
Tidak tahu sejak kapan saudara sedarah itu mulai membuat kekacauan. Ketika Xie Nu telah sepenuhnya terkubur dalam putus asa dan tenggelam dalam siksaan tak berujung, di langit sana, dua 'saudaranya' telah bertukar pukulan selama beberapa waktu selang peperangan terjadi.
Cahaya perak dan merah bercampur hitam kini meliputi medan perang. Saling menyerang dan menghancurkan, menyebabkan kedua belah pihak berada di posisi waspada akan serangan yang kapan pun akan mendarat di dekat mereka.
Kekuatan Xie Chen tidak lemah, gerakannya sangat cepat sambil mengeluarkan sihir berturut-turut dan menekan lawannya dengan pedang. Sihirnya yang berjatuhan tepat mengakhiri hidup para manusia, membuat lawannya itu merasa agak kesal.
Xie Ruo tidak bisa menghentikan aksi pembunuhan massal Xie Chen selagi dalam keadaan bertempur. Untung saja Liu Chang dan Mei Liena membantunya melindungi pasukan sehingga tidak terlalu banyak memakan korban akibat serangan Xie Chen.
Bukan hanya mereka berdua yang membantu Xie Ruo dari jauh, Xie Wang yang baru saja merasakan kehadiran Xie Ruo kini semakin beesemangat. Ia membersihkan wilayah di mana Xie Ruo bertarung agar para iblis kecil itu tidak mengganggu, lalu menarik pasukan untuk memancing iblis ke sisi lain dan memberi cucunya ruang.
Xie Ruo dengan pedangnya yang diangkat, melesat dalam cahaya perak. Ia menembus pertahanan Xie Chen, kemudian memberinya serangan api dingin dari beberapa wilayah untuk membuatnya tidak bisa bergerak.
Meski kekuatan Xie Ruo sudah sangat tinggi, Xie Chen tidak kalah lebih kuat darinya. Pria itu bisa menahan serangan Xie Ruo setelah mengaktifkan darah iblisnya yang membuat auranya berubah sedemikian rupa. Sebelumnya ia tidak menggunakan kekuatan iblis karena berpikir masih bisa menanganinya, namun dengan kekuatan Xie Ruo, ia tidak bisa bertahan dalam wujud manusia.
Begitu Xie Chen mengambil wujud iblis dengan bayangan kucing neraka disertai sayap hitam di belakangnya, Xie Ruo mulai menggunakan pedang untuk melawan. Ia agak terkejut melihat Xie Chen ternyata memiliki sayap, padahal ibunya adalah seekor kucing neraka tanpa sayap. Apa ia telah bermutasi setelah diasuh Dewa Iblis?
Tidak peduli apa yang dilakukan Dewa Iblis terhadap pria itu, Xie Ruo harus mengalahkannya. Ia mengangkat pedangnya dan menghantam Xie Chen dengan kuat. Xie Chen bisa menangkis pedangnya meski merasa sulit, lalu menggunakan energi gelap untuk memperkuat pedang dan menekan Xie Ruo.
Pertempuran sengit itu berlanjut dalam waktu lama. Dua sosok berupa cahaya dan kegelapan saling beradu dan menyerang secara bersamaan dan menciptakan tekanan yang tidak bisa ditahan orang biasa.
Bahkan tidak ada yang berani mendekati area pertarungan tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Cambuk yang diayunkan Mei Liena melayang dan memanjang seperti ular untuk membelah banyak iblis. Ia melawan salah satu jenderal iblis selama beberapa waktu. Cambuknya yang panjang tidak hanya memecut pria iblis di depannya, namun juga banyak iblis yang mengepung di sekitar.
Bayangan ular di belakangnya membantu, membersihkan arena dengan racunnya dan menerkam mangsa dengan ganas.
