
Sudah dua minggu lebih Xie Ruo terkurung dalam istana dengan kegiatan yang membosankan. Sudah seminggu itu pula, pola makan Xie Ruo terganggu total.
Foodie yang rakus akan makanan telah hilang, digantikan wanita yang selalu berbaring frustrasi sambil membaca gulungan lalu melemparnya begitu saja setelah selesai. Ia terlalu bosan sampai ingin mati.
Xie Ruo bangkit dari tempat tidur, kemudian pergi mengganti pakaian untuk memutuskan pergi ke perbatasan. Kekuatannya sudah cukup untuk berubah lagi dan pergi tanpa takut diikuti mata-mata.
Tapi begitu ia akan mengikat pakaiannya, ia menemukan sesuatu yang mengganjal. Di depannya adalah cermin, memantulkan pencerminannya yang cantik dengan rambut hitam panjang yang tergerai. Persis seperti sebelumnya.
Hanya saja, Xie Ruo merasa ia agak berbeda dari sebelumnya. Ia mengambil posisi menyamping, dan meliht perut ratanya yang sedikit berubah.
Xie Ruo pikir ia agak gemuk. Padahal jelas-jelas pola makannya sangat kacau dan sering kelaparan sampai ingin mati. Bagaimana perutnya bisa ....
"Mungkin karena aku tidak bertarung lagi." Itu adalah alasan masuk akal. Ia tidak olahraga, wajar jika agak gemuk. Meski pola makannya kacau, belakangan ini ia terlalu sering rebahan dan bermalas-malasan daripada latihan.
Xie Ruo menghela napas, kemudian mengenakan pakaiannya dengan benar untuk bersiap mengalami pertempuran lanjutan. Tidak tahu bahaya apa yang akrab ia hadapi di luar sana, ia harus bersiap.
Setelah memakai pakaian untuk penyamaran, ia mengambil jubah dan membuka jendela. Tapi sebelum benar-benar pergi, ia melihat ke arah tempat tidur.
Tangannya terangkat, cahaya perak bersinar menurut garis lurus dan membentuk sosok dengan rupa yang sangat mirip dengannya. Wajah cantiknya tanpa ekspresi dengan pandangan kosong tanpa jiwa.
"Kau tahu apa yang harus dilakukan."
Wanita yang sangat mirip dengannya itu langsung berbalik, melangkahkan kaki perlahan dan merebahkan tubuh ke atas tempat tidur. Xie Ruo tersenyum puas, kemudian menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuh kloningnya yang tanpa kesadaran.
Sepertinya ia harus mencari Mei Liena agar tidak ada yang curiga sampai membawa tabib istana. Sebelum ke perbatasan, ia harus pergi ke klan untuk menemui Mei Liena dan mengungkapkan rencananya agar berjalan dengan lancar.
Karena ia tidak tahu akan berada di luar sampai kapan, jadi harus meninggalkan kloningnya untuk berjaga-jaga. Selagi kloningnya tampak tidur, pelayan tidak akan berani mendekat. Apalagi kalau ia menggunakan alasan sakit agar tidak masuk kelas, itu sebabnya ia harus mencari Mei Liena.
Tapi karena ketika Mei Liena datang, pasti wanita itu akan dipersulit. Xie Ruo memberi kloningnya sedikit kesadaran dan terhubung dengan kesadarannya agar dapat bereaksi akan kondisi yang diperlukan. Selain itu, ia juga menaruh napas yang sama pada kloning agar Zhong Guofeng tidak menyadari bahwa ia telah pergi.
Setelah masalah kloning selesai, Xie Ruo langsung pergi lewat jendela. Ia berdiri di ketinggian menara, kemudian merubah diri menjadi naga agar bisa terbang dengan cepat. Mata-mata itu tidak akan pernah menduga, sedikit kelalaian akan membuat target ditukar dengan cangkang kosong.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di ruangan yang sunyi dan hangat, diliputi oleh lilin-lilin yang menyala di tiap sudut ruangan dengan nuansa mewah khas kaisar, seorang pria tampan duduk di depan meja yang agak berserakan dengan buku sambil membaca sebuah dengan tenang.
