The Emperor God Wife Is Naughty

The Emperor God Wife Is Naughty
11. Cinta? Apa itu Cinta?



Xie Ran dilanda kekacauan. Dia menyiapkan belati di tangannya yang memancarkan sinar merah. Pandangannya tajam, namun dibaliknya terdapat keengganan. Bahkan tidak sadar bahwa tangannya sedikit gemetar ketika memegang belati.


Pedang keluar dari tangan pria itu. Pedang perak panjang dan indah. Itu memiliki beberapa ukiran rumit dan energi kuat yang mendominasi.


Bahkan Xie Ran terpana melihatnya. Jika ini adalah hari lain, dia akan menanyakan banyak hal dan meminjam pedang indah itu. Tapi kondisi kali ini kritis.


Xie Ran menutup mata sejenak menekan semua perasaan tidak enak dalam hatinya. Ketika membuka mata kembali, irisnya menjadi merah seperti iblis. Pandangannya penuh niat membunuh.


Xie Ran tidak ingin terlalu lama membuang waktu. Dia harus kembali secepatnya bertemu dengan dua Naga kecil yang sedang gelisah. Dia harus menyelesaikan masalahnya dengan Klan Xie dan menebus segalanya. Dia tidak boleh mati!


Meskipun kemungkinannya kecil, dia tetap harus menang bagaimanapun caranya. Xie Ran adalah seseorang yang akan melakukan apapun untuk tetap hidup. Hidupnya ada di tangannya sendiri, bukan orang lain. Tidak ada yang bisa membunuhnya kecuali dirinya sendiri!


Xie Ran melangkah maju melancarkan serangan pertama. Pedang panjang pria itu menghalaunya dengan cepat dan kuat. Xie Ran nyaris tidak bisa bertahan dan memutar ke belakang pria itu dengan cepat.


Belatinya dihunuskan bergantian di dua tangan. Pedang terus menahan serangannya dan memberinya sayatan di beberapa sisi tanpa jeda. Tubuh Xie Ran berusaha menghindar, tapi pedang terlalu cepat hingga penghindarannya menurun dan tergores.


Darah membasahi tubuh Xie Ran. Dia mundur beberapa langkah memegang lengannya yang mengeluarkan deras darah. Pakaiannya compang-camping dengan noda merah.


Tidak bisa seperti ini!


Xie Ran menggunakan sihirnya kembali. Dia memutar sambil melemparkan pisau terbang berturut-turut beserta sihir keluar dari sana. Pisau terbang itu tidak pernah meleset dan akan terus mencari targetnya sampai menancap.


Dia mengendalikan pisau terbang dengan maksimal sedangkan pria itu menangkisnya seolah pisau terbang itu bukan apa-apa.


Selagi pisau terbang melayang di udara melakukan serangan, Xie Ran menghunuskan belatinya ke arah pria itu. Pria itu dengan cepat menyadari kemudian menarik lengan Xie Ran yang dekat di depannya dan memutarnya.


Tubuhnya tidak memiliki luka apapun, sangat kontras dengan Xie Ran. Dia menggunakan sihir melingkupi tubuh Xie Ran sebelum akhirnya terhempas jauh beberapa meter.


Xie Ran mempertahankan tubuhnya di udara dan menggunakan dinding sebagai tumpuan. Sihirnya berkelana bebas seperti benang merah membuat segalanya kacau dan beberapa barang dalam kegelapan berserakan.


Dia mengarahkan sihirnya yang seperti benang ke arah pria itu kemudian berlari dengan cepat melancarkan serangannya. Pria itu tidak banyak bergerak. Dia menahan serangan sihir itu dan menghindari sihir yang semakin tak terkendali.


Beberapa sihir dalam bentuk benang lain muncul dari berbagai arah seolah akan melilitnya. Itu meluncur secara bebas seperti ular melakukan serangan besar-besaran.


