
Dalam ruang VIP rumah makan yang sudah dipesan, beberapa pemuda mengalami kesunyian disertai suasana tegang yang menyelimuti mereka.
Aura dingin tak tertahankan ini membuat beberapa dari mereka tidak nyaman, namun seorang gadis dengan tidak tahu malunya mengunyah makanan dengan senang hati seolah dunia ini adalah miliknya.
Xie Ran melihat teman-temannya yang begitu sepi. Melihat ke kanan dan kiri, tidak ada yang memulai pembicaraan atau candaan seperti biasanya.
Di sisinya, terdapat Qu Xuanzi dengan raut dinginnya yang membuat semua orang menenggelamkan leher ketika melihatnya namun begitu matanya melihat Xie Ran yang mulutnya mengembung, aura dingin itu menghilang digantikan kehangatan untuk satu sisi. Tapi tetap saja tidak melepas suasana dingin dalam ruangan.
Di ujung meja sisi Xie Ran, terdapat Zhong Guofeng yang memiliki raut masam disertai wajah dingin yang tidak bisa ditebak. Melihat Qu Xuanzi yang begitu dekat dengan Xie Ran, dia menggerutu dalam hati dan mengutuk pria itu. Dia kaisar, tapi ditekan pria misterius ini! Di mana harga dirinya!
Xie Ran yang terbiasa mendengar teman-temannya mengoceh sepanjang makan, merasa tidak nyaman akan keheningan yang aneh ini. Terlalu aneh dan canggung.
Xie Ran terbatuk sekilas dan melihat teman-temannya berusaha mencairkan suasana. "Meski aku tidak tahu apa masalah yang kalian hadapi hari ini, aku ingin mengatakan sesuatu. Besok aku akan menantang Tang Yueha"
"Tang Yueha!" Liu Chang bereaksi terlebih dahulu. Dia ingat betapa mengerikan pertarungan Tang Yueha. Dia pernah dipukuli gadis itu sampai babak belur dan tidak bisa turun ranjang. Itupun ketika Tang Yueha masih murid baru. Sekarang kekuatannya lebih mengerikan!
Melihat semua mata terarah padanya terkecuali dua pria dingin itu, Liu Chang mengatupkan mulutnya rapat-rapat.
"Xiao Ran bisa mengalahkan Xie Chen sebelumnya, aku percaya!" Zhong Xiaorong di hadapan Xie Ran memiliki kepercayaan penuh. Dia tersenyum pada Xie Ran kemudian melihat Zhong Guofeng di sebelahnya yang terlihat memperhatikan Xie Ran. Dia mengerutkan kening.
"Tang Yueha... Meski dia tidak sehebat Pei Xi, tidak ada yang bisa meremehkannya. Bahkan aku berharap dia tidak menantangku besok." Yan Yao memberi penilaian.
Zhong Xiaorong mendengus. "Hanya seseorang yang hanya tahu cara menarik perhatian, apa perlu diwaspadai? Kakak pertama, andai kau datang ketika pesta kakak kedua dan melihat bagaimana wajah Tang Yueha ketika melihat Xiao Ran dan melihat bagaimana dia ingin memikatmu."
"Kenapa jadi Yang mulia?" Zhou Kui mengerutkan kening.
"Kamu tidak mengerti wanita. Dari yang kulihat, Tang Yueha berusaha membuat keberadaannya diakui oleh kakak pertama."
"Kau sangat membencinya."
"Aku selalu membenci orang munafik."
"Apa begitu sifatmu sebagai putri, Putri kesembilan?" Zhong Guofeng berbisik pada adiknya dengan sorot tajam. Sebenarnya adiknya tidak mempedulikan keberadaannya?
Zhong Xiaorong mengerucutkan bibirnya. "Ini bukan Istanamu."
"Aku pikir seharusnya aku tidak mengatakannya," gumam Xie Ran diam-diam. Hubungan adik-kakak itu tidak sebagus seperti yang dipikirkan. Dia hanya diam memakan makanannya.
"Xiao Ran, aku dan Pei Xi akan pergi mengambil misi di Lembah Tianyun. Tidak bisa melihat pertandingan mu." Yan Yao mengumumkan.