Sudah lebih dari sejam ia berada di posisi yang sama, dengan buku yang berbeda, namun tidak ada yang berani mengusiknya. Sampai akhirnya sebuah kabut hitam muncul, membentuk sosok berjubah hitam dengan topeng penuh berlutut di depan mejanya.
"Yang Mulia."
Pria itu, yang tidak lain adalah Zhong Guofeng melihat sosok berjubah hitam sekilas. "Ada pergerakan darinya?"
"Sama sekali tidak ada pergerakan. Selain mempersulit Ming Le dan menolak makanan dari pelayan, tidak ada hal lain yang bisa diperhatikan."
Zhong Guofeng mengerutkan kening. "Sepertinya dia sedang mencoba membuatku disalahkan," gumamnya. Kemudian melihat pria berjubah itu lagi. "Tidak ada lagi?"
"Tidak ada."
Zhong Guofeng menghela napas. "Tidak mungkin tidak ada. Berdasarkan sifatnya, dia tidak akan hanya diam. Sepertinya kau yang melewatkan banyak hal."
Pria berjubah itu tidak tahu harus berkata apa lagi. Tuannya sangat memandang tinggi Nona Xie. Masalahnya, ia benar-benar tidak dapat melihat tindakan lain selain bermalas-malasan dan memarahi pelayan karena makanan.
Setiap hari ia mengawasi tanpa berkedip, tapi selalu tidak menemukan hal apa pun. Bahkan Nona Xie tidak lagi bertemu Putri Kesembilan yang membuatnya bingung.
"Terakhir kali kau melukainya karena mencoba kabur, aku belum memberi perhitungan penuh padamu."
Tiba-tiba pria berjubah itu mengeluarkan keringat dingin. Aura dingin menusuknya begitu saja hingga ia bergetar.
"Yang Mulia, hamba salah dan pantas dihukum!"
"Pergi hukum dirimu sendiri." Zhong Guofeng mengibaskan tangannya acuh tak acuh. Ia terlalu malas memberi hukuman karena suasana hatinya yang sedang tidak baik. Sepertinya ia harus menambah jumlah mata-mata di sekitar Xie Ruo.
Sebenarnya, ia tidak ingin mengandalkan orang lain untuk mengawasi Xie Ruo. Tapi jika ia yang mengawasi secara langsung, ia tidak yakin identitasnya tidak akan terbongkar. Komunikasinya dengan Xie Ruo harus dipersingkat untuk menyembunyikan identitasnya.
Setelah pria berjubah hitam itu pergi, sosok berjubah hitam lainnya datang dan berlutut. Ia juga seorang pria, namun terlihat lebih tinggi dan tegas dengan topeng yang sama menempel di wajah.
"Yang Mulia, sanksi mata sudah ditemukan."
Zhong Guofeng meliriknya, rautnya menjadi serius. "Siapa dia?"
"Pelayan permaisuri terdahulu. Dia tinggal di perbatasan, trauma yang dialaminya menyebabkan kewarasannya teganggu."
"Awasi dia. Jika mengatakan hal yang tidak boleh dikatakan, bunuh." Rautnya mendingin. Ia tidak tahu sampai mana wanita tua itu tahu, tapi jika mengetahui hal yang seharusnya tidak diketahui, orang itu tidak boleh dibiarkan hidup. Jika Xie Ruo mengetahuinya, ia akan berakhir.
"Baik." Pria itu menyanggupi perintah. Tapi ia tidak pergi dari sana seolah ada yang ingin dikatakan.
"Katakan."
"Yang Mulia, ketika melintasi menara, hamba mendengar bahwa Nona Xie sedang sakit."
Zhong Guofeng menatapnya dengan tajam. "Bagaimana bisa?"
"Hamba tidak tahu. Nona Xie seharian mengurung diri dan menolak menemui siapa pun, termasuk tabib."
Apa lagi yang wanita itu rencanakan? Zhong Guofeng berpikir untuk beberapa saat. Apa sakit hanya dalih agar tidak ikut kelas? Atau dia ingin bertemu seseorang?
"Yang Mulia, apa yang harus dilakukan?" Pria berjubah itu bingung.
"Lakukan sesukanya. Perhatikan apa yang dia inginkan."
"Bawahan ini menerima perintah." Pria itu menghilang setelah berkata demikian dengan kepala tertunduk.