Sinar perak keluar menghancurkan semua sinar merah yang menyerang. Itu membentuk jaring dan memberi penekanan untuk semua barang magis hingga pagoda mengalami gempa.


Kekacauan pagoda sampai terasa di luar. Pagoda bergerak seperti telah menjadi gempa membuat para penjaga bingung dan berbondong-bondong membuka pagoda melupakan aturan penting.


Mereka tidak memiliki batu sihir, maka dari itu banyak panah melesat menghantam mereka sehingga beberapa penjaga ambruk dan sisanya lari. Para penjaga yang lari segera melapor pada Tang Zhi dengan cepat selama gempa masih terjadi.


Di dalam pagoda, dua sihir masih saling menunjukkan kekuatannya. Perak dan merah saling beradu dan membuat kerusakan berat pagoda lantai delapan. Beberapa tanaman spiritual juga mulai gelisah dan melakukan penyerangan. Beberapa artefak lainnya ikut menekan kekuatan yang mengganggu ketenangan mereka.


Xie Ran masih berusaha bertahan. Darah sudah keluar dari mulutnya sedangkan tangannya masih berusaha mengendalikan sihir yang terus-menerus terkorosi. Tenaganya hampir habis, tapi tidak dengan semangatnya.


Pria itu justru sebaliknya. Dia mendapat gangguan dari beberapa artefak dan menghancurkannya dalam satu jentikan. Dia melancarkan serangan kembali dengan cepat. Sosoknya berkedip seolah itu adalah bayangan dan tiba-tiba berada tepat di depan Xie Ran.


Xie Ran terbelalak. Melihat sinar perak tiba-tiba menghantamnya, dia menghindar ke bawah dan menendang kaki pria itu dengan keras.


Pria itu melompat di udara merasakan tendangan keras di kakinya. Dia melihat Xie Ran yang terguling kemudian mengarahkan sihirnya kembali ke arah gadis itu.


Xie Ran menghindarinya. Tiap kali sihir muncul menyerangnya, dia berguling sehingga ledakan terjadi. Xie Ran melompat ke atas salah satu barang. Pandangannya masih gelap dan hanya dapat melihat pria yang menyerangnya secara brutal.


Xie Ran menghindar di tiap inci dan sihir itu selalu membuat banyak kerusakan. Ketika Xie Ran akan menghindar lagi, sihir perak lainnya muncul menghantamnya dan menariknya dengan keras.


Xie Ran kehabisan banyak kekuatan mental. Dia tidak bisa melakukan serangan sihir, hanya bisa menghindar dengan tepat. Namun dia telah terhantam dan lagi-lagi jatuh di lantai yang dingin.


Dia memuntahkan seteguk darah dan merangkak berusaha meraih meja dan berdiri. Pandangannya terarah pada pria yang masih terlihat bersih tanpa noda. Xie Ran menutup mata dan menunduk seolah telah menyerah akan hidupnya.


"Aku pikir kau akan melindungiku. Terlalu naif, bukan? Kau justru yang membunuhku." Xie Ran berkata dengan gemetar dan terkekeh. Dia masih menahan rasa sakit dan menutup mata. Pikirannya benar-benar kacau tidak tahu harus bagaimana.


Pria itu hanya diam. Dia tidak menjawab satupun kalimat atau bahkan hanya kata. Dia hanya memandang Xie Ran dengan datar tanpa ekspresi bahkan tidak berkedip.


"Setidaknya, beritahu aku namamu sebelum aku mati."


Pria itu lagi-lagi hanya diam tidak mengindahkan ucapan Xie Ran. Itu membuat Xie Ran mendengus kesal dan bergumam, "Menyebalkan."


Xie Ran tidak tahu apa yang dipikirkan pria itu. Satu hal yang dia tahu, bahwa dia masih belum kalah. Selama dia masih hidup, dia tidak kalah.


