
Qu Xuanzi dan Xie Ruo tiba di perbatasan ketika pembatas alam selesai diperbaiki. Sinar transparant yang membentuk barrier pembatas seperti dinding raksasa kini terpapar jelas. Yang awalnya berupa langit penuh awan tak berujung, kini menunjukkan dinding besar transparan dengan beberapa retakan yang tertambal oleh sihir yang merambat seperti akar.
Xie Ruo terpana melihatnya. Ada sangat banyak tempat di dunia ini yang belum pernah ia temui, ia penasaran apa saja di dalam tempat-tempat tersembunyi tersebut.
"Apa yang ada di luar sana?" Xie Ruo penasaran. Para iblis menerobos melalui pembatas alam karena tidak memiliki portal maupun tidak bisa melakukan lintas alam dengan sihir bawaan. Di luar sana seharusnya ada jalan yang lebih luas.
"Alam Kekosongan." Qu Xuanzi menjawab, kemudian menatap Xie Ruo. "Manusia yang akan menerima keilahian harus melalui Alam Kekosongan di mana sisa keilahian dewa yang telah mati berada. Bisa dibilang, tempat itu adalah kuburan, bukan bagian dari Tiga Dunia, melainkan jembatan antardunia."
"Jika dewa mati, apa tidak bisa dikuburkan di Dunia Atas?" Xie Ruo tiba-tiba memikirkan hal tersebut.
"Kematian dewa tidak seperti manusia. Mereka tidak meninggalkan jasad, hanya sisa kesadaran yang perlahan akan menghilang', sedangkan kekuatannya akan pergi ke Alam Kekosongan ataupun berpindah ke jiwa lain yang ditakdirkan."
"Bagaimana dengan jalan ke Dunia Dewa melalui kematian?"
"Jika seperti itu, tidak akan ada yang ditinggalkan di Tiga Dunia. Mungkin akan meninggalkan sisa kesadaran, tapi itu akan memberi cedera serius pada jiwanya."
Xie Ruo mengangguk paham. Semakin lama konsep dunia ini semakin rumit. Yang dikatakan Qu Xuanzi hanya bagian dasar, belum bagian lain yang jauh lebih rumit dan tidak bisa dicerna hanya dalam satu waktu.
Untuk saat ini, Xie Ruo tidak perlu ke Alam Kekosongan karena ia telah menerima keilahian melalui cara lain. Cara menerima keilahian yang baru saja dikatakan Qu Xuanzi adalah cara yang dilakukan dari nol sebagai manusia biasa.
Seseorang akan berkultivasi, kemudian mencapai tingkat yang setingkat dengan keberadaan dewa. Setelahnya, mereka akan mencari sendiri Alam Kekosongan dan bertahan hidup di dalamnya untuk mencari keilahian yang cocok. Jika tidak cocok, mereka akan hancur. Belum lagi bahaya yang dihadapi di dalam sana serta makhkuk aneh yang berkeliaran.
Sejauh ini, hanya beberapa manusia yang berhasil melewatinya. Salah satunya adalah Dewi Kehidupan—yang sekarang.
Xie Ruo merasa beruntung bahwa kakeknya adalah Dewa Naga. Ditambah, ia bertemu Qu Xuanzi. Jika ia tidak bertemu Qu Xuanzi, ia masih berada dalam konflik Dewa Iblis di Dunia Tengah sekarang. Atau bahkan perang sudah terjadi sejak kemarin.
Bicara tentang perang, Qu Xuanzi sudah mengatur pasukan Dunia Atas untuk bersiap. Selain hewan suci, Kekaisaran Langit juga memiliki pasukan besar yang sudah ada selama ribuan tahun sejak Tiga Dunia diciptakan. Mereka hanya akan keluar jika Tiga Dunia menghadapi perang besar antar-ras yang tidak bisa dihindari lagi, apalagi menyangkut ras iblis.
Semua itu sudah diatur, mereka berkumpul di tempat lain yang sudah ditentukan dengan pengaturan militer ketat. Sekarang, karena pembatas alam telah pulih, para iblis akan sulit menerobos dalam jumlah yang lebih banyak untuk melakukan lintas alam.
Huo Yuzheng datang ketika melihat Xie Ruo dan memberi salam padanya. "Guru." Ia melihat Qu Xuanzi yang tampak sensitif melihat kedatangannya. Ia tidak peduli, hanya memberi hormat secara formal sebelum membicarakan hal serius.
"Apa kolam riak air bisa dikeluarkan sekarang?" Huo Yuzheng bertanya. Kolam riak air adalah sebuah portal besar yang meliputi hampir tiap sisi perbatasan. Itu digunakan untuk membawa sebuah pasukan besar pergi lintas dunia ketika terjadi perang.
