The Emperor God Wife Is Naughty

The Emperor God Wife Is Naughty
190. Kecerobohan Fatal



Dua sosok saling berlawanan, berdentangan senjata dan meledakkan sihir. Angin berhembus kencang, membawa kehancuran dan menyeret tiap sihir ke tingkat tak terkendali.


Puncak gunung curam disertai laut luas tak berujung, kini dipenuhi dengan darah dan abu hitam yang tak terhitung jumlahnya. Ribuan sosok hitam menyapu tempat gila-gilaan, dan hancur dalam berbagai sinar mengubah mereka menjadi abu.


Sinar emas menebas sosok berjubah hitam seperti kilat, menyebarkannya menjadi serpihan bayangan seolah sosok berjubah hitam itu adalah ilusi. Bukannya hancur, sosok hitam itu muncul lagi seperti hantu dan meluncurkan kabut hitam yang begitu pekat.


Qu Xuanzi dengan cepat menahannya. Cahaya emas di tangannya merambat, melahap sosok berjubah hitam itu seperti terjangan badai dan menghancurkannya tanpa sisa.


Bagaimanapun itu hanya kloning. Sudah tiga kali Qu Xuanzi menemukan kloning Dewa Iblis dalam beberapa hari ini. Walau hanya kloning, kekuatannya tidak boleh diremehkan.


Perbatasan tiga alam selalu menjadi tempat berbahaya, apalagi di saat-saat para satan berkeliaran mencari jiwa untuk dilahap. Beberapa saat yang lalu, tiba-tiba saja Qu Xuanzi merasakan kehadiran Xie Ruo.


Satu-satunya tempat yang berbatasan dengan lokasinya saat ini adalah Gunung Wu. Gunung Wu merupakan tempat misterius, dikarenakan merupakan tempat di mana perbatasan tiga alam berada.


Qu Xuanzi merasakan keberadaan Xie Ruo, pasti wanita itu berada di Kota Perbatasan. Entah apa yang dia lakukan.


Naga Azure mendarat dalam wujud manusia, berlutut di belakang Qu Xuanzi.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Qu Xuanzi.


"Yang Mulia, para dewa sudah menyelesaikan penutupan perbatasan dan penyegelan neraka. Ada terlalu banyak monster dan satan, mereka menunggu perintah."


"Bukan yang itu."


Naga Azure baru paham. Terlalu sibuk mengatasi masalah, sampai tidak sadar siapa yang sebenarnya ditanyakan tuannya. Sepertinya tuannya sedang merindukan seseorang.


"Sebelumnya ketika pergi ke Dunia Tengah, saya melihat Nyonya di Kota Perbatasan. Sepertinya, suasana hatinya tidak baik. Apinya membakar sebuah rumah berisikan seorang manusia dan beberapa iblis. Setelah itu, pergi ke arah Ibu Kota. Karena suasana hatinya sedang tidak baik, tidak ada yang berani mendekat."


Sepertinya Xie Ruo menemukan sesuatu. Tiap kali wanita itu bertindak ekstrem, ia selalu menemukan atau mendapatkan sesuatu yang besar.


"Yang Mulia—"


"Sisanya kuserahkan pada Dewa Perang. Aku memiliki urusan lain."


Belum sempat Naga Azure merespon, Qu Xuanzi sudah menghilang dari pandangan. Masalahnya, Dewa Perang adalah nama lain sang Dewa Hukum! Naga Azure tahu maksud tuannya, tapi tidak dengan dewa lain.


Dewa Hukum hilang ingatan, para dewa itu tidak lagi mengandalkannya seperti di masa lalu. Meski begitu, Naga Azure paham menyerahkan tugas ini pada Dewa Hukum akan membuat ingatan dewa kecil itu kembali secara perlahan. Tapi para dewa itu tidak akan mengerti. Mereka akan keberatan, kecuali Dewa Hukum menyelesaikannya sendiri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di menara tertinggi, Xie Ruo menutup kedua telinganya seharian akan ceraman Guru Negara Ming yang membuat telinganya berdengung. Pria tua itu mulai bersikap tegas padanya, mengajarinya untuk menjadi anak baik dan patuh sambil membawa tongkat di tangan yang hanya digunakan sebagai pajangan, berpikir itu akan menakuti Xie Ruo.


