
Api dingin semakin membara. Xie Ruo berdiri di atasnya tanpa terpengaruh seolah ia tebuat dari kobaran api. Ia mengangkat tangannya ke arah Dekan Bai yang mencoba memulihkan diri sekaligus mempertahankan perisai, cahaya perak keluar dari tangannya.
"Mati ...."
Ketika cahaya perak itu akan meluncur, sebuah tangan tiba-tiba menggenggam lengannya menyebabkan cahaya perak tertahan—entah dengan sihir apa.
Wajah Xie Ruo semakin menggelap. Tanpa berkata apa pun, ia memutar lengannya sendiri dan meraih bahu sosok itu dan akan membantingnya ke belakang. Tapi justru ia yang melompat ke belakang sosok itu karena sama sekali tidak terpengaruh oleh tekanannya.
Api dingin ditarik olehnya, kemudian digunakan di tubuhnya untuk melepaskan diri. Ia akan meluruskan tinjunya dengan kuat, namun lengannya justru ditahan. Parahnya, api dingin di tubuhnya padam.
Karena kesal, Xie Ruo melompat ke belakang tidak peduli apa tangannya akan patah atau tidak. Orang itu melepas genggamannya membiarkannya melompat, kemudian memberi tendangan busur dengan keras.
Sosok itu menghilang tiba-tiba. Detik berikutnya, sihir emas melilit kedua tangannya hingga tidak bisa bergerak sebelum akhirnya Xie Ruo merasa kelumpuhan yang tidak biasa. Ia tidak bisa menggerakkan seluruh bagian tubuh, sedangkan semua kekuatannya ditekan sampai batas.
Xie Ruo terkejut. Irisnya kembali biru normal dalam keadaan kosong. Pandangannya lurus ke depan dengan tatapan bingung, ia kembali melihat dengan jelas semua kekacauan yang telah diperbuat, serta sosok pria yang menahannya tepat di depannya.
Xie Ruo terdiam untuk beberapa saat, sepertinya berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Tatapannya penuh kejutan, sebelum akhirnya dipenuhi rasa takut.
Ia melirih dalam bisikan menyebut sosok itu. "Xuanzi ...."
Qu Xuanzi tepat di hadapannya dengan raut cemas, bahkan keningnya berkerut—meski wajah datar yang lebih terlihat. Ia mendekati Xie Ruo, lalu menyatukan kening mereka untuk mentransfer kekuatan mental sambil memeluk wanita itu.
"Jangan dihiraukan, mereka hanya ilusi." Qu Xuanzi tahu apa yang dialami Xie Ruo ketika kekuatan mentalnya terhubung dengan kekuatan mental Xie Ruo.
Emosi negatif memberi ilusi yang sangat kuat bagi Xie Ruo dengan memunculkan banyak orang-orang berarti baginya. Itu semua membuat Xie Ruo lupa, apa tujuannya berada di sini dan siapa dia sebenarnya.
Xie Ruo mengangguk pelan sambil memejamkan mata, menekan semua emosi yang melahapnya. Sesaat, ia tidak mengingat apa pun dan terbawa emosi peperangan yang penuh dengan niat membunuh. Belum lagi ada banyak bayangan yang membuat niat membunuhnya meningkat, ditambah dengan suara-suara dukungan gurunya di masa lalu.
Xie Ruo ingat apa yang sudah ia perbuat. Ia dengan jelas mencium aroma darah di sekujur tubuhnya. Mirisnya lagi, semua darah itu bukan hanya darah iblis. Faktanya, ia telah membunuh banyak orang dengan tangannya sendiri.
Ia dapat merasakan banyak emosi menyedihkan di sekitarnya. Semua orang yang mati di tangannya, ia dapat merasakan bagaimana perasaan mereka yang semakin memengaruhi pikirannya. Meski sebenarnya ia tidak terlalu peduli, ia merasa diteror hingga rasa takut kembali menghujaninya.
"Aku membunuh mereka." Xie Ruo merasa dirinya akan gila.
"Tidak."
"Aku nyaris membunuh teman-teman dan guruku sendiri."
