The Emperor God Wife Is Naughty

The Emperor God Wife Is Naughty
244. Sisa Hidup Penuh Arti (End)



"Xiao Xiu, coba katakan dengan jelas, 'ma-ma'." Xie Ruo meminta putranya menyebutnya dengan sabar. Namun lelaki kecil itu hanya menatapnya dengan iris merah yang bulat dan bersinar.


"Mama~" Qu Fengxiao mencuri perhatian membuat Xie Ruo teralih. Wanita itu tersenyum lebar, sangat bahagia ketika putrinya lebih peka dibanding kembarannya.


"Katakan sekali lagi." Xie Ruo sangat bersemangat dan mengangkatnya. Xiao Xiao-nya sangat menggemaskan!


"Mamamamama ...." Qu Fengxiu tiba-tiba berkata lebih panjang sambil bermain gelembung di mulutnya. Itu membuat Xie Ruo tertawa.


"Mamamam ...." Qu Fengxiao ikut-ikutan sambil menggerakkan tangannya dengan riang. Ia berhenti sejenak, kemudian tertawa dengan riang. "Papapapa ...."


"Kamu merindukan ayahmu?" Xie Ruo tidak bisa berhenti tersenyum.


"Papa ... Papapa ...." Pandangan Qu Fengxiao sepertinya tidak terarah pada Xie Ruo.


"Xiao Xiao sangat merindukanku rupanya."


Xie Ruo berbalik ke belakang, melihat sosok pria berdiri dengan senyuman tampan yang membuat wanita manapun meleleh. Rupanya Qu Fengxiao sudah melihatnya sejak tadi.


"Aku pikir kau akan kembali besok atau lusa." Xie Ruo berkata sambil meletakkan Qu Fengxiao ke atas tempat tidur.


"Aku tidak bisa pisah terlalu lama." Qu Xuanzi menunduk, membawa Xie Ruo untuk duduk di pangkuannya.


Sebelumnya ia pergi ke Dunia Dewa cukup lama, sehingga waktu berlalu dua bulan kemudian di Tiga Dunia. Itu menyiksanya. Oleh sebab itu, ia langsung kembali.


"Aku merindukanmu." Qu Xuanzi mengecup bibir Xie Ruo sekilas.


"Aku lebih merindukanmu." Xie Ruo tersenyum kecut. Sebenarnya ia keberatan Qu Xuanzi pergi, tapi ia tidak boleh egois. Anggap saja Qu Xuanzi pergi bekerja di luar kota.


"Untuk kedepannya, aku akan lebih sering berada di sini."


"Apa boleh begitu?"


"Tentu." Qu Xuanzi membalas dengan yakin. "Selain itu, aku sudah menemukan cara menyegel darah iblis Xiao Xiu, dia tidak akan merasa sakit lagi."


Senyum Xie Ruo merekah. Ia selalu cemas ketika menghadapi Qu Fengxiu yang sering demam dan menangis kesakitan karena penyimpangan dua darah.


Sebelumnya, Qu Xuanzi juga menyegel sebagian kekuatan Qu Fengxiao agar tidak membebani tubuhnya yang lemah. Tubuh Yin yang dimiliki dapat memberinya banyak manfaat, namun memperpendek umurnya. Asal segel itu dapat menekan efek tubuh yin, tidak akan terjadi masalah serius.


Hanya saja, segel itu hanya dapat menekan salah satu efek yang memperpendek umurnya, bukan efek musim dingin yang ekstrim. Qu Fengxiao akan tetap kedinginan di saat-saat tertentu. Tapi setdaknya, ia tidak kedinginan setiap saat.


Xie Ruo menonton dalam diam ketika melihat cahaya emas meresap ke dahi putranya dan membentuk segel yang menekan darah iblisnya. Selain Qu Xuanzi dan Qu Fengxiu sendiri, tidak ada yang bisa melepasnya.


"Kekuatannya saat ini tersegel, asal Xiao Xiu tidak melepasnya, dia akan baik-baik saja." Qu Xuanzi kemudian menoleh ke arah Xie Ruo yang menopang dagunya, melamun dalam diam.


Merasa diperhatikan, Xie Ruo langsung melirik Qu Xuanzi yang terus menatapnya. Ia menegakkan punggung, kemudian berkata, "Aku akan kembali." Ia bangkit dari duduknya. Sebelum benar-benar pergi, ia menoleh melihat pria itu. "Belakangan ini mereka suka berguling, jangan biarkan mereka jatuh."


