The Emperor God Wife Is Naughty

The Emperor God Wife Is Naughty
183. Lelucon Yang Tidak Lucu



Oh, Yang Mulia Kaisar Zhong, apa kau tidak memiliki selera lain selain wanita yang sudah bersuami? Meski bukan sepenuhnya salah Zhong Guofeng karena tidak ada yang tahu, tetap saja terasa seperti sebuah lelucon. Karena itu, Xie Ruo tidak akan marah-marah tidak jelas. Maklumkan saja.


Saat ini, Xie Ruo jadi heran siapa sebenarnya yang Zhong Guofeng suka. Xie Ran atau Xie Ruo? Bukankah dulu Zhong Guofeng juga meminta 'Xie Ran' menjadi istrinya? Sudahlah, suka-suka Kaisar ingin memiliki berapa banyak istri, bukan urusannya.


"Untuk itu, mohon pikirkan kembali." Entah kenapa, tiba-tiba Xie Ruo bersyukur Qu Xuanzi tidak ikut. Lelucon seperti ini sama sekali tidak lucu bagi Qu Xuanzi. Kali ini, ia akan mencoba menyelamatkan teman lamanya.


"Aku sudah memikirkannya."


"Tidak bisa." Xie Ruo berkata dengan jelas. Masa iya dia menikah dua kali.


"Apa kau tidak ingin tahu alasan aku melamarmu, padahal kita belum pernah bertemu?"


"Itu yang kutakutkan. Apa pun alasannya, aku tidak bisa. Mohon Yang Mulia tidak membuang waktu." Xie Ruo tidak peduli apa Zhong Guofeng naksir pada pandangan pertama atau ada maksud terselubung.


Apa pun alasannya, ia tidak boleh sembarangan mempermainkan pernikahan. Ia sudah menikah, kenapa harus menikah lagi? Itu hanya sebuah lelucon!


"Ada sangat banyak wanita di Menara Suci, mereka mungkin lebih bersedia. Tapi tentu saja, harus dengan persetujuan Ratu Menara Suci." Xie Ruo mengambil solusi lain.


"Bagaimana ini? Padahal aku datang setelah mendengar berita tentangmu. Kalian bersaudara memang memiliki banyak kemiripan." Zhong Guofeng tampak pada pendiriannya, justru ia terlihat semakin tertarik.


"Jadi kau datang karena aku mirip dengan Xie Ran?"


"Ada banyak masalah dalam kekaisaran, aku harap Nona Kedua bisa membantu."


"Aku mungkin bisa membantu, tapi dengan identitas lain. Yang Mulia, aku menghormatimu karena kau adalah Kaisar, juga teman lama 'saudaraku'. Aku bukan orang dengan temperamen baik." Xie Ruo sudah sangat jelas mengusirnya secara terang-terangan, kenapa pria itu masih saja keras kepala?


"Ruoruo, akan lebih baik jika didiskusikan dengan tenang." Qiong Lin sangat tahu temperamen Xie Ruo yang kacau. Ia takut hal itu akan menyinggung Zhong Guofeng. Lagi pula, menikah dengan Kaisar Zhong bukan masalah besar.


"Senior, aku sudah sangat tenang." Xie Ruo melirik Qiong Lin tanpa ekspresi, kemudian kembali melihat Zhong Guofeng. "Kondisi internal Menara Suci sedang tidak baik, ada banyak masalah yang harus diselesaikan. Tentu, Yang Mulia harusnya sudah mengerti."


Zhong Guofeng tidak terlihat tersinggung, justru semakin terlihat santai. Ia seolah sudah menduganya sejak awal dan mempersiapkan segala rencana sebelum datang.


"Nona Kedua, kau memang sangat mirip dengannya, aku agak terkejut. Tapi meskipun kau menolak, tidak ada yang bisa menentang titah kaisar selama ini. Apa kamu ingin membawa seluruh Menara Suci ke dalam masalahmu?"


