
"Ruoruo, kita kembali ke rumah." Xie Wang muncul di antara Xue Yun dan Wen Xi. Xie Ruo benar-benar mematung di tempat, pikirannya kosong dipenuhi kebingungan.
"Aku ...." Xie Ruo bingung. Tidak tahu mengapa, ia tidak bisa berpikir dengan jernih ketika merasakan emosi mereka bertiga dengan jelas. Logikanya berkata bahwa mereka sudah pergi, tapi ia tidak bisa melakukan apa pun.
"Ruoruo? Ada ada masalah?" Wen Xi tampak khawatir.
"Aku harus bertemu Qu Xuanzi." Xie Ruo merasa tidak beres. Ia ingin tetap berpikir dengan jenrih, namun rasa putus asa memenuhi kepalanya hingga membuatnya tidak nyaman. Dibanding meragukan sesuatu, lebih baik ia minta bantuan untuk kembali ke kenyataan.
"Kaisar Langit sudah kembali ke Dunia Atas, membiarkanmu tetap di Dunia Tengah untuk berkumpul. Ruoruo, kita sudah lama tidak bertemu, apa kamu tidak merindukan ibu?" Wen Xi terlihat sedih sekarang. Ia melirik Xie Yun dan Xie Wang meminta dukungan.
"Bukan begitu ...." Xie Ruo merasa sangat sulit. Ia sangat merindukan mereka, tapi situasinya tidak tepat. Ia merasa ada banyak kesalahan yang mengganggu pikirannya.
"Kalau begitu kita kembali. Nenekmu sudah menunggu di Klan." Xie Wang tersenyum sumrigah seperti biasa. Itu membuat Xie Ruo semakin merasa berat.
Mereka bertiga membujuk Xie Ruo, namun wanita itu tetap diam di tempatnya sambil berusaha berpikir dengan benar. Semua memorinya tercampur aduk dan perlahan menjadi suram sehingga tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Ia tidak tahu apa yang terjadi, tapi ia membenci perasaan ini.
"Ruoruo ...."
"Berhenti ...." Xie Ruo menunduk, tidak mau melihat mereka agar pikirannya dapat berjalan sebagaimana seharusnya.
Semua memori terulang secara acak membuatnya bingung. Kepalanya sakit seperti tertimpa batu berkali-kali. Ia bahkan tidak berani membuka matanya.
Setelah semua kebisingan itu tak lagi terdengar, barulah Xie Ruo membuka matanya. Ia menyadari, bahwa ia dalam posisi jongkok saking frustrasinya.
Xie Ruo melihat sekitarnya yang berupa badai yang sama dalam peperangan. Ia merasa bahwa segalanya telah normal, namun kesunyian membuatnya semakin tidak nyaman.
Ketika mengangkat kepalanya ke depan, ia melihat Qu Xuanzi berdiri tak jauh dari tempatnya berada. Ia berdiri, merasa lega untuk sesaat sebelum akhirnya menghampiri. Tapi tiba-tiba saja sosok Qu Xuanzi menghilang dalam kegelapan membuatnya semakin bingung. Sebenarnya apa yang terjadi pada dirinya sendiri?
"Xuanzi?" Xie Ruo mengedarkan pandangan, mencari pria itu di dalam kegelapan.
Ketika tengah berkeliling dalam kegelapan, ia mendengar suara tangisan bayi yang pecah entah dari mana asalnya. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling, mencari asal suara tanpa menghentikan langkah. Semakin lama suara tersebut semakin terasa dekat.
Xie Ruo menghentikan langkahnya begitu melihat sosok hitam berdiri beberapa meter darinya. Sosok itu membawa bayi dalam gendongannya. Hal yang membuat raut Xie Ruo berubah, sosok itu tak lain adalah Dewa Iblis.
Melihat bayi yang dibawa oleh Dewa Iblis, Xie Ruo secara spontan mengeluarkan pedangnya dan memcengkramnya dengan erat. Itu adalah putranya, bagaimana Dewa Iblis bisa menemukannya?
