
Kekaisaran Zhongbu meningkati masa damai dalam beberapa tahun terakhir. Orang-orang melakukan kegiatan dengan normal. Tidak ada perang, tidak ada pertumpahan darah. Hal itu membuat udara sejuk bersalju menenangkan pikiran sosok wanita yang berdiri di balkon istana.
Sosoknya tampak sederhana, melihat pemandangan di depannya dengan senyum tipis yang penuh ketenangan. Hingga akhirnya suara derap langkah kaki terdengar, ia pun menoleh.
"Sudah kukatakan untuk tidak lari sembarangan, apa kau tidak ingin menuruti ucapan ibumu?" Wanita itu bersedekap dada melihat bocah lelaki—sekitar 5 tahun—terdiam menatapnya dengan polos.
"Ibu ...." Lelaki kecil itu sepertinya akan menangis.
Sosok lain muncul dari balik pintu, kemudian buru-buru berdiri di depan lelaki kecil itu dan menatap wanita bermahkota yang tampak kesal. Sosok itu adalah seorang anak perempuan dengan fitur manis dan imut seperti bayi. Meski umurnya setahun lebih tua dari lelaki kecil di belakangnya, ia terlihat jauh lebih muda sehingga membuat siapa pun luluh ketika melihatnya.
"Bibi, aku yang mengajaknya bermain." Anak perempuan itu memandang wanita di depannya sambil mendongak.
"Xiao Xiao? Sejak kapan kamu datang?" Wanita itu terkejut.
Anak kecil itu cemberut dan merajuk. "Aku memaksa Paman Xi untuk mengantar kemari. Sangat membosankan di rumah, aku tidak suka menjadi pengangguran."
Wanita itu mengerutkan kening. "Pei Xi? Lalu ... di mana Feng Xiu?"
"Tertinggal, mungkin. Aku sudah menyeretnya untuk ikut, tapi dia keras kepala tetap di Dunia Atas. Jadi mungkin saja ketika Paman Xi membawa kami, Xiao Xiu sengaja tertinggal di portal." Bocah itu menjelaskan dengan wajah polosnya.
Wanita itu tidak habis pikir. Wajahnya mengerut dengan ekspresi jelek, kemudian melihat ke arah sosok pria yang dengan tak tahu malu duduk santai di kursi memandang mereka. Meski tidak ada ekspresi, pria itu tetap terlihat menyebalkan.
"Kakak Xi, apa kau begitu senggang?" Wanita itu bersedekap dada, melihat pria yang acuh tak acuh padanya.
"Sepertinya kau harus menurunkan tingkat ketegasanmu."
"Tapi sekarang musim dingin, Xiao Xiao tidak boleh keluar sembarangan."
"Bibi, aku boleh bermain dengan Yan Hai?" Bocah perempuan itu tiba-tiba hadir di antara mereka sambil menyeret lelaki kecil yang tampak tertekan.
"Ibu ...." Lelaki kecil itu terlihat memohon diizinkan.
Wanita yang merupakan Zhong Xiaorong menghela napas. Ia melirik Pei Xi yang masih terlihat santai dengan sinis, kemudian melihat dua bocah itu dan mengangguk mengiyakan. Pada saat yang sama, dua bocah itu bersorak dan melompat seperti kelinci.
Tapi bukannya pergi, anak perempuan itu malah menarik-narik Zhong Xiaorong.
"Apa?" Zhong Xiaorong tertekan.
"Aku akan mengajak Yan Hai bermain dengan Xiao Xiu di Dunia Atas. Setidaknya, aku berusaha membuat Xiao Xiu tidak membosankan. Bibi Liena sudah menunggu."
"Terserah apa yang ingin kamu lakukan." Zhong Xiaorong mengangkat tangannya menyerah. Bocah itu terlalu keras kepala untuk ditolak. Lagi pula, tidak ada bahaya.
Setelah dua bocah itu pergi dengan langkah riang, Zhong Xiaorong melirik Pei Xi dengan tatapan sendu. Ia tahu apa yang Pei Xi pikirkan ketika melihat punggung anak perempuan itu menjauh.
"Dia sangat mirip dengan Ruoruo, 'kan? Itu sebabnya kau tidak bisa menolak."
Pei Xi melihat wanita itu sekilas, kemudian beranjak. "Aku sibuk." Ia pun pergi tanpa mengatakan sepatah katapun. Ia melihat Yan Yao datang dari ruangan lain, kemudian melaluinya setelah memberi sapaan singkat.
