
Matahari menunjukkan sinarnya yang cerah. Kediaman Klan Xie kembali beroperasi setelah semua orang terbangun dari tidur nyenyak.
Hanya Tang Zhi yang tidak bisa tidur nyenyak. Dia merasa frustrasi memikirkan liontin misterius yang tidak diketahui asal-usulnya.
Itu memang milik Leluhur Klan Xie, tapi tidak tahu apa kekuatan yang dapat menekannya sampai tidak bisa berkata-kata.
Ia bangkit berdiri, memikirkan liontin membuatnya memikirkan anak itu juga. Dia pergi ke arah kamar terbengkalai dan melihat kondisi kamar yang sama persis seperti ketika dia berkunjung.
Para pelayan membungkuk hormat padanya dan bertanya-tanya kenapa Ketua mereka datang ke tempat kotor itu. Tapi mereka tidak berani bertanya.
Tang Zhi masuk ke dalam setelah merasa tenang melihat pembatas yang ia buat baik-baik saja. Dia melihat sosok gadis pucat itu masih tertidur tenang seolah ia adalah mayat di atas ranjang terbalut selimut. Jika Tang Zhi orang biasa, sudah pasti mengira bahwa Xie Ran sudah mati.
Tang Zhi mendekatinya, melihatnya dengan teliti dan masih merasa bahwa Xie Ran ini adalah Xie Ran yang sama seperti sebelumnya, tidak ada vitalitas dan terlihat bodoh. Napasnya sangat lambat nyaris tidak terasa. Dia benar-benar terlihat sudah mati. Jelas dia sedang dalam keadaan tidak sehat apalagi suara jantungnya begitu pelan.
Rupanya kecemasan Tang Zhi hanya ilusi. Dia tidak perlu cemas lagi setelah melihat Xie Ran yang seolah tanpa jiwa di atas ranjang. Gadis yang terlihat seperti mayat itu mana mungkin memiliki sihir. Kekhawatiran Tang Zhi tidak diperpanjang lagi.
Dia tidak tahu, bahwa yang dia lihat adalah tubuh tanpa jiwa. Itu akan terlihat kosong seperti mayat hidup, namun kenyataannya sangat berbeda.
Siapa yang akan menyangka bahwa jiwa yang sebenarnya telah berada di dalam Pagoda teratai, tempat paling sakral dan terlarang bagi siapapun termasuk anggota Klan Xie.
Tidak ada yang menyangka juga bahwa gadis itu telah memisahkan diri antara jiwa dan tubuh aslinya. Jiwa gadis yang sedang diteliti itu masih dalam keadaan lemah. Merasakan celah cahaya masuk membuatnya membuka mata melihat kembali tangga melingkar di atasnya.
Suara benturan semalam tidak terdengar karena ruangan ini kedap suara. Suara dari dalam tidak akan terdengar sekeras apapun begitu pula sebaliknya.
Xie Ran bangun dan memegangi kepalanya yang sakit. Pakaiannya compang-camping, tapi tidak memiliki stok pakaian yang tersedia selain di kamar. Bahkan sepatunya sudah tidak layak pakai sehingga membuatnya terpaksa melepasnya daripada mengganggu jalan.
Ia menyimpan sepatu jelek itu ke dalam laci untuk disembunyikan. Tidak akan ada yang menyangka bahwa sepatu jelek itu diletakkan diantara barang berharga dan mahal.
Xie Ran menggulung rambutnya sedemikian rupa sampai pendek mengingat rambutnya banyak terpotong semalam. Dia juga merombak sebagian pakaiannya lagi untuk menggulung luka di lengannya. Pakaian lusuhnya semakin pendek sepaha dengan celana hitam panjang.
Dia akan mudah bergerak dengan ini. Tapi akan mudah ketahuan juga tanpa jubah. Oleh sebab itu, ia harus cepat!
Xie Ran melangkah ke arah tangga melingkar. Menghindari tiap serangan dengan lebih cepat karena kekuatannya sudah dipulihkan sejak bangun. Baginya pingsan sama dengan istirahat, ia sudah cukup istirahat dan bisa dengan mudah melewati rintangan dari awal.
