
Tangisan bayi terdengar nyaring sampai keluar ruangan. Qu Xuanzi yang gelisah di luar teralih begitu mendengar suara tangisan ringan yang membuat tubuhnya tanpa sadar membuka pintu dan melihat ke dalam ruangan.
Beberapa wanita tengah membereskan semua barang dan menenangkan saraf Xie Ruo yang sebelumnya tegang. Gai Ya menggunakan kekuatannya untuk menekan racun darah dalam tubuh Xie Ruo, membuat semua urat hitam yang timbul itu menghilang disertai wajah yang mulai menunjukkan kehidupan.
Melihat Xie Ruo yang tampaknya akan bangun, suara tangisan bayi seolah tersamar dari pendengaran. Qu Xuanzi masuk ke dalam dan langsung menemui Xie Ruo yang mulai membuka mata pelan-pelan.
Iris biru Xie Ruo melihat Qu Xuanzi yang mendekat. Pria itu langsung menggenggam telapak tangannya dengan erat, emosi gelisah di mata merahnya terlihat dengan jelas.
"Ruoruo."
Xie Ruo diam untuk beberapa saat, terlihat agak linglung. Begitu ingatan tentang apa yang sebenarnya terjadi terlintas, rautnya menunjukkan kelegaan.
"Xuanzi ...." Xie Ruo bicara dengan serak. Ia merasa sulit memikirkan sesuatu karena pikirannya kosong tiba-tiba sejak tadi.
Qu Xuanzi langsung memeluknya dengan erat, takut jika Xie Ruo akan pergi begitu saja. Ia dipenuhi rasa takut tadi.
Xie Ruo juga memeluk Qu Xuanzi dengan erat, sambil menahan semua emosi yang terkumpul dalam hatinya. Ia tidak tahu apa yang baru saja terjadi sejak menerima ujian Dewi Memori, karena jiwanya benar-benar tertutup dari dunia luar. Ia merasa sangat takut ketika kembali sadar, takut jika terjadi hal buruk dan usahanya terbuang sia-sia.
"Aku takut..." gumam Xie Ruo. Ia ingin menangis mengingat semua yang terjadi, tapi tidak bisa melakukannya, hanya bisa mengeratkan pelukan untuk mencari keamanan dalam jiwanya.
"Aku di sini, semua baik-baik saja." Qu Xuanzi bicara dengan nada rendah.
Ia melepaskan pelukan begitu merasakan seseorang mendekat, menoleh ke belakang, melihat dua wanita yang membawa masing-masing bayi kecil yang dibalut dengan selimut putih.
Dua bayi mungil tertidur dengan nyenyak setelah menangis. Salah satunya tampak kemerahan, sedangkan yang satunya terlihat pucat dan lebih kecil. Dua wanita itu memandang pasangan di depan mereka dengan kikuk.
"Y-Yang Mulia—"
Karena salah satu wanita itu terlalu gugup, wanita di sebelahnya langsung menerobos dengan senyuman lebar. "Bayinya laki-laki dan perempuan. Yang Mulia, selamat!"
"Y-ya ...." Wanita kikuk di sebelahnya mengangguk pelan dengan senyum canggung.
Qu Xuanzi melihat dua bayi dalam pelukan dua wanita itu. Ia tidak tahu bagaimana mengekspresikannya, sedangkan ia sendiri memiliki perasaan aneh yang tidak pernah terjadi. Ada rasa ingin menyentuh dua bayi kecil itu, tapi ia merasa ragu. Takut jika ia yang kasar menyakiti dua bayi yang tampak sangat rapuh dan mudah terluka.
Dua wanita itu berjalan memberi bayi dalam buntalan selimut ke arah mereka. Yang satunya menyerahkan ke Xie Ruo dengan senyuman ceria sambil melihat lelaki mungil yang sangat imut. Ia hanya berharap bayi itu tidak bangun sekarang, karena takut melihat mata merahnya.
Sedangkan wanita kikuk itu semakin tak karuan ketika akan menyerahkan bayi di tangannya. Masalahnya, yang ia hadapi adalah pria yang mengerikan!
Karena ketakutan, ia langsung menyerahkannya begitu saja dan kabur terbirit-birit. Qu Xuanzi sama tertekannya. Masalahnya, ini pertama kali ia bertemu makhluk sekecil dan serapuh ini secara langsung, apalagi membawanya dalam gendongannya yang kaku sampai ia harus sangat berhati-hati agar tidak remuk.
Xie Ruo yang melihatnya memutar bola mata. Apa semua dewa aneh-aneh? Ia yang melahirkan tapi pria itu yang tegang tak karuan sampai merasa tertekan.