Yan Yao terlihat bingung, kemudian mendekati Zhong Xiaorong yang tampak murung. "Ada masalah?"
"Sepertinya Kakak Xi masih tidak bisa melupakan Ruoruo. Sudah 6 tahun aku tidak melihat tatapan apa pun di matanya." Zhong Xiaorong menghela napas. Kematian Xie Ruo saat itu adalah pukulan besar terhadap mereka. Tidak ada angin ataukun badai, tiba-tiba saja mereka kehilangan kabar dan mendengar bahwa Xie Ruo telah pergi dari Mei Liena. Sampai sekarang, Mei Liena tetap bungkam penyebab kematian Xie Ruo.
"Dia butuh waktu." Yan Yao mengerti perasaan Pei Xi. Pei Xi merasa bersalah dan kehilangan, oleh karena itu ia merasa harus menjaga Qu Fengxiao dan Qu Fengxiu untuk Xie Ruo. Hanya itu yang bisa dilakukannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tiba di Dunia Atas, Qu Fengxiao menyeret Yan Hai di sekitar istana langit. Mei Liena memperhatikan dari jauh sambil bersedekap dada. Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Qu Fengxiao yang terlalu blak-blakan. Berbeda jauh dengan kembarannya.
Mereka berdua berhenti berlari begitu melihat sosok Dewi Kehidupan merenung dengan sedih di tepi air mancur. Qu Fengxiao mendekati dengan penasaran.
"Dewi Kehidupan, ada masalah?" Qu Fengxiao berjongkok di depannya sambil mendongak. Iris birunya yang menyala terlihat penuh rasa penasaran.
Dewi Kehidupan melihat kehadiran anak itu, kemudian memasang senyum menyedihkan. Ia menunjukkan sebuah batu permata yang hancur berkeping-keping dalam keadaan gosong seperti arang.
"Apa ini?" Qu Fengxiao bingung.
"Permata roh di tongkatku. Seseorang meminjamnya, kemudian mencobanya berulangkali sampai percikan api keluar dan meledak. Kau tahu apa yang dia katakan? 'Hanya barang bodoh dan rusak, beli saja yang lebih bagus'."
Sepertinya Qu Fengxiao tahu siapa yang membuat masalah. Ia langsung berdiri, kemudian berkacak pinggang. "Tidak bisakah sedikit menghargai barang orang lain?" Ia berbalik melihat sosok lelaki kecil yang tampak gelap tak jauh darinya berada.
Lelaki kecil itu sangat manis dan tampan. Namun di balik rupa manis tak bersalahnya, ia memiliki mata merah yang mengerikan dan tajam. Ia tampak dingin dan tak tersentuh. Meski masih kecil, ia sudah menunjukkan aura mencekam tiap kali tatapannya jatuh pada seseorang.
Di saat Yan Hai di sisi Qu Fengxiao menggigil ketakutan dan bersembunyi seperti kucing, Qu Fengxiao malah mendekati lelaki kecil itu dan menjitak dahinya dengan keras. Ia tampak sangat gemas melakukannya.
Lelaki kecil itu hanya diam memandang kembarannya dengan dingin. Sedangkan yang ditatap malah menunjukkan ekspresi kesal yang kekanakan.
"Apa lihat-lihat!" Qu Fengxiao sangat kesal. Kenapa ia bisa memiliki kembaran seperti ini?
"Aku memiliki mata," balas lelaki kecil itu. Ia adalah Qu Fengxiu yang jarang terlihat. Selain karena matanya yang menunjukkan ras iblis sehingga membuat siapa pun enggan, identitasnya yang lain juga membuatnya begitu penyendiri.
"Dewi Kehidupan kehilangan permata di tongkatnya, apa itu salahmu?" Qu Fengxiao langsung pada intinya.
Qu Fengxiu menyipitkan matanya, kemudian melirik Dewi Kehidupan yang cengeng. Ia mencibir, "Cengeng."
"Aku bicara padamu." Qu Fengxiao kesal diabaikan.
"Harus kuganti berapa?" Qu Fengxiu tidak ingin berdebat terlalu lama. Ia malas bicara banyak.
"Memangnya bisa diganti dengan uang? Kalai bisa, memang kau punya uang?"
Qu Fengxiu mengeluarkan sebuah kantung kecil dari sakunya kemudian melemparnya begitu saja sampai emas bertebaran dari dalamnya. Emas yang lebih banyak daripada kapasitas kantung kecil yang dipakai. "Pakai saja."
"Apa kau perlu tahu? Tidak semua hal bisa kau ketahui."
"Kau mencuri!"
