The Emperor God Wife Is Naughty

The Emperor God Wife Is Naughty
68. Pembelajaran Qu Xuanzi



Xie Ran duduk di atas pohon sambil melihat bulan yang bersinar terang. Sudah tengah malam, tapi ia masih belum tidur. Pikirannya masih berkelana dan sampai pada masa lalunya yang kelam di Klan Xie.


Ucapan Tang Zhi terngiang di kepalanya. Apa Xie Yun benar-benar pergi mencari obat untuknya dan Wen Xi? Karena itu semua, ia meregang nyawa?


Tang Zhi sama sekali tidak bisa dipercaya. Xie Ran jelas-jelas tahu Wen Xi mengurung diri di kamar. Ia kadang mendengar suara Wen Xi yang menenangkan hatinya dari balik pintu, mengatakan bahwa wanita itu baik-baik saja. Ia juga banyak cerita pada ibunya tentang berbagai hal di depan kamar Wen Xi. Tidak mungkin Wen Xi tidak ada di dalam.


Sudah jelas Tang Zhi berbohong tentang Wen Xi, tapi tentang Xie Yun, ia masih harus memikirkannya mengapa Xie Yun bisa meregang nyawa. Seorang jenius yang dihargai Kaisar sebelumnya dan diberi pangkat tertinggi. Apa bisa semudah itu mati hanya dalam sehari?


"Iblis itu ...." Xie Ran mengusap wajahnya merasa frustrasi. Belum lagi tubuhnya yang sakit, saking frustrasinya rasa sakit itu bagai tidak ada sebelum turun dari pohon begitu merasakan kehadiran seseorang.


"Aku pikir kau ke penginapan."


Suara itu datang dari balik pohon. Xie Ran melihatnya, menyadari kehadiran Pei Xi dan menghela napas. Ia pikir itu adalah seseorang yang dikirim untuk membunuhnya.


"Aku tidak yakin kau baik-baik saja. Lebih baik kau istirahat."


"Aku menipu kalian, apa kalian tidak marah?" Xie Ran justru bertanya mengenai terungkapnya identitas.


"Kita semua memiliki rahasia masing-masing yang tidak bisa diungkapkan. Pada umumnya, latar belakang kita bertujuh tidak biasa, hanya saja jarang yang tahu."


"Apa kau sudah tahu sebelumnya?" Xie Ran curiga karena Pei Xi sama sekali tidak terkejut.


Pei Xi menggeleng pelan. "Aku pikir kau adalah putri dari sebuah sekte atau kerajaan yang kabur."


"Rupanya pengaruh Klan Xie tidak sebesar itu." Xie Ran terkekeh.


"Sebenarnya, kau adalah Xie Ran juga masuk akal. Kau hanya mengganti marga. Kemudian, kau pernah bercerita tentang masa lalumu yang keras."


Xie Ran ingat cerita di depan api unggun itu. "Seseorang yang mendaki menggunakan batu di punggung?"


"Aku pikir kau menceritakannya secara singkat namun menyeluruh. Batu itu adalah kehidupanmu, sedangkan pendaki itu adalah kamu."


Xie Ran terkekeh. "Pintar sekali, bagaimana dengan pelatihan anak-anak jenius?"


"Itu bisa saja penindasan yang kau alami selama di Klan Xie. Bukankah Klan Xie selalu memiliki pelatihan keras?" Pei Xi menjawab dengan santai.


Xie Ran mengangguk-angguk. Tidak disangka, Pei Xi dengan mudah menghubungkan kehidupan sebelumnya dengan masa kecilnya. Pria ini memang pintar.


"Xie Ran, jika ada sesuatu, kau bisa mengatakannya padaku."


Xie Ran tidak menjawab, hanya tersenyum. Bagaimana mungkin ia memberitahu semua masalahnya? Masalahnya bukan sesuatu yang dapat dipikul orang biasa dan hanya diri sendiri yang dapat membantu.


"Apa kau akan pergi?" Pei Xi bertanya mengingat ucapan Xie Ran waktu itu.


Xie Ran memandang bulan di langit. "Bagaimanapun, urusanku dengan Klan Xie belum selesai. Aku juga harus tetap kembali ke sana."


