
"Sudah sangat lama. Adik, apa kabar?"
Suara itu tiba-tiba datang membuat Pei Xi terkejut. Ia berbalik, melihat sosok wanita bermata emas dengan telinga runcing tersenyum padanya. Wajah itu, terakhir ia melihatnya 10 tahun yang lalu yang diakhiri dengan perpisahan, Jian Wu.
"Ternyata kau masih hidup, Kakak."
"Oh? Xi'er sudah mengakuiku sebagai kakak. Apa kamu merindukanku?" Jian Wu terkekeh.
"Aku baik-baik saja tanpamu. Jika tidak ada hal lain yang ingin dikatakan, kau bisa pergi." Pei Xi terlalu malas meladeni Jian Wu. Melihat wanita itu, membuatnya teringat tragedi mengerikan yang menimpanya.
"Apa seperti itu Ketua Sekte memperlakukan tamu?" Jian Wu tidak mau pergi.
"Aku memang seperti itu, kau tahu sendiri."
Jian Wu tertawa geli, kemudian memandang Pei Xi, mulai serius. "Aku datang untuk memberitahu satu hal. Permainan akan segera dimulai."
Pei Xi mengerutkan kening. Baru saja akan bertanya, Jian Wu sudah menghilang terlebih dahulu seolah tidak menerima balasan apa pun. Ia datang hanya memberi pesan kalimat peringatan, pasti datang dari 'dia'. Sebenarnya, apa yang sedang dipermainkan 'dia'?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Istana Menara Suci ramai seperti biasanya akan para wanita yang berkelana dan berlatih. Namun di sisi lain, Xie Ruo justru berjalan mengendap-endap ke arah dapur sambil menunggu koki istana pergi.
Di sisinya, ada seorang gadis muda yang tampak sangat polos. Berdiri dalam diam dan gugup sambil menarik-narik gaun Xie Ruo, membujuknya untuk pergi. Namun Xie Ruo mengabaikan.
Setelah koki di dapur pergi, Xie Ruo langsung menerobos dapur untuk mengambil makanan. Ia merasa akan menjadi serpihan tulang jika tidak makan dengan benar.
Gadis mungil itu mengikuti, merasa sangat gelisah sampai terus melihat ke arah jendela dan pintu berharap tidak ada yang melihat. Meski sudah bertahun-tahun ia mengikuti Xie Ruo 'mencuri' makanan, ia tetap sangat takut.
"Ruoruo, bagaimana jika ketahuan lagi? Ratu mengatakan, tidak boleh ada yang makan selain di jam makan." Gadis itu menarik-narik gaun Xie Ruo yang sedang membuka tutup saji untuk makan malam.
"Zhu Zhu, kau ingin menjadikanku tulang belulang? Kuliti saja aku supaya dapat melihatnya." Xie Ruo kesal pada penguntit satu itu. Sudah mengikutinya ke dapur, sekarang malah ketakutan tidak jelas.
Zhu Zhu cemberut. "Bisakah tidak menggunakan ucapan kejam? Kamu melewatkan makan pagi dan siang karena kultivasi, selalu terulang. Jika Senior menemukanmu lagi, hukumannya akan bertambah dari kemarin."
"Lalu, kau ingin aku mati muda? Paling tidak hanya disuruh membersihkan istana." Xie Ruo memakan bapau di tangannya acuh tak acuh.
"Ruoruo ...." Zhu Zhu tidak tahu harus memberitahunya seperti apa lagi. Masalahnya, ia dipercaya Ratu untuk menjaga Xie Ruo. Ia tidak bisa melalaikan tugas dan membiarkan Xie Ruo makan terlalu banyak sampai kembung. Bagaimana jika sakit perut?
Mengabaikan ocehan Zhu Zhu yang selalu taat aturan, ia mengambil mie ke dalam mangkuk dan memakannya dengan senang sambil duduk di atas meja. Tapi ketika ia akan mengambil daging, daging di sumpitnya tiba-tiba melayang di udara sehingga Xie Ruo terdiam.
Ia tertangkap. Sudahlah, hanya mempersihkan istana. Lagipula, Qu Xuanzi masih ada di sini, siapa yang berani menghukumnya?
