
Xie Ruo, berdiri tanpa bergerak memandang wanita asing di depannya. Wanita itu melindungi raja dan para tetua dari ledakan dengan barrier, sehingga mereka hanya mengalami cedera yang tidak berbahaya. Sedangkan wanita itu tampak baik-baik saja, sama seperti Xie Ruo.
Gaun biru langit yang menjuntai ke bawah masih begitu bersih. Ia tampak tidak lebih tua dari Xie Ruo, dengan tatapan tegas dan menyala. Melihat Xie Ruo, ia menyipitkan mata.
"Kamu sedikit mirip dengan saudaramu," katanya.
Xie Ruo mengerutkan kening. Dilihat dari kekuatannya, seharusnya dia adalah Dewi Ling yang disebut pemimpin Istana Lingyue yang sebenarnya. Ia tidak pernah bertemu dengan wanita itu, bagaimana bisa tahu mengenai 'saudaranya'?
Wanita itu menarik barrier yang melindungi para bawahannya yang bodoh itu. Kemudian memgusir mereka pergi menggunakan aura yang ia keluarkan. Auranya tidak kalah kuat dengan aura Xie Ruo.
Xie Ruo sedikit menarik sudut bibir, sepertinya ia akan menemukan lawan yang sepadan. Sudah lama ia menantikannya.
"Aku pemimpin Istana Lingyue, Ling Yi."
Xie Ruo memiringkan kepala. "Kupikir kau akan memproklamirkan diri sebagai dewi dengan memperkenalkan diri sendiri sebagai Dewi Ling."
"Itu hanya sebutan orang idiot. Bagaimanapun, aku tidak sebanding dengan dewi sesungguhnya." Tidak ada ekspresi apa pun di wajahnya, tampak datar dan dingin dengan pandangan yang dalam.
"Aku tidak berpikir kamu sedang merendah." Xie Ruo mencibir sambil melipat kedua tangannya.
"Memang tidak, karena harapanku ada di depan mata. Xie Ruo, energi murnimu bukan milikmu, kenapa aku tidak bisa mengambilnya juga?"
"Kau tahu itu?" Xie Ruo merasa Ling Yi ini tidak biasa. Bagaimana bisa tahu rahasianya?
"Karena energi murni milikku, juga bukan berasal dari diriku sendiri. Meski begitu, kita berbeda. Pelatihan energi murnimu tidak sempurna, sedangkan aku berbeda."
"Kau berniat mengujinya? Meski aku bukan pemilik energi murni yang asli, dan pelatihanku tidak sempurna, apa yang bisa kau lakukan? Pada akhirnya, aku tetap bukan sesuatu yang bisa kau pikirkan."
"Aku tahu. Keturunan dewa naga yang terakhir, pewaris keilahian dewa naga, dan jiwa yang dipindahkan dua kali dari dunia lain. Apa itu cukup?"
Raut tenang Xie Ruo berubah menjadi serius. Bagaimana wanita itu bisa mengetahui begitu banyak? Ia yakin, tidak ada yang bisa memberitahu. Bahkan temannya tidak tahu sebanyak itu. Siapa yang memberitahunya?
Ling Yi melanjutkan, "Xie Ruo, tidak perlu terkejut. Hanya saja, seseorang yang seharusnya tidak kau singgung, memberitahuku semua tentangmu, termasuk keberadaanmu. Jika tidak, aku tidak mungkin tahu bahwa 'Xie Ran' yang waktu itu ternyata adalah kau."
"Siapa dia?" Xie Ruo penasaran. Ia tidak menyinggung seseorang yang tahu semua rahasianya. Apa Bai Long? Tapi Bai Long sudah mati. Siapa lagi yang mengetahui semua itu?
"Sayangnya, orang ini tidak ingin disebutkan namanya. Yang perlu kau tahu, dia tidak akan melepaskanmu, tidak perduli siapa yang melindungimu meski itu dewa sekalipun. Pada akhirnya, kau akan jatuh ke dalam penyesalan."
Mungkin jika itu dulu, Xie Ruo akan menganggap ucapan itu hanya lelucon belaka. Tapi sekarang, ia benar-benar bersikap begitu serius. Perkataan itu bukan sekadar peringatan, melainkan ancaman. Seseorang yang menaruh dendam tanpa sebab padanya, apalagi seseorang itu masih menjadi rahasia dan tidak diketahui, itu jauh lebih mengerikan.