"Tidak akan."


Setelah Qu Xuanzi memberi jawaban, barulah Xie Ruo pergi keluar. Ia terlihat terburu-buru. Qu Xuanzi memandang kepergiannya dengan raut rumit. Ada sesuatu yang sedang disembunyikan.


༺༻


Xie Ruo buru-buru masuk ke dalam kamar mandi dan memuntahkan isi tenggorokannya. Ia batuk keras sambil memegang dadanya yang sakit. Darah keluar dari mulutnya dan menetes ke lubang saluran air.


Pembuluh darahnya menghitam, merambat di tiap bagian tubuhnya. Tubuhnya bergetar, keringat dingin mengucur selagi Xie Ruo membersihkan sisa darah di mulutnya dengan air.


Cahaya perak mengalir di tangannya, menekan pembuluh darah hitam yang muncul. Ia menutup mata, mengendalikan kekuatan psikis yang menekan masalah dalam tubuhnya dan menghilangkan semua pembuluh darah hitam.


Setelah rasa sakit hilang, ia menghela napas panjang dan terduduk di lantai merasakan tubuhnya melemas. Racun darah dalam tubuhnya tidak kunjung menghilang meski Dewa Iblis telah mati. Ia telah melakukan pemeriksaan pada Mei Liena dan Dewa Pengobatan, tapi mereka tidak memiliki cara pengobatan yang efektif dan masih diteliti. Selama itu, Xie Ruo meminta mereka merahasiakannya.


"Nyonya, apa kau sungguh tidak akan mengatakannya pada Yang Mulia?" Long Long di dalam kesadaran berkata dengan gelisah.


"Mungkin saja di Dunia Dewa ada penawarnya. Setidaknya, kau memiliki sedikit harapan." Roh Guntur juga membujuk. Meski tidak pernah mendengar, mungkin saja dewa di sana mengetahuinya.


Xie Ruo menggeleng pelan. "Jika memang ada, Qu Xuanzi tidak akan repot memburu Dewa Iblis untuk menghilangkan racun darah di tubuhnya. Racun darah mengikis jiwa seseorang, Tetua Dewa juga tidak mungkin membiarkan jiwa Qu Xuanzi hancur. Tapi dia hanya diam. Karena dia tahu, tidak ada penawarnya di Dunia Dewa sekalipun. Percuma saja."


Long Long ingin menyangkal. "Tapi—"


Xie Ruo menyela, "Jika aku mengatakannya, aku tidak akan memiliki waktu banyak untuk menenangkan diri. Selamanya dilingkupi masalah, aku akan gila. Lebih baik tidak tahu apa pun."


"Nyonya ...." Roh Guntur ingin mengatakan sesuatu, tapi ia mengurungkan niat. Suasana hati Xie Ruo sedang tidak baik-baik saja.


"Aku baik-baik saja." Xie Ruo meyakinkan diri.


Xie Ruo menunduk untuk beberapa saat menenangkan diri. Ia tidak boleh terlihat kacau atau semua rencananya akan berantakan. Ia tidak ingin sisa hidupya disia-siakan hanya untuk racun sialan yang mengganggunya.


Xie Ruo keluar dari kamar mandi setelah memastikan situasi telah normal kembali. Tapi begitu membuka pintu, ia dikejutkan oleh Qu Xuanzi yang berdiri memperhaikannya dengan seksama.


Kehadirannya membuat Xie Ruo gugup. Apa ia akan ketahuan?


"Terjadi sesuatu?" Qu Xuanzi bertanya.


Xie Ruo diam untuk beberapa saat, kemudian tersenyum menutupi kecanggungannya. "Aku baik-baik saja."


"Tidak, kau tidak baik-baik saja." Qu Xuanzi meraih lengan Xie Ruo, lalu memeriksa denyut nadinya. Meridiannya terasa aneh. "Kau sakit? Kenapa tidak membeirtahuku?"


"Hanya flu. Bukan masalah." Xie Ruo berusaha bersikap senormalnya. "Sudahlah, tidak ada yang serius. Tidak perlu menanggapi segala hal dengan serius."


"Meski hanya flu, itu tetap penyakit. Kamu harus istirahat." Qu Xuanzi langsung menuntun Xie Ruo ke tempat tidur. Ia tidak ingin Xie Ruo sakit meski hanya sebatas flu ringan.


