
“Aran, ini pembagian keuntungan untuk wayn”
Xi Fentian lalu memberikan sebuah cincin dimensi kepada Aran.
“Cincin itu tanpa segel jadi kamu bisa langsung melihat isinya dan didalamnya ada emas yang nominalnya sesuai kesepakatan kita”
“Baik terima kasih”
Aran lalu mengambil cincin itu dan menyimpannya ke balik bajunya.
“Kamu tidak memerikasanya dulu?”
Tanya Xi Fentian kepada Aran.
“Tidak perlu, aku percaya padamu”
Aran percaya bahwa Xi Fentian tidak mungkin membohonginya.
Xi Fentian tersenyum melihat Aran yang percaya padanya.
Mereka lalu kembali mengobrol dengan cukup lama.
Setelah obrolan dengan Xi Fentian selesai, Aran mencari teman-temannya yang sebelumnya ia minta untuk makan duluan. Ternyata semua temannya sudah kembali ke kamar masing-masing. Aran tidak sadar bahwa ia ngobrol dengan Xi Fentian sangat lama.
Sebelum kembali kekamar, Aran memindahkan sebagian isi dari cincin dimensi pemberian Xi Fentian ke alam giok miliknya. Ia hanya menyisakan beberapa ribu emas didalam cincin itu.
Ketika Aran memasuki ruang penginapan miliknya, ia melihat sudah ada Taeyang yang sedang duduk memandangi jalanan diluar.
“Taeyang”
Kata Aran melihat Taeyang sedang merenung.
“Hyung, kamu baru balik. Apa saja yang kalian lakukan sampai selama ini”
Taeyang sangat kagum dengan Aran, selain hebat dalam beladiri ternyata Aran juga hebat dalam menaklukan hati wanita.
“Hanya obrolan biasa tidak ada yang spesial”
Jawab Aran.
“Kenapa kamu merenung seperti itu?”
Kata Aran menambahkan.
“Ah, haha.. Aku hanya rindu keluargaku dirumah”
“Hmm..”
Aran lalu duduk didekat Taeyang.
“Coba kamu ceritakan tentang keluargamu, sambil kita menikmati wayn”
Aran lalu mengeluarkan botol wayn miliknya yang membuat Taeyang tersenyum lebar.
“Hahaha.. Hyung tau saja yang aku mau”
Taeyang tanpa ragu langsung mengambil botol wayn dan segera membukanya.
“Ahh, segarnya wangi ini”
Tanpa menunggu lama ia lalu meminum wayn pemberian Aran.
Taeyang lalu melanjutkan obrolannya dengan Aran.
Ia adalah pemuda miskin dari Negeri di Semenanjung Korea. Kebanyakan yang mengikuti seleksi di Akademi Bimasakti adalah para bangsawan.
Ia datang kesini sendirian dengan menumpang kapal para pedagang, bahkan ia sama sekali tidak bawa uang. Sesampainya di daratan tengah ia bertahan hidup dengan mencari pekerjaan serabutan. Apapun ia kerjakan, bahkan ia juga bermain judi yang menyebabkan uang tabungan selama ia kerja habis.
Sekarang ia sangat beruntung bisa mengenal Aran, teman terbaik yang ia miliki selama ini.
“Dimana emas yang aku berikan padamu? Apakah akan kamu gunakan untuk berjudi lagi?”
Aran kali ini menatapnya dengan serius. Ia tidak ingin temannya ini terlena oleh judi.
“Tidak, tidak akan pernah lagi aku bermain judi. Percayalah padaku. Uang milikmu selalu aku bawa dibalik bajuku. Bahkan mandipun tetap aku bawa”
Kata Taeyang menjawab pertanyaan Aran.
“Apa kamu tidak memiliki cincin dimensi”
“Cincin dimensi?”
Taeyang langsung tertawa mendengarnya.
“Apa Hyung sedang menggodaku, mana mampu aku membeli cincin seperti itu. Hanya orang yang sangat kaya saja yang dapat memilikinya. Harganya ratusan ribu emas, untuk apa uang segitu banyak kubelikan cincin seperti itu”
Aran tidak menduga bahwa cincin dimensi ternyata sangatlah mahal. Tapi ia baru saja menerima cincin dimensi dari Xi Fentian secara cuma-cuma.