Qu Xuanzi mengangguk. Mereka semua akan pergi ke Dunia Tengah sebentar lagi, tentu harus dipersiapkan sekarang. Persiapan pasukan sudah selesai, mereka hanya perlu memasuki kolam riak air dan berteleportasi ke Dunia Tengah.
Petugas khusus pengaktifan formasi segera berkumpul dan membuka segel. Segel di tanah perbatasan bercahaya dan bergetar seolah akan ada sesuatu keluar dari sana.
Cahaya itu merambat sangat cepat ke tiap penjuru. Tempat Xie Ruo dan Qu Xuanzi, berada tepat di akhir garis cahaya yang merupakan bagian paling sisi kolam riak air. Tanah di sekitar bergerak, berputar seperti labirin dan meninggi membentuk sebuah benda raksasa pencakar langit.
Karena lama tidak digunakan dan telah memadat karena segel yang berlapis-lapis, energi dalam kolam riak air tak beraturan. Kabut tebal tercipta membuat semua orang waspada, sebelum akhirnya cahaya emas dari berbagai arah melesat tak terkendali seperti ribuan bintang jatuh.
Qu Xuanzi segera menarik Xie Ruo berteleportasi ke tempat yang lebih aman. Kolam riak air tidak akan menyerang jika bukan karena efek dari pembatas alam yang rusak sehingga membuat energi di dalamnya tak terkendali. Itu menyebabkan para dewa harus siaga dan memasang barrier di sekitar kolam agar tidak berpencar terlalu jauh dan membahayakan makhluk lain.
Setelah kabut hilang disertai kolam riak air yang menampakkan wujudnya, semua orang bernapas dengan lega. Bangunan besar itu tidak hanya sekadar kolam. Itu setinggi menara dan menyatu dengan pembatas alam. Besarnya seperti arena pertempuran dengan ketinggian yang dikelilingi puluhan anak tangga.
Disebut kolam riak air, karena benda itu memiliki area luas dan berkilau seperti kolam danau. Barrier yang mengelilingi kolam riak air menahan semua energi kacau yang perlahan tenang. Begitu kekacauan energi fatal tersebut kembali terorganisir, kolam riak air menunjukkan ketenangan luar biasa yang penuh rasa sunyi dan ditinggalkan.
Terlepas dari betapa luar biasa kolam riak air bangkit kembali, suasana hati Qu Xuanzi menjadi buruk begitu menyadari bahwa yang ditariknya bukanlah Xie Ruo.
Tatapan Qu Xuanzi menjadi dingin melihat Huo Yuzheng lah yang ternyata ia bawa. Sedangkan dewa kecil itu hanya memasang wajah acuh tak acuh.
Secara otomatis Qu Xuanzi melepas genggamannya. Ia mencari keberadaan Xie Ruo dengan cemas, lalu melihat wanita yang ia cari tampak termenung tidak jauh dari tempatnya berada. Wanita itu menatap wanita di sebelahnya dengan aneh.
Xie Ruo tidak habis pikir, ia bisa salah membawa seseorang. Ketika serangan kolam riak air terjadi, ia sudah menghitungnya sejak awal dan berniat memberitahu Qu Xuanzi dengan cara menariknya menjauh duluan. Tapi karena kabut yang menghalangi pandangan dan aura seseorang, ia jadi salah 'culik'.
Orang yang ia 'culik' ternyata seorang dewi yang entah dari mana datang di tempat seharusnya ia menemukan Qu Xuanzi. Ia pikir ia sudah cukup bisa mengenali seseorang melalui emosi, namun ia lupa bahwa emosi Qu Xuanzi sangat sedikit sehingga sulit menebaknya. Alhasil, ia mengambil seseorang dengan emosi pekat di sisinya.
Dewi itu tampak melihat Xie Ruo dengan terkejut, kemudian segera tersenyum canggung. "Terima kasih(?)"
Xie Ruo tertawa canggung mengiyakan sambil mencari keberadaan Qu Xuanzi. Ia mengedarkan pandangan, kemudian menemukan Qu Xuanzi yang tiba-tiba muncul di sisinya begitu tiba-tiba.
"Ternyata kau di sana." Xie Ruo berusaha menebalkan wajah.
"Yang Mulia." Dewi di sebelahnya langsung menunduk.
"Aku sudah memutuskan, akan pergi ke medan perang bersama ras naga. Seharusnya sebentar lagi mereka datang, untuk sementara ini aku akan pergi."
"Aku akan ikut."
