The Emperor God Wife Is Naughty

The Emperor God Wife Is Naughty
225. Xie Bersaudara (2)



Di wilayah selatan, ras peri bertarung melawan iblis dalam kepemimpinan Dewi Bulan. Wanita itu berdiri di tengah pertempuran besar yang melibatkan rakyatnya, iris emasnya tampak tenang tanpa menunjukkan ekspresi.


Sheng Xian, yang kini telah menjadi Dewi Bulan belum lama ini, tiba-tiba merasakan sesuatu yang besar mendekat. Sesuatu yang bukan berasal dari rasnya ataupun dewa, tapi sesuatu yang lain.


Angin behembus begtiu kencang seperti terjangan angin yang meruntuhkan pepohonan. Percikan air mulai terasa, sebelum akhirnya terjangan air tinggi muncul menyapu medan perang seperti ombak menerjang. Ketinggian air begitu tinggi sampai tidak ada satupun iblis yang bisa terbang lebih tinggi untuk menghindari badai. Semua iblis tersapu saat itu juga dan terseret ombak besar yang membanjiri medan perang.


Sheng Xian menarik semua peri ke belakangnya dan berdiri tepat di mana terjangan ombak berhenti. Ombak itu seolah hanya menarget iblis, bahkan peri lain dibuat bingung menyadari mereka tidak terluka atau ikut tersapu ombak.


Pada saat mereka semua bingung apa yagg terjadi para lautan wilayah selatan, suara raungan naga terdengar memekakkan telinga. Seekor naga meluncur keluar dari genangan air yang membanjiri medan, diikuti dengan beberapa hewan yang menyeret iblis yang tengah berenang menyelamatkan diri. Darah hitam kini tergenang di permukaan, menyatu dengan air laut yang terus menerjang daratan.


Para peri tercegang melihatnya, nyaris tidak percaya bahwa yang mereka lihat adalah beberapa hewan laut dalam jumlah besar baru saja membuat gelombang air laut yang menerjang medan perang. Ditambah, Naga yang dahulu kala berada di sisi Dewa Laut kini melayang di udara, tampak sangat bangga.


Sheng Xian melihat naga tersebut, kemudian tersenyum samar penuh arti. Senyumnya nyaris tidak terlihat sehingga tidak ada yang menyadari wanita berwajah poker itu menunjukkan senyum yang langka. Sepertinya ia telah terpikirkan sesuatu.


Naga yang merupakan Long Ying melihat Sheng Xian, kemudian sedikit menunduk untuk menyalaminya. Sheng Xian hanya mengangguk sedikit, kemudian melihat para peri yang masih sangat terkejut akan bencana yang baru saja terjadi.


"Pergi ke utara untuk memberi bala bantuan!" Sheng Xian pikir tempat ini sudah akan bersih oleh hewan laut yang jelas lebih besar daripada kekuatan peri. Ia pun membawa pergi rakyatnya ke wilayah utara yang kini masih dipenuhi iblis.


Long Ying yang melihatnya tidak mengatakan apa pun. Ia pun melesat bergabung dengan hewan laut lainnya untuk menghabisi para iblis yang sedang berenang seperti kura-kura tersesat.


Long Ying meraung dengan keras. "Sangat menyenangkan~"


Raungan itu persis menyebar ke tiap wilayah hingga membuat beberapa orang merinding. Wilayah selatan, kini telah ditaklukkan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Hallo, kita bertemu kembali." Xie Ruo menyapa dengan senyuman penuh arti. Dia saudara tirinya itu terlihat berbeda dari yang diharapkannya. Dewa Iblis benar-benar telah merawat mereka dan mencuci otak mereka dengan sangat baik.


Xie Chen menyipitkan mata melihat wanita yang berdiri di antara Yan Yao dan Pei Xi. Ia tidak pernah melihat wanita itu, tapi ia merasa sangat tidak asing. Apalagi napasnya ... terasa seperti napas Xie Ran.


Ia melihat Long Huo dan Long Yun yang bertarung. Seharusnya mereka adalah naga milik Xie Ran, bagaimana bisa bersama wanita ini? Apa dia adalah ... Xie Ran?


"Xie Ran! Kau adalah Xie Ran!" Xie Nu menekankan kalimatnya begitu keras penuh emosi. Ia menatap Xie Ruo dengan tajam penuh dengan niat membunuh. Meski wajahnya berbeda, ia tetap mengenali aura dan napasnya yang sama persis. Ia tidak akan salah mengenali.


