The Emperor God Wife Is Naughty

The Emperor God Wife Is Naughty
115. Penerobosan Aura Naga (3)



"Xuanzi?"


Qu Xuanzi melihat Xie Ran dengan bingung. Ketika Ann Rou datang dan mengatakan bahwa Xie Ran dalam bahaya karena serangan Huai Mao, ia langsung bergegas tanpa mendengarkan penjelasan apa pun. Jika dia berlama-lama mendengarkan penjelasan Ann Rou, ia tidak yakin akan tiba tepat waktu.


Seperti dugaannya, ia nyaris saja kehilangan.


Melihat Xie Ran yang tampak berbeda, Qu Xuanzi merasa ada sesuatu yang salah. Bukan karena wujudnya yang berubah, tapi karena aura dan caranya memandang.


"Ranran?" Qu Xuanzi mencoba memastikan kondisi Xie Ran, namun gadis itu tidak merespon seperti seharusnya, bahkan tidak menatapnya.


Dia sedang khwatir? Xie Ran tidak tahu harus mengatakan apa. Ia tidak dapat melihat Qu Xuanzi atau mendengarkannya, bahkan sentuhannya tidak dapat dirasakan hingga Xie Ran benar-benar merasa sendiri. Jika bukan karena aura Qu Xuanzi ada di dekatnya dan dirasakan dengan jelas, Xie Ran sudah berpikir tidak ada siapa pun di sekitarnya selain ruang kosong.


"Aku ... yang akan mengurusnya." Xie Ran tidak lagi bicara dengan lemah, melainkan dengan lembut dan tenang yang benar-benar kontras dengan keadaannya yang baru saja terlihat.


Qu Xuanzi awalnya agak bingung, tapi ketika melihat semua cedera Xie Ran yang pulih lebih cepat dan dapat terlihat oleh mata secara langsung, sepertinya ia mengetahui sesuatu. Namun itu bukan sesuatu yang membuatnya lega, karena ia tahu konsekuensinya.


Selama penindasan Huai Mao, Xie Ran melakukan hal yang sama ketika ia memaksa terobosan aura naga dan energi murni. Meski ia hanya sedikit memaksakan terobosan, itu berhasil menghancurkan separuh daya hidupnya menjadi lebih pendek lagi, apalagi ia memaksa terobosan selama dua kali berturut-turut. Ia tidak akan hidup lebih dari 30 tahun.


Memikirkan betapa putus asa Xie Ran sampai harus memaksakan diri dan memotong daya hidupnya, Qu Xuanzi menjadi lebih dingin dipenuhi niat pembunuh yang intens. Ia melihat Huai Mao, Irisnya sekilas menjadi merah membuat semua orang merinding.


Ann Rou yang baru datang tidak tahu apa yang terjadi pada Xie Ran setelah kepergiannya. Ia hanya bisa melihat, sepertinya tuannya mengetahui sesuatu hingga begitu marah. Ia sudah pastikan, tidak ada lagi yang bisa menghentikan kemarahan Qu Xuanzi. Ia mengutuk Huai Mao yang terus membuat masalah dalam hati dan mulai berkeringat dingin.


Merasakan niat membunuh yang intens, Xie Ran mencengkram lengan Qu Xuanzi agak kuat, mencoba menahan niat membunuhnya yang sulit dikendalikan. Jika itu terjadi, akan sangat berbahaya.


"Dia milikku, kau tidak boleh membunuhnya." Xie Ran memperingati. Selain takut akan kemarahan Qu Xuanzi, ia juga tidak ingin Qu Xuanzi membunuh Huai Mao begitu mudah. Ia telah kehilangan lebih dari separuh daya hidupnya serta sesuatu yang berharga, ia tidak ingin membuat perjuangannya sia-sia tanpa membunuh Huai Mao dengan tangannya sendiri.


Qu Xuanzi melihat Xie Ran untuk menekan niat membunuhnya. Tapi melihat kondisinya yang seperti itu, ia merasa rasa sakit di dadanya, berpikir ia belum melindungi Xie Ran dengan baik.


Ia sepenuhnya percaya kekuatan Xie Ran, apalagi setelah mengorbankan daya hidupnya sendiri untuk meningkatkan kekuatan lebih cepat, kekuatan Xie Ran saat ini sudah sangat merepotkan Huai Mao.


