The Emperor God Wife Is Naughty

The Emperor God Wife Is Naughty
101. Mengaduk Keluarga Tang (2)



Keributan berakhir ketika Tang Yueha terbaring di atas tempat tidur dalam perawatan tabib. Sedangkan Tang Yueying terkena hukuman kurungan untuk beberapa waktu karena menyerang saudara.


Aturan Keluarga Tang melarang keras setiap anggotanya saling bertarung apalagi sampai cedera parah. Kali ini Tang Yueying tidak bisa lepas dari hukuman meski ia sudah berusaha menjelaskan situasinya pada tetua.


Xie Ran kembali ke dalam kamar, kemudian disambut dengan suara Zhong Guofeng yang masih berdiri di depan jendela.


"Langkah yang bersih. Dalam satu hari, kamu menyingkirkan banyak limbah yang mengganggumu." Zhong Guofeng memuji dengan senyuman lebar. Tatapannya tidak terlepas pada Xie Ran.


"Belum," balas Xie Ran. Ia masih belum puas karena hukuman sebenarnya belum ditetapkan. Ia menyipitkan matanya. "Masih ada satu lagi."


Tang Wei di luar sana memperhatikan segalanya dengan teliti. Pandangannya terarah pada kediaman barat di mana segalanya bermula. Meski ia tidak berada di kediaman utama selama beberapa waktu, ia tetap selalu tahu apa yang terjadi.


Sepertinya ia telah menebak beberapa hal, tapi tidak bisa mengatakannya sehingga hanya bisa diam mengamati. Untuk menjadi musuh seseorang yang begitu kejam dan licik, itu akan sangat merepotkan.


Meski ia adalah bagian Keluarga Tang, ia sama sekali tidak peduli bagaimana mereka memasuki masa kejayaan ataupun menurun. Tang Wei sejauh ini tidak pernah melakukan apa pun dan sikapnya yang individualis nyaris dilupakan keberadaannya. Ia tidak peduli akan kematian Tang Shen, kematian Tang Zhi, atau bahkan kematian Tang Jin di masa depan.


Menurutnya, ketiga saudaranya itu dibutakan oleh kegelapan. Meski Tang Shen tidak seperti keduanya yang bekerja dengan iblis, tapi Tang Shen membunuh ayahnya sendiri untuk mendapatkan posisi.


Xie Ran telah memperhatikan, maka dia tidak menarget Tang Wei yang tidak pernah ia tempatkan di matanya. Dari jendela, Xie Ran dapat melihat Tang Wei yang sepertinya telah menemukan sesuatu. Tapi pria itu tidak mengatakan apa pun selain pergi setelah mengangguk sekilas padanya sebagai sapaan singkat.


Xie Ran hanya diam. Meskipun ia tidak ingin menyisakan seluruh garis keturunan Keluarga Tang, tapi Tang Wei berbeda. Pria itu tidak pernah hidup sepenuh hati, bahkan bernapas setengah hati di Keluarga Tang.


Setelah beberapa hari berlalu, penurunan Keluarga Tang semakin kacau. Itu membuat Tang Jin frustrasi di ruang kerjanya. Tidak ada yang menyangka, hanya dalam satu malam setengah kekuatan Keluarga Tang telah musnah. Ia telah mendapat peringatan dari Huai Mao melalui surat yang dikirim baru-baru ini.


Mo Shenxi masuk ke dalam ruang kerja, melihat wajah poker Tang Jin yang habis mengalami masa frustrasi melihat surat di tangannya. Ia tahu itu surat dari siapa, tapi tidak mengungkitnya lebih jauh.


Ia menghampiri pria frustrasi itu, berdiri di belakang kursi dan mengalungkan tangannya ke bahu Tang Jin dari belakang secara sensual lalu meletakkan kepalanya di bahu Tang Jin. Karena emosinya tidak stabil belakangan ini, ia butuh pelampiasan, selain membunuh.


"Apa kamu cemas?" Mo Shenxi berbisik di telinganya membuat suasana hati Tang Jin membaik dan tersenyum menatapnya.


Tang Jin menjawab, "Tidak, setelah kamu datang."


Mo Shenxi tahu Tang Jin kesal pada Huai Mao yang terus bersikap dingin dan kasar, terus menuntutnya untuk melakukan sesuatu dan mengendalikannya. Jadi Mo Shenxi sebagai bawahan Huai Mao tidak bisa diam saja ketika atasannya dipandang rendah.