Xie Ruo baru saja sembuh setelah rangkaian perawatan Mei Liena yang menyiksa di mana ia harus minum obat pahit seharian penuh, tiba-tiba Guru Negara Ming berkunjung dan menceramahinya untuk menerapkan gaya hidup sehat. Masalahnya, Mei Liena mengatakan pada Guru Negara Ming bahwa ia menderita penyakit demam dan peradangan pencernaan sekaligus!


Xie Ruo mengutuk Mei Liena berkali-kali yang mengatakan kebohongan itu. Setidaknya, wanita itu bisa katakan bahwa ia hanya demam biasa. Guru Negara Ming jadi menyalahkannya karena pilih-pilih makanan.


Sejak mengetahui bahwa Zhong Guofeng adalah Kaisar Iblis, Mei Liena semakin protektif dan tidak mau pergi dari sini. Ia menggunakan alasan kesehatan Xie Ruo untuk tetap tinggal, bahkan melebih-lebihkan penyakitnya. Xie Ruo yakin, wanita itu sedang mengutuknya dengan semua penyakit itu.


"Yang Mulia, apa kau mengerti?"


"Ya." Xie Ruo berbohong, ia sama sekali tidak dengar ataupun paham apa saja yang dikatakan pria tua itu. Guru Negara terdengar seperti sedang berkumur.


Setelah rangkaian ceramah omong kosong itu, Xie Ruo akhirnya bebas dari kelas menyesakkan. Ia duduk santai dan meluruskan kaki sambil meregangkan otot yang kaku karena duduk seharian.


"Yang Mulia." Xu Ziyan datang ke sisinya sebagai pelayan pribadi.


Xie Ruo melihatnya, kemudian ia teringat akan sesuatu. "Ziyan, bukankah dapur istana sangat lengkap? Apa kamu ingin mengambilkanku cokelat?"


"Cokelat? Apa itu, Yang Mulia?"


"Tidak tahu?" Xie Ruo memandangnya dengan bingung. Apa dunia ini tidak mengerti cokelat? Atau ada sebutan lain? "Makanan dari biji kakao, apa tidak ada?"


"Sepertinya ada. Tapi hanya pada musim tertentu dan hanya tempat tertentu yang menyediakannya."


"Di mana itu?"


"Ada di wilayah selatan, sangat jauh dari kekaisaran."


Xie Ruo cemberut. Dunia ini sangat luas, bagaimana ia bisa mencarinya hanya untuk satu barang? Pantas saja selama 18 tahun berada di dunia ini, ia tidak pernah melihat cokelat lagi. Hanya saja, tiba-tiba ia menginginkannya.


"Kalau begitu, buatkan saja aku sesuatu yang manis." Xie Ruo memasang wajah yang ditekuk.


Xu Ziyan diam untuk beberapa saat, kemudian pergi melaksanakan perintah. Ia pergi ke dapur, mengambil kue kering yang biasa dimakan Xie Ruo disertai teh yang dicampur dengan susu.


Tapi ketika ia tengah menuangkan teh ke dalam cangkir, tiba-tiba ia terpikirkan satu hal. Sebelumnya ketika membantu Xie Ruo yang pingsan, ia menemukan nadi Xie Ruo yang mirip dengan nadi wanita mengandung.


Ia sempat terkejut dan menyembunyikannya mencoba memastikan. Karena identitas Xie Ruo sangat sensitif, akan bahaya jika ketahuan sedang hamil selain dengan Kaisar. Ia juga bisa terkena imbasnya dan dianggap tidak menjaga Xie Ruo dengan baik.


Karena hal itu, ia harus melakukan tindakan pencegahan. Jika ingin mendapatkan posisi tinggi, bukankah harus ada pengorbanan?


Ia menuangkan bubuk yang sudah ia siapkan ke dalam teh. Sebelumnya ia ragu ketika membeli bubuk itu dari apotek, tapi sekarang ia tidak boleh ragu. Xie Ruo harus berterimakasih padanya untuk hal ini.


"Nuo Nuo, berikan pada Yang Mulia ketika sudah matang. Yang Mulia memintaku membawakannya jubah baru karena musim dingin akan tiba." Xu Ziyan melihat pelayan muda yang tengah memotong sayur di meja lain.


"Akan kulakukan."


Xu Ziyan pergi dari dapur, membiarkan pelayan itu menggantikannya. Jika seperti ini, ketahuan juga tidak masalah. Asalkan bukan ia yang disalahkan.


Xu Ziyan kembali ke tempat Xie Ruo berada dengan jubah baru di tangannya. Xie Ruo yang sedang membaca hanya melihatnya seklias, kemudian kembali memandang tulisan dalam buku acuh tak acuh.


