
Sepasang iris emas memandang langit cerah dalam diam di atas menara tertinggi. Dunia tampak tentram dari kelihatannya, tapi pengelihatannya yang jauh tidak menemukan kedamaian yang terlihat dari luar.
Sheng Xian memiliki keistimewaan mata dunia. Ia memiliki pengelihatan mengenai apa yang ingin dilihatnya. Oleh karena itu, ia selalu tahu kondisi dunia luar meski berada di lingkungan jauh dan tertutup.
Namun, kemampuannya masih terbatas. Itu tidak bisa digunakan untuk mencari seseorang secara spesifik, yang membuatnya merasa tidak berdaya ketika mengingat seseorang yang menjadi duri di hatinya.
Peri di belakang Sheng Xian menyadari suasana hati ratunya yang mendung. Karena hari ini adalah hari di mana Menara Suci terbentuk, serta hari di mana ras peri terpecah belah dan hancur. Sheng Xian kehilangan banyak hal, semua peri yang pernah hadir saat itu tahu perasaannya.
"Yang Mulia masih mencarinya?" Peri itu tidak setuju jika Sheng Xian terus mencari keberadaan pengkhianat itu. Tapi ia paham perasaan Sheng Xian, jadi tidak melarangnya.
"Ruoruo pernah bertemu dengannya, 'kan?" Sheng Xian tetap memandang langit dengan pandangan redup.
"Mungkin." Peri itu tidak yakin.
"Kalau begitu dia seharusnya baik-baik saja."
"Apa tidak ingin mengatakannya pada Ruoruo?"
"Jika dia bertanya, aku akan mengatakannya. Tidak tahu apa dia akan kecewa atau tidak."
"Meski temperamen Ruoruo sulit ditebak dan keras kepala, dia mudah memahami situasi. Apalagi setelah bertahun-tahun tinggal, dia tidak seburuk yang terlihat. Lagi pula, semua ini bukan salah Yang Mulia."
Sheng Xian diam untuk beberapa saat. "Aku harap begitu."
Kemudian, sebuah siluet emas melintas di langit memberitahu keberadaannya dan menghilang begitu cepat. Peri di belakang Sheng Xian agak terkejut dan memasang sikap waspada, namun isyarat tangan Sheng Xian menghentikannya.
"Dia bukan musuh, aku tidak mengizinkanmu berlaku tidak sopan." Sheng Xian sama sekali tidak mengubah intonasi suaranya, hanya melihat arah pergi sinar emas itu.
Peri itu menunduk. "Maaf atas kelancanganku, Yang Mulia."
Sinar emas yang baru saja melintas ke dalam istana, masuk ke bagian tertinggi menara melalui jalan udara. Bagian tertinggi menara tidak bisa dimasuki orang biasa, harus ada izin dari Ratu Menara Suci. Hanya orang tertentu yang bisa keluar masuk dengan bebas. Selain Ratu Menara Suci, murid pribadi ratu adalah salah satunya.
Di salah satu ruangan menara, dinding perak melapisi ruangan dengan penuh disertai renda yang tergantung memenuhi ruangan sebagai bagian dari penunjang kultivasi.
Lampu bagai bintang memancarkan sinar memenuhi ruangan tanpa ada kegelapan. Sinar perak menari-nari di udara membentuk aliran energi yang tampak seperti angin berjalan, berpusat pada bagian ujung ruangan.
Berbagai peralatan kultivasi serta benda langka lainnya tersusun, dipenuhi dengan sinar perak yang bagaikan aliran air ke pusat energi. Semua benda itu menguap dan menghilang, meresap ke pusat energi di mana seorang gadis tengah duduk diam dengan mata tertutup rapat.
Rambut peraknya berkilau seperti berlian, kulitnya seputih salju ditambahkan dengan pakaian putih polos membuatnya lebih terlihat seperti peri. Wajahnya yang cantik dalam keadaan mata tertutup tampak polos, namun dengan keseriusan matang dan aura yang lebih kuat.
