
Pria itu cukup tampan dan memiliki rambut abu-abu. Pakaiannya berkelas dan terlihat seperti orang kaya. Berbeda dari sosok berjubah hitam yang bahkan wajahnya tak terlihat, hanya ada bayangan hitam dari penutup kepala yang membuat wajahnya menghitam.
"Kau sudah lakukan apa yang harus dilakukan?" tanya Pria berjubah.
Pria itu mendengus. "Ya, tidak akan ada kesalahan. Aku bukan Bao Jun yang ceroboh membiarkan orang itu datang dan membunuhnya."
"Jika orang itu datang, lebih baik pergi. Aku juga sudah memperingati yang lain. Masalah penangkapan energi murni, Yang Mulia sudah memiliki rencana."
"Kalau begitu, aku tebak seharusnya gadis itu pergi ke Lautan Selatan bersama Naga Laut."
"Tentang itu sudah direncanakan. Aku tidak perlu mengatakannya padamu. Lebih baik kau urus Kota dengan baik, jangan sampai ketahuan."
"Aku tahu." Pria itu berlagak santai sampai pria itu menghilang dari pandangan. Ia pun pergi setelahnya.
Setelah memastikan pria itu benar-benar pergi, Qu Xuanzi dan Xie Ran memunculkan diri setelah menjadi bayangan untuk beberapa saat. Xie Ran akhirnya dapat bernapas dengan lega.
"Tidak kusangka, selain Hydra, seseorang ingin menyambutku di Lautan Selatan. Sepertinya aku sangat spesial." Xie Ran terkekeh.
"Apa kamu akan tetap masuk Kota?" tanya Qu Xuanzi. Kemungkinan besar kota tidak aman untuk saat ini. Tapi menurut sifat Xie Ran, gadis itu sama sekali tidak peduli dengan bahaya. Ia sudah dapat menebak meski tidak bertanya.
"Aku penasaran dengan apa yang sedang diurus iblis itu di Shuiyang. Ini menarik, mungkin saja aku mendapat harta lagi." Xie Ran tersenyum semangat. Sia-sia jika tidak mendapat harta yang telah disiapkan untuk ia ambil.
Karena sudah sesuai dugaan, Qu Xuanzi tidak bisa melarang. Ia membiarkan tangannya ditarik Xie Ran ke gerbang kota.
Tepat di gerbang kota, Xie Ran menunjukkan lencana yang diberi Zhong Guofeng untuk masuk akademi sebelumnya. Itu bukan lencana biasa melainkan lencana akses yang dapat ia gunakan di berbagai tempat asal masih dalam lingkup Kekaisaran Zhongbu.
Penjaga gerbang mengizinkan mereka masuk. Xie Ran tidak sadar, ia lupa menutupi wajah tampan Qu Xuanzi yang kini telah beredar di kota menyebabkan para kaum hawa menatapnya dengan tatapan panas.
Sebenarnya bukan Qu Xuanzi saja yang membuat rakyat heboh seperi melihat dewa. Xie Ran tanpa sadar juga memikat banyak pria dengan wajah cantiknya yang lebih cantik dari sebelum ia membangkitkan tubuh murni.
Qu Xuanzi tidak peduli dengan para wanita yang menatapnya seperti binatang buas, tapi ia peduli dengan kecantikan Xie Ran yang menyebabkan banyak pria menatapnya dengan penuh gairah. Ia sudah kesal duluan hingga aura dinginnya keluar membuat siapa pun merasa terancam.
Xie Ran menyadari aura dingin di punggungnya, berbalik menatap pria itu yang memiliki raut gelap. Ia langsung sadar kesalahannya telah mengedarkan penampilan secara terang-terangan. Seharusnya ia memakai penutup wajah!
"Kita cari penginapan." Xie Ran menarik tangan Qu Xuanzi lagi dan berjalan lebih cepat membelah kerumunan. Ia harap dapat menemukan penginapan yang tepat secepatnya.
Sambil berjalan, ia melihat sekitar kota. Benar kata Long Long, kota ini cukup unik dalam tata arsitektur serta bangunan. Bangunan yang terkesan modern dan tidak kuno seperti Klan Xie. Ia pikir kota ini harus menjadi kota yang maju di Kekaisaran Zhongbu. Walikotanya cukup berbakat dalam menata kota.
