
Qu Xuanzi terjebak dalam badai yang dibuat Dewa Iblis bersama Kaisar Iblis yang menahannya mati-matian. Pikiran Kaisar Iblis saat ini tidak bisa mengontrol keinginannya untuk keluar dari pertempuran, sehingga mau tidak mau ia harus memerangi Qu Xuanzi tanpa bisa memikirkan apa yang akan terjadi pada Xie Ruo di luar sana.
Sebelumnya ia bisa memanipulasi tugas menghabisi Klan Xie dengan menggunakan Jian Wu. Tapi sekarang, Dewa Iblis memerintahkannya menahan Qu Xuanzi menyelamatkan Xie Ruo, ia tidak bisa melakukan tindakan lain selain menahan pria itu dengan hidupnya.
Qu Xuanzi terbang ke udara untuk mencari celah badai buatan yang menghalau langkahnya sambil menghindari Kaisar Iblis yang tak hentinya menyerang. Badai kegelapan yang dibuat Dewa Iblis memiliki celah di bagian teratas badai, jika ia bisa meraihnya dan keluar dari wilayah badai, ia baru bisa menemukan Xie Ruo.
Sayangnya, Kaisar Iblis tidak akan membiarkannya lepas dengan mudah. Pria itu muncul kembali, melepaskan seekor naga hitam besar dengan mata merah mengerikan siap membunuh mangsanya. Naga itu mengaum dengan keras, menyebabkan seluruh medan perang yang tertutupi badai kini mendengar aumannya.
Naga itu jelas bukan berasal dari ras naga. Ia diciptakan sendiri dari kegelapan oleh Qu Xuanzi dulu sebelum terbentuknya Kaisar Iblis, juga sebelum adanya Naga Azure dan lainnya, untuk menghancurkan Dunia Bawah yang berisikan pengkhianat tentunya. Setelah pemisahan darah, kekuatan kegelapan ada pada Kaisar Iblis dan dikendalikan pria itu.
Naga itu muncul kembali mengguncang Dunia Atas ratusan tahun yang lalu ketika perang terjadi. Kini naga itu muncul datang, menyebabkan ketakutan dan trauma luar biasa bagi mereka yang pernah berperang di perang sebelumnya, termasuk para iblis.
Naga itu menyerang disertai aura kegelapan yang pekat. Kekuatannya yang mengguncang dataran menyebabkan energi gelap semakin pekat dan terkumpul mendukung tubuh besarnya yang terdiri dari kabut hitam.
Bagi Qu Xuanzi, naga itu bukan apa-apa karena ia sendiri yang menciptakannya. Hanya saja, naga itu merepotkannya yang ingin pergi dengan membuat wilayah cangkupan badai melebar. Kekuatan naga kegelapan terbilang sangat kuat, bahkan mampu memanipulasi alam. Sejauh ini, hanya naga surgawi yang bisa melawannya di antara naga yang lain.
Tiap kali Qu Xuanzi pergi ke sisi lain untuk keluar dari area badai, naga itu selalu menutup jalan dan memperluas cangkupan badai lalu menghilang seolah mempermainkannya. Naga itu tidak berani berhadapan dengan Qu Xuanzi langsung, jadi ia menggunakan cara licik dan menjengkelkan untuk memenuhi tugas dari Kaisar Iblis.
"Cukup." Qu Xuanzi sudah tidak bisa menahan rasa kesal lagi. Ia memandang kegelapan di sekitarnya yang dipenuhi kesunyian dan dentuman guntur. Cahaya emas keluar dari tangannya, menyebar ke segala area yang menyebabkan seluruh makhluk yang tersembunyi dalam kegelapan terlihat.
Cahaya emas memperbesar areanya menguasai badai. Dalam sekejap, suasana yang penuh dengan suhu dingin kini menjadi panas total seperti di padang gurun. Perubahan suhu yang begitu drastis membuat banyak orang merasa tersiksa dan mengalami penurunan kesehatan signifikan.
Naga kegelapan yang bersembunyi tidak bisa lagi menyembunyikan diri dari kegelapan. Ia keluar membawa Kaisar Iblis di punggungnya, kemudian mempertahankan badai yang membuat suasana medan perang begitu kacau.
Kaisar Iblis secara terang-terangan melambung ke udara dan menyerang Qu Xuanzi sekali lagi. Naga kegelapan mengikutinya secara otomatis, membuat Qu Xuanzi dikerubungi dua kegelapan sekaligus yang menahan sihirnya untuk menekan badai. Jika ia menggunakan kloning seperti yang biasa dilakukan Dewa Iblis, itu hanya menyianyiakan terlalu banyak kekuatan, belum tentu Kaisar Iblis akan menyerah juga.