Qu Xuanzi melepas pelukan, membiarkan Xie Ran berdiri dengan seimbang. Karena cedera Xie Ran pulih setelah pengorbanan daya hidupnya, ia bisa berdiri tegak seolah tidak pernah terluka sama sekali.


Huai Mao yang jatuh begitu buruk segera bangkit. Jika bukan karena ia menjadikan Xie Ran sebagai perisai sehingga serangan itu mengurangi kekuatannya sebelum mengenainya, ia sudah mati sejak awal.


Beruntung ia hanya terluka, meski lukanya tidak ringan. Tapi meskipun terluka, ia tetap bisa menggunakan kekuatannya untuk membunuh Xie Ran.


Namun ketika pandangannya jatuh pada sosok tinggi di belakang Xie Ran, wajahnya langsung menjadi abu-abu. Ia sudah lama tidak melihat wajah itu, sekali meliht wajah itu, ia tidak bisa bereaksi dengan benar dan terdiam dengan pikiran kosong.


Seharusnya ia takut dan pergi, atau setidaknya dia bisa bersikap menyedihkan untuk meminta belas kasihan seperti hari itu. Tapi dia hanya termenung tanpa tahu harus bagaimana seolah jiwanya telah hilang.


Tapi ketika melihat pandangan Qu Xuanzi terhadap Xie Ran, kebencian melanda di hatinya membuat niat membunuh memenuhi pikiran untuk segera menyingkirkan Xie Ran.


Siapa Xie Ran? Ia telah mengenal Qu Xuanzi selama ribuan tahun lamanya sedangkan Xie Ran? Mereka hanya bersama kurang dari lima tahun dan langsung menariknya begitu saja? Atas dasar apa!


Ribuan tahun Huai Mao membahayakan diri sendiri hanya untuk melihat dari kejauhan. Ia menyusup dan ketahuan sampai ingin mati di tangan Ann Rou, tapi sama sekali tidak mendapat pandangan apa pun yang sesuai keinginannya. Bahkan setelah Kaisar Iblis muncul, ia masih tidak bisa mendapatkan dia yang lain.


Bagaimana dengan Xie Ran? Hanya bermodal energi murni dan wajah itu, jika semua itu hilang, maka Xie Ran tidak akan mendapat apa pun!


Sekarang Xie Ran telah cacat, bahkan sama sekali tidak bisa merespon seseorang dengan baik. Ia pikir Qu Xuanzi akan meninggalkannya karena menjadi tidak terlalu berguna. Ia berpikiran terlalu dangkal.


"Yang Mulia, aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan." Huai Mao mencoba berada di sisi aman untuk saat ini.


Karena rencananya gagal, ia hanya bisa menggunakan alasan lain agar bisa bebas. Ia pernah menggunakan alasan hubungan pertemanan pada Qu Xuanzi ketika ketahuan menyusup Istana Langit, itu berhasil membuat Qu Xuanzi mengampuninya meski harus dikejar Ann Rou. Ia bisa melakukannya sekali lagi.


Huai Mao sedikit maju ke arah Qu Xuanzi dengan tubuh bergetar, berharap mendapat kesempatan untuk pergi. "Yang Mulia, ketika berada di gua itu, andai saja aku berani menunjukkan identitasku, apa semuanya akan seperti ini?"


Mendengar itu, Qu Xuanzi mengerutkan kening. Ann Rou merasa Huai Mao akan menggunakan trik yang sama lagi untuk mengungkit hutang budi itu, ia langsung maju dengan kesal dan menunjuk Huai Mao.


"Tidak tahu malu! Apa di rumahmu tidak memiliki kaca? Jika saja kamu tidak terus membuat masalah di Dunia Atas, mungkin saja Yang Mulia akan sedikit memberimu keringanan sekarang. Selama ini bukankah kamu sering keluar masuk Istana Langit tanpa ketahuan? Jika bukan karena Yang Mulia, sejak hari pertama kami menyusup, kamu sudah mati! Kau bahkan menggunakan alasan yang sama untuk membuat Yang Mulia membayar hutangnya dengan membiarkanmu pergi ketika ketahuan para dewa. Yang Mulia juga tidak membunuhmu ketika aku harus koma bertahun-tahun karena ulahmu. Sekarang, kamu membuat Nona Xie terluka dan menghancurkan keluarganya, meski kamu menggunakan alasan itu, Yang Mulia tidak akan pernah mengampunimu! Apa kau lupa? Yang Mulia sudah memperingatimu untuk tidak membuat masalah, atau Yang Mulia sendiri yang akan membunuhmu."


