The Emperor God Wife Is Naughty

The Emperor God Wife Is Naughty
193. Deja Vu



Xie Ruo berjalan di tengah kegelapan seorang diri, mencari jalan keluar dalam diam. Pandangannya berkeliling, dipenuhi kebingungan.


Gelap dan sunyi yang membuat frustrasi, Xie Ruo bertahan di dalamnya sampai akhirnya beberapa sosok muncul beberapa meter jauhnya. Salah satu di antara mereka adalah Xie Ran.


Xie Ran tersenyum, kedua tangannya menggenggam erat dua sosok yang dikenal Xie Ruo. Sosok yang selama ini Xie Ruo rindukan, namun hanya bisa melihat mereka dalam waktu singkat dan berakhir dalam akhir menyedihkan.


"Ayah ... Ibu ...." Xie Ruo ingin menghampiri, namun penghalang tak terlihat menghalangi jalannya seperti kaca transparan yang tidak bisa dihancurkan.


"Xie Ruo, percuma saja," kata Xie Ran. Senyumnya melebar sambil melihat kedua orang tuanya yang di sisinya. "Sudah kukatakan, kau akan menyesal."


Tepat setelah Xie Ran mengatakannya, dua sosok lain muncul di belakang. Sosok yang sangat dikenali Xie Ruo. Rambut putih dan raut berkeriput itu tidak berubah, menambah rasa karinduan Xie Ruo.


Hanya saja, kenapa mereka ada di sana?


"Kakek, Nenek, kenapa kalian di sana?"


Ia bisa membiarkan jika ayah dan ibunya pergi karena mereka memang susah tiada, tapi tidak dengan nenek dan kakeknya. Ia harus menghancurkan penghalang ini secepatnya.


"Jika kamu mau ikut, aku bisa membantu." Xie Ran tetap pada senyum menawannya, melihat Xie Ruo yang terus berusaha menghancurkan penghalang.


"Xie Ran, kembalikan mereka." Xie Ruo menatap wanita itu dengan tajam.


"Di dunia ini hanya ada kalah dan menang. Kau tepat waktu, maka kamu menang. Terlambat, maka kalah." Xie Ruo berbalik diikuti dua pasangan di belakangnya, menjauh dari pandangan Xie Ruo.


"Jangan ...." Xie Ruo memukul penghalang dengan keras berkali-kali. Ia mengeluarkan sihir di tangannya dan merusak pembatas secara paksa.


Retakan muncul disertai sinar perak, Xie Ruo mengangkat kaki dan menendangnya dengan keras. Penghalang hancur seperti kaca pecah, meloloskan Xie Ruo dari penghalang untuk mengejar mereka.


Ia hanya tidak ingin kakek dan neneknya mengikuti mereka. Kakek dan neneknya masih hidup, tidak boleh terjadi sesuatu.


Fokusnya terpacu pada lima sosok yang semakin menjauh. Tangan Xie Ruo berusaha meraih, berharap dapar menarik mereka, namun semakin kama jaraknya terasa semakin jauh tiap kali ia berlari.


Hingga akhirnya ayah dan ibunya menghilang dalam kegelapan seolah memasuki sesuatu. Xie Ran berbalik menatapnya dengan senyuman, sebelum akhirnya membawa pasangan paruh baya itu pergi. Tatapan mereka penuh kesedihan ketika melihat ke belakang, sebelum lenyap dalam kegelapan.


"Tidak!" Xie Ruo mempercepat langkahnya dan akan masuk ke dalam kegelapan, namun seseorang menarik salah satu lengannya disertai suara seseorang yang memanggilnya.


Xie Ruo tidak mendengar apa pun, tapi ia merasa tubuhnya melayang dan jatuh ke pelukan seseorang. Pada saat yang sama, ia keluar dari kegelapan.


"Aku di sini, jangan takut." Qu Xuanzi memeluknya dengan erat. Ia dapat merasakan, tubuh wanitanya bergetar hebat penuh rasa takut.


"Apa yang terjadi?" Xie Ruo bingung. Tiba-tiba saja ia sudah ada di ruangan lain. Ia baru ingat bahwa seharusnya ia memang ada di sini, kamarnya di istana kekaisaran.