Xie Ruo hanya melihat Qu Xuanzi yang menuntunnya dalam diam. Ia membaringkan tubuh ke atas tempat tidur, sedangkan Qu Xuanzi menyelimutinya dengan selimut.


Xie Ruo tidak tahu harus bereaksi bagaimana. "Sungguh, aku baik-baik saja."


"Aku akan memanggil Dewa Pengobatan untuk mengobatimu. Tunggu sebentar."


Xie Ruo menjadi panik. Ia buru-buru menahan lengan Qu Xuanzi, kemudian mengambil posisi duduk sambil memeluk lengan pria itu. "Aku tidak mau."


"Ruoruo—"


"Jangan pergi ...." Xie Ruo memasang wajah memohon. Ia tidak boleh membiarkan Dewa Pengobatan datang dan mengatakan kondisinya dengan jujur pada Qu Xuanzi. Ia tidak akan bisa menghadapinya.


Xie Ruo terlihat sangat imut di mata Qu Xuanzi. Itu memakaa Qu Xuanzi untuk setuju. Ia pun menghela napas, kemudian duduk di depan Xie Ruo.


"Kau menyembunyikan sesuatu?" Qu Xuanzi bertanya. Itu membuat Xie Ruo terdiam. Ingin berbohong, tapi tidak bisa melakukannya. Qu Xuanzi melanjutkan, "Tak apa jika tidak memberitahu, aku tidak memaksa."


Xie Ruo tersenyum kembali. "Percayalah, aku baik-baik saja. Tidak perlu mencari Dewa Pengobatan, aku akan sembuh hanya dalam beberapa jam."


"Aku percaya." Qu Xuanzi tersenyum. Ia memeluk Xie Ruo dan membenamkan wajahnya di tengkuk wanita itu, menghirup aroma yang memabukkannya.


Iris Qu Xuanzi melirik ke arah bagian leher yang tertutupi helai pakaian. Pembuluh darah hitam menjalar dari sana, tertutupi oleh pakaian sebelum akhrinya menghilang. Qu Xuanzi terlihat tidak terkejut, ia hanya diam seolah melihat hal yang biasa.


༺༻


Hari berlalu tanpa masalah. Meski kadang Xie Ruo sering merasa kesakitan, ia tetap menyembunyikannya dengan baik sampai musim dingin dilalui.


Musim dingin kali ini adalah yang terdingin dari tahun sebelumnya, Xie Ruo harus membawa Qu Fengxiao bersamanya setiap saat agar bocah itu terhindar dari tubuh yin yang sensitif akan musim dingin. Ia sampai membawa Qu Fengxiao untuk tidur bersamanya dan Qu Xuanzi.


Ruangan dilapisi sihir agar tetap hangat ketika badai salju tiba. Setelah memastikan Qu Fengxiu tertidur, barulah Xie Ruo pergi ke kamarnya untuk menemui Qu Xuanzi dan putri kecilnya yang menunggu.


Kehidupan kali ini, Xie Ruo merasa jauh lebih baik dan tenang. Ia harap kehangatan ini tetap terjaga, dan kedua anaknya tetap aman tanpa bahaya. Sisanya, tinggal menunggu Qu Fengxiao dan Qu Fengxiu membangkitkan kekuatannya agar dapat menyelesaikan masalah masing-masing.


Xie Ruo masuk ke dalam kamar dan langsung pergi ke atas tempat tidur tepat di samping bayi kecil itu. Selama musim dingin, ia tidak bisa membiarkan Qu Fengxiao sendiri.


"Gejalanya sudah membaik?" Xie Ruo memeriksa suhu tubuh putrinya yang tertidur. Masih terasa dingin.


"Ya," jawab Qu Xuanzi. "Xiao Xiao tidak akan merasakan suhu apa pun, kecuali jika gejalanya muncul."


Xie Ruo mengangguk paham. Ia harap badai ini berakhir dengan cepat. Ia diam untuk beberapa saat, kemudian memunculkan senyum samar. "Xuanzi, aku harap kau bisa membimbing mereka. Apa pun kesibukanmu di Dunia Dewa, aku percaya padamu."


Qu Xuanzi menatap Xie Ruo penuh arti. Ia tersenyum, mengusap kepala Xie Ruo dengan lembut dan mengangguk pelan. Ia tahu, Xie Ruo mengatakannya bukan tanpa alasan.


Xie Ruo terkekeh beberapa saat, kemudian bersandar dengan tenang di bahu Qu Xuanzi. "Aku selalu berpikir, betapa bagus bila aku hanyalah manusia biasa. Aku pernah mengatakannya padamu, hal-hal yang tidak mungkin terwujud."


