
Sudah beberapa jam sejak tiba di Dunia Atas. Dewi Kehidupan secara langsung memeriksa kondisi Xie Ruo bersama Dewa Pengobatan, untuk memastikan tidak ada hal serius menimpa.
Qu Xuanzi setia menunggu di sisi Xie Ruo, menunggunya tersadar dari kondisi buruk. Cedera internal Xie Ruo cukup buruk karena cairan aneh itu. Dewa Pengobatan mengatakan, cairan itu adalah air kelumpuhan yang dapat mematikan kekuatan jiwa. Jika digunakan terlalu banyak, konsekuensinya adalah kematian.
Beruntung air kelumpuhan tidak mengenai Xie Ruo terlalu banyak dan hanya melukai bahunya, sehingga efek yang terjadi hanyalah kelumpuhan sementara pada kekuatan jiwa. Ditambah perlindungan Roh Guntur pada jiwanya, tidak terjadi masalah.
Hanya saja yang paling serius dalam kondisi sekarang, adalah kandungan Xie Ruo. Dewi Kehidupan harus memeriksa secara hati-hati dalam hal ini.
Setelah beberapa saat, Dewi Kehidupan selesai memeriksa menggunakan sihir kehidupannya, untuk memeriksa kondisi kandungan Xie Ruo yang terasa lemah. Ia melihat Xie Ruo untuk beberapa saat, kemudian menghela napas.
"Kondisinya baik-baik saja, untuk saat ini. Yang terpenting, Xie Ruo tidak diperbolehkan menggunakan kekuatannya secara berlebihan." Dewi Kehidupan seperti akan mengatakan sesuatu, tapi ia ragu.
Qu Xuanzi sadar akan hal itu. "Katakan saja."
"Ada dua bayi di dalam kandungan Xie Ruo, bisa dibilang kembar. Tapi ... salah satunya terlalu lemah, aku bahkan sulit mendeteksinya. Aku tebak, jarum perak yang menyerang Xie Ruo mengenai salah satunya, menyebabkan kondisinya menurun."
Dewa Pengobatan menambahkan, "Satu hal lagi, jarum perak itu mengandung racun dingin. Racun dingin tidak menginfeksi Xie Ruo, tapi salah satu bayi sehingga kondisinya melemah."
Racun dingin adalah racun yang tidak ada penawarnya. Sangat jarang ditemui, juga terlalu berbahaya untuk digunakan. Bahkan para dewa menghindari racun dingin. Awal mula racun dingin muncul, berawal dari tragedi di Dunia Dewa yang disebabkan oleh Dewi Yin terdahulu jutaan tahun yang lalu.
Dewi Kehidupan melanjutkan, "Itu sebabnya, kondisi ini bisa dibilang serius. Selain yang terinfeksi racun dingin, bayi lainnya memiliki darah dewa dan iblis, sepertimu. Energinya secara tidak langsung membagi ke saudaranya sendiri agar dapat bertahan dari racun dingin, tapi itu juga menyebabkan darah iblisnya bergejolak dan melukai Xie Ruo. Seharusnya semua baik-baik saja, tapi karena kedua bayi harus saling bergantung dengan energi yang kacau, kondisi Xie Ruo juga dipertaruhkan."
Qu Xuanzi terkejut mendengar pernyataan itu. Pikirannya dipenuhi tentang bagaimana ia bisa menyelamatkan Xie Ruo dari situasi tidak menuntungkan ini. Andai saja ia tidak membiarkan Xie Ruo pergi sendiri meski hanya sebatas melihat pemandangan di puncak menara, apa semua ini masih akan terjadi?
"Apa yang harus aku lakukan?" Qu Xuanzi menatap Dewi Kehidupan dan Dewa Pengobatan bergantian. Ia harus menyelamatkan Xie Ruo, bagaimanapun caranya.
Dewi Kehidupan menjawab, "Cara yang termudah, menggugurkan kandungan Xie Ruo."
Qu Xuanzi di ambang kebingungan. Ia melihat Xie Ruo yang masih terlelap, telapak tangannya terkepal. Ia ingin menyelamatkan Xie Ruo sekarang, tapi bagaimana dengan pendapat Xie Ruo?
"Sebenarnya tidak harus menggugurkannya, tapi Xie Ruo harus melakukan perawatan penuh sampai melahirkan, tidak boleh menggunakan kekuatan secara berlebihan. Cara ini cukup beresiko." Dewa Pengobatan mengambil solusi lain. Memang agak berbahaya, tapi setidaknya dapat meringankan tekanan psikologis pada pasiennya dan memberi sedikit harapan.
