The Emperor God Wife Is Naughty

The Emperor God Wife Is Naughty
199. Racun Darah



Kematian Permaisuri Langit masih menjadi misteri. Selama bertahun-tahun, Dunia Atas mengalami ketenangan yang tidak biasa. Kaisar Langit tiba-tiba mengumumkan penerus posisinya yang akan diwariskan oleh Asura. Tapi sebelum itu, Asura akan mengalami pengasingan kembali selama ribuan tahun lamanya.


Ketenangan dan kesunyian itu sangat terasa di Dunia Atas. Shu Xin bahkan tidak memiliki banyak pergerakan, karena tujuannya untuk sementara ini adalah menarik Asura ke pihaknya. Oleh sebab itu, ia tidak boleh gegabah agar tidak ditemukan.


Bertahun-tahun dilalui tanpa terasa, segalanya berlalu begitu cepat. Asura kembali ke Dunia Atas dengan penampilan barunya. Tidak ada aura iblis yang mencekik, hanya ada rasa dingin yang begitu dalam dan ketenangan yang tampak di mata hitamnya.


Perubahan itu membuat banyak dewa sangat terkejut. Mereka merasa baru saja melihat iris merah yang begitu mengerikan kemarin, tapi tiba-tiba saja iris merah itu telah berubah sepenuhnya. Meski temperamennya tetap sama, tapi auranya banyak berubah. Bukan lagi rasa takut yang mereka rasakan seperti sebelumnya, melainkan keagungan.


Hanya Shu Xin dan para dewa yang berasal dari Dunia Dewa yang tidak terkejut. Mereka tahu teknik apa yang digunakan, meski teknik itu sudah lama hilang dan tidak lagi digunakan. Pemisahan darah adalah hal berbahaya, Asura masih hidup sampai sekarang adalah sebuah keajaiban.


Karena perubahan itu disertai posisi calon penerus tahta, banyak orang yang mulai mendekatinya untuk mendapat keuntungan. Meski ada rasa takut, mereka lebih memilih tidak menyinggung dewa pendendam ini. Terutama para wanita, mereka semakin gencar mendekati dengan berbagai cara.


Sayangnya, lagi-lagi mereka semua gagal. Para hewan suci yang selalu mengamati dari jauh membuat mereka harus mengetahui batasan. Hewan-hewan itu dilatih sendiri oleh Asura, tidak boleh diremehkan. Kekuatan mereka terlalu kuat dan setara dengan monster iblis teratas yang dikurung di segel langit.


Jika mereka nekat, belum tentu mereka dapat berdiri kokoh tanpa terpincang dan terluka. Para hewan suci itu terlalu agresif dan berani karena di belakang mereka ada Asura yang ditakuti.


Kecuali Dewi Kehidupan, tidak ada yang berani mengganggu pasukan hewan suci.


Setelah para dewa tenang, Shu Xin pergi mencari Asura. Di istana yang sepi ini, tidak sulit menemukan di mana pria itu berada menilai dari kepribadiannya. Perpustakaan istana adalah salah satu tempat Asura menetap, Shu Xin mengetahuinya dari butiran cahaya yang tersebar di seluruh dunia.


Shu Xin masuk ke dalam, melihat Dewa Buku masuk ke ruangan lain membiarkan Asura sendirian di dalam. Tapi begitu Dewa Buku melihat Shu Xin, ia diam untuk beberapa saat.


"Dewi Cahaya ingin mencari buku?" Pria dengan setengah kacamata itu bertanya.


Butuh beberapa saat bagi Shu Xin untuk bicara. "Asura di sini? Aku ada urusan dengannya."


"Itu ... Dewa sedang sibuk." Dewa Buku tidak berani mengusik pria pendiam itu. Meski pendiam, ia sangat mengerikan.


"Oh ya? Aku penasaran bagaimana kau bisa begitu takut." Shu Xin tersenyum, senyum yang mengerikan. Iris emasnya menyebabkan Dewa Buku tegang berhadapan dengan dewi yang terkenal akan masalahnya ini.


"Ini adalah perpustakaan, mohon Dewi Cahaya tidak mengganggu ketenangan dan mengikuti aturan yang berlaku."


