The Emperor God Wife Is Naughty

The Emperor God Wife Is Naughty
197. Dewi Cahaya (2)



Setelah menenangkan Wen Xi dalam waktu yang cukup lama, Shu Xin pergi ke Dunia Bawah untuk membuat keputusan. Ia tidak ingin penilaiannya ke Dunia Dewa menjadi kacau, tapi di sisi lain ia merasa berat harus membuat satu pilihan rumit.


"Ternyata kau yang datang." Yuwen Yue berdiri, melihat Shu Xin menurunkan sayapnya.


Wajah Shu Xin tampak kusut membuat peia itu bertanya-tanya. Belum sempat Yuwen Yue bicara, Shu Xin sudah menyelanya terlebih dahulu dengan nada cepat.


"Aku tidak akan datang lagi, kau juga tidak perlu datang mencariku."


Yuwen Yue mengerutkan kening. "Maksudmu—"


"Kita tidak perlu bertemu lagi." Shu Xin bicara sambil mengepalkan tinjunya diam-diam, menahan rasa tegang dan gelisah. "Aku tahu ucapanku kejam, tapi lebih baik jika kau membenciku karena hal ini."


Yuwen Yue tampak tidak terkejut akan ucapan Shu Xin. Ia sudah menduga, hal ini akan terjadi cepat atau lambat. Ternyata Shu Xin lebih memilih posisinya sendiri di Dunia Atas. Sebenarnya itu hal wajar, karena Shu Xin tercipta dari cahaya dan sepenuhnya mementingkan posisinya sendiri. Itu adalah sifat alami.


"Baik." Yuwen Yue tersenyum, seolah tidak merasa keberatan. Tidak ada yang tahu apa yang sekarang ia pikirkan. Ia melanjutkan, "Karena kita akan berpisah, boleh aku memelukmu?"


Shu Xin mengangguk pelan tanpa ragu. Ia jatuh ke pelukan Yuwen Yue dengan tenang. Detak jantung kencang yang ia dengar dari pria yang memeluknya membuatnya merasa tidak nyaman.


"Maaf." Shu Xin tidak bisa mengatakan apa pun lagi setelah itu.


"Bukan salahmu."


Shu Xin melepas pelukan dan menatap mata merah itu yang benar-benar kontras dengan irisnya sendiri yang sangat cerah.


Ketika tenggelam dalam pemikiran sendiri, tiba-tiba Shu Xin merasakan beberapa aura yang kuat mendekat. Ia langsung menoleh untuk melihat beberapa cahaya melesa dengan kecepatan tinggi menghampiri mereka berdua disertai tekanan menyakitkan.


Beberapa cahaya itu tidak melambatkan kelajuan, terus meluncur seolah akan jatuh dan menyerangnya untuk membuatnya terpojok. Shu Xin terpana untuk beberapa saat. Apa mereka adalah para dewa? Ia ketahuan?


"Xin'er, awas!"


Beberapa cahaya itu melesat dan meledak begitu membentur sesuatu. Pelindung yang dibuat Yuwen Yue hancur seketika, menyebabkan serangan itu mengenainya dan terhempas beberapa meter jauhnya.


"Yue!" Shu Xin begitu terkejut sampai terlambat bereaksi. Ia baru akan menghampiri Yuwen Yue yang terhempas, beberapa tangan menahannya dengan kuat sampai tidak bisa melepaskan diri tanpa menggunakan sihir.


"Dewi Cahaya, Kaisar Langit memberi perintah untuk pergi ke istana sekarang."


"Tidak, dia terluka!" Shu Xin mencoba melepaskan diri dan akan memggunakan kekuatannya, namun sebuah rantai muncul dari salah satu dewa melilit tubuhnya menyebabkan ia tidak bisa menggunakan sihir. Itu adalah rantai penyegel jiwa.


"Dia hanya seorang iblis, lebih baik Dewi Cahaya mengedepankan hal yang lebih penting dibandingkan perasaan pribadi."


Shu Xin terdiam. Ia jelas tahu para dewa kelas rendah ini sengaja menyerangnya agar dapat melukai Yuwen Yue dan memisahkan mereka. Sepertinya Kaisar Langit sudah tahu hubungannya dengan Yuwen Yue, ini akan rumit.