Mendengar itu, mata Xie Ran cerah kembali. "Lembah Tianyun? Bawakan aku beberapa bijih logam dari sana, jangan lupa!" Dengar-dengar Lembah Tianyun memiliki banyak harta berupa tanaman langka dan bijih logam langka, tidak banyak yang bisa masuk karena pengaruh akademi sekaligus bahayanya.
"Bijih logam lagi?" Zhou Kui heran.
"Belakangan ini Xiao Ran menumpuk bijih logam di kamarnya, entah untuk apa. Dia mengatakan tumpukan bijih logam di kamarnya yang tersisa hanya sampah. Hari ini dia membeli lebih banyak lagi." Mei Liena jelas masih tidak mengerti jalan pikir Xie Ran.
"Kau akan menempa?" Yan Yao terkejut.
"Hanya membuat senjata spiritual. Apa salah?" Xie Ran merasa perkataannya tidak salah dan tidak perlu dipikirkan. Dia hanya ingin mengisi perutnya.
"Senjata spiritual!" Keenamnya ikut terkejut akan perkataan Xie Ran.
Xie Ran mendesis dan mengibaskan tangannya. "Tidak perlu heboh seperti itu, aku masih belajar dan masih sering gagal. Semua logam di kamarku hanya senjata gagal dan bijih logam yang tidak berguna."
"Xiao Ran, berapa banyak kau membuang sumber daya!" Liu Chang merasa hatinya berdarah memikirkannya.
"Aku yang bayar, bukan kalian." Xie Ran merasa tindakannya tidak salah. Dia punya uang dan dapat membeli lebih banyak. Jika dia memiliki bijih logam yang lebih bagus, keberhasilannya akan meningkat dibandingkan bijih logam biasa.
"Kau yakin ingin bijih logam dari Lembah Tianyun?" Zhou Kui memastikan.
"Ya. Memang kenapa?" Xie Ran menatapnya penuh tuntutan. Jika ingin bayaran, dia akan membayar. Dia hanya ingin bijih logam, itu saja. Jika bisa mengambil sendiri, dia sudah mengambil sejak awal. Lembah Tianyun hanya bisa dimasuki murid peringkat 3 besar.
"Itu...." Yan Yao baru saja ingin mengatakan bahwa pengaturan Lembah Tianyun lebih sulit seperti tidak boleh membawa terlalu banyak harta dan harus sesuai dengan misi atau mereka harus bayar.
Namun ketika melihat tatapan Qu Xuanzi yang begitu tajam seolah tatapan itu bisa membelah kepalanya sekarang. Belum lagi Zhong Guofeng yang menatapnya seolah dia akan melakukan kesalahan besar dan divonis hukum gantung. Yan Yao hanya bisa mengiyakan sambil meneguk saliva. Kenapa Xiao Ran harus memiliki tameng menyeramkan seperti itu?
Melihat Yan Yao yang ingin mengatakan sesuatu tapi tertahan ditambah pria itu tertekan, Xie Ran memikirkan masalahnya. "Untuk biayanya katakan saja—"
"Tidak perlu!" Yan Yao spontan menyela takut mendapat tatapan tidak mengenakan dari dua tameng gadis itu.
Sayang sekali Xie Ran tidak tahu masalah sebenarnya dari Yan Yao. Jadi dia menganggapnya itu normal. Mungkin permintaannya agak sulit, ditambah dia tidak pernah ke tempat itu. "Lakukan semampumu saja."
Yan Yao merasa Xie Ran kesal, tapi dia hanya bisa diam dan tidak memperpanjang masalah.
"Kakak Xi, Kakak Yao, aku juga memesan beberapa tanaman. Aku ingin segera menjadi apoteker sejati di akademi." Mei Liena tidak tahu, dia telah menambah beban dua pria malang itu.
"Baik, baik." Yan Yao menyanggupinya dengan lapang hati sedangkan Pei Xi hanya mengangguk.
Tanaman tidak sulit karena hanya mencabut seperti mencabut rumput, bijih logam yang sulit karena harus menggali tanah, belum lagi mencarinya.
Tiba-tiba Pei Xi berdiri dengan gelas kecil di tangannya membuat semua mata terarah padanya. "Karena hari ini adalah makan malam yang pertama kali bersama dengan Yang Mulia Kaisar dan Tuan Muda...."
"Qu."
