
Malam hari terlewati begitu cepat. Xie Ran terbangun dari tidurnya dan merasakan sesuatu menempel di lengannya. Ia terdiam untuk beberapa saat dan melihat selimut yang menonjol tepat di bagian lengannya.
Xie Ran berusaha berpikir. Tidak ada siapapun di kamarnya sedangkan Qu Xuanzi masih marah padanya di luar dan belum kembali. Lalu ada apa di balik selimut?
Pelan-pelan Xie Ran menarik selimutnya, berharap itu adalah sesuatu yang lumrah dan hanya paranoidnya karena kejadian kemarin. Setelah selimut terbuka, Xie Ran dibuat terkejut hingga nyaris melompat seolah melihat hantu.
Seorang anak kecil ... dia bahkan tanpa sehelai kain!
"Siapa kau? Kenapa ada di kamarku?!" Xie Ran tidak ingin Qu Xuanzi salah paham dan marah padanya lagi. Sudah cukup kejadian kemarin membuatnya paranoid, sekarang malah muncul anak kecil tanpa busana yang tidur meringkuk.
Xie Ran langsung beranjak dari ranjang dan melihat anak kecil itu dengan tatapan waspada. Jangan sampai Qu Xuanzi kemari, atau segalanya berakhir sudah.
"Ibu?" Anak kecil itu terbangun dan mencari-cari seseorang. Kemudian pandangannya terarah pada Xie Ran. Matanya cerah kembali. "Ibu!"
"Ibu?" Xie Ran terkejut bukan main. Kapan dia punya anak? Kapan dia melahirkan? Meskipun dia sudah cukup intim dengan Qu Xuanzi, tapi dia belum mencapai tahap di mana seorang anak akan hadir! Ia masih bermain aman, oke!
Anak kecil itu turun dari ranjang dan langsung berjalan dengan kaki kecilnya ke arah Xie Ran dan memeluknya. Ia terlihat berusia kurang lebih 5 tahun sehingga masih balita dan terlihat imut.
"Ibu ... Lapar ...."
Xie Ran nyaris muntah darah. Bagaimana ia bisa mendapat seorang anak dalam sehari? Lagi pula, siapa anak ini? Di mana orangtuanya!
"Aku bukan ibumu." Xie Ran mencoba menjelaskan, namun anak kecil itu malah menatapnya dengan mata berair. Bukannya Xie Ran suka anak kecil, ia hanya merasa mata bundar berair itu tidak asing sehingga membuatnya spontan berjongkok menatapnya.
"Ibu tidak menginginkanku, huaaa ...." Anak kecil itu menangis membuat Xie Ran panik. Ia tidak pernah mengurus anak kecil dan hanya tahu mengancam anak kecil. Bagaimana cara mendiamkannya?
Xie Ran merasa serba salah. Karena anak kecil itu tidak memakai busana, ia mengeluarkan jubah dari dalam cincin spasial dan menutupi tubuh mungil anak kecil itu. Meski jubahnya kebesaran, setidaknya tubuh anak kecil ini tertutupi dan tidak kedinginan.
Tunggu dulu ... jenis kelaminnya apa?
Xie Ran ingin mencoba melihat, tapi ia takut menjadi wanita cabul dan seorang pedofil yang menginginkan anak-anak. Ia tidak ingin dicap seperti itu. Lebih baik disebut pembunuh daripada pedofil.
"Bagaimana ini?" Xie Ran memijit kepalanya dan merasa pengang karena tangisan anak itu. Bagaimana bisa ada anak kecil nyasar di kamarnya?
Pada saat Xie Ran bingung apa yang harus dilakukan, pintu terbuka menyebabkan jantungnya nyaris lompat dari tempatnya. Ia melihat Qu Xuanzi di depan pintu dengan wajah dingin andalannya. Itu membuat Xie Ran teringat kejadian kemarin dan merasa bersalah lagi hingga kakinya melemas. Belum lagi keberadaan anak ini ....
"Xuanzi ... aku bisa jelaskan." Xie Ran bingung ketika Qu Xuanzi mengerutkan kening begitu melihat anak kecil yang menangis ini.