Dewa Iblis memandangnya dengan senyuman lebar. "Kau takut?"
Xie Ruo tidak menjawab. Wajah dinginnya tidak berubah, sambil memikirkan bagaimana cara agar bisa mendapatkan kembali putranya dari tangan Dewa Iblis.
"Aku hanya perlu menggunakan energi murnimu untuk menyempurnakannya, semua akan berakhir." Dewa Iblis tertawa dengan gembira sambil melihat Xie Ruo yang tampak sangat suram.
"Ambil saja, aku tidak peduli." Yang Xie Ruo pedulikan hanyalah anaknya. Ia langsung menghunuskan pedangnya ke arah Dewa Iblis dan mencoba meraih putranya, tapi gerakan Dewa Iblis sangat cepat. Ditambah medan badai yang tebal mendukung Dewa Iblis sehingga membuat Xie Ruo kesulitan.
Tapi Xie Ruo tidak peduli. Meski harus mati, ia tidak akan membiarkan Dewa Iblis mendapatkan apa yang diinginkan!
༺༻
Murid Menara Suci berperang di wilayah mendekati istana kekaisaran dan menempati badai yang paling gila dibanding wilayah lainnya. Mereka kesulitan bergerak, bernapas saja sulit sehingga harus mundur berdasarkan perintah Zhu Zhu dan Sheng Xian.
Sheng Xian pergi meninggalkan kelompok Menara Suci bersama para peri, bergabung dengan pasukan dewa. Di sana ia bertemu Dewi Kehidupan yang tengah kewalahan melawan banyak kloning. Dengan bantuan darinya, beban Dewi Kehidupan sedikit ringan dan berhasil membunuh para kloning setelah lama bertarung.
Dewi Kehidupan melihat Sheng Xian dengan aneh, kemudian bertanya, "Dewi Bulan, mengapa kau di sini?"
Sheng Xian terlihat gelisah. "Kita harus mencari Xie Ruo."
"Xie Ruo? Bukankah dia bersama Yang Mulia?" Dewi Kehidupan tidak tahu situasi lainnya karena sejak tadi sibuk mengatasi kloning yang berkerumun menargetnya.
Sheng Xian menggeleng. "Yang Mulia ditahan Kaisar Iblis di langit, takutnya Xie Ruo saat ini dalam target Dewa Iblis. Aku dan dia telah mengikat kontrak guru dan murid, aku bisa merasakan kekuatan mentalnya menipis sehingga tidak bisa dihubungi."
Dewi Kehidupan mengerutkan kening. "Kenapa tidak bilang dari tadi?"
Sheng Xian langsung pergi mengabaikan pertanyaan aneh Dewi Kehidupan. Mau tidak mau Dewi Kehidupan harus mengikutinya, sebelum terjadi hal buruk yang menimpa semua orang. Ia juga merasa, aura medan perang berubah drastis dibandingkan sebelumnya. Bukan karena badai, tapi karena hal lain.
Ia harap tidak terjadi hal buruk menimpa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kau tidak bisa membunuhku."
Bilah perak melintas dengan kecepatan tinggi tepat di depan wajah Dewa Iblis yang menghindari serangan. Ia melihat Xie Ruo yang tampak sangata marah membuat suasana hatinya menjadi senang.
"Jika terlalu kasar, kau akan membunuh anakmu sendiri." Dewa Iblis mengejek.
"Kau diam, maka aku akan membuat kematianmu lebih cepat." Xie Ruo menggertakkan giginya. Ia melanjutkan serangan yang sejak tadi meleset tanpa adanya serangan balik. Ia semakin kesal. Dewa Iblis benar-benar menertawainya.
"Sayangnya, seseorang yang bisa membunuhku masih belum lahir." Dewa Iblis muncul di sudut lain. Bayi di tangannya mendadak berubah menjadi kabut yang hanyut dalam kegelapan. Suara tangisan menghilang.
"Tidak ...." Xie Ruo semakin kacau. Apa yang sebenarnya Dewa Iblis lakukan?
