The Emperor God Wife Is Naughty

The Emperor God Wife Is Naughty
87. Pikiran Yang Mengganggu



Di sebuah pesta mewah yang didatangi oleh para kolongmerat berjas hitam beserta pasangan bergaun indah dan mewah. Orang-orang bersenang-senang dengan koktail di tangan serta berbincang ria mengenai bisnis.


Pesta kalangan atas di Virgina begitu diminati hartawan berkelas. Dekorasi pesta begitu elegan dengan gedung besar dan klasik. Tepat di antara para kumpulan kelas atas, tampak sosok wanita bergaun hitam yang sangat pas sehingga menunjukkan lekuk tubuhnya yang indah, rambutnya merah bergelombang yang diikat sedemikian rupa.


Ia berjalan melalui kerumunan dengan pandangan lurus dan datar, semua orang bertanya-tanya siapa wanita cantik itu yang menghampiri Somerhalder, Sang pemeran utama pesta.


"Aku tidak memiliki banyak waktu. Cepat katakan yang kau mau sebelum aku pergi," katanya pada seorang pria dan menghela napas melihat kerumunan yang sangat tidak disukainya. "Sangat berisik, aku tidak suka ini."


"Kau terlihat sangat cantik, Isabella Ellard." Pria itu tersenyum miring.


"Terima kasih pujiannya, tapi aku benci nama itu." Isabella menyahut dengan dingin. "Oh? Tuan Louis Somerhalder, sebuah hal langka aku tidak melihat 'mainanmu' yang lain." Isabella menyidir ketika melihat Louis datang sendirian. Biasanya selalu bersama wanita cantik yang berbeda setiap harinya. Benar-benar hal langka.


"Lalu ...." Ia meraih tangan Isabella dan mencium punggung tangannya. "Kau ingin menjadi yang selanjutnya?"


Wajah wanita itu tetap datar, terlihat angkuh. "Andai kau tidak menyandang nama Somerhalder, aku sudah lama membunuhmu."


Louis terkekeh. "Candaan yang bagus."


Isabella memutar bola mata dan duduk di salah satu kursi sambil mengambil koktail. Ia tidak tahan berlama di tempat ini. Sangat mengganggu ketenangannya.


Louis menghampiri. "Kau sangat membosankan. Aku mengundangmu secara khusus, tapi kau bersikap dingin setiap saat. Sebentar lagi ayahku datang, jangan lupa menyambutnya."


"Ayahmu yang bodoh itu bahkan tidak tahu aku di sini," gumam Isabella membuat Louis terkekeh. Tapi menurutnya tidak ada yang lucu. "Apa tujuanmu menundangku? Kau tahu, kita tidak sedekat itu sampai bisa saling mengundang di pesta kelas atas."


Louis duduk di sebelah Isabella mencoba menjelaskan. "Jadilah kekasihku, untuk sementara."


Isabella mengerutkan kening. "Apa yang kau miliki? Bahkan aku memiliki gaji yang lebih tinggi darimu, kenapa aku harus setuju?" Ia bisa saja setuju, tapi bayarannya harus sesuai dengan keinginannya.


"Kau tahu ayahku, dia tidak akan berhenti. Dia menyukaimu sebagai bawahannya akan prestasimu, jika aku bersama denganmu, posisiku aman." Louis bersungguh-sungguh dengan wajah frustrasi yang akan membuat wanita manapun ingin memeluknya.


Tapi tidak dengan wanita tertentu. Isabella menyipitkan mata. "Apa keuntungannya untukku?"


"Setelah mendapatkan segalanya serta kepercayaan Somerhalder, aku akan membaginya padamu."


Isabella terkekeh geli seolah tidak percaya dengan apa yang dikatakan. "Kau berencana memberontak? Aku bisa saja setuju, tapi jika itu yang kau pikirkan, aku bisa melakukannya sendiri dan mendapat keuntungan lebih. Bukan menjadi bonekamu."


Louis kesal, tapi hanya bisa menutupinya karena tidak ingin menyinggung secara berlebihan pada wanita berbahaya ini. "Bella—"


"Aku tidak bekerja tanpa keuntungan," sela Isabella disertai senyum licik, kemudian menyeruput koktail di tangan.