"Bukankah sudah putus hubungan?"


Xie Ran menggeleng. "Aku memiliki tanggung jawabku sendiri. Sebagai Ketua Klan sah, sebagai Nona Xie, sebagai pemegang warisan leluhur Xie, aku memiliki peran penting. Bukankah mereka juga ingin aku kembali? Aku akan kembali, tapi sebagai Ketua Klan Xie dan membalaskan dendamku."


"Kau sangat kuat menghadapi masa lalu, kau pasti bisa."


Xie Ran tidak bisa menahan tawa mendengar ucapan Pei Xi yang memotivasinya. Sangat mirip dengan guru besar tertentu yang tidak pandai memotivasi. "Kau orang kedua yang mengatakannya."


Pei Xi hanya diam melihatnya tertawa dan tersenyum samar. Jarang-jarang Xie Ran dapat tertawa lepas seperti saat ini meski kesehariannya menjadi foodie yang galak dan pelit.


Xie Ran menghentikan tawanya melihat Pei Xi hanya diam seolah humor Xie Ran terlalu rendah dan tidak layak dilihat. Ia cemberut, kenapa selalu dihadapkan dengan pria yang tidak tahu cara tertawa?


"Apa pun yang terjadi, aku akan melindungimu."


Xie Ran tersenyum mendengarnya. "Tidak ada yang melarangmu. Kalian selalu melindungiku, itu sudah cukup. Bukankah aku hanya perlu menjadi adik yang baik?"


"Bukan sebagai adik."


"Lalu apa? Kakak? Kau ingin jadi adikku? Atau ... kau ingin jadi pengawalku? Jangan, itu tidak cocok, oke. Aku sangat merepotkan."


Pei Xi merasa Xie Ran semakin lucu dan tersenyum. "Bukan itu."


"Lalu? Kau ingin menjadi ayahku? Paman? Lebih baik tidak, nanti ditaksir ibu-ibu itu." Xie Ran ingat bagaimana tatapan Tang Zhi pada Qu Xuanzi. Itu membuatnya merinding mengingatnya hingga menggigil sampai memeluk tubuhnya sendiri. "Dingin, ya."


Ketika melihat ke depan kembali, ia melihat Pei Xi yang sangat dekat. Tatapannya dalam dan setenang air. Xie Ran tidak tahu harus bereaksi bagaimana, ia hanya melihat pria itu yang semakin mendekatkan wajahnya.


Pei Xi sendiri tidak tahu apa yang ia pikirkan. Ia menyukai Xie Ran sejak lama dan ingin mengatakannya, tapi tidak tahu harus mengatakan apa sedangkan Xie Ran sama sekali tidak sadar.


Sekarang, ia tidak ingin kehilangan kesempatan karena Xie Ran akan pergi jauh, mereka akan sulit bertemu. Ia juga memiliki masalahnya sendiri sehingga kemungkinan tidak akan pernah kembali. Ia ingin mengatakannya sekarang.


Jarak mereka hanya beberapa centi dan semakin dekat. Xie Ran hanya melihat tanpa berkata apapun dan tatapannya masih sama seperti sebelumnya—


terlihat bodoh. Melihat Pei Xi yang semakin dekat ke arahnya, perasaan Xie Ran menjadi tidak enak.


Begitu Pei Xi memiringkan kepalanya dan akan meraih bibir Xie Ran, hidung Xie Ran mengganggu dan gadis itu bersin tanpa izin.


"Hachim!"


Pei Xi tertegun sejenak dan melihat Xie Ran yang memasang wajah tidak bersalah seolah bukan ia yang bersin.


Xie Ran berbalik membekakangi Pei Xi dan bersin sekali lagi. Ia menggigil kedinginan sejak tadi dan berpikir bahwa dirinya terserang flu. Ia berbalik kembali menatap Pei Xi.


"Sepertinya aku flu karena kehilangan banyak darah. Aku harus tambah darah. Ayo kita makan! Teman-teman juga sedang makan, 'kan? Kau yang traktir karena telah mengganggu makanku tadi." Xie Ran langsung menjadi foodie yang menarik bank berjalannya ke arah rumah makan di mana teman-temannya berada. Sedangkan Pei Xi hanya diam menurut dan mengutuk tindakannya barusan yang kelewatan.