Berbalik melihat wanita cantik yang berdiri sambil berkacak pinggang, ia tersenyum tanpa rasa bersalah.
"Hello Senior, apa kabar?" Xie Ruo menyapa, sambil melanjutkan makan tanpa peduli siapa yang berdiri di depannya.
"Sepertinya hukuman biasa tidak lagi mempan terhadapmu." Senior itu berdecak sebal.
"Hukum aku setelah menyelesaikan makan, sayang jika dibuang." Xie Ruo membalas seolah ia tidak pernah melakukan kesalahan.
Ini bukan kali pertama dan satu-satunya hal yang membuat Xie Ruo dihukum. Selain makan diam-diam, gadis itu pernah meledakkan ruangannya sendiri sampai harus pindah, lalu meledakkannya kembali sampai kamar penuh dan tidur di ruang kultivasi.
Entah apa yang dilakukan gadis aneh ini. Tidak pernah bersosialisasi atau berkenalan dan berteman, tapi semua orang tahu mengenai Xie Ruo yang selalu membuat keributan di mana-mana.
Di sisinya hanya ada Zhu Zhu yang diutus Sheng Xian untuk menjaga Xie Ruo selama bertahun-tahun. Sebelum Zhu Zhu, ada beberapa wanita yang diutus, namun belum sampai sehari mereka semua langsung menyerah.
Pada saat itu juga, Xie Ruo menjadi populer sekaligus menjadi pusat penghindaran orang banyak. Apalagi di kalangan senior, gadis itu langganan hukuman. Kadang Zhu Zhu ikut serta dalam hukuman.
Xie Ruo tidak peduli dengan itu semua, asal kultivasinya tidak terganggu dan tidak ada yang mengganggunya, ia akan bersikap baik menerima hukuman dengan senang hati.
Di samping itu, di dalam aula yang begitu besar dan sunyi, Sheng Xian berlutut sambil menunduk, menghadapi kaisar tertentu yang hadir. Ketika Qu Xuanzi datang dan membiarkannya kembali ke Dunia Atas, Sheng Xian langsung berposisi seperti itu dengan perasaan gelisah.
"Yang Mulia, maafkan rendahan ini yang tidak bisa memenuhi perintahmu. Terlalu banyak kesalahan dan penyesalan, Sheng Xian tidak bisa menghadapi leluhur peri setelah kejadian itu."
Qu Xuanzi melihatnya untuk beberapa saat, kemudian berkata dengan nada tenang."Dia sudah mati."
Sheng Xian merasa sambaran petir menghancurkan pikirannya. Tubuhnya bergetar, rasa bersalah terus menghantui sampai merasa lututnya tidak lagi bisa menopang tubuh.
"Semua salahku, rendahan ini pantas dihukum." Sheng Xian tidak tahu harus melakukan apa lagi. Terakhir ia meninggalkan Dunia Atas, leluhurnya yang merupakan keluarga satu-satunya masih membujuknya untuk tidak pergi. Tapi Sheng Xian justru menolak dan pergi lebih cepat. Ia sangat menyesalinya.
"Tidak ada gunanya menghukummu. Tidak ada lagi peri surgawi yang tersisa untuk menggantikan posisi peri surgawi sebelumnya. Jika tidak, ras peri akan menghilang."
"Tapi—"
"Kau berani membantah?" Qu Xuanzi menatapnya tajam membuat Sheng Xian menunduk dalam-dalam. Kemudian Qu Xuanzi menghela napas. "Tidak perlu mengingat putrimu yang hilang, dia tidak akan kembali."
Sheng Xian hanya diam, tidak berani mendongak. Ia memiliki dua putri, salah satunya meninggal dan yang lainnya hilang ketika kehancuran Dunia Peri. Tidak salah Qu Xuanzi mengatakan hal itu. Karena putrinya yang hilang adalah pengkhianat dan bekerja untuk 'dia', tidak akan pernah kembali meski ditemukan.
Itu merupakan alasan mengapa rasa bersalah terus menghantui dan menciptakan Menara Suci. Suaminya meninggal dalam kekacauan, kedua putrinya pergi meninggalkan penyesalan dan rasa bersalah. Pada saat itu, ia adalah jenis peri terkuat dari Dunia Atas, tapi tidak bisa melindungi keluarganya sendiri yang membuat identitasnya hanyalah sebuah lelucon.
