The Emperor God Wife Is Naughty

The Emperor God Wife Is Naughty
147. Xie Ruo Adalah Aku



Makan pagi bersama untuk pertama kali diadakan. Xie Wang mengadakannya dengan tujuan agar cucu kesayangannya tidak lagi suram seperti kemarin. Para pelayan telah menyiapkan segalanya, termasuk meja dan kursi lengkap untuk masing-masing orang.


Saat Xie Wang akan menentukan di mana Qu Xuanzi duduk, ia jadi gelisah. Di mana dewa tertentu harus duduk? Dekat Xie Ran atau ... di pusat untuk menghormatinya?


Karena posisi Xie Wang lebih tinggi dari Xie Ran, sudah pasti Xie Wang ada di pusat. Lalu bagaimana dengan Qu Xuanzi? Sebagai apa dia di sini?


Jika sebagai tunangan Xie Ran, tentu saja dia harus di dekat Xie Ran. Tapi jika sebagai dewa ... tentu harus di pusat untuk mebghormatinya. Namun yang jadi masalah, Xie Wang tidak tahu harus mengaturnya bagaimana. Ia tidak bisa bertanya karena sangat tidak sopan. Apa yang harus dilakukan?


"Karena hanya kita yang tahu identitasnya, akan lebih baik jika duduk dekat Ranran. Yang Mulia juga tidak keberatan." Su Liu'er tidak tertekan seperti Xie Wang. Ia justru sangat gembira berpikir akan makan bersama seorang dewa agung yang akan menjadi menantu barunya.


"Baik ... baik ...." Xie Wang melewatkan rasa cemas itu dan langsung mengatur sesuai apa yang istrinya katakan. Istrinya yang paling benar, ia hanya pengikut ....


Tidak ada yang tahu mengapa Xie Wang merasa sangat cemas. Mereka hanya mematuhi perintah dan menyiapkan aula secepatnya.


Dua jam setelah persiapan dilakukan, semua orang berkumpul di aula. Xie Wang menyambut semuanya dengan ramah, apalagi ketika melihat cucunya yang hadir, ia semakin gembira seperti akan terbang.


Selain Xie Ran, Qu Xuanzi, dan teman-temannya, ada juga beberapa tetua yang telah dipilih Xie Wang dengan ketat. Mereka pada dasarnya juga memiliki sedikit darah klan Xie sehingga mendapat kualifikasi tetua dan dianggap keluarga. Total ada 5 tetua, dengan keluarga inti mereka sekaligus.


Mereka semua duduk di tempat yang sudah ditentukan. Qu Xuanzi ada di meja sebelah Xie Ran, pandangannya tidak terlepas dari gadis itu yang sejak awal tampak gelisah. Meski datar dan gelap, itu adalah caranya menutupi rasa gelisah.


Xie Wang merasa lega melihat dewa tertentu merasa puas dengan pengaturannya. Kemudian melihat Xie Ran yang tertekan, ia merasa sedih untuknya.


Ketika melihat Qu Xuanzi yang tampak terus memperhatikan Xie Ran dengan penuh perhatian, sedangkan Xie Ran mengabaikannya, Xie Wang semakin yakin bahwa cucunya yang keras kepala memiliki banyak masalah sampai mereka harus bertengkar. Satu lagi, sepertinya dewa tertentu akan bernasib sama seperti dirinya yang harus patuh pada istri.


Ketika para tetua datang, mereka memberi salam penghormatan untuk Xie Wang dan Xie Ran.


Mereka semua membungkuk bersamaan. "Memberi hormat pada Ketua lama. Memberi hormat pada Ketua Klan."


Xie Wang terkekeh, kemudian berkata, "Tidak perlu formal, ini adalah perjamuan keluarga, semuanya adalah keluarga. Bangunlah!"


"Terimakasih, Ketua lama." Mereka melihat Xie Ran yang tampak menyeramkan, tidak lagi berani menatapnya. Cepat-cepat mereka duduk di tempat yang disediakan sesuai posisi.


Xie Wang tersenyum sangat lebar, sedangkan Su Liu'er hanya diam-diam terkekeh akan sikap suaminya yang begitu bersemangat. Siapa yang tahu bahwa semalaman pria tua itu pusing memikirkan cucu kesayangannya yang tidak ingin ditemui sampai tidak bisa tidur.


Sedangkan Xie Ran hanya diam melihat tingkah kakeknya yang memalukan. Ia tenggelam dalam pikiran, apa yang akan terjadi pada Xie Wang jika mengetahui kebenarannya. Dia akan sangat terpukul, tapi itu harus dilakukan agar tidak selamanya tersesat.