Tapi bukan berarti ia akan membiarkan Yuwen Yue terluka begitu saja. Darah hitam mengalir di tubuhnya yang lemah, Yuwen Yue yang termasuk salah satu iblis unggul di Dunia Bawah, kini tampak menyedihkan di tangan para dewa.


Karena tidak ada jawaban dari Shu Xin, para dewa langsung membawanya dengan cepat. Shu Xin hanya bisa melihat ke belakang dalam diam. Jika ia memberontak lagi, kondisi Yuwen Yue akan semakin buruk di tangan dewa-dewa ini. Ia harus mencari kesempatan.


Tepat setelah para dewa dan Shu Xin menghilang dari Dunia Bawah, Yuwen Yue akhirnya dapat bangkit dengan susah payah. Tubuhnya penuh dengan darah, sedangkan tangannya memiliki luka bakar yang sangat buruk. Itu lebih menyakitkan dibandingkan bertarung melawan sesama iblis.


Mata merahnya melihat langit dengan tajam. Untuk saat ini, ia memang tidak bisa meraih Shu Xin yang merupakan dewi alam dengan posisi tinggi dan berpengaruh. Itu sebabnya ia setuju berpisah.


Meski begitu, ia sudah memiliki rencana. Shu Xin hanya miliknya, meski dia adalah seorang dewi. Untuk mendapatkannya, bukankah ia harus menjadi dewa utama?


Dewi alam hanya bisa disandingkan dengan dewa utama dan dewa alam lainnya, aturannya sangat rumit sampai kebanyakan mereka hidup sendiri. Itu sebabnya, ia harus merebut posisi dewa utama secepatnya. Dengan begini, ia tidak akan dianggap rendah lagi!


"Xin'er, tunggu aku."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di Istana Langit, Shu Xin berdiri di depan singgasana kebesaran Kaisar Langit. Pria tampan itu tampak tegas dengan mahkota di kepalanya, memandang Shu Xin tanpa ekspresi dan dengan aura dingin yang membuat siapa pun membeku kedinginan. Suasana menjadi hening untuk beberapa saat.


Permaisuri Langit duduk di sisinya dengan tenang. Wajah cantiknya yang tidak menua, tidak memiliki jejak emosi dan tak berpihak. Ia hanya melihat Shu Xin sebentar, kemudian menghela napas. Suaminya sangat marah, sedangkan gadis kecil di depannya tampak menyedihkan mengingatkannya pada putri kecil yang baru saja pergi. Ia tidak memiliki pendapat apa pun untuk saat ini.


Shu Xin adalah seorang dewi khusus dan memiliki posisi istimewa di Dunia Dewa. Jika ia mengalami sedikit saja skandal di Dunia Atas, konsekuensinya akan berat. Ia datang ke Dunia Atas hanya untuk berlatih, tidak boleh memiliki hubungan dengan orang lain, apa lagi ras lain. Sebelum kembali ke Dunia Dewa, ia dilarang memiliki hubungan, itu adalah sumpah.


Kaisar Langit merasa pusing dengan situasi Shu Xin. Belum lagi masalah putri satu-satunya yang menikah dengan Dewa Iblis yang merupakan musuhnya sendiri, membuat kepalanya ingin meledak. Putri kecilnya itu terlalu lugu sampai dengan senang hati ditipu Dewa Iblis!


"Sumpah ketika tiba di Dunia Atas adalah sumpah setia untuk ras dewa, melanggar berarti berkhianat. Dewi Cahaya, apa kau akan mengakui perbuatanmu?"


Shu Xin diam untuk beberapa saat, kemudian berkata. "Apa akan berbeda, jika aku mengakuinya atau tidak? Aku baru sekali melakukan kesalahan, kalian sudah menekanku."


"Apa selama ini kau belajar untuk bicara lancang!"