"Kau bisa mengatakan bahwa aku tidak berperasaan, tapi aku tidak bisa membiarkan ras peri menghilang hanya karenamu. Semua ada di tanganmu, pikirkan baik-baik." Qu Xuanzi pergi setelah mengatakannya.
Ketika ia keluar aula, ia bertemu Zhu Zhu yang terburu-buru menemui Sheng Xian. Zhu Zhu agak terkejut melihat seorang pria hadir di Menara Suci, tapi ia tidak banyak tanya karena Xie Ruo lah yang paling penting.
Sedangkan Qu Xuanzi hanya diam. Ia merasakan napas Xie Ruo di sekitar gadis itu, yang mengartikan bahwa gadis itu selalu bersama Xie Ruo dan cukup dekat. Gadis itu tampak gelisah, pasti terjadi sesuatu pada Xie Ruo.
Zhu Zhu melangkah dengan cepat ke arah Sheng Xian, namun ia terkejut ketika melihat Sheng Xian berlutut dengan wajah putus asa. Ia bingung, tapi tidak bisa mengulur lebih banyak waktu.
"Yang Mulia, Zhu Zhu ada hal yang ingin dikatakan." Zhu Zhu langsung berlutut dan memberi penghormatan. Ia begitu terburu-buru.
Sheng Xian mendongak, kemudian melihat Zhu Zhu yang tampak gelisah. Sepertinya masalah Xie Ruo. Buru-buru ia menjawab, "Katakan."
"Ruoruo melewati makan pagi dan siang sehingga beberapa menit lalu, diam-diam masuk dapur dan makan banyak mie. Senior Jun melihat dan memberinya hukuman membersihkan kolam ras duyung yang sangat besar, tiba-tiba Ruoruo sakit perut karena kebanyakan makan. Tapi Senior Jun tidak membiarkan Ruoruo istirahat. Karena emosi sesaat, Ruoruo mencabut saluran air ras duyung, menyiram Senior Jun sehingga kembali menjadi duyung di tanah. Sekarang, mereka bertengkar. Yang Mulia, apa yang harus kulakukan?"
Mendengar penjelasan Zhu Zhu, wajah Sheng Xian memucat. Qu Xuanzi baru saja keluar, pasti sudah mendengarnya. Jika pertengkaran dua gadis itu dibiarkan, akan terjadi petaka.
Buru-buru Sheng Xian keluar, meminta Zhu Zhu menunjukkan jalan untuk menemui anak-anak nakal itu.
Sedangkan pihak lain tengah duduk di pinggir kolam sambil mengendalikan api dingin yang melilit ekor Senior Jin sampai wanita itu terus meraung marah seolah akan menggila kapan saja.
"Xie Ruo, jangan karena Yang Mulia Ratu memihakmu dan menjadikanmu murid pribadinya, kamu bisa seenaknya membuat masalah di sini. Menara Suci bukan tempat wanita busuk sepertimu!"
Krakkk
Senior Jun mengerang kesakitan ketika ekornya diputar sampai lemas. Tulangnya bergeser, ia kesakitan tanpa mengeluarkan darah.
"Aku memiliki batas kesabaran."
Xie Ruo sudah menandai Senior Jun sejak awal. Wanita itu yang paling tidak suka padanya dan selalu mencari celah kesalahannya. Tiap ia melakukan sedikit kesalahan, selalu diadukan dan diprovokasi oleh Senior Jun. Sekarang, ia akan membalas.
Jangan hanya karena status senior, wanita itu bisa bermain-main dengan Xie Ruo.
Para murid Menara Suci bergidik ngeri melihat pemandangan mengenaskan itu. Ada yang tidak kuat sampai mentup mata dan lari, ada yang terdiam tanpa bisa berkata-kata. Selama 10 tahun, mereka tidak pernah melihat Xie Ruo sesadis ini.
Oh, tentu saja Xie Ruo bisa lebih kejam lagi. Itu bahkan belum pemanasan.
"Xie Ruo, kita adalah sesama murid, akan lebih baik jika tidak terlalu kejam. Jika terjadi sesuatu pada Senior Jun, tidak tahu apa yang akan terjadi." Salah seorang gadis berkata dengan cemas. Menara Suci dilarang bertarung secara pribadi, apalagi menyakiti murid lain.