"Kau akan mendapat keuntungan lebih."


"Tidak dengan menjadi kekasih." Isabella menegaskan dan akan pergi. Namun Louis menahan lengannya dan menariknya ke suatu tempat.


Louis membawanya ke daerah di mana kerumunan berasal. Ketika melihat kedatangan ayahnya, ia tersenyum misterius. Sedangkan Isabella hanya menatapnya dengan wajah menggelap, kesal telah ditarik asal. Ia benar-benar akan membunuh pria ini.


Mereka sampai di tengah ruang pesta, pada saat yang sama, Louis berteriak menyapa para tamu undangan berniat menarik perhatian. "Apa kalian bersenang-senang?"


Para tamu menyahutnya penuh antusias disertai gelak tawa. Mata mereka telah menjadikan Louis sebagai pusat perhatian utama, mengabaikan kehadiran wanita cantik yang memasang wajah gelap.


Isabella merasa tangannya gatal sekarang. Ia mencoba melepas genggaman erat Louis, tapi begitu sulit hingga benar-benar emosi. Jika ia nekat mengeluarkan pisau dari sepatunya lalu menikam pria itu, sama saja membuat keributan tidak perlu.


"Aku ingin mengenalkan kalian dengan seseorang," katanya kemudian melirik Isabella. "Isabella Ellard, sisa dari Keluarga Ellard yang telah lama menghilang di Manchester."


Semua orang kini menatap Isabella penuh kejutan. Isabella sebagai pembunuh Keluarga Ellard hanya bisa diam seolah mereka menatapnya sebagai pelaku pembunuhan. Meski pada kenyataannya tidak begitu, Isabella merasa seperti itu. Ia menatap Louis tajam.


"Kau bosan hidup?"


Namun Louis mengabaikan dan terkekeh. "Jangan melihatnya seperti itu, dia sangat pemalu."


Semua orang terkekeh mendengar ucapan Louis sedangkan Isabella hanya bisa menghela napas. Pemalu dari mana? Ia benar-benar ingin menjahit mulut Louis sekarang juga.


"Tapi ... aku tidak ingin mengenalkannya sebagai anggota Keluarga Ellard. Aku ingin mengumumkan ... kami akan menikah."


Semua orang terkejut, begitu pula Isabella. Louis terkenal sebagai playboy yang meniduri wanita yang berbeda setiap harinya. Berita bahwa ia akan menikah tentu mengejutkan semua orang.


Louis mendekatkan bibirnya ke telinga Isabella membisikkan sesuatu, "Bella, kau tidak bisa menolak. Di sana ada ayahku, hidupmu akan berakhir setelah menolak."


Isabella sangat marah, bukan karena Louis yang menyebarkan pernikahan palsunya, tapi keluarganya! Ia membunuh keluarganya sendiri, tapi pria ini malah mengenalkannya sebagai anggota keluarga yang ia bunuh. Itu seolah ... sedang mengancamnya.


Ketika emosi Isabella dilingkupi hal negatif, tangan seseorang memisahkan genggaman Louis dan meraih lengannya menjauhi Louis.


"Apa kau sudah minta izin padanya untuk menyebarkan?" Pria itu menatap Louis penuh hawa dingin yang membuat siapapun tertusuk.


Louis menatap mata dingin itu menarik sudut bibirnya tanpa kenal takut, kemudian terkekeh. "Dia sudah setuju."


"Dia tertekan."


"Siapa kau? Aku tidak merasa telah mengundangmu." Louis menyahutinya tak kalah menantang.


Pria itu tetap tenang, sebelum menjawab namanya, "Sean."


"Sean? Kingston?" Louis tertawa kemudian meraih Isabella sedikit keras. "Dia wanitaku, kau tidak bisa menyentuhnya. Jika kau ingin mencari wanita, pergilah ke klub untuk bersenang-senang. Lagi pula ...." Ia melirik Isabella dengan seringaian. "Sudah terlambat untuk mengakhirinya."