Mo Shenxi berkata dengan suara lembut. "Kakak Huai memang seperti itu, tidak perlu memikirkannya. Bahkan bersamaku, dia tetap dingin. Tapi dia melakukannya bukan tanpa alasan. Dia ingin segalanya lancar, tanpa hambatan. Buktinya, dia tidak menghukum Tang Yueha sangat berat ketika tahu bahwa Tang Yueha gagal."


Tang Jin menatapnya dengan lembut dan tidak tertekan lagi. Sentuhan Mo Shenxi menyebabkan darahnya mendesir lebih cepat hingga napasnya terengah-engah. "Aku tahu. Sayang sekali Tang Yueha gagal, tapi setidaknya dia akan pergi dari sini."


"Kamu menjodohkannya dengan pejabat kekaisaran, dia akan sangat berterimakasih. Ngomong-ngomong, mengenai Cheng Hua—"


"Kuserahkan padamu." Tang Jin menyela tanpa berkedip.


Mo Shenxi tersenyum lebar. "Benarkah? Kau tidak takut aku membunuh istrimu?"


"Dia sudah tidak ada gunanya untukku setelah menghancurkan segalanya. Lagi pula, apa salahnya jika dia mati? Dibandingkan denganmu, kemampuan medisnya masih jauh." Meskipun Tang Jin tidak percaya Cheng Hua melakukannya, ia tetap tidak mau menyimpan hama itu di tempat ini.


Ia sudah lama ingin menyingkirkan wanita arogan itu, wanita yang sok pintar namun berpikiran pendek. Menyangkal kesalahan saja tidak bisa, malah berlutut dan bersujud seperti pengemis.


"Apa kau sedang memujiku?" Mo Shenxi menggoda. Jarak mereka dipersempit hingga yanya beberapa senti sedangkan iris hitamnya sekilas menjadi merah karena fluktuasi emosi.


"Xi'er terlalu sempurna, aku tidak hanya sekadar memujimu."


Suasana hati Mo Shenxi melonjak sampai kehilangan kata-kata. Lengannya ditarik Tang Jin hingga ia jatuh ke pangkuannya.


"Kamu ingin bermain?" Mo Shenxi bicara dengan nada menggoda. Iris hitamnya sekarang sepenuhnya merah seperti darah menambah daya tariknya hingga suasana semakin memanas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di dalam ruangan gelap dan lembab, Cheng Hua meringkuk di sudut dalam kondisi kacau. Wajah yang biasanya cantik menjadi pucat disertai kantung mata seperti panda. Rambut yang biasanya disanggul dengan hiasan indah, kini tersebar di bahu bercampur dengan debu dan acak-acakan.


Kondisinya sangat buruk.


Jika orang tidak tahu bagaimana Cheng Hua berubah seperti itu, mereka tidak akan menyamakan wanita malang dengan Cheng Hua yang biasanya anggun dan indah diantara tanaman herbal penuh kekaguman semua orang.


Sinar merah menarik perhatian Cheng Hua. Wanita itu sedikit menoleh, awalnya tidak ingjn peduli tapi setelah melihatnya dengan jelas, tatapannya dipenuhi kebencian intens.


Tubuhnya bergerak seolah ingin menerkamnya menunjuk sosok yang datang tanpa diundang. Namun ketika melihat sinar merah yang muncul di jari sosok itu, ia bergetar hebat setelah mengenali sampai tubuhnya tanpa sadar gemetar tak terkendali dan memojokkan diri di dinding. Tidak mau melihatnya sampai menundukkan kepala dan meringkuk seperti bola.


Cheng Hua dipaksa menatapnya. Mata merah yang menyebabkan iris Cheng Hua berubah menjadi merah hanya dalam satu pandangan. Tatapannya dipenuhi horor sebelum akhirnya menjadi tenang seolah diberi obat penenang.


Sosok itu meletakkan telunjuk di bibir mungilnya memberi isyarat pada Cheng Hua untuk diam. Cheng Hua diam, sosok itu membisikkan sesuatu pada Cheng Hua yang irisnya menjadi merah.


Hanya dengan beberapa kata, iris merah Cheng Hua diganti menjadi hitam kembali sebelum sosok itu menghilang dalam kegelapan.


