
Kavaleri Lingga
Lingga yang bertarung melawan pasukan kavaleri musuh, sesekali melihat ke sisi garis depan dimana pasukan Berliana tengah bertempur habis-habisan.
'Gawat, Berliana dalam bahaya'
Lingga ingin segera membantu Berliana, namun musuh dihadapannya ini benar-benar merepotkan. Kini ia mengalami dilema, jika ia pergi sendirian menyelamatkan Berliana, bagaimana nasib pasukan yang ia pimpin. Belum lagi nasib pasukan lain, jika ia nekat meninggalkan pos nya saat ini.
'Sialann, asuu'
Lingga benar-benar sangat kesal dengan posisinya saat ini. Jika demi menyelamatkan Berliana ia harus mengorbankan ratusan bahkan ribuan prajurit, dimana hati nuraninya. Tapi jika dibiarkan, Berliana bisa mati. Apa yang harus ia katakan kepada Aran nanti.
"Huaa"
Lingga langsung meningkatkan auranya yang begitu besar dan menindas. Ia keluarkan seluruh aura tenaga dalam yang ia miliki saat ini.
Aura megah dari tubuhnya memancar kesegala arah.
"Hahaha, aura mu lumayan menakutkan. Membuatku menjadi bersemangat"
Pemimpin kavaleri musuh juga langsung mengeluarkan aura tenaga dalamnya. Ia merasa bahwa pria dihadapannya ini akan bertarung habis-habisan pada dirinya. Jadi ia juga tidak akan sungkan lagi.
Wuuzzzhhh
Aura yang dimilikinya juga memancar kesegala arah.
"Sebenarnya aku masih sangat ingin bermain-main denganmu, tapi sepertinya kita harus segera mengakhirinya"
Pemimpin musuh langsung menyerang Lingga dengan ilmunya.
Lingga juga tidak segan-segan untuk mengerahkan segala kemampuannya.
Bang!
Bang!
>>>
Kedatangan Aran.
Aran bersama Kumbang terus bergerak dengan sangat cepat, hingga akhirnya ia keluar dari hutan dan terus melaju sampai berada di dataran tinggi.
Ia melihat di kejauhan nampak terjadi peperangan yang sangat dahsyat.
"Mata Surgawi"
Aran menggunakan salah satu kemampuannya untuk melihat dengan jelas apa yang terjadi didepan sana.
Aran fokus untuk mencari keberadaan Berliana dan Lingga.
Pasukan kavaleri Lingga terlihat mencolok karena posisi mereka yang berada di atas kuda, melihat Lingga yang bertarung imbang ia ingin segera membantunya. Namun Aran ingin memastikan keberadaan Berliana dulu, apakah ia baik-baik saja atau tidak.
"Dimana kamu Berliana"
Aran terus fokus melihat lebih jauh lagi. Ternyata Aran berada di sisi belakang Kerajaan Parsy, sehingga ia harus lebih memusatkan kekuatan mata surgawinya.
Kini yang dilihatnya adalah para prajurit musuh yang terus menekan pasukan Aliansi. Ia jadi kesulitan untuk melihat Berliana. Tapi Aran tetap fokus untuk mencari Berliana.
"Pasukan di tengah itu bertempur sangat hebat. Sepertinya mereka sama sekali tidak takut mati"
Hingga akhirnya matanya tertuju pada salah satu sosok yang dilihatnya sangat berani terhadap musuh-musuhnya. Bahkan pakaiannya yang berwarna putih sudah berubah warna menjadi merah. Entah itu darahnya atau darah musuh-musuhnya.
"Berlianaa"
Melihat Berliana yang hampir mati membuat tubuh Aran merinding. Ia begitu marah pada dirinya sendiri yang malah terlena oleh wayn, sehingga ia sampai tidak peka bahwa orang-orang yang disayanginya bisa kehilangan nyawa.
Aran langsung memacu Kumbang dengan kecepatan maksimal. Dalam hitungan menit ia sudah berada 300 meter dibarisan paling belakang pasukan Kerajaan Parsy.
"Mati kalian semuaa!"
Teriakan kemarahan Aran mengguncang barisan belakang pasukan musuh.
Komandan pasukan musuh bersama para perwira yang mendengar teriakan tersebut langsung membalikkan badan mereka. Dilihatnya seekor macan hitam besar yang memiliki satu tanduk berlari ke arah mereka. Yang membuat mereka terpana adalah adanya sesosok manusia diatas macan tersebut.
>>>
Garis Depan (Struggle)
Berliana yang tidak mengetahui bahwa Aran sudah memasuki medan perang terus melakukan perjuangan. Bersama pasukannya, ia banyak membunuh pasukan musuh. Keberanian pasukannya sedikit membuat gentar pasukan garis depan Kerajaan Parsy.