Xie Ruo menghela napas. "Sudahlah, begini juga sudah bagus. Aku tidak ingin repot lagi dengan hal-hal rumit." Xie Ruo menoleh ke arah Qu Xuanzi dengan senyuman yang mengembang.


Qu Xuanzi memperhatikannya. Rautnya berubah menjadi cemas begitu melihat setetes darah yang menyelinap keluar dari salah satu lubang hidung Xie Ruo. Ia mengangkat tangannya, mengusap tetesan darah itu dengan hati-hati.


Xie Ruo agak terkejut menyadarinya. Ia langsung menarik diri dan mengalihkan pandangan, mendongak dan menahan darah yang keluar.


"Ini hal biasa. Di musim dingin ini, api dingin di tubuhku menunjukkan penolakan yang jelas. Oleh karena itu ...." Xie Ruo merasa harus menjelaskannya dengan lengkap untuk menutupi racun darah. Tapi ia kehilangan kata-kata begitu bertatapan dengan Qu Xuanzi.


Qu Xuanzi memandangnya dengan serius. "Racun darah, 'kan?"


Xie Ruo merasa tidak bisa menjelaskan apa pun. Ia sudah ketahuan. "Kau sudah mengetahuinya."


Sejak racun darah menghilang dari tubuh Qu Xuanzi ketika kematian Dewa Iblis, Qu Xuanzi tidak bisa mendeteksi siapa saja yang terkena racun darah. Hanya pengidap racun darah saja yang mengetahui racun darah di tubuh seseorang.


Jika Qu Xuanzi tidak melihat tanda-tanda racun darah secara langsung hari itu, ia tidak akan tahu meski mengetahui Xie Ruo sedang berusaha menyembunyikan sesuatu.


Qu Xuanzi menunduk untuk beberapa saat, kemudian memandang Xie Ruo dengan perasaan bersalah. "Maaf, aku belum menemukan penawarnya. Tapi aku akan terus mencari sampai dapat."


Xie Ruo tersenyum kecut. "Tidak perlu. Jika memang ada, kau tidak perlu repot memburu Dewa Iblis. Xuanzi, aku tidak mengatakannya karena tidak ingin kembali ke masa lalu. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku dengan tenang."


"Jangan katakan itu, kau akan baik-baik saja."


"Aku memang baik-baik saja, selalu." Xie Ruo mencoba meyakinkan. "Anggap pembicaraan ini tidak ada. Tidak ada racun darah. Aku tidak ingin hidup penuh kekhawatiran."


Qu Xuanzi menunduk, menjatuhkan kepalanya ke bahu Xie Ruo, sedangkan Xie Ruo memeluk lehernya dan mengusap kepalanya.


"Maaf." Qu Xuanzi berbisik dengan nada rendah. "Aku hanya tidak ingin kehilanganmu."


Xie Ruo ingin membalas ucapannya, tapi ia hanya bisa diam. Ia juga tidak ingin kehilangan. Ia tidak ingin pergi. Tapi ia tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk mencegahnya. Jika ini memang takdir yang tidak bisa diubah, ia akan menerimanya.


Ketika musim dingin berakhir, ia hanya ingin tetap bersama Qu Xuanzi sampai waktunya tiba. Hanya itu.


༺༻


"Apa tidak ada cara lain?" Qu Xuanzi di berdiri dengan wajah datarnya ketika membelakangi sosok pria membosankan yang datang memberi laporan.


"Sayangnya, tidak ada dalam daftar laporan. Racun darahmu hilang setelah Dewa Iblis mati, karena darah iblis kalian dihubungkan yang menyebabkan Kaisar Iblis saat itu dalam kendalinya. Bisa dibilang, itu adalah syarat agar bisa mengendalikan racun darah secara penuh. Tapi untuk kasus Dewi Naga, ini rumit. Dewi Naga dulunya adalah manusia setengah naga yang berdiri sendiri tanpa kendali Dewa Iblis. Ketika terkena racun darah, ia seharusnya sudah mati karena racun darah iblis hanya bisa ditahan oleh seseorang yang memiliki darah iblis. Saat itu ia sedang mengandung dewa setengah iblis, itu sebabnya ia selamat. Tapi karena itu juga, umurnya tidak bisa lebih dari 30 tahun."