"Kalau begitu, aku datang untuk membaca." Shu Xin tidak memiliki banyak waktu untuk berurusan dengan Dewa Buku. Ia berjalan memasuki perpustakaan begitu saja mengabaikan pria itu.


Dewa Buku hanya bisa menghela napas. Ia tahu motif Dewi Cahaya yang sama seperti dewa lainnya, tapi karena dia telah mengatakan datang untuk membaca, ia tidak bisa menghentikan meski sudah tahu kenyataannya. Dewa Buku pergi ke ruangan lain yang lebih tenang saat itu juga menghindari keributan. Di mana ada Dewi Cahaya, di situ ada keributan.


Dewi Cahaya pergi ke arah yang ia ketahui adalah tempat di mana Asura berada. Tapi begitu sampai, ia tidak melihat siapa pun.


Ia bingung. Apa Asura sudah pergi sejak dia datang? Kenapa ia bisa tidak tahu?


"Kau mengikutiku seharian, apa ada hal yang begitu penting?"


Suara itu agak mengejutkan Shu Xin. Ia berbalik, mendapati pria jakung yang berdiri seperti gunung es yang sangat dingin. Wajah itu tanpa emosi dan sulit ditebak, bahkan nada suaranya sangat datar membuat Shu Xin tidak dapat menebak apa yang sedang dipikirkan pria itu.


"Ya ... aku harap kau mengingatku." Shu Xin memasang senyum terbaiknya. Ia harap Asura masih ingat tawarannya.


"Ingatanku tidak sebagus itu." Itu artinya Asura menolak.


Shu Xin terkekeh, tidak ingin terlihat terlalu menyedihkan telah ditolak. "Pandai membuat lelucon."


"Tidak ada waktu."


Shu Xin menghentikan tawanya. Bagaimana cara mencairkan es yang telah membeku ini? Ia tidak percaya kecantikan dan identitasnya tidak akan membuat Asura memihaknya!


"Kau tahu siapa aku, dan tidak mungkin mengabaikanku. Bagaimanapun, kau adalah penerus Kaisar Langit, harus mengenali para dewa secara rinci untuk menentukan keputusan yang tepat. Tapi, untuk berada di posisi yang kokoh seperti Kaisar Langit, kau tetap membutuhkan bantuan seseorang yang memiliki pemahaman terkait pengaturan Dunia Atas dan Dunia Dewa."


"Kau ingin menawarkan diri, tidak perlu dijelaskan." Asura sudah tahu motif wanita itu sejak awal.


Shu Xin merasa dirinya akan meledak, tapi ia harus menahannya. "Anggap saja seperti itu."


Dengan datar Asura berkata, "Sayangnya, aku tidak membuka lowongan budak."


"...." Shu Xin terdiam.


Budak katanya? Berani-beraninya pria itu menyebutnya sebagai budak. Itu mencoreng nama baiknya!


Mata Shu Xin sudah membulat melihat sosok sempurna di depannya yang terlalu berlidah tajam. Tidak, pria itu memiliki lidah beracun!


Asura terlalu malas menanggapu tante girang yang terus mengikutinya seperti penguntit. Karena tidak ada yang penting, ia pun pergi dari sana tanpa menoleh ke belakang.


"Asura, apa kau tahu kau sedang bicara dengan siapa?" Dewi Cahaya sangat marah dan mengajukan protes. Tapi pria itu benar-benar mengabaikannya!


Karena kesal, Shu Xin dengan gegabah mengeluarkan sihirnya. Ia sudah merendahkan diri serendahnya, tapi pria itu malah menjatuhkannya dan menginjaknya seperti ini. Ia tidak bisa terima!


"Aku diciptakan dari cahaya, tidak mungkin akan kalah dari seorang dewa utama," gumam Shu Xin. Pedangnya dikeluarkan sebelum akhirnya meluncur ke arah Asura dengan kecepatan mengerikan.


Namun belum sempat mengenai sehelai rambut Asura, bilah cahaya tiba-tiba muncul dari sisi lain dan menghempaskan tubuh Shu Xin dari samping. Shu Xin menahan bilah cahaya tersebut, kemudian menggerakkan pedangnya dengan cepat membentuk sebuah pola.