Dia menghindari tiap panah dan melompat dengan cepat ke lantai dua. Dia sudah mempelajari itu sebelumnya dan bisa lebih cepat memasuki lantai tiga.
Pada lantai tiga, bahkan dia tidak perlu memotong tanaman. Ia hanya perlu menghindar dan menggantung di antara tanaman yang ingin menyerangnya. Ia menghindar sekaligus memanfaatkan tanaman. ia telah mempelajari pengalaman semalam di tiap tingkat. Ia tidak akan terjebak lagi!
Setelah sampai di lantai empat, tingkat kewaspadaannya meninggi. Dia menutup telinga menggunakan barang yang ditemukan di lantai dasar sebelumnya dan menghadapi serangan elemen yang tiba-tiba muncul tanpa peringatan.
Menggunakan sihir, ia bisa membelokkan serangan elemen itu dengan cepat dan tepat. Langkahnya seperti bayangan dan melompat begitu sebuah kayu muncul di bawah kakinya.
Dia melompat dengan cepat mengambil kesempatan dari kayu yang menjulang. Ketika melihat api membara dari langit-langit, ia meraih tangga dengan bantuan angin yang menyerangnya.
Di depannya ombak menerjang dalam bentuk sihir yang lebih pekat tanpa membasahi ruangan. Di belakang, terdapat kobaran api yang mengepung dan melingkarinya dengan kejam. Tanah di bawahnya menjerat kedua kaki sedangkan angin di atas kepala memberinya penekanan sehingga tidak mudah baginya untuk bergerak.
Ketika air menerjang, Xie Ran segera menunduk cepat dan merangkak di lantai. Air membasahi punggungnya dan menyambar api sehingga api itu padam menjadi asap.
Xie Ran mengambil kesempatan, menggunakan sihirnya menghancurkan tanah di kaki kemudian menghalau angin di atasnya sehingga mengenai beberapa barang.
Rak-rak berjatuhan membuat beberapa tanaman indah keluar. Ada beberapa tanaman beracun mulai bereaksi mengeluarkan asap beracun sehingga beberapa tanaman lain mati.
Xie Ran menutup hidung. Ia dengan cepat melesat ke lantai atas menghindari racun yang akan mengkontaminasinya lagi.
Kali ini, perjalanannya tidak sesulit semalam karena sudah tahu teknik pagoda ini. Tiap kali ia masuk, selalu ada serangan tiba-tiba yang menargetnya. Serangan itu berasal dari barang-barang yang sengaja tanpa pelindung sehingga semakin tinggi lantainya, semakin tinggi kualitas barang dan semakin tinggi juga bahaya yang diberikan.
Batu sihir berfungsi menekan kekuatan barang. Itu sebabnya barang-barang itu hanya akan menyerang seseorang tanpa batu sihir seperti Xie Ran saat ini. Itu juga keunggulan pagoda itu sendiri dan menjadi tempat terlarang.
Dua lantai berikutnya berjalan dengan baik. Di lantai kelima terdapat serangan pedang terbang yang begitu ahli sehingga Xie Ran harus menggunakan dua belatinya. Dia tidak bisa menaklukan pendang, hanya bisa menghindar dan membuat pedang itu lumpuh beberapa saat sampai dia pergi ke lantai enam.
Saat di lantai enam dan tujuh, dia menemukan bahwa para roh senjata melawannya. Senjata itu memiliki roh masing-masing dan di dua lantai itu dia tertantang melawan roh senjata yang tidak menerima keberadaannya.
Ada banyak roh senjata dan rata-rata senjata tingkat tinggi. Xie Ran tidak ingin berurusan dengan roh senjata setelah lama menghalau pedang terbang.
Hari sudah ingin malam ketika dia sampai di lantai tujuh. Sepanjang hari itu, dia gunakan untuk melawan rintangan tanpa henti. Dia sudah lelah, tapi semangatnya tidak. Untungnya ia menyimpan kekuatan sihir sejak awal dan hanya menggunakannya jika mendesak.
Sebelumnya adalah roh cambuk dalam bentuk wanita yang tampak rapuh tapi luar biasa kuat dan bawel. Lawannya kali ini adalah roh tombak yang begitu kuat.