Mereka tidak tahu, kucing tertentu telah memberhatikan dengan wajah gelap di atas pohon melihat tindakan foodie yang tidak tahu yang namanya kesalahan.


Untung saja ia membuat Xie Ran bersin, atau ia benar-benar akan menyayangkan nasib pria tampan itu karena kaisar tertentu. Ia merasa bangga telah menyelamatkan sebuah nyawa sekali lagi. Untungnya foodie itu tidak sadar karena terlalu bodoh.


Ketujuh manusia itu makan malam dengan ramai dan minum arak bersama untuk merayakan kemenangan. Xie Ran telah melupakan masalahnya untuk sesaat karena makanan, dan menutupi rasa sakitnya dengan minum arak.


Mereka berpesta semalaman. Setelah itu, Xie Ran dan Mei Liena yang tidak mabuk mengantar Zhong Xiaorong yang mabuk ke kamarnya. Xie Ran merasa tubuhnya semakin sakit hingga langkahnya oleng, pada akhirnya Mei Liena yang peka mengantar Zhong Xiaorong sendiri ke kamar.


Xie Ran masuk ke dalam kamarnya. Merasakan perutnya kenyang dan matanya mengantuk, ia langsung menjatuhkan diri ke atas ranjang. Tapi begitu menjatuhkan diri, ia mengerang kesakitan karena lukanya tersentuh hingga ia memiringkan tubuhnya dan meringkuk.


Dia begitu sakit dan melepas baju luarnya. Melihat luka di bahu belakangnya, ia hanya bisa menghela napas. Seharusnya ia ke dokter agar dirawat sebelum makan daripada menghadapi Tang Zhi.


Mengingat percakapannya dengan Tang Zhi tadi, ia kembali suram dan merindukan orang tuanya. Terutama ibunya yang malang, ia sangat merindukannya.


"Ibu, tak lama lagi kau akan mendapat keadilan."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di malam yang sunyi, sebuah cahaya emas muncul membentuk pria ramping berpakaian putih berdiri di tengah ruangan. Pandangannya datar, namun begitu jatuh ke sosok gadis yang tertidur ditutupi selimut sampai kepala, tatapannya menghangat.


Pria itu dalam wujud roh dan sedikit tembus pandang. Ia berjalan tanpa suara ke arah gadis itu dan berjongkok untuk melihatnya.


Separuh wajah Xie Ran yang terbuka terlihat pucat tertidur dengan pulas untuk beberapa saat. Qu Xuanzi yang datang dalam bentuk roh menyingkirkan selimut yang menutupi separuh wajah Xie Ran. Kemudian, ia melihat perban putih yang membalut bahu Xie Ran yang tampak.


Qu Xuanzi mengerutkan kening. Ann Rou mengatakan Xie Ran baik-baik saja selain luka dalam yang dapat sembuh dengan energi murninya. Tapi kenapa memiliki luka eksternal yang begitu parah?


"Ayah ... Ranran sakit ...." Xie Ran bergumam dalam tidurnya dan terus menggeliat untuk beberapa saat. Ia tampak tidak nyaman dan kesakitan.


Qu Xuanzi mengangkat tangannya untuk menyembuhkan Xie Ran dengan sihir. Tapi tiba-tiba tangan Xie Ran terangkat menggenggamnya sangat keras menghentikan langkah Qu Xuanzi.


Xie Ran membuka mata, tampak waspada. Namun setelahnya, ia tersadar bahwa di depannya adalah wajah yang ia kenal.


"Xuanzi?" Ia melepas cengkraman karena terkejut. Kemudian menyadari wujud Qu Xuanzi tembus pandang, langsung mengerutkan kening. Bagaimana dia bisa menyentuhnya jika tembus pandang? Ini pasti mimpi.


"Mereka yang melakukannya."


"Apa?" Xie Ran tidak terlalu mendengar karena suara Qu Xuanzi yang terlalu kecil.