Pei Xi segera melanjutkan. "....Tuan Muda Qu. Maka, aku sebagai yang tertua di antara murid-murid ini, akan bersulang pada Yang Mulia Kaisar dan Tuan Muda Qu yang terhormat sebagai bentuk penghormatan. Meskipun ini harus dilakukan sebelumnya sebagai pembukaan, tapi sedikit terlambat juga tidak masalah."
"Apa karena aku makan duluan? Tapi aku lapar," gumam Xie Ran dengan wajah polosnya. Siapa suruh semua orang menjadi mayat ketika dua pria dingin itu datang.
Pei Xi menuangkan arak ke dalam cangkirnya dan tersenyum penuh kesopanan. "Ini adalah arak plum merah berumur ratusan tahun dan hanya ada beberapa di Benua Zhongbu. Aku membawanya ketika kembali ke Kota Ye beberapa waktu lalu, harap Tuan Tuan terhormat menyukainya."
Perkataan Pei Xi sangat menunjukkan dia menghormati dua pria dingin yang tidak bersahabat itu. Pei Xi tidak peduli sikap mereka. Pengaruh mereka sangat besar dan kekuatan mereka juga lebih besar dari Dekan akademi sendiri. Dia harus menghormati yang lebih kuat.
Sedangkan yang lain mulai bersulang dan meminum arak plum merah dengan satu cangkir kecil termasuk Zhong Guofeng dan Qu Xuanzi, Xie Ran menatap cangkirnya seolah air di dalamnya akan surut.
"Arak...." Xie Ran bersuka cita. Arak ini terkenal enak dan dia sangat ingin meminumnya. Tapi sayang jika sekali tenggak langsung habis. Dia harus minum banyak!
Baru saja Xie Ran akan mengambil cangkir yang sudah ia tuangkan arak, Qu Xuanzi mengambil alih terlebih dahulu membuat Xie Ran menatapnya tidak terima.
Qu Xuanzi menatapnya dalam. "Kau tidak bisa minum. Biar aku yang gantikan." Qu Xuanzi segera meminumnya seolah itu adalah air putih. Baginya itu memang air biasa.
Berbeda dari reaksi teman-temannya, Xie Ran memiliki wajah sedih. Hatinya menangis, tapi tidak bisa ditunjukan. Dia suka arak, tapi kenapa pria itu merebutnya! Dia sangat ingin mencobanya setidaknya satu tenggak. Kenapa tidak bisa?
"Kau bisa minum, tapi tidak di sini." Qu Xuanzi berkata dengan nada rendah di telinga Xie Ran yang sedih. Dia hanya tidak ingin Xie Ran mabuk berlebihan dan membuat kekacauan yang tidak perlu. Apalagi ada Zhong Guofeng.
Xie Ran mengangguk patuh. Dia sudah seperti kucing jinak sekarang dan melahap makanannya kembali. Memang, hanya makanan yang dapat memperbaiki suasana hatinya.
Mereka mulai makan malam dengan tenang. Xie Ran mendapat makanan tambahan yang diberikan Qu Xuanzi seperti yang biasa dilakukan. Zhong Guofeng melihatnya iri, dia langsung memberikan Xie Ran makanan lain ke piring Xie Ran tidak mau kalah dari Qu Xuanzi.
Mangkuk Xie Ran penuh, matanya berbinar sedangkan perutnya masih memiliki luang—padahal sudah makan banyak. Dia langsung memakannya tanpa banyak berpikir. Dia juga tidak tahu bahwa dua pria yang berbuat baik padanya sedang dalam suasana hati buruk seolah ada listrik ketika saling melihat.
Manusia sisanya hanya bisa melihat dengan kasihan. Berbagai pemikiran muncul. Kasihan, prihatin, kagum, dan lainnya. Satu-satunya yang satu pikiran diantara mereka adalah fakta bahwa Xie Ran tidak peka!
"Kasihan sekali kakakku itu...." Zhong Xiaorong berbisik pada Mei Liena disebelahnya sambil cekikikan.
"Xiao Ran sangat beruntung." Mei Liena berharap dapat di posisi Xie Ran. Berada diantara pria tampan dan kuat, pasti menyenangkan. Sayangnya Xie Ran hanya mencintai makanan dan tidak akan selingkuh.
