
Jauh di atas bukit, Jian Wu memandang peperangan di bawah sana bersama pasukan makhluk kegelapan di belakangnya. Ia menunggu waktu yang tepat untuk memberi penyerangan dan mendesak ras-ras lemah itu untuk menyerah.
Selain ras iblis, makhluk kegelapan adalah kelompok etnis di bawah iblis yang setia pada kegelapan—siapa pun pemimpinnya. Mereka terdiri dari makhluk-makhluk berbentuk aneh dan pada umumnya manusia menyebut mereka sebagai monster. Satan adalah salah satu dari mereka, dan kini berbaris bersama makhluk lain dipimpin oleh Jian Wu.
"Rencana Yang Mulia sepertinya telah berhasil." Pria di sisi kiri Jian Wu bicara dengan senyuman miring. Ia adalah seorang iblis yang membawa semua pasukan ini. Meski posisi Jian Wu sedikit di atasnya, ia tidak kalah berpengaruh sehingga tidak masalah berdiri berdampingan dengan wanita itu.
Jian Wu diam untuk beberapa saat melihat peperangan yang tampaknya akan membuat pasukan manusia dan ras lain kacau. Ditambah semenjak Xie Ruo meninggalkan peperangan, sedangkan Qu Xuanzi sibuk menangani Dewa Iblis, para kloning dan pasukan iblis dengan bebas membunuh dan menekan para dewa.
Hanya saja, Jian Wu masih merasa tidak senang. Ia tahu alasan Xie Ruo pergi, tak lama lagi wanita itu pasti akan datang padanya. Itu yang membuatnya gelisah. Ia tidak akan tahu, cara apa yang akan Xie Ruo gunakan nanti untuk menekannya.
Iblis di sebelahnya melirik, kemudian mendengus. "Kau masih memikirkan tugas kemarin? Bukankah kau selalu mengatakan bahwa Yang Mulia akan melindungimu?" Ia berkata dengan nada mengejek.
"Diamlah!" Jian Wu kesal akan ucapan iblis itu. Ia memang dilindungi Dewa Iblis, tapi ia tahu hanya Dewa Iblis saja tidak bisa menghentikan Xie Ruo. Ia harus memikirkan cara lain.
"Kau sendiri mengatakan, Xie Ruo adalah murid ibumu. Lebih baik manfaatkan identitasmu dengan baik."
"Dia tidak sebodoh itu." Pernah terlintas di kepala Jian Wu, tapi ia merasa itu ide buruk.
"Seharusnya kau hanya perlu membunuh para bawahan tidak penting, padahal kau hanya mendapat tugas untuk membersihkan hama saja." Iblis itu mencibir.
"Siapa yang akan menyangka pria tua itu akan bertindak di luar akal sehat demi menahanku!" Jian Wu sangat kesal. Kepalanya terasa ingin meledak. Meski ia puas telah membunuh Xie Wang yang merepotkannya, tapi itu hanya kepuasan dan kesenangan sesaat.
Iblis itu mendengus. "Selesaikan masalahmu, aku tidak peduli."
"Tidak butuh bantuan." Jian Wu memutar bola mata. Ia menuruni bukit hendak pergi ke arah lain, namun tiba-tiba pandangannya terarah pada sebuah cahaya perak yang berkilau di langit.
Cahaya perak itu terarah padanya, penuh dengan aura pembunuh yang kuat. Jian Wu langsung sadar bahwa ada penyerangan. Dengan cepat ia menghindari cahaya perak itu, kemhdian kembali ke atas bukit untuk bergabung dengan pasukan.
"Hei, kau kembali?" Iblis jelek itu menyengir penuh ejekan melihat wajah Jian Wu yang sangat pucat ketika kembali. Wanita itu sepertu habis melihat hantu.
"Dia di sini." Jian Wu terarah pada tempat sebelumnya ia berada.
Cahaya perak yang jatuh itu memunculkan sosok putih yang penuh dengan niat membunuh. Di belakangnya, sosok bayangan menyusul dan menahan lengan wanita itu agar tidak melakukan sesuatu berbahaya.
"Ruoruo, tahan amarahmu!" Pei Xi menahan lengan Xie Ruo sehingga wanita itu menghentikan langkah.
Xie Ruo memandang Pei Xi dengan dingin, kemudian sedikit tersenyum. "Aku tahu apa yang kulakukan." Meski tersenyum, senyum itu terlihat menyedihkan disertai aura dingin yang kental. "Pikiranku sangat jernih, aku baik-baik saja."