Kekuatan lawannya kali ini cukup kuat hingga membuatnya terjeak dalam pertempuran panjang. Hingga akhirnya begitu racun mulai menjalar di seluruh tubuh iblis itu, ia meluncurkan serangan terakhir dengan cambuknya yang menyebabkan dua bagian tubuh iblis itu terpisah.
Bagian perut iblis itu terbelah, memuncratkan darah hitam yang mengandung cairan hijau beracun milik ular giok hijau. Mei Liena melihatnya dengan puas, kemudian menarik cambuknya kembali membiarkan sisa tubuh iblis itu ambruk ke tanah penuh noda hitam bercampur merah.
"Merepotkan, huh!" Mei Liena mendengus. Baru saja ia akan pergi memberi bantuan ke sisi lain, sebuah kabut hitam mendekatinya dengan kecepatan tinggi membuat insting waspadanya menyala.
Mei Liena mengayunkan cambuknya ke arah kabut itu. Pada saat yang sama, kabut itu memunculkan sosok wanita bersisik yang menangkap ujung cambuknya dengan erat. Mei Liena agak terkejut melihatnya.
"Kau bukan iblis." Mei Liena menarik cambuknya agak kasar sampai terlepas dari genggaman wanita aneh itu.
Dilihat dari ciri-cirinya, ia memiliki sisik seperti ular serta mata yang tidak biasa. Ia tidak ingat bahwa ras ular ikut bertarung, dan tidak tahu mereka ada di pihak siapa. Oleh sebab itu, Mei Liena pikir tidak perlu repot-repot dengan wanita asing yang tidak diketahui posisinya.
Baru saja Mei Liena akan pergi mengabaikan, wanita itu tiba-tiba sudah ada di depannya. Mei Liena baru sadar, bahwa wanita itu tidak memiliki kaki, melainkan ekor panjang layaknya ular yang mendekat ke arahnya.
Mei Liena segera memasang sikap waspada. Wanita ini memiliki niat buruk!
Wanita itu melihat Mei Liena, sesaat ia tertawa akan tingkah Mei Liena yang sepertinya telah menyalapahaminya. Ia tertawa dengan keras seolah melihat sebuah lelucon.
Mei Liena mengerutkan kening. "Aku tidak ada urusan dengan ras ular."
"Tapi aku ada." Wanita itu tersenyum misterius. Ia melihat Mei Liena dengan rasa ketertarikan tinggi, kemudian mendekatinya hingga membuat Mei Liena dengan spontan mundur.
"Kau ...." Mei Liena terkejut.
Wanita itu berdecak melihat Mei Liena dengan teliti. Ia menyipitkan matanya. "Kau bukan ras ular, tapi memiliki kemampuan yang setara dengan ras ular. Sangat menarik."
Tiba-tiba firasat Mei Liena mengatakan hal buruk. "Jika kau ingin membunuhku, kau akan menerima akibatnya."
"Kata siapa aku ingin membunuhnu?" Wanita itu tertawa lagi. "Aku Qiong Lin tidak membunuh manusa cantik dan berbakat sepertimu. Ular giok hijau yang kau latih, kebetulan yang sangat luar biasa. Seharusnya kau bersyukur dapat bertemu ular giok hijau sesungguhnya yang cantik, cerdik, licik, bijak, seksi, menggoda, dan luar biasa tepat di depan matamu!"
Mei Liena terdiam. Ia baru tahu, temperamen ras ular lebih mengerikan daripada naga.
Melihat Mei Liena yang hanya terdiam, Qiong Lin mendengus dengan kesal. "Sudahlah, beri salam pada gurumu!"
"Siapa kau?" Mei Liena kesal. Di mana Xie Ruo? Apa bocah itu yang membawa wanita gila ini ke medan perang!
"Aku sudah mengenalkan diri." Qiong Lin cemberut. "Seharusnya kau segera mengakuiku sebagai guru. Tidak ada yang lebih baik untuk melatih sihir ular giok hijau dibanding diriku sendiri yang merupakan giok hijau satu-satunya. Nak, bahkan kau telah menggunakan cambuk yang susah payah kubangkitkan dengan membunuh ular lain. Secara tidak langsung, aku adalah gurumu. Sekarang sudah saatnya meresmikan hubungan, muridku."
