
Tiga cahaya melintas di udara dengan kecepatan tinggi seperti meteor jatuh. Para rakyat yang berjalan di bawah sana tidak menyadari, tiga sosok yang melintas di atas mereka seperti bayangan dan berhenti dengan tidak mencolok membentuk sepasang pria dan wanita berjubah serta seekor harimau putih yang mengubah ukurannya menjadi sekecil kucing di lengan wanita berjubah.
Iris biru harimau kecil itu melihat sekitar dengan tajam. Persepsinya lebih luas dan tajam sehingga mengejutkan pasangan itu ketika melompat dari gendongan. Harimau kecil itu menekuk keempat kakinya waspada sambil mengendus.
"Bai He, ada apa?" Wanita tua itu menunduk, mengusap kepala si kecil dengan lembut sedangkan harimau kecil itu mengeluarkan raungan kecil berusaha memberitahu sesuatu.
Pria di sebelahnya mengerutkan kening. Kemudian pandangannya terarah ke tempat di mana pandangan si kecil mendarat. Wanita itu juga mengikuti hingga melihat dua sosok pemuda tidak mencolok berjalan melintas.
Ketika kedua pemuda itu melihat pasangan pria dan wanita berjubah serta harimau kecil yang waspada, mata mereka menunjukkan kejutan lalu saling pandang sebelum akhirnya menghampiri pasangan itu.
Kedua pemuda itu berlari dan berhenti di depan mereka lalu membungkuk sopan. Mereka memiliki aura luar biasa yang kontras dengan pakaian sederhana mereka. Tentu pasangan itu merasa kedua pemuda itu tidak sesederhana kelihatannya.
"Kami memberi hormat pada Senior Xie. Junior ini menerima kepercayaan seorang teman dari Klan Xie untuk menemani perjalanan kedua senior sebelum sampai Klan Xie." Salah satunya bicara dengan sopan dan teratur, sedangkan pemuda di sebelahnya menyengir memberi kesan bodoh sekaligus canggung.
Pasangan itu saling tatap, pandangan mereka datar menatap kedua pemuda yang mencurigakan. Pria tua itu bicara dengan nada dalam, "Bagaimana kamu tahu kami ingin ke Klan Xie? Siapa yang mengutus kalian?"
Pemuda sopan itu tersenyum tipis kemudian melirik harimau kecil yang masih bersikap waspada. "Harimau Putih hanya dimiliki oleh Ketua Klan Xie sebelumnya, Xie Wang. Berita mengenai Ketua Klan Xie sebelumnya akan kembali telah tersebar, jadi teman kami ingin mengawal kedua senior. Selama 7 tahun terakhir, Kekaisaran Zhongbu telah berubah banyak, mungkin akan membingungkan kedua senior."
Pria itu menatap pemuda yang pandai bicara penuh antisipasi dan curiga. Kemudian melihat pemuda satu lagi yang masih menyengir bodoh seolah kehilangan kata-kata. Hanya terlihat dari sini, ia sudah dapat menebak pemuda bodoh itu takut melihatnya. Hanya saja, pemuda yang bicara itu cukup pintar.
"Pria tua ini ingin tahu, teman dari Klan Xie yang mana yang mengutus kalian?" Pria itu masih menaruh curiga.
Senyum pemuda itu semakin dalam. "Nona Xie, Xie Ran."
Mendengar dua karakter nama itu menyebabkan jantung pasangan itu berdetak lebih cepat. Hati mereka dipenuhi kebahagiaan mendengar nama yang selama ini sangat mereka rindukan, namun mereka menekan kebahagiaan mereka dengan baik meski tatapan mereka telah berubah.
Sedangkan harimau kecil di bawah justru menyipitkan mata. Ia tidak memiliki kesan baik tentang karakter nama itu. Juga, napas menyebalkan yang tersisa di tubuh mereka membuatnya kesal setengah mati.
Pria itu terbatuk untuk menetralkan reaksinya dan tetap berusaha bersikap wibawa. Bisa saja kedua pemuda itu menipu dan ternyata mereka adalah pembunuh yang mengatas namakan cucu mereka. Itu tidak bisa dibiarkan. "Kalian tidak bisa menipu di siang bolong, Nona Xie tidak akan mengutus orang bodoh untuk menjemput seseorang."