"Aku tidak tahu harus mengagumi siapa, ketiganya sama saja. Pesona Xiao Ran sangat kuat dan dapat menarik Kaisar sekalipun. Kaisar dan Tuan Muda Qu juga berani mendekati Xiao Ran yang jelas tidak memiliki kedewasaan dalam hal hubungan dan hanya tahu bertarung. Jika itu aku, takutnya tidak ada hari esok." Liu Chang hanya bisa melihat dari jauh. Pertama kali melihat Xie Ran, dia merasa gadis itu tidak biasa dan dia merasa gadis itu menarik. Tapi ketika melihat betapa gagahnya Xie Ran dalam hal pertempuran, dia takut akan dijadikan karung tinju di kemudian hari.
"Berani bertaruh siapa yang akan mendapatkan hati Xiao Ran?" Zhong Xiaorong bersemangat. Dia yakin Tuan Muda Qu yang tampan itu akan menarik hati Xie Ran dibanding kakaknya yang menyebalkan. Meski dia ingin Xie Ran menjadi keluarganya, tapi dia merasa tidak ada lagi yang cocok di Istana selain mereka. Kaisar memang cocok, tapi hubungannya dengan Kaisar rumit dan tidak begitu akur seperti yang terlihat.
Namun, ketika melihat wajah temannya yang memucat dan terdiam beribu bahasa, Zhong Xiaorong memiliki firasat buruk. Apalagi ketika punggungnya merasa dingin membuatnya harus hati-hati menoleh ke samping.
Sekarang Zhong Xiaorong yang memucat. "Itu...." Masalahnya kakaknya mendengar!
"Putri kesembilan, lebih baik pikirkan kontrak pernikahanmu dengan Tuan Muda Yan sebelum memikirkan masalahku."
"Yang Mulia!"
Ucapan Zhong Guofeng bagai petir yang menyambar Zhong Xiaorong juga teman-temannya termasuk Xie Ran. Kontrak pernikahan? Tuan Muda Yan? Apa itu Yan Yao?!
Semua mata tertuju ke arah putri satu itu yang sudah memiliki wajah tegang dan terdiam dengan tatapan redup. Sangat jelas suasana hatinya jatuh sehingga tidak ada yang berani menanyakannya.
"Ini masalah serius," gumam Zhou Kui kemudian menoleh ke arah Yan Yao yang juga terlihat tegang tanpa bicara. Apa benar itu dia? "Kau berhutang penjelasan."
Zhong Xiaorong tidak bisa berkata apapun. Dia sudah memendam segalanya dengan baik dan melupakannya. Kenapa Kaisar itu malah mengungkitnya di depan teman-temannya!
"Apa masalah?" Zhong Guofeng tidak merasa bersalah. Seharusnya putri itu bersyukur ditunangkan dengan salah satu Tuan Muda Klan ternama oleh ayahnya.
Zhong Xiaorong memaksakan senyum berusaha terlihat tenang. "Yang Mulia, masalah ini, bukankah sudah jelas? Tidak perlu diingat lagi."
"Benar, sangat jelas." Zhong Guofeng menatap adik beda ibu itu penuh arti.
Xie Ran melihat Zhong Xiaorong yang terlihat tertekan merasa kasihan. Apa dia begitu tertekan sebagai seorang putri? Xie Ran tidak bisa membayangkannya lagi. Dia sendiri sudah cukup tertekan karena masalah Tang Zhi.
Xie Ran ingin membantu, tapi itu tidak ada hubungan dengannya sehingga dia tidak memiliki kewajiban. Dia juga tidak berhak ikut campur urusan anggota kekaisaran. Meskipun keluarganya dianggap sebagai bangsawan dan dia mewarisi darah keluarga bangsawan, pada kenyataannya dia hanya anak yang ditelantarkan dan sudah mati sejak lama. Biarlah Zhong Xiaorong mengurus masalahnya sendiri sebagai ujian.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah makan malam tegang itu, Zhong Xiaorong langsung pergi entah kemana tanpa mengatakan sepatah katapun. Xie Ran dan yang lain tidak mengejarnya merasa gadis itu ingin merenungkan masalahnya sendiri.
Ketika Zhong Guofeng akan menegur Xie Ran, seorang pengawal muncul memberi berita padanya sehingga harus berpisah sekarang. Saat ini, Xie Ran hanya bersama Qu Xuanzi yang sejak tadi tidak mengatakan sepatah katapun.