Sebuah tombak muncul di sebelah pria itu. Ujung tombak mengarah pada Xie Ran yang sudah terpojok dalam keadaan kacau dan lemah. Xie Ran bahkan hanya bisa melihat tanpa bisa melawan.


"Ada hal lain yang ingin kau katakan?" Suara dingin pria itu masuk ke telinga Xie Ran.


Xie Ran hanya menampilkan senyum dangkal. "Gunung es, aku belum kalah dan tidak akan kalah. Kau tahu itu dengan pasti."


Pria itu tetap datar tidak tersentuh oleh ucapannya. Tombak memutar sedangkan Xie Ran menutup matanya seolah pasrah akan kehidupan.


Tombak yang melayang itu dengan cepat melesat ke arah Xie Ran. Xie Ran hanya diam menunggu dengan tenang seolah hidupnya sudah diserahkan.


Tombak semakin dekat dan dekat. Itu sudah berjarak setengah meter darinya dan dengan cepat suara tancapan tombak terdengar disertai benturan keras.


Besi perak menembus pakaian mengeluarkan cairan merah kental dan berbau amis. Darah menembus pakaian putih keluar tepat berpusat pada besi yang menembus dada.


Xie Ran terdiam melihatnya. Tidak ada rasa senang atau kemarahan, hanya ada kesedihan yang tidak bisa diartikan. Tangannya berlumuran darah sekali lagi. Belati di tangannya menembus dada kiri pria di depannya yang dia tikam sendiri. Tombak di belakangnya menancap dinding dan itu seharusnya meleset meski tidak menghindar.


Dalam sekejap, segalanya tidak lagi hitam seperti sebelumnya. Barang-barang mulai terlihat dan dinding serta lantai kayu terlihat.


Xie Ran mencabut belati secara spontan dan melepas belati begitu saja. Dia melihat tangannya sekali lagi yang berlumuran darah. Bagaimana dia melakukannya?


"Tidak mungkin." Xie Ran kembali ke akal sehat.


Gerakannya terjadi secara naluriah karena tekadnya yang ingin hidup. Dia menatap pria yang masih berdiri menatapnya. Dada kiri di mana jantungnya berada tertikam. Bagaimana mungkin!


"Kenapa kau tidak menghindar? Kau tidak terluka, kau bisa menghindar dengan mudah. Kenapa!" Xie Ran marah dan mengguncang tubuh pria yang masih kuat berdiri itu. Seharusnya ia senang, tapi entah kenapa ia menyesal dan sangat tidak senang.


Pada akhirnya ia mengakui, ia tidak ingin membunuh pria di depannya, tapi naluri pembunuhnya mendorong untuk membunuh secara otomatis. Kenapa pria di depannya justru membiarkan diri sendiri tertikam!


Pria di depannya tidak membunuhnya, tapi dia justru membunuhnya. Xie Ran merasakan ketakutan luar biasa hingga tubuhnya gemetar. Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Dia merasa mentalnya dipermainkan oleh sesuatu dan dia tidak bisa menahan rasa takut.


Pria itu hanya diam, tidak menjawab. Sebelum akhirnya tubuhnya jatuh ke depan tepat pada Xie Ran yang sedang frustrasi. Bagaimana ini bisa terjadi? Apa yang sebenarnya terjadi!


Xie Ran menahan tubuh pria yang sudah tidak sadarkan diri. Dia duduk dan mengguncang tubuh pria tampan itu di pelukannya.


Dia tidak mengerti kenapa pria itu sebelumnya ingin membunuhnya, dia juga tidak mengerti kenapa niatnya berubah dan justru membiarkan dirinya sendiri terbunuh. Kenapa menjadi seperti ini!


Xie Ran sengaja membuat naluri membunuhnya mengendalikannya dan menghindari tombak berpikir pria itu akan menghindar dengan mudah. Dia tidak tahu akan berakhir seperti ini.


