
"Kau ingin solusi?" Dou Dou bertanya dengan senyum misteriusnya. Bukan hanya ia seorang diri, Li Chen dan Naga Azure juga sama.
"Apa?" Meski Xie Ran tidak percaya mereka, ia tetap mendengarkan. Siapa tahu memang berguna.
Sedangkan Ann Rou di sebelah Xie Ran menatap teman-temannya penuh curiga. Jangan-jangan otak berlumpur mereka sedang dalam masalah. Kemudian ia menatap Xie Ran yang tampak serius melebihi ekspektasinya, padahal ketiga makhluk itu sama sekali tidak terlihat serius.
"Jangan menatapku seperti itu," kata Xie Ran dengan wajah datarnya melirik Ann Rou.
"Nona Xie, jangan percaya usulan sesat mereka," bisik Ann Rou di telinga Xie Ran.
Xie Ran mengangguk samar. "Tenang saja."
"Berdasarkan penilaianku sebagai pria, jika wanitaku dekat dengan orang lain, aku juga pasti akan marah. Yang Mulia tidak membunuh mereka sudah termasuk menahan diri sehingga ia hanya bisa memendam rasa kesal sendirian tanpa melampiaskannya. Jika aku menjadi Yang Mulia, aku tidak yakin mereka bisa hidup sampai sekarang." Naga Azure memasang wajah serius, namun bagi kedua wanita itu sama sekali tidak terlihat serius melainkan sedang sok pintar.
"Jika aku menjadi Yang Mulia, aku membutuhkan bujukan." Dou Dou tersenyum misterius.
"Hanya bujukan tidak cukup. Kau harus memberinya sesuatu untuk menunjukkan ketulusanmu," sambung Li Chen kemudian menghela napas. "Sayangnya Yang Mulia terlalu kaya untuk diberi hadiah. Barang di dunia ini sama sekali tidak ada harga di matanya."
"Bagaimana jika membujuknya dengan cara berbeda?" seru Dou Dou.
"Memberi makanan misalnya, tapi itu hanya berlaku jika Yang Mulia sudah pulih dan mendapatkan kembali vitalitas sesungguhnya." Naga Azure mengusap dagu terlihat berpikir.
"Ann Rou, bagaimana pendapatmu?" tanya Li Chen.
Ann Rou menatap mereka datar. "Aku tidak ikutan mencari masalah. Bagaimana jika Yang Mulia menghukum? Sudah cukup hukuman sebelumnya aku dikejar ribuan Hiu Putih demi karang listrik. Hukumanku sebelumnya saja masih ditampung, kau ingin menyiksaku melalui Yang Mulia?!"
"Ann Rou, kau ada di sini sudah pasti terlibat." Dou Dou mengejek. Hewan itu selalu saja marah-marah dan bersikap tidak mau ikut campur. Tapi pada akhirnya, mereka berempat selalu salah satu kelompok dalam mengerjakan hukuman.
"Lagipula kita membantu Nona Xie, Yang Mulia tidak akan menghukum kita." Naga Azure begitu percaya diri dan menyengir.
Ann Rou mendengus kesal dan membelakangi mereka. Ia tidak ingin ikut campur dan ikut terkena hukuman. Biarlah mereka terkena karma masing-masing tanpa melibatkannya.
"Nona Xie, apa kau punya saran?" tanya Li Chen.
Xie Ran yang sejak tadi diam berdeham. "Jika aku memiliki banyak pengalaman dalam hubungan, mana mungkin aku bertanya."
"Aku dengar kau memiliki mantan di kehidupan lalu. Kenapa masih mengatakan tidak memiliki pengalaman?" Naga Azure heran. Apa ia yang salah dengar atau memang Xie Ran yang terlalu kaku?
Xie Ran agak terpaksa mengungkitnya. "Meski aku pernah bertunangan dengan orang lain dan akan menikah, aku selalu sibuk dengan pekerjaanku. Lagipula, aku tidak menyukai siapa pun. Hubungan sebelumnya terjadi karena paksaan tanpa persetujuanku dan ... segalanya berlalu begitu cepat."
"Lalu ... apa kalian menikah?" Dou Dou penasaran.
Xie Ran terkekeh. "Jika aku mau, aku juga tidak memiliki kesempatan. Aku terburu-buru membunuh orang itu sebelum kematianku."
Mereka terperangah, semakin merasa bahwa kisah nona mereka menarik. Li Chen bertanya, "Nona Xie, apa kalian bertengkar sampai saling membunuh? Apa seburuk itu?"