"Seseorang memberikannya padaku, dan aku tidak butuh itu." Lelaki kecil itu pergi setelah mengatakannya. Masa bodo dengan semua ekspresi itu. Ia hanya ingin berkultivasi dengan tenang.
Dewi Kehidupan lebih terkejut melihatnya. Emas sebanyak itu, ditambah kantung kecil berkapasitas luas, dari mana Qu Fengxiu mendapatkannya? Meski mereka sangat kaya, tapi selama ini Qu Fengxiu tidak pernah menyentuh apa pun selain kebutuhan pokok.
Qu Fengxiao meraih kantung kecil itu dan melihatnya dengan teliti. Ketika memperhatikannya, tatapannya penuh kejutan seolah mengenalinya. Ia menoleh ke arah Qu Fengxiu yang menjauh.
"Kau ... mendapatkannya dari siapa?" tanya Qu Fengxiao.
Qu Fengxiu menghentikan langkah untuk sesaat, kemudian berkata, "Seseorang yang sudah mati."
"Bohong." Qu Fengxiao tahu dengan jelas.
"Kau tahu aku bohong, berarti kau sudah tahu siapa. Kenapa masih bertanya?" Qu Fengxiu meliriknya sekilas.
"Xiao Xiao, siapa yang kau maksud?" Dewi Kehidupan bertanya dengan penasaran. Mei Liena juga ikut bergabung.
"Paman tampan," jawab Qu Fengxiao dengan enggan.
"Paman tampan?" Dewi Kehidupan tambah bingung.
"Apa Pei Xi? Zhou Kui? Liu Chang? Yan Yao?" Mei Liena mencoba menebak.
"Lebih tampan lagi." Qu Fengxiao dengan sabar memberitahu.
"Apa salah satu dewa? Siapa namanya?" Dewi Kehidupan merasa agak aneh. Dewa mana yang bisa mendekati Qu Fengxiu dengan berani. Apalagi Qu Fengxiu menyimpan barangnya—meski pada akhirnya dibuang.
"Tidak tahu." Qu Fengxiao menggedikkan bahu.
"Bagimana kau memanggilnya?" Mei Liena masih penasaran. Siapa yang bisa membuat Qu Fengxiu menerima barangnya? Bahkan sampai saat ini, yang bisa membuat Qu Fengxiu mengalah hanya Qu Fengxiao saja.
Qu Fengxiao tersenyum lebar sambil menjawab dengan riang. "Ayah."
Mereka berdua sangat terkejut. Keduanya saling bertukar pandang, kemudian memandang Qu Fengxiao sekali lagi.
"Di mana dia?" Dewi Kehidupan bertanya dengan serius. Jika benar itu adalah Qu Xuanzi, ia ingin tahu kenapa pria itu menghilang selama bertahun-tahun dan tak kembali sejak kematian Xie Ruo. Meski ia menebak seharusnya Qu Xuanzi ada di Dunia Dewa, tapi kenapa meninggalkan dua anaknya di dunia yang berbeda?
"Kamu yakin dia ayahmu?" Mei Liena bingung. Bisa saja Qu Fengxiao salah sangka atau salah mengenali.
Qu Fengxiao melihat mereka berdua dengan heran. Apa perlu seheboh itu? "Dia ... datang dari tempat lain. Aku tidak tahu di mana. Tapi ketika Xiao Xiao kedinginan, dia datang. Lalu, dia juga datang kapan saja dan di mana saja. Oh iya, Xiao Xiao hanya memanggilnya ayah, tapi dia sebenarnya guru Xiao Xiao."
"Guru?" Mereka berdua menyebut hampir bersamaan. Ketika Qu Fengxiao menjelaskan mengenai gejala tubuh yin yang datang, mereka yakin bahwa seseorang yang datang adalah Qu Xuanzi. Tapi ... bagaimana bisa menjadi guru dan murid? Hal ini membuat mereka berpikir keras.
"Ya, guru. Xiao Xiao yang memintanya karena Xiao Xiao tidak punya ayah dan ibu. Jadi, karena dia tampan dan menyembuhkan Xiao Xiao yang kedinginan, Xiao Xiao memanggilnya ayah dan mengakuinya sebagai guru."
"Xiao Xiao ...." Mereka berdua jadi sedih ketika mendengar Qu Fengxiao mengatakan bahwa ia tidak memiliki orang tua.
"Tapi aku bingung. Bagaimana Xiao Xiu bisa tahu dan menerima kantung yang mirip punyaku? Apa Ayah juga mendatangi Xiao Xiu?" Qu Fengxiao tampak berpikir.