Bodoh? Pemuda sopan itu melirik pemuda kikuk di sebelahnya dengan pandangan menuduh. Dia yang bodoh diam saja sejak awal dan hanya memasang senyum seperti idiot!
"Kakak Yao, apa dia bicara tentang kita?" Pemuda kikuk itu berbisik sangat pelan.
Pemuda itu tersenyum semakin 'sopan' lalu membalas dengan nada rendah, "Dia bicara tentangmu."
Pemuda kikuk itu terdiam, lalu menggaruk tengkuknya merasa serba salah. Memang bodoh ... sangat bodoh. Padahal ia sudah menghapalkan apa yang harus dikatakan, tapi begitu merasakan aura luar biasa dari dua sosok itu serta tatapan permusuhan dari 'kucing' tertentu, ia merasa tenggelam.
"Senior, sangat wajar jika tidak mempercayai kami. Mungkin dengan ini bisa membuat kalian percaya." Pemuda itu menyerahkan sebuah ikat pinggang putih dengan hiasan menarik.
Pria itu agak terkejut, sedangkan wanita di sisinya menerima ikan pinggang itu dengan hati-hati seolah itu adalah harta berharga yang pernah dilihatnya. Ikat pinggang itu khusus ia buat untuk cucunya ketika berulang tahun ke-10 tahun. Terbuat dari kain bermutu tinggi dengan bahan hiasan langka yang hanya ada di Menara Suci.
Saat itu, ia memberikannya pada cucunya sebelum mengasingkan diri. Awalnya ia bertanya pada gadis kecil itu apa ingin ikut dengan mereka atau tidak, gadis kecil itu justru memilih tidak ikut dan menerima ikat pinggang itu sebagai gantinya dan akan terus menyimpannya.
Sekarang, ia kembali melihat ikat pinggang yang ia berikan 7 tahun yang lalu yang menunjukkan bahwa kedua pemuda itu memang diutus oleh cucunya!
"Bagus! Ranran kita masih ingat rupanya. Ayo, antarkan pria tua ini padanya sekarang!" Pria itu langsung bersemangat setelah melihat pengakuan itu. Semakin lama, ia semakin tidak sabar bertemu cucunya yang manis.
"Baik." Pemuda itu tersenyum lega sambil mempersilahkan mereka jalan sedangkan ia dan pemuda kikuk itu mengawal di belakang.
Pemuda kikuk itu terperangah. Melihat betapa antusias pria menyeramkan itu, ia nyaris tidak percaya. Ia pikir pria itu akan mempertahankan sikap penindasannya, tapi siapa sangka akan berubah secepat itu hanya karena seutas tali pinggang.
Ia ingat, gadis tak bermoral itu membagikan barang berharga lainnya dari lengan baju untuk mereka berenam masing-masing sebagai tanpa pengenal. Itu dibagikan begitu saja tanpa berkedip seolah membagikan sembako! Ia tidak menyangka itu akan sangat berharga!
Mereka pergi ke salah satu penginapan untuk bertemu dengan yang lain dengan alasan perintah Nona Xie. Pasangan itu hanya mengiyakan selama itu atas nama Nona Xie, bahkan mereka tidak mempermasalahkan kebodohan apa pun asal atas nama Nona Xie.
Setelah masuk ke penginapan yang seluruhnya telah disewa, pasangan itu agak terkejut menemukan empat anak muda lainnya menyambut dengan sopan. Meski mereka masih muda, mereka memiliki aura luar biasa dan tidak tampak bodoh seperti yang dilihat barusan.
Mendengar bahwa mereka semua adalah teman-teman sekolah Nona Xie, pasangan itu menjadi lebih lega karena cucu mereka memiliki teman luar biasa yang dapat diandalkan. Itu membuat mereka semakin tidak sabar melihat perkembangan cucu mereka yang menurut mereka harus lebih luar biasa dari keenam anak muda ini.
Setelah melihat pasangan Klan Xie itu, salah satu gadis yang tidak lain adalah Mei Liena segera mengeluarkan kertas dan mengaitkannya ke burung merpati sebelum dilepaskan. Ia harap dapat sampai tepat waktu.
