
Seekor ular kecil berjalan ke arah dua sosok biru dongker serta putih yang sedang memojokkan diri dengan sendu. Sepasang iris hitam itu menatap punggung kedua makhluk berbeda jenis itu dengan tatapan aneh.
Bukankah mereka berdua adalah makhluk imut kesayangan ibunya? Bagaimana bisa ada di luar sambil merenungkan diri di pojokkan? Sepertinya mereka dihukum seharian.
Sesuatu terlintas di otak kecil ular tersebut, ia mendesis geli memikirkan lelucon menyenangkan. Dengan kecepatan kilat, ia melesat ke dua makhluk menyedihkan itu dan memperbesar diri.
Ukurannya menjadi sedikit lebih besar dari sang naga imut itu, sebelum akhirnya ia membuka mulut, mengeluarkan suara melengking disertai taring yang tajam.
Mereka pasti akan terkejut dan ketakutan!
Pasti!
Tapi pada kenyataannya, kedua makhluk itu menoleh dengan wajah datar. Ular kecil itu terdiam, melihat dua makhluk yang menatapnya dengan tatapan aneh.
"Bodoh!" Long Long mengumpat, kemudian mengibaskan ekornya mendorong bola bulu di sebelahnya ke arah Xiao Caihong.
"Dasar naga tua!" Roh Guntur meraung keras.
Bulu-bulu halusnya menjadi runcing seketika seperti landak karena kesal, menatap Long Long penuh permusuhan. Karena naga tua itu ... nyonyanya mengusirnya!
Roh Guntur melihat ke arah Xiao Caihong tepat di punggungnya. Tatapannya tetap penuh permusuhan. "Kau tidak diajak!"
"Dengar itu?" Long Long melihat Xiao Caihong dengan kesal. "Dia menindasmu, cepat katakan pada Nyonya!"
Xiao Caihong mundur karena keagresifan makhluk-makhluk kecil ini. Ia hanya berniat mengejutkan mereka, sama sekali tidak ada niat buruk. Kenapa mereka memusuhinya?
"Naga tua, kau sedang memprovokasi hubunganku dengan Nyonya, aku akan mencabik-cabikmu!" Roh Guntur langsung menyambar Long Long secara agresif.
Mereka pun saling bergelut sampai tidak terlihat sosok mereka yang dipenuhi kabut. Xiao Caihong hanya menonton dengan wajah tercegang. Bagaimana bisa aksi kecilnya memicu pertengkaran?
Keributan yang dipicu seekor ular kecil tak bersalah sama sekali tidak dihiraukan siapa pun, atau lebih tepatnya tidak ada yang tahu. Meski mereka bertengkar hebat di depan pintu kamar, tetap tidak ada yang mendengar.
Di dalam kamar, Qu Xuanzi terbangun lebih awal dan melihat Xie Ruo masih tertidur pulas di pelukannya. Sangat pulas sampai Qu Xuanzi tidak tega membangunkannya meski hari sudah siang.
Ia mengecup kening Xie Ruo sebentar, kemudian akan pergi untuk membuat sarapan. Ruoruo-nya pasti lapar, 'kan?
Tapi begitu selesai mengenakan jubah dan akan beranjak pergi, lengannya ditahan hingga ia menoleh melihat si pelaku. Xie Ruo rupanya sudah bangun. Wanita itu menarik lengan Qu Xuanzi dan memeluknya.
"Kamu ... harus tanggung jawab." Xie Ruo bicara dengan nada serak. Ia masih tampak mengantuk dan malas. "Aku telah dirugikan sampai merasa akan lumpuh." Ia agak kesal telah terperdaya.
Qu Xuanzi pikir, sepertinya ia telah keterlaluan semalam. Hanya saja saat itu ia benar-benar tidak bisa mengendalikannya.
"Lain kali aku akan berusaha mengendalikan." Ia mengusap rambut Xie Ruo dengan lembut.
"Itu kalau kau bisa." Xie Ruo menggerutu.
"Apa sakit?"
"Tidak terlalu. Aku ini tidak lemah." Xie Ruo tidak mau mengakui kalau ia kewalahan. Itu baru pertama, lain kali tidak akan.
"Untuk pertama kali, memang akan sakit. Untuk kedepannya, tidak akan lagi."
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Seseorang yang mengatakannya."