Aran lalu berfikir untuk memberikan cincin pemberian Xi Fentian kepada Taeyang. Baginya memiliki sahabat seperti Taeyang adalah anugerah.
“Taeyang, ambil ini”
Aran lalu memberikan cincin dimensi miliknya kepada Taeyang.
Taeyang langsung menerima pemberian Aran.
“Ini.. ini cincin dimensi. Hyung-nim apa kamu serius memberikannya padaku”
Dengan sedikit berlinang air mata, Taeyang menatap Aran dengan bahagia.
“Ya itu untuk kamu, sebaiknya kamu simpan emasmu disitu. Didalamnya juga ada beberapa emas yang kuberikan untukmu juga. Aku harap kamu bijak dalam menggunakannya. Nanti akan aku ajarkan cara menyegel cincin itu agar hanya dirimu yang bisa menggunakannya”
“Terima kasih Hyung-nim”
Taeyang lalu berlutut dihadapan Aran.
“Hei, hei.. Apa yang kamu lakukan”
Aran langsung membantu Taeyang agar tidak perlu sujud seperti itu.
“Sudah, mari aku ajarkan cara menyegel cincin itu”
Aran lalu meminta Taeyang untuk meneteskan darahnya ke cincin dimensi, setelah itu Aran meminta Taeyang untuk mengikutinya membaca mantra dan mengikuti setiap gerakan yang dilakukan oleh Aran.
“Segel”
“Segel”
Taeyang mengikuti perkataan Aran.
“Nah, sekarang kamu sudah bisa melihat isi cincin itu. Jika kamu ingin memindahkan benda mati milikmu ke dalam cincin, cukup gunakan kesadaranmu dan dekatkan cincin itu kebenda yang akan kamu masukkan kedalam cincin. Jaraknya tidak boleh lebih dari tinggi tubuhmu. Jika tubuhmu hanya setinggi 170 cm maka jarak benda yang bisa kamu pindahkan ke dalam cincin maksimal sejauh 170 cm”
Taeyang mendengarkan perkataan Aran dengan seksama.
“Hyung-nim, terima kasih banyak. Budi baikmu ini selamanya akan aku ingat”
“Sudah lupakan, aku ingin beristirahat dulu dikamar. Jangan ada yang mengganggu aku”
“Baik Hyung”
Aran lalu berdiri dan meninggalkan Taeyang sendirian.
Ketika Aran berdiri dan akan memasuki kamar, dilihatnya Taeyang masih membolak-balikkan cincin miliknya.
Aran hanya tersenyum melihat kelakuan Taeyang. Ia lalu memasuki kamar miliknya dan memutuskan untuk memasuki alam giok langit.
Di dalam alam giok, Ia terus berlatih dan beristirahat di alam ini. Perbedaan waktu yang ada di alam ini membuatnya bisa selalu fit di alam nyata.
“Aku harus lebih banyak membuat wayn”
Aran lalu kembali membuat wayn hingga jumlahnya sangat banyak. Beberapa kali ia juga meminta Kumbang dan Putih untuk membantunya. Setelah membuat wayn, Aran menyempatkan untuk melihat ikan ekor merah miliknya. Ikan yang berasal dari dunia jin ini kini telah berkembang biak dengan sangat banyak didalam danau milikinya.
“Apa aku juga tawarkan kepada Xi Fentian terkait ikan-ikan ini”
Setelah itu itu ia kembali berlatih dan berisitrahat.
Malam semakin larut didunia nyata. Aran lalu memutuskan untuk kembali kedunia nyata karena ia punya janji untuk bertemu dengan Kakeknya Xi Fentian.
“Aran, akhirnya kamu keluar. Apakah kamu ingin makan?”
Tanya Taeyang didalam ruang tamu kamar yang mereka tempati.
“Aku tidak lapar Taeyang, kamu saja duluan makan. Aku sedang menunggu seseorang”
“Hyung-nim,.. Kalau boleh tau, siapa yang kamu tunggu?”
