
Rasa putus asa tidak hilang untuk beberapa waktu. Xie Ruo masih dalam posisinya cukup lama, namun kali ini ia tidak lagi menangis. Seolah air matanya telah kering, ia hanya diam tanpa bergerak.
Angin berhembus menerpa wajah cantiknya yang sembab. Rambut peraknya yang terurai berterbangan bersama hembusan pasir tanah. Wanita itu masih diam layaknya patung tanpa terpengaruh hembusan angin.
Tidak tahu berapa lama waktu berlalu di malam yang sunyi ini. Tanpa diketahui, kabut hitam yang merupakan sisa jasad Dewa Iblis kini menggulung seperti tertarik oleh sesuatu. Kabut itu bergerak di tanah, menyebar ke tiap arah sebelum akhirnya kabut hitam mulai menunjukkan wujud altar yang sebenarnya.
Semua ini masih belum berakhir.
Xie Ruo tersadar. Ia mengedarkan pandangan, menyadari bahwa altar pengorbanan kembali aktif dan kini menyerap kekuatan Dewa Iblis. Satu hal yang terlintas di pikirannya, Shu Xin telah bergerak secara terang-terangan untuk mengembalikan kekuatan yang hilang. Wanita itu memanfaatkan kematian Dewa Iblis untuk dirinya sendiri.
"Xie Ruo, aku menunggumu di Menara Kekaisaran."
Suara itu menggema di tiap kepulan kabut yang bergerak. Hingga akhirnya kabut sepenuhnya terserap, cahaya emas samar merambat di tiap altar dan menarik Xie Ruo seolah sedang menyerap jiwanya.
Xie Ruo tersentak, tidak memiliki kesempatan bereaksi lebih cepat. Cahaya emas yang telah menggelap itu melingkupi seluruh tubuhnya dan menarik jiwanya untuk keluar. Rasanya seperti dicabik-cabik!
Selain Dewa Iblis, Shu Xin berniat menelan Xie Ruo juga untuk kesempurnaan kekuatannya. Xie Ruo tidak bisa bergerak selama altar hidup. Tubuhnya meringkuk di tanah, merasakan sakit luar biasa dalam diam. Ia menggertakkan giginya menahan kekuatan jiwanya yang mengikis.
Kekuatan Xie Ruo terlalu banyak terbuang karena melawan Dewa Iblis. Ia hanya bisa sedikit menggerakkan jarinya, tapi tidak bisa membuat pergerakan besar. Ia merasa pandangannya sangat gelap, seolah bulan di langit tidak lagi memancarkan sinarnya.
Apa aku akan mati di sini?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Cahaya emas yang redup itu menyerap kegelapan dalam pusat altar ke tubuh sosok wanita cantik yang berdiri, menikmati perasaan ketika seluruh energi memenuhi tubuhnya dan mengisi kekosongan.
Ia tidak peduli apa Dewa Iblis mati atau tidak, karena kedua pilihan itu sama sekali tidak merugikannya. Ia adalah Dewi Alam, tidak akan tunduk atau patuh pada siapa pun dan akan selalu menjadi Dewi terkuat di Dunia Atas!
Shu Xin tertawa bahagia. Pada akhirnya, ia bisa mendapatkan apa yang seharusnya ia dapatkan. Energi murni menjadi miliknya sehingga kekuatan yang diserap tidak akan mempengaruhi kondisi tubuhnya ke efek negatif karena konstitusi tubuhnya yang berupa cahaya. Selain itu, kekuatannya saat ini lebih kuat darinya yang dulu berkat kegelapan.
Sosok yang sebelumnya dipenuhi cahaya dan diagungkan, kini berubah menjadi kegelapan yang pekat. Shu Xin tertawa seperti telah sakit jiwa. Ia terlalu bahagia memikirkan bahwa ia akan kembali ke Dunia Dewa dan mendapatkan apa yang seharusnya ia dapatkan sejak lama.
"Kalian lihat? Akulah pemenangnya. Kalian semua yang meremehkanku dan merendahkanku, lihatlah dengan baik. Lihat, bagaimana aku akan menghancurkan kalian!" seru Shu Xin.