"Aku tidak memintamu membawakan jubah." Suasana hati Xie Ruo sedang jelek karena tidak mendapat cokelat.


"Malam ini salju pertama akan turun, cuaca mulai mendingin. Agar tidak kedinginan, Ziyan membawakan jubah untuk Yang Mulia. Sebelumnya Ziyan sudah menyiapkan camilan, akan dibawakan oleh pelayan lain sebentar lagi untuk menyingkat waktu."


Xie Ruo tidak lagi merespon ketika jubah diletakkan di bahunya. Ia hanya diam membaca buku di tangan. Karena Zhong Guofeng atau Kaisar Iblis tidak membiarkannya keluar, pria itu senantiasa mengirim banyak buku untuknya menghabiskan waktu.


Xie Ru mengambilnya karena merasa lapar, tanpa mengalihkan pandangan dari buku. Xu Ziyan menunggu, tapi Xie Ruo sama sekali tidak menyentuh tehnya membuatnya gugup.


Hingga akhirnya Xie Ruo meraih cangkir teh susu, Xu Ziyan semakin gelisah. Ia sudah mengeluarkan banyak uang untuk satu obat, tidak boleh disia-siakan.


Tapi begitu Xie Ruo akan meminumnya, suara teriakan menggema membuat Xie Ruo berhenti.


"Ruoruo, aku datang!" Zhong Xiaorong melangkah dengan riang menarik Mei Liena seperti menarik domba.


Xie Ruo memutar bola mata, kemudian meletakkan cangkirnya ke atas meja. "Aku sibuk." Ia mengibaskan tangan mengusir dua pelayan yang menunggu.


Xu Ziyan agak kesal, tapi ia tidak memiliki pilihan lain selain pergi sesuai perintah. Jika saja Putri Youmei tidak datang, rencananya dengan cepat berhasil.


"Kenapa?" tanya Xie Ruo.


Zhong Xiaorong yang terburu-buru langsung duduk dan menenggak teh susu yang seharusnya diminun Xie Ruo. Ia terlalu lelah berlari dan sangat haus.


"Ruoruo, aku dengar dari Liena tentang Kaisar. Apa itu benar?" Zhong Xiaorong sangat ketakutan ketika mendengarnya. Dibandingkan Dewa Iblis, ia lebih takut Kaisar Iblis. Itu membuatnya teringat akan Asura dan kejadian hari itu. Ia bahkan terkejut mengetahui bahwa Kaisar Iblis merupakan bagian dari Kaisar Langit, seperti kloning.


"Sebenarnya ini bukan pertama kali." Xie Ruo masih kesal.


"Apa yang harus dilakukan?"


"Tidak ada."


"Apa?"


"Kalau ingin protes, kau bisa mengajukan petisi. Lihat, siapa yang akan mendukung atau menjatuhkanmu."


"Ini bukan masalah siapa yang mendukung siapa. Ruoruo, jika kalian terlibat konflik dan bertarung, apa yang akan terjadi selanjutnya?"


Xie Ruo menggedikkan bahu. "Entahlah."


"Lalu apa rencanamu?"


Xie Ruo memandang mereka berdua sejenak, kemudian pandangannya jatuh pada Mei Liena. Mei Liena langsung paham dan menyenggol Zhong Xiaorong dengan sikut.


"Apa kau tidak tahu? Ruoruo baru saja mengalami pertempuran kedua ketika pergi ke perbatasan. Lalu harus mengalami serangan mental Kaisar Iblis ketika kembali. Baru saja kemarin Ruoruo pingsan setelah bertengkar dengan Kaisar Iblis. Bayangkan berapa banyak tekanan yang Ruoruo hadapi, serangan mental itu tidak biasa. Nyaris saja Ruoruo mati!"


Zhong Xiaorong sampai tanpa sadar mundur karena Mei Liena yang bicara sampai mencodongkan tubuh seolah ingin memojokkannya. Bahkan Xie Ruo terdiam atas karangan Mei Liena yang sangat lancar, ia nyaris percaya bahwa itu benar-benar terjadi.


Mendadak suasana menjadi sunyi hanya karena rangkaian kalimat Mei Liena. Wakita itu ... sekali bicara membuat segalanya menjadi hening.


"Paham?" Mei Liena menegaskan ulang, memaksa Zhong Xiaorong mengangguk.


"Paham."