"Xie Ran?" Xie Ruo tertawa. Ia melirik kedua temannya yang tampak ingin tertawa juga, kemudian kembali melihat dua saudara tirinya yang tertinggal berita. "Sepertinya, orang yang kalian junjugi tidak memberitahu apa pun mengenai kebenaran."


"Xie Ran, meski kau telah merubah wajahmu, aku tetap tahu itu kau! Apa pun identitasmu, kau adalah orang yang menghancurkan Klan dan membunuh ibuku!" Xie Nu tidak mau kalah. Ia semakin marah ketika tiga manusia itu menertawai dan mengejeknya.


"Sayangnya, Xie Ran sudah mati. Biarkan aku perkenalkan diriku, namaku Xie Ruo." Xie Ruo memperkenalkan diri dengan sopan. Dua manusia di belakangnya mulai menatapnya dengan aneh.


Raut Xie Chen semakin mengerut. Sepertinya ia pernah mendengar nama itu. "Xie Ruo?" Kemudian ia ingat, bahwa Xie Ruo adalah saudara kembar Xie Ran yang telah mati!


Setelah dipikirkan kembali, ia paham apa yang sebenarnya terjadi. Xie Ran yang dulu bersaing dengannya adalah Xie Ruo, tapi dengan wajah Xie Ran. Kini, Xie Ruo mengembalikan identitasnya dan hidup dengan reputasi baru. Lalu, bagaimana dengan Xie Ran yang asli?


"Di mana Xie Ran?" Xie Chen sempat bingung, tapi ia lebih bertanya-tanya di mana Xie Ran yang asli sebenarnya.


Xie Ruo mendengus. Pria itu mudah sekali menangkap sesuatu, berbanding terbalik dengan adiknya yang keras kepala dan egois. "Xie Ran ... aku pikir seharusnya dia berada di belakang tuanmu, aku tidak peduli."


Xie Chen semakin berpikir keras. Tapi semakin dipikirkan, semakin buntu jalan yang dilalui. Wanita di sisi Dewa Iblis memang hanya beberapa, namun tergantung ada di posisi mana wanita itu berada.


"Apa apaan kau? Kau adalah Xie Ran, kau tidak bisa membodohiku!" Xie Nu semakin menjadi-jadi. Xie Chen langsung meliriknya dengan tajam, membuat gadis itu diam memendam rasa kesal.


Pei Xi dan Yan Yao yang menonton tidak memberikan reaksi apa pun. Di antara peperangan sedarah, mereka lebih baik tidak ikut campur.


Bukankah miris? Di antara generasi Klan Xie yang tersisa, keempatnya justru berada di posisi berlawanan dan saling memusuhi. Meski Xie Chen dan Xie Nu tampak akur bagai kakak beradik, sebenarnya mereka tidak seakur itu. Xie Chen hanya menjaganya karena status adik sekaligus memanfaatkannya sebagai boneka, sedangkan Xie Nu memanfaatkan Xie Chen sebagai tameng. Xie Ruo dan Xie Ran, tidak perlu dibicarakan lagi. Generasi ini benar-benar yang paling 'terbaik'.


Memikirkan tentang Xie Ruo, Pei Xi dan Yan Yao tiba-tiba teringatkan sesuatu. Mereka melihat ke arah Xie Ruo dengan serius membuat wanita itu menatap mereka dengan datar.


"Kenapa?" Xie Ruo heran dengan dua makhluk itu yang sejak tadi menatapnya dengan aneh.


"Ruoruo, kapan kau melahirkan? Menurut perhitungan, seharusnya beberapa bulan lagi." Yan Yao benar-benar bingung.


Lama tidak melihat Xie Ruo, wanita itu benar-benar banyak berubah. Pertama, ia mendengar bahwa Xie Ruo hamil dan menetap di Dunia Atas. Tapi setelah beberapa bulan di mana seharusnya perut Xie Ruo telah membesar, wanita itu malah terlihat sangat langsing seolah ia masih dalam tahap pertumbuhan.


Pei Xi juga melihatnya dengan penasaran. Apa seorang dewa bisa membuat segala sesuatu menjadi abnormal?


Xie Ruo tersenyum kecut. "Sudah lahiran."


"Kapan?" Yan Yao terkejut. Secepat itu?


Xie Ruo mendengus akan reaksi Yan Yao yang berlebihan. "Kemarin."


"Wah, aku sudah memiliki keponakan!" Yan Yao tertawa senang. "Boleh aku melihatnya?"


