The Emperor God Wife Is Naughty

The Emperor God Wife Is Naughty
49. Membawamu Melihat Galaxy



"Bisakah kalian minggir? Aku ingin membeli barang untuk urusan mendesak." Xie Ran berkacak pinggang pada mereka berdua dengan raut datarnya. Heran, mengapa senang sekali berdebat di tengah jalan?


"Ranran, apa yang ingin kamu beli? Aku bisa menyuruh orang." Zhong Guofeng menawarkan jasa. Tidak ada suhu dingin seperti tadi di suaranya.


Xie Ran menggeleng. "Tidak, harus aku yang membelinya, ini benar-benar mendesak. Kalian lanjutkan saja 'ngobrolnya', aku pergi dulu."


Tanpa menunggu sahutan siapa pun, Xie Ran menyerobot lari dari suasana aneh itu. Masa bodo dengan kepalanya, yang penting emosinya tidak kian parah dan meledak seperti bom atom. Biar mereka melanjutkan 'ngobrol' dengan lebih leluasa. Baku hantam juga tak apa asalkan tidak di depan Xie Ran dan membuang waktunya.


Setelah keluar kompleks, Xie Ran menghela napas. Hidupnya benar-benar berantakan sekarang. Tidak disangka dia akan mengalami hal aneh seperti ini.


"Xiao Ran!"


Lagi-lagi Xie Ran dibuat terkejut oleh datangnya Zhou Kui. Kenapa pria tampan selalu saja membuat jantungnya ingin melompat dari tempatnya! Apa mereka ingin membunuhnya!


"Kau mengejutkanku," gerutu Xie Ran melangkahkan kakinya mengabaikan Zhou Kui.


Zhou Kui mengikuti. "Kebetulan aku ingin ke toko mengambil barang. Kau ada keperluan?"


"Ya, sangat banyak. Aku akan memulai profesi baruku. Membeli logam, buku sihir api lanjutan, pil ... ada banyak lagi. Kebetulan, kau bisa membantuku."


Zhou Kui menatapnya kosong sejenak dan menggaruk kepalanya. "Itu ... aku ada urusan lain. Sampai jumpa!"


"Hei!" Xie Ran menegurnya tapi pria itu sudah menghilang lebih cepat dari dugaan. Sekarang, Xie Ran sendiri kebingungan.


"Aku hanya ingin dia membantu, bukan membayar, kenapa begitu pelit?" cibir Xie Ran menghentakkan kakinya dan pergi dengan langkah kesal. Suasana hatinya buruk.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari sudah sore ketika Xie Ran selesai belanja. Sejak tadi dia sendirian karena Mei Liena dan Zhong Xiaorong sibuk di arena mengumpulkan harta. Empat pria lainnya entah di mana.


Semua barang sudah dalam cincin spasial. Buku sihir api lanjutan tingkat ksatria sebelumnya sudah ada di tangannya. Alasan mengapa dia masih membeli sihir api tingkat ksatria, itu karena dia belum menemukan sihir api yang lebih cocok.


Long Huo mengatakan, sihir api tingkat surgawi ada di sebuah lembah lava jauh di Hutan Bintang. Itu adalah tempat tersembunyi dan memiliki portal Benua Lava yang sudah lama hancur. Tidak ada buku sihir, tapi langsung unsur api. Unsur api yang masuk ke dalam tubuh dan mengakuinya, akan membuat pemilik unsur api itu kebal terhadap api sekaligus dapat menggunakannya secara bebas sesuai kultivasi. Xie Ran sudah menaruh minat. Dia akan mendapatkannya setelah keluar dari akademi.


Turnamen tinggal sebulan lagi, Xie Ran telah mempersiapkan berbagai hal dan dia akan menantang Tang Yueha besok. Tang Yueha berada di 5 besar tingkat langit. Itu tidak akan mudah bagi Xie Ran mengalahkannya. Dia harus mempersiapkannya secara maksimal.