Zhong Guofeng menghela napas. Memang sulit menahan pergerakan Xie Ruo secara total. Bisa saja sakit adalah alasan untuk kabur. Bisa juga itu merupakan alasan untuk mempersulitnya.
Kali ini, ia tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Meski kesepakatan untuk tidak saling ikut campur sudah terjadi, ia tidak membuat kesepakatan untuk tidak menahan Xie Ruo di sisinya.
Mengenai Xie Ruo, ia memiliki cara sendiri untuk melindungi wanita nakal itu.
Siapa yang akan menyangka, Kaisar Zhong yang biasa dikenal ternyata memiliki identitas lain. Dia bukan hanya berpangkat Kaisar Manusia, tapi juga Kaisar Iblis.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Xie Ruo sampai di Klan Xie begitu cepat. Ia menyelinap masuk dan pergi mencari Mei Liena. Karena situasi yang kacau, ia tidak boleh melibatkan Xie Wang dan Su Liu'er sehingga tidak bisa menemui mereka sekarang.
Dengan sembunyi-sembunyi, ia menyelinap ke tempat di mana Mei Liena seharusnya berada. Keluarga Mei Liena tinggal di Klan Xie, otomatis Mei Liena juga tinggal di Klan Xie meski bekerja di Sekte Bayangan Malam.
Begitu sampai di halaman, Xie Ruo kembali ke wujud manusia agar tidak membuat keributan. Ia langsung masuk dan disambut oleh Shi Yang yang kebetulan baru keluar dari ruangan.
Shi Yang langsung mengenali napas Xie Ruo dan tersenyum senang. "Guru, kamu da—"
"Sssh." Xie Ruo membikap mulut Shi Yang, kemudian membawanya masuk untuk bertemu dengan Mei Liena di dalam ruangan.
Mei Liena agak terkejut dan langsung berdiri. Ia menghampiri, menutup pintu dan jendela cepat-cepat sebelum akhirnya berhadapan dengan Xie Ruo.
"Ruoruo, bagaimana kau bisa di sini?" Mei Liena tidak menyangka Xie Ruo akan datang. Zhong Xiaorong sudah menceritakan semua detail, ia sangat terkejut akan berita itu.
"Dengarkan aku, kau harus pergi ke istana sekarang." Xie Ruo mendesak.
"Kenapa?"
"Aku membuat kloning dan tidak tahu kapan akan kembali. Aku mengatakan pada semua orang bahwa aku sakit dan menolak tabib istana. Kau adalah dokter, pasti akan disambut. Jika kloningku sakit lebih dari dua hari, Zhong Guofeng akan curiga dan membawakan tabib secara paksa."
"Aku paham, aku paham. Kau ingin aku berpura-pura menjadi doktermu untuk melindungimu, 'kan? Tapi kenapa kau harus pergi dari istana?"
"Aku terburu-buru mencari pelayan yang disebutkan Rongrong."
Mei Liena mengangguk paham. "Kalau begitu, hati-hati. Aku akan bergegas ke istana hari ini."
"Guru, apa ada masalah?" Shi Yang merasa khawatir.
Xie Ruo memandangnya, lalu tersenyum. "Jaga kakek dan nenek baik-baik. Jangan biarkan mereka tahu kalau aku datang, aku memiliki banyak masalah, tidak ingin melibatkan mereka."
"Tapi Guru, kamu—"
"Waktuku tidak banyak, kita akan bicara lagi nanti." Xie Ruo langsung menghilang begitu saja.
Shi Yang sangat cemas mendengar gurunya mengalami masalah. Di dunia ini, tiap masalah selalu memiliki bahaya.
Melihat Shi Yang yang tampak sangat cepat, Mei Liena menepuk bahunya. "Tenanglah, kau seperti tidak mengenal gurumu saja. Aku pergi dulu, kamu jaga rumah."
"Tapi guru ...."
Xie Ruo terbang ke perbatasan dengan kecepatan tinggi. Butuh waktu beberapa jam untuk sampai, hingga akhirnya malam tiba. Jika menggunakan kendaraan biasa, ia membutuhkan waktu berhari-hari atau bahkan berbulan-bulan agar dapat tiba.
