
Di salah satu kota, tidak tahu dari ibu kota, Mei Liena berkeliling untuk mencari makanan. Sudah seharian sejak mereka pergi dari Klan Yan, kini mereka bertiga berpencar untuk berbagi tugas.
Tugas Mei Liena adalah mencari penginapan sekaligus rumah makan dengan makanan enak. Sebenarnya, Pei Xi dan Zhou Kui hanya menugaskannya mencari penginapan. Tapi tidak sah jika tidak sekalian mencari rumah makan.
Dengar-dengar dari rakyat sekitar, ada penginapan disertai rumah makan terenak dan terkenal di kota ini. Tentu Mei Liena tidak akan melewatkannya sebagai kedok pencarian penginapan.
Ia pergi, memasuki penginapan dengan riang sambil mengirim pesan pada Zhou Kui dan Pei Xi untuk segera datang dan beristirahat. Ia duduk di salah satu kursi, lalu memesan makanan yang direkomendasikan pelayan.
Dua pria itu pasih belum datang dan tidak membalas pesan. Hanya Zhou Kui, namun hanya satu kata 'ya' tanpa basa-basi. Padahal Mei Liena sudah membuat kalimat terbaik dan menyenangkan agar dibalas dengan cara menyenangkan. Para pria sama saja!
"Huh, awas saja, aku akan menghabiskan uang kalian berdua!" Mei Liena merajuk tidak jelas. Ia meletakkan kepalanya di atas meja dan beralaskan kedua lengan. Hanya melihat penginapan yang ramai akan pengunjung, ia menjadi bosan.
Ketika tengah melamun dalam diam menunggu makanan tiba, ia didatangi oleh seorang lelaki kecil dan imut, terlihat seperti berusia 7 tahun. Lelaki kecil itu melihatnya dalam diam dengan mata bundar yang menggemaskan, itu persis membuat Mei Liena bersemangat.
"Ada yang bisa dibantu, adik kecil?" Mei Liena menegakkan punggungnya, melihat bocah itu dengan senyuman terbaik. Mana bisa ia memasang wajah jelek di depan anak-anak, takutnya anak-anak itu kabur darinya.
"Kakak, ada yang mencarimu," katanya sambil menoleh ke arah lain.
Mei Liena mengikuti arah pandang bocah itu. Di depan sana, terdapat beberapa sosok berjubah hitam memandangnya. Perasaan Mei Liena tidak enak.
Pandangan Mei Liena terarah pada anak kecil itu dengan perasaan cemas. "Kamu kembalilah ke keluargamu dan pergi, penginapan ini akan ditutup."
"Tapi, mereka membawaku untuk menemuimu." Bocah itu mendekatkan wajahnya ke telinga Mei Liena. "Mereka iblis."
Tepat pada saat itu, sebuah benda runcing menebas tubuh bocah itu dalam sekali tebasan. Mei Liena mematung, matanya terbelalak melihat bocah manis yang baru saja bicara padanya jatuh dipenuhi darah dalam keadaan tubuh yang terpisah. Hati Mei Liena bergetar melihatnya.
Benda runcing itu kembali diangkat. Mei Liena dengan cepat siaga dan melompat begitu benda runcing itu mendarat ke kursi dan menghancurkannya dalam sekali hantaman.
Mei Liena mengeluarkan cambuknya sambil menghindari serangan lain dari belakang. Ia melompat, lalu memegang kayu yang bergantung di atas sehingga tubuhnya bergantung. Cambuk diayunkan menebas beberapa sosok hitam dan melilit leher mereka. Ketika cambuk ditarik, kepala mereka terpisah, menyemburkan darah hitam yang menyebar ke tiap sisi ruangan.
Penginapan kini dipenuhi dengan ramainya teriakan pengunjung. Mereka semua berhamburan keluar baik melalui jendela maupun pintu, sepenuhnya berfokus melindungi diri sendiri dari serbuan iblis yang tiba-tiba muncul dari berbagai arah.
Mei Liena melepas pegangan pada kayu dan mendarat ke bawah. Ia menyipitkan mata melihat mata merah iblis-iblis itu. "Sudah dimulai rupanya."
Para iblis itu menyerang secara brutal dan dengan sengaja membunuh beberapa manusia di sekitar untuk merepotkan Mei Liena. Mei Liena mau tidak mau harus menolong beberapa orang sambil melindungi diri sendiri dari serangan agar tidak ada terlalu banyak korban.
Namun iblis-iblis itu tidak kunjung mati. Mereka justru lebih banyak begitu serbunuh seolah bisa membelah diri. Meski kekuatan mereka berada di bawahnya, jumlah mereka terlalu banyak!