Ia menarik kekeringan, melepaskan badai yang merajalela menekannya. Ia membuat pelindung di sekitar sehingga naga kegelapan tidak bisa menyentuhnya, sedangkan ia berfokus pada Kaisar Iblis yang terus mencoba menghentikannya.
Serangan beruntun menyebabkan langit menjadi lebih suram. Kaisar Iblis sama sekali tidak bisa mundur, melainkan terus menyerang seolah ingin membunuh Qu Xuanzi. Memang pada dasarnya Dewa Iblis menyarankan untuk lebih baik membunuh Qu Xuanzi untuk altar, jika sewaktu-waktu ia gagal merebut 'darah campuran lainnya' di Dunia Atas yang masih belum ada kabar.
Kaisar Iblis membawa Qu Xuanzi ke dalam dunia ilusi yang terbentuk dari kekuatan mental. Dunia ilusi penuh kebohongan, segala sesuatu di sekitarnya berubah dan penuh kepalsuan. Namun, kepalsuan itu berubah menjadi nyata begitu serangan beberapa ular kecil melesat dari kegelapan yang sunyi.
Qu Xuanzi menghancurkan semua ular-ular itu, kemudian menggunakan kekuatan mental di matanya untuk menghancurkan dunia ilusi. Kekuatannya dan Kaisar Iblis setara, menghancurkan dunia ilusi hanya bisa dilakukan jika ia menggunakan seluruh kekuatannya, apalagi dunia ilusi yang kali ini digunakan sudah diperbaharui oleh Kaisar Iblis sehingga Qu Xuanzi tidak melihat celah seperti yang lalu.
Matanya menjadi emas, menghubungkan pikirannya dengan Kaisar Iblis, berusaha mencari keberadaannya. Selagi serangan tak berujung mengganggu konsentrasinya, ia menghindar dan menghancurkan semua, tak peduli apa serangan itu akan terus bertambah atau tidak.
Ketika ia menemukan posisi Kaisar Iblis dalam dunia ilusi, ia menghilang tanpa aba-aba. Kaisar Iblis di sudut dunia ilusi mulai merasa waspada begitu aura dingin dan penuh niat membunuh melesat. Ia melompat ke sisi lain untuk menghindari bilah emas yang muncul, namun begitu ia mendarat, Qu Xuanzi muncul dengan sihir semerah darah yang membuatnya dipaksa keluar dari dunia ilusi.
Qu Xuanzi terbebas dari dunia ilusi, kemudian menggunakan pedangnya untuk menghancurkan naga kegelapan yang terus mengganggu. Pedangnya diayunkan, membentuk bilah semerah darah dan besar seperti bulan sabit. Itu tepat mengenai bagian terlemah naga kegelapan yakni bagian tengah dari lehernya, sehingga tubuh berkabutnya hancur berkeping-keping.
Qu Xuanzi tidak peduli apa naga kegelapan hancur atau tidak. Toh, ia bisa membuat yang lebih baik dan patuh sebagai peliharaan.
"Kau tahu, tidak seharusnya aku menahanmu di sini." Kaisar Iblis berdiri tidak jauh dari Qu Xuanzi berada. Ia tidak terlihat terluka karena serangan barusan.
Qu Xuanzi menatapnya datar. "Memang seharusnya begitu."
"Sayangnya, iblis tua itu mengendalikan pikiranku. Semua jadi kacau." Kaisar Iblis tersenyuk kecut. "Ketika keluar nanti, aku tidak berharap naga kecil itu sekarat."
"Tidak akan."
Kaisar Iblis menarik sebelah alisnya. "Bagaimana kau tahu?"
"Aku terhubung dengannya."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Xie Ruo bersembunyi dalam kegelapan badai yang ia manfaatkan untuk berkamuflase dan bersembunyi dari Dewa Iblis. Ia telah menghubungi Long Long, syukurlah naga itu telah membawa anaknya pergi ke tempat yang jauh lebih aman.
Meski pada akhirnya ditempatkan di Menara Suci, itu tidak masalah karena tidak ada tempat lain yang lebih aman dibanding Menara Suci yang dipenuhi ilusi. Huo Yuzheng juga masih bertarung dengan iblis di Alam Kekosongan setelah menyingkirkan semua iblis di Dunia Atas, kemungkinan selesai juga belum tentu kepastiannya.
"Aku harap mereka baik-baik saja." Xie Ruo menghela napas.