Bukan hanya arsitektur yang unik, berbagai makanan enak dan jarang di Kota Zhichen juga banyak di tempat ini. Selama perjalanan, ia memborong banyak makanan melupakan banyak pasang mata melihat penampilan imutnya yang berbinar karena makanan.
"Long Long, informasimu benar." Xie Ran begitu senang mendapat makanan enak sampai penuh di tangannya. Bahkan ia sampai menyuruh Qu Xuanzi memegangi makanannya.
"Ada juga pusat informasi terbaik di sini. Kau jalan lurus, dalam 500 meter akan menemukan pusat informasi terbesar di kota."
Saran Long Long langsung dituruti Xie Ran. Ia berjalan sejauh 500 meter sambil menghabiskan makanan dan menemukan sesuatu yang menarik.
"Paviliun Anggrek?"
Dapat di lihat, ada banyak wanita masuk ke dalam serta beberapa pria cantik yang melambaikan tangan di pintu masuk.
"Rumah bordil versi pria. Ada banyak pria cantik di sana. Salah satu keunikan Kota Shuiyang adalah, para pria dan wanita dibebaskan untuk menikah berkali-kali. Bukan hanya ada rumah bordil untuk pria, untuk wanita juga ada. Bukankah menarik?"
"Sangat menarik."
Senyum Xie Ran semakin melebar. Tidak disangka ada tempat seperti ini di dunia ini. Sangat menarik. Rumah bordil memang merupakan pusat informasi terbesar selain rumah makan. Long Long tidak pernah salah.
Berbeda dengan Qu Xuanzi di sebelah Xie Ran. Ia langsung meraih lengan Xie Ran dan membawanya menjauh dari tempat terkutuk itu. "Jangan berpikir ke sana."
Xie Ran mengangguk patuh dan berjalan di sisi Qu Xuanzi. Pria itu sama sekali tidak melepas genggamannya seolah Xie Ran akan kabur kapan pun mencari pria lain. Xie Ran tidak menolak, ia hanya menyukai makanannya.
Mereka menghabiskan waktu di luar dan memesan satu kamar penginapan ketika malam akan tiba. Malam harinya, Xie Ran memesan makanan dengan berbagai menu baru.
Gadis itu makan dengan nikmat dan lahap seolah tidak pernah makan berhari-hari. Selama ini ia makan makanan seadanya sehingga ia merindukan makanan enak dan segar. Ia juga merindukan masakan Qu Xuanzi, tapi sayangnya di dalam liontin semua bahan makanan habis. Ia akan belanja besok pagi. Xie Ran juga memesan arak untuk menemani dagingnya yang enak.
"Kau tidak makan? Cobalah, ini enak!" tanya Xie Ran pada Qu Xuanzi yang sejak tadi hanya memperhatikannya makan.
"Kau saja."
Xie Ran menghela napas. Dewa memang beda. "Jangan menyesal. Aku tidak kembali ke tempat ini untuk makan."
Xie Ran melanjutkan makan acuh tak acuh. Bohong ia tidak akan kembali ke tempat ini untuk makan. Dia akan kembali!
Makan Xie Ran terhenti begitu tangan Qu Xuanzi menyentuh mulutnya yang terdapat sisa makanan. Pria itu mengusap bibir Xie Ran dan menjilat jarinya yang bekas makanan di bibir Xie Ran tadi.
"Ini enak," katanya dengan santai membiarkan Xie Ran terdiam untuk beberapa saat.
Xie Ran merasa pipinya panas hingga membuatnya mendadak kalem. Kenapa Qu Xuanzi harus melakukannya? Itu membuatnya malu!
"Bukan yang di sini," balas Xie Ran menunjuk bibirnya kemudian menunjuk ke makanan di meja. "Tapi yang itu."
"Rasanya akan berbeda. Aku lebih suka yang ini," katanya menunjuk bibir Xie Ran dengan tatapan jahil. Itu membuat Xie Ran kehabisan kata-kata. Sejak kapan Qu Xuanzi berbakat menggodanya?