Raut Xie Ruo berubah, kemudian melihat suasana Dunia Atas yang sibuk. "Apa seorang Kaisar selalu begitu senggang?"
"Tidak ada yang bisa kulakukan di sini." Sebenarnya Qu Xuanzi hanya perlu menyerahkan tugas, terutama pada dewa kecil itu.
Xie Ruo terkekeh. "Lakukan sesukamu." Lagi pula Xie Ruo tidak bisa melarang. Anak-anaknya sudah aman bersama Roh Guntur dan Dewi Kehidupan, ia bisa bebas bereaksi.
"Lalu kau bisa mengurusnya sendiri." Qu Xuanzi menyahuti dengan dingin. Siapa dia yang berani mengaturnya?
Wanita itu terdiam untuk beberapa saat mendengar ucapan dingin itu. Sangat jauh berbeda ketika bicara dengan Xie Ruo. "Tapi—"
"Aku tidak begitu senggang untuk bicara padamu." Qu Xuanzi menyahut acuh tak acuh, kemudian pergi bersama Xie Ruo.
Xie Ruo melirik wanita itu dengan tatapan penuh arti, atau bisa dikatakan ... mengejek?
Tatapan Xie Ruo tersampaikan membuat dewi itu terdiam tanpa bisa mengatakan apa pun. Ia sebagai Dewi Angin diejek seorang pewaris Dewa Naga? Benar-benar lelucon. Hanya karena berhasil menikah dengan Kaisar Langit, bukan berarti bisa menjadi permaisuri, dia sudah begitu sombong!
Ada sangat banyak yang menyukai Kaisar Langit di dunia ini. Dewi Angin tidak percaya, Kaisar Langit hanya akan menikah dengan seorang manusia kasar seperti itu.
Sedangkan di sisi lain, wanita yang dikutuk oleh dewi tertentu tidak peduli apa yang dipikirkan orang lain tentangnya. Mengabaikan perasaan Dewi Angin terhadap suaminya, Xie Ruo lebih mementingkan perang yang terjadi saat ini. Yang penting ia percaya pada Qu Xuanzi, ia tidak perlu mengotori tangan untuk menyingkirkan parasit yang datang-pergi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ketika Dunia Atas telah bergerak untuk melakukan perjalanan melalui kolam riak air ke Dunia Tengah, Kekaisaran Zhongbu kini dilanda demam akut yang menyebabkan rakyat tidak berdosa harus menanggung akibatnya.
Ibu Kota ditutup sepenuhnya, kota yang tersisa telah diduduki iblis lebih cepat dari perkiraan menyebabkan kecemasan luar biasa. Banyak yang mulai mengajukan protes dan menentuk kekuatan masing-masing, apalagi setelah mendengar bahwa kekuatan terkuat setelah Zhong Guofeng, yakni Zhong Xiaorong dan Yan Yao telah hilang dari permukaan.
Kabar yang beredar membuat rakyat memanas dan berkonspirasi bahwa kekaisaran akan hancur tak lama lagi. Apalagi keberadaan Zhong Guofeng dipertanyakan, membuat semua orang gelisah tak karuan.
Di dalam istana sama parahnya akan para anggota kerajaan dan petinggi yang berkumpul. Mereka bingung karena tiba-tiba saja semua orang penting seperti Kaisar, Pangeran Mingfeng, dan Ratu Xue lenyap seperti tertelan bumi.
Di sisi lain, salah satu pihak yang seharusnya ada di antara perdebatan para petinggi kini berada dalam ruangan gelap yang dipenuhi rasa sesak dan kegelapan. Iris merahnya yang pekat tampak dipenuhi kemarahan, namun juga kepuasan di saat yang sama.
Dewa Iblis, atau Zhong Wenyue yang kini dalam wujud aslinya sebagai Yuwen Yue baru saja pulih dari cedera yang diakibatkan Asura akan pertempuran yang baru saja terjadi beberapa hari lalu.
Waktu telah berlalu, ia dapat merasakan bahwa darah campuran lainnya telah lahir dan nyaris tidak bisa menahan diri untuk tidak menyempurnakan altar. Setelah altar sempurna, ia akan menjadi lebih kuat dan dapat mengalahkan Asura tanpa bantuan. Ia juga bisa sepenuhnya memiliki Shu Xin.
Tapi darah campuran itu tidak mungkin dibawa ke medan perang secara sengaja oleh Xie Ruo maupun Qu Xuanzi. Jika ingin memancing seseorang, ia hanya bisa menyentuh yang terlemah.