Baru saja Xie Ran akan menjelaskan kronologinya, anak kecil itu menghentikan tangisan, berlari ke arah Qu Xuanzi sambil memanggilnya, "Ayah~"
"...."
Anak kecil itu memeluk Qu Xuanzi sambil menangis tersedu-sedu seolah telah dianiaya dan akan mengadu. Xie Ran akui, anak kecil ini lebih berbakat darinya.
"Ayah ... Ibu tidak menginginkanku ...." Anak kecil itu mengadu sambil menangis minta dikasihani.
"Ini ...." Xie Ran tidak habis pikir. Pengetahuannya tentang dunia terdistrosi karena anak kecil!
"Phyton Tujuh Warna berevolusi, kau tidak perlu khawatir," jelas Qu Xuanzi. Ucapannya berhasil membuat Xie Ran membeku seketika. Xiao Caihong berevolusi? Menjadi manusia? Secepat itu?!
"Xiao Caihong, mengapa tidak mengatakannya sejak awal?" Xie Ran menatap Xiao Caihong kecil penuh tuntutan. Ia masih tidak percaya Xiao Caihong dapat berubah menjadi manusia secepat ini. Ia hanya bisa berpikir paling cepat 10 tahun kemudian, itu pun ia pikir berlebihan.
"Ibu ... lapar ...."
"Kecerdasannya masih seperti anak-anak, tidak bisa menjelaskannya padamu. Intinya, dia berevolusi karena energi murni yang berkembang."
Xie Ran mengangguk paham. "Kalau energi murniku meningkat secara maksimal, apa kecerdasan Xiao Caihong juga meningkat?"
"Mungkin, pertama kali aku melihat hal seperti ini."
Bahkan Qu Xuanzi baru pertama kali melihatnya. Itu berarti Xie Ran telah mencetak rekor sejarah! Itu membuatnya sangat senang. Namun, ia masih memiliki masalah lainnya.
"Xuanzi—"
"Aku masih ada urusan lain. Kau bawa Xiao Caihong pergi membeli barang." Setelah mengatakan itu, Qu Xuanzi pergi tanpa memberi kesempatan Xie Ran bicara.
Xie Ran benar-benar cemberut sekarang. Qu Xuanzi masih marah padanya dan bersikap dingin. Ia benar-benar tidak terbiasa.
"Ibu—"
"Aku akan memberimu makan," sela Xie Ran. Ia langsung menuntun Xiao Caihong ke dalam dan memberinya energi murni sebagai makanan sebelum keluar dari penginapan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Xie Ran dan Xiao Caihong berkeliling kota mencari sesuatu yang bisa dikaitkan dengan Di Yushi. Mereka sudah belanja sebelumnya dan kini Xiao Caihong telah mengenakan pakaian anak-anak.
Xie Ran tidak tahu Xiao Caihong lelaki atau perempuan, yang ia tahu seekor ular seperti Xiao Caihong dapat memilih jenis kelaminnya sendiri ketika dewasa. Jadi Xie Ran tidak mau ambil pusing dan memperlakukan Xiao Caihong seperti biasa.
Pertama-tama, Xie Ran akan pergi ke pedalaman kota melihat apa yang terjadi di sana. Setahunya kondisi pedalaman dan kota utama jauh berbeda seperti langit dan bumi. Ia penasaran akan hal itu.
Ketika Xie Ran sedang memikirkan apa yang harus dilakukan, beberapa pria cantik mendatanginya membuat langkah Xie Ran terhenti seketika.
"Nona muda, kita bertemu lagi~"
Xie Ran menundukkan kepala dan menutupi wajahnya dari samping. Ia menarik Xiao Caihong pergi menghindari mereka. Ia tidak ingin berurusan dengan pria penghibur lagi.
"Nona muda, apa nona melupakan kami? Aku sangat sedih."
"Nona, lihat apa yang dilakukan suamimu. Kami benar-benar tersiksa!"
"Benar Nona, kami menjadi gelandangan sejak kemarin. Nona harus membela kami."
"S-suami?" Xie Ran menoleh ke arah mereka dengan penuh kejutan. Sejak kapan ia menikah?
