
Setelah membersihkan diri dan keluar dari kamar mandi, Xie Ruo melihat Mei Liena yang duduk menunggu di kursi sambil memperhatikan Roh Guntur dengan cermat seolah menilai makhluk apa di depannya.
Sejak melihat bola bulu aneh yang kadang memasang wajah menyebalkan, Mei Liena terus berpikir makhluk apa yang ia lewatkan selama ini. Ada berbagai macam ras di dunia, tapi apa ada ras yang bentuknya seperti bola bulu dan berjalan melompat seperti itu?
Ia tidak menyadari kehadiran Xie Ruo sampai akhirnya bola bulu itu melompat sangat tinggi ke bahu Xie Ruo. Mei Liena melihatnya, kemudian menghela napas berat.
"Ruoruo, bagaimana kau menemukan makhluk imut dan galak seperti itu?" Mei Liena lelah mendengar rangkaian kutukan dari bola bulu bermulut kotor. Rasa ingin mencubitnya meningkat ketika melihat bola bulu di bahu Xie Ruo menjulurkan lidah sambil menjulingkan mata.
"Dia adalah Roh Guntur, bukan dari dunia ini. Jika aku menjelaskannya, akan sangat panjang dan tidak sempat membicarakan racun tulang kering."
Mei Liena mendengus, kemudian menyilangkan kaki sambil bersandar. "Jadi, apa yang kau temukan?"
Xie Ruo duduk, kemudian memberikan catatan yang ia buat ketika melakukan autopsi. Semua analisisnya tertulis lengkap di sana dan mudah dipahami. Mei Liena membaca dengan teliti, kemudian mengerutkan kening.
"Racun ini mengerikan. Sulit membuat penawarnya jika tidak mengetahui bahannya. Aku tebak, racun ini tidak hanya menggunakan bahan tanaman, melainkan esensi hewan beracun."
"Aku sudah membawa seseorang yang terkena racun tulang kering, kau bisa memeriksanya."
"Siapa?"
"Shi Yang."
Mei Liena terkejut sampai matanya melebar. "Dia keracunan juga?"
"Bukan hanya Shi Yang, sepertinya seluruh penduduk Kota Canghai telah terkontaminasi racun. Ketika menemukan sumber racun, racun dimasukkan ke dalam tabung tanah dan disebarkan melalui udara. Racun ini akan bekerja lambat jika dalam bentuk gas, akan sangat menghancurkan dalam bentuk cair. Aku sudah mengujinya."
Ketika racun berceceran dan meledak saat itu, ia sadar bahwa racun yang cair sangat korosif bahkan sampai meruntuhkan bangunan. Walaupun tanpa ledakan, kebocoran racun sudah pasti akan menghancurkan semuanya. Untung saja Qu Xuanzi tepat waktu memblokir jalan racun sehingga ia berhasil mengendalikan ledakan.
"Kalau racun disebarkan melalui udara ... apa kau juga terkena racun?" Mei Liena ngeri sendiri memikirkannya.
Xie Ruo menggeleng. "Racun tidak berpengaruh terhadapku."
"Baguslah. Tapi Shi Yang, apa kau mengizinkanku mengujinya?"
"Asal tidak memperburuk kondisi. Kau juga harus mendapat izin darinya."
"Akan kuusahakan." Mei Liena merasa racun ini benar-benar bencana luar biasa. Ia harus bekerja lagi dalam waktu panjang.
"Untuk dalang di balik semua ini, akan lebih baik jika kita tidak mencarinya lagi." Xie Ruo merasa ragu.
"Ada apa? Kau sudah tahu?"
"Seperti yang kau katakan, semua ini ada hubungannya dengan altar pengorbanan jiwa. Tiap jiwa seluruh ras akan dikumpulkan oleh seseorang dalam satu tempat, bukan lagi Dunia Roh. Hingga saat yang tepat, 'dia' akan mengaktifkannya."
"Maksudmu, 'dia' memiliki rekan?"