Shu Xin agak terkejut akan gertakan itu. Ia menggigit bibir, kemudian mencoba membela diri. "Aku tidak menyangkal, juga tidak membantah. Tapi apa kalian pernah memikirkan orang lain selain diri sendiri? Aku baru tiba beberapa tahun, tidak mengerti satu hal. Kalian para dewa, terlalu berbangga dan egois untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Dewa utama memimpin, dewa alam menciptakan, tapi tidak memikirkan apa yang dipimpin dan diciptakan. Semua ada dalam satu lingkaran." Shu Xin diam untuk beberapa saat menyadari suasana yang hening. "Maaf, aku terlalu banyak bicara. Hanya saja, aku bertanya-tanya, apa yang akan dipilih Yang Mulia antara Permaisuri dan Dunia Atas. "


Para dewa di sana sudah menahan napas atas rangkaian kalimat Shu Xin yang bisa dibilang kurang ajar. Meski tidak sepenuhnya salah, tapi itu sama saja menampar wajah semua dewa yang hadir!


Terlebih lagi Kaisar Langit. Wajah pria itu begitu dingin dan gelap seperti malam bersalju. Pertanyaan macam apa itu!


Tapi Kaisar Langit tidak menyangkal pertanyaan. Ia justru menjawab, "Sebagai Kaisar, aku tentu akan mempertimbangkan hal yang lebih penting. Lalu, apa Permaisuri semudah itu diganggu?"


Shu Xin tersenyum dengan tenang, seperti sudah menduganya. "Yang Mulia tentu akan mementingkan dunia."


Tapi ucapan Shu Xin seperti sindiran, membuat Kaisar Langit tidak senang. Meski begitu, ia hanya bisa menyembunyikan ketidaksukaannya dan bersikap tidak berpihak. Biarkan saja wanita itu berpikir sesuka hati, ia tetap akan menghukumnya sekarang.


"Karena Dewi Cahaya telah mengakui perbuatannya, maka sebagai hukuman, akan menerima sambaran petir sebanyak 50 kali!"


Hukuman sambaran petir termasuk hukuman dewa paling ringan, namun juga paling menyakitkan. Bayangkan saja disambar petir sebanyak 50 kali, siapa pun tidak akan tahan dengan rasa sakit yang dapat menghancurkan tubuh meski hanya sekali, bahkan dewa sekalipun.


Shu Xin hanya diam. Ia langsung dibawa ke tempat hukuman oleh Dewa Guntur, dan akan segera melaksanakan hukuman.


Petir menggelegar seperti akan menghancurkan dunia. Di atas area hukuman, Shu Xin berlutut. Kedua tangannya diikat dengan rantai penyegel jiwa sehingga tubuhnya sudah seperti manusia biasa. Itu akan menambah rasa sakitnya, juga bermaksud memperingatinya untuk tidak lagi melakukan kesalahan yang sama.


Sambaran petir meluncur dalam wujud kilat, menyambar tubuh Shu Xin hingga wanita itu mengalami kejutan luar biasa yang menyebabkan tubuhnya dipenuhi luka bakar. Telinganya berdengung sangat keras, seluruh tubuhnya menjadi kaku dan terasa bergetar bersamaan seperti terkena kejutan mematikan.


(Bayangin aja kesetrum listrik, tapi dengan tegangan tinggi. Aku pernah kesetrum lho, nggak enak >_<)


Hal itu terus terjadi secara berulang. Dewa Guntur hanya memberinya jeda beberapa detik sebelum kembali menyambarkan petirnya ke Shu Xin.


"Aaaaakh!"


Suara teriakan menggema begitu memilukan, diiringi dengan petir yang menggelegar.


Setelah hukuman itu, Shu Xin tidak benar-benar bebas. Ia mengalami hukuman kurungan sambil memulihkan diri selama ratusan tahun lamanya.


Hanya saja, setelah ratusan tahun itu, adalah tahun di mana kekacauan terjadi. Dewa Iblis dikabarkan mati, Dewi Kehidupan dibunuh pengkhianat dan putra mereka menghilang entah kemana. Kekuasaan Dunia Bawah berganti saat itu juga, posisi Dewa Iblis pun ikut berpindah bersamaan dengan era baru tiga dunia.


Kaisar Iblis mengalami kejutan luar biasa akan kabar buruk tersebut. Kematian putri satu-satunya menyebabkan pukulan keras sampai menyebabkan Permaisuri Langit sakit parah. Kaisar Langit mulai mengutus banyak orang untuk mencari cucunya yang diketahui masih hidup. Hanya itu satu-satunya harapan.