Xie Ran nyaris tertawa hampa. "Jangan tanya lagi, aku dan dia sangat buruk meski dari luar tampak harmonis. Meski kami pernah satu rumah, aku sangat jarang pulang karena pekerjaan. Orang itu juga tidak peduli padaku dan mengundang banyak wanita ke rumah untuk berpesta. Aku tidak marah karena aku tidak peduli dan nyaris tidak pernah di rumah, tapi kadang dia seolah memiliki hubungan spesial denganku dan merayuku ...."
"Lalu, apa yang terjadi?" Naga Azure penasaran.
Xie Ran tersenyum miring. "Apa lagi? Aku tidak suka didekati, jadi aku pukul dia. Pada akhirnya, kami bergulat seperti ingin saling membunuh. Aku ingat, aku pernah terlempar dari lantai dua dan jatuh ke kolam. Anggap saja itu latihan pengalaman bertarung."
Mereka terdiam begitu pula Ann Rou yang mendengarkan. Memang pantas dipilih oleh Sang Dewa Pembunuh sebagai pasangan, sangat cocok!
"Sayang sekali aku tidak bisa bertarung dengan Qu Xuanzi," gumam Xie Ran didengar oleh keempat hewan itu. Mereka langsung ingin berkomentar namun Xie Ran melanjutkan kalimatnya. "Atau ... aku tantang saja dia sekarang untuk berunding."
"Jangan!" Keempatnya langsung menghentikan pikiran buruk Xie Ran yang sangat ingin cari mati. Ingin menantang Kaisar Langit? Apa gadis ini gila!
"Aku hanya bercanda," sahut Xie Ran dengan wajah polosnya. Ia bahkan tidak merasa bersalah seolah tidak mengatakan apa pun barusan.
Mereka lega setelah mendengarnya. Menakuti saja gadis itu. Sungguh candaan yang tidak bagus. Mereka bukan takut Xie Ran akan dikalahkan dan terluka, melainkan takut terkena hukuman massal. Qu Xuanzi tidak mungkin menyakiti Xie Ran, tapi akan menyalahkan mereka yang memancing Xie Ran memikirkan hal bodoh itu.
"Tidak lagi membicarakan orang yang sudah mati. Jadi ... apa yang harus kulakukan untuk membujuk Qu Xuanzi?" Xie Ran masih galau memikirkan hal tersebut.
Pada akhirnya Naga Azure dan kedua temannya mendapatkan kembali semangat mereka seperti sedia kala setelah ditimpa cerita menyedihkan Xie Ran. Sedangkan Ann Rou memutar bola mata melihat tingkat aneh mereka.
Naga Azure mulai bersikap layaknya penasihat. "Jadi begini, saranku ...." Ia mulai menngatakan solusi yang tepat untuk Xie Ran sedangkan gadis itu nenyimak dengan teliti.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ruangan Qu Xuanzi sudah ada di depan mata. Xie Ran ragu-ragu sejenak memikirkan bahwa pria itu akan mengusirnya dengan dingin. Memikirkannya saja membuatnya kehilangan percaya diri.
Sedangkan di belakangnya terdapat Naga Azure dan kawan-kawan menyemangati. Sedangkan Ann Rou hanya bisa berdoa dalam hati meski tetap mengintili tanpa mengatakan apa pun.
"Tuan, apa mereka terlalu bosan sampai mengintilimu seperti itu? Mereka berniat jahat." Long Long heran dengan para makhluk beda jenis itu.
"Aku tahu, tapi aku ingin lihat seberapa bagus rencana mereka. Jika memang dapat memulihkan suasana, itu akan bagus."
"Bagaimana jika tidak?"
".... Kita kabur."
"Kita? Bukankah Tuan saja yang kabur dari ide gila itu?"
"Sudahlah ... lagi pula aku penasaran. Aku juga tidak akan dibunuh hanya karena melakukannya. Alasan masih tersedia banyak, tidak akan habis." Xie Ran mengedikkan bahu dan berjalan memasuki ruangan.
Pertama-tama Xie Ran mengintip terlebih dahulu dari balik pintu. Setelah melihat keberadaan Qu Xuanzi yang sedang dalam keadaan lotus dan menutup mata, ia langsung masuk tanpa meninggalkan suara. Berbeda dengan makhluk di luar sana yang berbondong-bondong berdiri di depan pintu sambil menempelkan telinga. Ann Rou tak terkecuali.
Setelah menutup pintu, pelan-pelan Xie Ran melangkah sambil melihat arsitektur ruangan yang penuh kesunyian. Sangat sunyi dan tenang, hingga langkah kakinya yang seharusnya tidak bersuara menjadi terdengar.