"Kau akan pergi lagi?" Xie Ran bertanya. Meskipun ia menganggap ini mimpi, tapi terasa seperti kenyataan.


"Tak lama lagi aku akan kembali."


Xie Ran terdiam sejenak memikirkan sesuatu. "Bulan depan aku akan pergi ke pagoda apa pun yang terjadi."


"Jangan memaksakan diri seperti tadi."


Xie Ran tersenyum kecut. "Ann Rou sudah cerita, ya."


"Semuanya."


"Aish, kucing nakal itu." Ia seharusnya sudah tahu bahwa Ann Rou akan melaporkan tiap kejadian baik penting maupun tidak penting. Mungkin kucing itu juga akan melaporkan porsi makannya setiap hari. "Kukatakan satu hal, jangan mempercayai semua ucapannya. Dia berbohong."


"Apa dia berbohong tentang menghentikan Pei Xi menciummu?"


"Apa?" Xie Ran yakin dia salah dengar. Sejak kapan Pei Xi menciumnya? Anak kucing itu lagi-lagi menambah bumbu.


Tiba-tiba Qu Xuanzi mencondongkan tubuhnya ke arah Xie Ran membuat Xie Ran tersentak. Hantu ini benar-benar tahu cara mengambil kesempatan.


"Kau—"


"Memang ada bau pria lain," kata Qu Xuanzi kemudian menatap Xie Ran. "Apa dia melakukannya?"


"Melakukan apa?" Xie Ran merasa sedang diinterogasi habis melakukan sebuah dosa. Apa kesalahannya?


Qu Xuanzi justru tidak menjawab membuat Xie Ran kesal sendiri. Sudahlah, ini hanya mimpi dan sangat tidak penting.


Melihat Qu Xuanzi hanya diam, Xie Ran mendapatkan ide bodoh. Ia mengeluarkan tangannya dari balik selimut dan menyentuh Qu Xuanzi. Namun tangannya menembus membuatnya semakin heran. Padahal tadi jelas-jelas ia mencengkram lengan Qu Xuanzi.


"Kau tembus." Xie Ran dengan bodohnya memberitahu.


"Ini hanya jiwaku." Ia tidak menjelaskan lebih lengkap karena tidak ingin membuat Xie Ran khawatir. Sejak membunuh Hydra, kekuatannya terkuras banyak hingga ia harus kembali ke liontin. Tapi tubuh jasmaninya tidak bisa menempuh perjalanan jauh dalam jangka waktu singkat dengan kekuatannya saat itu sehingga ia harus memisahkan antara raga dan jiwa untuk sampai di sini dengan cepat. Tubuhnya masih ada di Utara dijaga oleh beberapa hewan suci.


Xie Ran tidak ingin terjebak dalam dunia mimpi dan memilih tidak banyak tanya tentang tubuh Qu Xuanzi yang tembus. Ia memiliki pertanyaan lain.


"Kau belum menjawab pertanyaanku barusan. Apa kesalahanku?" Xie Ran bertanya lagi dengan penasaran.


Qu Xuanzi menatap Xie Ran sebentar dan tersenyum samar. Ia semakin mencodongkan tubuhnya. Menyatukan kedua bibir mereka selama beberapa saat sedangkan Xie Ran tertegun tanpa bisa bereaksi.


Setelah beberapa saat, Qu Xuanzi menarik kembali tubuhnya menatap Xie Ran. "Jika seseorang melakukan itu padamu, pukul dia."


Xie Ran yang awalnya masih di luar akal sehat segera tersadar. Ia mengangkat tangannya dan memukul Qu Xuanzi, tapi yang ia pukul hanyalah angin karena tangannya tembus lagi.


"Kecuali aku." Qu Xuanzi melanjutkan kalimatnya.


"Kenapa kau harus pengecualian?"


Qu Xuanzi menatapnya dalam. "Kau adalah milikku."


Xie Ran yang awalnya masih berpikir, bagaimana ia tidak bisa menyentuh Qu Xuanzi sedangkan pria itu bisa menyentuhnya, kini menjadi diam. Xie Ran tidak tahu kenapa IQ-nya rendah di depan pria ini dalam kondisi seperti ini.