Pasti naga playboy itu. Xie Ruo heran mengapa naga playboy itu bisa mendapat kepercayaan Qu Xuanzi. Apa karena ide bodoh itu? Benar-benar ....
"Xuanzi, antar aku ke kamar mandi."
Qu Xuanzi tersenyum nakal. "Ingin mandi bersama?"
"Dalam mimpimu." Kaki Xie Ruo saja masih keram. Benar-benar tidak berperikemanusiaan.
Ia ke pinggir tempat tidur, merusaha meraih jubahnya. Tapi sangat sulit meraihnya sambil mempertahankan selimut untuk menutupi tubuhnya hingga ia menyerah.
Sudahlah, kalau jatuh juga tidak lucu. Dalam keadaan seperti ini, kekuatan spiritualnya sedang sedikit sehingga tidak bisa menggunakan sihirnya untuk mengambil jubah.
Qu Xuanzi berinisiatif mengambilkan jubah, lalu membantu Xie Ruo memakainya. Tapi begitu selimut yang membalut tubuh Xie Ruo dilepas, Qu Xuanzi justru terdiam.
Melihat lekuk tubuh yang indah itu, Qu Xuanzi nyaris kehilangan kendali lagi. Tapi ia langsung menahannya dan memalingkan wajah. Jangan sekarang! Semalam ia sudah cukup keterlaluan, setidaknya beri sedikit jeda.
Xie Ruo sadar apa yang dipikirkan pria di depannya. Ia cepat-cepat memakai jubah agar hal semalam tidak berlanjut selagi ia masih tidak bisa bergerak bebas.
Setelah selesai, ia menepuk bahu Qu Xuanzi. "Bantu aku."
Qu Xuanzi tampak bersikap normal seolah tidak terjadi apa pun. Ia mengangkat tubuh Xie Ruo dengan mudah, membawanya ke kamar mandi.
Untuk mengalihkan pemikiran liar barusan, ia telah meminta Ann Rou untuk menyiapkan air hangat untuk Xie Ruo. Kucing satu itu akan datang tak lama lagi.
"Setelah bersih-bersih, aku akan meminta seseorang memasakkan makan siang untukmu." Qu Xuanzi berkata selagi metelakkan Xie Ruo di atas kursi dalam kamar mandi.
Xie Ruo mengangguk. Membicarakan makanan, ia jadi lapar. Sudahlah, cepat-cepat mandi dan makan yang banyak. Setelah itu, ia masih ingin membicarakan hal penting dengan Mei Liena dan pergi ke perpustakaan lagi.
Tak lama setelahnya, Ann Rou datang membantu Xie Ruo bersih-bersih. Qu Xuanzi pergi keluar dan dihadapkan dengan dua makhluk bodoh yang masih adu mulut dan saling bertengkar seperti anak kecil. Xiao Caihong menonton dengan pandangan lesu, kemudian melihat Qu Xuanzi, matanya berkaca-kaca.
Qu Xuanzi mengabaikan dua makhluk kecil yang tidak akur itu, sama seperti Ann Rou yang melewati mereka begitu saja. Sedangkan Xiao Caihong, terbang ke arah Qu Xuanzi seolah mengadu dan memasang wajah menyedihkan.
Jika Xie Ruo melihatnya, wanita itu tidak akan mengakui bahwa tiga makhluk bodoh itu adalah peliharaan kecilnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah bersih-bersih dan makan siang, Xie Ruo bergegas pergi ke tempat Mei Liena berada. Qu Xuanzi ada urusan lain, jadi tidak bisa ikut dengannya untuk saat ini. Lagi pula, tidak ada bahaya yang serius di Dunia Atas.
Xie Ruo membuka pintu ruangan Mei Liena lebar-lebar, tapi tidak ada siapa pun di dalam ruangan. Ia heran, ke mana saja teman-temannya sejak tadi? Menghilang tanpa kabar dan muncul tiba-tiba seperti setan.
Apa jangan-jangan mereka sudah pergi dari Dunia Atas? Tapi Qu Xuanzi tidak memberitahunya mengenai hal itu.
"Ruoruo!"
Xie Ruo merasa jantungnya nyaris melompat mendengar suara yang melengking di kejauhan. Bagaimana ia tidak mengetahui ada orang lain di sekitarnya?
Ia menoleh ke belakang, melihat wanita cantik yang menghampirinya dengan langkah perlahan serta senyum cerah. Xie Ruo sekarang paham kenapa ia bisa terkejut. Ditambah, ia tidak suka senyum mencurigakan itu.