Menara kini dipenuhi kegelapan. Kekuatan itu terus terserap, sampai akhirnya kegelapan berhasil menyatu sempurna di tubuh Shu Xin. Wanita yang dulunya cerah, kini menjadi penuh kegelapan.
Cahaya emas lainnya muncul dari langit seperti bintang jatuh, membawa kekuatan besar yang mengguncang menara saat itu juga. Begitu cahaya emas mendarat tepat di puncak menara di mana altar pengorbanan berada, cahaya emas yang begitu besar merebak dan menghancurkan seluruh altar pengorbanan dalam hitungan detik.
Shu Xin merunduk, menutupi tubuhnya dari ledakan. Ledakan itu tidak hanya terjadi pada pusat altar, melainkan cabang altar lain di pedan merang. Xie Ruo yang terbaring lemah di antara ledakan hanya bisa diam memandang. Tanpa disadari, cahaya emas tipis melindunginya dari segala ledakan.
Hancurnya altar pengorbanan menyebabkan putusnya aliran kekuatan yang tak habisnya. Kegelapan tidak lagi tersalur ke tubuh Shu Xin, membuat wanita itu sangat terkejut.
"Siapa ... siapa yang mengacaukannya!" Shu Xin menghentakkan tangannya dengan marah. Pandangannya terarah pada cahaya emas yang datang mengganggu, wajahnya berubah menjadi tegang seketika.
Sosok pria dengan iris emas yang tajam dan dingin. Rambut peraknya terbawa angin yang berhembus, bersamaan dengan sihir emas yang berkeliaran di sekitarnya lalu menyusut ke dalam tubuhnya. Ia terlihat berbeda dibandingkan beberapa waktu lalu.
Shu Xin melihatnya dengan penuh kejutan. Ini pasti semua hanya ilusi. Sepertinya Xie Ruo melakukan sesuatu padanya sehingga ia menjadi gila!
"Tidak mungkin ... kau sudah mati ...." Shu Xin mundur dalam keadaan waspada. Ia tidak percaya ini semua nyata. Ia menyaksikan sendiri kematian pria itu melalui kolam cahaya!
"Aku memang sudah mati." Pria itu berkata dengan tenang. Cahaya emas di tangannya tercipta, dilepaskan ke arah Shu Xin hingga membuat wanita itu sangat ketakutan.
Shu Xin cepat-cepat menghindar. Kegelapan si tubuhnya melindunginya dari serangan. Ia mencoba sebisanya menghindari satu serangan yang terus terkunci ke arahnya sedangkan pria itu hanya menyaksikan dalam diam. Sungguh, itu bukan hal yang harus dipertontonkan!
Langkah Shu Xin sangat cepat, namun cahaya itu semakin dekat ke arahnya hingga ia harus mengubah arah. Baru saja ia akan mengarahkan serangan yang terkunci itu ke arah pemiliknya, cahaya emas di tangan pria itu muncul kembali dan menyeranghya dari dekat.
Kali ini rasanya lebih buruk dari tempo hari. Ia merasa seluruh tulangnya hancur berkeping-keping hanya karena satu serangan yang mendarat di bahunya. Sihir yang terkunci itu telah berhenti, namun kondisi Shu Xin tidak bagus.
"Asura, kau sudah mati! Apa kau masih harus meneror seperti ini! Kau tidak bisa membunuhku!" Shu Xin meraung seperti orang gila.
Tidak bisa, ia harus pergi dari sini sebelum tertangkap. Ia merasa bahwa, kekuatan Qu Xuanzi sekarang jauh lebih kuat dari sebelumnya. Tidak mungkin orang mati memiliki kekuatan seperti ini!
"Kenapa tidak temui Xie Ruo? Apa kau takut?" Shu Xin terkekeh sambil memundurkan langkahnya. "Asura, aku adalah Dewi Alam, kau tidak boleh membunuhku, atau Kaisar Dewa di Dunia Dewa tidak akan mengampunimu. Meski kau sudah mati, dia masih bisa membunuhmu sekali lagi!"