Sosok pria muncul di sebelahnya. Xie Ran tidak lagi terkejut karena jantungnya telah terlatih sejak tadi. Tiga kali terkejut bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh. Untung jantung Xie Ran kuat.


"Sudah selesai ngobrol?" Xie Ran meledek. Bukankah dua pria besar itu terlihat sangat 'akrab' barusan?


"Sudah selesai membeli barang?" Qu Xuanzi mengalihkan topik. Dia tidak ingin mengungkit pria sialan itu yang dengan berani menentangnya.


"Ya ... tadi bertemu Zhou Kui tapi dia lari setelah aku meminta bantuan. Mungkin sibuk. Aku harus menyelesaikan semuanya sendiri." Xie Ran berdecak kagum ketika melihat isi cincin spasialnya.


Beberapa bijih logam dan batu spiritual ada di sana. Suasana hatinya membaik saat melihatnya.


"Ke mana saja kau sejak tadi?" Xie Ran menanyai Qu Xuanzi. Pria itu tidak ada di liontin sejak keluar tadi, entah apa yang dilakukan.


"Melihat-lihat."


"Kenapa tidak katakan padaku? Sekalian belanja, sekalian melihat-lihat. Hanya berkeliling sendiri tanpa tour guide, tidak akan mudah memahami lebih baik." Kemudian Xie Ran menemukan kalimatnya aneh dan menatap Qu Xuanzi. Apa dia mengerti apa yang dikatakannya barusan?


"Aku mengerti." Qu Xuanzi seolah mengetahui isi otak Xie Ran. Dia pernah memasuki ilusi Xie Ran di dunia modern, jadi dia paham yang dimaksud Xie Ran. Dia juga paham beberapa bahasa hanya dengan mendengarkan sekali.


"Orang pintar beda," gumam Xie Ran merasa iri. Jika itu teman-temannya, dia harus menjelaskan secara rinci. Bersyukur Qu Xuanzi pintar. "Oh iya, sebelum makan malam, ingin pergi ke suatu tempat?"


Sepanjang jalan, banyak pasang mata yang melihat Qu Xuanzi sambil terkagum. Bahkan ada yang mimisan sampai pingsan atau bahkan menabrak benda di depan karena pandangannya ke mana-mana. Xie Ran hanya mencibir dalam hati meski wajahnya terlihat datar dan tidak peduli.


Melihat Qu Xuanzi yang terlihat agung dan lurus ke depan seperti robot, Xie Ran heran kenapa selera orang adalah pria robot tak manusiawi ini. Ia memang tampan dan Xie Ran mengakuinya ribuan kali, tapi tidak harus sampai mimisan dan pingsan, 'kan? Apa dunia ini kekurangan pria tampan? Bagaimana jika mereka pergi ke masa depan dan melihat aktor tampan di tv? Apa mereka akan kejang?


Xie Ran membuang semua pemikiran aneh itu dan fokus pada tujuannya. Mereka pergi ke pinggir kota. Terdapat sebuah menara tua di pinggir hutan. Menara itu sangat sedikit yang datang sehingga terkesan sepi, tapi Xie Ran suka suasananya.


Teman-teman Xie Ran mengatakan, menara itu sudah lama tak terpakai. Tapi menurut Xie Ran masih bisa digunakan sehingga ia memperbaikinya bulan lalu. Sekarang sudah bersih dan menjadi bangunan kuno yang nyaman. Xie Ran yang suka dengan ketinggian dan melihat kota dari atas sangat cocok dengan menara tinggi itu.


Keduanya telah ada di atas menara dan melihat pemandangan Kota Tianshang dengan jelas. Di tambah teropong di tangan Xie Ran, dia bahkan bisa melihat Pagoda Kaca dari sini meski yang dilihat hanya pagoda kecil. Semuanya tampak dengan sangat jelas.


"Kau ingin coba lihat?" Xie Ran menawarkan teropongnya.


Qu Xuanzi melihatnya dan melihat teropong di tangan Xie Ran terlihat ragu.


