The Emperor God Wife Is Naughty

The Emperor God Wife Is Naughty
217. Krisis Besar (4)



Sudah beberapa menit berlalu sejak rasa sakit itu menerornya. Xie Ruo melemaskan tubuhnya agar dapat istirahat tenang dalam gua. Menutup mata dalam diam, merasakan semua aura di sekitarnya yang bergerak seperti angin.


Ada beberapa hewan buas yang ia rasakan mencoba mendekat, namun lari begitu Roh Guntur menakutinya dengan aura mendominasi yang hanya sekadar aura. Semua itu terus terulang.


Xie Ruo tidak bisa tertidur pulas selama masih dalam situasi berbahaya, namun ia terlihat lebih damai.


Sayangnya kedamaian itu berlangsung seingat. Ia membuka mata begitu merasakan sesuatu mendekat, lebih dari sekadar hewan buas yang tertarik akan aroma darah.


Suara langkah berat terdengar, terasa seperti beberapa ton beratnya sampai tanah berguncang. Xie Ruo mengintip melalui celah, melihat batu besar berjalan melintasi sungai mendekati gua di mana Xie Ruo berada.


Aura yang dikeluarkan Roh Guntur tidak cukup menakutinya. Roh Guntur mau tidak mau memasang sikap menyerang di depan gua, melihat sosok monyet besar dan berwajah sangat mendekat. Insting berbahayanya memuncak.


Monyet besar itu berhenti di depan gua, tepat di depan bola kecil di antara bebatuan yang menajamkan bulunya seperti landak. Ia berbalik seolah tidak melihat makhluk kecil itu, kemudian duduk sambil menggigit tebu besar di tangannya.


Roh Guntur terdiam. Apa ia terlalu kecil untuk diabaikan? Melihat ukuran monyet jelek yang duduk tepat di sampingnya, ia merasa tenggelam oleh sebuah gunung. Terlalu besar untuk disebut monyet. Ia bahkan tidak bisa disebut sebagai gorila.


Xie Ruo melihatnya dalam diam, kemudian meminta Roh Guntur masuk ke dalam gua. Ia tidak merasa bahwa makhluk besar ini membawa aura permusuhan, mungkin karena tidak mengetahui keberadaannya sama seperti tidak mengetahui keberadaan Roh Guntur. Makhluk itu membuatnya teringat film monyet besar yang berteman dengan seorang wanita yang diculik sebuah suku di pulau penuh monster. Tidak disangka benar-benar ada di tempat ini.


Karena mengingat apa yang pernah ia lihat dalam film, tanpa sadar ia menyebut namanya, "Kong(?)"


Entah dengar atau tidak, makhluk itu bereaksi begitu Xie Ruo menggumamkan hal tersebut. Ia menoleh ke arah gua dan menundukkan tubuh lebih rendah, membuat Xie Ruo waspada.


Xie Ruo tidak mundur, hanya menyipitkan mata, sedangkan bola mungil di sebelahnya semakin menajamkan bulu-bulu. Sampai akhirnya sepasang mata makhluk besar itu terlihat di celah gua, barulah Xie Ruo sadar bahwa sebenarnya sejak tadi makhluk itu sudah mengetahui keberadaannya.


"Grooor."


Xie Ruo menurunkan kewaspadaan mengetahui emosi yang sedang dialami makhluk itu. Meski tidak paham apa yang ia bicarakan, makhluk itu sebenarnya tidak berniat buruk.


Karena makhluk itu merupakan seorang betina, ia tidak peduli pada Xie Ruo, tapi lebih peduli pada apa yang ada di dalam perut Xie Ruo. Pada dasarnya, hewan dengan kecerdasan tertentu peduli pada sesuatu yang akan terlahir ke dunia dan akan menjaganya.


Xie Ruo tersenyum tipis, "Terima kasih."


Makhluk itu kembali duduk dengan tegak sambil mengunyah tebu acuh tak acuh, melihat pemandangan di luar dalam diam.


Xie Ruo melihat Roh Guntur yang masih waspada, langsung berkata, "Dia tidak berbahaya."


Roh Guntur menurunkan bulu-bulunya menjadi lembut. Ia pun melompat ke pangkuan Xie Ruo. "Nyonya, apa dia bisa dipercaya? Aku pikir, bahkan Long Long tidak bisa dipercaya!"


"Bisa."


Tepat setelah mengatakannya, gua mengalami guncangan seperti terjadi gempa hebat. Langit-langit gua mengeluarkan batu dan tanah yang runtuh, menyebabkan situasi yang awalnya damai menjadi tegang seketika.


Di luar sana, beberapa sosok hitam melintas di udara, mencoba menerobos tebasan tangan makhluk besar. Makhluk besar itu mengayunkan tangannya untuk menyingkirkan semua pengganggu yang terus melesat terbang tak terkendali seperti nyamuk.