"Urus saja dirimu sendiri." Qu Xuanzi mengangkat tangannya yang dialiri cahaya emas. Silau cahaya keluar dari tangannya, menembus tubuh Shu Xin begitu saja.
Shu Xin tidak sempat menghindar karena tiba-tiba seluruh tubuhnya menjadi kaku. Ia merasa napasnya tersengal dan kekurangan udara. Cahaya emas itu mengikisnya secara perlahan, menarik sesuatu dari dalam tubuhnya hingga rasa sakit seperti jiwa yang hancur mendera penuh derita.
Shu Xin tidak ingin percaya semua ini. Ia terkejut mengetahui bahwa pria itu sedang menarik seluruh cahaya dalam jiwanya. Jika itu terjadi, ia akan kehilangan status dewi dan hancur berkeping-keping atau kembali menjadi serpihan cahaya.
Tidak ada yang bisa melakukan itu di dunia ini, apalagi Tiga Dunia. Bahkan di Dunia Dewa, hanya beberapa yang dapat melakukannya dengan syarat kekuatan yang melampaui batas, di antaranya hanyalah Kaisar Dewa dan para Tetua Dewa yang mengasingkan diri.
Qu Xuanzi jelas bukan seorang Tetua Dewa karena umurnya yang masih terbilang muda. Kalau begitu, bukankah hanya tersisa satu?
Tidak mungkin!
Cahaya emas itu mencabut sepenuhnya kekuatan cahaya dalam jiwa Shu Xin. Wanita itu melemaskan kakinya, merasa telah melakukan kesalahan besar dan terlalu terkejut. Tidak mungkin ... tidak mungkin Asura yang telah mati tiba-tiba menjadi Kaisar Dewa. Meski ia adalah Kaisar Langit di Dunia Atas, belum tentu ia adalah penguasa Dunia Dewa!
"Tidak mungkin ...." Shu Xin melihat kedua tangannya. Cahaya dalam jiwanya hilang sehingga ia merasakan kehampaan. Sangat hampa, dan menyakitkan.
Bola cahaya yang merupakan inti kekuatan Shu Xin ada di tangan Qu Xuanzi. Pria itu melihat Shu Xin dengan dingin. Wanita itu nyaris saja membunuh Ruoruo-nya.
"Mulai sekarang, kau bukan lagi Dewi Cahaya. Dalam beberapa waktu kedepan, kau akan terlahap dalam kegelapan. Kau tidak akan seberuntung itu meski memiliki energi murni."
"Yang Mulia ...." Shu Xin merasa sangat menyesal. Jika tahu yang datang bukanlah Asura yang itu, maka ia tidak akan bersikap demikian!
Shu Xin tambah terkejut. "Kau ingin menyerahkan cahaya pada manusia? Berapa banyak kerusakan dan darah yang ditumpahkan manusia? Apa kau tidak memikirkannya!"
"Itu sebabnya, aku sendiri yang akan memilihnya." Qu Xuanzi menyimpan keilahian cahaya. Keilahian cahaya terlalu penting untuk keberlangsungan kehidupan semua makhluk, tidak bisa diserahkan dengan mudah.
Sedangkan Shu Xin adalah contoh Dewi Alam pemilik keilahian cahaya yang gagal. Seharusnya seorang Dewi Alam tidak berkarakter dan ambisius seperti ini. Jika sebuah kertas kosong ditorehkan tinta, bentuknya akan mengikuti ke mana arah tinta berjalan yang membentuk karakter seseorang.
Shu Xin kehilangan harapan ketika cahaya menghilang dari pandangannya. Ia memandang Qu Xuanzi dengan penuh kebencian. Tidak peduli siapa pria itu, ia tidak akan mengampuninya.
Sebuah pemikiran terlintas di benaknya. Tiba-tiba ia tersenyum miring sambil melihat Qu Xuanzi. "Kau tidak akan membunuhku?"
Qu Xuanzi tidak menjawab. Hal itu membuat Shu Xin melebarkan senyumannya, kemudian memaksakan diri untuk berdiri. Ia tidak akan melewatkan kesempatan ini.