Xie Ruo tampak ragu dan sulit mengatakannya. "Lebih baik berhati-hati. Aku pikir, seharusnya 'dia' atau rekannya ada dalam istana dan membentuk dukungan sendiri dalam pengadilan istana untuk menutupi seluruh kasus. Kita harus memperingati Rongrong, Yan Yao, dan Liu Chang."
"Masalah ini menjadi rumit karena ada hubungannya dengan berbagai ras. Apa demi menjadi dewa 'dia' melakukan segala hal? Terdengar bodoh."
"Masalahnya ini juga menyangkut Dunia Atas, tidak sesederhana yang kau pikirkan."
"Dunia Atas adalah tempat tinggal para dewa. Jadi maksudmu, bukankah 'dia' adalah dewa? Apa itu yang ingin kau katakan?" Mei Liena terkejut akan asumsinya sendiri.
Xie Ruo mengangguk. Hal itu membuat Mei Liena mendesah kesal. Kenapa hidupnya harus begitu rumit dan berbahaya? Satu-satunya yang tidak bisa dihadapi adalah dewa dan iblis, itu benar-benar sebuah ujian nyata!
"Jadi, kita akan berhenti setelah menyelesaikan penawar?" Mei Liena sudah lelah. Mendengar ucapan Xie Ruo, sudah jelas bahwa pihaknya yang paling tidak diuntungkan. Mereka tidak akan bisa melawan dewa meski seluruh manusia bersatu.
"Sebenarnya, bukan berarti tidak ada solusi. Pada akhirnya kita akan terjerumus ke dalam masalah ini setelah menggagalkan rencana 'dia', aku juga tidak bisa lepas dari awal. Saat ini, yang kupikirkan untuk menyelesaikannya adalah mencari identitas 'dia' di kekaisaran."
Mei Liena memandang Xie Ruo dengan penuh pertimbangan. "Apa kau mencurigai Kaisar? Menurutku, dialah yang paling mencurigakan." Jarang ditemui namun memiliki pondasi kuat, Kaisar bahkan sering menghilang tidak jelas dan sangat misterius. Ia juga terkenal berdarah dingin.
"Itu bisa saja terjadi." Xie Ruo menghela napas. "Sepertinya aku harus meminta bantuan Rongrong untuk data keluarga kekaisaran. Kita tidak bisa berasumsi seenaknya. Untuk saat ini, kau cari penawar racun bersama Shi Yang, sisanya serahkan padaku."
Mei Liena mengangguk. Ia menjadi sangat sibuk mulai hari ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Perjamuan keluarga kembali diadakan setelah bertahun-tahun lamanya. Para kepala keluarga bersiap pergi ke aula yang menjadi begitu sibuk. Mereka mengadakan perjamuan secara mendadak sehingga banyak pelayan dan pekerja kerepotan.
Segalanya selesai dalam waktu setengah hari. Hari sudah malam, semua orang berkumpul di dalam aula yang telah dipersiapkan dengan berbagai makanan dan hiasan untuk menyambut kembalinya Xie Ruo ke Klan Xie.
Mereka duduk dan saling berbincang. Banyak yang bertanya-tanya bagaimana mereka bisa melewatkan berita mengenai Xie Ruo yang tiba-tiba saja muncul. Selama ini klan hanya memiliki seorang putri yakni Xie Ran. Banyak pertanyaan di benak mereka, tapi hanya bisa menanyakannya ketika Ketua Klan datang nanti.
Mereka duduk di tempat masing-masing, menjadikan Xie Wang dan Su Liu'er sebagai pusat di ujung aula. Suasana saat ini tampak cerah, namun juga bingung bersamaan.
Pasalnya, wajah Xie Ruo sangat asing bagi mereka. Beberapa dari mereka telah kehilangan ingatannya ketika pembersihan klan kala itu, itu sebabnya mereka tidak merasa familiar. Tapi untuk beberapa yang ingatannya tidak hilang, mereka tentu sangat familiar dengan wajah Xie Ruo yang mirip Wen Xi.