Raungannya menggelegar ketika energi gelap menyentuh tubuhnya, melilitnya seperti sulur mengerat. Dalam sekejap, makhluk besar itu runtuh, jatuh ke atas sungai dan tersiram derasan sungai sampai terguling.


Wajah Xie Ruo di dalam mendingin. "Sudah datang."


Ia keluar dari gua yang akan runtuh karena serangan para kloning. Pada saat itulah, dia dihadapkan oleh banyak kloning baik di udara maupun di tanah berbaris 'menjemputnya'.


Karena sebagian tenaga Xie Ruo sudah pulih, ia bisa bertarung lagi. Itu mungkin saja akan memperburuk kondisinya, tapi ia tidak memiliki pilihan lain. Roh Guntur bukan lawan mereka, apalagi makhluk besar itu, ia hanya bisa melawan sendiri.


"Lindungi tubuhku, dan pergi." Tanpa menunggu respon, jiwa Xie Ruo keluar dan melesat meninggalkan tubuhnya yang jatuh tanpa jiwa.


Roh Guntur segera menahannya menggunakan sihir. Ia ingin menghentikan Xie Ruo, tapi perintah itu membuatnya tidak bisa menolak dan langsung membawa tubuh Xie Ruo pergi.


Selagi Xie Ruo bertarung sengit dan menjadi beberapa bagian untuk mendukung pertempuran, Roh Guntur terlebih dahulu melepaskan ikatan makhluk besar itu agar dapat bergerak bebas. Setelah itu, ia berteriak meminta bantuan.


"Hei, kamu! Bantu aku pergi dari sini membawa tubuh Nyonya!" Roh Guntur bicara dengan cepat. Untungnya makhluk itu paham dan langsung membawa tubuh Xie Ruo dan Roh Guntur sekaligus lalu menyebrangi sungai.


Makhluk itu melihat Xie Ruo bertarung sengit dengan banyak kloning, ia tidak bisa membantu tapi berharap semua akan baik-baik saja. Ia pun pergi dengan Roh Guntur atas permintaannya.


Xie Ruo mengeluarkan semua sihirnya secara berturut-turut. Pedangnya diayunkan, sedangkan beberapa bayangan pedang melesat jauh menahan kloning yang mengejar Roh Guntur dan makhluk besar.


Tiap tebasan pedang memecah energi gelap menjadi beberapa serpihan. Serpihan itu mengendap di udara, meluncur seperti tetesan hujan ke arah Xie Ruo. Barrier perak melingkari seluruh wilayah Xie Ruo, menahan tetesan energi gelap dan menghancurkannya begitu menyentuh barrier.


Hanya saja, ketika Xie Ruo berpikir bahwa energi gelap itu hancur, ia tidak tahu bahwa energi gelap itu berubah warna menjadi merah serta membentuk sebuah jarum, menembus barrier yang dipertahankan Xie Ruo tanpa membuatnya cacat, lalu menembus tengkuknya tanpa disadari.


Yang Xie Ruo rasakan saat itu adalah tenaganya yang terkuras lebih banyak. Tiba-tiba saja ia tidak bisa menyeimbangkan diri dan terjatuh.


"Xie Ruo, ini adalah daerah kekuasaan iblis, kekuatanmu tidak berguna di sini!" Salah satu kloning bicara dengan bangga. Ia menghantam barrier yang dibentuk hingga menimbulkan pecahan kasar.


Xie Ruo terhempas, jiwanya kembali ke tubuhnya begitu saja lebih cepat dari harapan.


"Nyonya!" Roh Guntur langsung melompat-lompat di bahu makhluk besar yang sedang berlari jauh.


Xie Ruo merasa ada hal yang aneh. Bagaimana jiwanya bisa kembali begitu saja padahal hanya menerima sedikit serangan?


Xie Ruo tidak sempat berpikir lebih jauh ketika para kloning sudah berdatangan mengepung dari berbagai wilayah. Makhluk besar mengambil jalan lain melalui jalan pintas dan melompat tinggi menjauhi pengejaran.


Hanya saja, langkahnya terhenti ketika merasakan bahwa Xie Ruo melompat dari punggungnya.


"Ini tidak ada hubungannya denganmu, pergilah!" Xie Ruo memberi penegasan di tiap kata-katanya, sambil memandang dengan tajam.


Itu berhasil membuat Xie Ruo kesal. "Jika mati, tidak ada hubungannya denganku."


Makhluk itu dengan keras kepala diam di tempat sambil bersedekap dada dan membuang pandangan. Emosi yang diberikan membuat Xie Ruo kesal.


Xie Ruo mengabaikan makhluk besar, berbalik melihat kloning yang melesat menyerang. Baru saja ia akan melepas jiwanya, tindakannya tertahan akan sesuatu yang memaksanya untuk diam.