Cheng Hua dilanda kebingungan seolah melupakan ketakutannya. Tapi tiba-tiba menjadi sangat panik dan marah, ia menerobos pintu menggunakan kekuatannya sampai pintu luar terbelah menakuti banyak orang.


Para pelayan ingin menghentikannya, namun terhempas akan kekuatan Cheng Hua yang melonjak rak terkendali. Bahkan beberapa pelayan sampai mati dibuatnya. Karena itu, tidak ada yang berani menghalangi.


Sampai akhirnya Cheng Hua yang sudah seperti monster sampai di halaman kediaman. Ia mendobrak pintu sampai pintu ganda tersebut terbuka lebar memperlihatkan segala sesuatu di dalam ruangan besar.


Hal yang membuatnya tertegun, sepasang pria dan wanita tanpa busana tengah menari di atas tempat tidur menyebabkanata Cheng Hua terbelalak lebar. Mendadak ia kembali ke akal sehat dan merasa kakinya lemas sampai jatuh. Pandangannya tidak terlepas dari pasangan terlarang yang tengah bermadu kasih tepat di depannya.


Beberapa orang yang mengikutinya berbondong-bondong mengejar juga ikut tertegun. Pada saat itu, mereka merasa tidak akan bisa melihat hari esok setelah menyaksikan hal yang tidak boleh disaksikan.


Tang Jin dan Mo Shenxi bersamaan terkejut. Mereka duduk bersebelahan melihat Cheng Hua dengan sorot tajam tidak suka terutama Tang Jin. Tidak ada rasa bersalah, hanya merasa tidak senang telah diganggu apalagi banyak orang melihat.


Apa yang Cheng Hua pikirkan sampai menerobos seperti itu!


Tang Jin mengenakan jubahnya, sedangkan Mo Shenxi menutupi tubuhnya dengan selimut, wajahnya sangat gelap sambil mengambil jubah di lantai sebelum mengenakannya.


Cheng Hua masih diam di tempat dengan pandangan kosong. Ketika ia sadar akan kondisi, matanya penuh amarah dan langsung berdiri menghampiri pasangan terlarang itu dengan sinar hijau yang meluncur ke arah Mo Shenxi.


Ia tidak pernah berpikir, sosok yang ia kagumi merebut suaminya tanpa rasa bersalah. Bahkan memasang wajah seperti itu setelah ketahuan!


Amarah dalam hatinya memberudak sampai puncak dan ia hanya ingin wanita itu mati!


Tapi ketika sinar hijau itu melayang ke arah Mo Shenxi, sinar abu-abu menghalangi, memberinya serangan balik hingga Cheng Hua terhempas ke luar ruangan. Tubuhnya terbentur tanah begitu keras sampai penuh luka dan darah. Wajahnya yang kusam bertambah buruk, dengan tatapan tidak percaya akan suaminya sendiri yang memukulnya sangat berat.


Seumur hidup, Tang Jin tidak pernah memukulnya. Bahkan ketika ia diduga membunuh ribuan pasukan itu, Tang Jin masih tidak memukul atau menggertaknya.


Tapi demi wanita itu ....


Tatapan Cheng Hua telah terdistorsi akan segala yang menimpanya. Ia meliht Tang Jin yang keluar ruangan bersama Mo Shenxi, tatapan dua orang itu begitu tajam dan menatapnya jijik.


"Ini tidak mungkin ... tidak mungkin ... tidak mungkin ...." Cheng Hua tidak percaya yang ia lihat dan terus menggumamkan hal yang sama.


"Tuan ... kau memukulku ... karenanya?" Cheng Hua menekan penderitaan di hatinya dengan mata berkaca-kaca, menatap Tang Jin penuh harap. Jika Tang Jin ingin menjadikan Mo Shenxi selir, ia tidak akan melarang. Tapi Tang Jin justru memukulnya begitu buruk sampai ia mengalami cedera berat dan sulit berdiri.


"Kamu tahu kesalahanmu." Tang Jin bicara dengan nada dingin. Ia tidak ingin membuang napas pada wanita yang akan mati. Kemudian pandangannya terarah pada Mo Shenxi dengan pandangan lembut.


Mo Shenxi tersenyum padanya. "Kamu ingin aku mengurusnya? Sepakat."