"Seseorang mengendalikan pikiranmu," balas Qu Xuanzi. Ia sangat terkejut ketika kembali dan melihat Xie Ruo yang akan melompat dari jendela dalam keadaan gelisah. Menara ini sangat tinggi, ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika terlambat sedikit saja. "Tenang saja, selama ada aku, tidak ada yang bisa menyakitimu."


"Sihir pesona, dia meletakkannya di mawar hitam," gumam Xie Ruo. Ia sadar akan satu hal, seseorang menanamkan sihir pesona ke dalam pikirannya dengan penuh perencanaan. Dengan begini, ia akan dipenuhi delusi, tidak bisa membedakan kenyataan dan ilusi.


Hal yang membuat Xie Ruo ragu, buku sihir pesona masih ada padanya, bagaimana bisa jatuh ke tangan musuh? Apalagi di dalam sana menampakkan Xie Ran dan keluarganya.


Qu Xuanzi mengangkat tubuh Xie Ruo yang kaku dan dipenuhi rasa takut. Ia mengecup keningnya, lalu berkata, "Jangan pikirkan hal rumit, istirahatlah."


Qu Xuanzi tidak ingin Xie Ruo sampai stress memikirkan hal itu. Xie Ruo dapat dengan mudah terkena serangan sihir pesona karena emosinya yang tidak stabil dan penuh pikiran. Dewa Iblis sengaja membuatnya emosi, agar efektifitas sihir pesona dapat bekerja maksimal.


Hanya saja, apa tujuannya? Dewa Iblis tidak akan terburu-buru membunuh Xie Ruo karena masih membutuhkan energi murni. Pasti ada motif lain.


Pada akhirnya Xie Ruo mengangguk patuh. Ia bersandar di dada bidang Qu Xuanzi, selagi pria itu pergi ke tempat tidur. Xie Ruo masih tidak mau melepas pelukan meski sudah dibaringkan, karena itu hanya akan membuatnya sangat takut.


"Tidurlah, aku bersamamu." Qu Xuanzi mengusap kepala Xie Ruo dengan lembut, sambil memeluknya hangat.


Seseorang berani melakukan sesuatu pada Xie Ruo, Qu Xuanzi akan mencarinya. Ia tahu, orang yang melakukan itu bukanlah Dewa Iblis, melainkan orang lain yang awalnya terlalu malas untuk diperhatikan. Orang itu hanya bisa menyalahkan diri sendiri karena telah menyinggung orang yang salah.


"Aku tidak tahu berapa banyak lagi orang yang mengincarku. Ketika kelemahanku terungkap, aku takut mereka akan memanfaatkannya." Xie Ruo menghela napas. Ini bukan hanya dalam lingkup sebatas keluarganya saja. Sekarang, kehamilannya juga merupakan kelemahan yang lebih terlihat. Ia terlalu takut.


"Sebelumnya ada yang ingin mencelakaimu juga?"


"Hanya seorang pelayan yang salah paham, menggunakan trik kecil untuk membuatku marah. Tidak perlu dipikirkan." Xie Ruo penasaran, apa Kaisar Iblis sudah membunuh Xu Ziyan? Sebenarnya ia lebih suka jika Xu Ziyan mati lebih cepat, karena rahasia kehamilannya ada pada wanita itu. Akan bahaya jika terumbar.


"Meski hanya pelayan, dia tidak pantas hidup." Qu Xuanzi sudah berniat mencari pelayan itu dan membunuhnya. Awas saja kalau sampai ketemu dalam keadaan hidup.


Memang, Qu Xuanzi dan Kaisar Iblis pada dasarnya tidak jauh berbeda.


"Apa kamu akan pergi lagi?" tanya Xie Ruo. Qu Xuanzi sibuk, mana ada banyak waktu untuk selalu bersamanya setiap saat.


"Tidak," jawab Qu Xuanzi. Ia tidak ingin jauh dari Xie Ruo lagi. Bagaimana jika terjadi sesuatu tidak diinginkan? Meski Xie Ruo kuat, tapi bagaimana jika kejadian seperti tadi terulang?