"Kau mengatakan aku boleh minum jika tidak disini." Xie Ran menagih. Dia tidak mau tahu, Qu Xuanzi yang harus membayar anaknya yang direnggut.
"Ada masalah?" Qu Xuanzi merasa suasana hati Xie Ran suram. Bukan karena arak yang hilang, itu terjadi sejak masalah Zhong Xiaorong terungkap.
"Aku hanya merasa bosan dan ingin mabuk sebentar," sahut Xie Ran kemudian mendongak menatap mata Qu Xuanzi. "Tak apa, 'kan?"
Qu Xuanzi tersenyum singkat. Tiba-tiba telapak tangannya memunculkan seguci arak membuat mata Xie Ran berbinar senang. "Aku tidak pernah melanggar."
Xie Ran langsung mengambilnya dan memeluknya. Ah, akhirnya dia bisa merasakan arak lagi setelah sekian lama.
"Arak ini berumur ratusan tahun, kau bisa minum tanpa takut langsung mabuk." Qu Xuanzi telah memilih dengan seksama. Meski baginya semua arak di tempat ini hanya air biasa, dia tetap tahu efek alkohol yang terkandung dengan baik. Semakin lama arak diinkubasi, efek alkohol semakin mengecil dan tidak akan mudah membuat mabuk. Harganya semakin mahal juga.
"Kau sangat tahu tentang arak. Apa dulu kau sering minum?"
"Tidak."
"Arak plum merah memiliki tingkat alkohol tinggi, bahkan yang lain nyaris mabuk karenanya, tapi kau tidak mabuk setelah beberapa gelas termasuk menggantikanku." Xie Ran tidak mengerti. Bukankah seharusnya Qu Xuanzi sudah terbiasa jika tidak mabuk seperti dirinya dulu?
"Arak di tempatku berbeda. Arak di sini tidak mempengaruhiku."
Mendengar ini, Xie Ran semakin penasaran dari mana Qu Xuanzi berasal. Tidak mungkin planet lain 'kan mengingat dia dengan percaya diri mengajaknya pergi ke luar angkasa. Tampan seperti ini juga tidak mungkin alien apalagi alien berkulit hijau dan berkepala seperti tv tabung—Adudu.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak." Qu Xuanzi telah menebak bagaimana jalan pikir kacau Xie Ran. Itu membuat Xie Ran membungkam mulutnya.
"Kalau begitu, aku pergi." Xie Ran pamit pergi membawa guci arak di tangannya.
Xie Ran ingin sendiri, jadi Qu Xuanzi tidak ikut. Xie Ran pergi ke atap pertokoan diantara kerumunan kota dan membuka guci arak di tangannya. Aroma arak yang harus masuk ke hidungnya membuatnya senang. Dia langsung meminumnya sedikit demi sedikit agar irit.
Melihat bulan bersinar begitu indah, ditambah arak dan angin sepoi-sepoi. Suasana ini membuatnya tenang untuk sesaat. Tapi hanya sesaat, dia kembali pada alasan kesuramannya.
"Ayah, Ibu, Kakak Yao, Liu Ya, aku merindukan kalian...."
Xie Ran menutup matanya membiarkan kenangan indah terulang yang membuat air matanya menetes. Meskipun sebagian kenangan adalah kenangan milik Xie Ran asli, dia tetap merasa itu adalah miliknya karena dirinya sekarang adalah Xie Ran.
Qu Xuanzi benar, dia adalah Xie Ran dan dia harus hidup sebagai Xie Ran. Jika seperti itu, apa mereka di surga sana akan senang?
Sedangkan di bawah sana, Qu Xuanzi berdiri kokoh melihat Xie Ran di atap yang matanya terarah ke atas menahan air mata. Gadis itu sangat merindukan keluarganya setelah merasakan keluarga sesungguhnya.
Bukan hanya ada Xie Ran di atap, Zhong Xiaorong juga tengah mabuk di atap yang sama dan melihat Xie Ran sendirian. Dia langsung duduk di sebelahnya dengan wajah merahnya itu.
"Rongrong?" Xie Ran yang masih sadar sedikit terkejut dengan kehadiran Zhong Xiaorong.
Zhong Xiaorong menatapnya lesu seperti ingin menangis. "Ingin mendengar kisah? Meski pengalamanmu buruk, aku membutuhkan pendengar."