Tiap kali tombak dilancarkan, sihir akan keluar dan membuat Xie Ran terpojok. Namun, pengalaman bertarung Xie Ran dilatih sejak kecil dan dia bisa menangkis tiap serangan.
Dia mengeluarkan pisau lemparnya dan membuat roh tombak terpojok. Pisau lempar itu nyaris mengenai roh tombak dan menancap di dinding dengan keras.
Beberapa pisau lempar menancap lagi menghalau perhatian sedangkan Xie Ran segera mengirim roh tombak ke dinding menggunakan kekuatan mental dan menancapkan lagi pisau lempar di tiap sudut celah tubuhnya. Sosoknya yang transparan bergetar melawan jiwa yang terpisah itu.
Meski roh senjata sombong, mereka tetap takut pada kekuatan absolut. Mereka akan menyerah pada seseorang yang mengalahkannya sama seperti hewan dan akan tunduk pada orang itu. Sayangnya, Xie Ran tidak tertarik pada tombak lemah.
Mendengar itu, roh Tombang merasa harga dirinya jatuh! Tapi dia tidak bisa melawan, hanya bisa melontarkan kata-kata kejam bahwa Xie Ran akan menyesal.
"Dasar manusia serakah! Lihat saja, kau akan mati ketika sampai lantai delapan sebelum sampai lantai sembilan!" Pria roh tombak itu mengutuk.
Xie Ran memutar bola mata terang-terangan dan melangkah ke tangga setelah istirahat sejenak sambil mendengar ocehan roh tombak.
"Sampai tidak bertemu lagi!" Xie Ran melambaikan tangan dan pergi dengan tenang seolah tidak memiliki beban.
Sampai di lantai depan, Xie Ran tertegun sejenak. Seluruh ruangan hanya ada kegelapan. Dalam seketika, tempat yang dia injak seolah tertelan dalam bayangan gelap tanpa cahaya. Seluruh pagoda seolah menjadi kegelapan tak berujung dan hanya dia yang terlihat.
Xie Ran bingung. Kenapa ruangan menjadi gelap? Apa ini rintangan? Serangan sembunyi-sembunyi? Jika ini adalah hari lain, dia akan dengan mudah mengatakan bahwa itu adalah keahliannya dalam serangan di tengah kegelapan.
Tapi ini adalah lantai delapan pagoda teratai. Sebelumnya saja membuatnya kehabisan tenaga demi pria roh tombak sialan. Kali ini harus lebih kuat daripada pria roh tombak. Untung saja ia sudah memulihkan diri.
Ruangan ini terlalu gelap. Saking gelapnya seolah tidak berujung meski ia yakin terdapat beberapa barang di sekitar. Sangat aneh jika dia tidak menabrak benda.
Ketika menyadari sesuatu yang salah, pandangannya menangkap sosok pria tampan berdiri tidak jauh darinya. Pakaian putih dan rambut hitam mendukung wajah dinginnya yang tampan dan tidak asing. Itu membuat Xie Ran merasa senang ketika menyadari bahwa sosok itu adalah orang yang dia cari.
"Guru besar, ternyata itu kamu. Apa kamu di sini membantuku mencari jalan?" Xie Ran tersenyum dan melepas rasa waspadanya. Dia menghampiri pria itu, percaya tidak ada yang bisa menyakitinya selama pria itu ada.
Namun, hal itu benar-benar diluar dugaan. Tiba-tiba sebuah kekuatan panas dan korosif meluncur ke arahnya. Dengan cepat Xie Ran menyingkir ke samping melihat sihir emas yang menyerangnya hilang ke belakangnya.
Xie Ran tertegun. Siapa yang menyerangnya? Tidak mungkin ....
Wajah dingin pria itu membuat Xie Ran tidak nyaman ketika melihatnya sekali lagi. Meski sudah terbiasa dengan wajah dinginnya, Xie Ran merasa dingin kali ini sangat berbeda. Seolah telah membuat Xie Ran menjadi orang asing yang paling bersalah di dunia.
"Apa aku melakukan kesalahan?" Xie Ran bingung. Apa benar pria itu yang menyerangnya?