"Untuk pertama kali aku melihatmu seperti ini." Kepala buntung di sebelahnya tiba-tiba muncul sambil bergumam. Wujud gelapnya tersamarkan oleh badai kegelapan.
Xie Ruo meliriknya, sama sekali tidak terkejut. "Pergilah jika ingin hidup."
"Takutnya, aku sudah mati di tangan suamimu."
Xie Ruo memandangnya aneh. "Kau membuat masalah?"
"Sebagian wilayah badai menjadi gurun, itu mengerikan. Banyak satan mati terbakar secara massal, serta iblis yang kekeringan, aku tidak ingin mengikuti jejak mereka."
"Benar juga, kegelapan adalah nutrisimu." Xie Ruo bergumam kecil sambil melihat sekitar. Wilayahnya ini sepertinya terlalu jauh dari lokasi pertempuran Qu Xuanzi dan Kaisar Iblis, Dewa Iblis benar-benar memisahkan mereka sejauh mungkin.
Satan melirik Xie Ruo, seolah ada yang ingin dikatakan. Namun tiba-tiba, ia merasa wilayah badai di sekitar mulai kacau kembali. Sepertinya pertempuran Kaisar Langit dan Kaisar Iblis telah mencapai wilayah ini. Benar-benar mengerikan.
"Wanita jahat, akan lebih baik jika kau menghindar. Di sini akan menjadi neraka." Satan berujar dengan hati-hati.
Xie Ruo terlihat tenang. Ia berbalik melihat Satan, tapi tiba-tiba rautnya berubah drastis menjadi dingin.
"Sebaiknya kau yang pergi," seru Xie Ruo sambil berlari ke arah berlawanan.
Xie Ruo melesat dengan kecepatan tinggi sambil meraih pasukan akademi yang ditekan secara keseluruhan oleh energi gelap dari langit yang begitu besar. Cahaya perak muncul melingkupi seluruh pasukan kecil tersebut, sebelum akhirnya energi gelap meledak setelah membenturnya.
"Kalian tak apa?" Xie Ruo berbalik, kemudian melihat Liu Chang yang tertegun di antara para murid.
Mereka mengangguk, Liu Chang langsung menghampiri Xie Ruo dengan perasaan gelisah. "Kau baik-baik saja?"
Xie Ruo tersenyum kecut. "Terima kasih, penyamaranku telah terungkap. Kau berhati-hatilah, aku harus cepat pergi."
"Ruoruo, hidungmu ...."
Xie Ruo menyentuh hidungnya yang mengeluarkan cairan merah. Melihat itu, kepalanya menjadi pusing.
"Aku baik-baik saja." Xie Ruo menatap Liu Chang. "Lebih baik kalian mundur." Karena perang penentuan sudah sangat dekat.
Xie Ruo pergi tanpa mau mendengar pertanyaan Liu Chang. Mau tidak mau, Liu Chang harus membawa semua murid untuk mundur sementara dan melaporkannya pada Dekan Bai di area perang lain.
Xie Ruo berlari dengan cepat sambil menyamarkan tubuhnya dengan kegelapan. Ia tidak tahu apa yang terjadi, tapi firasatnya menjadi sangat buruk. Ditambah ... emosi medan perang mulai menerornya setiap saat.
Ia telah melalui banyak kematian dan perang darah dalam kegelapan. Semakin jauh ia berlari, semua emosi itu semakin mempengaruhinya. Ia mencoba menahan semuanya dengan kuat, tapi itu membuat kepalanya sakit.
"Xie Ruo ... jangan menjadi bodoh karena orang lain." Ia bergumam meyakinkan diri sendiri. Ia harus pergi menemui Pei Xi dan Zhong Xiaorong untuk menarik pasukan agar tidak terjadi korban lebih banyak. Semua emosi itu sangat mengganggunya, membuat suasana hatinya berubah-ubah.
"Isabella ...."
Xie Ruo menghentikan langkahnya. Ia diam untuk beberapa saat ketika mendengar seseorang memanggilnya dengan nama itu. Di dunia ini, tidak ada orang lain dengan mama seperti itu.
Ia berbalik secara perlahan, kemudian melihat dua sosok pria dan wanita yang tidak asing sekaligus asing di matanya. Xie Ruo agak terkejut ketika melihatnya dengan jelas yang tenggelam dalam kegelapan, ia mengerutkan keningnya.
"Jane ... Sang Yu ...." Xie Ruo mundur beberapa langkah. Tidak mungkin mereka ada di sini, mereka sudah mati! Pasti badai ini yang membuat ia berhalusinasi.