Pada akhirnya, Xie Ran baru sadar bahwa Qu Xuanzi tidak perlu menggunakan teropong untuk melihat semut di tanah dari menara. Percuma saja. Pria itu sudah lebih dari teropong.


"Aku lupa," gumam Xie Ran malu dan menarik teropongnya kembali. Namun Qu Xuanzi mengambil teropongnya membuat Xie Ran termenung sejenak.


"Bagaimana menggunakannya?"


"Ah?" Xie Ran tersadar dan menjadi kaku. Kenapa tiba-tiba pria ini ingin menggunakan barangnya? Menyentuhnya saja tidak pernah. Tapi ... ya sudahlah. "Pegang seperti ini ...." Xie Ran menunjukkan cara menggunakannya di tangan kaku Qu Xuanzi. Cara kerja dan jarak pandang teropong secara singkat. Xie Ran yakin pria itu mudah mengerti dengan kepintarannya.


"Letakkan di matamu!"


Xie Ran melihatnya dengan puas. Qu Xuanzi memang pintar dan dapat dengan mudah menangkap apa yang dikatakannya meski bahasanya bercampur dengan bahasa inggris karena kebiasaan.


Untuk kali ini Xie Ran melihat Qu Xuanzi yang terlihat polos memintanya mengajari. Itu membuatnya senang.


"Bukankah Tianshang bagus? Ditambah dengan terbenamnya matahari dan munculnya bulan bersamaan, bintang-bintang mulai bersinar. Sayangnya aku tidak memiliki teleskop untuk melihat lebih jauh."


"Kau ingin lihat bintang?" Qu Xuanzi menurunkan teropong dan menatap Xie Ran.


Xie Ran tersenyum kecut. "Tidak juga. Kebiasaanku menggunakan teleskop di malam hari hanya untuk mengatasi kebosanan karena hidup sendiri. Sekarang berbeda, setiap hari memiliki urusan siang dan malam. Jika mau, aku juga tidak memiliki alatnya. Teropong tidak cukup untuk melihat kejauhan teleskop."


"Sejauh apa?"


"Mungkin 9 miliar tahun cahaya ... kau tidak akan mengerti. Jadi, apapun di atas langit sana akan terungkap. Planet, galaxy, bintang, meteor, benda langit lainnya. Akan aneh jika aku menjelaskannya serara ilmiah sedangkan aku berada di tempat di mana mitos yang bertolak belakang dengan ilmiah berada."


"Manusia di duniamu pintar."


Xie Ran melihatnya nyaris tertawa. "Apa guru besar ini sedang memuji para ilmuwan?"


"Jika kau ingin melihat galaxy, aku bisa mengantarmu setelah kekuatanku pulih."


Xie Ran membulat sempurna baik mata maupun mulut. Apa Qu Xuanzi sedang tidak bercanda? Bahkan para Astronot begitu sulit untuk mencapai luar bumi. Mereka baru mencapai planet terdekat saja, tidak sampai mendatangi galaxy lain.


Jika bisa semudah yang dikatakan Qu Xuanzi, maka seharusnya manusia sudah tersebar di seluruh galaxy, tepatnya di tempat yang layak huni. Siapa yang tahu bahwa bintang dapat ditempati?


Melihat betapa terkejutnya Xie Ran, Qu Xuanzi terkekeh. "Tidak mustahil bagiku."


Dia tertawa? Xie Ran dibuat spechless lagi olehnya. Bagaimana pria itu menjadi begitu tampan ketika tertawa meski tidak sepenuhnya tertawa? Cukup tersenyum saja sudah membuat Xie Ran tidak bisa berkata-kata. Pesonanya melebihi dari pesona Xie Ran. Apalah Xie Ran yang hanya butiran debu tak menarik ini.


Qu Xuanzi menyelipkan rambut Xie Ran yang menutupi wajahnya ke belakang telinga sambil bicara, "Baik."


