The Emperor God Wife Is Naughty

The Emperor God Wife Is Naughty
208. Pembersihan Jalan



Ayunan cambuk melayang di udara, menciptakan cahaya hijau pekat dan menjulur seperti ular membelah para iblis dengan sekali hentakan. Beberapa iblis terlihat lemah, namun jumlah mereka terus meningkat seiring berjalannya waktu selama tubuh mereka masih utuh sebagian.


Mei Liena menggunakan sihir racunnya untuk membakar pada iblis yang terus membelah. Iblis-iblis itu tidak bisa dibakar dengan api biasa, sehingga Mei Liena harus menggunakan api khusus yang biasa ia gunakan untuk memurnikan obat level tinggi.


Kabut hijau menutupi pandangan para iblis sebelum ajal menjemput mereka. Mei Liena dengan cepat pergi dari area pertempuran dari racun api liar yang dapat menghancurkan unsur hidup apa pun. Ia menunggangi phyton, melesat dengan kecepatan penuh ke arah Klan Xie.


Gerbang besar klan sudah terlihat. Phyton di bawahnya meluncur cukup cepat dan melakukan rem mendadak begitu melihat beberapa sniper diarahkan penuh kewaspadaan. Mei Liena menarik phyton kembali menjadi bagian dari sihirnya, kemudian mendarat sambil mengangkat tangan untuk menunjukkan keberadaannya.


"Berhenti! Ini aku!" Mei Liena berteriak. Tidak lucu jika peluru yang ia buat sendiri meluncur ke arahnya.


Para sniper itu saling pandang. Detik berikutnya, pintu gerbang klan sedikit terbuka membiarkan Mei Liena masuk sesegera mungkin sebelum terlihat iblis sialan itu.


Ia memasuki gerbang klan, kemudian melihat kakaknya yang menunggu dengan cemas. Pria itu terlihat 5 tahun lebih tua dari Mei Liena, sekitar 30an. Ia menghela napas lega melihat kehadiran adik satu-satunya yang terus membuatnya cemas. Omong-omong, pria itu sudah bisa berdiri berkat perawatan Mei Liena.


"Kakak." Mei Liena menghampiri, lalu memeluk kakaknya sebagai isyarat bahwa ia baik-baik saja. Setelah sampai di sini, ia menjadi jauh lebih lega dibandingkan ketika berada dalam pengepungan iblis.


"Di luar sangat kacau, syukurlah kamu baik-baik saja." Kakak Mei Liena—Mei Yun—begitu khawatir mendengar kabar bahwa kekaisaran diserang. Tidak hanya kekaisaran, seluruh bagian Dunia Tengah sudah dikuasai oleh iblis tanpa kecuali. Bahkan Klan Xie harus waspada setiap saat.


Mei Liena melepas pelukan, menatap kakaknya dengan serius. "Kakak, banyak hal yang harus disampaikan pada Ketua Klan. Di mana dia?"


"Belakangan ini Ketua Klan ada di arena pelatihan halaman dalam. Karena iblis sudah bergerak, para murid diberi pelatihan intensif."


Mei Liena mengangguk paham. Mei Yun mengantar Mei Liena ke tempat pelatihan murid di halaman dalam.


Begitu sampai, ia disambut oleh ribuan murid klan yang tengah berlatih serempak memenuhi halaman. Pengajaran klan dibagi menjadi beberapa divisi; divisi senjata, divisi sihir, divisi binatang buas, dan divisi alkimia. Masing-masing divisi memiliki pemimpin masing-masing, salah satunya adalah Mei Liena untuk divisi pengobatan.


Tampak pria tua yang tengah berdiri di puncak bangunan melihat pelatihan para murid bersama harimau putih di sebelahnya. Wajahnya tampak sangat tegas, berbanding terbalik dengan usianya yang sudah sangat tua. Ia jauh terlihat seperti jenderal terlatih yang seumur hidupnya dipenuhi dengan pertempuran berdarah.


Jujur, ini kali pertama Mei Liena melihatnya seperti ini sejak bertemu kembali dengan Xie Ruo.


Dentangan senjata berdentum dengan keras menggertak tanah. Mereka berlatih sekuat tenaga untuk melindungi keluarga mereka dengan nyawa. Para wanita berlatih sihir serta pengobatan, terlihat jauh lebih tenang dibandingkan kebanyakan pria yang melatih senjata dan hewan buas, namun mereka tak kalah giat dan dapat membuat ledakan besar ketika bertarung.


Mei Liena membiarkan Mei Yun tetap di tempatnya sambil melihat murid-murid berlatih. Ia pergi menemui Xie Wang di atas sana, sambil menerima tiap sapaan hormat dari murid-murid yang lewat.