Xie Ruo paham dan tidak memperpanjang masalah meski ia merasa kecewa. Tapi mau bagaimana lagi? Ia harus mematuhi aturan yang satu itu.
"Tidak perlu dengarkan, lakukan apa yang kamu mau."
Suara familiar itu membuat Xie Ruo menoleh ke belakang. Ia agak terkejut melihat Qu Xuanzi tiba-tiba sudah ada di belakangnya.
"Kenapa kau di sini?" Bukankah sedang bicara dengan Ratu Menara Suci?
Qu Xuanzi mengusap rambut Xie Ruo dengan lembut. "Menjemputmu. Tapi sebelum itu, selesaikan apa yang ingin diselesaikan."
Entah kenapa Xie Ruo merasa bahwa ucapan Qu Xuanzi mengandung makna yang mengerikan. Apa pria itu sudah tahu semua? Qu Xuanzi ingin Xie Ruo menyelesaikan masalah dengan Senior Jun 'secepatnya'?
Semua orang tidak tahu maksud Qu Xuanzi, tapi yang berkaitan sudah pasti tahu maknanya. Pada saat itulah mata Senior Jun terbelalak. Apa pria itu gila? Berani ingin membunuhnya di Menara Suci!
"Sayangnya, aku sudah meninggalkan kesan buruk pada mereka, tidak ingin semakin memperburuk keadaan." Xie Ruo memilih melepaskan Senior Jun.
Sudahlah, ini adalah Menara Suci, ia sudah terlalu banyak melanggar aturan, jangan sampai melanggar karena memhunuh. Tangannya masih bersih dari darah, tidak ingin dikotori oleh orang seperti itu.
"Setidaknya, untuk beberapa waktu, dia tidak bisa memiliki kaki dan tidak bisa berenang." Xie Ruo menyunggingkan senyum miring pada Senior Jun.
"Xie Ruo, kamu ******! Aku tidak akan mengampunimu!"
"Siapa yang kau sebut ******?" Qu Xuanzi melihat Senior Jun dengan dingin. Meski ia bertopeng, tetap saja pandangan tajam dan dingin itu sangat menusuk hingga membuat Senior Jun tiba-tiba merasa sangat takut.
Tapi Senior Jun memiliki harga diri tinggi, tidak mau kalah hanya karena sepasang manusia rendahan dan lemah.
"Siapa lagi? Manusia ****** itu. Hanya karena memiliki jiwa naga surgawi bisa bersikap arogan dan menjadi murid utama Ratu, atas dasar apa? Hanya dengan penampilan itu, entah berapa banyak pria yang tidur dengannya di masa lalu."
Mendengar kalimat tidak menyenangkan keluar dari mulut wanita itu, aura dingin di sekitar menjadi-jadi. Wajah Qu Xuanzi semakin gelap, pandangannya dingin penuh niat membunuh.
Seutas benang merah muncul melilit leher wanita itu, mengangkatnya ke udara hingga wanita itu tercekat tidak bisa bernapas. Hanya dengan sekali tekanan, kepalanya akan terpisah.
"Katakan sekali lagi."
Senior Jun nyaris kehilangan akal. Kenapa tidak ada yang menghentikan pria itu? Di mana ratu mereka ketika seseorang akan membunuh salah satu muridnya!
Kekuatannya sangat kuat hingga sama sekali tidak bisa bernapas ataupun bicara, ditambah luka yang disebabkan Xie Ruo semakin terasa membuat seluruh tubuhnya sakit. Ia merasa lehernya akan putus kapan saja. Siapa pria itu sebenarnya?
Di sisi lain, Xie Ruo ingin menghentikan tindakan Qu Xuanzi yang sepertinya akan membasahi Menara Suci dengan darah. Ia menyentuh lengan Qu Xuanzi, ketika pria itu menoleh, ia menggelengkan kepala tanda bahwa Qu Xuanzi tidak boleh melakukan itu.
Tepat pada saat itu, Sheng Xian muncul bersama Zhu Zhu. Semua ini terjadi begitu cepat, Sheng Xian nyaris kehilangan darah ketika melihat si marga Jun tercekik di udara karena Qu Xuanzi.