Tapi Pei Xi tidak merasa bahwa Xie Ruo baik-baik saja. Tangan wanita itu sejak tadi terkepal, namun berusaha bersikap tenang seolah semua yang terjadi sama sekali tidak mempengaruhinya, seolah ia tidak peduli pada apa yang terjadi pada dunia.
"Ruoruo—"
"Aku hanya ingin mengembalikan apa yang ditinggalkan." Pandangan Xie Ruo terarah pada bukit di atas sana. Ia melihat Jian Wu yang melihatnya dengan wajah pucat, sebelum akhirnya peri itu menghilang.
Jian Wu sangat ketakutan ketika kembali lagi ke pasukan. Ia melihat iblis menyebalkan yang menampilkan wajah tidak peduli, kemudian memukulnya karena terus mengejek.
"Jika aku mati, kau juga harus mati!" Jian Wu mengerang kesal.
Iblis itu menggedikkan bahu. "Itu masalahmu." Ia pun menghela napas. "Sepertinya aku harus mengganti arah untuk menyerang, tempat ini tidak cocok." Karena ia tahu tempat ini akan dijadikan medan perang pihak lain.
"Kau ...." Jian Wu kehabisan kata-kata. Ia menunjukan pria itu dengan kesal, kemudian menghentakkan lengannya dengan keras. "Aku tidak akan mati semudah itu."
Iblis itu mendengus, kemudian mengarahkan pasukan untuk pergi ke wilayah lain untuk memulai pertempuran. Tapi begitu pasukan mereka berjalan ke sisi lain, cahaya perak yang penuh dengan niat membunuh melintas disertai tekanan kuat yang membuat mereka semua terkejut.
Cahaya perak itu melesat dengan cara acak seolah menelusuri tempat di tiap pasukan. Mereka smeua bingung, barisan mulai kacau ketika beberapa makhluk kegelapan mulai mengeluarkan darah dari beberapa bagian tubuh mereka dan ambruk.
Tidak ada yang tahu sihir macam apa yang membuat mereka mati dalam sekali serangan. Cahaya itu kemudian menembus tiap tubuh makhluk kegelapan, lalu terbang ke udara sebelum akhirnya menjatuhkan diri disertai ledakan besar. Api putih merebak, merambat ke tiap penjuru mengelilingi pasukan, lalu melahap mereka dalam hitungan detik.
Iblis yang memimpin pasukan itu terkejut, mulai memasang sikap waspada dengan pedang di tangannya. Kabut di mana ledakan terjadi perlahan menyusut, menyisakan abu hitam bekas kobaran api yang membakar seluruh tempat serta ribuan pasukan.
Tersisa puluhan pasukan yang masih bertahan di sekitar, namun mereka mengalami ketakutan luar biasa ketika melihat sosok wanita berdiri dengan tegak dan tenang tanpa tersentuh oleh segala sesuatu di sekitarnya. Wajahnya yang dingin membuat mereka semua langsung mengenali, sekaligus ketakutan di saat yang bersamaan.
Terutama bagi Jian Wu, itu adalah mimpi terburuknya.
Sosok bayangan melesat, berdiri di sisi wanita itu yang membuat Jian Wu merasa harus memanfaatkan identitasnya saat itu juga. Meski awalnya ia menolak karena kemungkinan berhasil akan kecil, ia harus melakukannya demi bertahan hidup.
"Xie Ruo, apa kau tidak takut Dewa Iblis akan membunuhmu!"
Xie Ruo memandangnya dengan datar, kemhdian berkata, "Dewa Iblis mungkin akan membunuhku, tapi tidak sebelum kematianmu."
"Kau ...." Jian Wu mengeluarkan pedangnya berpura-pura tidak takut. Ini adalah medan perang, dan ia memiliki banyak pasukan. Dengan mengepung Xie Ruo, ia memiliki kesempatan untuk menang.
Sebuah bilah perak muncul di tangan Xie Ruo. Itu bergerak memutar seperti baling-baling runcing, bersiap membelah siapa pun yang menghalanginya.
"Serang dia!" Iblis yang memimpin itu segera memerintahkan pasukan. Toh, pada akhirnya ia juga akan menghadapi wanita ini, jadi sekalian saja serang sekarang.
