
Medan perang masih ramai akan prajurit yang bertarung melawan iblis. Berbagai pasukan telah dikerahkan untuk melakukan serangan di wilayah selanjutnya, perang tak berujung semakin memuncak seiring berjalannya waktu.
Hanya saja, tiba-tiba salah satu kelompok yang sebelumnya cukup unggul dalam pertempuran kini menghilang. Banyak dari mereka bertanya-tanya, namun tidak ada yang mengungkapkannya. Hingga akhirnya Zhong Xiaorong di satu sisi tidak bisa menahan rasa gelisah dan pergi mencari Mei Liena.
Mei Liena di sisi lain tidak bisa kabut dari pandangan Qiong Lin. Ia menggerutu seharian sampai akhirnya melihat kedatangan Zhong Xiaorong bagaikan malaikat bersayap menyelamatkannya dari nenek sihir terkutuk.
"Rongrong—"
"Kenapa Klan Xie tidak datang? Apa terjadi sesuatu?" sergah Zhong Xiaorong, menyela rintihan Mei Liena yang baru saja akan mengeluh.
Mei Liena memandangnya bingung. Klan Xie belum datang? "Benarkah? Aku ingat seharusnya mereka menyiapkan pasukan yang telah diatur Ruoruo sebelum kembali ke markas."
Zhong Xiaorong mengerutkan kening, kemudian memikirkan kemungkinan yang wajar terjadi. "Mungkin dalam perjalanan," gumamnya, kemudian pergi membiarkan Mei Liena yang malang menetap di sekitar ras ular.
Mei Liena hanya bisa menangis dalam hati. Nasibnya kurang baik.
Omong-omong, benar juga yang dikatakan Zhong Xiaorong. Tiba-tiba ia merasa gelisah, apa benar telah terjadi sesuatu?
Sampai saatnya tiba, perang selanjutnya terjadi akan serangan iblis yang lebih besar, mereka semua langsung maju dengan derak senjata besar dari berbagai arah. Mereka semua berlari dan menghunuskan senjata, mengayunkannya dengan cepat dan menembus tiap tubuh dengan satu tebasan.
Jumlah iblis pada dasarnya sangat banyak, kini terlihat imbang dalam jumlah ketika melawan gabungan antar-ras yang semula telah mengalami pembantaian berdarah tiada habisnya dan mengurangi terlalu banyak jumlah mereka.
Formasi diaktifkan dan bersinar di berbagai penjuru, ledakan tercipta di mana-mana akan sihir dan senjata yang beradu. Berbagai tembakan peluru diluncurkan, menembus tiap iblis secara beruntun dan melubangi tubuh mereka.
Perang yang memuncak di tengah cahaya matahari yang tertutup awan tebal, sebuah cahaya emas meluncur seperti kilat dan menyambar ribuan pasukan iblis dengan sekali sambaran. Qu Xuanzi muncul di tengah perang setelah sekian lama tidak terlihat, di sisinya terdapat Xie Ruo yang datang bersama untuk menyelesaikan perang lebih cepat.
Semenjak kemampuan membaca emosinya ditutup sementara, Xie Ruo menjadi lebih tenang dan bisa pergi ke medan perang dengan pikiran jernih. Ia merasa lebih baik dibandingkan kemarin ketika ia merasakan semua emosi negatif yang meneror kepalanya. Ia sampai takut hilang kendali dan membunuh orang di sekitarnya sampai mengasingkan diri cukup lama.
"Andai kau datang kemarin, perang akan selesai kurang dari satu hari. Asal kau tahu, kemarin pasukannya tidak sebanyak sekarang."
"Kamu sudah menyelesaikannya." Qu Xuanzi melirik Xie Ruo singkat, kemudian melihat banyak kloning dewa iblis yang mulai bermunculan untuk melawannya.
Xie Ruo mendengus. "Sepertinya Dewa Iblis terlalu meremehkanku." Hanya beberapa kloning, tanpa Qu Xuanzi, ia bisa membunuh mereka dengan kondisinya yang berada di puncak.