"Jangan seperti ini. Kau belum memberitahu siapa namamu. Kau juga tidak memberitahu siapa kau sebenarnya dan menjelaskan isi kesepakatan! Bagaimana aku bisa menjelaskannya pada Long Huo dan Long Yun!" Xie Ran mengguncang tubuh pria itu dengan keras.


Pikirannya kacau dan tidak tahu harus bagaimana. Dia bingung. Tanpa sadar, air matanya menetes. Sebelumnya air mata itu hanya ada kepalsuan selama beberapa tahun terakhir. Kali ini berbeda. Xie Ran bahkan tidak menyadarinya.


Xie Ran bingung harus bagaimana. Dia seperti seseorang yang tersesat dan tidak tahu harus melakukan apa. Kebingungan ini sama seperti ketika melihat Liu Ya dan Xie Yao mati tepat di depannya. Ini mimpi buruk!


Xie Ran berteriak kesal. Kepalanya sakit dan dia merasa kondisi mentalnya dipermainkan. Kenapa ia mengalami hal seperti ini! Apa ia memang ditakdirkan kesepian? Apa Long Huo dan Long Yun juga akan mati jika bersamanya?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Long Huo dan Long Yun melihat tubuh Xie Ran yang kosong mengeluarkan air mata tiba-tiba dari mata kosongnya yang terbuka.


"Apa terjadi sesuatu?" Long Huo bertanya-tanya.


Selain luka yang cukup parah, tidak ada masalah lain. Itu masih bisa sembuh jika Xie Ran istirahat dengan baik. Tapi mereka tidak tahu kenapa Xie Ran tiba-tiba mengeluarkan air mata.


Xie Ran tidak pernah mengeluarkan air mata jika tidak ada sesuatu yang benar-benar membuatnya terpuruk dan putus asa. Bahkan jika dia akan mati, dia tidak akan mengeluarkan air mata.


Long Yun datang setelah memantau pagoda dari jauh. Tubuh panjangnya mendarat di atas ranjang dan menatap Long Huo khawatir.


"Pagoda terjadi gempa. Sepertinya memang terjadi sesuatu. Para penjaga segera melapor pada Tang Zhi dan akan datang. Master dalam bahaya!"


"Apa kita alihkan perhatiannya?" Long Huo memberi solusi namun Long Yun menggeleng.


"Master mengatakan untuk tidak menunjukkan diri lagi. Kalau kita membuat masalah untuk mengalihkan perhatian, mereka akan semakin curiga pada Master." Long Yun merasa frustrasi. Andai dia bisa mengubah wujud menjadi manusia, dia akan mengacaukan semua orang dengan berpura-pura menjadi orang gila yang menghancurkan kota.


Long Huo termenung sejenak memikirkannya. Masalah ini semakin rumit dan Xie Ran tidak ingin mereka menunjukkan diri.


Dia harus mencari cara lain. Setelah memikirkan beberapa hal, akhirnya Long Huo menemukan beberapa rencana.


"Aku tahu!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Xie Ran yang tergeletak di lantai membuka matanya. Tubuhnya terasa lemas dan kepalanya sakit. Bahkan untuk bangun saja terasa berat.


Mengingat tentang apa yang terjadi barusan, ia langsung bangun seolah telah disuntik darah ayam. Melihat ruangan kosong membuatnya terdiam.


Di mana gunung es?


Apa dia bermimpi?


Jelas-jelas dia masih merasakan sakit di seluruh tubuhnya, bagaimana itu bisa menjadi mimpi?


Xie Ran menelusuri seluruh ruangan mencari sesuatu yang salah. Ruangan sebesar ini, tidak ada hal lain yang menjadi tanda-tanda keberadaan pria itu. Hanya ada beberapa tanaman yang rusak karena pertarungan barusan dan beberapa barang yang hancur. Pernah terjadi pertarungan di sini. Tapi di mana pria itu?