Xie Ran berusaha berpikir bagaimana cara mengalihkan topik dan melanjutkan makan. Ia berdeham, menetralkan wajahnya kemudian minum air supaya tidak kelamaan serak. Setelah itu, ia mulai bicara, "Iblis yang tadi kita temui, kau tahu siapa dia?"
Qu Xuanzi menggeleng. "Tidak ada alasan mengingat nama-nama iblis tidak penting."
Xie Ran tersenyum kecut. Qu Xuanzi selalu saja begini. "Dari caranya berpakaian, seharusnya ia orang berpengaruh di Shuiyang. Semenjak datang, aura iblis di mana-mana sehingga tidak bisa menemukan iblis tadi. Kota ini penuh iblis, aku yakin iblis itu tidak jauh dari kita berada."
"Apa yang akan kau lakukan ketika bertemu?" tanya Qu Xuanzi.
"Tentu saja menginterogasinya mengenai Tujuh Raja Iblis. Bukankah kau ingin menemui mereka? Jika dia tidak mau menjawab, maka bunuh saja. Aku juga akan mengetahui apa yang selama ini iblis rencanakan di Shuiyang. Anggap saja sebagai pemanasan sebelum menghadapi Hydra." Xie Ran berkata dengan enteng seolah menghabisi iblis hanya masalah kecil.
"Kekuatannya sedikit lebih kuat dari iblis sebelumnya. Kau harus berusaha lebih keras nanti." Qu Xuanzi tidak melarang, melainkan menyarankan untuk mendukung pertarungan Xie Ran. Percuma saja jika dilarang, gadis itu sangat keras kepala.
"Oleh karena itu, aku harus tahu banyak tentangnya. Besok aku harus cari tahu." Xie Ran tersenyum misterius membuat Qu Xuanzi berpikir bahwa Xie Ran akan melakukan hal ekstrem lagi. Asalkan tidak mengancam nyawanya, Qu Xuanzi tidak masalah.
Dan benar saja, Xie Ran sampai di Paviliun Anggrek. Qu Xuanzi berada di liontin karena tidak boleh masuk sedangkan Xie Ran masuk dengan senang hati dan melihat banyak pria tampan.
Awalnya Qu Xuanzi melarang Xie Ran ke tempat itu, tapi Xie Ran berhasil meyakinkannya sehingga Qu Xuanzi hanya bisa pasrah. Asal Xie Ran tidak melakukan hal berlebihan atau para pria itu tidak menyentuhnya, Qu Xuanzi tidak akan memiliki masalah.
Tapi sepertinya harapan itu harus pupus saat itu juga.
"Nona muda sangat cantik dan mendominasi, Zhu Qian akan melayani Nona dengan baik." Seorang pria cantik dengan hanfu kuning mendekati Xie Ran dan memijat bahu Xie Ran dengan halus.
"Nona muda~ Wen Bin akan memainkan lagu terbaik untuk Nona." Pria dengan kecapi di tangannya merayu dengan menggelikan membiat Xie Ran yang bahunya sedang dipijat terdiam dengan senyuman kaku.
"Nona muda~ silahkan diminum araknya ...."
"Nona~ ayo kita bermain. Nona muda terlihat tidak berpengalaman, bagaimana jika Xu Feng membantu?"
Xie Ran benar-benar tidak habis pikir. Senyum di wajahnya sangat kaku dan ia benar-benar tidak tahu harus apa sekarang. Apa begini rasanya membuat harem?
"Nona muda, jika ada yang perlu dilakukan, kami akan melakukannya. Kami akan melayani nona dengan baik."
"Aku ...." Xie Ran merinding sekarang.
"Nona~ buka mulut ...." Pria berhanfu hijau itu menyuapi Xie Ran sebutir anggur dengan tangan lentiknya.
Xie Ran memakan anggur dengan senyuman paksa. Ia menatap lima pria yang 'melayaninya' dengan baik itu dan berpikir harus memainkan peran dengan baik.
"Sebenarnya aku baru di sini, berharap kalian membantuku." Xie Ran berusaha bersikap ramah.
"Tidak masalah, Nona. Nona sangat cantik, pasti banyak pria yang mendekati."
Xie Ran tertawa canggung. "Ya, aku memang cantik."