"Itu tidak benar." Qu Xuanzi mencoba meyakinkannya.
"Aku mencoba membunuh mereka, itu adalah fakta!"
"Kamu dikendalikan." Qu Xuanzi menegaskan kata-katanya sambil menatap Xie Ruo. Xie Ruo terdiam. "Kamu tidak salah, kamu hanya dikendalikan. Mereka akan paham."
Xie Ruo tidak peduli apa mereka mengerti kondisinya atau tidak. Yang ia pedulikan adalah kenyataan bahwa ia telah gagal. Bukannya melindungi, ia malah membunuh mereka semua dan nyaris membunuh temannya sendiri. Ia bahkan nyaris membunuh guru yang mendidiknya tentang moral.
Namun, satu hal yang tiba-tiba membuat mentalnya jatuh sekali lagi.
"Xuanzi ... aku membunuhnya."
Qu Xuanzi mengedarkan pandangannya melihat Dekan Bai yang memuntahkan seteguk darah. Pria tua itu terlihat sangat kelelahan karena mengeluarkan terlalu banyak kekuatan. Ditambah, segel itu merusak tubuhnya.
Cahaya emas keluar dari tangan Qu Xuanzi, melingkupi Dekan Bai untuk mengeluarkan semua segel yang menjerat tubuhnya. Ditambah, badai yang dibuat Dewa Iblis semakin mengurangi daya hidupnya.
Pei Xi dan yang lainnya—termasuk Liu Chang—tiba dengan perasaan was-was. Tapi ketika melihat Qu Xuanzi sudah hadir untuk menenangkan Xie Ruo, mereka semua menghela napas lega dan melemaskan bahu. Syukurlah pawangnya sudah datang.
Namun, hal yang membuat mereka kembali panik, kondisi Dekan Bai kian buruk. Mereka buru-buru mengerumuninya. Mei Liena dengan cepat memberinya pil obat.
Sayangnya, kondisi Dekan Bai tidak berubah.
Qu Xuanzi tidak mengatakan apa pun dan menarik kembali kekuatannya. Kondisi Dekan Bai sudah terlalu buruk. Kekuatannya hanya akan menyakiti pria tua rapuh itu jika diteruskan.
Melihat Qu Xuanzi yang hanya diam tanpa melakukan apa pun, sudah jelas jawabannya bagi mereka. Wajah Dekan Bai sangat pucat, tubuhnya dingin, matanya juga sayup.
Hingga akhirnya pria tua itu menutup mata setelah membisikkan sesuatu secara singkat pada Liu Chang. Liu Chang terdiam tanpa bisa mengatakan apa pun sambil memandangnya dengan penuh air mata, sedangkan teman-temannya yang lain menunduk. Mei Liena dan Zhong Xiaorong tidak bisa menahan air mata dan mulai terisak.
Xie Ruo berbalik untuk melihatnya. Pandangannya menjadi redup. Ia bergumam sangat pelan, "Bukankah dia menyedihkan?" Sama seperti kakek dan orang tuanya, mereka semua menyedihkan. Xie Ruo pikir, dirinya sendiri juga sama menyedihkannya.
Qu Xuanzi mengeratkan genggamannya di telapak tangan Xie Ruo. Ia dapat merasakan tubuh Xie Ruo yang bergetar hebat, namun wajahnya terlihat datar seolah yang dilihatnya hanya orang lain yang tidak dikenal. Qu Xuanzi tahu apa yang dirasakan Xie Ruo saat ini. Perasaan rasa bersalah, gagal, dan sedih, semuanya bersatu. Hanya dalam satu waktu, semua orang yang berpengaruh dan penting di kehidupannya secara bertahap pergi. Itu adalah pukulan yang sangat keras.
Xie Ruo terlihat tidak menangis atau sedih, karena ia tahu saat ini bukan waktunya yang tepat untuk berduka. Ia hanya diam menahan segalanya sendirian, tidak mau orang lain melihat sisi lemahnya.