Karena Yan Yao dan Liu Chang telah mengantar pasangan itu, mereka istirahat sedangkan sisa lainnya hanya perlu menjaga. Zhong Xiaorong mengenalkan diri sebagai Putri Kesembilan sekaligus teman Xie Ran sambil berusaha akrab agar tidak menimbulkan kecurigaan. Mei Liena juga ikut serta setelah kembali dari mengirim surat merpati. Sedangkan Zhou Kui kebagian tugas mengurus harimau cilik yang cuek sampai ingin menangis.
Pei Xi tidak banyak bicara sejak awal. Ia hanya tersenyum ramah, dan menjawab ketika ditanya. Pikirannya tidak tenang, sedangkan pandangannya sering sekali melihat ke luar jendela seolah menunggu sesuatu.
Ia menunggu saat yang tepat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di dalam ruangan gelap dan lembab dipenuhi lumut serta debu, sesosok gadis tergeletak di atas tempat tidur kayu kecil dalam sebuah sel. Sel yang dikelilingi penjara besi dengan celah kecil.
Sedangkan gadis itu terbaring lemas dengan borgol besar serta rantai mengikat tangan dan kakinya sehingga tidak dapat bergerak bebas.
Matanya terbuka perlahan, melihat ruangan gelap dan hanya ada pencahayaan dari lubang ventilasi kecil di atasnya. Ia yakin ini di ruang bawah tanah dan ia tidak terkejut, apalagi ketika menyadari bahwa tangan dan kakinya diborgol.
Borgol yang digunakan bukan borgol sembarangan. Itu berfungsi menekan kekuatan spiritual seseorang sehingga sekuat apa pun seseorang akan menjadi sampah hanya karena terikat borgol.
Ia bergerak, menjauhi tempat tidur sambil merangkak ke sisi sel penjara. Beberapa saat setelahnya, seseorang dari luar sel datang membawakan makanan.
Pandangan orang itu kosong ketika di dekatnya sembari menyelipkan sebuah kertas di balik nampan sebelum akhirnya diberikan pada gadis itu dan pergi.
Gadis itu tetap tenang, melihat makanan di bawahnya dengan senyuman samar. Mereka melakukannya dengan baik, ia hanya perlu melanjutkan langkah selanjutnya.
Mengambil kertas tersebut dan membacanya, tidak ada reaksi apa pun seolah sudah mengantisipasi semua itu. Ia sudah terbaring beberapa hari di tempat ini, dalam keadaan terkunci dan tanpa mengatakan apa pun. Akhirnya ia memiliki kesempatan bergerak.
"Long Long, berapa persentase keberhasilanku melawannya?" Gadis yang tidak lain adalah Xie Ran itu bertanya pada roh naga di kesadarannya.
Long Long diam untuk beberapa saat sebelum menjawab, "Mungkin enam dari sepuluh."
Xie Ran mengangguk pelan. "Itu cukup."
"Akan lebih baik jika kamu menggunakan aura naga ketika melawannya," ujar Long Long. Ia merasa Huai Mao sangat kuat, akan sulit menghadapinya jika Xie Ran belum mencapai tingkat saint.
"Aku tahu." Xie Ran tetap tenang.
"Tapi jika tidak bisa, jangan dipaksakan. Bukankah pengawal Tuan Dewa bersamamu? Suruh mereka memanggil Tuan Dewa agar kemungkinan kemenangan bisa meningkat sempurna."
Long Long terperangah. Apa nona batu ini telah mulai membuka hati? "Kamu ingin bertarung di sisinya?"
Xie Ran diam untuk beberapa saat merasa serba salah dan berdecak sebal. "Aku yang harus berdiri di garis depan karena ini misiku. Karena Qu Xuanzi adalah orang yang memberiku misi, maka aku harus maju di garis depan, bukan yang harus dilindungi."
"Prinsip yang sangat baik, aku sangat senang mendengarnya." Long Long berkata dengan nada mengejek.
Xie Ran memutar bola mata mengabaikan ocehan itu. Ia duduk dalam diam sambil makan makanan yang disediakan untuk tahanan. Meski hambar, itu tetap bisa dimakan karena lapar.
"Apa kau tidak bertanya-tanya sedang apa dan di mana dia?" Long Long tiba-tiba mengoceh lagi, namun nadanya menjadi lembut tanpa ejekan membuat suasana hati Xie Ran berubah.