"Aku mencarimu sejak tadi, ternyata di sini." Dewi Kehidupan terkekeh.
"Di mana mereka?" Xie Ruo tidak mau berbasa-basi. Sejujurnya, ia masih kesal akan kehadiran tiba-tiba Dewi Kehidupan dan dua teman anehnya semalam.
Xie Ruo mengangguk paham. Energi di Dunia Atas lebih tinggi dari Dunia Tengah. Meski Dunia Atas bagus untuk kultivasi, tapi semakin banyak energi yang terkumpul dan menggumpal secara tidak teratur, akan berbahya bagi tubuh seseorang. Bisa saja dantiannya hancur.
Tapi untuk kasus Xie Ruo berbeda. Tekanan yang dikatakan Dewi Kehidupan hanya berlaku untuk manusia biasa. Sedangkan Xie Ruo adalah keturunan Dewa Naga, yang artinya ia adalah dewa setengah manusia. Dunia Atas justru sangat cocok untuknya berkultivasi.
"Kalau begitu, aku akan menemui mereka. Dewi Kehidupan, ada hal lain yang ingin dikatakan?" Kalimat itu berartikan bahwa Xie Ruo tidak ingin Dewi Kehidupan mengikutinya. Bukannya ia tidak menghormati Dewi Kehidupan, itu karena hal semalam.
Tapi sepertinya wanita itu mengabaikan pengusiran tidak langsung Xie Ruo. "Kebetulan aku sangat senggang. Ada banyak hal yang ingin ditanyakan, tapi lebih baik kita pergi ke Istana Barat untuk menemui yang lain."
Xie Ruo ingin mengatakan hal lain, tapi Dewi Kehidupan sangat cepat menyangkal dan membawanga pergi saat itu juga. Xie Ruo tidak habis pikir, ia akan kalah berdebat hanya karena seorang wanita tua. Masalahnya wanita tua tertentu lebih kuat darinya!
Mereka langsung sampai di Istana Barat. Ada banyak anggota klan mondar-mandir di sekitar, lalu menunduk ketika melihat Xie Ruo dan Dewi Kehidupan.
Di ujung, ada Mei Liena dan lima lainnya yang duduk sambil berbincang di kursi melingkar. Xie Ruo langsung menghampiri mereka, tidak berharap bahwa Dewi Kehidupan juga ikut karena iseng. Xie Ruo benar-benar mengabaikannya.
"Liena, aku mencarinya sejak tadi." Xie Ruo langsung duduk di sebelah Mei Liena kemudian mengambil camilan kering di atas meja untuk dimakan sendiri.
Mereka semua termenung sejenak. Kemudian Mei Liena berkata, "Kau mencariku atau makanan?"
"Kau." Xie Ruo menunjuk Mei Liena dengan telunjuknya, kemudian mengambil camilan lagi untuk dimakan.
"Ruoruo, apa kau tidak merindukanku? Kau tidak mencariku?" Zhong Xiaorong cemberut. Tatapannya dipenuhi kilatan nakal.
Xie Ruo malas membicarakannya dan langsung mengatakan inti permasalahan. "Apa penawar racun sudah ditemukan?"
"Aku baru menemukan cara meringankan gejalanya. Tadi pagi Shi Yang tiba-tiba muntah darah, untung saja Dewi Kehidupan hadir dan meringankan gejalanya sebelum aku datang. Setelah itu, aku langsung memberinya obat."
Xie Ruo mengerutkan kening. Ia menjadi gelisah memikirkan Shi Yang yang memburuk. "Tidak bisa, aku akan mencari cara mengendalikan racunnya."
"Tidak ada yang perlu dikawatirkan. Kondisi Shi Yang tidak seburuk yang kalian pikirkan. Di wilayah timur Dunia Atas, ada lingzhi rumput biru yang dijaga oleh beberapa kuda laut, dapat menghilangkan semua racun dengan satu tetes."
"Tapi masalahnya, racun tulang kering sudah mendarah daging di Dunia Tengah. Tidak tahu kota mana lagi yang sudah tercemar." Xie Ruo menghela napas.
