The Emperor God Wife Is Naughty

The Emperor God Wife Is Naughty
185. Burung Dalam Sangkar Emas (1)



Xie Ruo tiba di sebuah ruangan. Ruangan yang suram dan sunyi, hanya ada seberkas cahaya yang masuk dari jendela besar di sudut ruangan.


Perasaan ini membuat segalanya terasa lebih suram dari sebelumnya. Sheng Xian berdiri di depan kursi singgasana, membelakangi Xie Ruo bersama tongkat panjang di tangannya. Pandangannya teduh, dengan berbagai emosi yang tercampur aduk.


"Guru ...." Xie Ruo ingin menghampiri, tapi langkahnya terhenti. Ia berhenti tepat di pembatas menuju tangga singgasana, melihat Sheng Xian yang hanya diam di tempatnya.


Kali ini, bukan karena Xie Ruo yang menghancurkan halaman Menara Suci atau Xie Ruo yang pulang terlambat. Tapi karena hal lain, hal yang lebih serius.


"Bagaimana menurutmu?" Sheng Xian tiba-tiba bertanya setelah lama hening.


"Apa?" Xie Ruo agak tergelak. Apa yang sedang dibicarakan Sheng Xian?


"Zhong Guofeng." Sheng Xian menyahut dengan nada rendah. Ia sama sekali tidak berbalik untuk menatap Xie Ruo.


"Dulu dia temanku, tapi mungkin sekarang akan berbeda. Dia akan menjadi teman 'Xie Ran', tapi tidak 'Xie Ruo'."


"Kenapa demikian?"


Xie Ruo menjawab dengan ragu. "Entah kenapa, ada hal yang membuatku tidak nyaman. Ketika bertarung barusan, aku melihat energi gelap. Aku pernah menghadapi energi gelap milik Kaisar Iblis, itu sama kuatnya dengan energi gelap yang kutemukan barusan."


"Ada apa denganmu dan Kaisar Iblis?"


"Itu ... hanya kesaahpahaman lama." Xie Ruo tidak berniat menceritakannya. Toh, ia tidak menaruh dendam pada Kaisar Iblis, atau lebih tepatnya tidak bisa memiliki dendam, jadi lupakan saja.


"Jadi energi gelap membuatmu gelisah?"


"Bukan itu. Aku hanya berpikir, jika ada energi gelap yang menyamakan kekuatan Kaisar Iblis, aku takut hanya akan menjadi masalah. Selain itu ...."


"Selain itu kamu sudah tahu keberadaan Dewa Iblis. Kamu mencurigainya? Benar, 'kan?"


Xie Ruo diam untuk beberapa saat. "Belum tentu. Selain Dewa Iblis, masih ada rekannya. Aku tidak berpikir Zhong Guofeng adalah Dewa Iblis."


"Kenapa kamu berpikir begitu?"


"Aku hanya berasumsi sendiri." Xie Ruo menunduk, merasa tidak bisa berpikir dengan jernih. Ia merasa, semua yang ada di kepalanya tidak masuk akal. Benar-benar tidak ada yang masuk akal di dunia ini.


"Apa yang akan kau lakukan jika asumsimu benar atau salah? Pada akhirnya, kau tidak bisa lepas dari satu pun masalah."


Xie Ruo menatap punggung Sheng Xian dengan raut rumit. "Guru, siapa sebenarnya yang kau takuti?"


Sheng Xian diam untuk beberapa saat. "Aku hanya melakukan tindakan pencegahan."


Xie Ruo tidak ingin mengerti maksud Sheng Xian, tapi ucapan Sheng Xian sudah jelas mengartikan bahwa ia harus mengikuti rencana Zhong Guofeng. Jika ini dulu, Xie Ruo tidak akan menolak. Tapi sekarang ....


Xie Ruo harap asumsinya salah. "Aku tidak mengerti maksudmu."


"Kau sudah tahu sangat jelas. Jika tidak, kau tidak akan mengatakan bahwa kau tidak mengerti." Sheng Xian sangat mengenal Xie Ruo selama 10 tahun mendidiknya, tentu tidak akan salah menentukan cara bersikap Xie Ruo secara umum.


Xie Ruo tetap tidak percaya Sheng Xian memutuskannya tanpa rencana. Pasti ada sesuatu.


"Apa kau diancam?" Meski agak aneh, tapi itu bisa saja terjadi. Siapa pun bisa takut dan diancam.


"Meski tidak diancam, aku juga akan melakukan hal yang sama. Xie Ruo, berusahalah untuk tidak mengungkapkan semua pemikiranmu, terlalu berbahaya."