Xie Ruo adalah sasaran yang cocok dibandingkan Qu Xuanzi. Kelemahannya dapat dilihat dengan lebih jelas, sehingga dialah penentuan akhir perang yang kemungkinan akan terjadi. Xie Ruo adalah kekuatan, sekaligus kelemahan. Ia adalah kelemahan Qu Xuanzi, sedangkan kelemahan Xie Ruo adalah keluarganya. Bukankah itu mudah dibereskan?
"Klan Xie, ya." Dewa Iblis tersenyum. Ia tidak bisa menyentuh teman-teman Xie Ruo secara langsung, tapi Klan Xie bisa. Satu-satunya titik terlemah Xie Ruo secara spesifik adalah kakek dan neneknya.
Dewa Iblis kini mendapatkan rencana luar biasa yang dapat menjatuhkan moral seseorang. Ia akan membuat seseorang putus asa, kemudian mengorbankan apa yang memang seharusnya dikorbankan.
Kalau gagal pun tidak masalah. Ia tidak masalah tidak mendapatkan darah campuran lain, tapi jika bisa membunuh Qu Xuanzi melalui Xie Ruo, lalu menyenangkan Shu Xin dengan mengorbankan energi murni dalam tubuh Xie Ruo, itu akan jauh lebih mudah.
Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, ia kira ia bisa mendapatkannya.
"Xiao Wu!" Dewa Iblis memanggil seseorang.
Sosok wanita cantik datang dari balik pintu yang tertutup. Telinga runcing serta iris emasnya menunjukkan identitas peri yang tidak dapat disangkal. Ia melihat Dewa Iblis penuh penghormatan sambil berlutut.
"Perhatikan gerak-gerik Klan Xie. Untuk sisanya, aku akan serahkan pada Kaisar Iblis. Kau awasi juga pergerakannya, juga turuti perintahnya. Laporkan semuanya padaku setelah selesai."
Mata wanita itu menunjukkan sebuah tebakan tak terduga. Awalnya ia terkejut bahwa Dewa Iblis mengirim Kaisar Iblis yang masih dalam kendali boneka dan kapan pun bisa sedikit berbelok, tapi mengingat bahwa targetnya kini tak biasa serta semua hubungan Kaisar Iblis dengan Klan Xie, ia menjadi sangat senang.
"Jian Wu di sini, menerima perintah Yang Mulia!" Tak lama lagi, ia juga akan bertemu adik kecilnya yang malang, kan? Dengan adanya Kaisar Iblis mendukung secara langsung, siapa yang dapat menghalanginya?
"Perhatikan dengan baik, pastikan wanita itu datang."
Jian Wu tersenyum senang, mengerti maksud dari perkataan Dewa Iblis. "Xiao Wu mengerti. Yang Mulia tidak perlu khawatir, apa pun bisa dilakukan oleh Xiao Wu tanpa kecuali."
"Bagus." Dewa Iblis akhirnya bisa merasakan kemenangan di depan mata. Namun tiba-tiba ia teringat sesuatu sebelum Jian Wu pergi. "Oh iya, sampaikan pada yang lain untuk memulai permainan hari ini. Aku sudah merasa, Dunia Atas mulai bergerak melakukan perlawanan. Jangan sampai menyisakan bantuan lain dan menguntungkan pihak lawan."
"Xiao Wu tidak akan mengecewakan Yang Mulia. Xiao Wu akan menyampaikannya, lalu menunjukkan kuasa dan kekuatan Yang Mulia yang sebenarnya."
"Aku pikir, sebaiknya kau tidak langsung pergi ke medan perang melawan Dunia Atas. Jangan sampai kau melihat orang itu, kau menjadi goyah."
Jian Wu diam untuk beberapa saat, terkejut akan ucapan yang keluar dari mulut Dewa Iblis. Benar, ia tidak boleh goyah hanya karena melihat wanita itu. Sekarang ia sudah memiliki posisi penting dan lebih baik dari dulu, ia tidak boleh mudah goyah hanya karena masa lalu.
Di dunia ini, hanya ada Dewa Iblis di matanya, tidak ada yang lain, meski itu ibu kandungnya sendiri!
"Terima kasih atas peringatannya, Xiao Wu akan berhati-hati. Bagi Xiao Wu, Yang Mulia adalah segalanya."
"Kalau begitu, aku sudah bisa tenang."
"Xiao Wu pamit undur diri." Jian Wu mundur, keluar dari ruangan dengan perasaan mantap. Ia tidak akan goyah semudah itu.
Keluarga apanya? Di dunia ini, yang kuatlah yang berkuasa. Ia sudah menjadi lebih kuat, hanya masalah waktu untuk menyingkirkan semua duri dalam hatinya.