Xie Ran selama ini terlalu sibuk, baru sekarang ia cukup 'senggang' untuk meladeni ocehan Long Long. Tapi Long Long tidak sepenuhnya salah, ia mulai memikirkan apa yang baru saja dikatakan Long Long.
Sudah setengah bulan berlalu, atau bahkan bisa dibilang sudah sebulan. Entah kapan mereka akan bertemu lagi, tapi Xie Ran memiliki firasat mereka akan bertemu dalam waktu dekat. Jika itu benar, mungkin saja ketika ia sedang bersama kakek dan neneknya lalu mengenalkannya tanpa masalah Huai Mao.
Ia harap begitu. Berharap segalanya cepat selesai dan semua baik-baik saja.
Tidak lama setelah Xie Ran sadar dan memakan makanan dari penjara, para iblis berdatangan membukakan pintu penjara dan menyeret Xie Ran keluar.
Mereka membawa Xie Ran keluar dari penjara bawah tanah. Penampilannya yang penuh rantai disorot penghuni klan. Xie Ran terlihat miris dengan pakaian putih yang telah penuh debu. Namun tatapannya bukannya tanpa kehidupan, itu datar dan melihat tiap orang dengan kilatan tajam.
Tidak ada yang berani mendekat atau mengatakan apa pun. Sosok bodoh yang pernah mereka lihat sebelumnya kini telah berubah menjadi begitu menakutkan di mata mereka sehingga tidak berani menyinggung meski sudah tertangkap sekalipun.
Para iblis itu membawa Xie Ran ke aula utama. Di sana, semua tetua berkumpul, ada pula Xie Chen dan Xie Nu serta para murid utama klan. Huai Mao duduk di kursi ketua dengan anggun. Wajah cantiknya bersinar didukung pakaian hitam yang menambah kesan gelap dan misterius dalam dirinya.
Kedatangan Xie Ran yang diborgol membuat suasana menjadi lebih tegang. Bahu Xie Ran ditekan, dipaksa berlutut di depan singgasana ketua klan di mana Huai Mao berada.
Huai Mao menatap Xie Ran yang memandangnya dengan dingin. Ia tersenyum, sebelum akhirnya tertawa kecil melihat betapa menyedihkan Xie Ran di tangannya.
Dia yang membunuh Di Yushi? Membunuh Mo Shenxi dan Keluarga Tang? Karena gadis kecil itu sudah berada di tangannya, maka Xie Ran bukanlah apa-apa! Orang-orang itu terlalu lemah menangani gadis kecil yang belum dewasa ini.
"Xie Ran, bagaimana kabarmu?" Huai Mao menatap Xie Ran dengan mengejek. Ia telah bersandiwara sebagai ibu yang baik sebelumnya, tapi siapa sangka selama ini ia dibodohi oleh Xie Ran yang berpura-pura sebagai idiot. Benar-benar membuatnya kesal.
Xie Ran tidak menjawab, hanya menatapnya tanpa emosi seolah tidak ada hubungan dengannya. Sikap itu membuat Huai Mao agak kesal, tapi dia berhasil menekannya dengan senyuman cantik yang membuat siapa pun terpana.
"Kamu sudah tahu mengenai kepulangan kakekmu dari pengasingan, aku turut bahagia untukmu. Hanya saja, tanpa melihatmu, dia akan depresi. Aku sudah berbaik hati membawamu pulang, dan mencoba untuk membuatnya tidak mengkhawatirkan anak durhaka sepertimu. Akankah kau berterimakasih?"
Xie Ran tidak menjawab, justru menaikkan alis seolah mengatakan "untuk apa?" yang membuat banyak orang tidak senang. Hanya saja Huai Mao tidak terlalu mempedulikannya.
"Xie Ran oh Xie Ran, kamu memang berhati dingin." Huai Mao tersenyum miris. "Kali ini, aku mengundangmu ke sini untuk membicarakan sesuatu, sekaligus membawamu kembali ke Klan Xie secara 'resmi'. Kamu tahu, meski aku bukan ibu kandungmu, aku merawatmu selama 7 tahun semenjak kepergian ibumu yang malang. Jadi, aku tidak akan setega itu menyingkirkanmu hanya untuk keuntunganku sendiri."
"Apa itu yang ingin kamu bicarakan?" Xie Ran akhirnya bicara. Bibirnya tertarik membentuk senyum yang membuat semua orang di sana tertegun.
