
Di Dunia Liontin, langit sudah gelap bersamaan dengan dunia nyata di mana matahari telah terbenam.
Mata elang Qu Xuanzi terbuka dengan kesan dingin yang dalam. Dingin itu bukan dingin ketidakpedulian seperti sebelumnya, melainkan hal lain dan kerumitan yang terpatri.
Setelah Xie Ran secara terang-terangan menciumnya sepihak, Qu Xuanzi langsung pergi dari sana tidak ingin menunjukkan wajah. Tidak peduli apa yang Xie Ran pikirkan, dia hanya ingin menenggelamkan diri untuk saat ini.
Dia tidak tahu bahwa di ilusi gadis konyol tertentu menertawainya dengan penuh ejekan berpikir bahwa Qu Xuanzi adalah pria abnormal. Pria mana yang kabur setelah seorang gadis menciumnya?
Jika Qu Xuanzi tahu bahwa ciuman itu adalah penguji, dia akan merasa harga dirinya sebagai laki-laki telah dipermainkan oleh Xie Ran. Qu Xuanzi pergi bukan karena dia tidak normal! Masalahnya dia tidak bisa menjelaskannya hanya dengan beberapa kata.
Setelah keluar dari ilusi, Qu Xuanzi benar-benar tertegun dengan tindakan nekat Xie Ran. Dia dalam posisi duduk lotus langsung berdiri dan pergi ke air terjun untuk mendinginkan api dalam tubuhnya.
Sebelum dia pergi, dia telah memutuskan sihir mimpi buruk pada Xie Ran ketika gadis itu menciumnya.
Meski otaknya sempat macet beberapa saat, dia tetap pada rasionalitasnya dan pergi setelah menghilangkan sihir. Dengan begitu, Xie Ran dapat pergi dari ilusi setelah dia menyadari segalanya. Itu juga menahan Xie Ran agar tidak langsung bangun dan mengejeknya. Dengan sifat Xie Ran, gadis itu akan mengambil kesempatan mengejeknya setengah mati.
Hari semakin gelap dan sunyi, Xie Ran telah bangun dari tidur panjang setelah beberapa lama Qu Xuanzi pergi berendam. Dia melihat sekeliling dan terlihat linglung. Sepertinya dia melupakan hal tertentu dan tidak tahu bagaimana bisa di sini.
Xie Ran beranjak dari ranjang. Melihat pakaiannya yang compang-camping menjadi cemberut. Tubuhnya juga kotor dan bau. Dirinya dalam ilusi lebih baik daripada saat ini. Dia tentu ingat bagaimana takutnya ia membunuh rekan-rekan latihannya untuk dijadikan batu loncatan ketika masih kecil.
Dia tidak ingin mengingatnya lagi. Itu mimpi buruk!
Sayangnya Xie Ran dalam bentuk jiwa tidak bisa melakukan apapun. Meski dia mengganti pakaiannya, dia tetap akan kembali ke penampilan tubuh aslinya yang tidak mandi beberapa hari. Entah berapa lama dia berada dalam pagoda.
Meskipun begitu, ia tetap bisa membersihkan diri. Pakaiannya juga tidak terlalu buruk untuk dipakai sementara ini.
Xie Ran pergi ke air terjun dengan suasana hati baik. Dia tidak menemukan guru besar tertentu di sekitar sini, tapi ia yakin pria dingin itu masih di sini. Mungkin sedang berkultivasi atau semacamnya.
Xie Ran berjongkok di dekat sungai dan mencuci wajahnya. Semua riasan jelek di wajahnya luntur meninggalkan wajah cantik seputih salju.
Setelah meningkatkan sihir pesona, wajahnya semakin cantik dan menawan. Sihir pesona tentu memiliki kemampuan lain, selain meningkatkan pesona seseorang, itu juga meningkatkan kecantikan seseorang seiring dengan meningkatnya tingkatan. Xie Ran masih dapat menjadi lebih cantik setelah meningkatkan tingkatan sihirnya.
Dia melepas buntalan rambutnya sehingga menampakkan rambut hitam panjang sepinggang. Dia merasa segar setelah cuci muka dengan air dingin.
Xie Ran mencelupkan kakinya dan bermain-main seperti anak kecil. Tidak ada orang lain di sini, dia bebas melakukan tindakan apapun tanpa batas. Itu umum jika dia sedang sendiri, melakukan berbagai hal yang menurutnya seru secara bebas meski harus menjadi anak-anak.