Apa itu ancaman? Xie Ruo menyipitkan matanya. Ia tarik ungkapan bahwa ia bersyukur Qu Xuanzi tidak datang. Lama tidak bertemu, pria ini semakin menyebalkan. Apa selama ini Zhong Guofeng bersikap baik dan rendah hanya di depannya ketika menjadi Xie Ran?


Jika benar seperti itu, Xie Ruo merasa pria ini lebih berbahaya dari yang dipikirkan. Bisa saja, tindakannya saat ini juga ada dalam rencana yang sudah diatur sedemikian rupa. Ditambah, kecurigaannya terhadap Dewa Iblis yang berada di istana kekaisaran semakin meningkat belakangan ini.


"Yang Mulia, ada satu hal yang belum kuberitahu, mungkin dapat merubah ketertarikanmu terhadapku." Xie Ruo berniat mengakhiri segalanya sekarang juga. Ia tidak boleh membiarkan Zhong Guofeng yang penuh kecurigaan ada di sini. "Aku telah menikah."


Pada akhirnya, Xie Ruo mengumumkan status barunya. Meski tidak memberitahu siapa yang menikah dengannya, hal itu persis membuat Qiong Lin sangat terkejut. Bahkan Zhong Guofeng terdiam.


"Ruoruo ... kenapa kamu tidak memberitahu?" Qiong Lin sangat terkejut. Pantas saja selama ini Xie Ruo tidak ada kabar. Kenapa tidak memberitahu sejak awal?


Xie Ruo meliriknya, kemudian melihat ke arah Zhu Zhu yang hanya diam menunduk. "Dia seharusnya tahu. Aku sudah mengundang Guru, tapi tidak datang."


Qiong Lin melirik Zhu Zhu di sebelahnya, sedangkan wanita itu melihat Xie Ruo dengan bingung. Guru tidak menghadiri pernikahan?


Baru saja Zhu Zhu ingin mengatakan bahwa Sheng Xian sudah pergi ke Dunia Atas saat itu, tapi suara Zhong Guofeng yang membantah pernyataan Xie Ruo menghentikannya.


"Nona Kedua, apa kau mencoba berdalih?" Zhong Guofeng tentu tidak percaya. Siapa pun bisa menggunakan alasan itu, bahkan dirinya sendiri.


"Kenapa aku harus berbohong?" Xie Ruo kesal disalahpahami. Sepertinya percuma saja ia mengatakannya tanpa bukti. Masalahnya, Qu Xuanzi tidak ikut.


"Semua orang bisa mengatakannya. Sekarang, aku bertanya padamu. Apa kamu percaya bahwa aku memiliki tiga selir?"


"Siapa pun bisa memiliki selir." Meski sebenarnya Xie Ruo tidak percaya. Ah, kenapa ia jadi terjebak dalam logika seseorang!


"Wajahmu mengatakan baha kau tidak percaya. Sama sepertiku, aku tidak percaya kau sudah menikah dengan seseorang. Lagi pula, siapa orang gila yang ingin menikah dengan wanita yang lebih mendominasi?"


Bukankah kaisar tertentu juga melamarnya seperti orang gila? Sebenarnya, Zhong Guofeng sedang mengatai dirinya sendiri. Xie Ruo tidak perlu tersinggung.


"Tentu saja kecuali aku. Berdasarkan kekuatan, Nona Kedua berada sedikit di bawahku, cukup untuk Nona Kedua bergantung." Zhong Guofeng bicara dengan percaya diri.


Xie Ruo memutar bola mata, merasa sudah kehabisan akal akan orang gila satu ini. Ia melirik Qiong Lin yang mulai berkeringat dingin. Sepertinya akan ada pertunjukan.


"Zhong Guofeng ...." Xie Ruo kemudian melihat pria itu dengan raut kesal. "Sebenarnya kau memujiku atau menghinaku?"


Qiong Lin merasa jiwanya melayang saat ini juga. Bagaimana juniornya yang tidak tahu malu ini menyebut nama sang kaisar! Bahkan menggunakan nada protes!