Setelah beberapa saat berpikir, ia baru dapat menyimpulkan siapa orang yang mereka sebuh 'suami' Xie Ran. Apa kemarin Qu Xuanzi mendatangi mereka dan memberi pelajaran?
Xie Ran menghela napas, mengeluarkan dua tael emas dari cincin spasial. Ia melempar dua tael emas itu ke arah mereka dan langsung ditangkap bersamaan.
"Kau salah orang, kita tidak pernah bertemu sebelumnya."
Mereka yang awalnya terpana melihat dua tael emas langsung teralihkan dan tertawa.
"Ya, kami salah orang. Nona, silahkan." Mereka mempersilahkan Xie Ran pergi dan melambaikan tangan pada Xiao Caihong. Xiao Caihong menatap mereka, menjulurkan lidah sebelum pergi. Untung saja lidahnya tidak seperti ular yang mendesis.
Xie Ran akhirnya bisa lega melanjutkan perjalanan. Masalah Qu Xuanzi yang marah, ia akan mengurusnya nanti ketika pulang. Lagi pula ia tidak tahu di mana pria itu berada.
Selama satu jam mereka berjalan dan keluar dari pemukiman elite. Terdapat pembatas berupa perunggu tanpa nama sebagai batasan bahwa rakyat miskin dilarang melewatinya tanpa izin.
Xie Ran masuk ke tempat yang di batasi perhutanan. Itu membuatnya teringat akan suku pendalaman di sebuah negara ketika menjalankan misi dulu. Namun, kali ini hanya ada sedikit perbedaan.
Setelah melalui hutan sepanjang ratusan meter, ia dapat melihat gubuk-gubuk tua dan reyot berdiri berjejeran seperti sebuah kota kumuh. Berbeda drastis seperti kota 'unik' sebelumnya, di sini jauh dari kata 'unik'.
Entah kenapa kota ini begitu sepi seperti kota mati. Tidak ada siapa pun yang lewat sehingga terkesan menyeramkan seperti dalam film horor. Mereka berdua menelusuri jalan dan melihat-lihat wilayah kacau dan bobrok. Lebih buruk dari kamar Xie Ran di Klan Xie.
Terdapat beberapa pasang mata yang kadang melihat di tiap jendela. Xie Ran dapat merasakannya, namun ia tidak melirik ataupun menoleh. Hanya Xiao Caihong yang bertukar pandangan dengan penduduk di balik jendela.
Udara di tempat ini begitu dingin dan sesak. Xie Ran pernah merasakan ini. Seperti area peperangan yang ia susupi di dunianya dulu, melihat kota hancur dan runtuh dipenuhi kabut asap akan ledakan.
"Ibu, aku tidak suka di sini." Xiao Caihong menarik-narik pakaian Xie Ran.
"Kita akan kembali." Xie Ran menuntun tangan Xiao Caihong dan berjalan ke arah jalan keluar. Namun langkahnya terhenti begitu melihat sebuah kabut dengan energi iblis yang kuat melintas di depannya. Tanpa mengatakan apapun, ia bergegas berlari mengikuti kabut hitam tersebut diikuti Xiao Caihong.
Langkah lebarnya terhenti begitu kabut hitam menghilang tanpa jejak. Xie Ran mengedarkan pandangan, mencoba melacak keberadaan kabut hitam tapi tidak menemukan apapun selain langit cerah. Ia bingung sejenak sambil meneruskan jalan dan melihat-lihat.
Selagi berjalan, tiba-tiba Xiao Caihong berlari mendahului Xie Ran entah apa yang ia temukan. Xie Ran mengikuti dan sampai di pinggir kota. Melihat tempat saluran air yang terbuka, Xie Ran mencoba memeriksa sedangkan Xiao Caihong hanya diam memperhatikan.
Ketika memeriksanya, ia dapat mengetahui telah terjadi sesuatu pada saluran air. "Ini beracun."
Sekarang Xie Ran paham mengapa penduduk kota tidak terlihat seolah telah menjadi kota mati. Mereka salah mengira, bahwa racun yang mencemari saluran air adalah wabah sehingga mengisolasi diri. Mereka bahkan tidak mendekati perbatasan. Untuk alasan mengapa mereka tidak mencoba pindah atau melapor, Xie Ran masih belum dapat menyimpulkannya langsung.