Karena sudah sangat malam, kota perbatasan menjadi sepi. Xie Ruo mendarat di tengah jalan seorang diri dengan jubah hitam yang berkibar di bahunya. Angin di kota perbatasan cukup kencang.
Kota Dongzhou, mengingatkan Xie Ruo tentang Keluarga Tang. Ia pikir tidak akan pergi ke kota ini lagi, tapi ternyata ia harus datang ke tempat pengasingan yang menyedihkan.
Kota yang sepi ketika malam tiba dan waspada akan serangan hewan buas. Dulu kota ini dikuasai oleh Keluarga Tang dan iblis, tapi sekarang Keluarga Tang telah hancur sebelum penutupan Klan Xie yang tiba-tiba. Semua itu masih membekas di ingatan Xie Ruo.
Ia berjalan menelusuri jalan di bawah bulan purnama. Zhong Xiaorong mengatakan lokasi wanita itu ada di pinggiran kota. Ia harus mencarinya secara manual. Akan bagus jika ada orang lewat agar ia dapat menanyakan jalan.
Di kejauhan, Xie Ruo melihat sekelompok orang berkumpul dan saling berbincang sambil bermain kartu. Sepertinya mereka adalah petugas patroli, meski pakaian mereka lebih terlihat seperti rakyat biasa.
Xie Ruo menutup wajahnya menggunakan topeng, kemudian berjalan menghampiri mereka untuk menanyakan jalan. Kehadirannya langsung terlihat oleh salah satu dari mereka.
Yang lainnya langsung merespon ketika teman mereka melihat ke satu titik. Pada saat itu, mereka menoleh untuk melihat wanita bertopeng putih dengan jubah hitam. Aura alami yang dipancarkan membuat mereka terpana sesaat.
"Tuan-tuan sekalian, aku ingin menanyakan sesuatu. Apa kalian tahu, wanita yang tinggal di pinggiran kota? Dia dulunya adalah pelayan di istana, aku datang untuk menjenguknya sebagai teman lama."
Mereka saling tatap sejenak. Entah kenapa, mereka merasakan aura dingin yang berhembus ketika mengetahui mengenai wanita itu.
"Ini ... Nona, akan lebih baik jika tidak pergi."
"Oh? Apa terjadi sesuatu?" Xie Ruo bersikap seolah mengkhawatirkannya.
"Nona masih sangat baru di sini, akan lebih baik jika tidak keluar malam-malam. Belakangan ini ada banyak bayangan hitam berkeliaran, jejaknya meninggalkan bau darah pembantaian, sangat mengerikan."
"Benar, itu sebabnya kami di sini untuk berpatroli malam. Apalagi di pinggiran perbatasan, di sana lebih berbahaya dan rentan. Di Gunung Wu ada banyak satan berkeliaran bebas dan kadang menyerang kota."
"Satan?" Xie Ruo merasa hal ini semakin tidak beres. Bagaimana satan bisa pergi ke Dunia Tengah?
"Nona lebih baik hati-hati."
"Lalu, bagaimana dengan Bibi Lu?" Bibi Lu adalah pelayan yang dimaksud Zhong Xiaorong. Ia harus bersikap seakrab mungkin untuk menemukan alamatnya.
"Setahuku, dia ada dalam perlindungan kekaisaran, mengingat jasanya melayani permaisuri. Sayangnya, kewarasannya terganggu dan suka bicara omong kosong. Kaisar sudah berbaik hati mengirim seseorang untuk menjaganya."
Kaisar? Xie Ruo pikir keadaan semakin gawat. Jika Zhong Guofeng sudah bergerak, ia biaa kehilangan target. Ia harus secepatnya menemukan pelayan itu sebelum Zhong Guofeng melakukan sesuatu.
"Katakan saja di mana alamatnya." Xie Ruo bicara terburu-buru, benar-benar terlihat khawatir membuat keyakinan para pria itu bertambah bahwa wanita bertopeng yang mereka temui adalah kerabat wanita bermarga Lu itu.
Salah satunya akhirnya bicara, "Dari sini, Nona bisa pergi ke barat. Di sana ada pembatas wilayah kekaisaran, sedikit pergi ke timur maka Nona akan menemukan rumahnya yang paling terasingi di hutan."