Semakin dipikirkan, Xie Ran semakin muram dan menunduk. Ia khawatir, bagaimana jika mereka membencinya? Bagaimana jika mereka tiba-tiba memiliki penyakit jantung dan ....


Tangannya merasa hangat begitu seseorang menggenggamnya. Ia menoleh, melihat Qu Xuanzi yang mencoba mengatakan 'semua akan baik-baik saja' dengan keyakinan. Ya, ia harus percaya semua akan baik-baik saja. Daripada terus gelisah dan menghadapi kasih sayang menyakitkan, lebih baik jujur dari sekarang.


Suasana di dalam aula mendadak canggung. Setelah Xie Wang dengan pidato panjang lebarnya dan membuka makanan, semua hanya diam tanpa mengatakan apa pun.


Yan Yao dan yang lain yang merasa tidak nyaman akan ketegangan di aula, seolah sedang melaksanakan ujian atau sedang ada rapat membicarakan masalah politik. Ini perjamuan, lho! Bukan rapat!


"Kakak Yao, apa Klan Xie selalu seperti ini tiap kali mengadakan perjamuan?" Mei Liena merasa tergelitik akan kesunyian, sangat tidak sesuai dengan kepribadiannya yang rusuh.


"Entahlah, ketika Klan Xie diundang ke perjamuan antar-klan, perwakilan Klan Xie selalu yang paling pendiam." Yan Yao sendiri heran dengan gen Klan Xie yang aneh.


"Mungkin, memang sudah keturunan." Zhong Xiaorong berasumsi. Biasanya di istana, tiap kali ada perjamuan, selalu ada mangsa gosip dan sindiran setiap saat setiap generasi.


"Tapi, kenapa Ketua lama tidak seperti seseorang yang membosankan? Dia juga terlihat tertekan." Liu Chang sejak tadi memperhatikan. Kepribadian Ketua lama yang paling berbeda.


"Mungkin, salah tempat." Zhou Kui bicara asal.


"Shhh." Pei Xi langsung memperingati mereka yang suka bergosip. Menurut etika, tidak boleh bicara ketika makan.


"Sepertinya hanya Kakak Xi yang cocok di sini." Mei Liena berbisik dengan suara yang sangat kecil. Mereka berlima langsung mengangguk pelan hampir bersamaan.


Seperti yang dikatakan Liu Chang, Xie Wang merasa tertekan dan canggung sendiri. Semuanya sangat tenang tanpa mengatakan apa pun, sedangkan ia mencoba memikirkan suasana agar asik, tapi tidak bisa. Kenapa semua keturunan Klan Xie menjadi seperti ini!


Melewati huru-hara kecanggungan dan kesunyian, perjamuan selesai setelah beberapa perbincangan singkat di akhir makan bersama. Semua orang pergi setelah memberi salam penghormatan, sedangkan Xie Wang memijit pelipisnya merasa semua ini tidak sesuai ekspetasi.


Di mana keharmonisan keluarga? Di mana tawa canda dan kebahagiaan yang ia harapkan? Kenapa semuanya berakhir canggung dan sunyi? Ini semua sama saja seperti hari biasa!


"Kakek, Nenek, ada yang ingin kukatakan." Xie Ran tiba-tiba berdiri setelah sekian lama diam dalam perasaan rumit.


Mereka berdua melihat Xie Ran, kemudian tersenyum lega. Akhirnya Ranran mereka mau bicara setelah sekian lama membisu. Lupakan betapa canggung perjamuan, mereka sudah sangat senang melihat Ranran mereka bicara setidaknya hanya satu kalimat.


"Ranran, santai saja, tidak perlu tegang. Apa yang ingin kamu katakan?" Xie Wang menanggapinya dengan penuh kasih sayang, mencoba mendengarkan apa yang ingin dikatakan cucunya.


"Tentang ibuku ...."


Masih ada keenam teman-teman Xie Ran di sini, mereka juga penasaran. Namun ketika Xie Wang melirik mereka, memberi isyarat untuk mendapat privasi, mereka barulah pergi. Masalah keluarga, tidak ada siapa pun yang boleh mengetahuinya.


Setelah keenam anak-anak itu telah pergi, Xie Ran langsung bicara, "Kau tahu identitas ibuku?"


Xie Wang diam dan bertukar pandang dengan Su Liu'er, tampak ada sesuatu yang sedang dipertimbangkan. Dugaan Xie Ran benar, mereka berdua tahu semuanya. Juga tentang 'kematiannya'.