"Jika kau bisa pergi ke Dunia Atas sendiri." Xie Ruo menggedikkan bahu acuh tak acuh. Sebenarnya di medan perang, pria itu masih sempat-sempatnya tertawa seperti itu. Ia bahkan terkejut.


Pei Xi hanya menatap pria itu dengan aneh seperti melihat orang gila. Sungguh, orang itu bukan temannya. "Yan Yao, daripada merepotkan Ruoruo, lebih baik kau membuat anak sendiri. Kau 'kan sudah menikah."


Yan Yao langsung terdiam sambil melihat Pei Xi dengan kesal. Tidak bisa diajak bercanda, tidak seru. Xie Ruo juga sama. Jika seperti yang dikatakan Pei Xi mudah, ia juga mau. Tapi Zhong Xiaorong terlalu galak dan sering menyuruhnya tidur di luar. Ia seperti menghadapi singa kelaparan.


Ketika Yan Yao akan bicara lagi, Xie Ruo sudah menghilang dari tempatnya. Begitu ia melihat ke arah Pei Xi, pria itu juga telah menghilang. Hanya tersisa satu, serangan iblis yang tiba-tiba membuatnya secara spontan mengeluarkan sihir dan membunuhnya.


Salah siapa bercanda di tengah perang?


Xie Nu secara membabi buta dan ceroboh menyerang Xie Ruo karena amarahnya yang tidak bisa ditahan lagi. Ia tidak peduli apa wanita itu sedang bicara dengan temannya atau tidak. Begitu melihat mereka lengah, ia langsung meluncurkan sihir penyerangan.


Xie Ruo tentu meladeninya dengan senang hati. Ia tiba di belakang Xie Nu begitu tiba-tiba dan memukul punggungnya dengan tapak tangan tanpa bisa dihindari Xie Nu. Gadis itu terhempas, namun kakinya dengan cepat bertumpu pada bebatuan dan melambung ke arah Xie Ruo, mengabaikan rasa sakit di tubuhnya.


"Oh? Bisa bertahan." Xie Ruo tersenyum miring. Ketika ia akan mengeluarkan sebilah belati untuk menikam Xie Nu dengan cepat, Xie Chen datang menangkis belati itu menggunakan pedangnya.


Pegangan Xie Ruo sangat kuat sehingga ia dapat menangkis pedang Xie Chen. Pada saat yang sama, Xie Nu datang ke arahnya dengan amarah bergebu-gebu. Pei Xi muncul menahan Xie Chen, sedangkan Xie Ruo segera berteleportasi ke arah Xie Nu untuk memberinya pelajaran di akhir hidupnya.


Begitu Xie Nu terluka, seluruh hewan iblis mulai tak terkendali dan menjadi liar. Mereka saling bertarung dan mati mengabaikan manusia-manusia yang tengah berperang melawan bangsanya. Meski begitu, ada pula hewan buas yang semakin kacau dan menyerang pasukan kekaisaran secara langsung.


Para hewan iblis yang semakin liar itu merusak peperangan dan memecah perang kedua belah pihak. Baik manusia maupun iblis, mereka semua terkena serangan hewan iblis yang menggila akibat lepasnya kontrol Xie Nu.


Walaupun kondisi menjadi rusak, Xie Ruo puas dengan hasilnya. Hanya masalah waktu untuk mengalahkan hewan iblis yang menggila dibandingkan yang terkontrol dengan baik. Ia menarik belati di tangannya hingga darah merah mengalir dari bahu depan Xie Nu.


Xie Nu memandang Xie Ruo penuh kebencian. Sampai kapan pun, ia akan membenci wanita itu dan tidak akan pernah meringankannya!


Tubuh Xie Nu terhuyung, ia tidak lagi bisa menggunakan kekuatannya secara maksimal apalagi mengendalikan hewan buas. Meski ia sudah terkulai, Xie Ruo tetap tidak melepaskannya. Wanita itu menahan bahunya, kemudian menekannya di bagian luka hingga Xie Nu berteriak kesakitan. Teriakannya semakin kencang sampai Xie Chen terlepas dari pertahanan Pei Xi.


Xie Chen melesat dengan cepat, akan menangkis tangan Xie Ruo dan membawa Xie Nu pergi. Namun sihir perak tiba-tiba muncul tepat ke arahnya. Xie Chen tidak sempat menghindar sampai ia terhempas dan berguling di tanah dalam keadaan luka internal yang buruk.