Dewa Iblis tersenyum miring. "Sekarang, sumbangkan energi murnimu dengan patuh."
Xie Ruo meluncurkan serangan kembali dengan penuh amarah. Pikirannya sangat kacau. Ia tahu ini tidak nyata, tapi ia sama sekali tidak bisa mengendalikan emosinya dengan benar. Perasaan amarah terus mendera dalam jiwanya, menyebankan niat membunuhnya kembali tak terkendali dan menjadi lebih besar.
Ketika ia mengayunkan pedangnya kembali, Liu Chang yang tidak jauh dari posisinya berada terkejut melihat Xie Ruo yang kacau. Dengan cepat ia berlari ke arahnya, kemudian menangkis pedang Xie Ruo yang nyaris membunuh banyak murid akademi dengan sekali tebasan.
Liu Chang termundur dalam keadaan terluka karena tekanan pedang Xie Ruo. Ia melihat Xie Ruo dengan bingung. Kini, iris wanita itu tidak hanya biru, melainkan satu sisi biru dan sisi lainnya abu-abu.
"Mundur!" Liu Chang meminta semua murid mundur dari medan perang. Kondisi Xie Ruo tidak stabil, pandangannya dingin dan dipenuhi niat membunuh yang benar-benar menakuti semua orang. Ia tidak ada bedanya dengan iblis.
"Kau pergilah bawa murid-murid, aku akan menahannya." Dekan Bai muncul membelakangi Liu Chang yang terluka.
Liu Chang agak cemas, tapi tidak bisa melakukan apa pun. Selagi Dekan Bai menahannya, ia akan meminta bantuan teman-temannya untuk menyadarkan Xie Ruo. Sepertinya emosi negatif itu mulai melahapnya, terlalu berbahaya.
"Cepat pergi!" Dekan Bai meninggikan suaranya ke arah Liu Chang. Mau tidak mau Liu Chang harus pergi bersama murid lain yang masih berusaha melawan iblis yang maju menyerang.
Serangan Xie Ruo tidak hanya membunuh manusia dan ras lain, tapi juga banyak iblis. Dekan Bai dengan segera melompat ke arah Xie Ruo dan menggunakan sihirnya untuk mengikat wanita itu dengan sihir.
Xie Ruo menangkis sihir itu dengan tepat. Petir menggelegar menyambar tanah di sekitarnya hingga memunculkan sinar ungu yang pekat. Petir itu membentuk sel di sekitar, kemudian memancar ke satu titik tepat ke arah Dekan Bai. Pria tua itu langsung menghindar, kemudian menggunakan sebuah teknik formasi sihir yang dapat membuat kekuatan Xie Ruo ditekan untuk beberapa saat.
Namun, kecepatan Xie Ruo tidak berubah. Ia dengan mudah mengelak tiap kali serangan diluncurkan dan menghunuskan pedangnya ke arah siapa pun yang melawannya dengan ganas.
Dekan Bai menahan serangan Xie Ruo menggunakan sihirnya. Serangan Xie Ruo lebih kuat darinya karena mengandung beberapa elemen dan dua kekuatan ilahi sekaligus. Itu membuat Dekan Bai terhempas beberapa meter dan nyaris menembus bebatuan runcing bekas ledakan bila tidak ditarik Zhou Kui tepat waktu menggunakan tali lasso.
Pei Xi, Yan Yao, Mei Liena, dan Zhong Xiaorong juga baru tiba setelah lama dalam peperangan melawan iblis. Begitu Liu Chang memberi pesan, mereka semua langsung datang. Mereka sama terkejutnya seperti Liu Chang ketika melihat Xie Ruo yang jauh berbeda dari seharusnya.
"Ruoruo ...." Zhong Xiaorong sangat terkejut.
Pei Xi melihat sekitar yang dipenuhi kabut. Sepertinya kabut menurunkan kekuatan mental Xie Ruo dan membuatnya tidak bisa melawan emosi negatif yang meneror. Sebelumnya wanita itu memang terganggu dengan semua emosi itu dan nyaris tenggelam. Kini, Xie Ruo tenggelam dalam kegelapan.