"Sayang, kamu kenapa?" Wanita yang terlihat mirip dengan Jane menghampiri dengan wajah khawatir. Ia meraih lengan Xie Ruo, menggenggamnya dengan erat.
Xie Ruo bingung. Ia bisa merasakan sentuhannya yang hangat dengan jelas.
"Bella, aku tahu kau marah, tapi maafkan kami." Sang Yu menghampiri dengan wajah menyesal. "Tidak seharusnya kami meninggalkanmu bersama mereka."
"Ayah ... Ibu ...." Xie Ruo tidak tahu mana yang asli dan palsu, yang jelas ia merindukan mereka. Ada perasaan menolak dalam dirinya, tapi terasa berat dilakukan.
"Bella sayang, kita pulang, ya?" Jane mengusap kepala Xie Ruo dengan lembut. Tingginya sama seperti Xie Ruo sehingga ia dapat melihat iris biru Xie Ruo dengan jelas.
Xie Ruo memandang mereka tidak percaya. Ia mundur beberapa langkah dengan perasaan rumit. "Ini tidak benar. Kalian sudah mati ...."
"Kenapa kamu bicara seperti itu? Ini Ibu ...." Jane terlihat sedih sambil meraih bahu Xie Ruo.
"Sepertinya serum itu membuatmu bingung dan memberi ilusi tidak nyata yang mempengaruhi pikiranmu. Bella, kita pulang terlebih dahulu lalu membicarakannya." Sang Yu meraih lengan Xie Ruo dengan erat.
Xie Ruo sangat terkejut. Tidak ... tidak mungkin semua yang ia alami hanya ilusi. Kematian mereka sangat jelas dilihat olehnya di depan matanya sendiri.
Ia melepas pegangan pasangan itu dengan perlahan tanpa melihat mereka. Ia tidak ingin terlibat terlalu jauh dalam kepalsuan, lebih baik ia mengabaikan semua ini dan fokus menyelamatkan semua orang.
"Aku bukan Isabella, dia sudah mati."
"Isabella berhenti! Mereka mengacaukanmu!" Sang Yu terlihat gelisah dan takut.
"Isabella!"
Xie Ruo pergi mengabaikan mereka dengan perasaan kacau. Langkah demi langkah ia lalui dalam diam dengan wajah tanpa ekspresi yang sulit ditebak. Hatinya sedih dan tidak rela mengingat semua kejadian itu, tapi ia tidak boleh terjebak terlalu lama dalam kesedihan masa lalu. Saat ini, masa depannya sedang menunggu.
"Ruoruo!"
Xie Ruo terhenti ketika akan menabrak seseorang yang berdiri di depannya. Ia mendongak, melihat sosok wanita cantik yang selama bertahun-tahun menguras pikiran dan emosinya yang selama ini terkubur. Di samping wanita itu, tampak pria tampan yang tersenyum ke arahnya. Senyum yang ia rindukan.
"Kamu sudah besar." Wanita itu tersenyum sambil mengusap wajah Xie Ruo dengan lembut. Ia terlihat mirip dengan Xie Ruo.
"Ibu ...." Xie Ruo mematung. Jika sebelumnya adalah orang tua angkatnya, sekarang adalah orang tua kandungnya.
"Ruoruo, Ayah sangat merindukanmu." Xie Yun berkata dengan nada penuh kelembutan seorang ayah. Ia meraih Xie Ruo, memeluknya dengan hangat.
"Bagaimana ...." Bagaimana mereka bisa mengetahui keberadaannya? Bukankah selama ini yang ada di hadapan mereka hanya Xie Ran? Xie Ruo mulai berpikir keras dan mencoba menolak semua hal yang hadir di depannya.
Tepat ketika pemikiran itu terlintas, Wen Ya berkata, "Aku tahu itu adalah kau, mangkanya aku memberimu liontin itu untuk dijaga. Ibu percaya, kamu bisa memenuhinya." Ia tersenyum. "Sekarang kamu sudah memenuhinya."
"Kalian sudah mati." Xie Ruo melepas pelukan Xie Yun dan memandang mereka dengan tatapan penuh kejutan. Ia tidak boleh menerima semua ini meski ingin.
"Benar, kami sudah mati ..." gumam Wen Ya dengan sedih, kemudian memandang Xie Ruo dengan senyuman haru. "Tapi berkat kamu, aku dan ayahmu bisa di sini. Kamu tahu? Kakek dan nenekmu juga di sini."
Xie Yun berkata dengan senyuman yang tidak luntur. "Ruoruo, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Perang sudah berakhir."