Setelah sampai, Mei Liena langsung membungkuk memberi hormat. "Ketua Klan."


Xie Wang berbalik. Raut seriusnya berubah menjadi cemberut melihat kehadiran Mei Liena. "Aiya, sudah kubilang tidak perlu formal." Ia bicara sambil menghampiri dan menegakkan tubuh Mei Liena yang membungkuk.


Mei Liena menghela napas. "Wajahmu seperti itu, membuatku berpikir akan dimarahi ketika datang."


"Aku tidak sejahat itu." Xie Wang menghela napas. Sepertinya ia sangat menyeramkan tadi. "Liena, kamu datang pasti membawa sesuatu. Bagaimana kabar Ruoruo?"


"Sebelumnya Ruoruo mengirim pesan, bahwa dia sudah tahu siapa Dewa Iblis yang sebenarnya. Dia juga memberiku tugas untuk disampaikan padamu."


"Ternyata anak itu masih ingat aku." Xie Wang mendengus. Ia tidak bisa berkomunikasi dengan Xie Ruo sejak menikah, hanya menghubungi teman-temannya. Kenapa anak itu jadi durhaka!


"Ketua, Ruoruo ada sedikit masalah, tidak bisa melibatkan Ketua lebih jauh."


"Bahkan hamil tidak memberitahu. Kau tidak tahu betapa terkejut Liu'er ketika mendengarnya dari Yangyang!" Xie Wang masih menggerutu dengan wajah yang seperti anak kecil merajuk.


Mei Liena jadi gelagapan. Ia juga lupa memberitahu jika Shi Yang tidak memberitahu. "Masalah itu ... sangat mendadak."


"Sudahlah, aku akan memaafkannya jika sudah melihatnya datang menemuiku. Katakan padanya, aku sangat marah dan harus dibujuk!" Xie Wang merajuk lebih parah sekarang sambil berkacak pinggang.


Mei Liena ingin tertawa, tapi ditahan. Ia hanya mengangguk cepat sebelum suasana menjadi lebih serius.


"Ketua, ini surat dari Ruoruo." Mei Liena mengaktifkan pesan yang sebelumnya dikirim Xie Ruo. Jam di tangannya memunculkan sebuah layar transparan di udara, menampakkan rangkaian kalimat dari pesan yang beberapa waktu lalu dikirim Xie Ruo bersamaan dengan semua rencana pengarahan pasukan.


Xie Ruo juga berencana untuk membawa ras naga dari Dunia Lava. Ia sudah mengirim Long Huo dan Long Yun untuk hal ini. Mereka akan datang dalam beberapa waktu setelah persiapan dan perjalanan panjang.


Meski Xie Ruo mengirim surat khusus untuk Xie Wang, isinya sama sekali tidak ada hal ringan. Xie Wang yang awalnya sangat bersemangat, kembali memasang wajah jelek setelah membaca pesan yang isinya begitu formal dan penuh dengan perencanaan seperti buku militer. Meski jelas dan mudah dipahami, Xie Wang masih tidak senang.


"Kenapa harus begitu formal? Apa tidak bisa menulis surat untuk menanyakan kabar dan memberitahu kabarnya?" Xie Wang protes. Kenapa cucunya sangat kaku?


Mei Liena tersenyum kecut. "Masalahnya, Ruoruo hanya menulis pesan untuk hal penting. Sudahlah, dia memang seperti itu. Akan aneh jika Ruoruo tiba-tiba menyapa tanpa ada niat lain."


"Kapan anak itu akan belajar? Kasihan cicitku yang nantinya tidak ada hiburan! Masa kecilnya ...."


"Ketua, Ruoruo memiliki hiburannya sendiri."


"Kau menganggap membunuh sebagai 'hiburan'? Huh, aku harus bicara pada Kaisar Langit nanti."


Mei Liena terdiam. Pria tua itu memang mengenal Xie Ruo, tapi ia masih belum sepenuhnya mengenal lebih jauh. Hiburan Xie Ruo yang sebenarnya hanyalah makan.


Mei Liena tidak ingin membenarkannya, atau Xie Wang akan protes lagi. Biarlah pria tua itu berimajinasi sendiri.


"Untuk rencana kali ini, kita harus melakukannya segera. Aku akan membuatkan bubuk api untuk digunakan secara maksimal. Iblis takut api, jadi kita harus menggunakan senjata api untuk membersihkannya." Mei Liena kembali serius.


Xie Wang hanya mengangguk. Sedangkan harimau putih di sebelahnya hanya memandang dengan bosan. Tuannya yang berwajah sangar namun berhati hello kitty ini sama sekali tidak berubah.