"Kekuatan mentalnya menipis, jika dibiarkan Ruoruo akan tersesat selamanya." Pei Xi bicara dengan serius. Ia memandang teman-teman, kemudian berkata, "Arahkan dia keluar dari wilayah badai."
"Tidak bisa, seluruh area telah dipenuhi badai." Mei Liena merasa gelisah. Badai yang diciptakan Dewa Iblis membuat mereka semua kacau. Ia telah mencari ujung dari badai, tapi tidak ditemukan.
Mereka mengalami jalan buntu. Tapi Xie Ruo tidak akan menunggu sampai mereka menemukan jalan keluar. Pedangnya langsung menebas ruang kosong menciptakan badai lain dalam lingkup kecil, namun penuh dengan bahaya.
Api dingin runcing meluncur seperti hujan deras membuat mereka berlima sangat terkejut. Zhou Kui mengirim Dekan Bai menjauh, kemudian membuat perisai besar tepat di wilayah serangan untuk melindungi teman-temannya.
"Rongrong!" Zhou Kui memberi isyarat.
Zhong Xiaorong menciptakan dinding es tebal dan didorong tepat ke arah Xie Ruo sehingga dapat memutuskan badai yang dipusatkan pada mereka. Yan Yao, Pei Xi, dan Mei Liena melesat menggunakan serangan dekat untuk melumpuhkan Xie Ruo sementara.
Namun dinding es Zhong Xiaorong dengan mudah hancur menyebabkan pedang perak Xie Ruo diayunkan dengan keras ke arah mereka. Mei Liena tidak cukup merespon serangan sehingga cambuknya mau tidak mau harus melilit pedang Xie Ruo agar tidak terkena serangan. Yan Yao pergi ke sisi lain dan meluncurkan hujan meteor ke ratah Xie Ruo. Pei Xi mengulurkan bayangannya, melilit seluruh tubuh Xie Ruo agar tidak bisa bergerak selagi menangani cambuk Mei Liena.
Sayangnya semua serangan itu tidak cukup mempengaruhinya. Xie Ruo menggunakan api dingin di seluruh tubuhnya untuk membakar bayangan Pei Xi sampai hancur, kemudian menarik pedangnya sehingga tubuh Mei Liena berayun mengikuti arah putaran cambuk tepat ke arah serangan Yan Yao berasal. Yan Yao terkejut menyadari Xie Ruo sudah menghilang digantikan Mei Liena yang terhempas ke arah serangannya. Ia langsung menarik sihirnya hingga mengakibatkan serangan balik.
Pei Xi melihat ke arah Xie Ruo dengan cepat. Wanita itu tiba-tiba saja meluncurkan sambaran petir lain ke arahnya dengan kecepatan tinggi. Zhong Xiaorong muncul dengan esnya yang menangkis petir tersebut, sedangkan Zhou Kui mengayunkan pedang sabitnya yang memutar ke arah Xie Ruo.
Xie Ruo menahan pedang sabit tersebut dengan tangan kosong, tidak peduli pada kenyataan bahwa darah mulai menetes dari tangannya. Genggamannya sangat erat membuat pedang sabit retak, kemudian tangan satunya mengepal dan meninju perut Zhou Kui dengan kuat.
Zhong Xiaorong berlari ke arahnya dan mengayunkan pedang, namun pedang Xie Ruo menahannya dengan kuat dan menghancurkan lapisan es yang sudah dibuat. Pei Xi datang untuk menolong, namun tekanan lainnya datang dari tubuh Xie Ruo menghempaskannya begitu saja.
Zhong Xiaorong meneguk saliva melihat betapa kejam Xie Ruo. Detik berikutnya, ia pun terhempas karena tidak fokus sedangkan pedangnya terlempar dan menancap cukup jauh di tanah.
