The Emperor God Wife Is Naughty

The Emperor God Wife Is Naughty
116. Pasca Pertempuran



"Bella, lupakan hal yang telah berlalu, aku mencintaimu."


Isabella memandang kosong sosok yang semakin lama semakin jauh dari genggamannya. Di bawah lautan yang sunyi, Isabella diam seperti patung seakan tubuhnya membeku di tempat. Ia melayang di tengah laut, melihat sosok yang semakin jauh disertai jejak merah yang melayang mulai berbaur dengan air.


Bayangan itu mulai menghilang, digantikan cahaya samar yang perlahan mengangkatnya ke permukaan dalam keadaan setengah sadar. Isabella tidak tahu apa yang menariknya ke atas air, pikirannya benar-benar kosong dengan air mata yang bercampur dengan air laut.


Ia sampai di permukaan, ditarik oleh seseorang ke daratan membiarkannya terbaring di atas papan kayu dengan pandangan kosong sekolah jiwanya telah hilang. Hingga akhirnya seorang pria menghampiri, menempelkan pistol tepat ke kepalanya.


"Aku turut berduka cita." Pria itu tersenyum mengejek kemudian melihat luka di bagian perut Isabella yang terbuka lebar seperti habis dicabik-cabik. "Sepertinya kau sangat bersenang-senang dengan 'hadiah' yang kuberikan."


Isabella tidak bereaksi atau melihat pria yang menodongnya. Ia sangat kacau sampai bingung, bahkan tidak merasakan rasa sakit akan luka itu. Ia hanya merasakan sakit di hatinya yang melebihi dari rasa sakit di perutnya. Tapi dia hanya diam menahan itu semua, melihat langit terang seolah melihat seseorang di atas sana.


Dia tidak ingin melupakannya, sangat tidak ingin. Ia membenci perasaan ini, ia sangat membenci orang itu yang ingin menghapus ingatannya. Ia tahu orang itu bukan orang biasa, jadi dia sangat takut ketika orang itu mengatakan untuk melupakan segalanya. Ia menolak keras!


Tapi beberapa hal ada di luar kendalinya sehingga Isabella sama sekali tidak bisa melawan. Yang lain tidak tahu apa yang terjadi ketika langit berubah menjadi gelap, tapi Isabella tahu pasti. Orang itu membuat dirinya benar-benar menghilang dari dunia ini.


Kegelapan terus menelan. Pandangannya benar-benar gelap dan sunyi seolah hanya dirinya yang hidup di dunia ini. Sampai akhirnya ia sadar, bahwa ia telah kembali menjadi Xie Ran setelah kegelapan panjang menyelimutinya.


Tanpa sadar air mata menetes, memori itu tidak pernah ia rasakan, tapi terasa sangat nyata. Suara itu sangat akrab, namun asing bersamaan sehingga Xie Ran benar-benar tidak tahu siapa orang yang dimaksud. Ia lagi-lagi memimpikan hal yang tidak pernah ia ingat dan mustahil terjadi di masa lalu.


Isabella dan Xie Ran adalah orang yang sama, tapi juga berbeda bersamaan. Xie Ran tidak tahu kenapa bayangan kehidupan masa lalunya terus terngiang disertai memori yang tidak pernah ia ingat. Ia benar-benar bingung.


Qu Xuanzi yang sepanjang hari menemani Xie Ran menyadari bahwa suasana hati Xie Ran sedang tidak baik. Ia mengusap air mata di wajah  Xie Ran, membuat Xie Ran langsung menyadari kehadirannya.


"Kamu masih di sini?" tanya Xie Ran.


"Mm."


Xie Ran kemudian baru ingat sesuatu sehingga ia terkekeh kecil menertawakan kondisinya sendiri. "Aku lupa aku tidak lagi seperti dulu. Kelima inderaku mati, aku tidak bisa melihat atau mendengarkanmu bicara. Aku bahkan nyaris tidak tahu kau ada di sana." Ia menarik diri, memposisikan tubuhnya untuk duduk dibantu Qu Xuanzi.


Qu Xuanzi tidak mengatakan apa pun. Ia sudah mendengar detailnya melalui Dou Dou bahwa Xie Ran terkena serangan Huai Mao. Kutukan kehampaan sulit dibersihkan, bahkan Huai Mao sendiri yang membuatnya belum tentu dapat menarik kutukan tersebut.