Xie Ran malu sendiri dan menutup wajahnya yang menurutnya memerah dengan kedua tangan. Tapi ketika mengangkat tangan satunya, bahunya yang terluka kembali sakit hingga ia mendesis perih.


"Ah, mimpi menyebalkan! Kenapa bisa terasa sakit sampai sekarang!" Xie Ran merengek dan ingin bangun saja dari mimpi.


Xie Ran yang menganggap ini semua hanya mimpi membuatnya terlihat lebih imut hingga Qu Xuanzi ingin menciumnya lagi. Tapi melihat Xie Ran kesakitan, ia menjadi cemas.


"Jangan banyak bergerak. Cederanya akan memburuk."


Xie Ran menatap Qu Xuanzi dengan sedih. "Aku bukan dokter, tidak tahu cara merawatnya."


Ia melihat luka Xie Ran di balik perban yang memburuk. Itu hanya ditutupi tanpa diobati karena Xie Ran tidak memiliki persediaan obat. Qu Xuanzi bisa menyembuhkannya menggunakan sihir jika hanya luka ringan, tapi luka seperti itu akan membuat seluruh tenaganya habis dan berdampak pada kesadarannya. Ia akan tertidur selama beberapa waktu.


Demi Xie Ran, ia tidak masalah. Hanya saja, bahaya kedepannya lebih buruk dari sebelumnya dan dia belum tentu dapat bangun saat itu. Ia menghadapi dilema.


Xie Ran mengutuk dalam hati dengan mimpi menyedihkan ini. Tidak tahu mimpi buruk atau mimpi indah, ia hanya merasa tubuhnya sakit. Jika Qu Xuanzi keluar mencari dokter, orang-orang akan takut pada wujudnya yang seperti hantu.


Kemudian Xie Ran teringat satu hal. Energi murni dapat memulihkan tenaganya sekaligus meningkatkannya. Cara sebelumnya sudah dicoba tapi tidak begitu efektif. Itu hanya mengobati cedera internal dan membutuhkan waktu untuk cedera eksternal.


Setelah memikirkan pengalamannya selama ini, ia teringat hari di mana ketika jiwanya terluka di Pagoda Teratai dan terbangun dari ilusi. Karena ini hanya mimpi, jadi tidak salah, 'kan?


Ketika Qu Xuanzi sudah memutuskan akan menyelamatkan Xie Ran terlebih dahulu, Xie Ran sudah memiliki jawaban lainnya. "Xuanzi, bukankah aku memiliki energi murni? Kau pernah mencobanya, 'kan?"


Qu Xuanzi berpikir sejenak dan teringat hari itu. Reaksi energi murni memulihkan keadaan mereka berdua ke puncaknya cukup efektif meski hanya pemulihan energi. Namun efek yang terjadi pada Xie Ran juga cukup untuk memulihkan cederanya.


Tapi ... Apa Xie Ran benar memintanya?


"Kau yakin?"


"Entah ini mimpi atau tidak, setidaknya aku memiliki harapan. Luka di bahuku hampir mengalami tetanus karena korosi dari energi gelap, sangat berbahaya dan bisa diamputasi. Aku akan mati jika seperti itu. Jika ternyata ini mimpi ... aku harap lukanya tidak seburuk itu dan bisa memanggil dokter dengan cepat."


Perkataan Xie Ran juga ada di pikiran Qu Xuanzi sebelumnya, itu sebabnya ia begitu khawatir. Kekuatan iblis bukan sesuatu yang dapat dianggap enteng. Hanya kekuatan murni yang dapat menyembuhkannya sedangkan tubuh asli Qu Xuanzi ada di utara sehingga ia tidak bisa menggunakannya. Apalagi kekuatannya terkuras banyak karena melawan Hydra.


"Kamu yang memintanya."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam yang sunyi tanpa tanda matahari akan terbit. Suara guntur menggelegar di atas Kediaman Ye yang kini telah menjadi penjara rumah Pengawas Kekaisaran.


Seorang pria yang tak lagi muda, Ye Ming yang kini kehilangan reputasi dan jabatannya harus berada di dalam kurungan rumah sampai hari esok. Ia menghancurkan semua barang dengan amarah bergebu-gebu beserta semua vas yang dilemparnya.