Pandangan Xie Ruo tetap dingin seolah tidak ada hal menarik di sekitarnya. Tidak peduli apa yang terjadi pada teman-temannya, siapa pun yang melewatinya, akan berakhir pada kematian.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dekan Bai melangkah tertatih karena serangan Xie Ruo yang sangat ganas. Sambil menyingkirkan iblis yang menyerang, ia mencari kelompok akademi yang dibawa Liu Chang untuk mundur sementara.
Namun begitu ia melangkah lebih jauh, udara dingin yang begitu menusuk kembali datang meratakan segala hal di sekitarnya. Begitu cepat, Xie Ruo sudah tiba dengan noda darah yang memenuhi pakaian dan kulit putihnya. Bahkan di wajahnya terdapat cipratan darah yang membuatnya lebih terlihat seperti iblis.
"Isabella, kerja bagus." Suara itu terngiang di telinga Xie Ruo. Pandangannya kosong dan penuh udara dingin, diam-diam ia menarik sudut bibirnya.
Dekan Bai terkejut. Ia menghentakkan tongkatnya untuk membuat medan sihir dan melindungi dirinya sendiri sekaligus menahan Xie Ruo. Jika wanita itu berjalan terlalu jauh, tidak tahu berapa banyak darah yang akan tumpah ke tangannya yang kini penuh noda merah.
"Guru, aku tidak akan mengecewakanmu," gumam Xie Ruo. Selain Sheng Xian, ia juga memiliki guru lain di kehidupan yang lalu—guru yang menempanya sebagai mesin pembunuh.
Dekan Bai berwaspada melihat Xie Ruo beberapa meter di depannya. Begitu api dingin mulai muncul membakar seluruh tanah, Dekan Bai terkejut dan langsung melayang di udara untuk menghindari api dingin. Ia mengarahkan tongkatnya, sihir segel surgawi meluncur untuk menahan kekuatan Xie Ruo yang kian lama menggila.
"Xie Ruo, ingat identitasmu!" Dekan Bai mengguakan segel di tubuhnya untuk mempertahankan serangan sekaligus melemahkan kekuatan tempur Xie Ruo.
Xie Ruo berteleportasi sangat cepat, seperti berkedip dari satu sisi ke sisi lain. Ia menginjak udara, lalu meraih Dekan Bai tanpa menyentuh semua segel yang terkunci untuknya.
Sayangnya, ucapan Dekan Bai tidak tersampaikan ke kesadaran Xie Ruo yang dipenuhi kegelapan. Ia sudah seperti Isabella di masa lalu, kejam dan tidak berperasaan. Baginya membunuh untuk hidup, sedangkan hidup untuk membunuh.
Dekan Bai mencoba menghindar, tapi tubuhnya terkunci oleh segel tubuh yang memfokuskan diri untuk mengunci target pada Xie Ruo. Namun kini Xie Ruo di hadapannya, niat membunuh yang membara mengeringkan seluruh darahnya.
Dekan Bai tidak lagi mencoba menghindar atau mundur. Ia mengerahkan seluruh tenaganya dan mempercepat serangan segel, namun tiba-tiba Xie Ruo menghilang dari hadapannya. Seluruh segel itu kehilangan target, meluncur ke arah Dekan Bai secara tak terkendali dan menembus tubuhnya bersamaan.
Tanpa perlu menggunakan banyak kekuatan, Xie Ruo mengalihkan serangan dengan mudah menyebabkan Dekan Bai jatuh dari udara dan terkurung dalam api dingin yang membara. Ia membentuk segel tangan dan membuat perisai, tapi perisai itu semakin lama semakin meleleh. Apalagi semua segel yang berbalik menyerang kini mulai menunjukkan efeknya.
Api dingin semakin membara. Xie Ruo berdiri di atasnya tanpa terpengaruh seolah ia tebuat dari kobaran api. Ia mengangkat tangannya ke arah Dekan Bai yang mencoba memulihkan diri sekaligus mempertahankan perisai, cahaya perak keluar dari tangannya.
"Mati ...."