Jika kecantikan seperti itu muncul di tengah dunia, tidak akan ada wanita lain yang bisa menandinginya. Ia memiliki aura dewi yang kuat, penampilan peri yang lembut, serta tatapan naga yang bersinar dengan cahaya biru sedingin es.
Ia telah membuka mata, namun tatapannya sangat dingin tanpa riak emosi. Merasakan keberadaan orang lain setelah sekian lama sendiri, mendadak ia menjadi waspada dan mengambil sebilah pedang perak yang tertancap di sampingnya.
Menghilang dari tempatnya, ia muncul disertai ayunan pedang ganas yang membelah udara dengan kecepatan mencegangkan. Pedang terarah pada seseorang, namun orang itu dengan cepat menghindari serangan dan menangkisnya dengan satu tangan.
Iris biru itu semakin dingin. Langkahnya sangat cepat seolah tidak hanya ada satu orang, kemudian melancarkan serangan mematikan dari dua arah yang berbeda. Renda yang menggantung menyebabkannya gagal mengenali sosok yang datang tanpa diundang, tapi tidak menghalanginya dalam bertarung.
Sinar perak di seluruh ruangan tiba-tiba bergerak dan memutar di seluruh ruangan, membentuk sebuah bilah besar yang memadat di tangan gadis itu. Bilah perak berputar di udara, membelah renda-renda yang menggantung dan mengejar sosok misterius itu.
Ketika bilah perak menemukan target, itu langsung meluncur dengan kecepatan tinggi. Cahaya emas menghalangi jalan bilah perak untuk mengoyak targetnya, sepenuhnya menekan bilah emas hingga hancur berkeping-keping.
Melihat bilahnya hancur, gadis itu melangkahkan kakinya dengan cepat sambil menebaskan pedang dengan keras. Beberapa bilah pedang melayang di udara membentuk sebuah figur dan menembaki target secara bersamaan.
Beberapa orang bisa mengeluarkan bilah ketika telah menerobos ke tingkat tinggi, namun hanya dalam hitungan kurang dari 20 bilah. Kali ini, gadis itu mengeluarkan bilah lebih banyak dari yang diperkirakan sehingga membentuk figur naga berukuran besar, bersedia mencabik-cabik musuh tanpa meninggalkan jasad.
Sambaran bilah naga itu menyebabkan cahaya perak yang melonjak ke seluruh ruangan, menghalangi pandangan. Namun, ketika iris biru gadis itu melihat kembali lebih jelas, targetnya telah menghilang dari serangan menyebabkan naganya hancur dan bertebaran karena benturan dinding.
Keningnya berkerut, kemudian menyadari pihak lain berada di belakangnya. Dengan cepat, ia berbalik dan mengayunkan pedang untuk melukai lawan. Entah kecepatan seperti apa, pedangnya terhempas membuat gadis itu harus menggunakan tangan kosong untuk menghajarnya.
Gadis yang tak lain adalah Xie Ruo mengeluarkan cahaya perak di tangannya dan menyerang lawan tak dikenal yang sekilas tampak bertopeng. Ia tidak bisa mengenalinya dengan jelas, tapi ketika dilihat lebih dekat, ia merasa familiar.
Tidak mau berpikir terlalu banyak, ia menggunakan gerakan serangan tangan kosong dan tendangan tinggi untuk melawan sosok itu. Topeng itu tidak biasa, dapat menyamarkan aura serta identitas seseorang sehingga tidak dapat dikenali. Sepertinya bukan orang biasa, apalagi berhasil menyusup tanpa diketahui gurunya. Ia harus hati-hati.
Gerakan serangan Xie Ruo sangat cepat dan rapi, setiap serangan ditujukan ke titik vital untuk menyelesaikan pertarungan dengan cepat. Tangannya mengeluarkan pisau kecil, kemudian ditujukan ke arah sosok itu berniat melukainya, namun sosok itu tak kalah cepat dan berhasil mencegahnya menggunakan senjata lain.
Karena tidak bisa menggunakan senjata, ia menggunakan semua sihirnya. Sihir pesona tidak terikat dengan jiwa, sehingga tidak memiliki sihir pesona sejak berpindah tubuh. Tapi ia memiliki sihir lain yang lebih kuat dari sihir pesona dari Menara Suci.