Mengabaikan suara langkah kakinya, ia berjalan ke arah Qu Xuanzi dan berjongkok di depannya. Tatapannya memicing dengan teliti hingga beberapa saat kemudian ia menghela napas.
"Sangat disayangkan jika wajah setampan itu kupukul seperti orang itu."
"Tuan, kau masih belum move on?"
"Asal bicara! Aku bahkan berpikir bahwa jika dia masih hidup, dia pasti berpesta menyadari bahwa aku mati di tengah laut setelah berusaha membunuhnya. Pria seperti itu, mana mungkin dapat menarik perhatianku? Aku mengingatnya karena ingatanku terlalu bagus."
"Kau bahkan langsung menjelaskan," cibirnya.
Xie Ran mendengus kesal. Kenapa Long Long selalu saja memojokkannya seolah ia adalah pelayannya. Menyebalkan!
"Jadi, kau akan melakukan saran naga bodoh itu?" tanya Long Long.
"Tidak, mereka seolah ingin menjerumuskanku." Saran mereka ialah menggoda Qu Xuanzi. Karena para hewan suci itu berpikir, Xie Ran sangat bodoh dalam hal berhubungan dan tidak pernah sekalipun terlihat seperti seorang kekasih dengan Qu Xuanzi, selalu seperti seorang rekan. Jadi, mereka bermaksud mengasah Xie Ran menjadi 'kekasih yang baik'.
"Lalu ... kau akan bagaimana? Aku sarankan jangan mencari masalah tidak perlu." Long Long memiliki firasat buruk tentang apa yang akan dilakukan Xie Ran.
"Kau bukan ibuku, kenapa harus mengatur?" balas Xie Ran sarkas kemudian tersenyum miring. "Aku Xie Ran tidak pernah merasa bersalah, jika ada seseorang mengatakan aku bersalah, maka orang itu yang salah menilai. Harga diriku itu tinggi, aku akan memberi pelajaran pada Kaisar sombong itu. Siapa yang menyuruhnya meninggalkanku ketika berhadapan dengan pengikut para ****** itu?"
Karena kesadaran Qu Xuanzi ada di alam lain. Ia tidak akan ketahuan telah melakukan seuatu di sini. Ia tidak dapat memukul wajah tampan itu, maka hanya bisa mencoretnya dengan tinta. Lalu menggambarnya kura-kura ....
Xie Ran mengambil kuas dan tinta yang sudah digerus dari cincin ruang. Kuas dicelupkan hingga menciptakan warna hitam cair di bulu. Dengan gerakan perlahan, ia mengarahkan ujung kuas hitam itu ke wajah Qu Xuanzi.
Sedikit lagi ia dapat memberi pelajaran pada Qu Xuanzi. Begitu kuasnya akan menyentuh kulit mulus Qu Xuanzi, sebuah tangan menahannya hingga Xie Ran tidak bisa bergerak.
Apa aku ketahuan? Xie Ran terdiam untuk beberapa saat sebelum sepasang mata elang itu terbuka menatapnya datar. Xie Ran merasa tertangkap basah. Oh, ia memang ketangkap basah!
"Mencoba memberi pelajaran?" Qu Xuanzi tahu niat Xie Ran. Itu juga sebab mengapa ia bersikap dingin karena ia tahu Xie Ran yang memiliki harga diri tinggi tidak mungkin dengan mudah patuh.
Xie Ran mengerjap mata. Ia tertangkap basah dan merasa kepalanya akan hilang sekarang juga. Bagaimana pun di depannya adalah Dewa Pembunuh yang disegani, bagaimana ia bisa sebodoh ini!
Tidak ada pilihan lain, terpaksa menggunakan cara itu. Xie Ran menggigit bibirnya merasa ragu sebelum akhirnya ia berinisiatif menempelkan bibirnya ke bibir Qu Xuanzi.
Pengalaman ciuman Xie Ran begitu buruk hingga ia hanya menempelkan bibirnya saja untuk beberapa saat. Setelah itu, ia melepas tautan itu menatap Qu Xuanzi tanpa rasa bersalah. Sedangkan Qu Xuanzi hanya diam menatanya.
Xie Ran menggigit bibirnya memikirkan kalimat yang tepat "Aku datang dengan niat baik, oke. Sudah dua hari kau bersikap dingin, bahkan tidak membantuku menghadapi orang-orang itu. Kau marah karena aku mendekati pria lain, aku sudah intropeksi diri dan mengaku salah. Jika bukan karena informasi yang sulit didapat, aku tidak akan menggunakan cara dua hari lalu."
"Apa mencoret wajah adalah niat baik?"