Wanita yang sejak tadi tersenyum lebar berkata, "Dewi kami akan datang sebentar lagi setelah urusannya selesai, mohon menunggu." Wanita itu membungkuk, kemudian pergi dengan perasaan lega.
Setelah kepergian wanita itu serta yang lainnya, Xie Ruo menghela napas, kemudian tersenyum tipis. Ia melihat bayi kecil di pelukannya dengan perasaan hangat. Jadi begini, rasanya melihat seseorang yang ia perjuangkan hidup dan mati tumbuh dengan sehat dan selamat.
Kemudian pandangannya terarah pada Qu Xuanzi yang terlihat bingung. Ia berkata, "Jika kau membawanya seperti itu, dia tidak akan nyaman."
Xie Ruo mengomentari cara kaku Qu Xuanzi menggendong putrinya sendiri yang sudah seperti membawa tumpukan pakaian. Xie Ruo yakin, pria itu sama sekali tidak tahu apa pun mengenai hal ini.
Qu Xuanzi melihat cara Xie Ruo memeluk bayinya, lalu mengikutinya tanpa banyak tanya. Sebelumnya ia masih agak terkejut sampai tidak mempersiapkan apa pun.
"Aku tidak bisa menyebut mereka kembar, mereka tidak mirip." Qu Xuanzi bergumam melihat dua bayi itu bergantian.
"Apa aku dan Xie Ran mirip?" Xie Ruo mengejek.
"Kalian bukan saudara." Qu Xuanzi malas membicarakan Xie Ran yang merupakan Shu Xin atau Dewi Cahaya.
"Yah, terserah." Xie Ruo menggedikkan bahu. Kemudian ia teringat akan sesuatu. "Sepertinya aku menangkap sesuatu. Dewa Iblis menyerangku untuk hal ini."
Qu Xuanzi paham maksud Xie Ruo dan melihat bayi di pelukan Xie Ruo. Darah dewa dan iblis ada dalam tubuhnya, Dewa Iblis akan melakukan segala cara untuk mendapatkannya.
"Dia tidak akan mendapatkannya, aku janji." Qu Xuanzi tidak akan ceroboh lagi. Selama Dewa Iblis masih ada, keluarganya tidak akan aman. Apalagi racun darah di tubuh Xie Ruo harus segera dikeluarkan.
Xie Ruo melihat putri kecilnya dengan sedih. Ia pun menghela napas. "Berikan dia padaku."
Xie Ruo meletakkan bayi di pelukannya ke atas tempat tidur, kemudian meraih putri kecilnya dari Qu Xuanzi. Anak itu masih tertidur dengan nyenyak setelah dibalut selimut tebal dan berlapis. Xie Ruo dapat merasakan, suhu tubuhnya sangat dingin seperti es.
"Racun dingin aktif bila terkena perubahan suhu mendadak. Mengeluarkan racun dingin hampir mustahil, namun itu bisa diubah menjadi sesuatu yang menguntungkan. Kau tahu maksudku." Qu Xuanzi menjelaskan secara singkat. Kekuatan psikis Xie Ruo lebih tinggi darinya, hanya Xie Ruo yang dapat mengubah energi yang merugikan tubuh, menjadi satu dengan tubuh dan berkembang bersama. Prinsip ini sama seperti minum ribuan racun agar tubuh dapat kebal terhadap racun.
"Apa akan efektif?" Xie Ruo ragu. Jika racun dingin bisa digunakan seperti itu, kenapa racun darah tidak bisa?
"Mungkin racun tidak sepenuhnya bersih, tetap ada gejala yang sama, tapi setidaknya di sisi lain dapat memberinya beberapa keuntungan."
"Yang Mulia benar, putri kalian tidak bisa hidup lebih lama dengan racun dingin di tubuhnya. Saat ini dia terlihat baik-baik saja, tapi tidak nanti atau besok. Sebagai bayi yang baru lahir, dia cukup beruntung bisa bertahan." Gai Ya tiba-tiba muncul menghampiri mereka.
Mengabaikan pertanyaan sepele yang baru saja muncul, Xie Ruo menanyakan hal yang lebih penting. "Berapa lama?"
"Tergantung kapan racun dingin akan kembali aktif. Apa menurutmu, seorang bayi tanpa kekuatan bisa menahan racun dingin yang ganas?"
Xie Ruo menatap Qu Xuanzi, pria itu hanya sedikit mengangguk setuju akan argumen Gai Ya. Kemudian Xie Ruo melihat putrinya yang masih sangat tenang. Ia tidak mungkin membiarkan anaknya merasakan rasa sakit itu. Oleh karena itu, alasan untuk memberinya kekuatan psikis diperkuat.