"Untuk ini, akan lebih baik jika Xie Ruo yang memutuskan." Qu Xuanzi menghela napas. Ia tidak tahu akan seperti apa keputusan Xie Ruo, tapi lebih baik jika mengikutinya. Ia tidak ingin perbedaan pendapat membuat hubungan mereka renggang.
"Kalau begitu, aku akan menunggu. Sebentar lagi dia akan sadar." Dewi Kehidupan pamit pergi, diikuti oleh Dewa Pengobatan.
Tersisa Qu Xuanzi dan Xie Ruo yang masih menutup mata. Tapi begitu dua sosok itu pergi dan benar-benar telah menghilang, Xie Ruo barulah membuka matanya. Ia seolah menunggu dua sosok itu pergi sejak tadi.
Qu Xuanzi langsung sigap membantu Xie Ruo duduk dan bersandar pada kepala tempat tidur, lalu memberinya segelas air untuk membasahi tenggorokan.
"Aku pikir aku akan dicekoki ramuan lagi," gumam Xie Ruo, lalu menghela napas lega.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Qu Xuanzi, mengabaikan gumaman Xie Ruo.
"Sedikit tidak nyaman, tapi lebih baik. Tidak perlu khawatir, aku tidak selemah itu." Xie Ruo menenggak habis segelas air putih, kemudian meletakkannya kembali. Ia melihat Qu Xuanzi yang hanya diam memandangnya. "Ada sesuatu yang ingin disampaikan?"
"Kamu sudah mendengarnya?" Qu Xuanzi sudah tahu, bahwa sejak pemeriksaan selesai Xie Ruo hanya berpura-pura pingsan.
Xie Ruo diam untuk beberapa saat, kemudian mengangguk pelan. "Semua." Rautnya tampak ragu, tapi ia memaksakan diri untuk bicara. "Tidak akan ada hal buruk, oke?" Xie Ruo diam lagi untuk beberapa saat, tampak memikirkan apa yang harus ia katakan. "Kau serius ingin mengikuti pendapatku?"
Qu Xuanzi mengangguk. "Apa pun keputusanmu."
"Kalau begitu, tak apa jika aku mempertahankannya, meski nyawaku adalah jaminannya."
Qu Xuanzi diam tanpa berkata apa pun. Ia hanya memandang Xie Ruo sebentar, kemudian menunduk. "Ruoruo—"
"Aku tahu kau mementingkan keselamatanku, tapi aku tidak selalu bisa bertindak kejam. Bagaimana aku bisa merelakan sesuatu yang aku lindungi?" Xie Ruo tahu jawaban Qu Xuanzi, itu sebabnya ia tidak mau dengar.
Qu Xuanzi melihat Xie Ruo kembali. Ia tersenyum samar, kemudian mengusap kepala Xie Ruo dengan lembut. "Sudah kukatakan, aku akan mendukung pendapatmu." Meski keinginannya berbeda. Ia hanya ingin Xie Ruo baik-baik saja. Tapi jika Xie Ruo sudah yakin mempertahankannya, ia akan mendukung.
Xie Ruo menempatkan diri ke pelukan Qu Xuanzi. "Terima kasih." Ia tersenyum samar, sambil mengusap pelan perut ratanya. "Aku ingin menjadi ibu yang baik, meski hanya untuk sekali."
"Kamu ibu yang baik." Qu Xuanzi memberi kecupan singkat di kening, kemudian mengeratkan pelukan lebih nyaman.
Ia tidak akan melepaskan orang yang telah melukai Xie Ruo dan calon anaknya. Siapa pun itu, ia tidak peduli.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di istana, Shu Xin baru saja kembali dari pengadilan istana setelah lama mendengarkan perdebatan antara para menteri mengenai kepergian Xie Ruo. Bahkan Zhong Guofeng tidak hadir di pengadilan istana sehingga ia harus menggantikan. Ia penasaran apa yang sedang dilakukan pria itu sekarang.
Ditambah, kepergian Xie Ruo membuatnya agak kesal. Zhong Guofeng sangat cepat menyadari, ditambah ada sosok lain yang membawa Xie Ruo pergi. Memikirkannya saja sudah membuatnya kesal. Pelayan itu sama sekali tidak membantunya, hanya menambah masalah yang tidak perlu.
Sekarang, Kaisar Zhong tidak ada, para menteri gelisah. Posisi Zhong Wenyue di pengadilan istana lebih kuat dari sebelumnya, apalagi setelah Zhong Wenyue hadir di istana untuk mengendalikan situasi bersamanya. Para menteri itu akan segera beralih haluan, cepat atau lambat. Setelah hal itu terjadi, posisi kaisar akan jatuh.