Xie Ran merasa tertampar hingga matanya berkedut. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Maniak kebersihan ini selalu menyusahkannya. "Sudahlah, aku hanya main-main. Hal kecil seperti itu, tidak perlu diperpanjang."
Xie Ran melihat wajah dingin Qu Xuanzi yang tidak berubah tidak merasa puas. Apa gunung es itu sengaja mempersulitnya?
"Kakak Xuanzi, apa kau masih marah?" Xie Ran mencoba membujuk karena tidak memiliki pilihan lain. Mengingat tentang saran Naga Azure yang tidak bisa ia pahami, ia mengabaikannya dan mencoba menjadi anak kecil yang imut.
"Tidak."
Meskipun Xie Ran merasa Qu Xuanzi jujur, tapi ia tetap berpikir kesalahannya terlalu besar apalagi berdasarkan diskusinya dengan empat hewan suci sebelumnya. Bisa saja Qu Xuanzi hanya ingin Xie Ran tidak mengganggunya lagi.
Gadis itu berdiri dan duduk di pangkuan Qu Xuanzi secara alami. Ia tidak memiliki pilihan lain. Ciuman barusan tidak membuat Qu Xuanzi luluh dan ia terus memikirkan caranya. Masalahnya, rencananya bergantung pada Qu Xuanzi juga.
Ketika Xie Ran duduk di pangkuannya dan meletakkan tangan di bahunya, Qu Xuanzi sedikit terkejut. Sejak kapan Xie Ran belajar berinisatif seperti ini?
Xie Ran tidak terlihat canggung atau sejenisnya, justru ia malah merasa nyaman dan menatap Qu Xuanzi dalam. "Kau tidak bisa pergi seperti kemarin." Niatnya adalah menahan Qu Xuanzi. Namun ketika ia menjadi lebih dekat dengannya, entah bagaimana ia merasa Qu Xuanzi cukup familiar jika dilihat dengan seksama. Semakin lama melihatnya, ia justru tergoda oleh ketampanannya!
Xie Ran tidak akan menyangka bahwa ia tergoda, bahkan menatapnya tanpa berkedip. Ia tidak tahu apa yang harus dikatakan karena semua kalimat yang disiapkan terhapus. Ini semua salah Qu Xuanzi yang terlalu tampan!
"Kemarin ada urusan." Qu Xuanzi merendahkan nadanya menjadi tidak dingin.
"Kau marah padaku ... kau memberi pelajaran pada pria dari Paviliun Anggrek ... dan mengabaikanku ketika dipojokkan oleh wanita bermarga Li."
Tidak ada sahutan dari Qu Xuanzi, entah apa yang dipikirkannya. Ia hanya menatap Xie Ran tanpa mengalihkan pandangan. Memang dasar gunung es.
"Apa kau di sana?" Xie Ran mengibas telapak tangannya di depan wajah Qu Xuanzi.
Qu Xuanzi menangkap tangan Xie Ran sebelum bicara, "Aku tidak marah." Ia tersenyum dan mengusap wajah Xie Ran dengan lembut. "Ada sesuatu yang tidak bisa kukatakan sekarang."
"Aku tidak memaksamu memberitahu." Xie Ran tidak masalah Qu Xuanzi tidak memberitahu. Setiap orang memiliki rahasia dan ia menghargainya.
"Aku akan memberitahumu suatu saat."
Xie Ran mengangguk pelan dan berpikir untuk pergi melanjutkan investigasi. Trik konyolnya berhasil, namun begitu ia bergerak, Qu Xuanzi menahan Xie Ran tetap di pangkuannya. Pria itu justru melingkari pinggang Xie Ran lebih erat.
"Suruh siapa menggodaku seperti ini?"
"Aku tidak menggoda." Entah mengapa Xie Ran merasa perutnya tergelitik. Ia berusaha menetralkan sikapnya sebisa mungkin.
Qu Xuanzi tersenyum dan mengecup bibir Xie Ran sekilas. "Siapa yang mengajarimu?" Seingatnya Xie Ran tidak tahu caranya berinisiatif mendekati seseorang secara sensual.
"Aku lihat di film, jadi kuterapkan saja. Lalu Naga Azure juga mengatakan ...." Xie Ran melirik Qu Xuanzi dengan tatapan menggoda. Ia mencodongkan tubuhnya lebih dekat hingga hidung mereka nyaris bersentuhan. "Dalam hal ini, aku tidak boleh kalah darimu. Juga, sedikit inisiatif mungkin dapat membantuku membujuk untuk meredakan amarah."