"Pria yang menikahi nona akan sangat beruntung. Aku akan iri melihatnya."
"Nona, apa Nona memiliki pasangan?"
Xie Ran membulatkan mata melihatnya dan berusaha menutupi kecanggungan. "T-tidak ... aku tidak punya pasangan." Saking canggungnya ia sampai melupakan sesuatu. Ketika mengingatnya, ia langsung menyesal dan ingin menghilang saja.
Seseorang melamarnya beberapa hari ini dan dia sudah lupa!
"Aku sedang mencari yang tampan," kata Xie Ran melanjutkan kebohongannya. Ia ingin menangis sekarang. Maaf guru besar, ini demi memainkan peran!
"Nona, ada banyak pria tampan di sini. Nona tinggal memilih satu atau dua, tidak akan ada yang menolak."
"Kalau di antara mereka tidak ada, aku bersedia menemani nona."
"Nona, pilih aku saja. Aku pandai bermain."
"Bermain ...." Jika ini hari lain ia akan berpikir permainan yang biasa dimainkan anak-anak. Tapi situasi saat ini sama seperti permainan dalam pertempuran yang berartikan membunuh. Ini membuatnya ... merasa tidak berdaya.
"Nona muda, jika nona membawaku, aku akan memainkan musik setiap hari hanya untuk nona."
"Tidak perlu." Xie Ran nyaris pingsan sekarang.
"Nona muda, apa Nona tidak suka?" Pria itu tampak kecewa membuat Xie Ran serba salah.
"Tidak, aku suka. Tapi, aku ingin menanyakan sebuah hal. Aku sedang mencari pria tampan. Menurut kalian, siapa pria tertampan di kota ini?" tanya Xie Ran.
"Nona muda, pria tertampan di kota ini adalah Tuan Walikota. Tapi kemarin ada pria yang lebih tampan datang, dia sangat tampan sampai tidak ada yang bisa menandinginya."
Itu pasti Qu Xuanzi, siapa lagi pria tampan yang baru datang kemarin? Tapi ... apa kemarin mereka juga tidak melihat Xie Ran?
"Walikota kalian ... apa setampan itu?"
"Ya. Para wanita sangat mendambakannya. Aku sampai iri. Walikota sangat kuat dan mendominasi."
Rasanya agak aneh mendengar seorang pria mendeskripsikan pria lain begitu semangat. Xie Ran menghela napas dan tetap setia mendengarkan. Mungkin saja walikota adalah orang yang ia cari.
"Bagaimana ciri-cirinya?" tanya Xie Ran sekali lagi.
"Rambutnya kelabu dan tatapannya tajam. Dia sangat tampan seperti bukan manusia. Bahkan, kami yang sudah tampan dibuat iri olehnya. Tingginya sekitar 186, memiliki otot yang kekar dan kuat. Dia seorang saja bisa menjatuhkan puluhan bandit yang menyerang kota." Mereka memijati bahu, tangan, dan kaki Xie Ran sambil bercerita dengan heboh seolah menceritakan idolanya.
"Namanya?" tanya Xie Ran lagi.
"Di Yushi."
Raut paksaan Xie Ran berubah menjadi kepuasan. Ia tersenyum puas dan mencubit pipi pria yang menyebut nama itu dengan senang. Akhirnya ia menemukan target selanjutnya, Di Yushi. Tidak sia-sia perjuangannya.
"Ah, Nona, kamu sangat nakal." Pria itu bersemu-semu memegangi pipinya yang dicubit.
Xie Ran terkekeh. "Maaf, maaf."
Di Yushi, nama itu sudah tercetak tebal di benak Xie Ran sebagai korban selanjutnya. Ia ingin lihat, trik apa yang iblis itu gunakan untuk membunuhnya.
Para pria cantik itu 'melayani' Xie Ran seperti memijatnya, menyuapinya, memainkan musik, dan bersenda gurau. Xie Ran yang awalnya tidak terbiasa menjadi terbiasa dan belajar banyak hal. Mereka sangat terbuka memberi informasi asal Xie Ran tidak menunjukkan niatnya langsung.
Xie Ran tidak tahu, guru besar tertentu telah *makan cuka dan menggelap sepanjang hari di dalam liontin.