"Hari ini adalah hari yang membahagiakan untuk Klan Xie, hari yang sangat dinantikan selama bertahun-tahun lamanya. Kalian mungkin tidak tahu, Klan Xie tidak hanya memiliki satu putri. Xie Ruo adalah saudara kembar Xie Ran yang kalian ketahui, berpisah dengan kita semua selama bertahun-tahun sejak kecil, wajar jika kalian tidak mengenalnya. Sekarang, Xie Ruo telah kembali secara resmi, kita tentu harus merayakannya."
Semua orang akhirnya paham setelah rangaian penjelasan tersebut. Meski ada banyak kejanggalan, mereka tidak mempertanyakan banyak hal.
Mereka melanjutkan perjamuan dengan meriah. Ada tarian dan musik, tentunya disertai makanan enak yang kini mengalihkan perhatian penuh Xie Ruo.
Sedangkan Xiao Caihong bersama Su Liu'er dan sangat dimanja, begitu pula Xie Wang yang berbincang dengan para kepala keluarga. Mei Liena mengadakan sesi interogasi kepada Shi Yang di saat yang sama sehingga keduanya tampak sibuk.
"Ruoruo, di mana Tuan Muda Qu?" Mei Liena bertanya dengan bingung. Sejak tadi, ia tidak melihat kehadiran Qu Xuanzi. Bukankah baru saja pria itu mengatakan akan datang?
"Mungkin sibuk." Xie Ruo tetap tenang dengan makanan di tangannya. Qu Xuanzi bukan orang yang senggang, urusannya jauh lebih banyak, bisa saja sekarang pria itu sedang bertarung dengan seseorang di kejauhan sana. Tidak ada yang tahu.
"Orang kaya mah bebas." Mei Liena bergumam, membuat Xie Ruo terkekeh.
"Sebenarnya, Qu Xuanzi mengenali orang di balik semua tragedi, hanya saja tidak tahu keberadaannya."
"Mereka kenal? Bukankah ... seharusnya dia bisa membantu?"
"Dia sedang membantu. Menurutmu, bagaimana aku bisa keluar dari Kota Canghai dengan mudah setelah kebocoran racun?" Xie Ruo sebelumnya telah menceritakan semua pengalamannya di Kota Canghai. Tentu Mei Liena mengerti.
Hanya saja, Mei Liena menjadi semakin penasaran. Sebelumnya Xie Ruo mengatakan bahwa dalangnya adalah dewa, tapi bagaimana seorang dewa bisa kenal dengan 'Tuan Muda Qu'?
"Ruoruo—"
Baru saja Mei Liena akan bertanya hal yang mengganjal itu, kalimatnya terpotong setelah penjaga mengumumkan kedatangan Qu Xuanzi. Terpaksa Mei Liena menelan kembali kalimatnya.
Qu Xuanzi datang dengan auranya yang mendominasi, membuat para kepala keluarga menahan napas. Entah bagaimana tiba-tiba mereka merasa menggigil melihat wajah dingin tak tersentuh itu.
Kini aula menjadi sunyi karena kedatangannya. Bahkan Xie Wang dan Su Liu'er harus berdiri untuk menyambutnya mengingat siapa yang mereka hadapi. Siapa yang akan menyangka pria itu akan datang di tengah acara.
"Maaf datang terlambat, ada beberapa hal yang haris diurus sebelum datang ke sini." Qu Xuanzi bicara dengan nada tanpa emosi.
Xie Wang tergagap. "Yang ... Tuan Qu, tidak masalah ... tidak masalah ... perjamuan masih berlangsung, silahkan menempati kursi yang sudah disediakan secara khusus."
"Tidak perlu, karena aku cukup terburu-buru." Qu Xuanzi langsung pada intinya. Ia melihat ke arah Xie Ruo, kemudian tersenyum samar. "Aku datang untuk memberitahu, bahwa aku akan menikahi Xie Ruo dalam waktu dekat, tolong Ketua Klan membereskan sisanya."