Isabella yang awalnya tertekan sampai mengepal tinju akhirnya menjadi tenang kembali. Ia menatap Louis dengan senyum mengerikan, mengabaikan Sean di sisinya. "Kau benar, sudah terlambat."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Xie Ran terbangun dari mimpi, matanya kosong menatap langit-langit polos seolah tidak ada kehidupan di matanya. Jika keningnya tidak berkerut saat itu, ia sudah pasti akan dianggap sebagai tubuh yang kosong tanpa jiwa.


Sebuah nama yang ia lupakan kini tercetak tebal begitu mimpi tadi terngiang jelas di ingatannya. Sean ... siapa dia? Kenapa ingatan tentangnya begitu samar selagi ia sangat jelas tantangan yang Louis ajukan terhadapnya?


Ia mengambil posisi duduk dan menghela napas mencoba membuang semua masa lalu. Ia menutup mata untuk beberapa saat menepis semua hal tidak perlu dan berlalu.


Ia mengabaikan semua konspirasi di kepalanya dan ke luar kamar. Melihat Qu Xuanzi tengah duduk dengan buku yang dibacanya, Xie Ran hanya bisa memperhatikan dari jauh. Ketika ia melihat makanan yang dihidangkan di meja, matanya berbinar cerah seketika.


"Kenapa tidak membangunkanku?" kata Xie Ran sambil berlari ke arah makanan dan langsung memakannya. Untung saja masih hangat, atau ia akan menangis.


Qu Xuanzi mengalihkan pandangan ke arah Xie Ran, ia tersenyum. "Kau tidak bisa dibangunkan."


Xie Ran mencibir dalam hati bahwa Qu Xuanzi membohonginya. Bukannya Xie Ran yang tidak bisa dibangunkan, melainkan Qu Xuanzi yang tidak tega membangunkannya. Jelas-jelas Xie Ran mudah untuk dibangunkan setelah lama bosan di atas ranjang selama tiga hari.


"Sudah tiga hari, kita akan berangkat ke Laut Selatan hari ini. Aku juga sudah cukup pulih, tidak ada penolakan." Xie Ran langsung menegaskan kalimat terakhirnya.


"Baik." Qu Xuanzi akhirnya bersikap patuh. Itu membuat Xie Ran senang.


Xie Ran menghabiskan makanannya dengan cepat. Seperti biasa, Qu Xuanzi hanya memperhatikan. Melihat Xie Ran saja sudah dapat melepas rasa bosannya.


Ketika Xie Ran keluar dari kediaman, ia merasa akan gila begitu melihat banyak orang mengaguminya dan menjadikannya contoh. Karena aksi 'heroik'nya membunuh para iblis dan menyelamatkan kota, para rakyat berondong-bondong menyanjung dan berterimakasih.


Mendapat semua perlakuan baik dari para rakyat yang terus menyemangatinya seolah akan berjuang di medan perang, Xie Ran hampir muntah darah. Masalahnya ia tidak terbiasa akan perlakuan seperti itu. Semua ini membuatnya merinding karena merasa terlalu asing.


"Nona, mereka menyukaimu. Kenapa kamu tidak senang?" Long Long heran mengapa atasannya begitu langka.


"Justru karena mereka menyukaiku, aku jadi tidak senang. Jelas-jelas aku membunuh tuan kota mereka," gumam Xie Ran mencoba sabar.


"Nona, tuan kota mereka ingin menghancurkan kota, siapa yang tidak marah? Nona membunuh Di Yushi merupakan jasa terbesar para rakyat. Sepertinya, Nona akan masuk ke dalam buku sejarah Kota Shuiyang."


"Buruk sekali. Ini alasan mengapa aku terburu-buru pergi." Xie Ran memilih mengabaikan mereka semua. Entah ke mana para hewan suci. Ia ditinggal sendirian selama perjalanan ke luar gerbang kota diiringi oleh rakyat yang menyanjungnya. Ia bisa gila!


Di samping itu, Li Ningzhi di gerbang kota hanya bisa tersenyum masam tidak dapat melihat Qu Xuanzi. Entah ke mana pria itu pergi, padahal ia ingin mencoba membujuk pria itu untuk membawanya juga. Tapi yang hadir hanya Xie Ran yang membuatnya kesal setengah mati!


Tapi demi mengejar Qu Xuanzi, ia harus merelakan harga dirinya. Ia pun menghampiri Xie Ran yang akan ke luar kota.