"Ranran, apa kamu juga tahu?" Xie Wang mencoba memastikan.


"Ketika di Benua Lava, aku bertemu sepupu jauh, putra saudari ibu."


Xie Wang menghela napas. Pantas saja pertanyaan itu tiba-tiba keluar, rupanya ada yang membocorkan. Tapi itu bukan masalah besar.


"Aku tahu. Sebenarnya, bukan itu hal yang ingin kutanyakan. Aku ingin bertanya, bagaimana Xie Ruo bisa mati, ada apa dengannya?"


"Xie Ruo ...."


Xie Wang nyaris tidak bisa berkata apa-apa. Rupanya tidak hanya membocorkan identitas Wen Xi melainkan cucu lainnya yang malang.


Su Liu'er menggantikan ucapan Xie Wang yang kaku. "Ketika masih dalam kandungan, Leluhur Xie Jin berkata, kamu mewarisi energi murni milik ibumu, tapi terlahir sebagai manusia dan memiliki tubuh yang lemah, sedangkan Ruoruo terlahir bukan sebagai manusia, tapi naga. Meski begitu, sebagai naga, Ruoruo tidak bisa berada di tempat yang sama denganmu, sehingga salah satu dari kalian harus digugurkan ...."


Namun saat itu, Wen Xi tidak ingin kehilangan keduanya, sehingga harus mempertahankannya sampai lahir. Tapi semakin lama, kondisi semakin memburuk. Xie Ran dalam kandungan terlalu lemah, tanda kehidupannya semakin samar. Jika Wen Xi melahirkan di saat seperti itu, nyawanya akan terancam. Keduanya bisa tidak selamat, Wen Xi juga bisa tertarik ke dalamnya.


Xie Jin datang setelah sekian lama, mengatakan bahwa ia memiliki solusi. Jika Wen Xi ingin keduanya selamat, maka salah satu dari mereka harus berada di dunia yang berbeda. Keduanya harus dipisahkan agar kehidupan mereka tidak terancam. Keberadaan Xie Ruo membunuh Xie Ran, sedangkan keberadaan Xie Ran menghambat Xie Ruo. Keduanya tidak boleh ada di dunia yang sama.


Maka dari itu, ketika melahirkan, anak yang keluar pertama akan pergi ke dunia lain, dan itu adalah Xie Ruo.


Setelah hari itu, Xie Ruo dinyatakan meninggal, meski sebenarnya masih hidup. Selain Wen Xi, Xie Yun, dan Xie Jin, tidak ada yang pernah melihatnya, bahkan Xie Wang dan Su Liu'er tidak tahu bagaimana rupanya.


Setelah menceritakan hal tersebut, masih tidak ada ekspresi di wajah Xie Ran. Xie Wang dan Su Liu'er menjadi gelisah akan reaksi cucu mereka yang sulit ditebak.


"Ranran, Ruoruo tidak bermaksud seperti itu, jangan menyalahkannya." Xie Wang takut cucu satu-satunya ini memiliki pemikiran menyimpang.


"Dia akan membunuh Xie Ran, dia juga hidup menderita, kenapa tidak bunuh saja?" gumam gadis itu, suaranya nyaris tidak terdengar. Ia menatap Xie Wang dan Su Liu'er bergantian. "Sebenarnya, Xuanzi pernah ada di dunia di mana Xie Ruo berada. Mereka saling kenal."


Pandangan Xie Wang dan Su Liu'er terarah pada Qu Xuanzi yang sejak tadi hanya diam. Merasa dipandang, Qu Xuanzi memandang mereka balik. Xie Wang langsung menunduk spontan, tidak berani melihat mata dingin itu.


"Yang Mulia, apa kamu tahu bagaimana keadaannya? Dia baik-baik saja?" Su Liu'er bertanya. Meski tidak tahu bagaimana Qu Xuanzi dan Xie Ruo saling kenal, ia percaya kata-kata cucunya.


Qu Xuanzi melirik Xie Ran, yang merupakan Xie Ruo asli. Gadis itu diam untuk beberapa saat, kemudian berkata, "Aku ... ingin lihat makamnya."


Xie Wang dan Su Liu'er tidak bisa melakukan apa pun, hanya bisa menurut. Mereka memimpin jalan, keluar dari aula untuk pergi ke makam.