Xie Wang berkata, "Lakukan apa yang harus kau lakukan bersama divisi pengobatan, aku akan memberitahu Shi Yang, Mei Yun, dan Xie Chao untuk menginstruksikan tiap murid."


Mei Liema mengangguk, kemudian pergi ke arah divisi pengobatan dan memanggil semua murid klan.


Shi Yang sebagai ketua divisi sihir memberi instruksi dengan baik. Mei Yun di divisi senjata dan menggunakan senjata buatan Zhou Kui dalam pertempuran, sedangkan Xie Chao sebagai kultivator pemilik hewan buas yang dijinakkan berada di divisi hewan buas.


Mereka semua memulai pekerjaan dengan profesional, mengkoordinasi tiap murid untuk berkumpul dan membagi tugas sesuai aturan Xie Wang yang baru saja diberi 'pesan' oleh Xie Ruo.


Hanya dalam beberapa hari, persiapan sepenuhnya matang lebih cepat dari perkiraan.


Beberapa murid—terutama murid divisi pengobatan—berjaga di sekitar klan untuk memastikan tidak ada iblis mengacau, sedangkan sisanya akan keluar membersihkan jalan. Masing-masing ketua divisi juga ikut di garis depan untuk memudahkan mereka memasang lapisan formasi untuk mencegah iblis memakan banyak korban.


Masing-masing murid diberi bubuk api dan perisai yang dilapisi oleh sihir. Mereka semua berbaris, menunggu gerbang dibuka.


Suara derak pintu mulai terdenar. Gerbang besar itu bergeser, memberi celah dan memperlihatkan pemandangan yang penuh dengan energi gelap berkeliaran di sekitar hutan, menunggu mangsa mendekat.


Para murid meneguk saliva, namun mereka tetap memberanikan diri. Demi melindungi keluarga mereka, mereka harus melakukan perlawanan secara maksimal. Bukan hanya unuk keluarga mereka, tapi juga untuk ras manusia!


"Serang!"


Ratusan murid berbondong-bondong keluar secara bersamaan, tidak memberi celah pada iblis-iblis itu untuk masuk. Mereka keluar dipimpin phyton besar Mei Liena, serta burung berkepala sembilan yang terbang di udara penuh dengan api murni seperti semburan di langit.


Beberapa hewan buas yang dijinakkan keluar secara bersamaan. Ada yang berlari di tanah baik dengan empat kaki atau lebih, ada yang terbang di udara untuk membunuh iblis terbang seperti serbuan meteor.


Tembakan demi tembakan diluncurkan, baik dari sniper di depan gerbang dan di atas benteng, maupun dari senjata api jarak dekat yang digunakan secara maksimal. Bom diledakkan, dipenuhi api dari bubuk api yang merambat ke tiap tempat, menciptakan api dahsyat menyerang para iblis.


Bilah energi membelah udara seperti sayatan besar. Cambuk melayang di udara disertai cahaya hijau yang melalap. Hujan sihir meluncur seperti tetesan air dari segala arah dan menembus tiap tubuh tebal iblis. Semua itu berlanjut penuh perhitungan dan semangat membara.


Darah hitam menutupi tanah dengan bau mencekat yang disamarkan oleh obat-obatan yang ditebar seekor burung pipit sebesar elang dengan kecepatan tinggi. Selama periode pembersihan, para iblis semakin menggila dan mulai membabi buta menyerang secara liar.


Banyak murid yang kewalahan hingga akhirnya terluka. Murid divisi pengobatan langsung muncul menggunakan teleportasi dan membawa mereka ke kamp yang dibangun di dalam formasi untuk diobati. Semua itu terus berulang, selama formasi yang dijaga oleh Shi Yang bertahan untuk membuat jalan rahasia yang sudah diamankan.


Shi Yang berdiri di atas burung berkepala sembilan di udara, dengan penuh perhatian dan fokus pada formasi. Ia tidak bisa melihat apa pun, tapi bisa merasakan dengan jelas tiap pergerakan yang terjadi.


Selama ini, ia terus berlatih semua yang diturunkan Xie Ruo padanya. Ia sudah bisa bertarung lebih berani dan cekatan dibandingkan sebelumnya. Ditambah setelah racun dinetralisir, kultivasinya meningkat secara drastis sehingga persepsinya semakin kuat. Ia bahkan sudah tidak memerlukan tongkat untuk meraba udara.


Demi membanggakan gurunya, ia tidak akan berhenti berusaha.


Di antara mereka semua, Mei Liena memiliki luka paling sedikit. Ia hanya tergores ranting ketika keasikan bertarung.