Tapi mereka juga tidak mau mundur menghadapi gempuran pasukan Berliana, sedikit demi sedikit, pasukan yang dipimpin oleh Berliana berguguran.
"Bertahaannn"
Berliana memimpin pasukannya untuk mulai bertahan dari gempuran musuh. Pasukan elitnya kini hanya tersisa 100 orang, selebihnya mati atau terluka. Untuk yang terluka, mereka semua berada didalam lingkaran.
Berliana mati-matian melindungi sisa pasukannya. Ia melihat wajah-wajah mereka yang mulai kelelahan dengan nafas yang terputus-putus.
Sekilas ia melirik Juli dan Melati, ia ingin mengingat semua wajah mereka yang kini bersamanya. Hingga nanti jika ia mati, ia tidak akan terlalu diliputi rasa bersalah.
"Aran, semoga kita berjumpa kembali di kehidupan selanjutnya"
>>>
Pangeran yang melihat pasukan Berliana dikepung ribuan musuh, benar-benar merasa sangat bersalah. Ia menyesal membiarkan Berliana mengambil komando garis depan.
Jika saja waktu bisa diputar ulang, ia tidak akan pernah menempatkan Berliana diposisi yang paling berbahaya seperti ini.
"Sialaaaaannnnnn"
Pangeran teriak dengan sangat keras, pasukannya benar-benar dikunci oleh musuh sehingga ia tidak bisa melaju ke garis depan.
Pasukan musuh juga mengetahui niat Pangeran yang ingin membantu pasukan garis depan, jadi mereka tidak akan membiarkan pasukan Pangeran maju kedepan.
>>>
Komandan pasukan musuh tersenyum dingin menatap sisa pasukan Berliana.
"Hahahaha, sekarang kamu pasti mati. Tapi aku sangat mengagumi kehebatanmu, untuk itu aku akan membunuhmu tanpa rasa sakit"
"Bunuhh! habisi mereka semua!"
Teriak Komandan pasukan musuh dihadapan pasukan Berliana. Pasukan musuh kembali menyerang pasukan Berliana dengan sangat ganas.
Karena mereka melihat pasukan Berliana yang mulai kelelahan, Komandan memutuskan untuk menyerang secara bergantian, antara pasukan lapis pertama dengan pasukan lapis keduanya.
Dengan strategi ini, pasukannya jadi bisa mengatur nafas dan stamina. Strategi ini tentunya hanya bisa dilakukan dengan jumlah prajurit yang sangat banyak.
>>>
Barisan Belakang Kerajaan Parsy
"Huuaaaaa"
"Mati kalian semua!"
Aran terus melibas pasukan musuh dari barisan belakang dan terus merangsek ke barisan depan. Barisan belakang yang tidak siap dengan kedatangan Aran, dibuat panik dengan tindakannya.
Aran membantai mereka semua layaknya memotong tahu. Siapapun yang menghalangi jalannya pasti mati terbelah.
"Minggirr!"
"Keparatt! Siapa kau. Berani membunuh pasukan Kerajaan Parsy"
Dengan kudanya, salah satu komandan Kerajaan Parsy maju menerjang ke arah Aran. Ia begitu marah melihat pasukannya dibunuh tanpa ampun. Dalam sekejap, tanah dimana Aran lewat dipenuhi mayat yang sangat banyak.
Ia memacu kudanya dengan sangat cepat, hingga jarak antara dirinya dan Aran hanya berjarak kurang lebih 10 meter.
"Namaku, Solu. Wakil Komandan Jenderal..."
Belum selesai ia berbicara, tiba-tiba Aran sudah berada dihadapannya. Hanya dalam kedipan mata, Kumbang sudah berada dihadapan Wakil Komandan tersebut.
"Berisik"
Aran memotong kepala Wakil Komandan tersebut dengan sangat cepat. Membuat kepala Wakil Komandan jatuh ketanah, sementara tubuhnya masih berada diatas kuda yang berlari kencang.
Pemandangan tersebut membuat moral pasukan musuh langsung turun. Mereka tidak habis fikir, Wakil Komandan Jenderal Tolu akan mati semudah itu.
Para prajurit musuh langsung kalang kabut dan mulai berlarian. Tanpa sadar mereka mulai membuka jalan dan membiarkan Aran melewatinya.
"Berliana, tunggu aku"
Aura kematian memancar dari tubuh Aran dengan sangat kental.
~Note~
Terima kasih untuk semua pembaca Novel sederhana ini. Tidak terasa novel ini sudah sampai di episode 99. Untuk semua pembaca serial novel ini, saya mengucapkan banyak terima kasih.
Khususnya, yang dengan keikhlasan hatinya memberikan like dan vote. Hanya Tuhan yang dapat membalas kebaikan kalian semua.
Terima kasih banyak.
Salam hangat penulis.
Yukishina