Tidak disangka Xie Ran dengan mudahnya terjebak ucapan Naga Azure yang ambigu. Naga playboy itu sepertinya telah memberi 'pembelajaran' pada Xie Ran sebelumnya.
Qu Xuanzi sedikit menaikkan sudut bibirnya sama-sama. "Sering-seringlah."
"Tidak." Xie Ran langsung menolak begitu saja. Hari ini khusus untuk membujuk gunung es ini agar mau bekerja sama dengan baik nantinya. Tidak ada lain kali apalagi sering!
"Apa aku harus marah terlebih dahulu agar kau berinisatif?" Qu Xuanzi menatapnya dengan tatapan menggoda.
"Tergantung ...." Xie Ran tidak mau menatap Qu Xuanzi atau dia akan terlena lagi.
"Tergantung?" Qu Xuanzi semakin mendekatkan wajahnya hingga kedua hidung mereka bersentuhan.
Ia semakin gugup ketika merasakan hembusan napas dingin itu. "Kakak Xuanzi, apa kau akan melepaskanku?"
"Tidak sekarang." Qu Xuanzi tidak melanjutkannya, malah memainkan rambut panjang Xie Ran.
Xie Ran ingin menangis sekarang. "Ada yang ingin dikatakan lagi?"
"Ranran, tetaplah di sini sementara." Qu Xuanzi menarik Xie Ran ke pelukannya perlahan.
Xie Ran menatapnya penuh tanda tanya, tidak tahu mengapa Qu Xuanzi terlihat sedikit memohon. Meski nada suara ataupun ucapannya tidak tersirat permohonan, namun Xie Ran merasa memang ada sesuatu yang sedang disembunyikan membuat Qu Xuanzi gelisah. Ia jadi tidak tega.
"Baik." Xie Ran tidak lagi menolak membuat senyum tipis terukir di bibir Qu Xuanzi. Lagi pula, Xie Ran cukup merasa nyaman dan hangat, jadi tidak masalah sedikit bersantai dari pekerjaan sulit.
Xie Ran dapat mendengar detak jantung Qu Xuanzi yang begitu tenang dan teratur sesuai irama. Telinganya menempel tepat di dada pria itu sehingga terdengar jelas membuatnya ikut merasa ketenangan. Tidak buruk juga.
Ketika terhanyut dalam kesunyian, tiba-tiba Qu Xuanzi merasakan sesuatu dan sedikit menggerakkan jarinya. Pintu terbuka begitu lebar menyebabkan beberapa sosok berjatuhan menyisakan Ann Rou yang berdiri dengan mata tercegang.
"Bodoh," gumamnya. Ia langsung menarik pria-pria bodoh yang jatuh itu dengan kekuatannya hingga ketiga pria itu berdiri kembali dengan raut bodoh.
Kini, perhatian mereka terarah pada Qu Xuanzi dan Xie Ran. Mereka terdiam tanpa mengatakan apa pun sekaligus memiliki wajah bersalah seolah telah melakukan kesalahan besar.
Xie Ran terkejut, merasa posisinya terlalu ambigu, ia hendak berdiri namun Qu Xuanzi tetap memeluknya hingga ia tidak bisa berpindah posisi. Apa yang harus ia lakukan?
"Yang Mulia, kami tidak lihat apa pun. Kami akan pergi!" Naga Azure menjadi perwakilan teman-temannya dan berlutut bersamaan.
Qu Xuanzi bicara dengan dingin. "Awalnya aku mentolelir kesalahan pertama, tapi tidak kesalahan kedua. Cepat pergi introspeksi diri dan menggantung terbalik sampai perjalanan berikutnya."
"Baik!" Naga Azure menyanggupinya meski ia menangis dalam hati. Ia berdiri dan akan pergi, namun suara Ann Rou membuat langkahnya terhenti.
"Yang Mulia, hukuman ini ... tidak termasuk aku, 'kan?" Ann Rou mencoba bernegosiasi. Ia tidak ikut campur dalam masalah pertama, namun ia memang sempat ikut menguping romansa tadi. Tapi ia tidak terlalu ketahuan.
Ann Rou yang awalnya percaya diri tidak akan dihukum dan melebarkan senyum pada tiga hewan suci itu, menjadi pahit begitu melihat tatapan tajam Qu Xuanzi yang memiliki isyarat bahwa ia juga ikut andil dalam hukuman. Mau tidak mau ia ikut dengan tiga hewan bodoh itu.
Xie Ran melihat betapa lemas bahu mereka sampai keluar dan menutup pintu. Ia tertegun, kemudian menatap Qu Xuanzi yang memiliki wajah gelap karena telah diganggu. Ia hanya bisa menghela napas.