Sihir api dingin muncul di tangannya, meluncur ke udara dan mengembang bagai teratai. Karena jiwanya telah menyatu dengan unsur api, ia dengan mudah mengendalikan api dingin yang tampak putih dan dingin itu seolah menyatu dengan tubuhnya, merambat ke seluruh ruangan dan menyerang dari segala arah seperti jaring.
Api dingin adalah api surgawi yang legendaris. Tersimpan di inti neraka, lebih panas dari api lainnya. Berbeda dari api neraka yang merusak dan korosif, api dingin bersifat sangat dingin dan menusuk. Tidak sedingin es, juga tidak sepanas api. Itu bukan sesuatu yang manusia atau makhluk lain dapat terima dan terlalu menantang surga.
Tapi di depan sosok itu, api dingin tampak seperti mainan anak kecil. Sosok itu bergerak seolah ia adalag angin, melesat dengan kecepatan tinggi hingga Xie Ruo tidak dapat menebaknya.
Xie Ruo membuka persepsi, mengikuti arah pergi sosok itu. Secara alami, ia bergerak ke arah sosok itu pergi dan mengarahkan api dingin.
Ketika api dingin menyentuh sosok itu, Xie Ruo menekannya berniat menyelesaikan pertarungan dengan cepat. Orang seperti ini, semakin lama pertarungan berjalan, semakin menguntungkan untuknya daripada untuk Xie Ruo.
Xie Ruo mengambil pedang yang terhempas kemudian melompat menyerangnya. Ketika pedangnya akan mendarat di depan sosok itu, pedangnya tertahan hanya dengan satu tangan. Namun, ada satu hal yang membuat Xie Ruo salah fokus.
Jari yang bersentuhan dengan ujung pedangnya, memiliki sesuatu yang menarik perhatian hingga membuat matanya terbelalak. Benda yang dikenakan di salah satu jari, ia sangat mengenalnya. Mirip dengan cincin yang ia kenakan, tanpa pernah melepasnya sejak dikenakan.
Sudah 10 tahun, tiba-tiba Xie Ruo merasa jantungnya bergejolak, tidak tahu apa yang sebenarnya ia rasakan hingga terasa sangat tidak nyaman. Tapi satu hal yang ia tahu, penantian 10 tahun itu sudah berakhir.
"Xuanzi?"
Melepas pedang di tangannya, Xie Ruo berhambur ke pelukan sosok bertopeng yang ternyata sangat dikenalnya. Kenapa ia tidak menyadarinya sejak awal? Itu benar-benar menjengkelkan.
Semua aura pembunuh dan bekas serangan serta api dingin perlahan menghilang. Qu Xuanzi tanpa mengatakan apa pun, memeluk Xie Ruo lebih erat untuk melepaskan semua kerinduannya yang selama ini tertahan selama 10 tahun. Kali ini, semua penantian itu seolah hanya terjadi dalam sekejap mata. Ia sangat merindukan gadis kecilnya.
"Kenapa tidak mengatakannya sejak awal? Bagaimana jika ... aku benar-benar membunuhmu?" Xie Ruo merasa dirinya sebelumnya sangat bodoh.
Masalahnya, aura Qu Xuanzi benar-benar tersamarkan dan tidak dapat dikenali. Topeng itu memiliki kekuatan khusus yang benar-benar menyamarkan segalanya sehingga Xie Ruo berpikir bahwa yang datang adalah penyusup, mengingat hari ini Menara Suci terbuka untuk perekrutan. Seharusnya ia tidak langsung menyerang begitu saja.
"Aku akan berusaha agar tidak terbunuh."
"Katakan saja aku tidak bisa membunuhmu, meski seharusnya aku sudah bisa mengalahkanmu di masa lalu" Xie Ruo menggerutu.
Biarlah semua itu berlalu. Sekarang, Isabella adalah Xie Ruo, sedangkan Sean adalah Qu Xuanzi.
Xie Ruo melepas pelukan dan menatap Qu Xuanzi dengan senyuman. "Awalnya aku ingin kembali ke Klan Xie seminggu lagi, tapi kau sudah datang duluan."