Xie Ruo sudah berencana memberi putrinya sedikit kekuatan psikis untuk mengendalikan racun dingin di masa depan. Namun, usianya masih terlalu kecil, membuatnya ragu. Kekuatan psikis terlalu kuat untuk diberikan pada seorang anak sekecil itu. Apalagi, menjadikan racun dingin sebagai bagian dari tubuh si kecil. Itu terlalu beresiko.
Tapi karena tidak ada pilihan lain untuk mempertahankan hidupnya, Xie Ruo hanya bisa pasrah. Ia memejamkan mata, membiarkan kekuatan psikis dalam pilirannya teralir ke dalam tubuh si kecil secara perlahan.
Sinar yang mengalir dengan lembut meresap perlahan seperti asap tipis, memberi sensasi hangat di sekitar tubuhnya dan membuatnya nyaman akan kehangatan.
Kekuatas psikis yang masuk ke dalam tubuh si kecil, langsung terjaring ke pikiran dan jiwanya. Racun darah yang menyebar ke seluruh tubuh dan berhenti di jantung mulai meresap ke tiap bagian tubuh, menjadi satu sebagai individu yang tidak bisa dipisahkan.
Suhu dingin yang tercipta dalam tubuh seperti kepingan es yang membeku. Itu menyebar ke tiap permukaan dan meresap melalui jaring meridian, lalu berkumpul di dantian membentuk konstitusi baru. Suhu dingin yang terekat dalam tubuh dan jiwanya memberinya banyak celah untuk menarik semua energi layaknya energi murni.
Setelah proses selesai dilakukan, Xie Ruo membuka mata. Pada saat yang sama, sepasang iris biru itu betemu dengan iris biru lainnya yang tampak sangat jernih dan penuh dengan ketidaktahuan. Si kecil melihat ibunya dalam diam tanpa mengedipkan mata, kemudian bersin sebelum akhirnya bergerak mencari posisi nyaman.
"Kamu sudah bangun." Xie Ruo tersenyum. Ia pikir prosesnya akan sangat sulit dan menyakitkan, rupanya tidak seburuk itu.
"Pada saat ini, kekuatan psikis dan racun dingin telah membentuk tubuh dan jiwa yin dalam tubuh putrimu. Itu akan membantu kultivasinya. Namun, juga akan menjadi parasit mematikan karena kehadiran racun dingin. Hanya ada satu-satunya cara menyembuhkannya, yakni konstitusi tubuh dan jiwa yang."
"Jiwa yang ...." Entah bagaimana tiba-tiba Xie Ruo teringat pada Huo Yuzheng. Oh tidak! Putri kecilnya masih sangat kecil dan lemah, bagaimana ia bisa sangat kejam akan memberikan bayinya yang imut dan mungil ini pada bocah menyedihkan itu? Tidak boleh!
"Apa kalian sudah mempersiapkan nama?" Gai Ya bertanya. Ia yakin, pasangan aneh ini tidak berpikir sampai sana selain bagaimana cara agar bisa melawan Dewa Iblis lebih cepat.
Qu Xuanzi dan Xie Ruo saling bertukar pandang. Gai Ya benar, mereka belum terpikir sampai ke sana. Aneh, bagaimana mereka akan memanggil anak mereka di masa depan?
"Apa kamu punya rekomendasi?" Xie Ruo tidak bisa memikirkan apa pun. Ia bertanya pada Qu Xuanzi dan Gai Ya bergantian.
"Akan lebih baik jika Yang Mulia yang memberi mereka nama. Selain kewajiban orang tua, terutama ayah, juga dapat dapat memberkati mereka dengan gelar keturunan Kaisar Langit." Gai Ya melirik Qu Xuanzi yang masih terlihat tenang sejak tadi.
Qu Xuanzi diam untuk beberapa saat, kemudian melirik putranya yang masih anteng tidur di sisi Xie Ruo. "Secepat angin dan tersembunyi dalam bayangan, Feng Xiu."
"Ah, kalau begitu si kecil bernama Xiao! Qu Fengxiao!" Xie Ruo langsung bersemangat memberi nama seolah sedang menamai boneka. Tidak perlu pusing, bukankah pada akhirnya putri kecilnya akan menjadi adik paling mungil seperti dirinya? Beri saja nama Feng Xiao.
"Itu bagus." Qu Xuanzi tersenyum senang. Ia senang melihat Xie Ruo kembali bersemangat.