"Nyonya, bisakah membawa Ningzhi? Ningzhi bisa menjadi pelayan Nyonya." Li Ningzhi mencoba menggunakan pesonanya untuk mendapat belas kasihan. Ia lihat Xie Ran tidak memiliki pelayan, dia bisa melamar sebagai pelayan dan mendekati Qu Xuanzi.


"Aku kelebihan pelayan, tidak bisa membayarmu." Xie Ran menolak. Wanita ini ingin mendekati Qu Xuanzi, ia tidak ingin memberinya kesempatan dan menjadi beban.


"Nyonya, Ningzhi tidak punya siapa pun lagi. Keluarga Ningzhi dibunuh iblis, hanya Ningzhi yang tersisa, tidak tahu ingin pergi ke mana. Jika Nyonya memiliki dendam atas masalah sebelumnya, Nyonya bisa menghukum Ningzhi." Wanita itu berlutut begitu saja sambil menangis tersedu-sedu.


Bukannya kasihan, Xie Ran semakin muak. Ia benci seseorang yang mudah menangis dan sangat ingin menendangnya. "Aku tidak suka wanita cengeng."


"Jadi ... apa Nyonya menerima Ningzhi?" Li Ningzhi menatap Xie Ran penuh permohonan. Itu membuat Xie Ran semakin muak dan ingin menguliti wajah tebal itu untuk melihat wajah aslinya.


"Aku tidak bisa membayar pelayan lagi." Xie Ran mencoba sabar.


"Ningzhi tidak perlu dibayar. Ikut dengan Nyonya adalah sebuah penghormatan terbesar, Ningzhi tidak memiliki penyesalan." Ia tidak peduli apa dibayar atau tidak. Asal ia berhasil mendapatkan Qu Xuanzi, ia akan menyingkirkan wanita sombong ini dan mendapatkan semua yang ia inginkan!


Selagi Xie Ran pergi, Li Ningzhi bukannya mendapat dukungan warga malah menjadi bahan kucilan. Pasalnya, Li Ningzhi terkenal berkat Di Yushi dan menjadi pelayan tidurnya. Itu semua terungkap ketika Keluarga Li hancur setelah kematian Di Yushi.


Li Ningzhi merasa punggungnya mendingin, buru-buru bangkit untuk melihat kemarahan rakyat. Matanya terbelalak menjadi terlihat sangat bodoh menyadari citranya dalam masyarakat anjlok dalam satu malam.


"Dia adalah teman tidur iblis itu, cepat usir dia!"


"Berani sekali menjilat Nyonya penyelamat. Dia pikir dia siapa?"


"Cepat usir wanita tak tahu diri itu sebelum kota ini dikutuk lagi!"


Li Ningzhi bergetar hebat. Seharusnya ia pergi bersama Qu Xuanzi, tak apa jika menjadi pelayan. Tapi wanita itu tidak membiarkannya membuatnya dikucilkan masyarakat. Ia sangat marah!


Wanita malang itu pergi tertatih-tatih ke luar kota. Shuiyang tidak lagi menerimanya sedangkan ia hanya bisa berlari di hutan tanpa tujuan penuh isakan serta amarah yang berkobar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Long Yun terbang membawa Xie Ran di punggungnya selama beberapa hari terakhir. Gadis itu masih dalam keadaan meditasi, meningkatkan kultivasi sekaligus energi murni yang mengalami kemacatan.


Selama ini, Xie Ran mengalami gelisah dan tidak bisa tidur. Bukan karena memikirkan tentang perangnya melawan Hydra. Melainkan karena sosok misterius yang muncul di pikirannya, namun begitu samar sehingga menyulitkannya. Bahkan ia sampai sakit kepala memikirkannya.


Qu Xuanzi tidak tahu mengapa Xie Ran begitu gelisah selama beberapa hari ini. Xie Ran tidak memberitahu apa pun dan hanya mengatakan bahwa ia tidak bisa mengatakannya secara langsung karena tidak tahu apa yang harus dijelaskan. Ketika ingin bercerita, semua ide hilang seolah telah lupa.