"Itu bukan masalah. Ruoruo, kenapa tidak minta Xiao Zi membantumu? Tidak masalah jika sedikit bergantung, jangan menjadi terlalu mandiri. Selagi temanmu mencari penawarnya, Xiao Zi mungkin bisa sedikit membantumu meredakan masalah." Dewi Kehidupan bersandar dengan santai sambil menyilangkan kakinya. Xie Ruo ini, terlalu mandiri dan sangat suka mempersulit diri.
"Aku pikir saran Dewi Kehidupan tidak buruk untuk meringankan masalah rakyat. Lingzhi rumput biru juga tidak buruk, aku bisa meneliti itu untuk mengembangkan obatnya lebih banyak." Mei Liena setuju. Setidaknya, pekerjaannya menjadi lebih ringan dan Shi Yang bisa diselamatkan. Xie Ruo juga tidak akan menjadi stress.
"Begitu saja untuk saat ini." Yan Yao akhirnya menghela napas. "Selanjutnya, kita hanya harus tahu siapa pelakunya."
"Jian Wu." Xie Ruo tiba-tiba menyebutkan nama itu membuat mereka tercegang.
Jian Wu? Peri itu masih hidup?
Selain Pei Xi, mereka semua sangat terkejut sampai tidak habis pikir. Dalam keadaan terluka parah seperti itu, Jian Wu masih bisa bertahan selama bertahun-tahun dalam kegelapan dan mengancam mereka. Benar-benar tidak boleh diremehkan.
Tanpa sadar, mereka melirik Pei Xi, kemudian mengalihkan pandangan lagi. Memang, sepertinya tidak terlalu mengherankan. Pei Xi bahkan bisa bertahan hidup bertahun-tahun di hutan, tidak mungkin 'kakaknya' itu tidak bisa juga.
Pei Xi teringat akan ucapan Jian Wu saat itu. Permainan telah dimulai, apa ini permainannya? Ia tidak yakin akan hal itu. Ia sendiri baru tahu bahwa racun itu dipelopori oleh Jian Wu meski sudah menduganya.
"Tidak mungkin Jian Wu yang berada di istana, 'kan?" Zhong Xiaorong tidak bisa membayangkannya. Bukankah itu berarti, istana jauh lebih berbahaya? Apa kakaknya tahu?
"Belum tentu, karena yang berada di istana kekaisaran seharusnya adalah 'dia' atau rekannya."
"Rekan?" Liu Chang agak terkejut. Siapa lagi rekannya selain kaki tangan iblis yang sudah Xie Ruo musnahkan?
"Masalahnya, ini juga berhubungan dengan Dunia Atas." Xie Ruo melirik Dewi Kehidupan dengan ragu. Dewi Kehidupan pasti tahu sesuatu.
Menyadari pandangan Xie Ruo, Dewi Kehidupan meluruskan punggung dan bersikap pura-pura tidak tahu. "Apa hubungannya denganku? Kalian lanjutkan diskusi."
"Mumpung kau di sini, mungkin ada yang ingin dikatakan." Xie Ruo tidak memaksa, tapi juga sangat ingin tahu.
"Saranku jangan melakukan hal tidak perlu. Ketika semua terjadi, aku hanya ingin kalian melindungi ras manusia dan Dunia Tengah." Dewi Kehidupan berkata dengan serius, namun tidak ada keseriusan di wajahnya sehingga terkesal omong kosong.
Tapi sepertinya Xie Ruo menangkap sesuatu dari ucapan Dewi Kehidupan. Dewi Kehidupan takut pada orang ini. Wajar saja, bahkan Qu Xuanzi kerepotan menanganinya. Ditambah, seorang dewi bergabung dan pernah menghancurkan Dunia Atas.
"Kalau ingin tahu, aku sarankan bertanya langsung pada Xiao Zi, dia yang paling tahu dibandikan aku. Tapi aku tidak menjamin dia akan memberitahu, itu untuk keselamatan kalian semua." Dewi Kehidupan mendapatkan kembali ketenangannya. Ia bersandar, kemudian menyesap teh yang disediakan.
"Sayangnya, aku harus mengetahuinya. Jian Wu pernah menjadi kakakku selama beberapa tahun, dan melakukan banyak hal bagi keluargaku. Aku tidak ingin ada lebih banyak keluarga yang mengalami hal yang sama." Pei Xi akhirnya buka suara.
Jian Wu adalah duri dalam hatinya. Ia tidak bisa membiarkannya lepas begitu saja. Karena ia tidak ingin membunuh Jian Wu, maka ia akan mencari orang di belakang Jian Wu.