Tekanan dari bilah begitu besar, Shu Xin harus menahan dengan pedangnya hingga ia tanpa sadar termundur. Sayap emas muncul dari punggungnya, terkepak sampai menghancurkan beberapa rak di sekitar. Sayapnya yang keluar dikepakkan ke udara dan melayang, menghindari bilah cahaya sampai meledak di bagian dinding kokoh sehingga memunculkan retakan besar.


"Sudah kukatakan, aku tidak ada waktu." Asura berkata dengan nada dingin. Ia masih berdiri kokoh di tempat semula, melihat Shu Xin yang melayang di udara menatapnya dengan tajam.


"Asura, kau tidak tahu apa yang baik untukmu."


Shu Xin hendak menyerang, namun tiba-tiba cahaya emas lainnya datang dari sisi langit-langit seperti cambukan besar ke arahnya. Shu Xin denan cepat menghindar sebelum terkena cambukan, kemudian melesat ke salah satu sudut.


Serangan barusan bukan merasal dari Asura, melainkan formasi yang terletak di dalam perpustakaan. Jika formasi mendeteksi adanya kekuatan sihir yang dilepaskan, atau sesuatu yang melanggar aturan perpustakaan, maka akan ada serangan yang dapat membunuh dewa mana pun yang membuat kekacauan.


Cambuk besar itu tidak hanya terarah pada Shu Xin, melainkan juga pada Asura. Karena Asura juga barusan telah mengeluarkan sihir, cambuk itu juga tertuju ke arahnya hingga Asura harus berteleportasi ke sisi lain untuk menghindar.


Perpustakaan tidak cocok untuk dijadikan tempat bertarung. Oleh karena itu, mereka berdua secepatnya keluar sebelum formasi itu semakin kuat dan menyesatkan mereka lebih lama.


Asura melihat Shu Xin yang masih mengejar, ia pun berhenti. Pedang Shu Xin diayunkan dengan cepat dan tepat, berdentangan dengan pedang Asura. Dua pedang emas yang saling beradu, menciptakan cipratan energi yang besar dan tekanan yang menyebabkan para dewa dan peri teralih.


Mereka semua melihat dari kejauhan, dan mulai berdoa untuk keselamatan diri sendiri agar tidak menjadi korban pertempuran dua makhluk itu. Kekuatan Asura sudah jelas terlalu besar dan tidak ada yang bisa menandinginya, namun di sisi lain lawannya adalah sang Dewi Cahaya yang juga terkenal sangat kuat. Meski kehilangan banyak kekuatan karena hukuman, tetap saja ia sangat kuat sebagai dewi alam.


Kedua sosok itu terlalu mencolok di langit, saling bertukar pukulan dan dentingan pedang yang terdengar keras begitu menulikan telinga. Terdengar seperti pedang berat yang dihentakkan, disertai ribuan pedang yang saling menghantam secara kelompok. Kecepatan pertarungan mereka juga terlalu cepat untuk dilihat dengan mata biasa.


Sedangkan hewan suci hanya menonton di atas pohon dengan tenang. Mereka tidak khawatir pada tuan mereka, hanya bisa menaruh lilin dalam hati atas kemalangan Deei Cahaya yang salah memilih lawan.


Dan benar saja, Shu Xin jatuh dari ketinggian langit begitu keras sampai terdengar dentuman seperti ledakan. Pedang emas itu tertancap, membantunya bertahan agar tidak jatuh dan terhempas terlalu jauh. Shu Xin dengan luka di tubuhnya merasa tangannya begitu keram dan bergetar. Kekuatan Asura terlalu kuat untuknya. Jika Asura tidak memandangnya sebagai dewi alam, Shu Xin sudah mati saat ini.


"Kenapa ..." gumam Shu Xin. Ia mendongak melihat Asura mendarat tanpa luka sedikitpun, pakaian putihnya masih sangat bersih tanpa noda. Shu Xin semakin kesal. "Kenapa kau memilih menjadi musuhku?"


Asura menjawab, "Kenapa aku harus berpihak pada pengkhianat?"


Shu Xin tidak bisa berkata-kata. Pengkhianat? Apa sebenarnya Asura mengenalinya sejak awal sebagai orang yang pernah ingin membunuhnya? Atau Asura sudah tahu, bahwa ia telah membunuh Permaisuri Langit? Jika hal ini diketahui semua orang, nyawanya dalam bahaya. Ia tidak boleh mendekati pria berbahaya itu untuk saat ini.