“Xi Fentian”
Jawab Aran pelan.
“Omo, kamu benar-benar Hyung terhebat yang aku punya”
Taeyang benar-benar sangat mengagumi Aran. Xi Fentian adalah dewi yang terkenal akan kecantikannya, banyak orang yang sangat ingin bisa dekat dengannya. Tapi kini, Hyung nya bisa dapat dengan mudah dekat dengan Xi Fentian.
“Jangan berfikir yang tidak-tidak. Aku dan Nona Xi tidak memiliki hubungan apa-apa selain bisnis”
“Tetap saja Hyung, kamu bisa dekat dengannya. Aku benar-benar kagum padamu”
Kembali Taeyang memberikan hormatnya kepada Aran sebagai wujud kekagumannya kepada Aran.
“Issh, kau ini”
Aran lalu menjewer kuping Taeyang.
Ketika mereka tengah bercanda terdengar ketukan dipintu kamar.
Tok
Tok
“Ya, tunggu”
Taeyang lalu bergegas membukakan pintu.
Ketika ia membuka pintu, ia kaget setengah mati. Karena kini dihadapannya terlihat wanita yang sangat cantik.
“Omona”
Taeyang tetap diam menatap wanita dihadapannya.
Kini Xi Fentian menggunakan pakaian berwarna merah yang sangat pas mengikuti bentuk tubuhnya. Wajahnya yang cerah merona membuat para lelaki tidak akan bosan memandangnya.
“Taeyang, siapa yang datang”
Teriak Aran yang sudah berada dibelakang Taeyang.
Taeyang yang mendengar suara Aran perlahan-lahan menolehkan wajahnya kepada Aran.
“Hyung-nim”
Jawabnya begitu pelan.
Aran lalu melihat tamu tersebut.
“Oh, Nona Xi”
“Aran”
Mereka sama-sama berkata dengan saling menyebutkan nama.
“Apakah sekarang waktunya”
Tanya Aran kepada Xi Fentian.
“Ya, sekarang. Kakek menunggu dilantai 5”
“Oke”
Jawab Aran kepada Xi Fentian.
“Taeyang aku pergi dulu”
Perkataan Aran kepada Taeyang hanya dijawabnya dengan wajah yang masih bengong menatap Xi Fentian.
“Hyung-nim, apakah aku boleh ikut”
Sambil Taeyang memegang baju Aran, berharap ia bisa diajak oleh Aran.
“Hush, apalah kau ini. Sudah kau diam saja dikamar”
Sambil Aran mendorong wajah Taeyang dengan tangannya untuk kembali memasuki ruang penginapan.
“Mari Nona Xi”
“Mari”
Jawab Xi Fentian.
Mereka lalu berjalan bersama menuju lantai 5.
Dengan dipimpin Xi Fentian, Aran mengikutinya dari belakang.
Aran yang berjalan dibelakang Xi Fentian menjadi pusing dengan pemandangan dihadapannya. Karena penampilan Xi Fentian kali ini benar-benar menggoda iman.
Hingga akhirnya mereka tiba di lantai 5.
Xi Fentian lalu berjalan ke salah satu pintu kamar.
Tok
Tok
“Kakek, ini aku”
Kata Xi Fentian.
Tidak lama pintu kamar terbuka.
Terlihatlah dihadapan mereka sosok pria tua yang sangat bersahaja.
“Ohh cucuku tersayang. Ah, ini pasti saudara Aran. Mari semuanya, silahkan masuk”
Aran bersama Xi Fentian mengikuti Kakek Tua itu untuk masuk kedalam ruangan.
~Note~
Jika kalian semua menyukai novel ini, mohon bantu penulis dengan cara dibawah ini ya.
* Jangan lupa like dan koment.
* Vote jika memungkinkan.
* Follow Author.
* Terakhir\, mohon bantu share.
Jika ada yang ingin bertanya bisa lewat instagram saya ya.
Terima kasih.
Salam hangat dari penulis.
Instagram :
@yukishinamt