*Cemburu
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Xie Ran kembali ke penginapan untuk menceritakannya pada Qu Xuanzi. Ia telah mendapat banyak informasi mengenai kondisi Kota Shuiyang dari yang umum sampai yang mendetail.
Kota Shuiyang bagian yang ia tempati sekarang dipenuhi oleh pejabat kota dan pengusaha di bawah walikota. Di pedalaman kota masih ada rakyat biasa yang miskin dan kumuh. Mereka bagai tidak layak hidup karena pengaturan walikota.
"Di Yushi ini ... apa dia sengaja?" Xie Ran tidak habis pikir. Sepertinya ada banyak korupsi di kota ini sehingga rakyat biasa jadi gelandangan dan pengemis. Mereka hidup susah di pedalaman kota.
Xie Ran tidak tahu harus membantu atau tidak. Yang ia tahu, ia harus membersihkan akar permasalahannya yang ada pada Di Yushi. Setelah ia menyelesaikan Di Yushi, barulah para pejabat lain dapat ditangani dengan cermat sesuai pengalamannya memberantas para berandal dan orang-orang penting lainnya.
Setelah itu, ia pikir tidak ada gunanya mengatur kota. Biarlah para warga memiliki walikota yang baik, meski Xie Ran tidak percaya akan benar-benar baik. Tapi setidaknya pemimpin mereka bukan iblis apalagi yang bekerja langsung di bawah Raja Iblis.
Sayangnya ia tidak bisa mengakses informasi rahasia karena membutuhkan koneksi yang tepat di runah bordil. Jika tidak, ia sudah menguak segalanya lebih cepat. Koneksi itu hanya bisa didapat bila ia berteman dengan pemilik rumah bordil atau menjadi pelanggan setia.
Tapi sayangnya, Xie Ran tidak berniat berlangganan jangka panjang. Ia tidak percaya Qu Xuanzi tidak akan marah karena ulahnya meski memiliki tujuan besar. Bahkan ia sudah merasakan aura tidak enak di dalam liontin sehingga ia memutuskan untuk kembali ke penginapan.
Begitu sampai di depan pintu kamar, ia langsung masuk ke dalam. Pada saat itu Qu Xuanzi keluar dari liontin dan Xie Ran masih membelakanginya setelah merasakan punggungnya mendingin. Baiklah, ini masalah. Ia harus berhasil membujuknya berdasarkan ajaran dari pria cantik itu.
Xie Ran berbalik dan tidak berharap melihat raut dingin Qu Xuanzi yang begitu membuatnya merasa tidak biasa. Tatapannya ... sangat dingin sehingga Xie Ran meneguk saliva. Walau tidak ada niat membunuh, itu tetap saja sangat dingin!
"Xuanzi," panggil Xie Ran dan menghampirinya. "Kamu ...."
"Kau tidak punya pasangan?"
"Apa?" Xie Ran kehabisan kata-kata, mundur secara alami begitu Qu Xuanzi melangkah mendekatinya.
"Sedang mencari yang tampan?"
"Aku ... itu hanya penyamaran."
"Bukankah mereka pandai 'bermain'?"
"Itu ...." Ada apa ini? Qu Xuanzi cemburu? Ini kali pertama Xie Ran melihat gunung es ini cemburu. Ia tidak tahu Qu Xuanzi akan sangat marah.
"Kau terlihat sangat senang."
Kaki Xie Ran menubruk ranjang hingga ia terduduk. Apa ia sedang dimarahi? Ayolah, tadi hanya permainan anak-anak.
"Aku ... dapat informasi." Xie Ran mencoba menjelaskan namun ia jelas tahu Qu Xuanzi melihatnya sejak awal dan tidak perlu penjelasannya. Baiklah, ia mengaku salah.
"Informasi? Selain itu, pelayanan mereka memuaskan?"
Xie Ran menggeleng cepat. "Tidak." Kemudian ia menggeleng cepat lagi merasakan ucapannya menimbulkan kesalahpahaman. "Aku tidak berpikir seperti itu."