Pasukan yang tersisa menyerang dan mengepung mereka berdua. Iblis itu membuat pembatas untuk menekan kekuatan Xie Ruo dan Pei Xi, itu berhasil membuat kekuatan mereka berdua berkurang drastis.
Namun, mainan itu masih belum cukup untuk membuat Xie Ruo kewalahan. Ketika para iblis mulai menyerang, mereka menyerang Pei Xi terlebih dahulu di mana pria itu lebih lemah dari Xie Ruo. Pei Xi menangani mereka meski kekuatannya berkurang, kemudian menggunakan bayangan untuk menarik mereka dan mengubur mereka di dalam tanah sedara bersamaan.
Xie Ruo tidak mau membuang waktu untuk makhluk-makhluk kecil yang merepotkan itu. Ia langsung berteleportasi, melepaskan bilah perak dari tangannya dan meluncur ke arah iblis dan Jian Wu. Mereka berdua berhasil menghindarinya, namun Xie Ruo tidak hanya memberi satu serangan melainkan ribuan bilah perak!
Jian Wu menghindar dengan cepat, lalu menahan serangan dengan kekuatannya. Ia harus mengambil kesempatan selagi kekuatan Xie Ruo berkurang. Tapi sebelum itu, ia tidak boleh membiarkan iblis menyebalkan itu mati terlebih dahulu untuk mempertahankan tekanan.
Target Xie Ruo jelas hanya Jian Wu, tapi ia tidak suka bila ada yang menghalanginya sehingga ingin membunuh iblia itu terlebih dahulu. Kekuatan iblis itu kira-kira seimbang dengan Pei Xi di masa puncaknya, sehingga kemungkinan besar akan merepotkan.
Pandangan Jian Wu terarah pada Pei Xi dengan mata terbelalak. "Xi'er, apa kau akan membiarkan temanmu membunuhku? Aku kakakmu!"
"Aku tidak memiliki kakak. Semua keluargaku sudah mati." Pei Xi bicara sambil menatap Jian Wu dengan tajam. Ia sangat marah mendengar Jian Wu telah membunuh Xie Wang. Ia juga pernah berjanji, bahwa ia tidak akan membunuh Jian Wu secara langsung mengingat hubungan mereka, namun ia tidak akan melarang siapa pun untuk membunuh Jian Wu apalagi menyelamatkannya.
"Kau ... tidak tahu diri!" Jian Wu sangat kesal sekarang. Ia melihat cahaya perak lagi-lagi muncul menyerang. Dengan cepat ia melompat, lalu menjaga jarak jauh dari Xie Ruo. Ia melihat Pei Xi kembali, kemudian berkata, "Baik, kau pikir aku akan mati dengan mudah?"
Pedangnya diayunkan. Ia menghampiri Xie Ruo secara langsung untuk menghentikannya. Iblis itu juga menyerang, namun Pei Xi segera menghadapi sang iblis selagi Xie Ruo menangani Jian Wu.
Xie Ruo meluncurkan serangan terus-menerus tanpa memberi Jian Wu sedikit napas. Jejak api dingin muncul tiap kali ia melintas, menebar ke tiap penjuru sehingga medan dipenuh dengan api. Semakin banyak Xie Ruo bergerak, api semakin merebak dan menyebar menutupi seluruh medan.
Api yang menyebar itu merambat ke pembatas selagi mereka semua bertarung. Pei Xi melawan iblis di depannya dengan sekuat tenaga, kemudian menggunakan bayangannya untuk bekerja sama dengan Xie Ruo menghancurkan pembatas yang menekan kekuatannya. Bayangan itu menyatu dengan api dingin Xie Ruo, menembus pembatas dan memberinya celah besar untuk dihancurkan.
Iblis itu mengeluarkan energi gelap dan menghantam Pei Xi. Pei Xi terhempas lepas, kemudian membentur tepat di bagian celah pembatas hingga seluruh pembatas hancur seketika seperti kaca yang pecah.
Ia sebelumnya sengaja membuat dirinya sendiri terdorong oleh energi gelap, lalu mengarahkan tubuhnya ke celah pembatas yang telah dilemahkan api dingin dan bayangan. Hingga akhirnya, pembatas hancur, rencananya dan Xie Ruo yang berdasarkan isyarat tidak langsung itu berhasil tanpa hambatan.
Pei Xi dapat merasakan bahwa kekuatannya telah pulih, seluruh energi dalam tubuhnya kembali membuatnya dapat menggunakan bayangan secraa maksimal. Ia melesat, lalu menebas iblis itu dan menebasnya kembali dengan tombak secara beruntun.