Itu artinya Xie Ruo harus diam dan mengikuti semua rencana tanpa ikut campur. Menjadi pion? Tentu saja Xie Ruo tidak akan mau dijadikan pion siapa pun.


"Aku tidak akan." Xie Ruo akhirnya memutuskan. Lebih baik ia pergi ke klan dan menjernihkan pikiran untuk sementara waktu.


"Kau tahu dia bukan orang biasa, bagaimana kau menghadapinya? Bagaimana jika dia Dewa Iblis atau Kaisar Iblis? Bahkan ketika kalian bertarung, dia belum mengungkapkan kekuatannya. Kamu sudah terjebak dalam situasi di mana tidak bisa mundur atau diam, hanya ada jalan maju."


Xie Ruo merasa sakit kepala sekarang. Sheng Xian benar, tidak ada jalan mundur. Tapi tidak bisakah mengambil jalan lain? Meski harus berbelok dan memutar, asal bisa mencapai tujuan tepat waktu, ia tidak masalah.


Ia tidak percaya hanya ada satu jalan dalam masalah yang dihadapi. Jika ia tidak bisa melakukan rencana pertama, maka akan ada rencana kedua, begitu juga seterusnya. Ia tidak akan hanya duduk diam seperti wanita lemah dan bodoh yang terus bergantung pada seseorang. Itu adalah penghinaan.


"Terima kasih atas pencerahannya, aku pergi." Xie Ruo berbalik hendak pergi. Ia akan membuktikan bahwa ia tidak lemah.


Tapi suara Sheng Xian membuat langkahnya terhenti. "Aku memiliki seorang teman. Dia adalah seorang peri yatim dan tidak memiliki rumah. Suatu hari, ia dijadikan pengorbanan monster laut, lalu seorang dewa dengan tugas khusus datang. Sayangnya, hanya dia yang selamat, dan salah sangka bahwa dewa itu datang untuk menyelamatkannya seperti dalam dongeng. Dia mengagumi dewa itu, dan menyukainya, tapi ia sadar bahwa posisinya yang rendah sama sekali tidak memiliki kualifikasi. Dia pergi jauh untuk melupakan, menikah dan memiliki dua putri. Meski ia tidak mencintai suaminya, dia mencintai putrinya. Sayangnya, salah satu putrinya berkhianat dan membunuh ayah dan saudaranya sendiri. Temanku yang malang tidak tahu di mana keberadaannya, lalu memutuskan untuk menebusnya dengan hidupnya sendiri."


Sheng Xian berbalik melihat Xie Ruo, pandangannya tetap teduh. "Xie Ruo, aku harap kamu mengerti. Ketika kamu mengambil jalan memutar, perjalanan semakin panjang, bahaya semakin banyak, belum tentu akan sampai di waktu yang tepat. Pada akhirnya, yang terjadi hanyalah penyesalan."


Setelah lama diam, Xie Ruo akhirnya sedikit menoleh dan berkata, "Aku mengerti."


Kemudian ia melanjutkan langkah keluar ruangan. Ia tidak bisa mundur, maka harus maju. Bukankah di luar sana masih ada Zhong Guofeng? Ia akan menghadapinya sendiri. Ia tidak akan melakukan kesalahan seperti 'seorang teman' yang dikatakan gurunya.


Sheng Xian melihat kepergian Xie Ruo yang semakin lama semakin jauh dan menghilang. Tatapannya sendu, kemudian menghela napas.


"Guru, kenapa tidak memberitahunya saja?"


Zhu Zhu muncul dari balik tirai. Sejak awal, ia sudah bersama Sheng Xian karena ada beberapa hal yang harus dikatakan. Meski informasi yang ia terima sangat berat, ia bisa mencernanya dengan cepat. Hanya saja, ia tidak mengerti kenapa Sheng Xian menyembunyikan beberapa hal penting dari Xie Ruo.


"Meski bukan yang paling mengenalnya, aku tetap sangat mengenalnya. Tidak butuh waktu lama untuknya mengetahui semua ini."


"Dia bisa menjaga diri." Sheng Xian tidak ingin mendengar apa pun lagi.


Ia melakukan semua ini dan mengatakan kata-kata kejam agar Xie Ruo tidak ragu menghadapi lawan. Jika ia memberitahu semua yang ia tahu, ia takut Xie Ruo akan ragu. Lebih baik Xie Ruo mengetahuinya sendiri agar mengetahui batasannya.


Ia hanya berharap, Xie Ruo secepatnya mengerti sebelum hal buruk terjadi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pada akhirnya, Xie Ruo tidak memiliki pilihan lain selain berpacu pada rencana awal. Sebelumnya ia ingin menyelinap kabur dari Menara Suci dan pergi ke klan, tapi Zhong Guofeng menemukannya tepat ketika ia akan kabur.