Ruangan dipenuhi barang pecah dan rusak, berserakan di mana-mana sedangkan Ye Ming duduk sambil memegang kepalanya frustrasi. Matanya memiliki jejak hitam di bawah seperti panda, bahkan pakaian mewahnya compang-camping karena amukan. Ia benar-benar menggila.


"Xie Ran, aku mengutukmu! Kau tidak akan pernah hidup tenang! Suatu hari, kau akan menyesal!" Ye Ming meraung sampai suaranya terdengar ke luar, namun tidak ada yang peduli dengan teriakannya, bahkan istrinya sudah meringkuk meratapi nasib putranya.


"Ini semua karenanya ... mereka meninggalkanku karenanya ...." Ia sudah berusaha menghubungi Iblis, tapi mereka tidak datang membantu. Ia benar-benar marah sampai urat lehernya ingin putus. Bahkan Klan Xie sudah tidak peduli setelah menemukan Xie Ran.


"Mereka akan membalaskan dendam, pasti! Xie Ran, kau tidak akan lepas! Kau akan menderita sampai ingin mati!"


Ye Ming terus berteriak sambil mengutuk Xie Ran yang menyebabkan rencananya kacau. Bersamaan dengan itu, angin berhembus kencang disertai aura mencekat.


Sesosok pria muncul dengan wajah dingin dan penuh niat membunuh dengan mata semerah darah. "Siapa yang kau kutuk barusan?"


Ye Ming mendongak, melihat pria tampan dengan mata merah  disertai aura pekat membuatnya terlonjak kaget. Ia bergetar hebat dan langsung bersujud di kakinya seperti orang tidak waras.


Mata merah ... dia pasti Iblis! Ia akan berusaha meminta pertolongan meski harus menjadi budak agar bisa hidup lebih lama. Ia tahu, hidupnya tidak akan lama lagi karena Kaisar Zhong akan mengeksekusinya.


"Tuan, tolong aku. Aku sudah melakukan apa yang diperintahkan. Gadis bodoh itu, dia menyerangku balik dan mengeksposku begitu cepat. Aku berjanji akan membunuhnya untukmu, aku akan membunuhnya hari ini!"


Iris merah itu semakin tajam dipenuhi amarah. Ia melirik pria tua itu dengan jijik dan mengeluarkan auranya hingga pria tua itu terpental dan mematahkan beberapa kayu serta mengenai pecahan barang.


"Awalnya aku pikir untuk membunuhmu lebih cepat. Aku berubah pikiran." Suaranya begitu dingin dan menusuk hingga membuat siapa pun menggigil.


Ye Ming merasa benar-benar kehilangan segalanya. Bahkan Iblis tidak memihaknya dan ingin membunuhnya. Ia benar-benar marah sekarang.


Baru saja Ye Ming akan mencoba memohon kembali, sebuah sinar merah terpancar menembus tubuhnya seperti pisau dan menembus kembali berkali-kali. Mata Ye Ming melotot, tubuhnya ambruk tanpa bisa melakukan apa pun. Mulutnya mengeluaran busa sedangkan bola matanya seolah ingin keluar.


Karena keributan ini, istrinya datang dan langsung berteriak melihat keadaan suaminya yang begitu mengenaskan. Ia terduduk merasakan kakinya lemas kemudian melihat sosok pria tinggi yang berdiri dengan aura pembunuh yang kuat. Tubuhnya bergetar hebat seolah dewa kematian telah di depan mata.


Pria itu menatapnya sekilas kemudian pandangannya lurus kembali tanpa mengatakan apa pun. Wanita itu hadir di sini dan melihat suaminya disiksa juga sudah cukup membuat tekanan mental dan menjadi gila. Ia tidak perlu mengotori tangan membunuh manusia itu secara langsung.


Tangannya berayun dengan satu gerakan. Sebuah nyala api muncul ke bahan mudah terbakar menyebabkan api membesar. Ia menghilang dalam sekejap tanpa mengatakan apapun meninggalkan kediaman yang dipenuhi api hanya dalam hitungan detik.