Iblis itu tidak bisa melakukan apa pun, hingga akhirnya darah hitam mengucur di seluruh tubuh. Ia pun meledak karena bayangan yang menyusup ke dalam lukanya dan membengkakkan seluruh tubuhnya.
Di samping itu, Jian Wu masih berusaha menahan serangan Xie Ruo dengan teknik yang ia miliki. Serangan beruntun yang diberikan menyebabkan pertahanannya hancur dan mengalami cedera internal. Jian Wu telah dipenuhi luka, ia memegangi dadanya ketika termundur. Sudut bibirnya menunjukkan noda merah yang menunjukkan betapa parah cedera internalnya.
Pandangannya terarah pada Pei Xi yang membunuh iblis itu. Ia tidak lagi memiliki seseorang yang membantu hingga pandangannya dipenuhi dengan horor. Tidak! Ia tidak boleh mati! Dewa Iblis pasti akan melindunginya, ia percaya itu!
Jian Wu dengan cepat mengubah wujudnya menjadi seberkas cahaya dan melesat ke arah medan perang. Xie Ruo dan Pei Xi mengejarnya ke medan perang, melewati berbagai macam sihir yang dilemparkan serta pertempuran.
Jian Wu berusaha menyesatkan Xie Ruo dengan melintas peperangan yang penuh dengan makhluk-makhluk yang saling berperang serta sihir berbahaya yang berterbangan. Ia harus sebisa mungkin pergi mencari perlindungan pada Dewa Iblis!
Xie Ruo melintas dengan cepat. Para iblis dengan sigap akan membantu Jian Wu melarikan diri dengan cara menghadang Xie Ruo, namun Pei Xi langsung mengambil alih sebelum ledakan mengenai Xie Ruo yang terlalu fokus mengejar.
"Aku akan menahan mereka, pergilah!" Pei Xi langsung pergi menangani para iblis yang berkerumun menyerang.
Xie Ruo tidak punya banyak waktu lagi. Jika Jian Wu berhasil menemui Dewa Iblis, ia akan kesulitan membunuhnya. Dengan kecepatan tinggi, ia melesat mengejar Jian Wu yang terus menggunakan para iblis sebagai tamengnya untuk menahan Xie Ruo.
Xie Ruo mengeluarkan pedangnya, menebas tiap iblis yang menghalanginya dan meledakkan api dingin untuk memukul mundur dan menghancurkan kerumunan iblis tanpa menghentikan langkah.
Ia mengeluarkan kekuatan psikis yang mengunci posisi Jian Wu dan memperlambat langkahnya. Hal itu membuat sihir penahan yang diberikan Qu Xuanzi hancur, tapi ia tidak peduli. Ketika menemukan Jian Wu yang tidak terlalu jauh darinya, ia langsung melesat dan mengendalikan kekuatan psikis yang telah terkunci pada Jian Wu. Kekuatan itu melesat, melintas secara garis lurus tanpa henti meski telah menyayat banyak orang dari dua pihak.
Jian Wu tercekat. Ia berhenti dan mencoba menahan serangan yang tiba tepat di depannya, namun ia justru termundur terlalu jauh. Serangan itu meledak tepat di depannya setelah mendeteksi bahwa target menahan serangan. Jian Wu terhempas dan tersungkur di tanah, ia jatuh tepat di depan kaki seseorang yang baru saja menginjakkan kaki.
Jian Wu mendongak, melihat sosok yang bagaikan malaikat pelindung yang datang menolongnya. "Yang Mulia ...."
Xie Ruo tiba begitu Jian Wu jatuh di depan Dewa Iblis. Ia mengerutkan kening, pandangannya terfokus pada Jian Wu yang membuatnya muak. Emosi yang dirasakan Jian Wu membuatnya semakin dipenuhi amarah tiada henti.
Qu Xuanzi mendarat setelah seidkit pertempuran, ia melihat Xie Ruo yang tampak sangat marah. Firasatnya mengatakan hal buruk.
Dewa Iblis melihat ke arah Xie Ruo, kemudian tersenyum. "Aku menunggumu sejak tadi."
Xie Ruo mengangkat pedangnya, menunjuk menggunakan pedang ke arah Jian Wu yang ketakutan. "Serahkan."