"Pasti Ann Rou yang memanggilmu. Aku sungguh baik-baik saja. Tapi terimakasih, aku masih hidup berkatmu. Sayangnya, aku mungkin tidak bisa membayarnya kembali." Ia menunduk dengan suram. Meski pandangannya kosong, ekspresinya sangat jelas ia terlihat sedih. "Aku ... tidak marah jika kau pergi. Mengenai lamaranmu sebelumnya, aku menolaknya sekali lagi. Sudah kukatakan, umurku pendek dan akan menjadi bebanmu. Aku juga cacat, itu terlalu memalukan."


Xie Ran terkekeh miris setelah mengatakan kalimat terakhir. Ia tidak ingin merepotkan Qu Xuanzi karena kondisinya yang cacat. Baginya, terlalu memalukan. Ia adalah Xie Ran, juga Isabella, dan dia memiliki seseorang misterius yang ia lupakan. Ia tidak ingin siapa pun berharap padanya, karena ia tidak suka perasaan itu. Dengan kondisinya yang seperti ini, ia ingin melakukan segalanya sendiri tanpa membebani.


Tapi semakin Xie Ran tertawa, semakin menyedihkan ia. Qu Xuanzi tidak tega melihat kondisi Xie Ran dan langsung memeluknya erat tidak ingin melepaskannya. Ia tidak ingin pergi apa pun yang terjadi. Seburuk apa pun Xie Ran, dia tidak akan pergi. Baginya, Xie Ran tetap sama seperti Xie Ran yang ia kenal sebanyak apa pun Xie Ran berubah.


Xie Ran tidak tahu Qu Xuanzi memeluknya, tapi ia dapat merasakan kehangatan di jiwanya. Tawanya berhenti, menjadi begitu menyedihkan menahan isak tangis dalam diam.


"Sudah kukatakan, kamu tidak cacat." Qu Xuanzi akhirnya bicara ketika memeluk Xie Ran.


Namun Xie Ran justru tertegun. Bukan karena ucapan Qu Xuanzi, tapi karena ia samar-samar dapat mendengar suaranya. Meski tidak terlalu jelas, tapi ia tahu apa yang dikatakan Qu Xuanzi.


Xie Ran bingung lalu mendongak untuk melihat cahaya. Pandangannya tidak lagi gelap, ada cahaya di pandangannya meski tidak dapat melihat dengan jelas. Ia melihat Qu Xuanzi tepat di hadapannya, jantungnya berdetak tidak karuan pada saat itu juga.


"Kamu ...." Xie Ran menyentuh wajah Qu Xuanzi perlahan. Pandangannya terlalu buram sehingga tidak melihat Qu Xuanzi dengan jelas selain sosoknya yang samar-samar terlihat. Tapi ketika melihat Qu Xuanzi dengan pandangan seperti ini, ia merasa sangat tidak asing, seolah pernah melihatnya di tempat lain.


Qu Xuanzi meraih tangan Xie Ran yang menyentuh wajahnya kemudian menangkupnya dan menciumnya dengan lembut. "Aku tidak akan pergi. Umurmu tidak pendek, kamu juga sangat normal, kamu tidak bisa mengusirku."


Xie Ran terperangah, menatap Qu Xuanzi tidak percaya. Ia bisa melihat, bisa mendengar, bisa sedikit merasakan sentuhan, bahkan bisa merasakan aroma ruangan. Kelima inderanya tidak benar-benar mati? "Bagaimana bisa?"


"Kau hanya perlu tahu, kau akan sembuh."


Xie Ran tidak puas akan jawabannya lalu mendesak Qu Xuanzi. "Kekuatanmu sudah pulih?"


"Masih tersegel."


"Lalu ...." Xie Ran tidak melanjutkan kalimatnya. Qu Xuanzi sudah cukup kuat bahwa ketika kekuatannya ditekan maksimal, masuk akal jika bisa menyembuhkannya. Ia memutuskan untuk tidak memikirkannya lagi dan fokus pada pengobatan.


"Jadi, lamarannya masih berlaku." Qu Xuanzi sedikit tersenyum melihat Xie Ran yang tampak lucu.