"Dasar gila ...." Mei Liena tidak mau berurusan lebih lanjut. Ia baru saja akan pergi dengan cepat, namun tubuhnya dililit oleh ekor panjang itu begitu saja hingga kembali ke tempat semula. Kini, wanita gila itu sudah ada tepat di depannya.
"Muridku yang durhaka, apa kau akan pergi setelah menerima manfaat dari ras ular? Meski sihir ular giok hijau memilihmu, kau tetaplah mencuri keterampilan yang seharusnya dimiliki oleh ras ular. Berdasarkan aturan, seharusnya Phyton Tujuh Warna mengeksekusimu!" Sayangnya Phyton Tujuh Warna mungkin tidak akan tega, sehingga ia harus memanfaatkan situasi ini untuk menemukan bakat baru untuk dipamerkan dan dijadikan koleksi. Mei Liena juga tidak terlihat buruk berdasarkan penampilan.
"Meskipun aku berasal dari ras ular sekalipun, aku tidak akan mengikuti wanita gila sepertimu! Orang normal mana yang membuat bujukan kasar dan aneh seperti itu!" Mei Liena sudah sangat kesal. Siapa pun, tolonglah sebelum tidak lagi bisa melihat langit!
Qiong Lin mendengus. "Kau pikir aku akan menyerah dengan kalimat tajammu itu? Huh, aku sudah kebal!" Lebih tepatnya sejak seseorang menikamnya habis-habisan menggunakan serangkaian kalimat.
"Kau ...."
"Apa? Mau melawan? Lihatlah siapa yang bisa menyelamatkanmu. Asal kau tahu, ras ular memiliki dukungan penuh dari Ratu Naga, kau tidak bisa bermain-main denganku sebagai wali pemimpin ras ular!"
"Aku tidak peduli siapa yang kau maksud, lepaskan aku!"
"Oh? Kau tidak peduli? Bahkan jika Ratu Naga adalah temanmu itu? Benar-benar mencerminkan sikap seorang ras ular, aku salut padamu!"
Saat ini sebuah kalimat sudah muncul di kepala Mei Liena. Xie Ruo, itulah yang terukir. Ia tidak tahu sampai kapan bocah itu akan menghentikan kebiasaan membawa makhluk gila dan aneh sepanjang hari tiap kali memunculkan diri. Benar-benar membuatnya gila!
Melihat Mei Liena terdiam, Qiong Lin tersenyum puas. "Rupanya ampuh juga. Hei, cepat panggil aku guru atau aku akan memberimu hukuman berat!"
Wajah Mei Liena semakin jelek. Memang tidak sepenuhnya buruk memiliki seorang guru hebat, tapi jika sikapnya gila seperti ini, siapa yang akan tahan? Sayangnya, ia tidak memiliki pilihan. Daripada tubuhnya terus diikat dan tidak bisa minta tolong, lebih baik mundur untuk maju.
"Baik ... Guru." Mei Liena bicara dengan setengah hati.
Qiong Lin tertawa senang sambil melepaskan jeratannya, kemudian merangkul Mei Liena dengan gembira. "Ayo, murid. Tunjukkan kemampuanmu pada wanita ini! Aku ingin lihat, apa yang bisa dilakukan naga tua itu ketika melihatmu sebagai muridku!"
Mei Liena memasang senyum lebar yang dipaksakan. Ingin sekali rasanya mengutuk!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Brakkkk
Xie Chen tersungkur di atas tanah yang retak karena benturannya. Ia memuntahkan darah, seluruh tubuhnya penuh dengan luka dalam disertai darah hitam bercampur merah yang mengalir membasahi pakaiannya.