Hanya dengan satu serangan, ia sudah jatuh seperti ini. Xie Ruo benar-benar mengejutkannya.


Xie Ruo memandang Xie Nu dengan senyuman ringan. "Sayang sekali sebelumnya aku meleset, jadi tidak sempat mengenai jantung Nu'er. Salahkan dirimu sendiri yang tidak bisa diam sehingga memperlambat proses kematianmu."


Sebenarnya Xie Ruo sengaja membuat serangannya meleset, karena ia ingin mengembalikan semua yang Xie Nu lakukan padanya sebelum membunuhnya.


"Nu'er, bukankah kamu suka permen? Aku membawakanmu permen manis, kau akan suka." Xie Ruo tersenyum misterius. Ia mengeluarkan sebuah pil berwarna putih di tangannya, kemudian dimasukkan paksa ke dalam mulut Xie Nu.


Xie Nu sudah memberontak, namun tekanan Xie Ruo di bahunya begitu sakit hingga ia tidak memiliki kemampuan. Ia terpaksa menelan pil itu, barulah Xie Ruo melepaskannya.


Tangan kiri Xie Ruo dipenuhi darah karena menekan bahu Xie Nu. Ia menyekanya dengan sapu tangan, kemudian berjongkok melihat Xie Nu yang berlutut kaku sambil menangis. Benar-benar kasihan.


"Apa kamu penasaran bagaimana rasanya mendapat 100 pukulan? Atau organ yang tercabik? Mangkanya kamu bereksperimen menggunakanku sebagai bahan percobaan. Berterimakasihlah padaku, aku telah membuat permen yang dapat memberikan semua yang kau inginkan."


Sebenarnya itu bukan permen, tapi racun. Biasanya Xie Ruo menyebut racun di depan semua orang sebagai permen—khusus untuk racun berbentuk pil yang sudah jadi. Itu bukan kebiasaan baru, tapi kebiasaan lama sejak ia pernah tanpa sengaja memakan permen beracun di masa lalu. Sejak saat itu ia menyukai racun.


Xie Nu memandang Xie Ruo penuh kebencian. Ia berusaha bangun sambil menatap Xie Ruo dengan tajam. Tapi belum sempat ia berdiri, mulutnya memuntahkan seteguk cairan merah hingga tubuhnya melemas dan kembali tersungkur. Ia batuk berkali-kali bersamaan dengan darah yang keluar dari mulutnya.


Tubuhnya bergetar hebat, rasa sakit di seluruh tubuhnya begitu hebat seolah telah dipukul benda tumpul, sedangkan bagian internalnya digerogoti sesuatu sampai tidak bisa melakukan apa pun. Ia bahkan tidak bisa berteriak kesakitan dan terus terbatuk, hanya bisa meneteskan air mata.


Xie Ruo mendengus. "Sepertinya efeknya terlalu kuat," gumamnya. Ini kali pertama ia menggunakan makhluk lain selain hewan sebagai percobaan.


Ia telah membuat racun itu ketika di Menara Suci, semua hewan yang ia culik adalah hewan berbahaya dengan kekuatan setara dengan iblis. Itu sebabnya, kadang ruangannya menjadi kacau karena hewan buas yang lepas kendali.


Pei Xi yang melihatnya menahan napas. Xie Ruo memang kejam, tapi menurutnya itu pantas untuk Xie Nu yang menyukai penyiksaan. Sedangkan Yan Yao tak jauh dari sana—yang tengah bertarung—meneguk saliva dan merasa kasihan untuk pertama kalinya pada Xie Nu.


Xie Ruo mengabaikan Xie Nu yang menangis tersiksa, pandangannya teralih pada Xie Chen yang berusaha bangkit setelah terluka karena sihir Xie Ruo. Ia menatap Xie Ruo dengan datar.


Xie Ruo tidak merasakan emosi apa pun di dalam hati Xie Chen meski ia telah melihat Xie Nu yang begitu menyedihkan. Memang tidak mengecewakan sebagai bagian dari generasi terakhir Klan Xie. Xie Ruo pun tidak terkejut, tapi Yan Yao di kejauhan sana terkejut.


Yan Yao pernah mendengar bahwa cara Klan Xie menentukan pemimpin agak ekstrim, yakni dengan membunuh penerus lain untuk menyingkirkan pesaing. Kini ia melihatnya.


Sebenarnya, aturan itu mulai diberlakukan pada generasi kedua setelah penerus Xie Jin menjadi pemimpin klan. Saat itu penerus Xie Jin memiliki banyak anak dan istri, sehingga membuat secara naluri anak-anak mereka saling bersaing dan membunuh secara terbuka untuk mendapatkan posisi ketua.