"Tidak mungkin kau terus bersamaku, kau itu bukan pengangguran." Xie Ruo juga bukan pengangguran.


"Aku bisa menjadi pengangguran dan terus bersamamu," balas Qu Xuanzi dengan jelas. Toh, ia sudah menyerahkan semuanya pada Huo Yuzheng, murid kedua Xie Ruo. "Aku berencana membawamu kembali ke Dunia Atas."


Xie Ruo mengangguk. Setidaknya, Dunia Atas lebih baik daripada terkurung di menara sendirian. "Aku menunggunya."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Matahari di bawah musim salju bersinar. Pagi-pagi sekali, Xie Ruo sudah minta makan puding beras. Beruntung koki istana kekaisaran biasa membuatnya sehingga tidak perlu begitu repot.


Keberadaan Qu Xuanzi terasa samar di antara para pelayan, mereka tidak melihat pria itu di mana-mana namun merasakan keberadaan yang sangat kuat. Di sisi lain, Xie Ruo selalu bersama Qu Xuanzi di mana pun ia berada. Qu Xuanzi memiliki cara tersendiri sehingga hanya Xie Ruo yang dapat melihatnya.


Qu Xuanzi mencari waktu yang tepat untuk membawa Xie Ruo pergi, karena tidak ingin siapa pun mempertanyakan keberadaan Xie Ruo ketika tiba-tiba menghilang. Itu sebabnya, ia harus sedikit menunggu.


Karena kelas telah tiba, Xie Ruo dengan setengah hati mengikuti kegiatan. Qu Xuanzi masih mengikutinya seperti hantu, dan menunggu di sisi ruangan sambil bersandar memperhatikan.


Kali ini, Guru Negara Ming memberi materi mengenai pergaulan kelas atas dan pengaruh-pengaruhnya. Xie Ruo terlalu malas mendengarkan karena menurutnya sangat tidak penting. Memangnya ia akan tinggal di sini? Memangnya ia akan menikah lagi?


Xie Ruo hanya memainkan kuas dengan jarinya, asik sendiri tanpa memperhatikan. Masalah pergaulan kelas atas, ia sudah paham kok. Di kehidupan lampau, ia pernah mengikuti pergaulan kelas atas yang terdiri dari ibu-ibu pejabat dan istri pengusaha. Meski ia hanya sekadar lewat untuk menyapa seperti bocah ingusan, ia tetap tahu apa saja yang diperbincangkan karena dibutuhkan untuk mendapat informasi. Pada akhirnya, ia juga tidak telalu peduli.


"Apa aku perlu melakukan sesuatu agar kau bisa keluar kelas?" Qu Xuanzi tidak tega melihat Xie Ruo yang tampak frustrasi di matanya.


"Tidak perlu." Xie Ruo langsung menolak dengan suara berbisik. "Jika kau bertindak, aku hanya akan merasa kasihan pada pak tua."


"Yang Mulia, apa yang kamu lakuan?" Guru Negara Ming tiba-tiba menyadari Xie Ruo bertingkah semakin aneh. Kini ia justru melihat Xie Ruo yang menolehkan kepala ke arah lain seolah sedan bicara dengan seseorang.


Xie Ruo melakukan gerakan pemanasan dengan cara memutar pinggangnya 90° beberapa kali sehingga terlihat aneh di mata Guru Negara Ming. Wanita itu hanya beralasan.


"Kalau begitu, bagaimana pendapatmu mengenai pesta teratai yang diadakan oleh Selir Su dalam rangka penghormatan terhadap leluhur?" Guru Negara Ming mengujinya. Selir Su adalah selir dari kakek kaisar. Meski sudah sangat lama, pesta itu sangat ikonik dalam sejarah sebelum Selir Su menjadi Ibu Suri. Xie Ruo yang pemalas pasti tidak tahu.


Tapi sayangnya, Xie Ruo tahu semua itu. Meski ia tidak peduli, ia pernah membacanya dari arsip lengkap dengan tanggal dan sampai kapan pesta diadakan dengan mengundang banyak bangsawan wanita muda. Omong-omong, Wen Xi juga pernah datang untuk sesekali untuk debutnya di kalangan atas.