"Kau tahu aku terikat dengan Xie Ruo, baru tidak membunuhku." Shu Xin mendekati pria itu dengan senyuman lebar yang sama sekali tidak terlihat bahagia. "Ketika altar menghubungkanku dengan Xie Ruo, kau tahu bahwa kami sudah terikat, 'kan? Jadi kau hanya mengambil kekuatanku. Tapi asal kau tahu, cahaya memang kekuatanku, tapi cahaya yang itu telah berganti menjadi kegelapan. Kau tidak bisa membunuhku karena Xie Ruo juga akan mati. Usahaku tidak sia-sia." Ia tertawa setelah mengatakannya.
Entah apa yang dipikirkan pria itu. Qu Xuanzi hanya melihatnya dengan dingin tanpa menunjukkan emosi. Sebenarnya ia tertekan, bisa saja Shu Xin melakukan hal gila demi membunuh Xie Ruo.
"Asura, apa pun rencanamu, kau tidak bisa membunuhku. Semua orang tidak bisa. Atau Xie Ruo akan mati." Shu Xin tertawa geli seolah membicarakan lelucon. Ia benar-benar sudah gila. Ia melanjutkan, "Hanya Xie Ruo yang bisa membunuhku, kau tidak bisa membantu. Aku tebak, dia akan datang untuk membunuh. Ketika dia menyerang, kegelapan akan melahapnya. Aku akan membunuhnya, dan dia akan mati. Kau akan menyesal. Aku ingin tahu apa yang akan kau lakukan setelah kematiannya. Apa kau akan memilih mati?"
Qu Xuanzi tidak berkata apa pun, sepertinya tenggelam dalam pikirannya sendiri. Shu Xin yang melihat itu merasa sangat puas.
"Sangat disayangkan, sepertinya saudaraku yang manis itu juga berumur pendek. Setelah mengetahui kematianmu, dia juga tidak akan hidup lama, seperti dirinya di dunia lain. Aku sangat mengenalnya dan aku turut berduka untukmu." Shu Xin memasang raut sedih, kemudian tertawa kembali.
Betapa lucu melihat seseorang yang sangat ingin membunuhnya tapi tidak bisa melakukannya. Apa hebatnya Xie Ruo? Shu Xin heran mengapa manusia itu sangat diperhatikan seorang Asura. Membuatnya kesal saja.
"Xie Ruo oh Xie Ruo, benar-benar menyedihkan. Aku tidak sabar melihat bagaimana kematianmu berlangsung. Cepatlah datang, aku akan menyambutmu dengan—"
Jlepp
Shu Xin terdiam untuk beberapa saat, tidak lagi melanjutkan kelimanya. Ia menunduk, sebuah pedang ramping menembus punggungnya ke perut sampai darah mengalir membasahi pakaiannya seperti air mancur. Wajahnya memucat. Ia mendongak melihat Qu Xuanzi yang juga terdiam di tempatnya, pria itu tidak melakukan apa pun sejak tadi.
Pedang ditarik kembali dan terlepas dari tubuh Shu Xin hingga wanita itu mengeluarkan darah dari mulutnya. Shu Xin masih mencoba menjaga keseimbangannya, lalu berbalik untuk melihat orang itu.
Tatapan Shu Xin menjadi penuh kejutan dan kebencian yang mendalam. Ia mencengkram tinjunya dengan erat sambil menahan semua rasa sakit.
"Xie Ruo ..." geramnya. Tepat di depannya, wanita itu menatap dengan iris biru yang penuh kekosongan.
Xie Ruo tidak mengatakan apa pun lagi. Yang ia inginkan hanyalah kematian seseorang. Ia pun mengangkat kembali pedangnya, kemudian menebaskannya untuk memberi sayatan dalam pada leher Shu Xin.
Sayatan itu tercipta disertai noda merah yang terciprat. Pada akhirnya, sia-sia saja kegelapan itu diserap. Shu Xin tidak bisa menyembuhkan diri dan ambruk dengan tatapan penuh kebencian. Ia melihat Xie Ruo dengan amarah yang besar. Ia bersumpah, tidak akan membuat kehidupan Xie Ruo tenang selamanya!