"Xiao Caihong, bisakah kau menghisap semua racun dalam saluran air?" Xie Ran bukan dokter sehingga ia tidak tahu harus menanganinya dengan cara apalagi. Xiao Caihong satu-satunya senjata racun yang ia miliki.
Menurut identifikasinya, racun tak berwarna atau tak berbau itu adalah racun jangka panjang seperti yang pernah ia alami. Walau memiliki jenis yang berbeda dan tidak tahu apa efeknya, Xie Ran yakin tidak lebih berbahaya dari racun utama Xiao Caihong.
Xiao Caihong sudah menunggu momen ini dan langsung berlari ke saluran air dengan langkah riang. Ia menuntun Xie Ran ke tempat ini agar Xie Ran menyuruhnya memakan racun itu.
Dengan senang hati ia membuka mulut kecilnyanya, mengisap semua racun hingga pipinya mengembung. Ia seolah tidak kehabisan tenaga menghisap tanpa henti sedangkan Xie Ran melihat dengan takjub. Nafsu makan anak kecil ini sangat besar melebihi dirinya.
Setelah beberapa saat dan matahari makin terik, Xiao Caihong menyudahi 'makannya' sampai bersendawa kenyang. Benar-benar jelmaan monster.
"Kemungkinan besar Di Yushi yang melakukannya, dia akan menyadari sesuatu dan bereaksi setelah racun sepenuhnya dihilangkan. Kita harus pergi."
Xiao Caihong mengangguk patuh. "Ya."
Akhirnya perjalanan ke kota pedalaman berakhir. Hari masih siang dan Xie Ran sudah melakukan hal besar hari ini tanpa hambatan. Meski ia tidak nyaman karena jalannya terlalu lancar, ia tidak peduli lagi setelah keluar. Ia hanya ingin fokus berbaikan dengan Qu Xuanzi.
"Xiao Caihong, menurutmu di mana Qu Xuanzi?" Xie Ran bertanya pada anak kecil itu. Xiao Caihong adalah ular dan ia memiliki penciuman yang lebih tajam dari Xie Ran. Jika Xiao Caihong dapat mengetahui keberadaan Xie Ran dengan mudah, ia juga bisa mengetahui keberadaan Qu Xuanzi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Yang Mulia, apa yang harus kulakukan pada mereka?" Naga Azure kewalahan menghadapi para wanita yang mengejar Qu Xuanzi sepanjang hari. Mereka terus bergantian dan mengantre sedangkan Qu Xuanzi tetap berwajah dingin tanpa melirik mereka. Ia menyerahkan para wanita itu pada Naga Azure.
"Usir mereka."
"Baik!" Naga Azure membungkuk sebelum pergi. Akhirnya kaisar itu mau bicara setelah lama berwajah masam dan dingin sejak kemarin. Naga Azure tidak pandai dalam menghadapi wanita yang dirindu cinta, ia justru takut dengan wanita agresif seperti itu apalagi wajahnya juga tampan.
Naga Azure menghadapi para wanita yang mengantre ingin bertemu dengan Qu Xuanzi dan mengeluarkan suara tegas.
"Tuan Muda sedang sibuk dan tidak ingin diganggu. Lebih baik kalian kembali lain hari ... tidak, kalian jangan kembali dan pulanglah menjadi gadis baik!"
"Apa Tuan Muda begitu sibuk? Terlalu sibuk juga tidak baik, aku akan menemaninya istirahat."
"Tidak perlu, tidak perlu." Naga Azure ingin menangis sekarang.
"Kau hanyalah bawahan Tuan Muda, kedepannya aku adalah nyonyamu. Apa begitu caramu bersikap?"
"Mohon dimengerti!" Naga Azure benar-benar menyerah dengan orang-orang gila ini. Mengapa mereka begitu narsis? Salah makan apa mereka?
"Tuan Muda, aku datang membawa makanan untukmu. Cobalah, kau pasti suka."
"Tuan Muda ...."
Ctarrrr
Para wanita itu terdiam begitu melihat cambuk yang mendarat dan mengekuarkan bunga es yang membekukan tanah. Mereka merinding melihatnya sampai lemas, namun ketika melihat pemilik cambuk itu adalah seorang wanita yang terlihat sepantaran dengan mereka, mereka mengeraskan rahang dan mulai mencaci.