Xie Ruo dengan enteng menjawab, "Pesta Selir Su, tidak berjalan sebagaimana mestinya karena kedatangan ibuku, apa aku harus mengatakan mengenai hal ini? Kaisar terdahulu menyukai ibuku, pesta itu berakhir dengan ibuku yang mengunuskan pedang, melambungkan reputasi Klan Xie ke tahap mengerikan. Bukankah seperti itu? Omong-omong, hari itu adalah hari yang memalukan untuk Selir Su karena pusat perhatiannya telah dicuri."


Guru Negara Ming terdiam. Bagaimana ia bisa melupakam detail satu ini? Awalnya ia hanya ingin menjebak Xie Ruo dengan pesta teratai yang sejarahnya diubah, tapi siapa sangka Xie Ruo membeberkan rahasianya. Apa Klan Xie memberitahunya?


Guru Negara Ming tidak mau kalah dan mencoba menekan Xie Ruo. "Itu adalah sebagian dari rumor, apa Yang Mulia akan dengan mudahnya percaya? Kalau begitu, aku ingin bertanya, bagaimana dengan Pesta Selir Su?"


"Tentu saja terlalu boros, itu yang membuat ibuku membuat kekacauan tanpa disengaja. Hanya karena beberapa nona bangsawan, masalah menjadi ruyam. Anggaran istana mengalami penurunan drastis hanya karena sebuah pesta mewah yang hancur. Bukannya meningkatkan reputasi kekaisaran, malah membuat kekaisaran diambang bangkrut. Apalagi saat itu masalah ekonomi sedang krisis, istana lain menekan kekaisaran sehingga harus memperjuangkan negara lebih baik. Seharusnya, Selir Su bisa berkaca untuk tidak menggunakan anggaran istana berlebihan. Jangan karena dia yang memegang kendali harem, bertindak semaunya dan menghabiskan uang dengan sia-sia."


"Kamu ...." Guru Negara Ming hampir muntah darah mendengar keluh kesah Xie Ruo yang secara terang-terangan mengkritik Ibu Suri Kaisar. Ini benar-benar .... "Apa kamu tahu siapa Selir Su? Kenapa kamu bicara sembarangan?"


"Tentu saja tahu, bukankah Selir Su adalah Ibu Suri? Wanita yang mengasuh Kaisar dengan 'sepenuh hati' namun mati dengan cara menyedihkan setelah kaisar naik tahta?"


Guru Negara Ming sangat terkejut akan ucapan Xie Ruo. Sungguh, dari mana wanita itu mengetahui sejarah yang selama ini ditutupi dengan sempurna? Apa karena Putri Kesembilan?


"Intinya, tidak baik bagi seseorang menggunakan terlalu banyak anggaran untuk pesta mewah yang tidak sda artinya. Meski itu adalah ajang pemilihan bakat dan perjodohan, tetap saja tidak boleh terlalu mewah, apalagi ketika rakyat sedang sengsara. Bayangkan saja, rakyat di luar sana kelaparan sedangkan bangsawan berpesta secara meriah dan mewah, apa yang akan dipikirkan rakyat? Pada akhirnya, reputasi keluarga kerajaan akan hancur hanya karena satu orang. Oleh karena itu, aku sarankan untuk menghembat uang istana, memberi anggaran pada pangeran dan putri secara normal untuk mengajarkan mereka berhemat agar tidak menyesal di kemudian hari. Uang sebanyak itu, akan lebih bagus jika digunakan untuk membeli makanan enak." Memikirkan makanan, Xie Ruo jadi lapar. Ia ingin susu pisang.


Guru Negara Ming merasa gelagapan berhadapan dengan opini Xie Ruo yang di luar topik. Kenapa tiba-tiba membicarakan anggaran harem?


Tapi meski begitu, Guru Negara Ming tetap harus memihak Ibu Suri sebagai ibu Kaisar. Wanita di depannya benar-benar tidak beretika dan harus diberi pelajaran.