"Nona Kedua sepertinya sudah menerimaku. Kalau begitu, kita tinggal tentukan tanggal baiknya."


"Kau!"


Xie Ruo ingin melemparkan tinju ke arah pria itu, namun Qiong Lin langsung menahannya sekuat tenaga. Emosi Xie Ruo sedang sangat tidak baik. Sejak kapan ia menerima lamaran! Apa pria itu tidak mengerti bahasa manusia!


"Nona Kedua sepertinya sangat terburu-buru. Sayangnya, Nona harus sedikit menunggu." Zhong Guofeng memasang senyum mengejek, mengatakan bahwa ia telah menang.


Xie Ruo semakin ingin mencabik-cabiknya. Kalimat jelek macam apa itu! Sungguh, ia kesal dan sangat ingin membakar pria itu hidup-hidup. Masa dia dipaksa selingkuh! Terkutuk!


"Zhong Guofeng, kau tidak tahu malu." Xie Ruo berusaha bersabar. Ia tidak suka lelucon seperti ini. Apa-apaan kondisi ini!


"Terima kasih pujiannya."


"Kau tidak takut aku membunuhmu?" Xie Ruo tidak tahu kalau ia bisa begitu emosional. Sudahlah, intinya ia sedang kesal.


"Kau tidak mampu." Zhong Guofeng tetap tersenyum seolah sedang mengejek.


"Tidak mampu?" Entah bagaimana Zhong Guofeng bisa meniru kalimat Qu Xuanzi ketika sedang mengancamnya. "Kalau begitu, aku tidak akan sungkan."


Zhong Guofeng justru tampak menikmatinya. "Nona Kedua ternyata suka bermain agresif, aku cukup tersanjung."


Xie Ruo semakin merasa Zhong Guofeng memang pantas menyebut dirinya sendiri sedikit lebih kuat dari Xie Ruo. Bahkan di hadapan pedang roh unsur, pria itu tidak berkutik, berbeda dari manusia di belakangnya yang sudah memojok.


Xie Ruo pikir tak apa jika sedikit kasar. Selain untuk mengusir Zhong Guofeng, ia ingin tahu kekuatan misterius pria itu. Apa layak untuk bekerja sama atau dicurigai, itu akan ditentukan di akhir pertarungan.


"Nona Kedua, kau tahu akibat menyerang keluarga kekaisaran, 'kan?"


"Bagaimana jika digunakan untuk persyaratan? Jika aku menang, kau pergi dan jangan kembali. Jika aku kalah, aku akan ikut denganmu ... tapi bukan berarti aku setuju!" Xie Ruo tidak mau ambil resiko berlebihan. Itu saja sudah cukup.


"Itu sudah cukup." Zhong Guofeng tetap dengan senyum tampannya.


Cahaya perak melesat seperti hembusan angin, meluncur ke arah Zhong Guofeng dengan hunusan pedang ramping di balik cahaya perak. Api dingin mulai menyebar, melapisi lantai dengan es dan membakar target dengan aura panas yang mengerikan.


Zhong Guofeng sama sekali tidak menggunakan senjata. Ia tidak menghindar, justru mengangkat tangannya menahan serangan api dingin yang meluncur dengan satu tangan.


Karena ia tidak boleh menggunakan kekuatan secara berlebihan, ia memilih mengalihkan api dingin ke arah lain, membiarkan Xie Ruo berbalik setelah meleset dan meluncurkan tendangan busur dari udara.


Xie Ruo tidak bisa meremehkan Zhong Guofeng mengingat ia tidak bisa menebak kekuatan pria itu serta mengenali napasnya. Itu sebabnya, ia meletakkan sisa api dingin di kaki Zhong Guofeng ketika menghunuskan pedang barusan.


Sisa api dingin itu akan membeku, dan merambat menjadi parasit di kaki Zhong Guofeng sehingga menciptakan efek mati rasa agar tidak bisa menghindari serangan.