Senyum itu bukan senyum yang seharusnya mereka saksikan. Meski terikat rantai, mereka masih merasakan kengerian di dalam senyum itu. Itu sama seperti senyum yang dilontarkan Huai Mao membuat suasana menjadi lebih tegang seolah ada bubuk mesiu di bawah kaki mereka.
Huai Mao tetap tenang kemudian berdiri dari singgasana. Ia berjalan menghampiri Xie Ran perlahan tanpa melepas pandangan. Hingga akhirnya ia mengangkat tangannya, membuat liontin yang tersembunyi di balik pakaian Xie Ran terangkat, menunjukkan diri di udara.
"Barang yang bagus, aku ingat telah mengambil ini sebelumnya. Apa kamu yang membuat kekacauan di Pagoda Teratai dan menghancurkan segelku?"
Xie Ran memiringkan kepala, tidak menjawab, namun kebenarannya sudah pasti bahwa ia yang melakukannya. Itu tidak perlu dipertanyakan lagi.
"Kamu memang memiliki kemampuan." Huai Mao tidak pelit dalam memuji, kemudian rautnya menjadi cemberut setelah mencari aura yang ingin dicarinya. "Aku sangat ingat ada seseorang di dalam sana. Meski saat itu aku tidak mengenalinya, aku sangat yakin itu dia."
"Kau ingin bertanya di mana dia?" Xie Ran tahu maksud Huai Mao adalah Qu Xuanzi. Sangat disayangkan pria itu sedang di luar. Xie Ran melanjutkan, "Sayangnya, meski kamu bertanya di mana dia, aku juga tidak bisa menjawab karena tidak tahu. Meski aku tahu, aku juga tidak akan menjawabnya."
"Aku tidak menuntut." Huai Mao tersenyum miring lalu menarik liontin itu ke genggamannya. "Ada sisa auranya di sini, aku ingat jelas itu adalah aura yang sama pada Xie Yun kemudian pindah padamu 7 tahun yang lalu sehingga aku tidak bisa membunuhmu. Awalnya aku bertanya-tanya, aku bisa membunuhmu di danau saat itu tapi tiba-tiba ketika aku kembali dengan Chen'er, aku tidak bisa membunuhmu."
Xie Ran mengerutkan kening. Apa ia pernah bertemu Huai Mao sebelum ulang tahunnya yang ke-10?
"Hal yang sangat disesali bagiku, seharusnya aku memastikan kematianmu saat itu sebelum Wen Xi datang. Saat itu, kau hanya anak bodoh yang sedang merajuk, hanya dengan sedikit sentuhan saja sudah akan mati. Setelah hari itu, aku pikir kau telah banyak mengalami perubahan seolah itu bukan dirimu."
Xie Ran terdiam memikirkan hari di mana ia tenggelam. Ia tidak memiliki ingatan bahwa ia telah bertemu Huai Mao sehingga ia pikir 'Xie Ran' dulu jatuh ke danau karena ceroboh sebelum ia datang ke tubuh ini. Tapi ia tidak pernah menyangka, Xie Ran yang asli sebenarnya mati dibunuh, bukan kecelakaan. Dan orang yang membunuhnya adalah Huai Mao!
"Kenapa kau memberitahuku?" Xie Ran menutupi keterkejutannya dan menatap Huai Mao dengan senyuman dalam.
"Hanya sedikit mengenang pertemuan pertama kita. Bukankah itu terlalu berkesan?" Huai Mao tertawa geli merasakan rasa kesal dalam diri Xie Ran. "Kau tahu? Ketika jatuh, kau bahkan tidak sempat berteriak, hanya diam seperti batu yang tenggelam dan semakin jauh. Mengingat itu, kau sangat mirip dengan ibumu. Bahkan sampai mati, ibumu masih diam seperti patung di atas tempat tidur tanpa memohon belas kasih atau mengatakan hal lain yang menyenangkan. Kalian sangat membosankan."
Xie Ran mencoba menekan emosi dalam hatinya, senyumnya tetap ada dan semakin terlihat dipaksakan. Ia tertawa kecil seraya menatap Huai Mao dengan kilatan kebencian. "Kau sangat bersenang-senang."