"Baik, terima kasih bantuannya." Xie Ruo melemparkan satu tael emas sebagai bayaran dan pergi secepat mungkin.
Para rakyat itu agak terkejut melihat satu tael emas yang dilempar begitu saja. Mereka dengan semangat mengambilnya, melupakan apa yang baru saja mereka bicarakan.
Xie Ruo pergi dengan cepat ke arah yang sudah ditentukan. Ia sampai di pembatas wilayah. Namun ketika ia akan berjalan lagi, ia melihat beberapa bayangan hitam melintas hingga ia terpaksa bersembunyi.
Bayangan hitam itu terbang secara kelompok, berkumpul ke arah di mana bekas kediaman Keluarga Tang berada. Xie Ruo tidak memiliki waktu melihatnya karena terkejar waktu. Apalagi ia sudah merasa bahwa ada beberapa prajurit kekaisaran yang hadir di dekat rumah wanita bermarga Lu itu.
Dengan cepat ia menghindari bayangan dan pergi ke arah timur. Tidak peduli apa yang terjadi, ia tidak boleh membiarkan satu-satunya sanksi hidup lepas begitu saja.
Ia berdiri di balik pohon, melihat beberapa prajurit berjaga dan mendirikan tenda. Ada sekitar 10 orang yang terlihat seperti prajurit, tapi napas mereka menunjukkan bahwa mereka bukan manusia.
Sepertinya mereka benar-benar sedang mengawasi wanita itu setelah mengetahui bahwa wanita itu memiliki rahasia kaisar. Benar-benar merepotkan.
Xie Ruo tidak ingin membuat masalah menjadi lebih besar dan memutuskan masuk diam-diam. Seperti di istana, ia bisa menyelinap dengan mudah seolah memasuki rumah sendiri, kemudian masuk ke dalam rumah lewat jendela.
Ruangan di dalam rumah terlalu lembab dan gelap, hanya ada pencahayaan lilin yang remang. Xie Ruo menelusuri tiap rumah dan membuka tiap ruangan yang dipenuhi kegelapan.
Semua barang di sini reot dan tidak layak pakai, bahkan sudah berdebu. Ia sampai tidak yakin bahwa rumah ini ada penghuninya.
Ia membuka pintu berikutnya, agak terkejut menemukan kamar mandi yang sangat bau dan memiliki banyak lalat. Tiba-tiba saja Xie Ruo mual lagi membuatnya harus buru-buru menutup pintu dan berusaha menahan mual dalam diam.
Ia harus periksa pada Mei Liena nanti. Sepertinya ia memiliki penyakit tertentu mengingat masa hidupnya yang semakin menipis.
Melanjutkan berkeliling, ia sampai di pintu paling ujung. Pintu itu tidak dikunci, memudahkan Xie Ruo untuk masuk. Ia melihat ke dalam ruangan, mendapati sosok wanita acak-acakan duduk di tepi tempat tidur sambil merenung dalam kegelapan.
Jika orang tidak tahu, mungkin akan menyebutnya sebagai hantu. Rambutnya terurai panjang dan kusut terlihat dari punggungnya.
Xie Ruo masuk ke dalam, berjalan secara perlahan mendekati wanita itu. Ia tidak terkejut akan penampilan acak-acakan itu mengingat pihak lain memiliki masalah kejiwaan.
Wanita itu melihat kehadiran Xie Ruo, tapi tidak memiliki banyak reaksi selain tersenyum seperti orang bodoh. Entah kenapa, Xie Ruo merasa miris melihatnya. Padahal ia sudah terbiasa melihat hal seperti ini di pusat rehabilitasi.
"Kamu ... Kepala Pelayan Lu?" Xie Ruo tidak tahu namanya, tapi ia tahu jabatannya.
Wanita itu hanya melihat Xie Ruo dengan bingung. Xie Ruo berjongkok di depannya, mencoba untuk menanyainya baik-baik agar tidak terlalu menekan mentalnya.
"Kau adalah pelayan setia permaisuri, banyak orang mengkhawatirkanmu. Apa kau tidak bosan berada di sini?"
"Permaisuri ... permaisuri ..." gumannya mengulang kata itu. Tiba-tiba saja rautnya berubah menjadi sedih dan menangis kencang.