Shu Xin yang mendengar berita itu tidak memiliki banyak reaksi, ia tidak peduli. Sejak hari itu, ia terus berpikir kenapa ia berada di dunia ini, kenapa ia harus hidup untuk sesuatu yang terus menekannya. Ia tidak ingin dikekang lagi.


Baginya tidak ada kawan di dunia ini, hanya ada lawan.


Selang beberapa waktu, Kaisar Langit kembali membawa seorang bocah lelaki yang tampak padam dan tidak memiliki sedikitpun emosi. Anak itu seperti patung berjalan, dengan pandangan redup dan kosong tanpa keinginan dan emosi. Ia seolah hanya sekadar mayat hidup yang dibawa oleh Kaisar Langit dan disambut dengan baik.


Mata merah anak itu menyebabkan para dewa ragu untuk menerimanya. Mata semerah darah seperti iblis seolah telah melihat darah di depan matanya. Rambut peraknya sangat mirip dengan sosok yang pernah sangat ditakuti oleh mereka. Apalagi wajah anak itu juga sangat mirip dengan sosok mimpi buruk yang selalu diwaspadai, meski ada beberapa kesamaan dengan dewi yang selalu mereka puja. Bisa dibilang, perpaduan visual itu merupakan perpaduan paling sempurna.


Para dewa melihat dengan skeptis. Apa anak itu akan tinggal di Dunia Atas? Masalahnya, darahnya lebih dominan darah iblis.


Tapi tidak ada yang berani mempertanyakan apa pun selama Kaisar Langit masih ada. Kaisar Langit mengumumkan, bahwa anak itu adalah cucunya dan akan menjadi bagian dari ras dewa karena darah campurannya.


Mendengar pengumuman itu, Shu Xin yang hadir di barisan depan menyipitkan mata. Darah campuran bisa diterima Dunia Atas? Kenapa ia baru tahu? Pada akhirnya, bukankah Kaisar Langit hanya memikirkan keuntungannya sendiri?


Jika seseorang memiliki anak antar-ras, jika tidak mati, maka anak itu akan cacat. Tapi jika tidak keduanya, maka harus memiliki beberapa penyimpangan yang dapat menentang alam. Sebenarnya, itu juga bisa dibilang sebagai cacat karena tidak bisa hidup dengan normal.


Darah iblis dan dewa sangat bertolak belakang, pasti akan memicu komplikasi dan hal tidak diinginkan. Jika anak itu manusia, maka dia tidak akan bisa hidup lama. Karena dia adalah bagian dari dewa, maka dia harus memiliki 'cacat' lain yang merugikan dirinya sendiri. Meski ia akan menjadi sangat kuat karena kekuatan bawaannya, itu sama sekali tidak berarti.


Memang, seseorang berdarah campuran akan sangat kuat melebihi ras kedua orang tuanya. Bisa dibilang, seharusnya dia ada pada kategori makhluk lain, tidak bisa disebut iblis maupun dewa. Karena kekuatannya gabungannya terlalu kuat untuk dimiliki oleh seorang anak berusia 10 tahun, ia pasti mengalami hal tidak menyenangkan lain pada tubuhnya sendiri. Seperti penyakit contohnya.


Hanya saja yang membuat Shu Xin kesal, anak itu akan menjadi lebih kuat darinya dari segi apa pun. Ia tidak suka hal itu terjadi. Setelah hukuman itu, ia menjadi lebih agresif dalam hal kekuatannya untuk meningkat lebih cepat dan pergi ke Dunia Dewa. Tapi anak itu akan menjadi penghalang terbesarnya.


Hanya seorang anak, apa sulitnya membereskannya sekalian? Bukankah seharusnya seperti itu sifat dewa?


Malam harinya, kala semua orang sudah tertidur, kecuali beberapa dewa dan dewi yang bertugas khusus di malam hari. Shu Xin pergi ke Istana Langit secara terbuka tanpa harus diam-diam masuk.


Identitasnya istimewa, ia tidak perlu izin khusus dari Kaisar Langit untuk masuk ke istana. Karena hal itu, ia dengan bebas berkeliling di depan mata para dewa dan dewi yang bertugas.