"Kau juga ada?" Dewi Kehidupan nyaris menahan napas.
"Ya. Tapi isinya bukan emas. Karena Ayah adalah Guru Xiao Xiao, jadi isinya adalah buku-buku sihir dan buku pelajaran. Ada sangat banyak, Xiao Xiao bingung harus mulai dari mana." Qu Fengxiao membocorkan segalanya tanpa henti membuat mereka berdua tidak bisa tidak menjatuhkan rahang.
Mei Liena lebih terkejut. Ia sampai tidak bisa berkata-kata. Jika sudah seperti ini, ia semakin yakin kalau itu adalah Qu Xuanzi. Tapi ... kenapa dia tidak menunjukkan diri dan mengatakan bahwa ia adalah ayah mereka? Kenapa dia menyembunyikan identitas?
Qu Fengxiu yang tidak jadi pergi hanya memandang mereka dari kejauhan sambil mendengus. "Bodoh."
Sosok pria berdiri di sebelahnya. Pria tinggi dan ramping dengan rambut perak yang sama seperti Qu Fengxiu. Ia melihat gadis kecil yang dengan sengaja membocorkan segalanya tanpa henti dan tanpa istirahat.
"Jika kau berkata untuk merahasiakannya, dia akan merahasiakannya." Qu Fengxiu berkata dengan nada datar tanpa menoleh.
Pria di sampingnya tetap terlihat tenang. "Tidak perlu."
"Itu sebabnya kau tidak mengatakan segalanya." Qu Fengxiu mengambil kesimpulan. "Jika kau berkata bahwa Ibu masih hidup, mungkin dia akan senang."
Pria yang merupakan Qu Xuanzi melirik Qu Fengxiu sekilas. Kemudian pandangannya terarah pada Qu Fengxiao kembali. "Seseorang tidak ingin aku membicarakannya."
"Apa aku salah atau benar?" Qu Fengxiu menanyakan pertanyaan yang tidak bisa dijawab secara langsung oleh Qu Xuanzi. Sedangkan Qu Xuanzi hanya diam, Qu Fengxiu mendengus. "Setidaknya beri sebuah pernyataan kebohongan."
Qu Xuanzi bukannya tidak mau mengatakannya, tapi ia tidak bisa. Ia berjanji pada Xie Ruo, maka ia akan menepatinya. Ia selalu ada di Tiga Dunia, karena di tempat inilah, ia bisa merasakan kehadiran Xie Ruo meski tidak dapat melihatnya.
Ketika membawa Xie Ruo ke Dunia Dewa, ia mendapat syarat khusus untuk kebangkitan Xie Ruo. Xie Ruo sudah mati, tapi dia akan dihidupkan kembali karena jiwanya yang tidak benar-benar hancur karena racun iblis.
Namun proses kebangkitan membutuhkan waktu yang sangat lama. Bisa setahun, sepuluh tahun, atau bahkan ribuan tahun. Sama seperti berinkarnasi, namun dengan tubuh yang sama.
Tapi untuk melakukan kebangkitan, jiwa Xie Ruo akan berkelanan bebas dan berkultivasi sebagai jiwa. Xie Ruo adalah Dewi Naga, ia akan menjadi Dewi Memori setelah kematiannya dan tidak dapat terlihat bahkan oleh Qu Xuanzi sekalipun. Qu Xuanzi seharusnya dapat melihatnya, tapi syarat dalam proses kebangkitan ini meminta bayaran agar Qu Xuanzi tidak dapat melihat Xie Ruo di mana pun ia berada.
Untuk hidup kembali, Xie Ruo harus mencapai kekuatan yang sesuai dengan kualifikasi Dunia Dewa. Ia akan hidup kembali di Dunia Dewa di mana tubuhnya berada.
Sampai saat itu tiba, Qu Xuanzi akan menunggu. Ia hanya akan muncul setelah Xie Ruo kembali. Pada saat itulah, keluarga mereka akan kembali lengkap seperti 6 tahun yang lalu.
Tanpa mereka ketahui, sosok transparan hadir di antara ayah dan anak yang saling diam tanpa interaksi. Sosoknya yang pucat berdiri di samping Qu Xuanzi tanpa disadari siapa pun, kemudian bersandar padanya.
"Tunggu aku sedikit lama."
Qu Xuanzi dapat merasakan sesuatu yang dingin hadir di sisinya. Ia tersenyum samar, merasakan sesuatu yang sangat ia rindukan ada di dekatnya. Dalam sekejap, hatinya merasa tenang.