Xie Ran tidak tahu harus bereaksi bagaimana hingga dia hanya bisa menunduk menahan malu. Jantungnya sudah ingin pecah membuatnya bingung. Dia tidak tahu penyebabnya dan hanya tahu bahwa dia akan memiliki penyakit jantung cepat atau lambat. Tapi perasaan ini membuatnya senang hingga tidak bisa berpikir lebih banyak. Ini kali pertamanya sehingga dia merasa lebih bodoh.


Ketika mendongak untuk melihat pria itu, matanya melihat iris hitam yang lebih dekat dan hanya berjarak beberapa centi. Xie Ran semakin merasa otaknya tidak bekerja dengan baik. IQ-nya menurun drastis menjadi idiot sungguhan.


Melihat bibir tipis Qu Xuanzi yang menggoda, Xie Ran meneguk saliva. Segera, ia mengedipkan matanya dengan cepat. Hei! Apa yang dipikirkan!


"Ranran ...."


"Ya?" Xie Ran sudah gelagapan sejak tadi. Betapa bodoh ia terlihat sekarang.


"Kau—"


Pranggg


Xie Ran merasa jantungnya berhenti sekarang. Kesadarannya penuh kembali dan melihat ke asal suara dengan mata melotot. Jantung ... jantung ... yang sabar ....


Sedangkan Qu Xuanzi memiliki wajah datarnya lagi. Sudah jelas, suasana hatinya mendadak turun drastis karena tikus pengganggu.


"Kalian ...." Xie Ran menyipitkan matanya melihat Mei Liena dan Zhong Xiaorong hadir dengan senyuman tidak bersalah. Bukan hanya ada dua gadis itu, Yan Yao dan Liu Chang juga hadir memunggungi mereka seolah tidak melihat apa pun.


"Bukan aku yang menjatuhkannya." Mei Liena segera membela diri sendiri kemudian menunjuk Yan Yao dan Liu Chang yang bersembunyi di punggung mereka.


"Kami tidak melihat apa pun," ujar Zhong Xiaorong tersenyum penuh makna.


"Ya, tidak melihat apa pun." Yan Yao segera memasang sikap senormal mungkin setelah lama gugup karena mengacau.


"Kami baru saja datang ketika mendengar suara runtuhan. Kami pikir tikus." Liu Chang segera membuat alasan lain.


"Ya, tikus." Yan Yao mendukung sambil mengelap keringat dingin. Dia dapat melihat pria dingin itu menaruh dendam padanya.


"Udara di sini sangat dingin dan ... sangat banyak nyamuknya. Aku pergi dulu!" Zhong Xiaorong mengambil alasan untuk pergi namun Xie Ran menahan jubahnya hingga gadis itu tidak bisa lari.


Xie Ran tetap dengan senyum andalan. "Apa ada tikus? Kenapa tidak tangkap?"


"Aku takut tikus." Zhong Xiaorong memelas.


"Kalian datang untuk menangkap tikus, 'kan? Tunjukkan padaku mana tikusnya. Biar kukuliti dia." Xie Ran menarik lengan bajunya dan berkacak pinggang membuat 4 manusia itu merinding.


"Xiao Ran, tidak perlu repot. Kakak Chang dan Kakak Yao akan membereskan tikus itu. Tidak perlu mengotori tanganmu." Mei Liena segera menengahi. Bisa gawat urusannya.


"Tangkap tikus sampai ketemu!" Xie Ran menatap Yan Yao dan Liu Chang penuh selidik.


"Baik, boss!"


Kemudian pandangan mereka terarah pada Qu Xuanzi yang hanya diam tanpa memperdulikan kehadiran mereka. Melihatnya saja sudah jelas bahwa pria itu bukan orang biasa sehingga tidak boleh disinggung.


Tapi Mei Liena sebagai pecinta pria tampan masih menanyakannya. "Siapa dia?"


"Teman." Xie Ran menjawab tanpa beban.


"Hanya teman?" Mei Liena menatapnya penuh selidik.


"Ya."


"Benar hanya teman, 'kan?"