"Yang Mulia, maafkan kelancangan murid hamba. Masalah ini, hamba sendiri yang akan mengurusnya, tidak akan ada kelalaian. Yang Mulia tidak perlu mengotori tangan Anda hanya untuk murid sepertinya."
Semua orang terkejut melihat ratu mereka yang tampak sangat merendah. Sebenarnya siapa pria di belakang Xie Ruo itu?
Sekali lagi Xie Ruo meminta Qu Xuanzi menurunkan Senior Jun, ia akhirnya membiarkan wanita sialan itu bernapas untuk sementara.
Sebenarnya, Xie Ruo ingin membiarkan Qu Xuanzi menyelesaikannya, tapi itu tidak pantas karena mereka masih di dalam Menara Suci. Ditambah, bagaimana dengan wajah Sheng Xian? Lagipula jika Xie Ruo sendiri yang menyelesaikannya, ia akan jauh lebih puas.
"Tidak ada lain kali, atau tidak akan ada pertimbangan." Qu Xuanzi hanya bisa menahan amarah untuk saat ini. Bisa-bisanya wanita itu mengatakan hal buruk mengenai Xie Ruo tepat di depannya.
"Yang Mulia tidak perlu khawatir." Sheng Xian menghela napas. Akhirnya amarah Qu Xuanzi reda, ia hanya perlu sedikit mengurus si marga Jun agar segalanya selesai. Karena telah menyinggung orang yang salah, hukumannya tidak akan seringan hukuman umum.
Qu Xuanzi berbalik melihat Xie Ruo, pandangannya menghangat, tidak lagi dingin seperti sebelumnya. "Apa masih sakit?" Ia ingat Xie Ruo sedang sakit perut karena terlalu banyak makan.
Xie Ruo menggeleng. "Sudah sembuh ketika memukul orang." Sebenarnya, ia sembuh karena api dingin yang digunakan untuk memukul Senior Jun. Padahal sebelumnya hanya izin ke sudut untuk menyembuhkan diri sebentar, tapi wanita itu justru menggertaknya. Tentu saja ia tidak terima.
Melihat pakaian Xie Ruo yang basah karena 'main air' sampai menampakkan lekukan tubuhnya yang indah. Qu Xuanzi diam untuk beberapa saat, kemudian bicara, "Ganti pakaianmu, kita akan pergi."
"Ke mana?" Xie Ruo bertanya-tanya. Omong-omong, kultivasinya belum selesai sepenuhnya. Meski bisa keluar dari Menara Suci, masih harus banyak belajar dan mencapai tahap akhir menjadi dewi.
"Ikut saja."
Xie Ruo mengangguk pelan. Pandangannya terarah pada Sheng Xian, merasa tidak enak hati telah mempersulitnya. Tapi ia tidak bisa melakukan apa pun, hanya bisa pergi untuk mengganti pakaian.
Untuk masalah Senior Jun, ia akan urus belakangan ketika senggang.
Ketika semua orang sudah bubar, termasuk Xie Ruo dan Qu Xuanzi yang sudah tak terlihat, si marga Jun berdiri susah payah dipapah teman sesama duyung yang kini ekornya menjadi kaki manusia. Wanita itu melihat Sheng Xian, mencoba meminta perlindungan.
"Yang Mulia—"
"Jun Hua, pergi ke altar leluhur dan renungkan kesalahanmu. Untuk selanjutnya, dilarang keluar kamar, aku sendiri yang akan mendidikmu."
Ucapan Sheng Xian yang begitu dingin membuat wanita bernama Jun Hua tercegang. Sepertinya Sheng Xian benar-benar marah padanya. Itu membuat Jun Hua semakin kesal pada Xie Ruo yang memberinya masalah sebenar ini. Ekornya hampir patah, kepalanya hampir saja putus. Hutang ini, ia akan membayarnya perlahan.
"Jangan memiliki pemikiran buruk pada siapa pun, atau aku tidak akan mengampunimu." Sheng Xian mengetahui apa yang dipikirkan Jun Hua melalui auranya yang dipenuhi kebencian. Ia hanya bisa menyalahkan diri sendiri akan sifat Jun Hua yang keras, padahal wanita itu sudah bersamanya selama puluhan tahun.