Oleh karena itu, Xie Ran memutuskan tetap pada kondisi kultivasi selama beberapa hari. Dalam keadaan kultivasi, Xie Ran tidak akan mengingat sosok misterius yang mengganggunya sepanjang hari. Ia tetap tenang seolah melupakan masalahnya.


Ketika hamparan biru nan deras terlihat dari kejauhan serta aroma asin air laut samar-samar tercium, Long Yun merendahkan penerbangan. Tubuhnya yang besar mendarat di atas hamparan pasir menyebabkan butiran pasir tersebar di udara akan angin yang berhembus darinya.


Xie Ran membuka mata setelah mendapat laporan Long Long bahwa mereka telah sampai. Ia langsung turun dari punggung Long Yun. Begitu ia mendarat, Long Yun menjadi sekecil anak naga yang baru menetas dan duduk di bahu Xie Ran.


Melihat terjangan ombak lautan uang begitu deras, Xie Ran diam untuk beberapa saat menggigit bawah bibirnya teringat phobianya. Ia phobia laut, mati di laut, dan kini harus berhadapan dengan laut setelah sekian lama serta bertarung dengan makhluk laut. Benar-benar bunuh diri.


"Keberadaan Hydra cukup jauh, dia seharusnya berada di dasar laut," kata Long Ying sambil mencoba mencari jejak Hydra.


"Ying, kenapa kau tidak pancing saja Hydra kemari? Master tidak bisa berlama-lama di laut." Long Huo agak khawatir memikirkan Xie Ran yang katanya phobia laut.


"Jika aku bisa, sudah kulakukan sejak awal." Long Ying menghebuskan napas kasar.


Xie Ran berpikir sejenak untuk beberapa saat. Selanjutnya, ia kembali normal dan tersenyum samar. "Tak apa, lagi pula aku pernah mengikuti lomba renang tingkat internasional. Aku juga ahli menyelam."


Long Yun agak keberatan. "Tapi—"


"Hanya seekor Hydra, kalaupun yang keluar Kraken, aku tidak takut." Xie Ran tetap percaya diri. Tapi karena hari sudah akan malam, akan lebih baik menunggu pagi. Ia bukan Burung Hantu yang dapat melihat di malam hari. Jika beraksi sekarang, sama saja bunuh diri.


Xie Ran baru saja berpikir akan bermalam dan mendirikan tenda, namun tiba-tiba seseorang menepuk bahunya hingga ia sedikit terkejut dan berbalik. Ia sempat waspada karena sosok itu tidak disadari olehnya, tapi ketika melihat sosok tersebut adalah pria paruh baya dengan napas lemah serta keriput menyelimuti kulitnya, ia menghela napas. Pantas saja tidak merasakan napas pria tua itu.


"Nona, apa yang dilakukan Nona di sini? Apa Nona tidak tahu tempat apa ini?" Pria tua itu menatap Xie Ran cemas dengan raut terkejut. Tidak biasanya seseorang datang ke Laut Selatan semenjak monster itu berkuasa.


Xie Ran yang sadar para naga sudah menghilang tersenyum menanggapi. "Aku tersesat ketika sedang berkelana, kebetulan menemukan tempat ini."


"Nona, lebih baik Nona tidak berada di sini. Laut Selatan adalah pusat hewan air ganas, selalu memakan korban tiap kali nelayan mendekat. Bahkan perahu besar tidak diperbolehkan berlayar sehingga berakhir karam. Jika Nona ingin menyebrang, takutnya hanya bisa melalui jalur darat."


"Aku tahu, terima kasih ajarannya ... Tuan(?)"


Pria tua itu terkekeh menampakkan gigi berlubangnya. "Panggil saja Paman Hao. Karena Nona sudah berada di sini, bagaimana jika istirahat sampai besok? Hari akan malam dan banyak binatang buas berkeliaran, tidak baik melakukan perjalanan di malam hari."


Xie Ran mengangguk pelan dan menangkupkan tangannya. "Terima kasih, Paman Hao, atas bantuannya. Harus merepotkan Paman Hao."


Kakek Hao terkekeh sekali lagi. "Tidak perlu sopan pada orang tua ini. Mari, kebetulan putraku telah mengambil buruan untuk makan malam. Tidak perlu sungkan." Ia pun berjalan ke arah perhutanan sedangkan Xie Ran mengikuti tanpa banyak bicara.