Xie Ran memikirkan apa kesalahannya. Apa pria itu dengan tidak rasional menyalahkannya karena membiarkan liontin itu jatuh ke tangan Tang Zhi dan ditinggalkan disini? Tapi Xie Ran sudah bersusah payah dan terluka untuk datang menyelamatkannya. Apa lagi kesalahannya?
Mendadak, hati Xie Ran semakin tidak nyaman dan firasat buruk menghantuinya. Apa itu benar pria yang selama ini melatihnya?
"Kenapa?" Xie Ran tidak percaya apa yang dilihat.
"Kau bukan dia. Siapa kau?" Mendadak wajah Xie Ran menjadi dingin. Dia marah karena seseorang menyamar menjadi pria yang sedang ia cari dan membingungkannya. Guru Besar tertentu tidak menyalahkan tiap langkahnya dan berpikir secara rasional bahwa dia punya rencana. Jika memang pria itu marah, pria itu tidak akan membunuhnya.
Pria itu tetap dingin seperti musim dingin yang tidak pernah larut, tidak peduli dengan ucapan Xie Ran. "Bagaimana kau bisa yakin bahwa yang kau lihat selama ini adalah kebenaran?"
Xie Ran semakin mengerutkan kening. Jadi maksud pria dingin itu adalah pria yang selama ini bersamanya memiliki niat lain?
Xie Ran tahu bahwa dia diperalat untuk mengeluarkannya dari liontin, dia tidak masalah dengan itu apalagi imbalannya setimpal.
Seburuk-buruknya pria itu di mata Xie Ran, dia percaya tidak akan melanggar kesepakatan apalagi menyakitinya. Jika pria itu ingin membunuhnya, sudah dilakukan sejak awal dan tidak perlu mendetoksifikasi racunnya sebelum membuat kesepakatan.
"Lalu, menurutmu bagaimana? Ada banyak sihir di dunia ini. Kau mungkin hanyalah bayangan yang menirunya. Jika kau mengaku sebagai dia yang asli dan ingin membunuhku, aku hanya bisa meladeni."
Walau sebenarnya Xie Ran tidak yakin dapat mengalahkannya tapi dia harus mencoba. Dia yakin itu bukan pria yang selama ini bersamanya selama setahun terakhir, jadi dia tidak perlu takut menyakitinya atau takut pada kekuatan berbahayanya. Peniru itu harus lebih lemah dari gurunya.
"Seharusnya aku membiarkanmu terkontaminasi racun saat itu."
Mendengar kata-katanya membuat Xie Ran semakin tidak nyaman. Mendadak, amarah muncul dalam hatinya.
Tidak ada yang tahu siapa yang menetralisir racun selain Xie Ran dan pria itu sendiri. Itu membuat pikiran Xie Ran kacau. Dia tidak ingin percaya pada pria di depannya, tapi sisi lain memaksanya percaya dan kehilangan rasionalitas.
Jika berpikir seperti itu, kenapa menyembuhkannya waktu itu? Kenapa tidak membiarkannya membusuk saja!
Xie Ran paling benci ketika seseorang mengungkit sesuatu yang membuatnya terikat sebuah hutang. Bukankah dia barusan mengatakan bahwa Xie Ran tak tahu hutang budi? Xie Ran tidak seperti itu!
"Baik," sahut Xie Ran menekan emosi menatapnya. "Asli atau palsu aku tidak peduli. Aku hanya ingin membunuhmu."
Mata Xie Ran menjadi merah dalam seketika. Dia melesat cepat bersama dua belati di tangannya membelah kegelapan.
Sihir telah diaktifkan dalam puncaknya, dia melesat sehingga sosoknya hanya berupa sinar merah melakukan titik serangan satu arah pada leher lawan dan berbalik menyerang lagi dari arah lain ketika serangan tidak memenuhi target.
Pria itu sedikit menghindar tanpa banyak pergerakan. Meskipun cepat, itu mudah ditebak. Hanya dengan satu gerakan, dia membuat Xie Ran terpukul dan mundur beberapa meter jauhnya.