Jaraknya cukup jauh meski masih berada di kawasan Klan Xie. Su Liu'er mengatakan, makam Xie Ruo didirikan sejak 18 tahun yang lalu, ketika dilahirkan, tidak pernah diubah. Alasan mereka memindahkan Klan Xie ke tempat ini juga karena adanya makam Xie Ruo.


Mereka tidak membuat makam di dalam klan sebelumnya, karena tidak ingin orang-orang mengetahuinya. Keberadaan Xie Ruo adalah rahasia besar, jika musuh tahu, maka akan mengambil kesempatan melalui masa lalu untuk menjatuhkan Klan. Segalanya akan terungkap, energi murni dan aura naga juga akan terungkap.


Mereka memasuki sebuah paviliun. Di dalamnya terdapat banyak lilin yang menyala, disertai interior kayu klasik didukung oleh gorden putih. Di bagian ujung, terdapat altar doa disertai beberapa papan nama.


Tidak hanya ada nama Xie Ruo yang tertulis, Xie Yun dan Wen Xi yang baru dibuat juga ada di sana.


"Akan sangat bagus jika altar ini tidak ada, kita sekeluarga bisa berkumpul secara lengkap." Su Liu'er menghela napas.


"Bukankah mereka sudah berkumpul seperti semula? Pada akhirnya, aku yang ditinggalkan."


Mereka semua menatap Xie Ran yang baru saja bicara. Terutama Xie Wang dan Su Liu'er yang tambah cemas sekaligus bingung. Kenapa Ranran mereka mengatakan hal seperti itu?


Ia melihat Xie Wang dan Su Liu'er dengan senyuman kecut. "Tadi kalian bertanya tentang seseorang, aku akan menjawab. Xie Ruo, sudah mati."


Xie Wang dan Su Liu'er tiba-tiba merasa dada mereka sakit. Meski mereka tidak memiliki kesan pada Xie Ruo, gadis malang itu tetap cucu mereka. Jika ada di sini, mungkin saja prestasinya akan melebihi Xie Ran, atau bahkan klan Xie tidak akan mengalami penurunan drastis karena Huai Mao.


"Tenggelam dalam keputusasaan, bangkit dalam ketidakberdayaan. Pada akhirnya, jatuh pada rasa bersalah."


"Ranran—"


"Kakek, nenek ... tidak hanya Xie Ruo yang mati, Xie Ran juga sudah mati." Ia akhirnya mengatakan kebenaran, kebenaran yang sulit dipercaya.


Xie Wang dan Su Liu'er menghampiri cucu mereka dengan cemas. Mengapa mengatakan hal buruk dan sial? Tidak seharusnya hal itu dikatakan.


"Ranran, kamu baik-baik saja, tidak akan terjadi sesuatu." Xie Wang menangkup bahu cucunya dengan perasaan gelisah. Apa cerita barusan membuat Ranrannya merasa bersalah? Atau marah? "Meskipun kamu marah, kamu tidak boleh mengatakan hal sial seperti itu."


"Aku tidak marah. Xie Ruo ... adalah aku."


...----------------...


Finish, pengakuan berakhir 💃


Mulai bab besok, aku akan ganti nama Xie Ran menjadi Xie Ruo, pakek nama aslinya biar nggak pusing. Jadi jangan bingung, ya~


So, ceritanya ini tuh ide dadakan wkwk


Tapi dari awal cerita aku niatnya mau munculin karakter Xie Ran asli, tapi masih bingung nanti mau manggil Xie Ran (Xie Ruo) pakai nama apa. Tadinya pengen Isabella aja, tapi terlalu barat. Masa Sang Ran? Nama itu kan dah nggak dipake sejak jadi Isabella. Gini nih kebanyakan nama 😭😂


Fix, pakai Xie Ruo aja. Jangan kebalik sama Ann Rou yaa, beda lho 😂


Kalian kalau bingung tanya aja. Kebanyakan teori emang, kepala sampai pusing mikirin teori sana sini. Tapi mau gimana lagi dong supaya logis, soalnya kan mau munculin Xie Ran asli ... nah kan spoiler 🤭


Jadi, nulis itu gampang gampang susah, tapi seru. Kalau masih bingung sama alur/teori/urutan kejadian waktu, aku udah siapin semuanya di draft (kalau mau) karena di cerita semua teori aku sisipin sedikit demi sedikit sampai bingungin—muter-muter kayak roller coaster.


Btw, kalau mau pict chara juga bisa aku kasih kapan-kapan kalau mau, mumpung di galeri banyak art cogan dan cecan sampai numpuk nggak tau mau diapain.


Dadah buat besok~