"Meski aku tidak tahu bagaimana perasaanmu saat ini, tapi aku juga pernah kehilangan banyak orang yang kusayangi. Kau tidak perlu sedih, dia sudah bahagia di tempat lain. Jika kau sedih, dia akan sedih."
"Permaisuri bahagia?"
Xie Ruo mengangguk. "Ya."
"Bagaimana kau bisa tahu? Permaisuri sudah mati." Wanita itu menatap Xie Ruo dengan pandangan horor. "Permaisuri sudah mati ... mereka membunuhnya ...."
"Aku tahu." Xie Ruo paham siapa yang dimaksud. Pelayan Lu sangat mengetahui segalanya, pasti sangat dekat dengan permaisuri.
"Kau tidak tahu ... tidak ada yang mau tahu ... tidak ada yang mau tahu!"
"Kau tenang saja, pelakunya sudah dihukum. Apa kau tidak tahu itu? Mereka sudah dihukum."
"Sudah dihukum ... bagus ... Yang Mulia, Anda bisa beristirahat dengan tenang ...." Wanita itu tertawa dan mulai tampak bahagia.
Namun di mata Xie Ruo, itu bukan kebahagiaan yang nyata. Semua itu hanya perasaan sesaat. Pada akhirnya, wanita itu akan kosong kembali dan melupakan apa yang baru saja ia katakan.
"Yang Mulia sudah beristriahat dengan tenang. Apalagi setelah putranya baik tahta, dia akan lebih bahagia."
"Putra ... Yang Mulia tidak memiliki putra ...."
Raut Xie Ruo berubah. Tidak memiliki putra? Hal itu membuatnya semakin penasaran.
"Putra Yang Mulia adalah Kaisar saat ini, Zhong Guofeng."
Pandangan wanita itu menjadi horor seperti melihat malaikat maut. Ia bergetar hebat, kemudian merangkak mundur seolah melihat sesuatu yang akan merenggut nyawanya.
"Tidak ... jangan ... jangan bunuh aku! Jangan bunuh aku!"
"Nyonya, dia tidak ada di sini." Xie Ruo merasa ini akan semakin rumit. Ia berdiri mencoba menahan wanita itu tapi wanita itu memberontak ketakutan.
"Jangan bunuh aku!" Wanita itu mendorong Xie Ruo dengan keras dan lari.
Xie Ruo nyaris saja terdorong karena tidak bisa menggunakan kekuatannya untuk menahan wanita itu. Ia takut tulang wanita itu akan patah karenanya.
Karena wanita itu merangkak lari, Xie Ruo mau tidak mau harus mengejarnya dan menampar wajahnya agar sadar. Tamparannya sangat keras hingga wanita itu nyaris terpental jika Xie Ruo tidak menahannya.
Sudah dikatakan, ia takut tulang wanita itu patah.
"Jangan takut, kau aman!" Xie Ruo menegaskan kata-katanya. Menangani orang gila memang menyulitkan. Tapi sebenarnya ini lebih baik daripada menangani Zhong Guofeng yang jauh lebih gila.
Bayangkan saja, wanita tua rapuh ini dibuat takut olehnya sampai tidak waras.
Wanita itu akhirnya tenang untuk beberapa saat meski tubuhnya masih bergetar. Xie Ruo berjongkok lagi untuk melihatnya, bermaksud meneruskan pembicaraan karena ingin menyingkat waktu.
"Apa yang kau ketahui?" Xie Ruo tidak mau berbasa-basi lagi. Percuma berbasa-basi dengan orang gila.
Wanita itu menatap Xie Ruo dengan pandangan horor dan histeris. Ia mencengkram lengan Xie Ruo dengan kuat sambil bicara. "Dia iblis! Putra permaisuri sudah meninggal! Jiwanya ... iblis memakan jiwanya!"
Brakkk
Beberapa prajurit mendobrak pintu, masuk ke dalam menodongkan senjata ke arah Xie Ruo dan wanita bermarga Lu.
Pedang dingin menyentuh kulit leher Xie Ruo yang tidak bergerak, memberi sayatan tipis hingga darah mengalir di kulit putihnya.
Mereka sangat terburu-buru. Pertumpahan darah tidak bisa dihindari.