Ketika mencari keberadaan pria yang telah tertikam itu, ia menemukan sebuah bunga hitam dalam kaca yang memiliki bekas darah di inti bunga. Bunga itu sedikit rusak dan berdarah seolah telah tercabik pisau.


"Bunga patah hati." Xie Ran ingin tertawa setelah membacanya. Mana ada bunga dengan nama aneh seperti itu? Yang memberi nama sangat bodoh dan tidak tahu bagaimana cara memberi nama yang bagus.


"Sialan! Kamu telah menyakitiku sekarang kau mengejekku!"


Suara wanita sarkas itu terdengar mengejutkan Xie Ran. Dia mencari asal suara sampai berputar namun tidak ditemukan.


"Manusia bodoh! Di sini!"


Kali ini lebih jelas asalnya. Xie Ran menangkap asal suara dan melihat bunga hitam yang baru saja ia tertawakan. Apa bunga itu bicara padanya? Bagaimana bunga bisa bicara?


Tiba-tiba bunga itu bergerak dengan sendirinya memukul lengan Xie Ran yang ingin menyentuhnya. Bunga yang ganas!


Xie Ran merasa kesal. "Kau ...."


"Hmph, kau telah menyakitiku dengan belatimu. Sekarang tanggung jawab!"


"Kapan?" Xie Ran bingung. Bukankah dia baru saja bertarung dengan gunung es? Kenapa bunga jelek ini yang minta tanggung jawab? Seharusnya dia yang bertanya kemana gunung es pergi setelah ditikam seperti itu.


"Baru saja." Bunga patah hati berkata dengan malas. Kelopak bunganya terluka mengurangi keindahannya. Dia merasa dirugikan!


Xie Ran kembali memikirkannya. Awal kedatangannya, ruangan dipenuhi kegelapan berbeda dengan sekarang yang memiliki sedikit cahaya walau sudah malam.


Kemudian melihat gunung es yang tiba-tiba menaruh kebencian padanya. Dari situ saja sudah terasa aneh sampai berpikir bahwa itu adalah sesuatu yang menyamar.


Setelah dipikirkan kembali, sepertinya itu benar. Bunga patah hati menyamar sebagai gunung es yang kuat untuk membunuhnya agar tidak bisa mencuri barang di sini.


Anehnya, bagaimana bisa bunga ini mengetahui rahasianya! Bahkan mengetahui tentang gunung es dan kekuatannya.


Pandangan Xie Ran terhadap Bunga patah hati menjadi dingin dipenuhi amarah yang membuat Bunga patah hati berkeringat dingin kalau itu adalah manusia.


"Kau!" Xie Ran meninggikan suaranya melototi Bunga patah hati.  Emosinya melonjak drastis.


Dia menarik Bunga patah hati begitu saja mengabaikan berbagai macam rintihan dan cacian dari bunga jelek itu. Bisa-bisanya bunga jelek ini mempermainkannya seperti itu.


Xie Ran begitu tersiksa sebelumnya menyadari bahwa dia membunuh orang yang melatihnya dengan tangannya sendiri. Itu adalah traumanya! Apa Bunga ini sudah bosan hidup!


"Bagaimana kau mengetahui tentangnya?" Xie Ran mengintrogasinya paksa.


"Tentang siapa? Aku tidak tahu yang kau maksud!" Bunga patah hati berkata dengan sedih. Dia menyesal meminta pertanggung jawaban manusia ini karena telah merusak kecantikannya. Seharusnya diam saja agar tidak ketahuan bahwa dirinya yang mengacaukan manusia rapuh ini.


"Tentang ...." Xie Ran pikir percuma saja menjelaskannya. Dia juga tidak tahu nama si gunung es. "Bagaimana kau tahu tentang rahasiaku? Kau tahu aku diracuni."


"Racun? Aku tidak merasa kau diracuni."


"Bohong!" Xie Ran mengeratkan pegangannya membuat Bunga patah hati kesakitan. Jika seperti ini terus, dia akan mati!