Qu Xuanzi yang bersandar di sisi ruangan hanya tersenyum. Ruoruo-nya sangat tahu cara menekan seseorang dengan kata-kata. Secara tidak langsung, Xie Ruo sedang menyindir semua pejabat negara.


"Jika anggaran istana harem dikurangi, para pangeran dan putri akan keberatan. Selama ini kehidupan mereka tidak kekurangan, bagaimana jika hal ini menyebabkan mereka kekurangan dan melakukan protes besar-besaran?"


"Biarlah mereka membangun bisnis sendiri, itung-itung untuk menguji kreativitas. Bukan hanya tahu meminta dan membuang uang tanpa usaha. Itu sebabnya, harus ada edukasi mengenai bisnis dan peluang-peluang usaha lainnya, bukan hanya mengajarkan sastra dan seni. Ada sangat banyak pekerjaan di dunia, seperti dokter atau tabib, guru, penempa, agen rahasia, berburu, pengusaha, berjualan, penakluk hewan buas, dan lainnya. Jadi, pangeran dan putri tidak hanya mementingkan tahta saja, tapi hidup dengan produktif dan bermanfaat untuk semua orang. Kalau tidak mau, bunuh diri saja daripada boros oksigen." Seperti Xie Ruo contohnya.


Sudut mata Guru Negara Ming berkedut. Ia tidak pernah mendengar seseorang berani mengatakan hal seperti itu tentang keluarga kekaisaran. Bahkan ... menyuruh mereka bunuh diri!


Guru Negara Ming terbatuk untuk mencairkan suasana. "Yang Mulia, ini sudah di luar topik."


"Sama sekali tidak, bukankah kita sedang membicarakan pergaulan kelas atas? Pergaulan kelas atas yang sehat adalah hal terbaik, bukan mengadakan pesta tidak jelas untuk menjadikan banyak wanita sebagai pel*cur dan haus kekuasaan."


"Yang Mulia, ini sudah kelewat batas!" Guru Negara Ming hampir pingsan akan ucapan Xie Ruo yang terlalu lancar tanpa rasa bersalah. Sungguh, ia tidak akan bertanya apa pun lagi pada wanita itu kedepannya. Berani-beraninya Xie Ruo berkata bahwa pesta yang diadakan bangsawan membuat seseorang menjadi pel*cur dan haus kekuasaan! Omongannya sangat keterlaluan dan kotor!


"Apa aku ada salah bicara? Kalau begitu, maaf." Xie Ruo tidak tahu di mana kesalahannya, tapi sepertinya ucapannya sangat menyinggung pak tua malang ini. Sebagai pendukung Ibu Suri yang mencintai kekayaan, wajar saja jika pak tua frustrasi. Tapi ia hanya meluruskan apa yang seharusnya diluruskan. Bukan salahnya.


"Kalau begitu, Yang Mulia, kamu ingin membuat seluruh istana berhemat?"


Xie Ruo mengangguk. "Tidak hemat, tidak kaya. Aku juga seperti itu, apa yang salah?"


Toh, pejabat sudah terlalu kaya. Apa susahnya sedikit berhemat? Mereka masih bisa makan enak, tidak seperti rakyat jelata dan tunawisma. Cara itu sama sekaki tidak kejam, justru mengajarkan mereka untuk membangun kepedulian dan meningkatkan reputasi kekaisaran di mata rakyat.


"Kalau kau takut ada yang korupsi karena tidak puas akan pendapatan, bunuh saja orangnya. Daripada kekaisaran bangkrut karena satu orang."


"Yang Mulia, ini bukan sikap seorang permaisuri tapi pejabat pengadilan."


"Jadi maksudmu aku kasar dan kejam?" Xie Ruo memandangnya dengan sinis.


"Bukan begitu. Pejabat pengadilan mengedepankan keadilan dibandingkan kepentingan pribadi, itulah sifat Yang Mulia." Guru Negara Ming merasa ingin menghilang sekarang juga.


"Nona Kedua Xie bukan sekadar pejabat pengadilan, melainkan seorang dewi yang pantas dikagumi."