"Kalau begitu aku serahkan padamu." Qu Xuanzi menyerahkan mereka pada Xie Ruo sepenuhnya. Anggap ini sebagai pelatihan, karena Xie Ruo juga butuh lawan yang seimbang dengannya.
Xie Ruo tersenyum miring. "Kau juga, urus mantan pengawalmu." Xie Ruo menunjuk ke arah tepat di mana Dewa Iblis muncul bersamaan dengan ucapannya. Xie Ruo seolah telah memprediksinya berkat kekuatan dunia memori.
Qu Xuanzi melihat Dewa Iblis dengan dingin. Pada saat yang sama, Dewa Iblis juga melihatnya, kemudian menunjukkan seringaian penuh arti. Ia bahkan melihat Xie Ruo dengan aneh membuat Qu Xuanzi sangat ingin mencungkil matanya.
"Reuni yang bagus." Xie Ruo tersenyum paksa, kemudian mengeluarkan pedangnya untuk melawan ribuan kloning.
Meski sudah ada para dewa yang menanganinya, kloning itu jauh lebih banyak dari jumlah dewa sehingga Xie Ruo juga harus menanganinya. Selain itu, ini kesempatannya untuk balas dendam atas serangan hari itu.
Xie Ruo segera melesat ke sisi lain untuk membunuh para kloning, menyisakan Qu Xuanzi yang berdiri di tempat. Jika sudah ada Dewa Iblis, ingin membantu Xie Ruo juga tidak bisa. Ia jadi penasaran, rencana apa yang kini dilakukan Dewa Iblis terhadap dirinya yang lain.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Puluhan kloning telah jatuh bersamaan dengan tergusurnya ribuan pasukan iblis akan api dingin yang membara seluruh mendan perang. Kini, Dewa Iblis memimpin perang secara langsung membuat Xie Ruo yakin perang kali ini adalah perang penentuan.
Pedangnya diayunkan dengan tepat tiap kali melakukan serangan. Sosoknya sulit dilihat dengan mata pada umumnya, terlihat seperti kilat yang menyambar dan berpindah tempat dari satu sisi ke sisi lain. Terlebih, kadang ia membelah diri menjadi beberapa bagian untuk melakukan serangan besar.
Sebenarnya, kekuatan Xie Ruo saat ini seharusnya sudah diakui sebagai dewi. Tapi ia belum melaksanakan ujian-ujian tersebut sehingga posisinya tidak berkembang untuk mencapai tahap selanjutnya.
Untuk pencapai ujian, Xie Ruo harus terlebih dahulu mengalami hidup dan mati secara bersamaan serta memimpin ras naga dalam waktu panjang—untuk keilahian naga—lalu mengalami perkembangan jiwa yang sesuai dengan kualifikasi dewi memori.
Tapi dengan menjadi dewi, ia akan sepenuhnya melepas status sebagai manusia dan naga. Karena pada dasarnya dewa atau dewi merupakan ras tesendiri yang telah mencapai puncak kekuatan dari berbagai ras dunia.
"Wanita jahat, gawat!"
Di tengah pertempuran, sosok hitam melesat di udara dengan kecepatan tinggi. Ia berhenti tepat di depan Xie Ruo begitu wanita itu membunuh salah satu kloning yang menerangnya
Sosok kepala terbang yang dipenuhi kabut hitam muncul dengan tergesa-gesa membuat kepala Xie Ruo dipenuhi pertanyaan.
"Gawat! Telah terjadi sesuatu!"
"Katakan!" Xie Ruo tidak mau terlalu banyak basa-basi ketika di medan perang. Ia masih harus menyelesaikan perang ini dan membantu Qu Xuanzi.
"Klan Xie telah diserang! Baru saja aku bertemu muridmu dan wanita dari menara suci itu. Mereka berada di Gunung Menara Suci, memberitahuku bahkan klan diserang sejak kemarin dan tidak diketahui kabar selanjutnya. Ketua klan mengulur waktu melawan seorang peri dari pihak iblis, dia dalam bahaya!"