"Dasar tidak tahu diri! Kau harus mengantre jika ingin bertemu Tuan Muda. Apa dengan begini akan membuatku takut?"
"Hei, lebih baik kau pulang dan tidur siang. Jangan karena kau bisa mengeluarkan es, kau mengira dirimu pantas."
Wajah Ann Rou semakin menggelap hingga Naga Azure sendiri sudah menyerah melihatnya. Kucing itu pasti akan berulah lagi.
Aura dingin yang dikeluarkan Ann Rou tepat membuat para wanita itu sesak dan bergetar. Kekuatan Ann Rou tidak main-main dan membuat mereka takut. Mereka perlahan mundur berniat melarikan diri.
"Kau! Tidak selamanya kau ada disini. Jangan harap Tuan Muda melirikmu!" Setelah itu mereka pergi serombongan seperti habis melihat hantu.
Ann Rou tetap memiliki wajah dingin dan menatap Naga Azure dengan cibiran. "Lemah! Menghadapi sekecil itu saja tidak bisa."
Naga Azure tersenyuk kecut. "Aturan melarang menggertak wanita lemah. Kalau kau yang wanita menggertak wanita lain tidak masalah."
Ann Rou mendengus. "Alasan."
"Di mana mereka?" Naga Azure bertanya tentang Li Chen dan Dou Dou.
"Mencari Nona Xie. Dia menghilang dari intaian."
Naga Azure pada akhirnya memiliki sebuah ide. "Apa kita beritahu Yang Mulia saja?"
Ann Rou menyipitkan matanya. "Kau ingin satu kota musnah?" Ia mengangkat kedua tangannya. "Aku tidak ikutan, loh."
"Mereka bertengkar sejak kemarin, takutnya suasana hati Yang Mulia bukannya membaik malah semakin memburuk. Ditambah orang-orang bodoh terus berdatangan, aku sampai sibuk."
"Kau sebagai naga legenda sangat tidak kompeten." Ann Rou memutar bola mata dan melanjutkan pencarian. Entah di mana gadis malang itu.
Naga Azure mendelik sebal. "Siapa yang tidak kompeten membiarkan Nona Xie menghilang?"
Ann Rou menoleh dan menunjukkan jari tengahnya membuat Naga Azure merasa diejek meski tidak tahu artinya. Ngomong-ngomong, Ann Rou belajar itu dari Xie Ran.
Setelah beberapa lama Naga Azure berjaga dan mengusir 'pengunjung', Qu Xuanzi keluar karena ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Pandangannya tetap lurus dan dingin membuat Naga Azure menelan saliva kasar.
"Yang Mulia ...."
"Xie Ran hilang?"
Naga Azure terdiam. Memang tidak bisa menyembunyikan apapun dari Qu Xuanzi. "Itu ... Nona akan kembali bersama mereka."
"Ada sesuatu di luar sana, jangan sampai lengah."
"Baik, Yang Mulia."
"Tuan Muda~" Tiba-tiba seorang wanita muncul seperti hantu menakuti Naga Azure.
Qu Xuanzi menghela napas. "Urus dia."
"Baik."
Nona Xie, anda di mana?! Naga Azure ingin menangis lagi sekarang. Ia hanya tidak ingin ada korban seperti ribuan tahun lalu. Memang hanya Xie Ran yang bisa memblokir para wanita itu, sayangnya gadis itu hilang.
Naga Azure berbalik melihat wanita yang matanya berkobar melihat Qu Xuanzi seolah pria itu meliriknya—padahal Qu Xuanzi memunggunginya. Wanita itu bersemu merah malu-malu.
"Nona, Tuan Muda sedang sibuk."
"Aku tahu. Aku hanya ingin ... memberinya semangat."
Naga Azure tersenyum canggung dan mengangguk. "Sudah tersampaikan. Kau boleh pergi."
Wanita itu tiba-tiba berlari ke arah Qu Xuanzi mengabaikan Naga Azure. Ia tersenyum malu-malu dan memutar helai rambutnya sambil tersipu.