"Memang apa lagi?" Xie Ran tidak mengerti yang dimaksud gadis aneh satu itu.


"Karena hanya teman, tak apa kami sapa?" Mei Liena bersemangat. Dia bertanya pada Xie Ran karena takut Xie Ran cemburu.


Xie Ran melirik Qu Xuanzi dan mengangguk pada teman-temannya. Mengapa mereka begitu takut? Aneh.


Keempat manusia itu terutama dua gadis melihat Qu Xuanzi yang ada di sisi Xie Ran dengan mata berbinar. Mereka tidak pernah melihat pria setampan ini. Hanya Kaisar Zhong yang dapat mengalahkannya. Tapi ketika merasakan aura Qu Xuanzi, mereka pesimis Zhong Guofeng akan menang.


"Tuan muda, kita pernah bertemu sebelumnya di pelelangan. Apa Anda ingat?" Yan Yao berusaha membangun hubungan baik agar pria pendendam itu tidak mempersulitnya. Namun yang menyahut hanyalah angin yang berhembus ... sepertinya dia tidak ingat. "Kalau begitu ... hanya aku yang ingat."


Hening ....


Mendadak suasana menjadi begitu hening dan canggung.


Xie Ran memijit pelipisnya merasakan atmosfer tidak enak yang membuatnya pengap. Dia sudah bisa menebak sejak awal bahwa suasananya akan hening seperti ini jika tidak ada pencair yang cocok.


"Bagaimana jika kita makan malam? Aku lapar." Xie Ran menyengir mencoba mencairkan suasana.


"Benar, aku juga lapar." Yan Yao juga mencoba memecah keheningan dan tertawa canggung. Sedihnya tak dipedulikan.


"Tuan muda, apa kau ikut?" Mei Liena mencoba mengajaknya, tapi yang ditegur hanya diam tidak menjawab. Dia merasa bicara dengan patung.


"Dia ...." Xie Ran melirik Qu Xuanzi yang juga meliriknya. Dia langsung sadar Qu Xuanzi tidak tertarik bergabung dan segera mengalihkan teman-temannya. "Ada urusan lain dan harus pergi."


"Sudah hampir jam makan malam, lebih baik makan bersama." Liu Chang mencoba membujuk. Mereka masih penasaran dengan Qu Xuanzi.


"Urusannya lebih penting." Masalahnya Xie Ran tidak pernah melihat Qu Xuanzi makan lagi selama ini selain makan bersamanya sebelum masuk akademi.


"Kalau begitu sayang sekali. Kakak Xi dan Kakak Kui mungkin ingin bertemu sesekali." Zhong Xiaorong memasang ekspresi sedih.


"Oh iya, akan sangat meriah jika bisa mengenal Yang Mulia Kaisar juga," seru Mei Liena.


"Dia ikut?" Xie Ran menyatukan kedua alisnya.


"Itu alasan kami mencarimu." Ucapan Liu Chang membuat spekulasi tentang tikus barusan menjadi kebohongan dan segera diinjak Zhong Xiaorong. Kenapa pria ini sama sekali tidak bisa diajak kerja sama?


Tapi sepertinya Xie Ran tidak memikirkannya lagi.


"Kalau begitu, kita tidak boleh membuatnya menunggu lama," ujar Xie Ran. Dia telah menyinggung Kaisar itu tadi, sekarang tidak boleh lagi.


"Lalu dia ...." Yan Yao melirik Qu Xuanzi berwajah dingin takut-takut.


"Ikut." Tiba-tiba Qu Xuanzi bicara setelah sekian lama meski hanya satu kata. Itu membuat mereka lega karena ternyata pria itu bisa bicara. Berbeda dengan Xie Ran yang mulai merasakan firasat buruk.


Empat manusia tak tahu malu itu segera menggiring Qu Xuanzi berjalan keluar menara meninggalkan Xie Ran yang memiliki wajah pucat.


"Buruk!" Ini bagai menempatkan Singa dan Harimau dalam satu kandang!