Tiba-tiba dadanya terasa sakit, jantungnya berdegup lebih keras dari biasanya seperti akan meledak. Ia merasa ada sesuatu yang ingin keluar dari lehernya. Ia batuk sampai kakinya melemas dan memuntahkan seteguk darah hitam yang bercampur dengan merah.


Xie Ruo memandangnya kosong sejenak, sebelum satu kata terlintas di benaknya. "Racun."


Tidak tahu racun apa yang memasuki tubuhhya, ia merasa seluruh energinya kacau. Kandungannya kembali mengalami kontraksi, lebih buruk dari sebelumnya dan kini tanpa energi murni yang membantu.


Makhluk besar yang sedang merajuk itu panik. Ia melihat para kloning yang berdatangan, kemudian menghadangnya sendiri. Roh Guntur juga sama, berdiri di atas bahu makhluk besar sambil melindungi Xie Ruo yang sekarat.


"Tidak ...." Tubuh Xie Ruo bergetar hebat. Ia memegang perutnya, merasakan gejolak yang abnormal. Ia dapat merasakan denyut jantung bayinya bermasalah hingga membuat pikirannya ikut kacau.


Ia tidak rahu racun apa yang masuk membuat energi murni dalam tubuhnya tidak bekerja. Ia mengerahkan kekuatan psikis, membagi semua rasa sakit itu sambil mengendalikan energi dalam tubuhnya yang kacau. Namun hal yang terjadi, begitu ia mengeluarkan kekuatan, ia kembali muntah darah dengan warna yang sama.


Tiap kali ia muntah darah, tenaganya semakin habis hingga pandangannya meredup. Jantungnya berdetak semakin tak karuan sampai rasa nyeri di jantung begitu terasa. Ia mengalami sesak dan hanya bisa duduk sambil menopang tubuhnya dengan kedua tangan. Tubuhnya terlalu lemas.


Makhluk besar yang melindunginya tidak bisa bertahan lebih lama. Tubuh besarnya terhempas bersama Roh Guntur dan membentur dinding tebing yang cukup jauh dari lokasi.


Barrier yang dibuat Roh Guntur untuk Xie Ruo hancur akan energi gelap yang menembus. Mereka kini melihat Xie Ruo yang menahan semua rasa sakit sambil mencoba mempertahankan kesadarannya.


Xie Ruo melihat mereka semua dengan matanya yang sayup. Ia merasa sulit bernapas, jiwanya seperti tercabik-cabik hingga tidak bisa mengatakan apa pun selain menggigit bibirnya untuk menahan rasa sakit luar biasa.


Ia tidak boleh mati sekarang, baik dibunuh secara langsung ataupun karena racun. Masih terlalu banyak yang ingin dilindungi, ia tidak bisa mati sekarang!


Kegelapan membelah udara di antara kesunyian malam. Energi gelap dari kloning meluncur ke arah Xie Ruo membentuk sebuah panah hitam runcing yang dilingkupi kabut hitam. Itu melesat dengan cepat, memberi tekanan besar pada target dan menguncinya agar tepat sasaran.


Xie Ruo menekan tinjunya dengan erat. Baru saja ia akan dengan paksa berteleportasi, tubuhnya tiba-tiba melayang dalam pelukan hangat seseorang menjauhi tekanan yang baru saja ia dapatkan.


Dalam sekejap, Xie Ruo membeku. Ia tidak lagi memaksakan kekuatannya untuk keluar, tapi melemaskan seluruh tubuhnya dan menolak semua perlawanan. Setelah sekian lama melakukan pertempuran panjang, kali ini ia merasa terlalu lelah sampai sulit mempertahankan kesadaran.


"Kenapa lama sekali?" lirihnya. Xie Ruo tahu aroma seseorang yang menariknya dari ledakan. Ia bahkan dapat merasakan panasnya ledakan serangan di sekitar meski tidak langsung. Ia dapat melihat, api yang berkobar di tempat ia seharusnya berada barusan, meski samar.


"Maaf, maafkan aku, maafkan aku ...." Ia mengulangi kalimat itu dengan gemetar, nada suaranya dipenuhi ketakutan luar biasa sambil memeluk dengan erat wanita yang telah sekarat itu, seolah bila dilepaskan akan menghilang begitu saja.


Xie Ruo tidak dapat mempertahankan kesadarannya lagi. Setelah instingnya mengatakan berulang kali bahwa ia sudah aman dan akan baik-baik saja, semua perlawanan itu menghilang membiarkan kesadarannya lenyap.