Wajah Xie Ruo memucat. Peri di pihak iblis yang kekuatannya dapat membahayakan Xie Wang, tidak lain adalah Jian Wu! Bagaimana ia tidak tahu hal ini? Kenapa berita ini baru sampai sekarang!
Tanpa mengatakan apa pun, Xie Ruo langsung pergi ke markas klan untuk mengetahui kondisi lebih lanjut. Ia harus menyelamatkan kakeknya dari wanita busuk itu meski waktu telah berlalu seharian penuh. Ia tidak percaya, kakeknya akan dengan bodoh masuk ke dalam jebakan Jian Wu.
Pei Xi yang melihat betapa tergesa-gesa Xie Ruo meninggalkan medan perang menjadi penasaran. Ia juga melihat kepala terbang yang menjadi bawahan Xie Ruo paling durhaka, kini mengikut dengan tergesa-gesa. Sepertinya hal buruk telah terjadi, apalagi Klan Xie saat ini tidak hadir. Karena itu, ia pun mengikuti Xie Ruo pergi untuk membantunya di saat yang diperlukan.
Xie Ruo tiba di markas klan lebih cepat. Terlalu banyak mayat hewan suci di depan gerbang. Ini membuatnya yakin alasan mengapa baik ia maupun Qu Xuanzi tidak mendapat pesan dari para hewan suci. Dilihat dari cara kematian mereka, mereka mati secara bersamaan oleh satu serangan.
Ini bukan Jian Wu. Meski Jian Wu kuat, ia tidak bisa membunuh semua hewan suci hanya dalam satu serangan secara bersamaan. Bahkan seorang dewa tidak berani mengusik hewan suci. Orang ini harus lebih kuat, atau sama kuatnya dengan Qu Xuanzi ataupun Dewa Iblis.
Pei Xi tiba tepat di belakangnya. Xie Ruo menoleh untuk melihat, kemudian mengedarkan pandangan sambil berjalan ke arah markas klan.
Ketika tiba di dalam markas, Xie Ruo semakin kacau ketika melihat situasi klan yang tidak tertolong. Mayat di mana-mana, meski ada lebih banyak mayat iblis yang bertebaran membuktikan bahwa serangan ini dilakukan oleh sekelompok iblis yang sengaja dikirim Dewa Iblis. Itu membuatnya sangat marah!
Tenda-tenda hancur, asap mengepul tanda baru saja kobaran api yang besar hadir melahap seluruh tempat. Ada banyak bekas pertarungan dan senjata bertebaran. Darah masih menodai tanah dan terlihat basah—sebagian kering. Bahkan mayat para murid klan tidak dapat dikenali lagi, semuanya mati ....
"Ruoruo ...." Pei Xi melihat Xie Ruo yang tidak menunjukkan ekspresi apa pun di wajahnya.
Wanita itu terus berjalan mencari sosok yang ingin ditemukan di berbagai sudut tempat. Bahkan sampai menghancurkan semua reruntuhan. Tapi ia hanya menemukan tubuh-tubuh yang telah membusuk dengan seragam klan yang masih merekat.
"Brengsek!" Xie Ruo telah dipenuhi niat membunuh sekarang. Ia tidak menemukan kakeknya, menunjukkan bahwa seharusnya ia masih hidup. Pria itu ... meski terlihat tidak meyakinkan sebenarnya sangat kuat. Ia tidak percaya Xie Wang akan kalah hanya dengan seorang peri kecil yang berkhianat.
"Ruoruo, tenanglah. Prioritas sekarang adalah mencari ketua klan dan yang lainnya." Pei Xi takut bila emosi Xie Ruo tidak terkendali. Ia telah mendengar sendiri dari Xie Ruo kemarin, mengatakan bahwa ia sangat takut bila menjadi tak terkendali karena emosi negatif yang terkumpul dan membunuh semua orang tanpa memandang pihak.