Paman Hao berjalan dengan kaki berat serta tongkat di tangannya. Punggungnya bungkuk sehingga ia agak lambat ketika memasuki hutan. Ia menyingkirkan tanaman panjang yang menghalangi jalan menggunakan tongkat sambil berjalan dengan langkah berat. Xie Ran hanya diam memperhatikan dari belakang.


"Seseorang yang tinggal di hutan, apalagi di dekat Laut Selatan. Apa dia tidak cukup mencurigakan?" Long Long berbisik di pikiran Xie Ran.


"Kita lihat saja." Xie Ran tetap tenang sambil berjalan seolah tidak memiliki kecurigaan seperti yang dikatakan Long Long.


Tampaklah sebuah rumah bobrok yang dilingkupi tanaman menjuntai panjang. Tanaman-tanaman menutupi rumah kayu sederhana tersebut hingga tampak kurang terurus.


Sambil mengibas banyak tanaman, Paman Hao bicara, "Maaf sedikit berantakan. Beberapa hari ini putraku berburu di luar, jadi tidak ada yang membantu."


"Tidak masalah, aku pernah lihat yang lebih 'berantakan'" Xie Ran tetap tenang sambil mencoba menyingkirkan dedaunan yang menutupi rumah. Memang kacau, tapi tidak sekacau dulu ketika ia meledakkan sebuah parbrik.


Setelah yakin dedaunan telah tersisa sedikit, pria tua itu mempersilahkan Xie Ran duduk sebentar karena di dalam lebih kacau. Ia tidak memiliki banyak waktu membersihkan.


Ketika Xie Ran akan duduk di salah satu batu, ia mendengar gemerisik daun dari arah lain dan menoleh. Pada saat itu, tampak seorang pria yang terlihat sekitar berumur 20an, mengenakan pakaian pemburu serta beberapa senjata di punggung sedangkan tangannya membawa karung berisikan binatang buruan.


"Siapa kau?" tanya pria itu bersikap waspada.


Xie Ran menaikkan sebelah alis. "Tuan Hao?"


Pria itu mengerutkan kening dalam-dalam. "Kenapa kau tahu namaku?"


Xie Ran mencibir diam-diam. "Pertanyaan bodoh," gumamnya kemudian duduk di atas batu. "Aku hanya seseorang yang tersesat, tidak perlu diperhatikan atau dipertanyakan. Paman Hao sudah menunggumu untuk makan malam."


Pria itu menatap Xie Ran curiga sebelum memasuki rumah. Xie Ran hanya melihat kepergiannya dalam diam.


Xie Ran tidak memiliki banyak hal lain yang bisa dilakukan. Ia hanya menunggu, sampai akhirnya Paman Hao datang dari ambang pintu.


"Nona, masuklah untuk istirahat. Orang tua ini sudah merapikan ruangan lain untuk Nona. Nanti malam, kita akan makan bersama."


"Sudah merepotkan Paman Hao." Xue Ran tersenyum sebaik mungkin.


"Nona adalah tamu, sudah sewajarnya memperlakukan tamu dengan baik. Sebelumnya, maaf atas ketidaksopanan putraku, dia memang seperti itu. Tapi sebenarnya dia sangat baik."


Xie Ran mengangguk paham. "Karena putra paman sudah membawakan makanan utama, maka aku akan membawakan makanan penutup. Aku akan kembali malam ini."


"Nona, tidak perlu rep—"


"Maka anggap sebagai imbalan," sela Xie Ran. Ia langsung pergi dari perkarangan rumah sedangkan Paman Hao hanya bisa menghela napas.


Xie Ran berjalan di sekitar hutan yang cukup rindang sambil memakan buah berry yang baru saja dipetik. Jalan-jalan di sore hari tidak buruk, ia berniat melihat matahari tenggelam di pesisir pantai.


Namun mengingat kondisi pantai yang tidak cukup aman, ia memilih pergi ke arah bukit dekat pantai untuk melihat matahari terbenam seolah tenggelam di lautan lepas.