"Baik, baik, aku akan bicara!" Bunga patah hati menyerah. Ingin sekali dia menangis sekarang. Reputasinya sebagai tanaman primordial hancur karena manusia sialan ini!


"Cepat!" Xie Ran mendesak. Dia harus cepat-cepat pergi dari sini setelah mengambil liontin.


"Aku menggunakan ilusi untuk menyerang manusia yang datang. Aku tidak ingin dimanfaatkan, itu sebabnya aku selalu menggunakan ilusi. Tapi siapa sangka ada seseorang yang menggunakan alat sihir sehingga tidak terpengaruh ilusiku. Aku tidak bisa melakukan apapun dan hanya bisa menunggu dimakan manusia."


"Aku tidak bicara tentang latar belakangmu. Aku bertanya tentang apa yang kau lakukan padaku!" Xie Ran berkata dengan galak. Dia benar-benar marah jika kelemahannya dipermainkan seperti itu. Dia sangat marah!


"Baik, baik, baik," latah Bunga patah hati. Dia benar-benar takut dengan gadis ini. Gadis yang telah membuat lukanya menjadi mengerikan, dia sangat ingin menghukumnya tapi tidak bisa. "Aku menggunakan ilusi patah hati andalanku. Ilusiku tidak akan berpengaruh untuk orang tak berperasaan. Itu sebabnya kau terkena pengaruhnya. Aku tidak tahu apa yang terjadi dalam ilusi karena luka lama, tapi aku bisa mengendalikannya ke tingkat ekstrim dan membuat kedua belah pihak saling membunuh."


"Apa itu ilusi patah hati?" Xie Ran bertanya-tanya. Masalahnya, kenapa harus gunung es? Kenapa tidak Tang Zhi saja yang  ingin membunuhnya berkali-kali?


"Ilusi patah hati akan membuat ilusi seseorang yang kau pedulikan menjadi bertolak belakang dengan apa yang kau pikirkan. Misalkan jika kau mencintai seorang pria, maka dalam ilusi patah hati akan memunculkan pria itu dengan sifat yang berbeda dan lebih kejam. Pria itu juga akan tega membunuhmu sehingga kau tidak berdaya dan rela terbunuh. Kau tidak akan tahu apa itu asli atau palsu karena semua berasal dari ingatanmu sendiri sehingga segalanya terasa nyata."


Ilusi yang berbahaya. Padahal Bunga patah hati itu pikir manusia ini akan mati setelah mengalami luka berat. Dia sudah berpikir sosok ini pasti sangat kuat dan mendominasi sehingga gadis sehebatnya benar-benar terpojok. Hanya saja tekadnya terlalu kuat dan menghancurkan seluruh ilusi.


"Kenapa kau menjelaskan sesuatu yang rumit?"


"Apa itu rumit? Manusia akan langsung mengerti apa yang dijelaskan barusan. Apalagi manusia hidup dengan cinta."


"Cinta? Apa itu cinta? Apa itu bisa dimakan?" Xie Ran bertanya dengan polosnya. Memikirkan tentang makanan membuat perutnya berteriak. Dia tidak makan sejak pagi hingga otaknya tidak bisa berpikir jelas.


Mendengar pertanyaan Xie Ran membuat Bunga patah hati ingin mati saja. Apa manusia sekarang benar-benar tidak berperasaan sampai tidak tahu apa itu cinta? Konyol!


"Manusia, apa kau lapar?"


"Sangat." Xie Ran sudah tenang kembali. Dia lapar dan ingin makan. Sebagai pecinta makanan, dia selalu makan tepat waktu. Kadang dia mencuri makanan diam-diam di dapur dan tidak ketahuan. Dia selalu makan paling banyak di antara pelayan lain.


"Pantas saja," gumam Bunga patah hati merasa ingin menangis.


Kenapa manusia di depannya begitu bodoh!