"Apa kamu tidak merindukanku?"
Xie Ruo melepas topeng yang menutupi sebagian wajah Qu Xuanzi. Wajah itu ... sama seperti 10 tahun yang lalu dan selalu berhasil membuat siapa pun terpesona. Untung saja mengenakan topeng sesuai anjurannya.
Mencium bibir pria itu sekilas, kemudian Xie Ruo berkata, "Sangat."
"Aku lebih merindukanmu."
"Setelah lama tidak betemu, guru besar menjadi lebih dingin." Xie Ruo mengejek. Ia ingat, gurunya adalah murid yang tak diakui Qu Xuanzi. Itu berarti, Qu Xuanzi adalah guru besarnya. Tak salah panggilan pertamanya sejak berada di dunia ini.
"Apa aku sangat dingin?" Qu Xuanzi pikir sudah bersikap normal. Apanya yang dingin?
Sepertinya lingkungan tidak baik membuat Qu Xuanzi kembali ke dirinya yang dulu. Xie Ruo mencubit kedua pipi Qu Xuanzi, merasa gemas akan wajah datar itu.
"Kamu, ya. Apa tidak pernah belajar dari Naga Azure?"
"Dia gila."
Xie Ruo tersenyum kecut. "Setidaknya dia lebih masuk akal."
"Apa kamu juga masuk akal?"
Xie Ruo cemberut. Sepertinya Qu Xuanzi akan mengejeknya lagi.
Qu Xuanzi tersenyum kecil. "Tak apa tidak masuk akal, aku suka kamu yang begitu."
"Sudah bisa bicara manis."
"Kau pikir aku hanya diam saja selama 10 tahun?" Ia menyentuh sudut bibir Xie Ruo dengan jarinya. "Tak apa tak pandai bicara, tapi aku pandai beraksi."
Tepat setelah mengatakannya, ia menyatukan bibirnya dengan bibir Xie Ruo, membuat gerakan lembut merasakan tiap inci rasa manis yang ia lewatkan selama bertahun-tahun.
Selama 10 tahun terakhir, Qu Xuanzi sama sekali tidak menganggur. Dunia Atas telah kembali, dan ia memiliki tugas beruntun yang bahkan belum selesai sampai sekarang. Kemungkinan besar akan selesai dalam beberapa waktu di tahun ini, ia akan menyelesaikan masalahnya lebih cepat apalagi setelah Xie Ruo keluar dari Menara Suci.
Perang belum berakhir, ia mencoba membersihkan jalan sebisanya dan memberi luang untuk Xie Ruo melangkah tanpa hambatan. Meski Xie Ruo tidak lemah, dan ia sudah memeriksanya, musuh yang dihadapi jauh lebih kuat dari sesuatu yang bisa diharapkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di Sekte Bayangan Malam, di mana seluruh kediaman dipenuhi aura gelap dan suram, sosok pria tampan duduk di kursinya sambil mendengarkan 'cerita' dari holo yang aktif akan wujud salah satu temannya yang mengalami masalah.
Sejak tadi Pei Xi mendengarkan ocehan Zhong Xiaorong yang random, dimulai dari obrolan serius mengenai kasus pembantaian Kabupaten Xia dan misteri kematian ibu Zhong Xiaorong yang berkaitan dengan racun aneh di istana, sampai pembicaraan membosankan mengenai curhatan Zhong Xiaorong tentang nenek mertuanya yang selalu memancing keributan.
Pria yang duduk di atas kursi itu menguap akan curhatan Zhong Xiaorong. Wajah tampannya sedikit menutup mata, sambil menopang kepala dengan salah satu tangan di sandaran kursi.
Ia tampak sangat tampan seperti ciptaan tuhan yang sempurna, apalagi dengan rahang tegas yang tampak lebih dewasa. Bisa dibilang, ketampanannya kini melampaui Yan Yao yang dulu sudah sangat tampan.
Tapi berbeda cerita jika disandingkan dengan Qu Xuanzi. Lupakan, pria satu itu bukan manusia. Jangan disamakan dengan manusia.