"Terlalu banyak ...." Mei Liena mulai kesulitan menangani banyak iblis sekaligus melindungi manusia-manusia yang ditargetkan.
Ia dengan cepat membawa orang-orang keluar melalui jendela, lalu menyelamatkan siapa pun sebisanya sebelum pergi. Setelah melempar beberapa orang keluar penginapan agar selamat, ia menyelinap keluar melalui jendela lantai atas dan pergi ke atap penginapan untuk menghindari massa.
Tapi begitu ia sampai di atap, hal yang tidak pernah ia pikirkan terjadi.
Iblis-iblis itu tidak hanya menyerangnya, melainkan juga seluruh kota.
Darah bersimbah di mana-mana. Semua orang yang baru saja ia selamatkan, kini jatuh ke tangan iblis dan harus dipenuhi darah dengan anggota tubuh yang tidak lengkap. Teriakan menggema di tiap penjuru kota, sihir demi sihir disatukan, menciptakan ledakan di mana-mana disertai korban yang tidak terhitung jumlahnya.
Kini tanah berubah menjadi tumpukan mayat, air berubah menjadi darah merah yang mengalir deras baik di kolam maupun danau. Kota ini sudah menjadi kota neraka.
Mei Liena terlalu terkejut dengan pemandangan ini. Ia termundur beberapa langkah sambil menahan gejolak emosi yang muncul. Ini semua terlalu buruk. Sepertinya, Dewa Iblis sudah berniat memunculkan diri sepenuhnya.
Pei Xi dan Zhou Kui mengirim pesan bersamaan pada Mei Liena. Mereka mengatakan hal yang sama dengan apa yang baru saja Mei Liena alami. Dewa Iblis tidak hanya mengincar mereka, tapi juga seluruh manusia.
Kejadian yang sama tidak hanya berlaku di satu kota, tapi kota lainnya terkecuali ibu kota.
Berita itu sampai di telinga Xie Ruo di Dunia Atas. Teman lamanya yang pernah ia penggal, si 'kepala satan' diutus Xie Ruo untuk menjadi mata-mata di Dunia Tengah. Sebelumnya satan satu itu tidak bisa bergerak, sekarang ia bisa terbang seperti hantu kepala terbang berkat kemampuan yang diberikan Xie Ruo sejak mendapatkan kekuatan psikis.
Awalnya Satan takut, tapi Xie Ruo berusaha membuatnya percaya bahwa kekuatan psikisnya tidak akan mencelakai Satan. Sekali lagi, itu karena kekuatan memori yang bersifat netral.
Itu pasti adalah hal yang sangat mengerikan, tapi Xie Ruo sebenarnya tidak terlalu terkejut. Bahkan jika ia melihat langsung, ia tidak akan terkejut. Seumur hidup, ia berjalan di atas tebaran mayat dan darah.
"Qu Xuanzi sudah meminta Dewa Dimensi untuk membuatkan tempat perlindungan untuk manusia. Hewan suci sudah mengumpulkan banjak manusia dari berbagai daerah sejak beberapa minggu yang lalu, namun ada yang tidak rela meninggalkan kampung halaman atau tidak percaya apa yang dikatakan hewan suci. Itu semua adalah pilihan."
Xie Ruo sama sekali tidak mengasihani, karena tidak ada yang bisa mengulang waktu. Meski itu adalah hal wajar, tapi beberapa hewan suci telah membuat kelompok untuk terhubung dengan Dunia Atas.
Contohnya Menara Suci, dan beberapa istana serta organisasi lain dengan reputasi tinggi karena kedekatan mereka dengan dewa. Bahkan, kadang manusia menganggap mereka sebagai dewa, atau orang kepercayaan dewa. Itu sebabnya, kebanyakan dari mereka memiliki kepercayaan penuh dengan hewan suci.
"Menurutmu, kenapa Dewa Iblis harus membunuh semua manusia? Dia ingin naik tahta, jika tidak ada rakyat, siapa yang akan ia pimpin?" Satan agak bingung. Selama ini kerjaannya hanya tidur sampai melewatkan banyak hal. Ditambah, kadang ia tidak paham apa yang sedang diperbincangkan Xie Ruo dengan teman-temannya atau Qu Xuanzi.
"Sayangnya, tujuan Dewa Iblis bukan tahta. Jika bisa, dia akan menghancurkan tiga dunia demi pergi ke Dunia Dewa. Ini adalah langkah awal menuju perang tiga dunia."
"Perang tiga dunia ... lalu kau—"
"Itu akan terjadi dalam beberapa waktu kedepan. Setelah Dewa Iblis mengumpulkan ribuan darah berbagai ras, ia akan mencariku. Saat itulah perang dimulai." Maka dari itu, ia hanya bisa memperkecil jumlah korban agar tidak sepenuhnya hancur.