Jian Wu memandang Dewa Iblis dengan penuh permohonan. "Yang Mulia, dia sudah gila! Dia datang membalaskan kematian Ketua Klan Xie, dia ingin membunuhku!"
Qu Xuanzi terkejut mendengarnya. Ketua Klan Xie mati? Sekarang ia paham mengapa Xie Ruo tampak sangat marah dan tidak seperti biasanya. Anehnya, mengapa para hewan suci tidak memberitahunya?
Dewa Iblis hanya tersenyum, melihat Jian Wu dengan puas. Bukankah sangat bagus bila pria tua itu mati? Lihat Xie Ruo saat ini. Semua ini sesuai dengan harapannya. Akan lebih baik jika yang membunuh pria tua itu adalah Kaisar Iblis.
Melihat Dewa Iblis hanya diam, Jian Wu semakin kehilangan akal. Dia memikirkan cara untuk menyelamatkan dirinya sendiri, kemudian melihat Xie Ruo.
"Bukan aku yang membunuhnya! Itu ... itu Kaisar Iblis! Dia juga bersamaku, dia membunuh hewan suci yang membuat pasukan iblis dengan mudah menyerang. Dia yang membunuh Ketua Klan!" Jian Wu mengatakannya dengan terburu-buru.
Xie Ruo diam untuk beberapa saat mendengar ucapan Jian Wu. Ia melihat Qu Xuanzi yang mengerutkan kening, sepertinya Qu Xuanzi juga tidak tahu mengenai hal ini.
Pantas saja .... Hewan-hewan itu mati dalam satu serangan oleh orang yang sama, Jian Wu tidak mungkin bisa melakukannya. Jadi itu Kaisar Iblis ....
"Xie Ruo, aku adalah putri gurumu. Jika kau masih memandang wajah gurumu, maka lepaskan aku. Aku sudah mengatakan semuanya. Jika ingin balas dendam, maka bunuh Kaisar Iblis!"
Wajah Xie Ruo semakin menggelap. Tidak ada yang tahu apa yang ia pikirkan saat ini, ditambah semua emosi negatif medan perang semakin mempengaruhi pikirannya.
Tiba-tiba sudut bibir Xie Ruo terangkat. "Baik, maka aku akan menggantikan guruku mengajarimu." Ia tidak peduli siapa itu Jian Wu dan apa hubungannya dengan Sheng Xian, di matanya, Jian Wu sudah mati!
"Tidak!" Jian Wu buru-buru meminta pertolongan pada Dewa Iblis, namun tidak ada yang bergeming. Bagi Dewa Iblis, ia hanya alat untuk memancing Xie Ruo dalam melakukan adu domba.
Kaisar Iblis juga merupakan Kaisar Langit. Apa yang akan dilakukan Xie Ruo setelah membunuh Jian Wu? Dewa Iblis penasaran, apa wanita itu akan membunuh Kaisar Iblis yang akan membuat Qu Xuanzi tidak bisa melakukan penyatuan darah atau tidak.
Karena tidak ada yang menolong, kekuatan psikis Xie Ruo menarik Jian Wu mendekat. Xie Ruo langsung menebaskan pedang begitu saja ke leher Jian Wu hingga darah terciprat ke pakaian putihnya yang tanpa hiasan.
Kepala Jian Wu bergelinding dalam keadaan melotot takut, terpisah dari tubuhnya dan terus mengucurkan darah segar di tanah. Pedang Xie Ruo dilumuri darah yang menetes. Pandangan Xie Ruo terarah pada tubuh Jian Wu yang kehilangan kepala.
Di kejauhan sana, Sheng Xian dapat melihatnya tanpa melakukan apa pun. Memang benar, Jian Wu putrinya yang hilang dan berkhianat. Sebagai ibu, ia gagal mendidik dan membiarkan putrinya mati di tangan muridnya sendiri.
Sheng Xian hanya bisa menutup mata, menahan rasa perih di hatinya menghadapi kenyataan bahwa ia tidak akan pernah bisa mengubah putrinya. Memang, kematian adalah yang terbaik. Ia tidak ingin putrinya terus berada di sisi Dewa Iblis dan menjilatnya seperti budak.
Tepat pada saat itu, pasukan Menara Suci berdatangan dari arah timur memberi bala bantuan besar atas perang yang terjadi. Setelah beberapa lama perang, Sheng Xian pada akhirnya telah memberi perintah selepas kepergian Xie Ruo dari Menara Suci. Kini, puncak perang semakin terlihat.