Sebagai Dekan yang pernah mereka hormati dan mengajari mereka untuk meraih kemuliaan dan kemenangan, mereka—termasuk Xie Ruo—bersujud menghormatinya. Mei Liena dan Liu Chang mengambil tugas menjaga gurunya sampai badai hilang dan mengantar ke tempat peristirahatan terakhir.
Mereka membawa guru mereka ke tempat aman, sedangkan Zhong Xiaorong dan Yan Yao tetap di tempatnya sambil menahan perasaan duka.
Zhong Xiaorong melihat Xie Ruo yang merenung melihat kepergian mereka. Ia menghampiri, kemudian memeluknya dan menepuk bahu belakangnya berusaha menurunkan rasa bersalah.
"Ini bukan salahmu, jangan menyalahkan diri sendiri." Zhong Xiaorong mengenal Xie Ruo dengan jelas. Ia sudah mendengar kabar bahwa Xie Wang telah pergi, itu adalah pukulan keras bagi Xie Ruo. Sangat memberinya alasan untuk terlahap emosi negatif karena pikirannya yang kacau.
"Benar, ada banyak sesuatu yang di luar kendali kita. Tidak semua hal bisa sesuai rencana." Yan Yao juga mencoba memberi keyakinan pada Xie Ruo.
Xie Ruo melepas pelukan, kemudian mengalihkan pandangan ke badai di sekitarnya. Jauh di dalam lubuk hatinya, ada amarah yang tersimpan. Namun tertutupi oleh wajah dinginnya yang tidak berubah.
"Aku akan menyelesaikannya." Xie Ruo berkata tanpa ekspresi. Ia baru saja akan melangkah pergi, tapi tiba-tiba ia terbatuk dan merasakan dadanya sangat sakit hingga ia tertunduk.
Qu Xuanzi memapah Xie Ruo dengan sigap. Ia memeriksa nadinya, merasakan racun darah tiba-tiba aktif dan menyerang jantungnya.
"Aku baik-baik saja." Xie Ruo tidak ingin terlihat lemah. Ia menahan rasa sakit di jantungnya yang berdetak sangat keras. Rasanya sangat tidak nyaman, seperti ada ribuan semut menggerogoti jantungnya.
"Kau tidak baik-baik saja." Qu Xuanzi membantah dengan cara berbisik. Ia tahu bagaimana rasanya ketika racun darah aktif. Ia pun menggunakan kekuatannya untuk mengendalikan racun darah di tubuh Xie Ruo, itu berhasil mengurangi rasa sakitnya.
Xie Ruo memandang teman-temannya, mencoba meyakinkan mereka bahwa ia baik-baik saja. Tapi mereka tidak yakin. Sayangnya, tatapan Xie Ruo yang memohon membuat mereka luluh.
"Jangan pergi kemana-mana, aku akan mencari Mei Liena untuk merawatmu." Zhong Xiaorong langsung pergi bersama Yan Yao untuk mencari Mei Liena. Mereka harus cepat!
Xie Ruo melihat kepergian mereka sampai menghilang dalam kegelapan badai. Ia menghela napas, kemudian bersandar di bahu Qu Xuanzi, merasa lemas setelah rasa sakit luar biasa menggerogotinya.
"Semuanya akan berakhir." Qu Xuanzi mengeratkan genggamannya. "Aku akan melakukan segala cara."
Xie Ruo mengangguk. Ia pun kehilangan kesadaran, tubuhnya yang bergetar berhenti diiringi semua rasa takut yang menerornya tanpa henti. Ia terlalu lelah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dewi Kehidupan dan Sheng Xian tiba di lokasi. Mereka menghela napas melihat Qu Xuanzi sudah mengamankan Xie Ruo. Sebelumnya mereka telah memanggil Qu Xuanzi untuk memberitahu situasi Xie Ruo setelah melihatnya menjadi begitu kacau dan tak terkendali. Oleh sebab itu, mereka berdua menangani Kaisar Iblis dan melarikan diri darinya setelah Qu Xuanzi memberi sinyal aman.
Qu Xuanzi sudah menjelaskan rencananya saat itu. Ketika Dewi Kehidupan dan Sheng Xian baru saja datang, ia langsung mempercayakan Xie Ruo pada mereka untuk dijaga. Kondisi Xie Ruo tidak memungkinkan untuk berperang lagi.