Gai Ya hanya menonton, mengiyakan semua yang dikatakan Xie Ruo. Kemudian, ia mengalihkan topik karena tidak ingin terlalu banyak omong kosong. "Karena situasi sudah terkendali dengan baik, mari kita bicarakan hal yang lebih penting."
"Kau ingin berkata mengenai 'imbalan'?" Xie Ruo menyahut dengan enteng. Ia tahu apa yang dirasakan wanita itu saat ini dan tidak terlalu peduli.
"Secara kasar bisa dibilang begitu, tapi 'imbalan' yang dimaksud bukanlah sesuatu seperti hadiah atau sejenisnya Alasanku membantu persalinan adalah untuk pertahanan dunia. Meski aku bukan Dewi Memori yang mengetahui banyak hal baik masa lalu maupun masa depan, aku dapat merasakan kegelisahan tiap sudut bumi yang mengalami perang. Di luar sana, perang sedang terjadi antara manusia dan iblis. Dewa Iblis menginginkan putra kalian untuk pergi ke Dunia Dewa, keseimbangan dunia terancam dan beberapa ras hampir musnah. Aku rasa, perang kali ini akan melibatkan lebih banyak hal."
"Pembatas alam sebentar lagi selesai, para dewa juga sudah disiapkan. Sebenarnya, hanya menunggu pergerakan Dewa Iblis lebih jelas. Kau tahu aturannya." Qu Xuanzi menyahut tanpa menjelaskan lebih detail.
Para dewa tidak bisa terlibat dalam konflik antar-ras, hanya bisa membantu dari kejauhan, tapi begitu beberapa ras melibatkan dewa, barulah dewa akan turun tangan. Itu sebabnya, ia hanya mengirim hewan suci ke Dunia Tengah.
Tapi karena sekarang iblis telah menyerang secara terang-terangan, sama saja mendeklarasikan perang. Dunia Atas tentu tidak akan diam dan akan pergi ke Dunia Tengah untuk membersihkan iblis.
"Kalau begitu, aku serahkan bumi pada Yang Mulia." Gai Ya bicara dengan hormat. Selain hal yang ia sebutkan, sebenarnya masih ada hal lain, namun ia menahannya agar tidak terdeteksi Xie Ruo.
"Dewi Bumi, apa kau tidak ikut dalam pertempuran?" Xie Ruo bertanya.
Sebagian dewa tidak diperkenankan ikut dalam pertempuran karena kekuatan mereka yang tidak cocok. Namun Dewi Bumi memiliki kekuatan dan medan bumi yang besar. Kekuasaannya adalah bumi, dia bisa menghancurkan bumi kapanpun dia mau. Kenapa tidak ikut dalam pertempuran untuk berdiri di bagian pendukung seperti Dewi Kehidupan?
"Sama seperti Dewi Memori, dewi ini tidak bisa ikut karena aturan alam. Perang selalu terjadi, baik sekarang atau yang akan datang tanpa adanya perhitungan kapan akan terjadi. Tentu saja, dewi ini hanya akan hadir kala bumi dalam keadaan berbahaya, sebanyak apa pun penghuninya saling menumpahkan darah."
Sudut mata Xie Ruo berkedut. Kenapa tiba-tiba ia merasa, lebih baik menjadi Dewi Bumi daripada Dewi Memori yang menyedihkan? Tidak peduli pada urusan dunia dan tidak hidup dalam kesepian, selalu damai meski harus menelan rasa kesal karena banyak makhluk yang merusak bumi baik meledakkannya atau membakarnya.
"Karena semua sudah tersampaikan, aku harap kalian bisa memikirkan maksud sebenarnya dari perkataanku. Dewi ini pamit terlebih dahulu." Gai Ya menghilang begitu saja setelah membungkuk. Ia tak lagi terlihat.
Kini hanya ada mereka berdua, maksudnya berempat ditambah dengan dua bayi kecil yang masih asik tidur tanpa banyak tingkah.
Perkataan Gai Ya terngiang di kepala Xie Ruo. Jadi maksudnya, Gai Ya juga tahu lebih banyak darinya mengenai perang yang akan terjadi?
"Xuanzi, apa kali ini akan baik-baik saja?" Xie Ruo merasa cemas. Bagaimana jika Dewa Iblis membuat jebakan berbahaya dan menargetkan putranya yang imut?
Qu Xuanzi melihat Xie Ruo, kemudian meletakkan kepala Xie Ruo untuk bersandar di bahunya dan memeluk wanita itu dari samping. "Tidak akan terjadi sesuatu pada kalian."
Xie Ruo tenggelam dalam lamunannya sendiri. Tapi aku rasa, akan terjadi sesuatu di masa depan.