Beberapa saat ketika Xie Ran berpikir telah bebas melakukan apapun yang dia mau, seseorang muncul dari kedalaman air jauh beberapa meter di depannya.
Sosok ramping penuh dengan kharisma. Terlihat menawan dengan tubuh basah yang menampakkan bagian atas tubuhnya yang proporsional tanpa sehelai benang di atas air.
Xie Ran yang awalnya tidak peduli menjadi tertegun melihat pemandangan di depannya. Jika dia adalah wanita lain, dia sudah lama mimisan. Sayangnya itu adalah Xie Ran yang telah melihat banyak 'pemandangan' di depan matanya. Rata-rata semuanya adalah korban kekejiannya dan Xie Ran tidak peduli.
Tapi kali ini berbeda. Kekharismaan itu terlalu banyak! Meskipun Xie Ran tahan melihatnya, hatinya tetap bergejolak membuatnya terdiam beribu kata. Kakinya yang awalnya bergoyang-goyang ke atas bawah menjadi ikut diam sedangkan matanya tidak berkedip.
"Guru besar, anda tahu bagaimana berpenampilan seksi," gumam Xie Ran tanpa sadar Qu Xuanzi mendengarnya.
Dia langsung menoleh menyadari kehadiran Xie Ran dan langsung mengambil pakaian putih yang datang entah dari mana kemudian memakainya.
Pandangan Xie Ran terciprat cipratan air tiba-tiba seolah ada sesuatu yang mengejutkannya serta membuatnya tidak bisa melihat Qu Xuanzi di kejauhan sana.
Xie Ran hanya mengalihkan pandangan sebentar karena cipratan air. Ketika menoleh ke belakang, dia sudah melihat Qu Xuanzi yang sudah berpakaian berdiri seperti gunung es.
Xie Ran seolah tertangkap masalah mengintip orang lain mandi.
Sungguh, ini kebetulan! Jika Xie Ran tahu ada Qu Xuanzi di sana, tidak mungkin dia datang dan lebih baik menetap di tempatnya sebagai anak baik. Dia tidak ingin dicap mesum!
Baru saja Qu Xuanzi ingin menegurnya, Xie Ran sudah mengklarifikasi terlebih dahulu seraya berdiri di hadapannya. "Jangan salah paham! Aku tidak tahu kau di sana. Jika aku tahu, aku tidak akan datang! Aku juga tidak melihat apapun."
Qu Xuanzi tetap tidak memiliki ekspresi apapun. "Kembalilah!"
Xie Ran menaikkan sebelah alis. Apa pria ini marah dan mengusirnya? Dia belum sembuh, bagaimana bisa kembali bertarung di luar sana! "Aku ...."
Melihat sepertinya Xie Ran salah paham, dia segera menjelaskan, "Kembali pulihkan kekuatanmu sebelum pergi dari sini."
"Baik."
Xie Ran mengiyakan ucapannya dan pergi dengan canggung. Ia pikir tidak akan ada masalah setelah dia mengklarifikasi dan segalanya selesai. Dia kembali ke istana besar itu dengan tenang bersama Qu Xuanzi yang mengikut di belakang.
Ketika sampai di ambang pintu masuk, dia mengingat sesuatu dan berbalik ke arah Qu Xuanzi yang tepat di depannya. "Guru besar, kau yang membawaku ke sini?"
Qu Xuanzi mengerutkan kening mendengar panggilan Xie Ran. Apa Xie Ran tidak ingat dirinya di ilusi telah mengungkapkan namanya?
"Ada apa? Aku salah bicara?" Melihat Qu Xuanzi mengerutkan kening, dia tidak bisa tidak bertanya-tanya. Menurutnya pertanyaannya sangat normal.
Qu Xuanzi tidak mempermasalahkannya lagi dan berpikir bahwa itu bagus. Mengingat bagaimana Xie Ran menciumnya, biar ia sendiri saja yang tahu.
Dia menjelaskan apa yang terjadi ketika Xie Ran sekarat karena ilusi pertamanya dan Qu Xuanzi membawanya ke Dunia Liontin sebelum Tang Zhi datang. Tang Zhi mengutus banyak orang untuk mencari Liontin, tapi sampai sekarang masih tidak ditemukan sehingga pencarian terus berlanjut selama seharian penuh.
"Berapa lama aku pingsan?" Xie Ran bertanya ketika mereka duduk di ruang tengah. Dia dalam wujud jiwa tidak bisa berkeliaran terlalu lama atau tidak akan bisa menyatu kembali dengan tubuhnya. Dia akan menjadi hantu gentayangan jika seperti itu.