"Yang Mulia, jika Xie Ruo mengetahuinya, dia akan sangat marah." Sheng Xian memandang Xie Ruo dengan sendu.
"Aku tahu," jawab Qu Xuanzi. Ia melihat Xie Ruo di pelukannya, kemudian berkata, "Katakan padanya apa yang aku katakan barusan. Aku akan kembali, jadi tunggu aku."
Mereka berdua tidak bisa membantah lagi, hanya bisa menghela napas. Sulit untuk mengubah pikiran seseorang.
Qu Xuanzi menundukkan kepalanya, memberi kecupan singkat. Sinar emas menyala di tangannya yang menggenggam Xie Ruo dengan erat, sebelum akhirnya menyerap sedikit cahaya putih samar dari Xie Ruo. Ia tidak bisa melibatkan Xie Ruo terlalu banyak dan membahayakan nyawanya. Oleh karena itu, ia harus melakukannya dengan cepat sebelum Xie Ruo menyadarinya.
Qu Xuanzi menyerahkan Xie Ruo pada mereka berdua. Sheng Xian memapahnya, kemudian menghela napas untuk kesekian kalinya. Dewi Kehidupan di sisi lain memandang Qu Xuanzi dengan rumit.
"Aku tidak berjanji dapat menahannya. Ketika sadar, dia akan tahu." Dewi Kehidupan berkata dengan tegas.
Qu Xuanzi sudah menduga demikian, itu sebabnya ia berusaha cepat. Ia pun menjauh, lalu menghilang dalam cahaya emas yang terbang ke langit.
Hal yang harus dilakukan, pertama, menghapus seluruh badai dan memundurkan pasukan. Sebisa mungkin menghindari korban, agar keseimbangan alam tetap terjaga sebagaimana mestinya.
Dengan begini, Dewa Iblis akan melaksanakan aksinya. Pria itu pasti akan menargetkan Xie Ruo sebagai pemilik energi murni. Setidaknya Dewa Iblis bisa melepas perhatiannya dari Qu Fengxiu agar Qu Xuanzi bisa mengendalikan situasi secara penuh.
Untuk menyingkirkan badai, ia harus membuat Dewa Iblis melepaskan kendali badai dengan memanfaatkan Kaisar Iblis.
Qu Xuanzi berhenti melintas begitu merasakan beberapa kloning mulai menargetnya. Ada sangat banyak, semua kloning Dewa Iblis mengepungnya dari berbagai sisi dan mengeluarkan sebuah formasi.
Kabut hitam merebak ke arah Qu Xuanzi disertai berbagai macam serangan dari langit seperti hujan senjata. Ia menghindari serangan dengan sigap sebelum akhirnya cahaya emas di tangannya melesat menghancurkan salah satu kloning.
Begitu salah satu kloning hancur, formasi secara otomatis berhenti. Cahaya emas itu semakin menyebar ke tiap kloning dan menebas mereka semua tanpa sisa. Dalam sekejap, para kloning menghilang menjadi abu bersamaan dengan munculnya Dewa Iblis dan Kaisar Iblis.
Mereka berdua memandang Qu Xuanzi. Kaisar Iblis terlihat tidak memiliki ekspresi, sedangkan Dewa Iblis tertawa kecil sambil bertepuk tangan, menikmati tontonan menarik yang disajikan.
"Aku turut prihatin atas kondisi mental Xie Ruo." Dewa Iblis terkekeh, kemudian menepuk bahu Kaisar Iblis di sebelahnya. "Kau melakukannya dengan baik."
Kaisar Iblis sama sekali tidak mengatakan apa pun. Ia hanya memandang Qu Xuanzi, seolah sedang bicara melalui matanya. Tapi Dewa Iblis tidak peduli apa yang mereka rencanakan.
"Sepertinya rencanaku akan sedikit berubah." Dewa Iblis mengusap dagunya terlihat berpikir. "Kaisar Langit, tidak mungkin kau hanya akan diam saja, 'kan? Jika dibiarkan, racun darah bisa membunuhnya. Kau mungkin bisa bertahan, tapi tidak dengan Xie Ruo."