Xie Ruo mencoba menenangkan diri dan mengangguk. Ia yakin kakeknya baik-baik saja. Su Liu'er dan Shi Yang ada di Menara Suci, kemungkinan besar kakeknya juga pergi ke sana. Ia harus menemukan mereka.
"Kita pergi ke Menara Suci."
Menara Suci terlihat sangat suram hari ini. Perang yang terjadi membuat banyak murid merasa gelisah dan bersiap akan perang, namun guru mereka—Sheng Xian—memberi pesan bahwa mereka tidak diperkenankan ikut ke medan perang sebelum waktunya. Itu membuat mereka semua gelisah, takut kegelapan menguasai dunia.
Apalagi sejak kabar bahwa saudara seperguruan mereka—Su Liu'er—mengalami cedera dan Klan Xie diserang secara sepihak tanpa persiapan, mereka semakin geram dan tidak ada hari yang tenang setiap saat.
Zhu Zhu berdiri di balkon melihat para murid Menara Suci tampak sangat gelisah dan tidak bisa diam ingin bicara padanya mengenai bantuan perang. Namun Zhu Zhu masih harus menunggu instruksi selanjutnya dari Sheng Xian. Ia sendiri gelisah, apa Xie Ruo dan gurunya di sana baik-baik saja atau tidak.
Tepat pada saat itu, cahaya perak dan hitam melesat melewati penjagaan Menara Suci begitu saja. Para murid di sana terkejut dan mulai waspada, namun ketika melihat sosok yang datang merupakan murid 'spesial' guru mereka, mereka bisa menghela napas lega.
Xie Ruo memandang mereka dengan tajam, lalu mendesak mereka untuk menjawab peetanyaannya. "Di mana orang-orang dari Klan Xie? Nenek dan kakekku?"
Mereka semua hanya menunduk tidak berani melihat Xie Ruo yang terkesan menyeramkan. Itu membuat Xie Ruo sangat kesal, kemudian melihat ke arah Zhu Zhu yang datang menghampiri dengan raut cemas.
"Ruoruo ...." Zhu Zhu merasa sulit mengatakannya. Ia sendiri juga merasa takut akan seperti apa rekasi Xie Ruo.
"Mereka ada di dalam, 'kan? Seseorang mengatakan Shi Yang dan nenekku ada di sini. Kakekku juga sudah di sini, 'kan?"
Tidak ada yang menjawab pertanyaannya. Mereka semua hanya diam, membiarkan Zhu Zhu yang menangani Xie Ruo sendiri karena tidak bisa mengatakannya. Mereka tahu sendiri bagaimana tempramen Xie Ruo.
"Zhu Zhu!" Xie Ruo meninggikan nada suaranya. Ia paling tidak suka bila pertanyaannya hanya dijawab dengan tundukan kepala seperti orang bisu.
Zhu Zhu menggigit bibir bawahnya, kemudian berkata dengan ragu. "Masuklah." Ia berbalik memimpin jalan. Langkahnya ragu, namun tidak berhenti, sedangkan para murid hanya menatapnya dengan pasrah.
Xie Ruo mengikuti bersama Pei Xi yang membuntuti di belakang. Zhu Zhu membuka pintu, lalu membiarkan mereka berdua masuk ke dalam dan kembali menutup pintu menutupi semua pandangan para murid.
Di dalam ruangan yang sepi dan sunyi, Xie Ruo tidak dapat merasakan apa pun selain kesunyian. Ia dapat mengetahui bahwa di dalam sana ada napas yang familiar, Su Liu'er dan Shi Yang, membuatnya sangat lega. Jika seperti itu, seharusnya kakeknya juga baik-baik saja.
Zhu Zhu membukakan pintu ganda sebuah ruangan. Aroma dupa tercium, kain-kain putih bergelantungan di tiap dinding. Xie Ruo melihat dengan jelas dua sosok yang duduk di sudut dalam diam, terlihat sangat pasif seolah tidak memiliki jiwa. Sedangkan pandangan mereka mengarah pada sebuah peti yang terpajang di tengah ruangan.