"Dua hari," singkat Qu Xuanzi.
"Dua hari .... Aku tidak bisa berlama-lama dalam wujud jiwa. Tapi pemulihanku terhambat karena sihir mimpi buruk dan jiwaku terluka. Aku tidak bisa keluar dari pagoda dengan selamat dalam keadaan seperti ini." Xie Ran kembali gelisah. Wajahnya menjadi serius. Jika dia tidak kembali, dia akan mati. Tapi dia tidak bisa keluar dari pagoda tanpa terluka sedangkan jiwanya sudah terluka. Itu hanya akan memperburuk keadaan. Dia bisa mati setelah kembali.
"Tidak akan terjadi sesuatu," ucap Qu Xuanzi membuat Xie Ran menatapnya bingung. "Kau bisa memulihkan diri sementara di sini. Jiwa dan tubuhmu akan baik-baik saja. Dunia Liontin memiliki manfaat khusus untuk jiwa yang terpisah."
Xie Ran baru mengetahui hal ini langsung terpana. Itu berarti dia tidak perlu takut jika dia tidak bisa keluar dari pagoda hidup-hidup. Setelah memulihkan diri, dia bisa kabur dari pagoda dan kembali ke tubuhnya.
"Jika itu benar, maka akan bagus!" Xie Ran kembali semangat dipenuhi senyuman lebar.
Gadis ini ... cepat sekali merubah ekspresinya. Padahal sebelumnya dia tampak serius layaknya profesional ketika mendengar penjelasan Qu Xuanzi. Tapi sekarang dia menjadi gadis konyol lagi. Pikirannya sulit ditebak.
Kemudian Xie Ran teringat akan ilusi patah hati beberapa hari lalu. Dia telah membunuh Qu Xuanzi tanpa sengaja karena naluri membunuhnya terlalu menekan niat membunuh. Dia kelepasan dan tidak bisa mengendalikan diri.
"Maaf ...." Xie Ran berinisiatif meminta maaf terlebih dahulu. Sebelumnya ia sangat ingin membunuh Qu Xuanzi karena marah dan emosi sesaat oleh provokasi ilusi. Dia tidak bisa mengendalikan niat membunuhnya sendiri.
Xie Ran pada umumnya tidak boleh di diprovokasi. Tiap kali seseorang memprovokasinya, dia terselimuti niat membunuh yang kental dan akan membunuh mereka secara tidak sadar. Banyak yang takut padanya karena alasan ini. Itu bukan rahasia lagi. Itu juga menjadi titik depresinya.
"Kenapa?" Qu Xuanzi jelas tidak tahu tentang tantangan Xie Ran sebelum sampai di pagoda lantai 9. Dia hanya tahu bahwa Xie Ran banyak bertarung sebelumnya sehingga banyak menggunakan kekuatan mental sebelum menghadapi ilusi mimpi buruk yang membuatnya sedikit melemah.
"Ketika di lantai 8 pagoda teratai, Bunga patah hati menjebakku dalam ilusi dan membunuhmu ...." Xie Ran menggantung ucapan setelah menyadari kalimatnya akan membuat kesalahpahaman. Dia segera menjelaskannya sungguh-sungguh.
"Aku tidak bermaksud seperti itu. Dalam ilusi, aku diragukan apa itu asli atau palsu. Segalanya tampak nyata. Kau dalam ilusi itu ingin membunuhku, aku hanya membela diri dan tidak bersungguh-sungguh membunuh. Tapi siapa sangka naluriku mengendalikanku dan menikam jantungmu sampai mati. Aku memang sengaja membuat niat membunuhku mengendalikanku, tapi aku tidak mengharapkan hasil yang seperti itu. Aku pikir kau dalam ilusi akan menghindar dengan kemampuanmu, seharusnya itu berhasil. Tapi segalanya terjadi begitu cepat dan aku tidak tahu dengan jelas bagaimana itu terjadi. Tiba-tiba saja aku sudah membunuh ilusimu." Xie Ran tampak menyesal. Mengingat betapa frustrasinya waktu itu, dia benar-benar marah pada Bunga patah hati.
"Tidak masalah, itu hanya ilusi." Qu Xuanzi tidak memikirkannya. Jika Xie Ran benar-benar ingin membunuhnya, gadis itu masih tidak memiliki kemampuan. Lagipula ilusi itu memprovokasi Xie Ran. Jadi wajar bila Xie Ran marah.