Alhasil, Xie Ruo berada dalam kereta kuda yang sudah disiapkan kekaisaran khusus untuknya. Jika sudah seperti ini, mau bertarung lagi juga percuma. Gurunya tidak mendukung, Menara Suci juga tidak mendukung, tidak ada teman-teman, ia hanya bisa bertindak sendiri.


Long Huo dan dua lainnya juga 'diajak' kaisar aneh itu ke dalam kereta kuda yang sama dengan Xie Ruo. Sebenarnya, ketiga naga malang itu hanya dibiarkan mengikut seperti penjaga, tapi Xie Ruo menentang. Demi kenyamanan, Zhong Guofeng terpaksa mematuhi syarat Xie Ruo dibandingkan menggunakan cara paksa.


Perjalanan membutuhkan waktu beberapa hari. Selama itu, Xie Ruo hanya diam di dalam kereta kuda melakukan kultivasi tanpa mau diganggu. Tidak ada yang berani mengganggunya, apalagi dengan penjagaan ketat Long Ying yang galak dan dua naga imut di belakangnya.


Tanpa terasa, mereka sudah sampai di ibu kota. Rombongan kereta kuda berhenti di depan gerbang istana. Xie Ruo akhirnya keluar setelah sekian lama mengurung diri dalam satu tempat.


Ia melangkahkan kakinya memasuki menara istana kaisar. Ini bukan pertama kalinya datang, tapi ini adalah pertama kalinya datang sebagai Xie Ruo setelah 10 tahun. Tidak ada yang berubah dalam istana kecuali beberapa pengurus dan sedikit perubahan desain istana yang lebih elegan dan mewah.


Ia perhatikan, penjagaan istana sekarang jauh lebih ketat. Kemungkinan akan cukup sulit menemukan jalan kecil kecuali ia menyamar. Tapi dengan pengaruh Zhong Guofeng, besar kemungkinan pria itu akan menaruh banyak mata-mata di sekitarnya.


Tak apa, toh ia juga pernah jadi mata-mata, lebih pandai dari mata-mata profesional sekalipun. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


Yang harus ia khawatirkan hanyalah ... kehidupannya yang merepotkan.


Di depannya, ada sosok pria tua berjanggut putih, memberi hormat secara perlahan seolah takut pinggangnya akan encok. Tidak mungkin Xie Ruo disuruh mengurus seorang lansia, 'kan?


"Dia adalah Guru Negara, Ming Le, guruku sejak kecil. Segala sesuatu di istana, dia yang akan mengajarkannya padamu selama masa menunggu."


"Kau menyuruhku mengurus lansia?" Xie Ruo melirik Zhong Guofeng dengan pandangan protes. Enak saja disuruh mengurus bekas gurunya begitu saja.


Pria tua itu terkekeh. "Yang Mulia, segala sesuatu jangan dilihat dari luarnya. Meski aku terlihat tua, ketika aku mengajar Kaisar saat masih menjadi Putra Mahkota, aku juga sudah setua ini."


Jadi bukankah berarti pria di depannya lebih tua dari kakeknya? Xie Ruo lihat, kekuatannya seharusnya lebih lemah dari kakeknya. Kenapa tidak utus kakeknya saja yang jelas lebih meyakinkan?


Melihat pandangan tidak bersahabat Xie Ruo, Zhong Guofeng menghela napas. Jika ada guru yang lebih berkualitas dan dapat dipercaya, ia akan menyerahkannya pada orang lain mengetahui aura Xie Ruo yang mengundang masalah. Untungnya Guru Negara Ming sangat sabar dan setia.


"Upacara penobatan permaisuri akan diadakan setelah proses adaptasi selama beberapa bulan. Selama itu, Yang Mulia akan mendalami pembelajaran tatakrama dan urusan istana. Karena Yang Mulia adalah calon permaisuri masa depan, maka tidak diperkenankan untuk bertemu orang luar terutama pria untuk menjaga kestabilan dan kesucian calon permaisuri. Yang Mulia, bisa tinggal di menara dalam pengasingan untuk beberapa waktu."


Xie Ruo tidak memiliki banyak komentar meski dalam hatinya tidak bisa diam-diam menggerutu. Menjaga kestabilan dan kesucian? Apa ia tidak salah dengar? Seingatnya, ia sudah memberitahu kaisar gila ini bahwa ia sudah menikah, tapi pria itu tidak mau dengar. Menurutnya, percuma saja diadakan masa adaptasi ini.