Hal yang mereka tidak tahu, Shu Xin membuat dirinya menjadi dua bagian dan pergi ke kamar cucu Kaisar Langit yang baru datang itu. Tidak sulit untuk mencarinya, apalagi memasukinya. Dengan kekuatannya, ia bisa menyelinap dengan mudah dari jendela dan sampai di kamar besar yang diisi oleh seorang anak yang tengah tertidur pulas di atas tempat tidur.


Shu Xin tidak suka aura iblis, karena itu mengingatkannya dengan Yuwen Yue yang tidak lagi diketahui keberadaannya. Andai saja ia dan Yuwen Yue tidak dipaksa berpisah, ia tidak akan seperti ini. Pada akhirnya, ia hanya menjadi wanita jahat yang penuh keegoisan.


Shu Xin mendekati anak itu, melihatnya dengan pandangan dingin. Tangannya mengeluarkan cahaya emas dan membentuk sebilah belati yang digenggam dengan erat. Jika anak ini terbunuh, salahkan penjaga yang tidak memperhatikan dengan ketat adanya penyusup yang masuk. Anggap sebagai pelajaran bagi Kaisar Langit jika memiliki cucu 'lagi'.


"Sangat disayangkan kau harus mati." Shu Xin mengangkat belati dan menancapkannya dengan cepat.


Namun, hal tak terduga terjadi. Cengkraman kuat menahan lengannya dengan keras, sensasi panas langsung menyebar ke seluruh lengan Shu Xin sampai mengeluarkan asap tipis.


Shu Xin terkejut. Kulitnya terasa perih dan panas. Karena kesakitan, ia melepas belati begitu saja, membiarkannya jatuh ke lantai. Ia merasa tangannya kaku dan akan remuk saat itu juga oleh cengkraman kuat seolah sedang memegang boneka.


Anak itu ... tidak, dia tidak pantas disebut sebagai anak!


Bocah menyedihkan yang seharusnya mati mengenaskan, kini mencengkram lengannya dengan sangat kuat seolah akan menghancurkannya. Ditambah ada sebuah kekuatan tertentu yang menyebabkan kulit Shu Xin terasa terbakar.


Tubuh Shu Xin berasal dari cahaya, sedangkan anak itu adalah campuran antara dewa dan iblis. Kekuatan iblisnya—energi gelap—menyakiti Shu Xin dan dapat menghancurkannya saat itu juga bila tidak dikendalikan dengan baik. Ia sudah salah menilai.


Cahaya di tangan Shu Xin meluncur menyerang, memaksa melepaskan cengkraman sebelum akhirnya mundur beberapa langkah. Ini konyol, Shu Xin merasa ini semua sangat konyol. Bagaimana ia bisa ditakuti oleh seseorang yang baru lahir?


"Kau melukaiku ... tidak buruk."


Shu Xin merasa harga dirinya hancur, tapi ia harus mempertahankannya. Bagaimanapun, bocah itu baru saja lari dari penyerangan. Bagaimana bisa membunuhnya?


"Qu Xuanzi, aku harap kau mengingatku." Shu Xin tersenyum miring, kemudian memutuskan pergi. Misinya gagal, maka ia harus merencanakannya lebih matang. Ia tidak boleh ceroboh lagi.


Tapi begitu ia akan pergi, sebuah pedang dihunuskan ke lehernya, memberi sedikit sayatan di kulitnya sampai berdarah. Shu Xin terpaksa berhenti.


"Awalnya aku bertanya-tanya siapa orang yang sangat lancang memasuki kamar Xiao Zi. Ternyata kamu, tidak heran."


Suara wanita itu membuat Shu Xin agak kesal. Ia berbalik, menghadapi pedang perak yang ditodongkan ke arahnya. Lagi-lagi wanita yang sok tahu segalanya itu, Permaisuri Langit.


"Shu Xin, datang untuk menjenguk." Shu Xin tetap memasang reaksi formal yang membuat Permaisuri Langit semakin marah. Sudah jelas Shu Xin tidak memiliki maksud baik, masih bersikap seperti itu!


"Jangan berpura-pura lagi, aku sudah lihat semua. Kau pikir, karena kau adalah dewi alam maka kau bisa seenaknya bertindak tanpa tahu aturan? Melakukan penyerangan dan perencanaan pembunuhan terhadap dewa lain, nyalimu sangat besar, Dewi Cahaya!"