"Benar, kalian keluarga tiga orang sangat mirip. Namun, ketika kematian Xie Yun, kau ingin tahu apa yang berusaha ia katakan?" tanya Huai Mao, sama sekali mengabaikan emosi Xie Ran yang semakin terguncang. "Dia mengatakan, untuk membiarkanmu hidup. Dia sudah tahu identitasku ketika hipnotis berakhir, tapi dia mati lebih cepat. Kalau dipikir-pikir, aku termasuk sudah membayar wasiatnya dengan baik dengan tidak membunuhmu. Berterimakasihlah pada ayahmu yang baik."
Huai Mao tertawa memikirkan betapa lucu hari itu baginya. Ia melihat Xie Ran yang menurunkan pandangan, terlihat sangat menyedihkan. Ia merasa terhibur.
"Xie Ran, aku sangat iri padamu," kata Huai Mao tersenyum kecut, kemudian kembali duduk di singgasananya. "Sejak kecil, kamu dipenuhi cinta keluarga yang bahkan rela mati demimu. Seharusnya kamu bersyukur. Sangat berbeda denganku. Ketika dilahirkan, tidak ada yang namanya keluarga. Aku harus bertahan hidup sendiri dari perburuan hewan iblis selama ribuan tahun hingga tiba di Istana Dunia Bawah." Kemudian ia memandang liontin di tangannya dengan raut rumit. "Jika dia tidak datang, tanpa sengaja menyelamatkanku dari kejaran, aku sudah mati berkali-kali. Bahkan setelah mengetahui bahwa aku adalah penyusup istana langit, dia masih membiarkanku pergi."
Huai Mao tersenyum kecut. Andai saja dia berani mengungkap identitas ketika Qu Xuanzi masih bersembunyi di gua, dia tidak akan seperti ini. Meski pria itu terlihat tidak peduli dan sangat dingin, pria itu masih membiarkannya pergi ketika ketahuan menyelinap masuk ke istana langit. Meski pada akhirnya dia diusir, setidaknya pria itu tidak membunuhnya.
Huai Mao yakin, pria itu masih mengingatnya dan dia memiliki secercah harapan untuk diakui. Ia tidak percaya ucapan terakhir pria itu bahwa dia tidak akan memiliki kesempatan jika melakukan hal yang sama. Dia adalah temannya selama di Dunia Bawah, pria itu yang memberinya nama dan memberinya kesempatan hidup.
Baik Kaisar Iblis maupun Kaisar Langit, mereka adalah orang yang sama yang memberinya nama. Ia tidak akan memberikan mereka pada siapa pun, termasuk Xie Ran!
Suara tawa tiba-tiba pecah begitu geli tanpa bisa berhenti, seolah yang didengarnya hanya lelucon. Pandangan mereka semua terarah pada Xie Ran yang tertawa sambil melihat Huai Mao, seolah meluhat lelucon luar biasa yang membuat tawanya tidak bisa berhenti.
Wajah Huai Mao menjadi sangat gelap. Ia meletakkan liontin ke atas kursi yang ia duduki kemudian berdiri. Kabut ungu melintas begitu cepat dari tangannya, meluncur ke arah Xie Ran mengelilingi tubuhnya.
Tawa Xie Ran terhenti, ia melihat dirinya sendiri diliputi kabut ungu mengerikan dan penuh tekanan hingga seluruh tubuhnya tidak nyaman. Ia menatap Huai Mao penuh provokasi tanpa kenal takut.
"Hanya itu yang bisa kau lakukan?" Xie Ran bicara dengan nada menantang. Ia terkekeh kecil kemudian melirik ke arah Xie Nu. "Adik kecil, apa kamu akan membiarkan ibumu mengurusku lebih darimu?"
Xie Nu mengepalkan tinju dan akan maju menentang Xie Ran, namun para tetua langsung menghentikannya hingga ia hanya bisa diam.
"Xie Ran, kamu tenang saja, aku akan mengurusmu dengan baik. Karena pembicaraan kita telah selesai, maka aku akan 'mengundang secara resmi' kembali ke Klan Xie."
Tepat ketika suara Huai Mao jatuh ke telinga semua orang, kabut hitam itu merasuki tubuh Xie Ran sedikit demi sedikit hingga suara erangan sakit keluar dari mulut Xie Ran disertai darah yang keluar dari sudut mulutnya.