Xie Ruo sepenuhnya tampak bersih. Ia berjalan menghampiri Xie Chen, kemudian meluruskan pedang runcing di tangannya yang dialiri dengan darah. Darah itu menetes di ujung pedang dan jatuh ke tanah.
"Ada kata-kata terakhir?" Xie Ruo sebenarnya agak berat, karena menurutnya Xie Chen tidak seburuk yang dipikirkan. Xie Chen sama sepertinya, beraksi untuk bertahan hidup. Semua yang dilakukan hanya untuk tetap hidup.
Xie Chen tersenyum getir. "Aku sudah tahu aku akan kalah, tidak ada pesan lain. Aku justru akan senang jika mati sekarang." Toh, tanggung jawabnya sudah tidak ada. Xie Nu akan mati sebentar lagi, bahkan tidak sampai satu batang dupa. Siapa pun yang memenangkan perang ini, ia juga tidak akan hidup lama. Jadi tidak perlu menyia-nyiakan udara untuknya bernapas.
Xie Ruo masih memandangnya dengan datar. "Aku terima saranmu." Memang, lebih baik mati daripada hidup.
Xie Ruo mengangkat pedangnya, kemudian mendorongnya tepat ke arah jantung Xie Chen hingga menembus tubuhnya. Xie Ruo memegang pedang dengan erat. Pedangnya tepat menembus tubuh Xie Chen sampai penuh, lalu ia melihat iris redup Xie Chen.
"Maaf, untuk segalanya." Xie Chen tersenyum samar.
Xie Ruo menarik pedangnya menyebabkan Xie Chen menghembuskan napas terakhir saat itu juga. Tubuhnya ambruk disertai genangan darah, sedangkan Xie Ruo berdiri memandangnya dengan wajah datar yang tidak berubah.
Rasanya lega, tapi juga mengganjal. Ketika membunuh mereka, baik Xie Nu maupun Xie Chen, ia sebenarnya tidak merasakan kebahagiaan seperti ketika mengetahui bahwa Huai Mao telah mati. Ia hanya merasa, sedikit bebannya telah berakhir yang membuatnya merasa lega. Tidak seharusnya mereka ada untuk melihat dunia yang kejam ini.
Xie Ruo berbalik, melihat banyaknya kematian yang terjadi. Para naga berterbangan mengeluarkan api membakar seluruh tempat di mana para iblis berkumpul dan menyerang. Prajurit kekaisaran berjatuhan akan hewan iblis yang mengamuk. Peri berjuang bersama para hewan laut melawan iblis dengan hidup mereka. Ras ular yang baru bergabung di sisi lain, mendapat tekanan para iblis sehingga membutuhkan bantuan dan bergabung dengan ras lain. Terakhir, para dewa melawan kloning di garis depan.
Semua emosi itu menyatu dan terserap dalam pikiran Xie Ruo. Ia dapat merasakan semua emosi, sedih dan marah akan kehilangan, serta rasa putus asa dan kegelisahan berlebih, semua itu menyatu menciptakan emosi besar yang membar di atas medan perang yang kacau.
Xie Ruo memutuskan semua keterhubungan antaremosi yang mengendalikan pikirannya. Iris birunya menyala, menekan kekuatan memori yang hendak menguasainya karena emosi-emosi negatif. Jika ia tidak terkendali karena semua emosi itu, ia tidak akan dapat melihat siapa lawan dan kawan. Dalam medan perang, siapa saja bisa terbunuh.
Karena itu, ia harus segera menyelesaikannya. Xie Ruo merubah wujudnya menjadi sosok naga surgawi yang terbang di udara. Kekuatannya yang penuh tekanan menghancurkan formasi iblis dan menerobos benteng secara paksa.
Penerobosan yang Xie Ruo lakukan secara terang-terangan membuat iblis kewalahan. Pasukan kekaisaran dan naga segera berbondong-bondong pergi menerobos benteng sambil membunuh beberapa iblis yang menghalangi.
Perang kali ini, harus berpihak pada cahaya!