"Benar, tapi apa kau tidak takut jika aku membunuhmu suatu hari? Aku memiliki kemampuan membunuh secara tidak sadar. Bila aku merasa kesal dan menahannya, itu akan aktif sehingga membunuh siapapun untuk melampiaskan amarah."
"Meski kau memiliki niat itu, kau masih tidak mampu."
Ucapan Qu Xuanzi berhasil menusuk hati Xie Ran sampai tembus. Dia berkata bahwa Xie Ran tidak mampu, itu memang benar, tapi melukai batin Xie Ran yang selalu bangga akan pencapaiannya.
Dulu dia selalu menjadi yang pertama, tidak ada yang tidak bisa dibunuh. Tapi sekarang Qu Xuanzi mengatakan dia tidak memiliki kemampuan, itu melukai harga dirinya. Tapi dia tidak mempermasalahkannya lagi meski sakit.
"Aku tahu," sahut Xie Ran pasrah. Dia terlalu lemah!
"Untuk naluri membunuh, kau yakin itu hanya membunuh?" Qu Xuanzi mengingat ciuman Xie Ran saat itu. Mungkin saja itu juga naluri Xie Ran karena Xie Ran tidak ingat.
"Tidak selalu membunuh. Aku bisa melakukan apapun tanpa sadar. Bahkan sesuatu di luar dugaan seperti bunuh diri. Aku pernah melakukannya dan akan mati, tapi Xie Chen langsung mengobatiku lalu mengatakan bahwa aku putus asa. Kau pasti juga berpikir seperti itu jika melihatnya."
Qu Xuanzi tahu jelas kegiatan percobaan bunuh diri Xie Ran yang beragam. Tapi dia tidak berpikir bahwa itu telah berulang kali di dua kehidupan. Dia pikir itu karena Xie Ran terlalu putus asa karena ditindas ditambah racun dalam tubuhnya. Tidak ada yang menyangka bahwa Xie Ran tidak sadar melakukannya.
"Apa kau mengintip ilusiku?" Xie Ran langsung menyadari ada yang salah. Biasanya pria dingin ini tidak tertarik dengan ceritanya. Pasti ada sesuatu yang merangsangnya.
"Jika aku tidak masuk ke dalam kesadaranmu, kau akan selamanya terjebak." Qu Xuanzi tidak merasa ada yang salah. Padahal jelas-jelas Xie Ran keberatan Qu Xuanzi telah mengintip masa lalunya yang suram. Dia tidak berharap akan terekspos secepat itu sebelum dia mengatakan kebenarannya tentang perpindahan jiwa!
Xie Ran menghela napas pasrah. Tidak ada kesempatan mengelak. Dia hanya bisa jujur. "Sudahlah, kau sudah mengetahuinya. Kau juga sudah tahu segalanya, aku tidak perlu menjelaskan bagaimana aku bisa di sini."
"Aku tidak peduli." Qu Xuanzi tidak peduli apa itu Xie Ran asli atau Xie Ran dunia lain. Yang dia tahu hanyalah Xie Ran yang saat ini di hadapannya.
Tapi sepertinya pemikiran Xie Ran jauh berbeda dari apa yang dipikirkan Qu Xuanzi. Xie Ran berpikir bahwa Qu Xuanzi tidak peduli karena dia memang tidak pernah peduli akan hal apapun. Baik masa lalunya, masa depan, atau saat ini. Pria tak berperasaan itu hanya peduli tentang bagaimana dia bisa keluar dari Liontin. Tidak ada hal lain. Itu bisa dimengerti Xie Ran.
"Apa yang kau lakukan di sana? Apa kau belajar sesuatu?" Xie Ran bertanya seperti itu membuat Qu Xuanzi lagi-lagi teringat tentang ciuman sepihak tertentu. Sialnya, itu terlalu meninggalkan kesan.
Melihat Qu Xuanzi hanya diam, Xie Ran jadi merasa bahwa dia banyak bertanya. Memang sulit bicara dengan orang dingin. Pria ini terlalu sulit diajak bicara jika tidak ada hal penting. Sudahlah, Xie Ran lelah dan merasa canggung sendirian. Tidak menyenangkan bicara dengan pria dingin.
Baru saja Xie Ran ingin mengakhiri pertemuan dan tidur, Qu Xuanzi tiba-tiba bicara sesuatu yang mengejutkan.
"Kau pernah merasa mencium seseorang ... tanpa sadar?"