Xie Ran memegangi dadanya yang sakit. Pukulan itu terlalu dalam dan kuat. Dia bahkan nyaris tidak bisa mempertahankan kondisinya. Jika bukan karena pelatihan ekstrem, dia sudah mati dalam satu serangan.
Sihir terkonsentrasi pada tangannya. Dia melesat cepat seolah menghilang dalam kegelapan. Tubuhnya berkelip di setiap arah dengan sihir di tubuhnya.
Kecepatan itu sudah cukup mengelabui semua orang termasuk Tang Zhi yang terkuat di Klan Xie, namun tidak dengan pria itu yang memiliki banyak misteri di tiap kekuatannya.
Xie Ran tidak tahu seberapa kuat dia. Dia hanya bisa berhati-hati melihat gunung es tak tersentuh itu bertahan di tengah ruangan seolah tidak ada apapun yang bisa menyentuhnya bahkan nyamuk sekalipun.
Kegelapan adalah domain Xie Ran. Dia selalu melakukan sesuatu dalam kegelapan sehingga pergerakannya tidak diketahui siapapun termasuk suara langkah kakinya.
Tapi siapa sangka ketika melakukan serangan menyelinap dari belakang dan akan menggunakan hipnotisnya, dia ditemukan dengan cepat. Sihirnya tidak berfungsi dan lengannya tertarik keras ke depan.
Xie Ran merasakan tubuhnya kaku dalam hitungan detik dan terhempas jauh ke belakang dan berguling di lantai.
Bagaimana bisa dia begitu lemah!
Seumur hidup dia tidak pernah seperti ini, bahkan dalam pelatihannya. Dia tidak pernah merasa tidak berdaya dan dengan sukarela terlempar tanpa sempat melakukan serangan lainnya. Hanya dia yang menjadi pelaku melempar sekelompok manusia. Bukan orang lain!
Seberapa kuat pria itu? Xie Ran tidak pernah tahu.
"Aku memberimu kesempatan terakhir. Jika kau bisa menghancurkan pertahananku selama 15 menit, aku membiarkanmu pergi. Jika tidak ...."
"Tidak perlu dikatakan juga aku sudah tahu." Xie Ran menggerakkan gigi kembali menyerang.
Dia tidak akan melakukan serangan menyelinap. Karena pria itu menggunakan pelindung transparan di sekitarnya, dia hanya bisa menggunakan teknik serangan brutal dan terorganisir agar dapat mematahkan pertahanan.
Jika serangannya berhasil, dia bisa melakukan serangan lanjutan yang lebih eksplosif untuk membunuh pria itu. Pikiran Xie Ran penuh dengan membunuh. Dia melupakan niat aslinya dan tertutupi sisi kejamnya dan menyerang berturut-turut.
Sihir terus menghantam dari segala arah menabrak pelindung transparan. Tubuh Xie Ran menghilang dalam kegelapan dan muncul tiap kali melakukan serangan dari berbagai sisi.
Dia meletakkan berbagai tanda di setiap pelindung dengan cepat sehingga terlihat seperti penyerangan brutal. Namun dia sedang mempersiapkan ledakan yang lebih besar.
Tanda itu adalah tanda manipulasi. Dia bisa membuat pertahanan pelindung melemah dengan memanipulasinya sementara kemudian mengacaukan sihir di dalam pelindung. Tiap sihir memiliki alirannya sendiri, Xie Ran dapat melihat alirannya berkat sihir pesona kemudian mengacaukannya tepat ketika melakukan gerakan serangan brutal.
Dia mengeluarkan beberapa pisau lempar dan melakukan sentuhan terakhir. Pisau lempar itu menancap di sekitar pelindung dan hancur berkeping-keping menjadi serpihan karena pelindung. Serpihan itu menyebar dengan kekuatan kendali Xie Ran dan menusuk pelindung tepat di mana aliran sihir dikacaukan.
Xie Ran menyerang kembali. Serangannya membentur pelindung dengan keras menyebabkan ledakan besar sehingga suara pecahan terdengar keras.
Xie Ran kembali ke tempat semula melihat kabut sihirnya menutupi pria itu disertai serpihan-serpihan sihir. Semakin lama kabut semakin menipis. Warna kabut yang awalnya merah darah berubah menjadi emas dalam sekejap setelah kabut menipis.