Sudah 20 kilometer jauhnya mereka membersihkan jalan dan membuat jalan rahasia dalam formasi yang dipertahankan Shi Yang. Selama itu, sudah beberapa jam berlalu hingga akhirnya mereka semua beristirahat di dalam formasi ketika malam tiba.


Shi Yang melepas kendali formasi dan turun ke darat untuk istirahat. Ia tidak terluka sama sekali karena perisai yang melindunginya dari dampak pertempuran. Hanya saja, kekuatannya terlalu banyak terkuras untuk sebuah formasi.


Mei Liena di sisi lain memperhatikan kakaknya dengan teliti. Kakaknya tidak terluka terlalu buruk, tapi wanita itu menjadi heboh seharian dan banyak bicara. Ia tidak membiarkan murid lain mengobati, hanya ia yang boleh.


"Liena, apa harus seperti ini?" Mei Yun tidak tahu bagaimana menyikapi sikap protektif adiknya yang imut.


"Diamlah!" Mei Liena bicara dengan sarkas. Ia menggulung kain kasa di sekitar bahu kakaknya dengan hati-hati sambil mengalirkan kekuatan spiritual.


"Jangan terlalu galak, siapa yang ingin menikah denganmu nanti?" Mei Yun agak prihatin pada adiknya yang tidak laku. Sebenarnya, bukannya tidak laku, para lelaki yang mendekatinya, semuanya mengalami trauma akan serangan mental Mei Liena yang begitu tajam.


"Angin."


Mei Yun tersenyum kecut. "Dulu kau suka pada seseorang. Siapa namanya? Pei Xi?"


"Hanya kagum." Lagipula Pei Xi suka Xie Ruo, kenapa ia harus suka pada orang aneh itu? Mana ada pria normal yang suka Xie Ruo yang kasar dan tidak tahu malu?


Lagi pula, jika ia suka pada Pei Xi, itu juga tidak mungkin. Pei Xi adalah kakaknya, sedangkan ia adalah adik Pei Xi. Mereka sudah sepakat.


"Lalu, bagaimana dengan Liu Chang? Dia juga bagus."


Mei Liena menatap kakaknya itu dengan tajam. "Bagus apanya? Aku justru berpikir, pria itu sama sekali tidak normal. Asal kau tahu, dia tidak menyukai wanita sejak ditolak Ruoruo secara tidak langsung."


Mei Yun nyaris tertawa akan ucapan asal Mei Liena. Ia bahkan baru tahu bahwa Liu Chang menyukai Ruoruo. Bukankah dulu hanya sebatas kagum? Liu Chang bahkan takut pada wanita itu.


Mei Liena mencibir. "Kau saja yang tidak tahu. Kalau mau menjodohkan, jangan pada teman-temanku, mereka semua tidak normal."


"Lalu, bagaimana dengan Xie Lu?" Mei Yun tersenyum mengejek, kemudian melirik pria yang nongkrong beberapa meter di belakangnya sebagai murid divisi senjata yang ia naungi. "Dia cukup baik."


Wajah Mei Liena semakin jelek. "Kau malah menjodohkanku dengan bocah ingusan."


"Dia bukan bocah."


"Dia bocah! Bahkan jika kami bertarung, dia akan mati dengan satu tinjuku!"


"Tapi dia menyukaimu. Apa kau tidak ingin membalasnya?" Mei Yun menghela napas. Kenapa adiknya sangat pilih-pilih?


"Tidak, tidak, dia bukan tipeku. Aku harus menikah dengan pria yang lebih kuat dariku, lebih tua dariku, dan lebih tinggi dariku. Lalu bukan pengecut, tidak aneh dan sok dingin, dan pastinya harus tahan dengan sikapku. Menurutmu, ada yang seperti itu?"


Mata Mei Yun berkedut. "Jika seperti itu, kau pilih temanmu saja."


"Mereka aneh! Tidak normal!"


"Menurutku, Zhou Kui lebih normal."


Mei Liena memandang kakaknya dengan datar. "Kau ingin adikmu yang cantik ini diketuk palu?"


Mei Yun mengetuk dahi Mei Liena dengan gemas. "Kamu, ya. Ingin jadi perawan tua?"


"Toh, aku tidak bisa menua, mana bisa dibilang tua." Mei Liena mencibir.


Ia menyelesaikan pengobatan dan pergi dengan kesal. Daripada ditekankan disuruh menikah, lebih baik ia berburu iblis.


Bukankah lebih baik sendiri? Ia bisa bebas kemana pun ia mau!


Untuk pertama kalinya ia setuju pendapat Xie Ruo. Sendiri lebih menyenangkan.