Shu Xin menjentikkan jarinya mengusir para pelayan. Begitu semua pelayan pergi, lilin-lilin yang semula mati, menyala dalam sekejap memberi penerangan di malam hari.
Ia mendekati sebuah meja, kemudian berjongkok. Melihat seekor tikus putih kecil dalam kandang, ia tersenyum miring.
Ia mengepalkan tangannya, menyebabkan butiran cahaya itu berubah menjadi unsur dingin yang membuat tikus tersebut mengering bersamaan seolah kehabisan darah. Sekilas, matanya menjadi emas. Emas yang berbeda dari yang seharusnya dimiliki seorang peri.
"Asura, kau tidak akan menyangka, 'kan?" Shu Xin tersenyum lebar.
Pada saat itulah sebuah cahaya emas melintas dengan kecepatan tinggi ke arahnya. Shu Xin tidak sempat melihat cahaya emas itu, tapi ia bisa merasakan bahaya dengan pasti. Dengan cepat pedang muncul di tangannya, lalu menendang meja di sebelah agar cahaya emas itu terhalang selagi ia melompat ke sudut lain untuk menghindari serangan.
Meja hancur saat itu juga, menyisakan cahaya emas yang menyambar dan menangkap Shu Xin dalam sekejap mata. Lehernya dicengkram dengan kuat, sedangkan tangan Shu Xin yang memegang pedang langsung menegang tanpa bisa bergerak.
Suhu dingin yang dipenuhi niat membunuh itu begitu mencekam. Tapi Shu Xin tidak terlihat takut, ia justru tersenyum, melihat Qu Xuanzi yang terang-terangan akan membunuhnya saat itu juga.
"Lama tidak bertemu, Yang Mulia." Shu Xin tersenyum seolah melihat kenalan lama. Ia tidak merasa terancam, ataupun merasa sakit di lehernya meski akan putus sekalipun.
"Penawar." Qu Xuanzi memandang Shu Xin dengan dingin. Ia tidak akrab dengan wajah itu, tapi ia mengetahui siapa identitas di balik wajah itu.
"Kau tidak bisa membunuhku, atau cahaya akan padam."
"Cahaya sudah padam, sebut saja sudah mati."
"Sepertinya kau lupa apa yang terjadi pada nenekmu. Jika kau membunuhku, jiwa Dewi Air akan hancur. Ingatlah, aku menyimpan sisa jiwa Dewi Air yang tidak bisa berinkarnasi." Dewi Air adalah Permaisuri Langit terdahulu, nenek Qu Xuanzi. Ia tidak yakin Qu Xuanzi akan merelakan jiwa neneknya sendiri hancur berkeping-keping.
Tapi sayangnya, Qu Xuanzi tidak peduli. Ia jarang berinteraksi dengan neneknya, bahkan tidak terlalu peduli padanya. Akan lebih baik hancur daripada terus berada di tangan pengkhianat.
Qu Xuanzi menekankan cekikannya seolah akan memisahkan kepala Shu Xin. Cahaya emas keluar, disertai bintik merah penuh amarah membuat Shu Xin tercekat.
"Kau ... tidak ... bisa membunuhku." Shu Xin mencengkram pedangnya lebih erat. Cahaya emas dari jantungnya bersinar, melepaskan diri dari jeratan sihir yang menahan tubuhnya dan mengubah diri menjadi serbuk cahaya.
Qu Xuanzi tidak melepaskannya begitu saja. Sebelum Shu Xin melarikan diri, ia membuat penghalang yang menghalangi jalur pelarian Shu Xin hingga terpaksa kembali ke wujudnya.
Bilah semerah darah muncul membelah angin, membentur tubuh Shu Xin hingga terpental meruntuhkan interior. Ia memuntahkan darah ketika merangkak berusaha bangkit untuk pergi dari sini. Dengan kekuatannya sekarang, ia sama sekali bukan lawan Qu Xuanzi.
Bilah lainnya muncul lagi, meluncur menyerang Shu Xin. Dengan cepat Shu Xin menghadangnya dengan pedang, namun tekanan bilah semerah darah itu begitu kuat sampai lagi-lagi tubuh Shu Xin terpental sampai menembus dinding dan mematahkan pedangnya.
Pria itu bahkan tidak mementingkan jiwa neneknya sendiri. Shu Xin harus mencari cara lain agar bisa menghindari bahaya.