Huai Mao terkejut akan semua kenyataan yang dikatakan Ann Rou. Selama ini ia memang selalu menyusup karena tugas, tapi ia tidak tahu kalau selama ia menyusup, Qu Xuanzi menutupi auranya agar tidak ketahuan para dewa.


Tapi dia malah menuntut lebih dan mengungkit hal yang terjadi di gua membuat trauma Qu Xuanzi akan kematian keluarganya ketika kecil berputar sehingga tidak memiliki pilihan lain selain membiarkan Huai Mao pergi. Karena pada saat itu, hanya Huai Mao dalam bentuk kucing hitam yang membantunya di gua membuat Qu Xuanzi memiliki perasaan hutang budi.


Tapi semakin lama Huai Mao semakin kelewatan. Kejadian Ann Rou yang koma adalah terakhir kalinya Qu Xuanzi mempertahankan toleransi dan memberinya peringatan keras. Huai Mao justru lagi-lagi mengungkit masa lalu yang membuat Qu Xuanzi semakin marah dan memutuskan untuk tidak mengecualikan kesalahan Huai Mao lagi.


Semenjak saat itu, Huai Mao menjadi sangat takut dan tidak lagi keluar. Tapi siapa sangka dia akan melupakan rasa takut itu dan mengungkitnya sekali lagi hari ini yang membuat aura sekitar menjadi lebih dingin. Untung saja Ann Rou cepat-cepat bertindak.


Sedangkan Qu Xuanzi, ia tidak merasakan apa pun lagi mengenai emosi tentangnya. Apa pria itu memang hanya ada sedikit emosi? Ia tidak pernah melihat Qu Xuanzi cukup bahagia seolah itu bukan dirinya.


Meski kadang ia melihat Qu Xuanzi tersenyum sesekali, ia tidak berpikir itu benar-benar senyum bahagia karena selalu ada perasaan kesepian di matanya. Meski Xie Ran tidak pernah mengatakannya, ia selalu tahu.


Huai Mao terdiam untuk beberapa saat tenggelam dalam pikirannya. Ia semakin tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri dan melihat Xie Ran yang tampak baik-baik saja. Ia semakin marah!


Tiba-tiba Huai Mao tertawa, tawa penuh kepedihan dan menyedihkan ketika tatapannya terarah pada Xie Ran. Ia tidak peduli apa ada Qu Xuanzi di sini atau tidak, ia sudah tahu dia akan mati berdasarkan reaksi Qu Xuanzi saat ini.


Karena tidak memiliki pilihan lain, ia hanya bisa melakukan apa yang sangat ingin ia lakukan. "Xie Ran, kau akan mati!"


Xie Ran telah merasakan pergerakan Huai Mao, langsung bereaksi. Huai Mao menyerangnya begitu saja dengan kekuatan penuh tanpa berpikir panjang. Xie Ran menerima serangannya menyebabkan kedua kekuatan saling menekan diantara mereka.


Huai Mao merasa kekuatan Xie Ran meningkat drastis ketika serangan Xie Ran mengenai tubuhnya hingga termundur. Ia semakin marah dan meluncurkan serangan lain yang lebih kuat.


Xie Ran hanya menangkis serangan Huai Mao sejauh ini dengan cepat. Ia juga memberi beberapa pukulan yang membuat Huai Mao semakin marah dan bernafsu membunuhnya.


Xie Ran tersenyum samar merasakan emosi yang bergejolak. Huai Mao benar-benar marah, itu yang diinginkannya. Semakin besar emosi seseorang, kekuatannya akan semakin tak terkendali dan menyerang mentalnya. Huai Mao akan gila tak lama lagi.


Semakin lama mereka bertarung, Huai Mao merasa Xie Ran lebih kuat darinya dan kini semakin kuat. Ia sangat marah sampai ingin muntah darah! Semua yang dimiliki Xie Ran harus jadi miliknya. Kapan jiwa dari dunia lain harus menguasai segalanya! Dia bukan milik dunia ini!


"Xie Ran, kamu hanya manusia cacat dan berumur pendek. Apa kamu pikir, dia akan terus bersamamu? Pada saat kamu tidak lagi berguna, kamu akan dibuang!" Huai Mao tidak peduli apa Xie Ran atau dengar atau tidak, dia hanya marah sekarang.