Qu Xuanzi tenggelam dalam pikirannya sendiri. Xie Ruo saat ini sudah mencapai 30 tahun. Setelah musim dingin berakhir, ia akan berusia 31 tahun yang merupakan batas akhir hidupnya. Sedangkan bulan depan adalah akhir dari musim dingin. Apa ia harus membiarkan Xie Ruo mati?


Ia berbalik melihat dewa yang sejak tadi berdiri memberi laporan kepada Qu Xuanzi atas masalah yang dialami. Qu Xuanzi berkata, "Apa tidak bisa menekannya?"


"Takutnya, itu hanya akan memberi siksaan pada Dewi Naga."


Qu Xuanzi jelas tidak mau melakukannya bila Xie Ruo harus menerima rasa sakit. Tapi ia tidak ingin kehilangan. Apa yang harus ia lakukan?


"Yang Mulia, jika menunggunya untuk mati terlebih dahulu, mungkin ada caranya. Tapi dalam sejarah Dunia Dewa, itu hanya bisa dilakukan oleh seorang Dewa atau Dewi yang memiliki kualifikasi tinggal di Dunia Dewa." Ia telah melakukan riset sangat lama tanpa tidur, ia harap ini bisa membantu.


Qu Xuanzi sepertinya melihat secercah harapan. "Katakan caranya."


Dunia Atas yang tertutup salju kini menunjukkan penipisan. Xie Ruo memperhatikan dalam diam, dengan pandangan teduh melihat salju-salju yang mencair di luar jendela. Ia dapat melihat, sebentar lagi musim dingin akan berakhir. Betapa cepat waktu berjalan.


Seseorang melingkari pinggangnya dari belakang, memberi kehangatan pada jiwa Xie Ruo. Xie Ruo berbalik untuk melihatnya, kemudian mengalungkan lengannya ke leher pria tersebut.


Tanpa melepaskan tangannya yang melingkari pinggang wanitanya, Qu Xuanzi berkata, "Kamu tidak tidur?"


Xie Ruo tersenyum tipis. "Tidak mengantuk." Sebenarnya ia takut. Takut bila ia tidur, maka ia tidak akan pernah bangun lagi. Besok bunga-bunga akan bermekaran lebih cepat, itu adalah hal yang ditakutinya.


Qu Xuanzi paham akan hal itu. Tidak bisa dipungkiri, ia juga takut apa yang dipikirkan Xie Ruo akan terjadi. Tapi ia akan melakukan segala cara agar dapat menyelamatkan Xie Ruo.


"Kalau begitu, aku akan menemanimu." Qu Xuanzi mengangkat tubuh Xie Ruo, kemudian duduk di atas tempat tidur dan menempatkan Xie Ruo di pangkuannya sambil bersandar. Ia tidak akan melepaskan Xie Ruo meski hanya sesaat.


Xie Ruo melihat Qu Xuanzi dengan tenang, kemudian menyandarkan tubuhnya dengan nyaman. "Xiao Xiu dan Xiao Xiao akan baik-baik saja, 'kan?"


"Tidak akan kubiarkan seseorang membahayakan nyawa mereka." Qu Xuanzi berjanji.


"Aku sudah bisa tenang. Sebenarnya, aku menyesal tidak bisa menyaksikan mereka tumbuh lebih lama."


"Kau bisa menyaksikan mereka, menemani mereka, dan melindungi mereka."


"Aku harap begitu." Xie Ruo tersenyum samar. "Tapi mereka akan berulang tahun sebentar lagi, apa mereka akan marah padaku karena tidak hadir?"


"Mereka akan mengerti."


"Tidak, jangan buat mereka mengerti." Xie Ruo menatap Qu Xuanzi dengan serius. "Aku tidak ingin mereka mengingatku. Itu akan menyakiti mereka."


"Kau ibu mereka."


"Aku bukan ibu yang baik. Mereka tidak perlu kenal. Aku ingin mereka hidup dengan normal tanpa bayang-bayangku." Terdengar nada sedih ketika Xie Ruo mengatakannya. Tatapannya juga sedih, namun tidak memiliki air mata.


"Menurutku, kau ibu terbaik. Bukan salahmu jika tidak bisa bersama mereka."


"Xuanzi, jangan katakan apa pun tentangku pada mereka." Xie Ruo memohon. Ia tidak ingin membebani mereka dengan berbagai hal. Biarlah mereka menjalani kehidupan dengan baik tanpa seseorang yang terikat dengan masa lalu sepertinya.