Xie Ruo melepas pedang begitu saja hingga dentingan pedang jatuh menggema. Ia merasa kepalanya sangat sakit sampai pandangannya menjadi buram. Ia melihat Shu Xin yang telah tak bernyawa, kemudian menggigit bibirnya untuk bersikap normal.
"Semua sudah berakhir ... aku baik-baik saja ... aku baik-baik saja ...." Xie Ruo bergumam untuk menenangkan dirinya sendiri. Ia menekan dinding untuk menahan tubuhnya yang lemah. Ia terlalu lelah.
Pandangannya yang buram mendapati sosok tak asing sekilas. Namun ia nyaris mengabaikannya bila tidak merasakan keakraban. Ia memijit kepalanya dan mengusap matanya untuk memperjelas pengelihatan, hingga akhirnya pengelihatannya sedikit pulih.
Xie Ruo tertegun sejenak. Apa ia berhalusinasi? Apa ia terlalu sedih sampai terus berhalusinasi? Sepertinya dunia memori kembali berulah dan mengacaukannya.
Xie Ruo mengalihkan pandangan, ingin mengabaikannya dan menekan rasa sakit di hatinya. Ia memukul kepalanya sendiri dengan frustrasi, sedangkan sosok itu berjalan mendekatinya membuat Xie Ruo semakin gila.
"Kumohon ...." Xie Ruo tidak ingin menangis lagi. Ia terus memukul kepalanya agar normal sambil menunduk. Ia tidak boleh terlalu sedih untuk saat ini. Bisa saja akan ada serangan lain yang tidak diketahui.
Qu Xuanzi tiba di hadapan Xie Ruo, kemudian menahan lengan Xie Ruo yang terus memukul kepalanya sendiri. "Ruoruo."
Xie Ruo ingin lepas dari genggaman Qu Xuanzi. Ia pikir ia sudah terlalu gila dengan halusinasi yang tidak masuk akal. Ia tidak boleh tenggelam terlalu jauh.
Tapi sayangnya, terlalu nyata untuk disebut halusinasi. Genggaman itu melarang Xie Ruo menyakiti dirinya sendiri hingga Xie Ruo jatuh ke pelukannya. Ketika itu terjadi, Xie Ruo tidak bisa menahan tangisannya.
"Katakan aku hanya mimpi." Xie Ruo tidak berani membuat segalanya menjadi nyata. Ia tidak siap kehilangan terlalu banyak. Ia melanjutkan dengan sendu, "Semua baik-baik saja, 'kan? Kau masih hidup. Kakekku masih hidup. Semuanya masih hidup ...."
"Semua baik-baik saja. Sudah berakhir." Qu Xuanzi mempererat pelukannya dan memendamkan wajahnya di bahu Xie Ruo. Ia masih sangat takut kehilangan Xie Ruo.
"Ya, sudah berakhir ...." lirih Xie Ruo. "Jangan tinggalkan aku."
"Tidak akan."
Xie Ruo memeluknya dengan erat, melupakan segala sesuatu yang dialami. Ia harap ia segera bangun dari mimpi buruk dan bertemu kembali dengan semua orang yang ia cintai. Ia tidak ingin kehilangan. Ia terlalu takut.
Di pucak Menara Kekaisaran yang penuh dengan reruntuhan, dua pasangan yang terpisah takdir kini bertemu kembali. Badai yang menerjang telah berakhir. Cahaya kembali bersinar di tempatnya berada.
...----------------...
Akhirnya dikit lagi tamat. Tadinya aku ingin tulis tamat sekarang, tapi kayaknya terlalu nanggung, jadi aku terusin sedikit.
Pasti pada bertanya-tanya 'kan kenapa Qu Xuanzi bisa hidup? Atau itu cuma hantu doang?
Jawabannya ada di next chapter yang akan diupload besok. Kira-kira antara besok atau lusa tamatnya. Selain itu, akan ada extra chapter juga sampai akhir bulan.
Fyi, sebenarnya sad end atau happy end tergantung pandangan kalian. Kalau menurut aku sih happy, tapi nggak tau kalau pandangan kalian akan seperti apa. Untuk lebih jelasnya akan ada di bagian final.
See you next time~