Ucapan Qu Xuanzi berhasil membuat Xie Ran terdiam. Kenapa tiba-tiba membahas ciuman? Apa telah terjadi sesuatu?
"Tidak, lebih tepatnya tidak ingat. Mungkin pernah atau tidak, aku tidak tahu. Tapi dalam ingatanku, aku murni dan jujur, aku selalu hidup kesepian dan tidak ada yang berani mendekatiku." Xie Ran jujur.
Sebenarnya dia malu mengakui bahwa dia sama sekali tidak laku di masa lalu karena ketangguhannya sendiri. Pria mana yang ingin mendekatinya jika tangan Xie Ran penuh darah? Mereka hanya bisa naksir dari jauh tanpa keberanian. Tapi Xie Ran sama sekali tidak memperhatikan bahkan tidak tahu.
Seumur hidupnya hanya fokus pada membunuh. Dia juga tidak pernah berpikir untuk memiliki pasangan seumur hidup dan tidak pernah bisa memiliki keturunan walau dia menikah. Rahimnya diangkat ketika memasuki Red Room sehingga dia hanya bisa hidup sendiri. Itu berlaku untuk semua orang-orang Red Room.
Bukankah menyedihkan? Tapi Xie Ran tidak peduli karena memang hatinya menjadi keras selama bertahun-tahun.
Xie Ran memandang Qu Xuanzi dengan curiga. Qu Xuanzi sulit ditebak, pasti dia telah melihat sesuatu dan menanyakannya pada Xie Ran langsung. Tapi jika itu benar, Xie Ran juga tidak akan peduli.
Dia bukan wanita pada umumnya yang menjaga ciuman pertama mereka dan akan bereaksi heboh dan menyedihkan jika ciuman pertama mereka hilang oleh orang asing. Apalagi di dunia ini para wanita sangat sensitif, berbeda dengan wanita di Dunia modern yang beberapa memiliki keberanian, Xie Ran contohnya.
"Kenapa kau menanyakan ini?" Xie Ran semakin ragu. Dia yakin sekali tidak ada yang berani mendekatinya atau melakukan kontak dengannya di masa lalu. Tapi memikirkan ini, kenapa seolah dia yang telah mencium Qu Xuanzi?
"Aku tidak perlu alasan untuk bertanya." Qu Xuanzi tidak menjawab dengan benar.
Xie Ran semakin menatapnya curiga dan mendekatkan wajahnya dengan mata menyipit. Qu Xuanzi tetap berwajah datar, tapi tidak ada yang tahu aksi Xie Ran yang berani membuatnya merasakan hal berbeda.
"Kau ... mimpi?" Ucapan Xie Ran terlalu ambigu. Tapi dia jelas mengatakan bahwa Qu Xuanzi bermimpi tentang wanita. Apa wanita itu Xie Ran? Itu membuat Xie Ran mencurigainya.
"Omong kosong."
"Kenapa omong kosong? Tiba-tiba saja kau menanyakan hal aneh yang tidak pernah terjadi. Apalagi kalau bukan mimpi? Kau pasti dalam masa pubertas," ucap Xie Ram membuat kerutan di kening Qu Xuanzi semakin dalam. Xie Ran mendengus menahan tawa. "Tidak disangka, pria tua sepertimu masih bisa bermimpi seperti itu. Aku pikir itu akan berhenti ketika umurmu menginjak 80 tahun."
"Siapa pria tua?" Qu Xuanzi tidak setuju.
"Siapa yang bicara?" Xie Ran membalas dengan seringaian. Dia selalu suka menggoda pria dingin yang sensitif itu. Terlalu menyenangkan!
Qu Xuanzi mendengus kesal. Seharusnya dia tidak mengatakannya kalau pada akhirnya disalah pahami oleh gadis tidak dewasa ini.
Padahal jelas-jelas umurnya jika digabungkan akan menjadi lebih dari 40 tahun tapi masih bertindak seperti anak kecil yang naif. Meski tubuhnya adalah gadis 16 tahun, jiwanya adalah orang dewasa. Tapi dia masih seperti anak SD yang bodoh.
Xie Ran tersenyum puas. Akhirnya dia bisa menang, haha! Pria dingin ini selalu saja menindasnya dengan kata-kata. Sekarang dia tidak bisa mengatakan hal-hal tajam lagi!
"Kau pikir aku manusia sepertimu?" Qu Xuanzi rupanya masih tidak mau kalah. Entah bagaimana dia bersedia berdebat dengan gadis tak tahu malu itu.