"Apa kau memerintahkan anjing-anjingmu membawaku kemari hanya untuk ini?" Xie Ruo tidak ingin terlalu lama lagi. Ia harus mencaritahu siapa orang di balik semua ini. Bahkan sampai Ling Yi menyembunyikannya, orang itu seharusnya bukan orang biasa.
"Seperti yang aku katakan, energi murni yang kumiliki bukan benar-benar milikku. Kita sama, mencurinya dari orang lain yang artinya energi murni kita dapat berpindah dari tubuh satu ke tubuh lain. Maka dari itu, aku memberimu pilihan, menyerahkan energi murnimu padaku dan melanjutkan hidup, atau mati karena terserap secara paksa."
Memindahkan energi murni dari tubuh satu ke tubuh lain, sama seperti memindahkan kekuatan seseorang ke tubuh orang lain. Konsep itu sama seperti penyerapan roh yang dimiliki Xiao Haozu waktu bertarung dengan Hydra. Seseorang yang diserap akan menjadi tidak berguna, dan mengulang kultivasi, atau lebih buruk mengalami kematian.
Hanya saja, kasus Xie Ruo dan Xie Ran berbeda. Energi murni telah sepenuhnya menyatu dengan aura naga milik Xie Ruo, sehingga ketika jiwanya berpindah tubuh, energi murni Xie Ran terbawa bersama jiwa Xie Ruo.
Tapi, kultivasi yang Xie Ruo latih selama menjadi Xie Ran dan tubuh murninya masih melekat di tubuh Xie Ran. Itu sebabnya Xie Ruo harus berkultivasi dari awal. Tidak bisa sepenuhnya disebut mencuri, karena hal itu tidak bisa diubah lagi.
Karena kekuatan Ling Yi cukup kuat, ditambah entah berapa banyak kekuatan yang ia serap, Xie Ruo harus hati-hati dan membunuhnya dengan cepat. Orang seperti ini tidak boleh dibiarkan hidup lebih lama.
"Xie Ruo, tentukan pilihanmu." Ling Yi masih tenang seperti sebelumnya.
Xie Ruo menatap Ling Yi dengan tajam. "Kalau kau menginginkannya, tunjukkan apa kamu layak memilikinya." Xie Ruo mengeluarkan pedang roh unsur yang beresonansi dengan api dingin di tangannya, tanda ia siap bertarung.
"Sangat bersemangat." Ling Yi tersenyum miring. Tangannya mengeluarkan tongkat panjang dengan ujung kristal yang memancarkan sinar cerah.
Tongkat Ling Yi dihentakkan ke tanah, mendorong sihir dalam tongkat untuk naik dan membentuk serpihan kristal di udara. Kristal itu memiliki jumlah yang tidak sedikit, mereka seperti duri tajam dan mengkilap yang siap menembus tubuh siapa pun.
Sihir utama Ling Yi adalah kristal abadi. Kristal yang tidak dapat dihancurkan dan sangat keras. Sihir kristal sangat langka, nyaris tidak bisa ditemukan juga memiliki tingkat kekuatan yang menetang alam. Itu bisa membentuk apa pun sesuai kehendak pemilik, baik senjata sampai makhluk hidup.
Ribuan kristal kecil bertebaran di udara seperti angin, membentuk tembakan ke arah Xie Ruo. Tiap tembakan yang bersentuhan dengan benda maupun tanah, menciptakan bagian kristal lain yang lebih besar dan runcing, melekat di objek seperti parasit.
Ling Yi hanya diam di tempat mengendalikan kristal miliknya yang sudah membuat lingkungan menjadi bongkahan kristal. Bahkan ada beberapa murid istana yang terkena serangan, menjadi bongkahan kristal dan mati.
Mengabaikan murid istana lingyue yang bertebaran di mana-mana dan berteriak, Xie Ruo sibuk menangkis tiap kristal yang berterbangan di mana-mana. Tembakan kristal memiliki hitungan tersendiri untuk mempersiapkan peluncuran, bersamaan dengan semua kristal yang jatuh dan menjadi bongkahan mengerikan.