Qu Xuanzi membungkukkan tubuhnya menatap Xie Ran yang mendongak mencoba menghapus jarak dan menarik tali pakaian sehingga setengah pakaian Xie Ran terbuka. "Ranran, sudah kukatakan, kau hanya milikku." Setelah itu, ia mendaratkan bibirnya ke bibir Xie Ran dan ******* dalam-dalam gadis itu.
Xie Ran merasa ciuman ini sedikit berbeda, tidak seperti biasanya. Jika dulu dipenuhi kelembutan dan kasih sayang, sekarang dipenuhi keganasan seolah akan memakannya hidup-hidup. Bahkan Xie Ran tidak sempat mengambil napas dan merasa hidupnya akan berakhir hari itu juga.
"Xuanzi ... Ahh." Xie Ran mencengkram erat kasur begitu lehernya terasa basah dan geli bercampur sakit. Ini kali pertamanya dan tidak tahu harus melakukan apa pun sehingga ia hanya bisa pasrah.
Cara Qu Xuanzi sangat ganas dan ia lebih terlihat seperti hewan buas. Xie Ran agak takut memikirkannya dan ia bersumpah tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Ia tahu ia kelewatan dan tidak akan mampir ke rumah bordil lagi!
"S-sakit ... Aaargh." Xie Ran mencengkram bahu Qu Xuanzi. Ia lagi-lagi nyaris kehilangan napas ketika pria itu menggigit bibinya dan ********** lagi dengan ganas.
Tepat ketika Xie Ran berpikir dirinya akan mati kehabisan oksigen, Qu Xuanzi melepas lumatannya dan menatap Xie Ran dalam. Xie Ran akhirnya dapat bernapas lega dan Qu Xuanzi tidak melanjutkannya lagi, melainkan melihat Xie Ran di bawahnya.
Amarah Qu Xuanzi tidak terasa lagi dan tatapannya menjadi teduh, ia mengusap bibir Xie Ran yang berdarah karenanya. Ia memeluk tubuh Xie Ran erat-erat seolah jika dilepas, maka Xie Ran akan pergi.
"Maaf," bisiknya di telinga Xie Ran.
Xie Ran tidak memiliki banyak reaksi, ia hanya diam dan membalas pelukan Qu Xuanzi. Meski ia agak takut, sekaligus kesal, ia tidak memperpanjangnya lagi.
"Jangan seperti itu lagi," ujar Qu Xuanzi.
Xue Ran mengangguk. "Aku minta maaf."
Qu Xuanzi meregangkan pelukannya dan melihat leher Xie Ran yang dipenuhi bercak merah. "Apa sakit?"
"Karena kau melakukannya dengan keras." Xie Ran jujur. Ia tidak lemah dan seharusnya itu tidak sakit, tapi Qu Xuanzi melakukannya dengan keras sehingga ia kesakitan.
Qu Xuanzi mengusap wajah Xie Ran dengan lembut dan membenarkan pakaian gadis itu yang acak-acakan. Untung saja ia bisa mengendalikan diri atau ia benar-benar kelepasan dan Xie Ran akan semakin terluka.
"Lain kali, jika kau melakukannya lagi, aku tidak akan menahan diri." Qu Xuanzi memperingati. Dia tidak akan menghukum Xie Ran jika pria lain yang memaksa Xie Ran. Tapi sebelumnya Xie Ran tanpa paksaan mendekati pria lain, apalagi para pria itu menyentuh Xie Ran dan Xie Ran membiarkannya.
Xie Ran mengangguk dan berjanji tanpa mengatakan apa pun. Ia sungguh tidak akan melakukannya lagi dan sadar akan kesalahannya. Ia sepertinya memang sudah kelewatan.
"Istirahatlah." Qu Xuanzi mengecup bibir Xie Ran sekilas dan keluar dari ruangan.
Xie Ran masih termenung di tempatnya. Ia tidak marah, hanya merasa ... akan sulit membujuk Qu Xuanzi yang sedang marah. Ia pikir Qu Xuanzi masih marah meski barusan terlihat lembut. Ia tahu itu karena Qu Xuanzi meninggalkannya sendiri. Jika Qu Xuanzi tidak marah, paling tidak kembali ke liontin.
Xie Ran menghela napas pasrah. Kenapa hidupnya seperti ini?