Karena tidak ada hal lain yang bisa dikatakan, Shu Xin pergi dengan amarah bergebu-gebu. Bocah itu berani menolaknya dan mengancamnya, ia tidak akan melupakan apa yang terjadi hari ini!


Asura, atau Qu Xuanzi melihat kepergian Shu Xin dalam diam. Pada saat itu juga orang-orang yang menonton mulai bubar, tidak ingin menjadi target selanjutnya karena suasana hati Asura yang tidak baik.


Detik berikutnya ketika semua orang telah pergi, tiba-tiba Qu Xuanzi terbatuk. Tangannya yang menutupi mulutnya terlihat memiliki bercak merah. Selain itu, bibirnya juga tampak memiliki bekas noda merah meski tidak banyak.


"Yang Mulia!" Naga Azure langsung berlutut di belakangnya, mencoba mengisyaratkan sesuatu.


"Hanya sedikit kambuh." Qu Xuanzi tetap tenang, seolah tidak ada yang terjadi.


"Ini aneh. Tidak seharusnya Dewi Cahaya dapat memicu racun darah Dewa Iblis. Selain kekuatan yang berhubungan dengan garis keturunan langsung, tidak ada yang dapat memicunya kembali."


"Dia memang tidak ada hubungannya denganku, tapi tidak dengan kekuatannya."


Naga Azure sepertinya menangkap sesuatu dari ucapan Qu Xuanzi. "Apa Dewi Cahaya—"


"Simpan untuk dirimu sendiri." Qu Xuanzi tidak ingin membicarakannya lagi.


"Tapi—"


"Itu bukan urusanmu."


Naga Azure terdiam dan menunduk. Jika benar apa yang ia pikirkan, bukankah Dewi Cahaya sangat berbahaya?


Ketika bertarung dengan Dewa Iblis beberapa tahun yang lalu, Dewa Iblis menggunakan darahnya sendiri untuk mengendalikan Kaisar Iblis dan menyebabkan efek yang besar bagi Qu Xuanzi. Dewa Iblis diketahui memiliki darah campuran antara dewa dan iblis.


Ribuan tahun yang lalu, seorang dewa menikahi iblis wanita dan memiliki anak. Namun dewa itu pergi, meninggalkan wanita itu dan putranya di Dunia Tengah. Karena putus asa, wanita itu membawa putranya pergi ke Dunia Bawah dan bekerja di Istana Dunia Bawah yang dipimpin Dewa Iblis. Putranya dijadikan pengawal putra Dewa Iblis—Qu Xuanzi. Namun putranya itu berkhianat dan mengambil posisi Dewa Iblis yang kini dikenal dan terus berperang dengan Qu Xuanzi.


Karena orang itu memiliki kendali yang sangat baik dan telah hidup sangat lama sebagai iblis campuran, ia bisa mengendalikan kekuatan darah campurannya dan menjadikannya parasit bagi darah campuran lain, termasuk Qu Xuanzi.


Qu Xuanzi masih tidak bisa mengendalikan kekuatan darah campurannya sehingga kadang lepas kendali, itu sebabnya ia melakukan teknik pemisahan darah. Tapi Dewa Iblis mengambil kesempatan itu untuk memanfaatkan bagian lain Qu Xuanzi—Kaisar Iblis—untuk dikendalikan dan membunuh Qu Xuanzi secara perlahan.


Darah itu kini menjadi racun bagi Qu Xuanzi, menyebabkannya tidak bisa menggunakan kekuatan terlalu besar. Siapa pun yang memiliki garis darah yang sama dengannya, termasuk Kaisar Langit dan Permaisuri Langit, dapat memicu racun darah yang dapat membunuhnya. Ia bahkan harus menjaga jarak dengan Kaisar Langit.


Kali ini, Shu Xin tiba-tiba memicu racun darah dengan sihir yang ia keluarkan. Sudah jelas, wanita itu memiliki sangat banyak rahasia, apalagi Permaisuri Langit telah meninggal bertahun-tahun yang lalu secara misterius.