Mei Liena kembali duduk di tempatnya, kemudian melahap kue di atas meja. Xie Ruo langsung saja menepis tangan iseng itu, melarang Mei Liena mencuri makanannya. Mei Liena hanya bisa menggerutu.


Zhong Xiaorong memperhatikan interaksi itu, baru saja ingin bicara lagi, tapi tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang aneh. Ia merasa ususnya seperti digiling hingga menggigil. Ia ingat, bahwa ia hanya minum teh secara asal. Apa ia minum teh basi? Emang ada?


"Ruoruo, aku rasa ... aku butuh kamar kecil." Zhong Xiaorong memegangi perutnya yang mulas. Tidak, ia merasa akan mengeluarkan angin sekarang!


"Hei, kau salah makan apa?" Mei Liena ingin tertawa melihatnya.


"Aku ... teh Ruoruo ... cepat katakan saja di mana!"


Mei Liena yang awalnya ingin tertawa terbahak-bahak langsung terdiam. Ia dan Xie Ruo saling tatap, kemudian melihat cangkir kosong di atas meja.


Cepat-cepat Mei Liena memeriksa denyut nadi Zhong Xiaorong, keningnya berkerut lalu melihat Xie Ruo. "Obat pencuci perut."


"Hah? Siapa yang ingin membuatku diare?" Zhong Xiaorong fokus pada dirinya sendiri sampai melupakan teh siapa yang ia minum.


"Seharusnya kau bertanya, siapa yang ingin membuat Ruoruo diare!" Mei Liena mendengus kesal.


"Sudahlah, aku ingin ke kamar kecil, cepat antar aku!" Zhong Xiaorong histeris. Ia tidak mau kentut si sini, di mana citranya nanti!


Wajah Xie Ruo menjadi sangat datar melihat kondisi Zhong Xiaorong. Ia jelas paham apa yang terjadi. Untuk Zhong Xiaorong, efeknya memang hanya terjadi diare. Tapi untuknya ....


"Pelayan!" Xie Ruo berteriak memanggil pelayan. Seorang pelayan langsung masuk untuk menerima perintah. "Antar Tuan Putri ke kamar kecil!"


"Baik, Yang Mulia."


Pelayan itu segera mengantar Zhong Xiaorong yang sangat terburu-buru sampai berlari. Zhong Xiaorong merasa, ia kena jebakan orang iseng yang ingin bermain-main dengannya. Awas saja jika ketemu!


"Sepertinya seseorang mengetahuinya." Mei Liena langsung pada intinya ketika dua orang itu sudah pergi. Ia mengambil cangkir di atas meja, kemudian mengendusnya mencari aroma obat. "Ada aroma racikan obat penggugur kandungan. Untuk wanita yang tidak hamil, hanya akan terjadi diare."


"Aku tahu," kata Xie Ruo, mengambil cangkir itu. "Hanya saja, dia masih ragu. Itu sebabnya dia menggunakan dua cara, membuatku diare atau ...." Ia meremas cangkir tersebut sampai retak dan hancur menjadi serpihan abu. "Membunuh."


"Kau tahu siapa yang melakukannya? Tidak mungkin Kaisar Iblis mengirim seseorang untuk mencelakaimu."


"Bukan untuk mencelakaiku, tapi orang bodoh tertentu berpikir, bahwa aku harus berterimakasih padanya karena telah membantu membunuh anakku yang dapat menghalangiku menjadi permaisuri. Benar-benar naif."


Mei Liena tercegang. Siapa yang berani melakukan hal kejam seperti itu? "Ruoruo, apa kamu tahu siapa orangnya?"


Xie Ruo tersenyum. "Jika tidak, aku tidak mungkin dapat menebaknya. Hanya dengan memahami cara berpikir seseorang, baru tahu apa yang akan orang itu lakukan. Sayangnya, dia tidak mengenalku dan bersikap seakan dia tahu segalanya. Benar-benar ceroboh."


Meskipun Zhong Xiaorong tidak meminum teh itu, ia tetap akan tahu melalui aromanya. Itu sebabnya, pelaku di balik ini menurutnya sangat tidak terampil dan bodoh. Sangat disayangkan Zhong Xiaorong yang malang harus terkena diare.


"Lalu, kau akan apakan dia?" Mei Liena penasaran. Apa Xie Ruo akan membunuhnya? Atau memanfaatkannya?


"Tentu saja, mengikuti permainannya." Membunuhnya? Terlalu mudah. Ia lebih suka bermain-main dengan pemain ulung seperti itu.


Omong-omong, sudah lama ia tidak bermain.