Zhong Guofeng tiba-tiba muncul dengan suara tegasnya mengejutkan Guru Negara Ming. Guru Negara Ming secara spontan berlutut, merasa lega ketika Kaisar datang. Ini sama saja menyelamatkannya dari wanita tak bermoral itu.


"Kenapa kau di sini? Aku tidak menyambut." Xie Ruo berkata dengan dingin.


Zhong Guofeng melihat Xie Ruo untuk beberapa saat, kemudian tersenyum. "Tentu saja untuk bertemu dengan calon istriku, apa salah?"


Salah! Sangat salah! Xie Ruo merasa sangat ingin membikap mulut menyebalkan itu agar tidak mengundang banyak masalah. Sungguh, ia sudah dapat merasakan suasana hati Qu Xuanzi yang memburuk.


Xie Ruo mencium bau ombak cuka ... juga bubuk mesiu.


"Nona Kedua Xie, apa tidak senang aku menyanjungmu sebagai dewi? Menurutku, Nona sangat masuk akal. Sudah saatnya orang-orang istana berhemat, melupakan gaya hidup glamor dan pamer, mulai memfokuskan diri dalam mengembangkan negara melalui rakyat dan mensejahterakan rakyat. Untuk pengkhianat negara, memang sudah seharusnya tidak dibiarkan hidup. Mereka hanya sampah yang boros oksigen." Kemudian pandangan Zhong Guofeng teralih pada Guru Negara Ming. "Guru Negara Ming, tidak mungkin termasuk pengkhianat negara yang kotor. Pasti Guru juga setuju, 'kan?"


Guru Negara Ming sangat tertekan. Ia mengangguk secara paksa, mengiyakan semua ucapan Zhong Guofeng. Ia tidak boleh menyinggung kaisar satu ini.


"Kalau begitu, kau sudah tahu apa yang harus dilakukan." Zhong Guofeng menurunkan senyumnya.


Guru Negara Ming cepat-cepat bangkit dan pergi setelah memberi hormat. Ia tidak bisa menanggung resiko menyinggung anggota kekaisaran, khususnya Zhong Guofeng. Ia masih sayang nyawa.


Zhong Guofeng menghampiri Xie Ruo, dengan senyum yang mengembang sempurna. "Apa aku sudah cukup membantu?"


"Maaf, tapi tidak perlu."


"Aku ingat siapa yang menipuku kemarin agar aku dapat membebaskanmu, kau pikir aku tidak tahu trik kecilmu?" Zhong Guofeng mengangkat tangannya untuk menyentuh wajah Xie Ruo, namun Xie Ruo langsung pergi ke arah lain.


Lebih tepatnya, pergi ke arah Qu Xuanzi agar pria itu tidak melemparkan sihir ke arah Zhong Guofeng. Itu akan menciptakan keributan.


"Karena kau sudah tahu, maka pergilah." Xie Ruo harus cepat mengusir Zhong Guofeng sebelum terjadi kributan.


Zhong Guofeng terkekeh sambil menghampiri Xie Ruo. "Bagaimana jika aku tidak mau? Ruoruo, kau sangat jahat tidak membiarkanku bertemu dengan anakku sendiri."


Ia mengangkat tangannya hendak menarik lengan Xie Ruo, namun tiba-tiba lengan Xie Ruo diambil terlebih dahulu oleh seseorang yang mendadak muncul. Pegangan yang posesif, sampai menempatkan Xie Ruo di belakangnya dan berhadapan langsung dengan Zhong Guofeng. Qu Xuanzi tidak bisa menolelir orang lain menyentuh Xie Ruo, termasuk kloningnya sendiri.


"Wah, ternyata ada Yang Mulia Kaisar Langit, senang berjumpa denganmu." Zhong Guofeng menyapa dengan senyum menjengkelkan itu.


Namun sambutan Qu Xuanzi, hanya sekadar tatapan dingin serta sebuah kata, "Omong kosong."


Xie Ruo mengintip dari punggung Qu Xuanzi. Lagi-lagi ia merasa deja vu.


Ia ingat, hal ini pernah terjadi di lokasi yang sama. Xie Ruo merasa kembali ke masa lalu.