Xie Ran memalingkan wajah dan duduk di sisi tempat tidur, tidak mau menghadap Qu Xuanzi. Jika dipikirkan lagi, Qu Xuanzi memiliki beberapa kemiripan dengan seseorang yang ia lupakan, tapi dia langsung menepis semua itu cepat-cepat sebelum salah paham. Qu Xuanzi dan dia jelas-jelas dari dunia yang berbeda, itu tidak mungkin.


"Ketika aku memaksakan diri melakukan penerobosan, aku mengorbankan lebih dari setengah daya hidupku, kemungkinan tidak bisa hidup lebih dari 30 tahun. Kurang dari 15 tahun, aku akan mati." Xie Ran mengalihkan topik pembicaraan menjadi lebih serius.


"Kau tidak akan mati." Qu Xuanzi bicara dengan yakin.


"Memang, Long Long mengatakan aku tidak akan mati jika berhasil menjadi dewi. Tapi menjadi dewi membutuhkan waktu ribuan tahun, bahkan dengan kecepatan kultivasiku akan sulit mencapainya kurang dari 15 tahun."


"Itu untuk manusia biasa. Apa menurutmu, kamu termasuk diantara manusia biasa?" Qu Xuanzi yakin Xie Ran dapat meraih keajaiban lain. Umurnya masih 17 tahun, namun nyaris menyentuh tingkat saint yang hanya bisa dilakukan manusia berumur ratusan tahun. Kecepatan seperti itu sama sekali tidak bisa dilakukan oleh manusia normal.


"Jika aku mengorbankan umurku lagi, aku akan mati." Xie Ran tidak merasa telah membuat keajaiban. Ia membayar kekuatannya dengan harga yang mahal. Umur manusia biasa hanya bisa bertahan selama 100 tahun, itu pun lebih dari batas manusia biasa.


Ketika seseorang mencapai tahap profesional lanjutan, maka semua penuaan akan terhenti dan umur akan bertambah nyaris abadi. Namun dalam kasus Xie Ran berbeda. Ia mendapat kekuatan secara instan dan harus membayar dengan kehidupan, maka umurnya akan terhitung dalam batas normal, bukan umur seorang profesional lanjutan. Ia bisa mati karena sakit seperti lansia ketika umurnya mendekati 30 tahun.


"Penilaianku tidak akan salah. Setidaknya kau tidak akan mati, sebelum aku mati." Qu Xuanzi tetap yakin dengan pendiriannya. Ia yakin Xie Ran tidak akan semudah itu menyerah akan hidupnya.


Xie Ran menatap Qu Xuanzi penuh arti, kemudian mengangguk. "Kita akan lihat, siapa yang akan menang."


Xie Ran mengalihkan pandangannya lagi setelah beberapa saat terdiam. Ia menghela napas, kemudian melanjutkan bicara, "Aku memiliki seorang teman, dia mengorbankan dirinya untukku sebagai bayaran atas kekuatanku. Apa yang harus kulakukan? Aku tidak yakin dapat memenuhi wasiatnya."


"Maka kau tidak boleh membiarkan pengorbanannya sia-sia. Kau harus memenuhi wasiatnya."


"Kamu tahu bagaimana membangkitkan roh kesadaran?" Xie Ran bertanya, berpikir mungkin saja Qu Xuanzi mengetahui sesuatu.


"Kamu ingin menyelamatkan kesadaran naga kecil itu?"


Xie Ran tidak terkejut Qu Xuanzi mengetahui tentang Long Long, jadi dia mengangguk. Bagaimanapun, ia tidak bisa menyembunyikan apa pun dari Qu Xuanzi, termasuk keberadaan Long Long yang selama ini ia rahasiakan.


Long Long menggunakan kekuatannya untuk membantu Xie Ran ketika menerobos aura naga untuk pertama kali, jika tidak Xie Ran sudah mati saat itu. Selain umur, Xie Ran juga harus mengorbankan Long Long meski tidak ingin. Itu adalah penyesalannya, tapi dia harus melakukannya.


Karena ia tidak bisa menjadi dewi dengan kondisinya dan melaksanakan wasiat Long Long, ia hanya ingin membangkitkan Long Long selagi masih hidup.