Sedangkan Qu Xuanzi di sisi lain, merasa bahwa Shu Xin cukup kuat dapat menahan serangannya meski harus mengalami cedera berat. Sepertinya kekuatan wanita itu perlahan kembali setelah lama menjadi tidak berguna. Karena Shu Xin tidak mau memberitahu cara menawar racun dingin, tidak ada pilihan lain selain membunuhnya dengan cepat.
"Asura, kau tidak bisa melakukan ini!" Shu Xin masih mencari cara untuk bebas.
Ia sudah menggunakan seluruh kekuatannya untuk bertahan. Jika ini adalah kekuatannya yang dulu setelah berinkarnasi, ia sudah pasti mati sejak serangan barusan! Andai saja kekuatannya tidak menyusut, ia akan melawan segenap tenaga meski kemungkinan menangnya kecil.
"Asura, apa kau seperti ini hanya karena seorang manusia!"
Qu Xuanzi tidak mempedulikan ucapan wanita itu. Ia kembali meluncurkan serangan, namun kekuatan ilahi Shu Xin berhasil membuat Shu Xin melambung menghindari serangan ledakan. Itu pun ia harus menerima cedera berat di tubuhnya.
"Kalian dewa dari Dunia Atas, sama sekali tidak mengerti. Jika bukan karena kalian yang memberi pengaruh akan kehidupan tiga dunia, aku sudah pergi ke Dunia Dewa sebelum tragedi itu terjadi!"
Qu Xuanzi mengangkat tangannya. Bilah semerah darah sekali lagi muncul, membuat Shu Xin benar-benar bergidik ketika melihat cahaya semerah darah itu terpantul di pandangannya. Kali ini, Qu Xuanzi sudah serius akan membunuhnya.
Terakhir, ia sangat jelas tahu bagaimana sakitnya ketika dua bagian tubuh akan terpisah hanya karena satu bilah. Sejak saat itu, ia menghindari Qu Xuanzi selama ribuan tahun hanya untuk memulihkan diri.
Kekuatan Shu Xin saat ini tidak memadai untuk bertarung dengan dewa. Jika hanya Xie Ruo, ia masih percaya diri dapat mengalahkannya. Tapi levelnya dengan dewa masih jauh. Ia bahkan tidak bisa melawan sekalipun!
Bilah semerah darah itu kembali meluncur dalam satu kedipan mata. Shu Xin tidak tahu apa yang harus ia lakukan selain menutup mata. Tapi ledakan yang muncul tanpa mempengaruhi tubuhnya membuatnya agak terkejut.
Kabut hitam pekat yang ia kenal, menghalangi bilah sihir yang akan membelah tubuhnya menjadi dua. Sosok hitam muncul di depannya, menghalangi sepenuhnya tekanan sihir yang begitu mencekik akan niat membunuh yang kental.
"Kau bisa menjemput milikmu, aku juga ingin menjemput milikku." Suara bass itu terdengar penuh dengan rasa ejekan. Kabut hitam di depannya langsung meluncur ke arah Qu Xuanzi seperti meteor jatuh.
Qu Xuanzi menangkisnya hingga terjadi ledakan yang meruntuhkan sebagian bangunan. Para pelayan berlari ketakutan dan berhamburan keluar, melihat sebagian bangunan yang hancur berkeping-keping.
"Dewa Iblis"
Itulah yang dipikirkan Qu Xuanzi. Ia tahu betul aura penuh kegelapan yang lama ia cari. Tidak disangka akan bertemu di tempat kotor ini.
"Aku rasa pertemuan kita setelah sekian lama sangat menarik. Tapi sayangnya, wanitaku kesulitan. Kita akan bertemu lain waktu."
Kabut hitam itu semakin pekat sampai benar-benar menutupi sosoknya. Ia menarik Shu Xin, kemudian membuka portal untuk pergi ke tempat lain.
Qu Xuanzi bisa membiarkan Dewa Iblis pergi untuk saat ini, tapi tidak dengan Shu Xin. Ia melesat dengan cepat ke arah portal, pedang emas muncul di tangannya dan diluncurkan tepat ke titik penutupan portal sampai menembusnya.
Begitu pedang menembus titik penutupan portal, ledakan yang lebih besar terjadi menyebabkan satu bangunan runtuh dalam sekejap. Qu Xuanzi menghindari reruntuhan ke langit, melihat sisa portal yang hancur dari udara sambil menerima kembali pedang yang terbang ke arahnya.
Meski portal hancur dan dua sosok itu sudah pasti akan terjebak di ruang kosong untuk beberapa saat dalam keadaan terluka, Shu Xin masih belum terbunuh. Ia akan menghitung itu sebagai hutang.