Hening ....
Mereka membeku akan ungkapan mengejutkan yang baru saja datang dari suara tanpa emosi itu. Beberapa bahkan sampai tidak sadar, sumpit di tangan mereka berjatuhan saking terkejutnya. Tidak hanya sumpit, ada pula yang tersedak sampai merasa sesak.
Bahkan Mei Liena nyaris menyemburkan minuman di mulutnya karena terkejut. Alhasil ia terbatuk keras, kemudian melihat Xie Ruo yang terdiam seribu kata.
Qu Xuanzi melihat ke arah Xie Wang yang tertegun, kemudian melanjutkan. "Untuk seserahan, besok pagi akan diantar tepat waktu. Jika Ketua Klan ada permintaan, bisa dikatakan langsung, aku akan segera mengirimkannya."
Qu Xuanzi tidak perlu menunggu jawaban, karena ia tidak perlu hal itu. Ia melihat Xie Ruo yang berkedut, merasa ingin tertawa karena reaksinya. Ia pun pergi dengan suasana hati baik.
Keheningan menyelimuti aula dalam beberapa detik kedepan setelah kepergian Qu Xuanzi. Semua itu terjadi begitu cepat, tapi juga sangat terasa. Pria misterius itu ... berani melamar nona mereka secara terang-terangan? Tanpa penolakan!
Mei Liena sadar terlebih dahulu, kemudian melihat Xie Ruo yang masih terdiam. Ia terpikirkan akan ucapan terakhir Qu Xuanzi. "Ruoruo, seberapa kaya Tuan Muda Qu?"
Mata Xie Ruo berkedut. Ia merasa terlalu terkejut sampai mengalami cegukan karena mendengar hal mengejutkan itu ketika sedang makan. Bagaimana bisa begitu tiba-tiba? Kenapa tidak merundingkannya padanya dulu?
Xie Ruo teringat ucapan Qu Xuanzi 10 tahun yang lalu, kemudian melihat cincin yang diberi Qu Xuanzi kala itu. Benar, dia melakukannya sekarang. Di saat yang tak terduga! Ayolah, ia baru pulang dan belum sempat beristirahat sejenak!
Su Liu'er sadar lebih cepat dari Xie Wang, kemudian melihat Xiao Caihong yang asik makan tanpa peduli apa yang baru saja terjadi. Seseorang baru saja mengatakan akan menikahi cucunya dan pergi begitu saja. Ini benar-benar kejutan!
Jika itu orang lain, sudah pasti Xie Wang dan Su Liu'er akan protes. Tapi itu adalah Qu Xuanzi, posisinya lebih tinggi dari Kaisar Manusia, bagaiana mereka bisa protes? Apalagi, pria itu pergi begitu saja, secara tidak langsung menegaskan bahwa mereka tidak diberi kesempatan berpikir atau menolak.
"Ruoruo, kita bicarakan ini nanti." Xie Wang butuh bernapas. Ia baru saja berbahagia akan kedatangan cucunya, tapi tiba-tiba seseorang datang merebut cucunya yang baru pulang. Itu adalah sebuah pukulan berat yang melemahkan mentalnya!
Xie Ruo hanya diam tanpa mengatakan apa pun. Sungguh, ia tidak tahu harus tertawa atau menangis. Seharusnya ia sudah memikirkan hal ini sejak awal, bahwa Qu Xuanzi telah menyiapkan segalanya ketika ia berencana kembali ke Klan.
"Nona, selamat atas pernikahanmu ...." Salah satu kepala keluarga memecah keheningan dan menyodorkan arak tanpa ucapan selamat. Menyadari situasi yang sangat sepi, ia terkekeh dengan cara canggung sebelum akhirnya kepala keluarga lain melontarkan ucapan selamat.
Pada akhirnya, perjamuan bubar dengan cara canggung setelah rangkaian ucapan selamat yang ditujukan untuk Xie Ruo. Ini kali pertama bagi Klan Xie menghadapi situasi canggung seperti ini.