Xie Ruo tidak ingin berpikir berlebihan, jadi melihat Zhu Zhu dengan bertanya-tanya apa yang terjadi pada neneknya dan Shi Yang. Terdapat dupa yang dibakar di ujung, disertai kertas kematian yang biasa digunakan untuk memperingati kematian seseorang. Itu membuat hati Xie Ruo tidak tenang.
"Zhu Zhu ...."
"Tadi pagi, seekor Harimau Putih datang penuh luka, membawa tubuh Ketua Klan dan meminta bantuan. Awalnya kami pikir dia adalah hewan buas yang sengaja masuk dan ingin menyerang, tapi Senior Su langsung mengenalinya. Dia mengantar tubuh Ketua Klan sebelum mati kehabisan darah. Sayangnya, Ketua Klan sudah tidak dapat ditolong ketika pertempuran terjadi itu terjadi." Zhu Zhu menjelaskan dengan ragu, nadanya serak dan bergetar, tidak tega menceritakannya pada Xie Ruo secara langsung. Tapi ia harus melakukannya.
Xie Ruo terdiam tanpa bisa berkata apa pun. Mendadak pikirannya kosong, sampai akhirnya Su Liu'er melihat kehadirannya dan berdiri.
"Guru ...." Shi Yang juga berdiri membantu Su Liu'er.
Su Liu'er terburu-buru menghampiri Xie Ruo untuk melihatnya lebih dekat. Tangisnya pecah begitu saja, sebelum akhirnya jatuh lemas sambil memeluk Xie Ruo dengan tubuh yang bergetar.
Shi Yang di belakangnya hanya bisa diam, ikut merasakan kesedihan mendalam tanpa berani msndekati gurunya. Ia merasa bersalah, seharusnya ia membantu Ketua Klan setelah mengantar Su Liu'er, bukan malah lari. Ia terus menyalakan diri sendiri karena hal itu.
"Ruoruo ...." Su Liu'er ingin mengatakan sesuatu, tapi tangisnya menghentikan kalimatnya dan hanya bisa terisak tanpa daya, mengabaikan rasa sakit yang mendera di seluruh tubuhnya.
Xie Ruo hanya diam, mengabaikan semua panggilan dengan wajah tanpa ekspresi dan kosong sambil terarah pada peti mati yang terpajang di tengah ruangan. Tidak ada yang tahu apa yang ada di pikirannya.
Mengabaikan Su Liu'er yang menangis sampai harus ditopang Shi Yang dan Zhu Zhu, Xie Ruo melangkah ke arah peti mati untuk memastikan. Ia tidak percaya. Kakeknya sangat kuat, mana mungkin dapat mati semudah itu. Mereka pasti omong kosong untuk menakutinya saja.
Wajahnya masih sama datar, tangannya meraih tutup peti mati lalu menggesernya untuk memastikan.
Sosok pucat dan tidak asing menutup mata di sana. Baju zirahnya masih dipenuhi bercak darah, namun darah itu telah mengering. Meski dipenuhi darah, ia tetap sama seperti Xie Wang yang dikenal, terlihat sedang tertidur pulas. Di bawah kakinya, tampak seekor harimau putih menutup mata dengan pulas sambil meringkuk.
Tidak ada perubahan ekspresi di wajah Xie Ruo, namun jika diperhatikan dengan baik, ia tampak menahan emosi yang akan keluar kapan pun. Hanya saja, ia memaksakan diri untuk bersikap senormalnya.
Pei Xi dapat melihatnya melalui reaksi Xie Ruo meski tidak melihat langsung siapa yang ada di dalam peti. Ia tahu Zhu Zhu tidak berbohong menyadari tangan Xie Ruo sedikit bergetar. Wanita itu sedang menahan semua emosi yang tertanam di hatinya.
Xie Ruo menutup kembali peti tersebut dengan hati-hati. Tanpa mengatakan sepatah katapun, ia pergi keluar dari ruangan dengan aura dingin yang menusuk.
Pada saat ini, semua orang tahu apa yang akan dilakukan Xie Ruo selanjutnya.
Membunuh!