Xie Ran tidak pernah menyangkanya. Melihat pelindung yang utuh membuat kejutan mentalnya yang benar-benar membuatnya tidak bisa berkata-kata. Dia tahu pria itu seharusnya bukan manusia. Tapi dia tidak berpikir pelindung miliknya akan lebih kuat dari yang dia pikirkan. Bahkan sihir pesona tingkat surgawi tidak bisa menahan!
Jika itu Tang Zhi, wanita itu tidak akan bisa menahan sihir ledakan seperti itu. Xie Ran sudah memikirkannya dengan baik. Keberadaannya bisa mengalahkan satu benua. Xie Ran merasakan tubuhnya lemas seketika.
Xie Ran pikir itu seharusnya adalah pelindung terendah yang pria itu miliki. Bagaimana bisa sekuat itu? Lagi-lagi dia merasa terlalu lemah!
"Dua menit tersisa." Pria itu berkata dengan dingin.
Sepuluh menit terakhir digunakan untuk mengumpulkan ledakan kemudian tiga menit untuk proses. Tapi itu semua tidak berguna. Xie Ran tidak memiliki kesempatan apapun. Jika ingin lari, itu juga tidak sempat.
"Tidak ada pilihan lain," gumamnya.
Belati Xie Ran mengeluarkan sihir yang berasal dari tubuhnya. Ia melangkah ke hadapan pria itu yang sayangnya masih tidak tahu namanya, itu adalah penyesalan.
"Kenapa tidak langsung membunuhku?" tanya Xie Ran penuh penekanan. Dia masih menekankan pada diri sendiri bahwa semua ini hanyalah ilusi. "Aku tidak membutuhkan belas kasihan, aku juga tidak akan pergi. Percuma saja jika aku berhasil menghancurkan pelindungmu. Aku tetap akan melaluimu dan pergi pada tujuanku. Jika bukan demimu, itu demi janjiku pada Ibu."
Xie Ran tidak melupakannya. Sampai dia berhasil balas dendam, dia akan menyimpan liontin itu demi ibunya. Dia tidak akan menghianati kepercayaan ibunya. Jika dia tidak bisa mencapai itu semua, lebih baik dia mati.
"Kita bertarung dengan adil ... hidup dan mati."
Xie Ran sudah mencapai keputus asaan. Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Bahkan terakhir kali dia hidup, tidak memiliki rasa putus asa seperti ini. Dia bunuh diri atas kemauannya sendiri karena lelah dengan hidup. Sekarang dia mati sepadan dengan penebusan kesalahan. Xie Ran tidak ingin hidup dalam rasa bersalah.
Setelah mempertimbangkan keputusan Xie Ran, pria itu menghilangkan pelindung yang mengelilingi tubuhnya. "Baik."
Xie Ran menggenggam dua belati dengan erat sampai tangannya bergetar. Pikirannya kacau dan gelisah. Awalnya dia sangat ingin membunuh pria di depannya, tidak tahu kenapa dia bergetar setelah memutuskan untuk bertarung sungguh-sungguh.
Bukan karena tahu dirinya akan mati atau takut akan kekuatan pria di depannya. Selama setahun wajah yang sama melatihnya secara pribadi menjadi kuat. Sebuah lelucon besar jika kekuatan yang dilatih digunakan untuk membunuh seseorang yang melatihnya. Xie Ran merasakan keengganan. Meski dia berlumuran darah sejak kecil, hatinya tetap rapuh dan selalu memperlakukan seseorang dengan tulus.
Meskipun prinsipnya adalah membunuh untuk hidup, meskipun seumur hidup dia membunuh orang-orang disekitarnya yang berlatih bersama, dia tidak pernah berpikir membunuh guru yang melatihnya meskipun tahu dia hanya diperalat.
Sejak kecil, Xie Ran diyakinkan hidup sebagai alat dan dia tidak masalah akan itu.
Dalam kondisi seperti ini, Xie Ran tidak tahu mana yang harus dia pilih. Tanggung jawab atau prinsip. Dia membenci dunia ini!