"Ibuku mati karena racun tulang kering. Jika benar 'dia' yang melakukannya untuk mendapat posisi di kekaisaran sebagai rencana altar pengorbanan, aku tidak bisa membiarkan jiwa ibuku terjebak dalam pengorbanan itu. Aku justru akan lebih tenang jika ibuku mati di tangan orang lain, bukan seseorang dari Dunia Atas." Zhong Xiaorong mengungkapkan penyakit hatinya.
Jika itu adalah manusia biasa, ia tidak akan serepot ini dan hanya perlu melakukan sedikit penyelidikan. Tapi sekarang ia tahu pelakunya tapi tidak bisa melakukan apa pun. Itu adalah penyakit.
"Keluargaku satu-satunya dibunuh Xie Chen, putra Huai Mao. Sedangkan Huai Mao berada di bawah 'dia' selama bertahun-tahun. Aku hanya ingin memberi keadilan pada adikku. Tapi jika dia juga akan terserap dalam altar pengorbanan, aku tidak bisa membiarkannya menderita sekali lagi." Zhou Kui juga mengungkapkan rasa sakit yang ia tahan selama ini.
Zhou Kui pernah mengungkapkan kebenciannya pada Xie Chen, namun ia tahu Xie Chen bukan orang yang mudah ditangani. Sekarang Xie Chen hilang, berita altar pengorbanan muncul.
Meski Xie Ruo telah menyegel Dunia Roh, tidak ada yang tahu di mana jiwa adiknya sekarang. Yang ia ketahui, jiwa adiknya dalam bahaya selama masalah ini terjadi. Itu sebabnya ia bergabung dengan Pei Xi di Sekte Bayangan Malam.
"Keluargaku juga terlibat dengan racun tulang kering. Aku ingin meluruskannya." Liu Chang berkata dengan singkat. Meski ia tidak mengkhawatirkan keluarganya, ia lebih mengkhawatirkan teman-temannya dan orang tidak bersalah yang menjadi korban.
Dewi Kehidupan melihat mereka dengan senyuman rumit. Pandangannya terarah pada Xie Ruo. Tanpa mengungkapkan apa pun, sudah pasti semua ini tidak bisa terpisah dari Xie Ruo sebagai keturunan Dewa Naga sekaligus pemilik energi murni. Ia hanya bisa pasrah.
"Kalian benar-benar anak bermasalah," gumamnya.
Belum lagi Yan Yao yang belum mengungkapkan apa pun. Ia tidak ingin mendengarnya lagi.
"Ruoruo, karena kamu adalah bagian dari Dunia Atas, aku beritahu kamu satu hal." Dewi Kehidupan menatapnya dengan serius. "Pergi ke perpustakaan, buka rune sihir di pusat perpustakaan, kau akan mendapatkan semua jawabannya. Ingatlah, hanya bagian dari dewa utama yang bisa membukanya."
"Kenapa tidak memberitahuku langsung?" Xie Ruo merasa Dewi Kehidupan mengisyaratkan sesuatu, tapi ia tidak paham. Ayolah, bukankah selama ini ia adalah bagian dari dewa utama? Ia cucu salah satu dewa utama, lho, masih tidak bisa membuka rune itu. Kenapa harus dipersulit?
"Karena apa yang ingin kau ketahui bukan apa yang ingin aku ketahui. Kau akan mengerti."
Xie Ruo melihat Dewi Kehidupan dengan mata menyipit. Dewi Kehidupan ini sepertinya memiliki banyak rahasia yang tertutupi sifat anehnya. Ia paling ngeri dengan orang seperti ini.
Tapi ucapannya tidak salah. Qu Xuanzi memang yang paling banyak tahu. Meski ia sadar terlalu banyak tahu tidak akan membuat umurnya panjang, tapi bagaimanapun ia tidak pernah bisa lepas dari masalah ini meski ingin.
Ia akan mengetahuinya segera.
"Kalau begitu, aku terima saranmu." Xie Ruo tersenyum samar.
Ya, dia akan menemui Qu Xuanzi langsung. Meski tidak perlu terlalu berharap, setidaknya ia sudah berusaha. Ia sudah mengulanginya berkali-kali, bahwa ia tidak selemah itu.
Hingga akhirnya pada waktu berikutnya, ia berdiri di ruangan Qu Xuanzi.