Ia menyodorkan sesuatu di tangannya, sebuah dompet. "Tuan Muda, tolong terima hadiah pertemuanku." Memberi pria yang disukainya dompet buatannya sendiri adalah sebuah tanda cinta. Bila pria itu menerimanya, mereka akan menjadi sepasang kekasih. Memikirkannya membuatnya semakin bersemangat sekaligus gugup.
"Kakak," panggil seorang gadis dengan suara lembut yang menenangkan. Ia menghampiri wanita itu dengan wajah cemas di wajah cantiknya.
"Drama apalagi ini?" Naga Azure akan menguap jika tidak ada Qu Xuanzi.
"Adik, aku sedang bertemu idolaku." Wanita itu terlihat tidak terima dan mengerutkan keningnya.
Pandangan gadis itu terarah pada Qu Xuanzi dan menunduk sekilas. "Maafkan kakakku, dia ceroboh. Aku pastikan hari ini tidak terulang."
Aku tidak yakin hal ini tidak terulang oleh orang yang berbeda. Naga Azure masih meratapi nasibnya. Setidaknya, di kota ini masih ada gadis yang normal, ia lega.
"Nona, Tuan Muda tidak bisa bertemu orang sembarangan. Mohon dimaklumi. Jadi, kakakmu bisa dibawa."
"Ya, kalau begitu, Ningzhi pamit undur diri." Gadis itu sedikit membungkuk dan akan pergi dengan kakak dan pelayan pribadinya.
Begitu ia berbalik, tiba-tiba tubuhnya melemah hingga kakinya terlihat lemas dan akan jatuh. Ia jatuh ke arah Qu Xuanzi, namun Qu Xuanzi langsung mundur selangkah hingga gadis itu ambruk ke tanah.
"Nona! Nona! Nona tak apa?" Pelayannya langsung panik dan langsung menolong. Ia pikir pria tampan itu akan menolong, tapi siapa sangka pria itu sama sekali tidak peduli.
"Tak apa, aku bisa sendiri." Gadis itu bangun pelan-pelan, namun akan jatuh lagi hingga pelayannya harus menolong maksimal.
"Nona, kesehatanmu memburuk?" Naga Azure merasa tidak beres. Ia menarik kembali ucapannya bahwa gadis itu normal menjadi sedikit normal.
"Nona kami memiliki tubuh yang lemah, tidak boleh dibiarkan lama berdiri. Tuan Muda, bisakah membiarkan Nona istirahat sebentar di dalam? Jarak dari rumah terlalu jauh, takutnya nona dan hamba tidak sanggup lagi." Pelayannya itu memohon.
"Xiang Qin, tidak perlu merepotkan Tuan Muda. Aku masih bisa berjalan," kata gadis itu.
"Nona—"
"Nonamu sudah mengatakan tidak apa-apa, apa kau berani tidak menurutinya?" Naga Azure meluruskan masalahnya.
"Tapi jika diteruskan, nona bisa pingsan. Tuan Muda, kau orang baik, kumohon tolong nona." Pelayan itu sekali lagi memohon pada Qu Xuanzi.
Naga Azure kehabisan kata-kata. Jika pelayan itu benar, maka ia telah membuat kesalahan. Tapi bagaimana jika berbohong demi mendekati tuannya? Ia benar-benar bingung sekarang dan hanya bisa meminta pendapat Qu Xuanzi.
Qu Xuanzi berusaha sabar kali ini dan sangat ingin menendang mereka semua dari areanya. Naga Azure sangat tidak becus dalam mengurus wanita, itu membuaynya kesal.
Tepat ketika Qu Xuanzi akan bicara, seorang anak kecil berteriak dan lari ke arahnya.
"Ayah~" Anak kecil itu langsung menarik-narik lengan Qu Xuanzi meminta digendong.
"Ayah?" Naga Azure dan yang lainnya melotot tidak percaya. Sebenarnya ada anak kecil tidak tahh malu yang memanggilnya 'ayah' di depan umum?!
Mereka tidak tahu, di salah satu pohon besar sekitar mereka, terdapat gadis berpakaian putih yang memijit kepalanya karena pening. Anak itu benar-benar merusak tontonan bagus!