Xie Ran hanya menangkis serangan sejauh ini. Hingga akhirnya Huai Mao benar-benar kelelahan. Ketika tubuh Huai Mao oleng dan jatuh karena kekuatannya mengalami masalah, ia mulai kacau melihat Xie Ran baik-baik saja.


"Bagaimana kamu ... aaaargh!"


Belum sempat Huai Mao melanjutkan ucapannya, nyala api muncul membakar Huai Mao sedikit demi sedikit merambat di seluruh tubuhnya seperti selimut api.


"Aku pikir kau menikmatinya." Xie Ran bicara tak acuh. Ia merasa agak tidak puas tidak bisa melihat pemandangan itu sedangkan tangannya yang baru saja menjentikkan api kembali normal.


Api itu dibuat khusus dan tidak akan pernah padam atau membakar Huai Mao sampai menjadi abu. Api abadi yang baru dimilikinya setelah penerobosan akan terus berkobar, tidak membunuh Huai Mao namun membakarnya perlahan meski sudah menghitam. Meski hangus, Huai Mao tetap tidak akan mati. Ia akan merasakan neraka yang sesungguhnya.


Menurut Xie Ran, itu cocok untuknya. Huai Mao membakar begitu saja semua mayat orang-orang terdekatnya. Dia mengendalikan emosi mereka dan membunuh secara perlahan. Membuat Huai Mao putus asa dan marah lalu dibakar seumur hidup sudah cukup membuatnya menderita. Itu sangat pantas untuknya.


Xie Ran akhirnya bisa lega. Hanya dengan membunuh Huai Mao, dendamnya teratasi. Pandangannya yang gelap hanya bisa meratap, memikirkan apa mereka di atas sana sudah puas dengannya.


Xie Yun, Wen Xi, Xie Yao, Liu Ya ... dan semua orang yang pernah bersamanya. Ia harap jiwa mereka dapat tenang dan berinkarnasi untuk kehidupan selanjutnya.


Untuk pertama kalinya Xie Ran merasa sangat lega, seolah semua beban di pundaknya telah dilepaskan. Ia merasa sangat ringan dan tidak terbiasa.


Tanpa sadar, air mata menetes di salah satu matanya yang menutup dalam diam. Ia tidak lagi bisa melihat, mendengar, dan merasakan dunia yang ia tempati. Hanya ada kekosongan seolah ia hidup sendiri. Ia merasa sangat lelah.


Qu Xuanzi datang, mendukung Xie Ran yang tubuhnya menjadi sangat lemah. Rambut perak Xie Ran berubah menjadi hitam kembali, aura naga yang ia pertahankan dalam waktu lama telah dilepaskan membiarkan tubuhnya terhuyung kelelahan dan jatuh ke pelukan Qu Xuanzi.


"Xuanzi ...." Xie Ran tiba-tiba bicara dengan nada lemah.


"Mm?"


"Dia benar ... aku ... tidak lagi berguna."


Ucapan Xie Ran membuat Qu Xuanzi menatapnya dengan kening berkerut. Kenapa Xie Ran mengatakan itu? Apa Xie Ran masih berpikir bahwa ia menyukai Xie Ran karena Xie Ran berguna?


"Aku tidak peduli." Qu Xuanzi mengeratkan pelukannya. Mengingat kondisi Xie Ran saat ini, ia sangat takut akan kehilangannya. Ia tidak akan pernah siap kehilangan.


"Aku terlalu lemah." Suara Xie Ran menjadi serak.


"Aku tidak peduli."


"Aku ... cacat ...."


"Kau tidak cacat." Qu Xuanzi tidak berpikir Xie Ram cacat atau sejenisnya. Itu hanya sebuah kutukan, ia akan menemukan solusi mengeluarkannya. Ranran-nya tidak akan menderita lagi dan akan hidup dengan normal.


Jika saja kekuatan Qu Xuanzi tidak tersegel, ia sudah mengangkat kutukan itu sejak awal, membiarkan Xie Ran melihat dunia. Dengan kondisinya sekarang, ia harus memastikan Xie Ran benar-benar sembuh dalam beberapa waktu selama pengobatan. Untuk sementara, Xie Ran akan tetap seperti ini.


Ann Rou yang melihatnya hanya bisa diam tanpa mengatakan apa pun. Ia segera pergi, mencari Dou Dou dan membantu yang lain. Seharusnya mereka tengah mengalami cedera karena tidak segera datang kemari.