Pemandangan matahari terbenam di lautan memang berbeda dibandingkan pemandangan matahari terbenam yang biasa ia lihat. Sinar matahari memancarkan sinar oranye yang memantul di lautan deras disertai nyanyian terjangan ombak.


Qu Xuanzi keluar dari liontin dan duduk di sebelah Xie Ran. Bukannya memandangi matahari terbenam, ia justru memilih memandang Xie Ran yang sibuk makan buah berry. Xie Ran yang sadar langsung menyumpal buah berry ke mulut Qu Xuanzi begitu saja. Siapa suruh memperhatikannya sampai ia merasa malu?


Selagi asik makan, Xie Ran terdiam untuk beberapa saat. Mengapa ia merasa mengalami dejavu? Duduk di atas tebing bersama seseorang sedangkan ia asik makan. Semakin lama berpikir sampai keningnya berkerut, ia semakin terganggu.


"Ada apa?" Qu Xuanzi heran mengapa tiba-tiba Xie Ran mengerutkan kening. Apa yang dipikirkan gadis itu?


Xie Ran menggeleng lemah. "Teringat sesuatu, tapi tidak mengingatnya."


"Tidak perlu diingat," kata Qu Xuanzi. Xie Ran pernah mengalami hal yang sama sebelumnya sampai sakit kepala. Lebih baik tidak memikirkannya sekalian daripada harus terus terganggu.


Tapi pemikiran Xie Ran berbeda dari Qu Xuanzi. Ia justru menghela napas. "Aku ingat sekali tidak mengalami hilang ingatan selain tentang masa kecilku. Lalu, tentang kematianku ... aku rasa ada yang aneh. Sepertinya ada hal lain mengapa aku bersikeras membunuhnya."


"Orang itu menyakiti seseorang di sekitarmu?" Qu Xuanzi menebak. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada masa lalu Xie Ran secara keseluruhan, bahkan Xie Ran sendiri tidak mengerti kehidupannya sendiri.


"Mungkin. Aku rasa bukan hanya karena kematian Sang Yu dan Jane. Meski aku sempat marah dan mengancam, tidak seharusnya aku memiliki pemikiran membunuh atasanku sendiri. Bukan dia yang membunuh Sang Yu dan Jane, kenapa aku harus marah padanya? Apa yang kulupakan?"


Qu Xuanzi memperhatikan Xie Ran sebentar dan menghela napas. "Itu semua sudah berlalu, apa kau akan terus mengingatnya? Mungkin ketika kau menjadi 'Xie Ran', kau melupakan banyak hal."


"Benar, aku 'Xie Ran' sekarang. Bukan 'Isabella'," gumam Xie Ran. Ia pikir, urusan 'Isabella' bukan lagi urusannya karena sekarang ia hanyalah 'Xie Ran'. "Aku tidak akan memikirkannya lagi."


Entah apa yang dipikirkan Qu Xuanzi, ia sendiri merasa tidak nyaman ketika Xie Ran mengatakannya. Ia memeluk Xie Ran dari belakang dan memendamkan wajah ke leher Xie Ran. Ia berbisik, "Jangan menyebut pria lain, aku tidak suka."


Xie Ran nyaris tertawa dalam hati. Apa guru besar ini sedang kesal dan cemburu ia berkata tentang pembunuhannya terhadap Louis? Padahal jelas-jelas Xie Ran mengatakan tentang korban terakhirnya.


Xie Ran tidak tahu apa yang dipikirkan Qu Xuanzi sehingga hanya bisa mengangguk pelan. Ia berkata dengan nada rendah, "Tidak akan."


Xie Ran sebenarnya tidak tahu mengenai perasaannya sendiri. Ketika melihat Qu Xuanzi cemburu, atau begitu dekat dengannya, ia senang. Tapi ia masih merasa masih ada penghalang dalam hatinya yang begitu besar sehingga tidak bisa lebih terbuka menyukai seseorang.


Jika Xie Ran mengatakan bahwa ia tidak mencintai Qu Xuanzi, lalu Qu Xuanzi menjauh darinya, maka ia akan sedih. Tapi jika ia terus terang mengatakan mencintainya, perasaan dalam hatinya merasa sulit sehingga lebih memilih diam.


Diam memang lebih baik.