Tapi karena pihak lain telah memberi celah dalam masa adaptasi, Xie Ruo tidak bisa tidak menarik keuntungan. Justru ini adalah waktunya yang tepat untuk lebih dekat dengan pengadilan istana dan mencari tahu siapa sebenarnya Zhong Guofeng.


"Yang Mulia, mari saya antar." Guru Negara Ming mengarahkan Xie Ruo ke dalam istana.


Ketika masuk ke dalam, sosok wanita cantik keluar dari istana. Wajahnya bertampang poker dan membosankan, namun kecantikannya tidak membuatnya terlihat bosan sehingga siapa pun akan rela melihat wajahnya yang bagaikan dewi.


Xie Ruo kebetulan berpapasan, wanita itu meliriknya dengan pandangan dingin tanpa melakukan sapaan seperti yang dilakukan orang lain. Anehnya, wanita itu memberi perasaan akrab bagi Xie Ruo.


Guru Negara Ming menyadari aura tidak bersahabat dari dua kubu. Meski Xie Ruo tidak peduli, tetap saja permusuhan dengan jelas terasa sehingga suhu udara menjadi dingin.


"Namanya adalah Shu Xin, Penasehat Kaisar yang baru saja diganti. Sifatnya memang buruk dan sangat sulit didekati, dia hanya bicara pada Kaisar soal masalah politik dan pergi. Posisinya di istana ini juga dapat dengan mudah diabaikan, namun juga sangat diperhatikan."


"Kenapa?" Xie Ruo merasa harus tahu siapa saja yang ada di sekitar istana ini untuk mengetahui lebih jelas.


"Sebelumnya Pangeran Mingfeng datang memberi Shu Xin rekomendasi untuk dijadikan penasehat kaisar. Memang merupakan hal kontroversial, tapi entah kenapa Kaisar setuju dan membiarkannya keluar masuk istana."


Kemungkinan besar ada konspirasi di baliknya. Xie Ruo ingat, hubungan Zhong Guofeng dan Zhong Wenyue tidak baik. Jika Shu Xin hanyalah mata-mata Zhong Wenyue, seharusnya Zhong Guofeng sudah mengetahuinya dari awal.


Jika seperti itu, hanya bisa disimpulkan telah terjadi sebuah kesepakatan secara rahasia. Membiarkan seorang mata-mata keluar masuk istana dengan bebas, Zhong Guofeng pasti telah merencanakan sesuatu.


Namun, ia juga masih butuh banyak informasi mengapa Zhong Wenyue bersikeras melawan Zhong Guofeng yang jelas bukan lawannya. Untuk hal ini, ia membutuhkan bantuan Zhong Xiaorong.


"Beritahu Rongrong mengenai lokasiku." Xie Ruo memerintahkan Sarah mengirim pesan. Saat itu juga, pesan terkirim tanpa diketahui siapa pun.


Sampai di depan pintu menara utama, Guru Negara Ming memerintahkan beberapa pelayan wanita berkumpul. Mereka dikenalkan pada Xie Ruo sebagai majikan baru dan dipercaya melayani Xie Ruo dengan baik tanpa kesalahan.


Para pelayan itu memberi hormat, kemudian melanjutkan pekerjaan. Guru Negara Ming menyisakan satu pelayan untuk melayani Xie Ruo secara pribadi.


Namanya adalah Xu Ziyan, bertugas mengantar Xie Ruo dan menjelaskan berbagai hal selagi Guru Negara Ming sibuk dengan pekerjaan lain. Mereka berdua berkeliling, beberapa pelayan juga ikut berusaha bersikap akrab dengan Xie Ruo.


Hanya saja, Xie Ruo begitu dingin sehingga rombongan menjadi sunyi. Jangan salahkan Xie Ruo, ia memang seperti itu pada orang asing. Kecuali untuk menebar permusuhan, ia tidak akan banyak bicara.


Hari dilalui dengan cepat, acara berkeliling sudah selesai. Xie Ruo beristirahat dalam kamarnya yang baru. Meski kamarnya di sini tidak lebih besar dan bagus dari kamarnya di Dunia Atas, tempat ini sangat mewah untuk standar Dunia Tengah.


Satu hal yang dapat dideskripsikan untuk tempat ini, sunyi. Tidak ada siapa pun selain pelayan bekerja. Setelah semua pelayan menyelesaikan pekerjaan, tidak ada kegiatan lain menyebabkan puncak menara menjadi begitu sepi. Seolah Xie Ruo adalah satu-satunya manusia yang hidup di akhir zaman.


Ia benar-benar ... menjadi burung dalam sangkar emas.