"Asalkan Dewa Iblis mati, Yang Mulia bisa terbebas dari racun darah. Tapi jika Dewi Cahaya juga terlibat, ini akan rumit." Naga Azure sangat gelisah. Dewi Cahaya memiliki posisi yang sangat kuat dan istimewa, tidak bisa seenaknya diganggu. Kecuali jika Dewi Cahaya kehilangan keilahiannya karena kegelapan, mereka baru bisa bertindak.


"Masalah ini, kau tidak perlu memikirkannya." Qu Xuanzi seolah berpikir Dewi Cahaya sama sekali bukan masalah. Meski begitu, ia tetap harus waspada pada wanita itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Usai pemulihan diri, Shu Xin pergi ke Dunia Tengah untuk menenangkan pikiran. Meski Dunia Tengah tidak seindah Dunia Atas, setidaknya auranya lebih tenang dibandikan aura dewa yang membuatnya sesak.


Melihat dari ketinggian gunung, sebuah desa terlihat dengan jelas. Tampak damai dan tentram, dipenuhi dengan manusia yang kompleks dan dipenuhi emosi.


Shu Xin akui, ia kejam dan tidak berkemanusiaan. Tapi ia menyukai sebuah tempat di mana hanya ada kedamaian. Meski hal seperti itu mustahil didapatkan, setidaknya sesekali ia akan melihat sebuah desa yang jauh dari pemukiman dan hidup mandiri. Kebanyakan dari mereka akur satu sama lain tanpa konflik dunia luar. Saling membantu dan bekerja sama sepenuh hati, bermain dan memiliki pasangan dengan bebas tanpa kekangan aturan dunia. Bukankah itu adalah hal baik?


Kadang, Shu Xin berharap tidak dilahirkan ke dunia yang kacau. Lebih baik ia tetap menjadi cahaya yang bergerak bebas tanpa adanya emosi dan keinginan.


Tapi karena aturan dunia bersifat memaksa dan tidak dapat diganggu, Shu Xin hanya bisa melanjutkan apa yang menurutnya benar. Ia di sini untuk bertahan hidup. Siapa pun yang mengganggunya, ditakdirkan mati.


"Sepertinya dewiku sedang dalam suasana hati tidak baik."


Shu Xin agak terkejut akan suara tersebut. Ia berbalik, melihat sosok pria dengan senyuman tampan yang sangat dikenalnya. Meski sudah sangat lama, Shu Xin mengingat dengan jelas siapa orang yang paling mengerti dirinya selain Wen Xi dan Wen Ya.


"Yue(?)" Shu Xin mengerutkan kening. Hanya saja, ia merasa ada terlalu banyak perubahan pada pria itu sampai ia nyaris tidak mengenali.


Gaya pakaian sampai proporsi tulangnya yang jauh lebih besar dan kokoh, benar-benar jauh dari Yuwen Yue yang dulu ia kenal. Mata merah yang seperti melihat darah sepanjang hidupnya, kini terlihat tajam dan dingin. Meski begitu, tatapannya hangat melihat Shu Xin yang berdiri di depannya.


"Ternyata dewiku masih ingat." Yuwen Yue tampak memiliki suasana hati yang sangat baik. Ia tersenyum dengan senang melihat Shu Xin hadir dan baik-baik saja.


Shu Xin melihat Yueen Yue dengan teliti penuh selidik, ia mengidentifikasi auranya yang sangat pekat akan energi gelap. Dulu pria itu lebih lemah darinya, tapi sekarang ... ia tidak bisa mengukur kekuatannya.


Hanya ada beberapa orang yang dapat melampauinya. Selain Asura dan Kaisar Langit, seharusnya ada satu orang.


"Dewa Iblis?"


Shu Xin menatapnya penuh kejutan. Ia tidak pernah melihat Dewa Iblis baik yang sebelumnya—ayah Asura—maupun sekarang. Ia tidak pernah berpikir ... bahwa yang membunuh Dewa Iblis terdahulu adalah Yuwen Yue.


"Bagaimana bisa?" Ia ingat sangat jelas, kekuatan Yuwen Yue bahkan lebih lemah dari dewa biasa. Bagaimana bisa membunuh Dewa Iblis yang terkenal kejam dan bersaing dengan Kaisar Langit!