."


Shi Yang tersenyum lega. Akhirnya ia lulus dan dapat mengikuti Xie Ruo tanoa harus merasa canggung. "Terima kasih, Guru."


"Hmm, tapi kamu harus memasakkanku makanan setiap hari, sehari tiga kali." Xie Ruo menyahut dengan enteng. Baginya, Shi Yang bukan sekadar murid, tapi koki pribadi.


Shi Yang terkekeh. Rupanya Xie Ruo menyukai makanannya, tapi masih saja tetap gengsi mengatakannya secara langsung. Tapi, itu saja sudah cukup.


"Karena kamu sudah menjadi muridku, aku akan memberimu tugas." Xie Ruo mengeluarkan sebuah buku dari cincin ruang, kemudian diberikan pada Shi Yang. "Itu adalah sihir tingkat kaisar untuk meningkatkan inderamu lebih tajam dan memberi serangan psikis pada musuh. Itu tidak mewajibkan seseorang melatih kekuatan fisik, tapi kekuatan mentalmu harus kuat ketika menggunakannya. Setelah kau menyelesaikannya, aku akan mencarikan sihir tingkat surgawi yang cocok dengan kemampuan dan konstitusimu."


Konstitusi Shi Yang termasuk istimewa dan dapat ditarik oleh Menara Suci kapan saja. Tapi karena Shi Yang sudah menjadi koki sekaligus murid Xie Ruo, tidak akan semudah itu memasuki Menara Suci. Kecuali ada kondisi khusus, ia tidak akan membiarkannya.


"Baik, Guru." Shi Yang membungkuk, kemudian pergi berlatih sihir baru. Sebelumnya, ia hanya mekiliki sihir tingkat prajurit yang paling rendah. Mendapatkan sihir tingkat kaisar membuatnya sangat bersemangat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tiga hari sudah dilalui, Xie Ruo melatih Shi Yang dengan keras. Seperti melatih fisik dan mental, kemudian membantunya mempelajari sihir psikis agar dapat menyelesaikannya dengan cepat. Selain itu, ia juga harus keluar memantau keadaan kota dan Keluarga Shi. Tiga hari ini adalah hari yang berat bagi Xie Ruo.


Di Kota Canghai, ada beberapa kata-kata Sekte Bayangan Malam yang kerap kali memberi informasi yang mereka dapatkan kepada Xie Ruo. Itu memudahan Xie Ruo mendapat petunjuk.


Racun itu didapat secara tiba-tiba, bermula dari Keluarga Shi. Pelayan di sana mengatakan bahwa ada seorang wanita misterius datang mengunjungi Lu Xijue. Tapi wanita itu menghilang secara mendadak dan tidak ada kabar lagi. Di hari berikutnya, kesehatan Lan Xuanyi mulai memburuk.


Itu adalah informasi yang sangat berguna yang menyatakan bahwa racun itu diberikan secara sengaja oleh wanita misterius yang menawarkan kerja sama dengan Lu Xijue. Bisa jadi, alasan kerja sama itu adalah hal umum bagi seorang selir untuk mendapat posisi istri sah.


Memang beresiko memiliki banyak istri, itu sebabnya Xie Ruo sangat menentang poligami. Untung saja, hal itu tidak akan terjadi padanya. Bila terjadi, ia akan membunuh wanita mana pun yang merebut suaminya dan akan membunuh pria yang mengkhianatinya. Siapa pun itu dan apa pun alasannya, ia tidak peduli.


Malam ini, ia kembali ke kediaman melalui jendela. Tapi begitu ia sampai di depan jendela, ia terkejut melihat jendela kamarnya yang terbuka. Seingatnya jendela kamar sudah tertutup rapat. Apa ada penyusup?


Sangat wajar jika ada penyusup. Ia juga memiliki konflik dengan Keluarga Shi, masuk akal jika mereka mengirim pembunuh bayaran untuk menghabisi Shi Yang dan dirinya.


Hanya saja, kenapa harus kamarnya? Bagaimana Keluarga Shi tahu bahwa ia ada di salah satu kamar? Apa mereka hanya asal tebak atau pemmbunuh itu yang masuk secara asal agar tidak diketahui? Intinya, kedua tebakan itu memiliki banyak celah yang kemungkinan bisa terjadi ataupun tidak.


Tapi hal yang membuatnya semakin waspada, ia tidak berasakan napas lain selain Shi Yang di dalam kediaman. Apa orang itu menyembunyikan napasnya? Bukankah kemampuannya akan di atas Xie Ruo jika Xie Ruo tidak dapat menemukan keberadaannya?


Itu mustahil! Mana ada orang kuat yang mau bekerja dengan Keluarga Shi, apalagi untuk sekadar membunuh seseorang yang mudah ditangani seperti Shi Yang. Kecuali seseorang yang ia kenal, atau bawahan 'dia', tidak ada yang bisa menyembunyikan diri darinya.


Xie Ruo memasang sikap waspada, kemudian memasuki ruangan melalui jendela. Ia mengedarkan pandangan, mencoba mencari jejak penyusup.


Ia tidak menyimpan barang berharga di dalam ruangan dan tidak mencium baru darah, itu berarti semua seharusnya baik-baik saja. Hanya saja, ia tidak bisa menurunkan kewaspadaan. Bagaimanapun keselamatan Shi Yang juga penting.


Ia melihat ke arah jendela, kemudian menutupnya. Sepertinya ia hanya salah sangka dan terlalu memikirkan hal buruk. Bisa saja jendela itu terbuka karena angin, mengingat jendela tidak selalu tertutup rapat karena pondasi rumah. Atau mungkin ia lupa menutup jendela.


Setelah pikiran Xie Ruo tenang, ia akan pergi menemui kokinya untuk meminta masakkan makanan. Tapi begitu ia berbalik, tiba-tiba sebuah tangan tangan kekar melingkari pinggangnya dengan erat hingga punggungnya menempel sempurna dengan tubuh seseorang. Ia dapat merasakan napas orang itu menghembuskan lehernya, juga bisikan yang sangat ia kenal.


"Aku merindukanmu."