"Roh hanya dapat ditemukan di Dunia Bawah. Karena kesadaran naga itu sudah tidak ada, seharusnya rohnya masih ada di Dunia Bawah. Ketika menemukannya, kamu hanya perlu membawa tubuh fisiknya, lalu menggunakan energi murni untuk menyatukan roh dan tubuh fisik."


"Tubuh fisik ... roh ...." Xie Ran merasa perjalanannya semakin hari semakin panjang. Jika ingin menemukan tubuh fisik, ia harus pergi ke Benua Lava yang hilang, itu nyaris mustahil. Lalu dia juga harus ke Dunia Bawah .... Bukankah itu sama saja masuk ke kandang harimau?


"Aku tidak menyarankanmu pergi ke Dunia Bawah untuk saat ini. Jika kamu pergi ...." Qu Xuanzi tidak melanjutkan kalimatnya ketika melihat Xie Ran yang kembali kosong. Kelima indera Xie Ran kembali melemah dan mati seperti sebelumnya.


"Ternyata hanya sementara," gumam Xie Ran. Ia lagi-lagi merasa sendiri dalam kegelapan dan terlarut dalam keheningan.


Qu Xuanzi nyaris melupakan bahwa kekuatannya hanya akan membuat Xie Ran normal sementara, meski tidak sepenuhnya normal. Jadi selama beberapa waktu ke depan, Xie Ran harus menjalani pengobatan sampai keadaannya pulih total.


"Aku ingin memeriksa kondisi mereka." Xie Ran berdiri begitu saja memikirkan teman-temannya dan kakek neneknya yang terluka parah. Belum lagi Long Huo yang jiwanya bermasalah, serta Xiao Caihong dalam liontin.


"Baik." Qu Xuanzi mengantar Xie Ran untuk bertemu teman-temannya.


Saat ini mereka masih berada di kediaman Klan Xie yang mengalami keruntuhan. Qu Xuanzi menempatkan Xie Ran di kediamannya dulu ketika masih di Klan Xie, namun bukan rumah bobrok itu. Mereka menelusuri jalan seolah sudah hapal dengan lokasi tempat, terutama bagi Xie Ran seolah tidak memiliki masalah pengelihatan.


Klan Xie tidak sepenuhnya hancur seperti di bagian depan yang sudah menjadi reruntuhan. Beberapa bagian klan masih layak pakai dan ditempatkan untuk teman-teman Xie Ran yang terluka. Sedangkan Xie wang dan istrinya di tempat mereka sendiri yang ternyata masih utuh.


Xie Ran melintasi ruangan di mana teman-temannya berada. Keenam anak muda itu tidak terlihat baik, bahkan Mei Liena masih tidak sadarkan diri. Cedera Pei Xi lebih ringan sehingga ia tidak perlu terbaring seperti yang lainnya. 


Yue Lu, sang dokter ilahi hadir merawat mereka satu per satu dibantu oleh seekor peri kecil yang terbang ke sana ke mari membawakan barang sesuai permintaan Yue Lu. Kantung matanya tampak baik-baik saja, tidak seperti terakhir kali ia terlihat ketika di Kota Shuiyang.


Melihat kehadiran Xie Ran, Pei Xi hendak menghampiri, namun melihat Qu Xuanzi berjalan tepat di belakangnya membuat Pei Xi mengurungkan niat. Entah apa yang ia pikirkan.


Yan Yao sadar terlebih dahulu dan bereaksi sangat cepat ketika mendapati Xie Ran berdiri di depan tempat tidurnya. Ia langsung duduk, diikuti oleh Liu Chang yang penuh perban serta Zhou Kui yang tampak lebih baik.


"Xie Ran, kau di sini." Zhou Kui tersenyum melihatnya, ia bersyukur Xie Ran baik-baik saja. Meski ia agak sedih menghadapi kenyataan bahwa Xie Ran tidak bisa melihat, setidaknya cedera Xie Ran tidak seburuk mereka saat ini.


"Tidak seharusnya ini terjadi pada kalian." Xie Ran merasa agak menyesal melibatkan mereka. Andai saja ia tidak tinggal dengan Zhong Xiaorong dan Mei Liena dan mengungkapkan rencananya, mereka tidak akan seperti ini. Ia dapat merasakan kondisi Mei Liena melemah, sedangkan Zhong Xiaorong masih belum sadar.