Xie Ran baru ingat bahwa pria dingin itu bukan manusia tapi jelmaan gunung es. Mana mungkin melewati masa pubertas seperti manusia?
"Benar, kau hanya jelmaan gunung es. Mana ada ketertarikan. Aku justru berpikir bahwa kau tidak normal, atau bahkan impoten, sepertinya memang benar. Ribuan tahun kau tidak memiliki pasangan, seharusnya kau seperti itu." Xie Ran menatapnya penuh provokasi. Dia sangat suka menindas guru besar itu yang suka menindasnya.
Wajah Qu Xuanzi semakin menggelap. Sudah cukup gadis tak tahu malu itu mengatakan bahwa dia adalah pria tua. Tapi seolah itu belum cukup dan justru mengatakan bahwa dia tidak normal dan impoten!
Xie Ran belum cukup bereaksi ketika menyadari lengannya tertarik sesuatu yang membuat keseimbangannya terganggu. Ketika sadar, dia baru menyadari sudah ada di pangkuan Qu Xuanzi dan dia terlalu dekat!
"Aku akan membuktikan apa itu yang disebut pria normal." Suara Qu Xuanzi terdengar di telinganya sangat dekat hingga napas hangatnya meniup telinga Xie Ran. Xie Ran merinding.
Xie Ran tidak sempat bereaksi apalagi menyahut. Dia tidak bisa melawan seolah tubuhnya tidak memiliki kemampuan dibandingkan kekuatan Qu Xuanzi. Pria ini terlalu mendominasi!
Tangan Qu Xuanzi menekan leher belakang Xie Ran dan menyatukan kedua bibir mereka dalam-dalam. Xie Ran jelas terkejut, tapi tidak bisa menunjukkannya. Dia dipaksa diam dan tidak bisa melakukan apapun dalam keadaan seperti ini. Dia telah dipaksa sampai ke titik di mana dia tidak dapat melakukan perlawanan seakan tubuhnya telah kaku menjadi boneka. Bahkan otaknya tidak lagi bekerja. Dia terlalu terkejut!
Xie Ran merasa butuh oksigen. Ketika dia merasakan akan mati tak lama lagi karena kekurangan oksigen, Qu Xuanzi melepaskannya dan menatap Xie Ran dengan kilatan licik dan kemenangan. Pria ini ... bisa lebih licik dari Xie Ran. Xie Ran tidak mengharapkannya.
Xie Ran menatapnya dengan tatapan menuduh selama wajahnya merah padam seperti kepiting rebus. Dia tidak peduli wajahnya merah, dia hanya kesal pada pria ini! Dia hampir mati. Apa pria ini tidak memiliki belas kasihan?!
Setelah memikirkan betapa memalukan dia sebelumnya, Xie Ran menutup wajahnya dengan cepat dan berdiri memalingkan wajah. Dia tidak selamanya tidak tahu malu. Sebagai seorang mesin pembunuh, Xie Ran malu mengakui bahwa dia telah menyerah terhadap penindasan Qu Xuanzi. Ini penindasan total!
"Aku pergi memulihkan diri." Xie Ran berkata tanpa menoleh dan langsung pergi begitu saja. Dia mengutuk Qu Xuanzi berkali-kali dalam hatinya bahwa dia benar-benar akan membunuh pria itu tanpa berkedip.
Tapi mengingat ucapan Qu Xuanzi bahwa dia tidak mampu, dia kesal dan sangat ingin mengamuk!
Qu Xuanzi menatap kepergiannya dengan tenang tanpa beban. Sebelumnya dia dikejutkan oleh aksi Xie Ran—yang bahkan Xie Ran sendiri tidak ingat. Sekarang dia telah membalikkannya.
Dia jelas telah menahan hari ini sejak lama dan selalu menjaga jarak aman dengan bersikap dingin dan ketus.
Melihat tingkah serba salah Xie Ran, dia tidak bisa menahan senyum yang selama ini dipertahankan.
Ranran-nya terlihat lucu ketika memerah.
Tapi ketika ia teringat sesuatu, wajahnya menjadi serius kembali seperti sedia kala ditambah kecemasan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Ia merasakan sesuatu yang aneh pada Xie Ran ketika menciumnya tadi, namun ia membutuhkan kepastian.
Hal ini bukan sesuatu yang dapat diremehkan. Bahkan seorang Dewa terkuat pun belum tentu dapat mengatasinya.