Zhong Guofeng tidak bisa berpindah tempat meski ingin. Ia diam, menggerakkan tangannya untuk mengeluarkan cahaya samar yang merambat ke arah Xie Ruo.


Cahaya itu seperti tali yang terus memanjang dan berduri seperti sulur. Hanya beberapa sinar, itu berkeliaran di udara seolah tak terkendali sampai seperti benang kusut yang mengambang.


Benang-benang itu bergerak sangat cepat melakukan serangan ke arah Xie Ruo. Xie Ruo mengayunkan pedang, memotong tiap inci benang aneh dan menghindari sayatan benang yang kerap kali memotong ujung gaunnya.


Benang itu ... Xie Ruo merasa tidak asing. Tapi ia tidak bisa memikirkannya lebih jauh karena harus fokus pada pertempuran rumit.


Pedang Xie Ruo mengeluarkan cahaya emas yang bercampur dengan roh guntur. Kilatan petir menyambar, diikuti oleh bayangan ribuan pedang disertai angin yang berhembus kencang membawa pedang-pedang tersebut ke arah acak memotong semua benang aneh.


Selagi ribuan pedang bekerja seperti kilat, Xie Ruo berteleportasi ke arah Zhong Guofeng dan mengangkat pedangnya. Ia menebaskan pedang dengan cepat dan berputar di saat yang tepat ketika Zhong Guofeng akan menyerang.


Meski kaki Zhong Guofeng terkunci, ia tetap bisa menggunakan tangan dan kekuatan spiritualnya untuk melakukan pembelaan diri. Selain itu, kecepatannya juga tak kalah cepat sehingga membuat Xie Ruo kehilangan celah.


Zhong Guofeng pasti sengaja membuatnya kesal. Xie Ruo mencoba tetap tenang sambil memikirkan rencana apa yang tepat untuk mengalahkan pria itu.


Selagi benang-benang aneh pria itu benjulur penuh ancaman, Xie Ruo melesat menghindari tiap benang merah yang menghalangi jalan. Cahaya perak di tangannya membentuk bilah sabit yang cukup besar, melesat seperti meteor secara berturut-turut ke arah Zhong Guofeng.


Zhong Guofeng membuat barrier sehingga serangan bertubi-tubi itu hancur oleh barrier. Cahaya emas merambat di lantai, menyatu dengan lantai ke segala arah seperti cabang ranting.


Xie Ruo melompat menghindari cahaya emas yang muncul. Ia menancapkan pedangnya ke lantai sampai retak, kemudian menekan tekanan cahaya emas yang menekannya agar tidak bisa bergerak bebas.


Radar dalam pertempuran dipenuhi aura berbahaya. Baik panas maupun dingin, dua cahaya perak dan emas saling berbenturan dan menghancurkan.


Qiong Lin dan Zhu Zhu sama-sama cemas. Mereka tidak tahu harus menilai siapa yang menang dan kalah karena keduanya sama-sama menunjukkan kemampuan luar biasa yang jarang terlihat.


Yang satu menyerang dan yang satu bertahan, lalu melakukan serangan balik lebih besar dan harus diterima dengan tekanan tinggi sampai mengakibatkan ledakan. Semua itu terus terulang, sampai masa waktu parasit es di kaki Zhong Guofeng habis.


Ketika Xie Ruo kembali meluncurkan serangan, Zhong Guofeng menghilang dari tempat bersama benang-benang yang mengitarinya. Serangan Xie Ruo membentur dinding, menciptakan lubang besar disertai ledakan seolah telah ditanami bom.


Xie Ruo berdiri di pinggir dinding yang berlubang, melihat dunia luar yang cerah dan kontras akan kondisi dalam istana. Ia mencari keberadaan Zhong Guofeng, tapi tidak bisa merasakan keberadaannya. Ini terjadi lagi.