Qu Xuanzi tidak menjawab. Ia hanya memandang Xie Ruo dengan keberatan. Meski tidak sulit, tapi kenapa mereka tidak boleh mengenal ibu mereka sendiri?


Xie Ruo tersenyum. Ia menegakkan punggung, kemudian menyatukan kening mereka berdua dengan jarak yang tak bercelah.


"Aku mencintaimu." Xie Ruo tahu ini berat, ia pun sama. Tapi tidak ada pilihan lain.


"Kau pernah berkata padaku untuk tidak meninggalkanmu. Kau juga tidak boleh meninggalkanku." Qu Xuanzi masih terlalu sedih menghadapi semua ini. Ia harap racun darah hanya nama. Ia harap tidak terjadi sesuatu pada Xie Ruo sehingga mereka tidak perlu berpisah.


"Aku tidak akan pergi. Aku selalu di sisimu." Xie Ruo merasakan ada cairan hangat yang menetes. Ia dapat melihat, untuk pertama kalinya Qu Xuanzi mengeluarkan air mata meski hanya setetes. Ia mengusapnya dengan lembut lalu berkata dengan serak, "Jangan terlalu sedih, aku akan ikut sedih."


"Aku akan membawamu ke Dunia Dewa."


Xie Ruo agak terkejut. Ia memandang Qu Xuanzi dengan penuh kejutan.


Qu Xuanzi mengusap wajah Xie Ruo, lalu berkata, "Aku tidak akan membiarkanmu pergi, aku tidak mengizinkan."


"Xuanzi ...."


"Berjanjilah, kau akan kembali ketika saatnya tiba. Aku menunggumu."


Xie Ruo memandangnya dengan tak percaya. Apa Qu Xuanzi telah menemukan solusinya? Jika memang ada, ia tidak akan mempermasalahkannya.


Xie Ruo mengangguk dengan senyum getir yang kaku. "Baik. Tunggu aku."


Tepat ketika hari berganti, bunga-bunga bermekaran dengan indah bersamaan dengan salju yang mencair dan surut. Kecerahan Dunia Atas kembali bersinar disertai beraneka warna bunga yang indah.


Di dalam kamar yang redup, Qu Xuanzi masih dalam posisinya yang sama. Memeluk wanitanya dengan erat yang menutup mata, tampak pucat dengan pembuluh darah hitam yang perlahan menghilang dengan sendirinya.


Seperti yang ia katakan, ia akan menunggu. Sampai waktunya tiba, mereka akan kembali bersama seperti seharusnya. Keluarga kecil mereka akan kembali lengkap.


......TAMAT......


Huaaa, dah tamat aja nih novel 😭


Aku bikin lumayan lama karena terlalu menguras emosi dan waktu. Semoga kalian suka endingnya~


Terima kasih yang sudah setia membaca dan menunggu ceritaku yang paling menguras otak ini. Aku membuatnya sejak setahun yang lalu, nganggur di draft dari bab 1 - 20an, kemudian revisi berulang kali sebelum publish. Itupun masih perlu revisi ulang. Banyak sekali halangan, rintangan, gangguan, dan ujiannya baik secara mental, otak, maupun fisik. Hingga akhirnya cerita selesai, aku sangat puas.


Omong-omong, ending ini adalah ending terakhir yang sudah kupikirkan berulang kali. Ini bukan ide ending pertama yang kucetuskan.


Pertama, aku ingin membuat happy ending yang membangongkan seperti membuat Qu Xuanzi dan Xie Ruo mati bersama untuk mengalahkan Kaisar Iblis (saat itu villain hanya Kaisar Iblis), lalu dihidupkan kembali di Dunia Dewa oleh Tetua Dewa dan mengurus anak mereka. Kedua, Qu Xuanzi mati setelah penyatuan darah sedangkan Xie Ruo yang lepas kendali membunuh Dewa Iblis (sebelum ada ide karakter Shu Xin), setahun kemudian Xie Ruo yang depresi bunuh diri ke laut karena racun darah dan diselamatkan Qu Xuanzi yang hidup kembali dan baru datang dari Dunia Dewa, endingnya mirip-mirip sama yang sekarang tapi bedanya di versi sebelumnya Xie Ruo mati ketika sampai di Dunia Dewa.


Mana menurut kalian yang terbaik?


Besok akan ada extra chapter yang akan menunjukan kejutan untuk kalian semua. Penasaran? Stay tuned besok~