Iris merah itu melihat para kloning penuh niat membunuh. Dewa Iblis mengaktifkan racun darah di tubuhnya, sehingga ia tidak bisa melakukan apa pun, hanya bisa menunggu Dewa Iblis melemah dan mengambil kesempatan menjadi Asura sehingga membuatnya mundur. Jika ini di waktu lain, ia nyaris bisa membunuhnya.


Tapi keselamatan Xie Ruo lebih penting. Ia tidak peduli hidup dan mati Dewa Iblis. Ia lebih peduli pada Xie Ruo. Melihat Xie Ruo seperti ini, ia merasa bersalah dan marah pada diri sendiri. Andai ia tidak pergi ke Dunia Tengah, Xie Ruo akan baik-baik saja.


Sekarang, semua sudah terlambat. Ia tidak akan menahan diri lagi melihat Xie Ruo di ambang kematian karena Dewa Iblis yang dengan sengaja menargetnya dan nyaris mengambil nyawanya.


Para kloning mulai waspada akan kehadiran Qu Xuanzi, apalagi dalam wujud Asura. Mereka berkumpul, lalu menggunakan teknik penggabungan antar-kloning agar dapat bertahan dari Asura dan pergi secepatnya.


Penggabungan banyak kloning akan membentuk kekuatan yang nyaris menyetarai kekuatan Dewa Iblis asli. Itu cukup untuk bertahan dari Asura yang sedang marah.


Salah satu kloning langsung menjadi pusat, sedangkan yang lainnya menghilang memasuki satu tubuh kloning disertai kabut hitam yang pekat. Kekuatan mereka mengalir, membentuk wujud baru dengan sempurna. Tubuh salah satu kloning mengembang, berubah secara perlahan disertai kabut yang menari-nari di udara. Terlihat lebih kuat dan menyeramkan, meski jauh berbeda dengan wujud Dewa Iblis asli.


Namun, aliran kekuatan itu terhenti begitu sebuah cahaya merah muncul menekan tubuh kloning dan terpecah menjadi beberapa bagian. Qu Xuanzi tidak akan diam saja melihat kloning sialan itu menyatukan diri dan merepotkannya.


Pecahan kloning akibat serangan baru saja akan bersatu, namun Qu Xuanzi menahan semua bagian kloning di udara hanya dengan satu tangan. Beberapa bagian kloning berusaha melawan, namun benang merah tipis dan runcing itu membuat mereka tidak bisa bergerak, seolah dijadikan boneka yang dikendalikan.


Mereka tidak memiliki pilihan lain. Karena tidak bisa melarikan diri, daripada terjebak dalam benang merah yang begitu mengerikan dan akan menyiksa mereka seumur hidup, mereka memilih membengkakkan diri untuk meledak secara massal.


Cara seperti ini, sudah basi menurut Qu Xuanzi. Karena ia tidak boleh mengulur terlalu lama karena Xie Ruo terluka, ia hanya bisa membuat barrier di sekitar untuk menghalangi ledakan banyak kloning yang telah putus asa.


Ledakan tiap kloning menyebabkan banyak energi gelap berkeliaran. Ledakan yang terjadi dalam bola barrier semakin memburuk beriringan dengan waktu, serta barrier yang menyusut untuk membuatnya hilang.


Barrier menyusut lebih cepat, melahap ledakan kloning dalam beberapa detik dan melenyapkannya tanpa jejak. Itu menghilang begitu saja setelah berubah menjadi sekecil bakteri.


Aura gelap yang sebelumnya menyertai hutan kini hilang. Namun suasana sunyi dan dingin terus menyertai, ditambah suasana hati buruk dan sedih bersamaan.


Qu Xuanzi melihat Xie Ruo yang pingsan di pelukannya. Ia mengusap wajah Xie Ruo sebentar, dan menghapus sisa darah di mulutnya. "Kau akan baik-baik saja."


Qu Xuanzi baru saja akan pergi menemui Dewi Kehidupan untuk mengobatinya, namun suara seseorang menghentikannya.


"Jika membawanya lintas dunia, dia akan mati, entah karena tekanan atau kehabisan darah, atau racun."


Qu Xuanzi menoleh, melihat sosok wanita berambut perak berdiri beberapa meter di antara rindangnya pepohonan. Akar merambat keluar disertai langkah kakinya, menunjukkan sosoknya yang cantik dengan mata hijau daun yang teduh.


"Yang Mulia." Wanita itu menunduk memberi penghormatan, kemudian berdiri tegak melihat mereka tanpa emosi yang terlihat.


Qu Xuanzi tidak mengenali siapa wanita yang terlihat seperti alam itu. Para tumbuhan tunduk padanya, membuatnya berpikir bahwa wanita itu adalah seorang dewi baru yang mengasingkan diri di Dunia Tengah.


"Aku dikenal sebagai Gai Ya, Dewi Bumi. Yang Mulia, senang bertemu dengan Anda."