Hingga akhirnya Xie Ruo merasakan aura yang sangat pekat melintas di sebelahnya dan mendekat. Xie Ruo segera menunduk ke belakang, membiarkan cahaya emas itu melintas di atasnya dan melayang di luar setelah melewati lubang dinding.


"Memang sesuai dengan reputasi, tidak mengecewakan." Zhong Wenyue melayang di udara dengan senyuman yang tidak berubah. Ia menatap Xie Ruo dengan tatapan kemenangan.


Xie Ruo mengerutkan kening. Zhong Guofeng bisa terbang? Meski ia tahu ada beberapa kultivator yang bisa terbang, tapi seharusnya mereka dibantu oleh sayap dari sihir tertentu. Zhong Guofeng dapat mencapai tahap di mana Xie Ruo belum bisa melakukannya, jelas situasi ini menjadi gawat.


Menang dan kalah belum ditentukan, Xie Ruo tidak akan melewatkan kesempatan menguji kemampuannya sekarang juga. Meski tidak akan membunuh Zhong Guofeng, sedikit membuatnya terluka saja sudah cukup.


Xie Ruo melanjutkan penyerangan. Ia melesat keluar melewati lubang dinding, menyambar Zhong Guofeng dengan pedang miliknya. Meski ia tidak bisa terbang, ia bisa menggunakan udara sebagai tumpuan kakinya asal tidak berhenti bergerak.


Beberapa bayangan pedang juga meluncur bersama Xie Ruo. Pedang-pedang itu mengubah arah saling berlawanan dan melancarkan serangan ke arah Zhong Guofeng dari berbagai arah.


Zhong Guofeng menghindar dengan tepat ketika ribuan pedang meluncur secara bersamaan. Kecepatannya bisa dibilang mengerikan hingga ribuan pedang itu saling berdentangan dan beralih mengejarnya.


Ketika posisi Zhong Guofeng dikejar ribuan pedang, tiba-tiba ia merasa lehernya terkena sayatan benda dingin hingga mengalirkan cairan merah.


"Zhong Guofeng, jika kau melanjutkan, pedangku akan memisahkan kepalamu." Xie Ruo sudah hadir di depan Zhong Guofeng sambil menahan tubuhnya yang melayang di udara menggunakan bahu pria itu agar tidak jatuh.


Zhong Guofeng melihat cairan merah yang mengalir ke bagian pedang Xie Ruo, kemudian tersenyum ketika melihat matanya. "Jika aku di tanah, kemungkinan aku akan kalah. Nona, seharusnya kamu tahu medanmu bukan langit."


Zhong Guofeng menarik pinggang Xie Ruo yang tidak terlalu jauh darinya. Xie Ruo agak terkejut. Tubuhnya melayang di udara dan berputar ke atas seolah gravitasi menghilang.


Zhong Guofeng menangkis pedang Xie Ruo sampai jatuh, kemudian meraih lengannya dan menariknya dari langit. Dengan sigap, Xie Ruo mengubah posisi dan menendang tangan Zhong Guofeng. Ia menggunakan bahu Zhong Guofeng sebagai tumpuan kakinya, kemudian melilit leher pria itu dan menjatuhkannya ke tanah.


"Seharusnya kau tidak lembut pada orang kasar." Xie Ruo mendarat dengan enteng ke atas tanah, melihat Zhong Guofeng yang mendarat dengan tidak seimbang karena tendangan barusan.


Zhong Guofeng terkekeh, sama sekali tidak tampak kesal ataupun menyesal. Ia melihat Xie Ruo dengan senyuman yang sama, tanpa ada perubahan sambil mengusap bagian lehernya yang berdarah.


"Aku terlalu meremehkanmu." Zhong Guofeng tertawa, kemudian merapikan pakaiannya yang kacau akibat pertempuran. "Ternyata, kau sudah jauh lebih kuat dari sebelumnya."


Xie Ruo mengerutkan kening. Apa Zhong Guofeng mengetahui rahasianya sebagai Xie Ran?