Satan tidak memiliki pendapat lain. Ia hanya diam, tidak berani memikirkan segala kemungkinan mengerikan yang baru saja dikatakan Xie Ruo. Xie Ruo akan tetap di sini, jika Dewa Iblis datang, akan ada banyak kehancuran seperti perang sebelumnya. Atau bahkan lebih buruk.
"Kamu kembalilah ke Dunia Tengah, tempat ini tidak baik untuk kau tinggali."
Satan berdeham mengiyakan. Ia pun pergi melalui portal. Tubuhnya terbentuk dari jiwa jahat dan kegelapan, tidak bisa berada di Dunia Atas yang dipenuhi dengan kekuatan ilahi terlalu lama, atau ia akan mati. Itu sebab mengapa Xie Ruo mengutus Satan untuk berada di Dunia Tengah sebagai mata-mata. Setidaknya, buat makhluk itu sedikit berguna dibandingkan rebahan dalam cincin spasial sebagai beban.
Sepergi makhluk kepala terbang itu, Xie Ruo akhirnya menunjukkan sisi lemahnya dalam kesunyian. Ia menghela napas, lalu mengusap perutnya yang sudah agak membesar dengan lembut.
"Aku tidak akan membiarkan siapa pun melukaimu, itu janji. Baik Dewa Iblis maupun Dewi Cahaya, tidak ada yang bisa."
Tendangan yang cukup kuat begitu terasa dari dalam perutnya. Xie Ruo tersenyum, merasa ucapannya sedang ditanggapi sehingga suasana hatinya membaik.
Tiap kali Xie Ruo bicara sambil mengusap perutnya, selalu ada pergerakan di dalam sana seolah sedang menanggapi ucapannya. Itu membuat Xie Ruo tidak merasa kesepian selama Qu Xuanzi di luar.
"Omong-omong, apa kalian ingin kue strawberry?" Kali ini, Xie Ruo merasa pergerakannya lebih aktif membuat Xie Ruo terkejut. "Kalau begitu, ayo kita ke dapur!"
Xie Ruo pergi ke dapur dengan suasana hati baik setelah lama bermuka masam. Ia mengambil kue strawberry dan memakannya sambil bersandar dengan tenang di pojokan.
Tapi kegiatannya terhenti begitu merasakan sesuatu yang menarik. Setelah menerima keilahian memori, selain ingatannya yang menjadi sangat tajam, ia dapat merasakan dan meniru berbagai macam emosi dari semua makhluk.
Kali ini, ia merasakan emosi yang menurutnya mencurigakan. Ada rasa takut, bersemangat dan senang, juga gelisah yang naik turun. Perasaan seperti ketika menemukan sesuatu dan terburu-buru menceritakannya untuk mendapat hadiah. Ia pernah merasakan hal yang sama ketika menjadi mata-mata.
Terlalu dalam merasakan emosi seseorang, Xie Ruo dapat mengetahui apa saja yang dialami orang tersebut dan menebak apa yang sedang dipikirkan—meski tidak bisa baca pikiran.
Karena emosi pihak lain terasa mencurigakan baginya, ia pun memilih mengikuti seseorang dengan emosi negatif tersebut. Ia keluar dari dapur, lalu menemukan seorang pria berpakaian pelayan membawa nampan berisikan cangkir teh ke suatu tempat.
Pelayan itu adalah seorang peri, ia tampak biasa-biasa saja dan tidak mencurigakan, tapi emosinya membuat Xie Ruo tertarik. Sepertinya ia akan menemukan sesuatu yang menarik di Dunia Atas.
...----------------...
Hari ini aku upload 1000an kata karena masalah waktu. Malam ini baru selesai satu bab karena tadi siang sibuk ada ukm di kampus.
Sebentar lagi novel ini akan tamat, karena sudah berada di puncak konflik. Kemungkinan besar, kedepannya akan banyak adegan action dan pertempuran besar jadi mungkin akan up lebih lama.
Untuk sekuel, aku sudah siapkan. Tapi uploadnya emang agak lama nantinya karena mau selesaiin dulu novelnya biar bisa revisi agar alurnya lurus tanpa plot hole dan bisa double up tiap hari. Kan enak kalau doubel up, akunya juga nggak bakal keteter kalau diselesaiin dulu. Jadi stay tuned!
Oh iya, sekilas info, novel TEGWIN akan ada sekitar 3 season. Untuk season ke-4 masih kupikirkan mau aku tulis apa enggak. Kalau enggak, berarti semua masalah berakhir di season 3.
Happy weekend teman-teman~
Sampai jumpa besok!