"Lalu tidak mungkin kau menawarkan penawarnya, 'kan? Tidak perlu mengungkit apa pun, tidak ada gunanya." Itu artinya Qu Xuanzi meminta Dewa Iblis untuk tidak cerewet karena ia tidak peduli. Dewa Iblis tersenyum kecut mendengarnya.
"Aku sedikit terburu-buru, mari kita selesaikan di sini." Dewa Iblis teringat akan Shu Xin. Jika tidak segera mendapatkan darah campuran untuk altar, Shu Xin akan dikorbankan. Ia tidak bisa menemukan Qu Fengxiu, hanya bisa kembali menarget Qu Xuanzi.
Dewa Iblis secara langsung melawan Qu Xuanzi. Tombak di tangannya meluncur dengan kecepatan tinggi, lalu melayang di udara dan diluruskan ke arah Qu Xuanzi disertai energi gelap yang pekat.
Kecpatan tombak itu sangat cepat, lebih cepat dari sihir apa pun di dunia ini. Qu Xuanzi mengelak tepat ketika tombak tersebut akan menikam jantungnya. Sinar merah muncul dari sisi lain ke arahnya, Qu Xuanzi berteleportasi ke sisi lain untuk menghindar, membiarkan dua serangan itu saling menghantam dan meledak.
Serangan tidak hanya berhenti sampai sana, bahkan tidak menunggu ledakan selesai. Begitu Qu Xuanzi muncul, serangan lainnya datang. Cahaya emas menangkisnya disertai bilah pedang yang dipenuhi aura membunuh.
Seekor qilin kegelapan muncul dalam wujud energi gelap yang memadat. Tubuh besarnya begitu mendominasi disertai sisik yang berupa kabut hitam, sera dua kumis panjang di wajahnya. Matanya merah, melihat lawannya dengan ganas.
Hanya saja, di mata Qu Xuanzi. Qilin itu hanya sekadar kadal liar yang tidak berarti. Bayangan naga emas di belakangnya muncul, wujudnya lebih besar dari naga surgawi sehingga terlihat lebih mengerikan. Ia mengaum sangat keras hingga mengguncang langit, melawan Qilin kegelapan yang mengakibatkan benturan besar memengaruhi wilayah tanah.
Pertempuran dua makhluk besar itu menarik banyak perhatian karena ukuran dan kekuatan mereka yang mengguncang dataran. Tidak ada yang berani mendekat. Melihatnya saja sudah membuat mereka semua bergetar.
Cahaya dan kegelapan saling berlawanan di langit seolah memperebutkan kekuasaan mereka. Seperti ribuan meteor jatuh, serta kembang api raksaksa yang mengguncang tanah tanpa henti.
Pertempuran kali ini berbeda dari biasanya. Selain dua bagian yang saling bertolak belakang, sihir merah tiba-tiba datang dan menekan cahaya emas. Seekor naga lainnya muncul dalam wujud penuh dengan energu gelap dan meninggalkan jejak semerah darah yang pekat. Ia bergabung dalam pertempuran membantu qilin kegelapan dan menekan naga yang berapi-api dan penuh udara dingin tersebut.
Raungan dan pekikan mengguncang langit disertai dentuman guntur. Ketika badai menghilang, langit yang semula gelap kini berubah warna menjadi merah darah, tanda bahwa pertempuran besar tengah terjadi.
Semua orang dapat melihatnya dari kejauhan sambil berlindung. Dewi Kehidupan dan Sheng Xian juga melihatnya di atas bukit sambil mengawasi sosok wanita yang masih terbaring lemah di atas tempat tidur yang telah mereka siapkan di kamp.
Mereka semua saat ini berkumpul, baik manusia maupun dewa dan ras lain, berada di tempat yang sama sebagai tempat evakuasi untuk menyaksikan pertempuran akhir yang sedang terjadi.
Tanpa mereka semua ketahui, sosok dalam tenda yang tengah terbaring, kini menggerakkan kelopak matanya.