Xie Ruo menghindari dengan tepat berdasarkan jeda tembakan kristal dan berteleportasi ke arah Ling Yi. Ketika ia sampai di belakang Ling Yi, wanita itu langsung menyadari dan mengarahkan tongkatnya.
Pedang dan tongkat saling tertahan. Tongkat Ling Yi mengeluarkan kristal berbentuk tombak dan menyerang Xie Ruo. Api dingin langsung melahapnya, lalu tersebar di seluruh bagian pedang hingga tongkat kristal Ling Yi memanas.
Tangan Ling Yi memerah karena api dingin yang merambat dan membuat tongkatnya mendidih. Ia langsung mundur, kemudian menciptakan lapisan kristal untuk menahan serangan bola api yang menghujaninya.
Bola api putih sebesar kepala meluncur seperti ribuan meteor. Mereka membentur tembakan kristal dan menggantikan tanah yang penuh kristal menjadi kobaran api dingin yang membeku.
Api dingin tidak hanya api terpanas. Sesuai namanya, ia bisa menjadi sangat dingin dan membeku seperti es. Pada saat yang sama, sensasi panas dan dingin akan muncul yang dapat membuat siapa pun menderita lebih baik mati daripada hidup.
Ling Yi merasa sangat kesal serangannya terus digagalkan. Meski kristal abadi tidak dapat dihancurkan karena mereka adalah bagian dari serangan ilusi yang nyata. Tapi api dingin Xie Ruo lebih ganas dan mengantikan reaksi kristal abadi dengan api dingin begitu saja.
Untuk menghindari serangan api Xie Ruo, punggung Ling Yi mengeluarkan sayap kristal yang membawanya terbang tinggi. Tiap kepakan sayap, kristal-kristal tajam meluncur terbawa oleh angin kencang ke arah Xie Ruo di tanah.
Kristal runcing dalam ukuran yang membesar menghujam, menancap ke tanah dan menghancurkan api dingin yang membeku tanpa sisa.
Ling Yi berada di posisi menguntungkan karena ada di langit, sedangkan Xie Ruo tidak bisa terbang kecuali jika ia menjadi naga. Tapi Xie Ruo tidak kehabisan akal. Ia melompat ke tiap pilar yang tersisa sebagai tumpuan untuk meraih langit, kemudian berteleportasi sambil menumpukam kakinya dengan udara melawan gravitasi.
Di belakang Xie Ruo, kristal besar mengejar sehingga Xie Ruo harus mempercepat langkahnya dan berteleportasi secara maksimal di udara. Tiba-tiba beberapa kristal juga menyerangnya dari depan dengan kecepatan luar biasa hingga Xie Ruo harus berteleportasi ke arah lain.
Ling Yi bermaksud menjebak Xie Ruo dari berbagai sisi sampai tidak bisa menghindar dan mati. Dihujami oleh ribuan kristal abadi, siapa pun tidak memiliki kesempatan hidup ataupun bicara untuk mengungkapkan permintaan terakhir.
Kristal meluncur dari berbagai sisi, baik depan maupun belakang, kanan dan kiri, atas juga bawah tanpa memberi celah. Menggunakan teknik jebakan seperti ini adalah rencana Ling Yi setelah mengeluarkan sayap kristal untuk memancing Xie Ruo ke langit. Tepat ketika Xie Ruo berteleportasi ke satu titik, ia tidak akan bisa lari ke manapun lagi.
Dan benar saja, ketika Xie Ruo baru saja muncul ribuan kristal mengepungnya dari berbagai sisi tanpa memberi celah. Kristal meluncur dengan kecepatan tinggi, sedangkan Xie Ruo tidak memiliki pilihan lain selain terus maju dan melawan gravitasi ke arah ribuan kristal.
Xie Ruo tidak berhenti meski tahu ia akan tercabik jika terus maju. Tatapannya dingin, dengan cahaya perak yang menjadi jejak lintasannya. Detik berikutnya, ribuan kristal saling berbenturan menciptakan ledakan dahsyat disertai kabut yang berupa efek dari ledakan tabrakan kristal.
Xie Ruo tidak terlihat. Ling Yi memperlebar senyumnya dengan tatapan puas.