"Dia tidak sopan padamu, aku tidak akan membatasi apa yang akan kau lakukan." Tang Jin ingin mengusap wajah cantik Mo Shenxi, namun wanita itu justru mengalihkan pandangan menghindari tangannya. Mo Shenxi berjalan ke arah Cheng Hua dengan senyuman iblis menyebabkan siapa pun merinding.


Cheng Hua sepenuhnya kosong setelah mendengar ucapan Tang Jin yang mengkhianatinya. Ia tidak sanggup lagi, mengabaikan Mo Shenxi yang mendekatinya. Ia bahkan tidak menatap Mo Shenxi, pandangannya hanya melihat tanah dengan sayup dan kosong seolah jiwanya telah hilang.


Mo Shenxi berjongkok melihat Cheng Hua yang menyedihkan. Ia menyipitkan mata. "Karena suamimu memberimu padaku, maka kau hanya bisa melakukan apa yang kukatakan."


Cheng Hua sepenuhnya mengabaikan. Ia hanya diam, tidak bisa melakukan apa pun. Ia ingin melawan, tapi cedera dalamnya terlalu berat sampai tidak bisa bergerak.


Karena kesal telah diabaikan, Mo Shenxi menarik wajah Cheng Hua untuk menatapnya secara paksa. "Meski bakat medismu tidak sebaikku, tapi setidaknya kamu berguna, aku tidak akan membiarkanmu mati secepat itu." Sebuah pikiran terlintas di benak Mo Shenxi dengan senyum iblisnya yang mengerikan. Ia membisikkan sesuatu pada Cheng Hua yang kosong.


Setelah membisikkan beberapa kata, ia menatap wanita malang itu sekali lagi. "Jika gagal, bukan hanya kamu yang akan mati."


Mo Shenxi berdiri, menepuk tangannya seolah memberishkan tangan dari kotoran. Ketika Tang Jin akan mengajaknya lagi untuk melanjutkan kegiatan mereka, Mo Shenxi menolak.


"Aku kehilangan minat, ada beberapa hal yang harus kulakukan." Wanita itu sepenuhnya mengabaikan Tang Jin dan pergi keluar kediaman. Tidak ada yang berani menghentikan, apalagi melihatnya.


Tang Jin hanya memasang raut kecewa melihat punggung Mo Shenxi yang menjauh. Kemudian pandangannya terarah pada Cheng Hua dengan jijik.


"Bawa dia keluar!" Ia menghentakkan lengannya kesal dan kembali ke ruangan, sedangkan para bawahannya terburu-buru menyeret Cheng Hua yang kosong keluar.


Mo Shenxi berjalan dengan raut dingin mengabaikan semua yang ia lintasi. Ketika ia melihat Xie Ran beberapa meter darinya tengah duduk di tepi danau. Pandangan Xie Ran menatap air danau setenang air menambah pesonanya. Kilatan tajam melintas di tatapan Mo Shenxi.


Wajah itu ....


Ia menginginkannya!


Tiap kali ia melihat Xie Ran, rasa cemburu terus muncul membuat emosinya tidak stabil setiap saat. Semenjak melihat Xie Ran, ia sangat ingin membunuhnya untuk menyingkirkan kecantikan yang melebihi dirinya.


Selain Kakak Huai, tidak ada yang boleh lebih cantik darinya!


Alasan mengapa ia tiba-tiba tidak senang, tidak lain karena teringat akan wajah polos Xie Ran yang dapat membuat siapa pun jatuh hati padanya. Melihat Cheng Hua, ia langsung teringat Xie Ran yang dulu cukup 'dekat' dengan Cheng Hua.


Jika ia bisa melakukan sesuatu pada wajah Xie Ran, ia akan sangat senang. Ia tidak bisa membunuhnya karena perintah Huai Mao. Jika tidak, ia sudah lama membunuh idiot itu.


Tapi mengingat tugas yang ia berikan pada Cheng Hua, ia tersenyum jahat dan berlalu mengabaikan gadis itu untuk menunggu kabar.


Sedangkan Mo Shenxi tidak tahu, pergerakannya diketahui Xie Ran. Xie Ran menarik sudut bibirnya ketika melihat danau yang luas itu. Tidak ada siapa pun di sekitarnya, ia tidak perlu menyembunyikan senyum indah yang mekar penuh kengerian.