"Kami baik-baik saja. Jika kamu bisa melihat, kamu akan melihatku melompat tinggi sekarang!" Liu Chang tidak ingin Xie Ran sedih dan berusaha menghiburnya. Yang lain hanya melihatnya dengan pandangan menyedihkan akan semua perban di tubuh Liu Chang.


Yan Yao terbatuk. "Benar, dia bisa saja melompat seperti monyet dan memanjat pohon. Tidak perlu dikhawatirkan."


"Kakak Yao, kau jahat sekali mengatakan aku adalah monyet." Liu Chang bersikap menyedihkan.


"Lalu apa? Kau memang monyet." Yan Yao membalas tak acuh sambil menoyorkan dahi Liu Chang.


"Daripada kau, harimau putih yang takut pada phoenix. Jika Bai He mengetahuinya, kau akan dicincang habis!"


Yan Yao memelototi Liu Chang merasa sangat ingin mencabik-cabiknya. "Ranran, lain kali kau harus memberinya pelajaran. Tidak ada hall lain yang ditakuti monyet ini selain dirimu."


"Bodoh."


"...."


Mereka berdua langsung diam begitu Xie Ran mengumpat. Raut Xie Ran terlihat kesal dan pergi begitu saja membuat mereka bingung. Mereka sangat yakin Xie Ran tidak bisa melihat mereka, jadi seharusnya Xie Ran tidak tahu kondisi mereka. Mereka hanya ingin menghibur, apa salahnya?


"Kau lupa bagaimana Nona Xie membunuh Huai Mao? Kau pikir dia tidak tahu kondisi kalian? Sudah seperti itu, jangan terus bicara omong kosong." Yue Lu bicara agar sarkas membuat dua pria itu benar-benar terdiam. Mereka tidak melihat pertarungan secara langsung, tapi mereka melihat bagaimana Huai Mao diselimuti api tak hentinya.


Pada saat ini, mereka merasa cukup pantas disebut bodoh oleh Xie Ran. Mereka hanya bisa menghela napas.


Xie Ran keluar ruangan dengan raut kesal. Meski ia tidak mendengar ucapan bodoh mereka, ia tetap tahu apa yang sedang  mereka lakukan. Dua pria bodoh itu, sudah terluka masih saja tidak bisa diam.


"Aku ingin menemui Long Huo."


Qu Xuanzi yang setia mengikut, menuntun Xie Ran ke tempat di mana ketiga naga itu berada. Luka mereka tidak seburuk teman-teman Xie Ran, namun Long Huo berbeda. Karena Long Huo telah melindungi Xie Ran dari serangan fatal Huai Mao, jiwa Long Huo rusak parah.


Qu Xuanzi sudah menstabilkan jiwa Long Huo sebelumnya, namun tidak bisa menyembuhkan. Kekuatannya berfungsi sebagai penghancur lebih efektif, namun untuk pengobatan agak terbatas terutama pengobatan jiwa.


Xie Ran dapat merasakan napas yang lemah ketika sampai di tempat terbuka dan luas dilingkupi pepohonan. Ia berjalan mendekati naga merah yang masih terbaring lemas dengan mata yang sayup. Sudah dua hari sejak pertempuran itu, namun kondisinya masih belum stabil.


Ada rasa bersalah di hati Xie Ran. Mungkin karena aura naganya telah meningkat dan mengikat jiwanya bersama energi murni sehingga perasaannya pada naga sama seperti perasaan empati pada diri sendiri. Kesetiaan naga adalah hal yang tidak dapat dibandingkan, Xie Ran juga menghadapi hal yang sama .


Xie Ran mengangkat tangannya, mengusap kepala Long Huo yang sebesar tinggi tubuhnya. "kamu akan baik-baik saja."


Long Huo mendengkur pelan dan menutup mata untuk istirahat. Ketika sinar putih keluar dari tangan Xie Ran, mengalir di kepala Long Huo ke seluruh tubuhnya, Long Huo jauh lebih tenang dan terlelap. Perlahan jiwanya terkumpul lebih padat memperbaiki luka pada jiwanya.


"Apa seperti ini?" tanya Xie Ran, meski tahu ia tidak akan mendengar apa pun.


Tapi Qu Xuanzi tetap menjawab, "Benar."