Xie Wang tak terkecuali, namun ia tidak ingin anak-anaknya saling membunuh sehingga hanya memiliki satu putra, yakni Xie Yun. Sejak saat itu tradisi mengerikan itu dilupakan.


Ini adalah hal yang bahkan Xie Ruo tidak ketahui. Ia hanya melakukan apa pun untuk bertahan hidup. Siapa sangka, hal yang sama akan terjadi bagai kutukan tanpa disadari masing-masing pihak.


Bisa saja itu juga merupakan sebuah kutukan, karena pada awalnya Xie Ruo dan Xie Ran memang tidak bisa dibiarkan berada di dunia yang sama dan di keluarga yang sama. Jika itu terjadi, pada akhirnya mereka akan saling bunuh.


"Kau tidak sedih melihatnya?" Xie Ruo melirik Xie Nu yang kesakitan dan tersiksa dipenuhi darah.


"Tak lama lagi dia mati." Jadi untuk apa sedih? Xie Chen juga sebenarnya tidak mempedulikan Xie Nu jika gadis itu bukan adiknya. Apalagi tindakannya selalu membuatnya kerepotan.


"Tidak takut kalau selanjutnya adalah kamu?" Xie Ruo menaikkan alisnya.


Xie Chen menarik sudut bibirnya. "Jika aku bisa membunuhmu, maka itu adalah sebuah kehormatan. Jika kau membunuhku, juga tidak ada penyesalan."


"Bagaimana jika aku tidak membiarkanmu mati semudah itu?"


"Kau tidak bisa." Xie Chen berkata dengan yakin tanpa merubah ekspresi maupun pandangan.


Baginya, baik Xie Ruo maupun Xie Ran, wanita di depannya tetaplah satu. Meski pada akhirnya harus ada salah satu dari mereka yang mati, ia tidak peduli. Ia cukup mengagumi Xie Ruo dan tidak memiliki dendam padanya. Jika ia kalah, itu adalah kesalahannya yang tidak cukup kuat.


Emosi yang dirasakan Xie Chen membuat Xie Ruo merasa heran. Seharusnya Xie Chen membencinya seperti Xie Nu, apa otak pria itu kemasukan air?


Karena pria itu adalah pengagumnya, Xie Ruo bisa memberinya keringanan. "Mungkin aku bisa berbaik hati dengan tidak membunuhmu sekarang, asal kau pergi dan tidak menunjukkan diri di hadapanku."


Xie Chen mendengus. "Itu adalah tindakan pengecut, aku bukan pengecut. Apalagi, aku juga ditugaskan Dewa Iblis untuk berada di perang ini sampai mati. Aku tidak bisa pergi."


"Lagi pula Dewa Iblis akan mati."


"Kau yakin?" Xie Chen memandangnya sebentar, kemudian terkekeh. "Jika semudah itu, kenapa Kaisar Langit tidak membunuhnya sejak dulu? Kenapa harus terjebak melalui Kaisar Iblis?"


"Perang ini adalah penentuan. Aku tidak berhasil, maka dunia hancur. Dewa Iblis mati, maka dunia kembali seperti semula. Apa pun hasilnya, sama sekali tidak menguntungkanmu. Apalagi, Dewa Iblis menginginkan darah campuran sepertimu untuk dijadikan bagian dari altar pengorbanan."


"Maka aku sebagai bagian dari iblis akan merasa terhormat, sama sepertimu yang rela mati demi orang yang sudah mati. Pada dasarnya, kita tidak ada bedanya."


Xie Ruo melihat Xie Chen untuk beberapa saat, kemudian terkekeh. "Benar ... kita sama ..." gumamnya.


Bukan hanya mereka berdua, tapi seluruh anggota Klan Xie juga seperti itu. Seperti contohnya Xie Nu, yang rela mati demi kebenciannya sendiri tanpa peduli apa itu menyakitinya atau tidak. Lalu Xie Wang, yang bisa melakukan apa pun demi istri dan cucunya dengan nyawanya tanpa mempedulikan hal lain.


"Jadi, kita akhiri di sini." Xie Ruo melanjutkan kalimatnya. Kali ini pandangannya yang tersorot pada Xie Chen menjadi serius. "Kali ini, aku tidak akan memberi kesempatan."


Xie Chen tetap tenang melihat sosok di depannya. "Baik."