"Sudah selesai?" Pei Xi merasa arah pembicaraan Zhong Xiaorong semakin tersasar ke sana ke mari. Tadinya sedang membicarakan nenek mertua, sekarang membicarakan pria yang menggodanya di istana.
"Kakak Xi, kamu adalah kakak ketiga-ku, apa aku tidak boleh curhat padamu?" Zhong Xiaorong memasang ekspresi menyedihkan, seolah akan menangis kapan saja.
Ia tidak pernah menunjukkan ekspresi itu pada siapa pun—termasuk Yan Yao—kecuali kakaknya. Karena Pei Xi adalah kakak yang paling diakui, Zhong Xiaorong memperlakukannya sebagai kakak kandung, apalagi mengingat tentang Zhong Wenyue.
Tiba-tiba raut Zhong Xiaorong semakin meredup, sayangnya Pei Xi menganggap itu sebagai akting agar ia melonggarkan Zhong Xiaorong seperti biasa.
"Kakak Xi, apa kamu sudah mendengar kabar mengenai Ruoruo?"
"Ya."
"Menurutmu, kapan Ruoruo kembali?"
Membicarakan Xie Ruo, Pei Xi merasa hatinya menghangat. Sejak dulu, perasaannya kepada Xie Ruo tidak berubah.
Sayangnya, ia tidak bisa menunjukkannya dengan jelas dan hanya bisa mundur mengingat yang ia hadapi bukan manusia biasa. Jika hanya Kaisar Zhongbu, itu bukan masalah besar. Tapi, bagaimana dengan Kaisar Langit? Ia hanya bisa menyerah. Apalagi Xie Ruo dan Kaisar Langit memiliki perjanjian pernikahan.
Jika Xie Ruo tidak menyukai Kaisar Langit, ia akan mendukung Xie Ruo dan berusaha bersaing. Tapi kenyataannya, ia belum sempat bersaing sudah didahulukan. Ia hanya bisa menonton dari jauh.
"Kakak Xi!" Zhong Xiaorong berteriak menyadarkan pria yang merenung itu.
"Mungkin sebentar lagi, atau lima tahun kemudian. Kamu sabarlah, dia pasti kembali."
"Kau tahu? Betapa sedihnya aku mendengar Xie Ran meninggal, tapi ternyata aku lupa bahwa yang meninggal adalah Xie Ran asli, bukan Xie Ruo. Aku sangat malu." Zhong Xiaorong cemberut.
Pei Xi memutar bola mata dan bersikap serius. "Untuk kasus kematian ibumu, mungkin akan sulit karena berhubungan dengan anggota kekaisaran. Jadi, aku akan mencoba mencari koneksi dalam istana dan mengumpulkan informasi. Itu membutuhkan waktu."
"Tidak terburu-buru." Zhong Xiaorong akhirnya bisa bernapas lega.
"Setelah dari Klan Yan, panggil Mei Liena ke sekte. Aku ada hal yang ingin dibicarakan dengannya."
Zhong Xiaorong mengangguk patuh. Ia melambaikan tangan sebelum akhirnya mematikan koneksi panggilan. Gambarnya hilang dari pandangan Pei Xi.
Pei Xi beranjak dari kursi dan segera memerintahkan beberapa orang untuk menyelidiki istana secara diam-diam. Ia pikir masalah ini tidak sederhana. Jika Perdana Menteri ada hubungannya, maka Liu Chang bisa dalam bahaya dan akan menjadi pukulan besar untuknya.
Selain itu, tidak tahu bagaimana perasaan Zhong Xiaorong. Ia semain merasa, tidak ada di antara mereka yang akan berakhir baik dengan mudah.
"Sudah sangat lama. Adik, apa kabar?"
Suara itu tiba-tiba datang membuat Pei Xi terkejut. Ia berbalik, melihat sosok wanita bermata emas dengan telinga runcing tersenyum padanya. Wajah itu, terakhir ia melihatnya 10 tahun yang lalu yang diakhiri dengan perpisahan, Jian Wu.
"Ternyata kau masih hidup, Kakak."